Matabaca, edisi Desember 2008
Lahir
Saya sering mendengar kalimat ini: “tulisanku adalah anak-anakku”. Beberapa penulis bahkan saya tahu menyebut buku-bukunya yang telah terbit sebagai ‘anak ke-1’, ‘anak ke-2’, dst. Sebutan ‘anak’ bagi sebuah tulisan, bagi saya terdengar sangat over-protektif, sebab itulah yang biasa dilakukan orang tua (dalam hal ini penulis) terhadap anak-anaknya. Sayangnya, justru sikap over-protektif inilah yang membuat seorang penulis (dan tulisannya) tidak berkembang.
Bagi saya, sangatlah penting memberi jarak antara saya (sebagai penulis) dengan tulisan saya. Ketika suatu kali seorang penulis berhasil menulis sebuah cerpen, misalnya, dan diujibacakan kepada penulis senior (yang berperan sebagai pembaca), dan ternyata pembaca tidak suka dengan hasil tulisannya (bahkan mungkin dibilang jelek), nah… di sinilah daya tahan banting dan semangat belajar seorang penulis diuji. Jika ia mempertimbangkan masukan orang lain, dan ‘tega’ untuk mengobrak-abrik tulisannya, di situlah kita tahu bahwa penulis ini akan memiliki nyawa panjang dalam profesi kepenulisannya. Tetapi jika sebaliknya, maka jangan khawatir, kita takkan mendengar namanya diperbincangkan di dunia sastra.
Baca Selengkapnya »
Tanggal 20 November ini saya merayakan satu bulan saya bekerja di sebuah televisi swasta. Tiba-tiba saya kagum pada diri saya sendiri… “kok bisa ya, bertahan?” Saya merasa keluar dari cangkang kenyamanan yang selama ini saya erami.
Pertama, saya membenci rutinitas.
Kedua, saya tidak terlalu cakap bergaul dengan orang lain.
Ketiga, saya merasa sulit bekerja dengan orang lain -terutama [...]
“Che Guevara adalah manusia paling lengkap pada masanya.”
(Jean Paul Sartre)
Sejak kematiannya pada tahu 1967, Ernesto “Che” Guevara telah menjadi ikon dan figur dengan citra sangat terkenal di dunia. Gambar Che terpampang di mana-mana; poster, buku, topi, pin, kotak rokok, sampul kaset, dan yang paling banyak, T-shirt. Tapi kenyataannya, banyak orang yang memakai kasor bergambar Che [...]
Di rumah, saya punya banyak sendok plastik yang saya dapat dari makan nasi kotak, pengaduk cappucino, makanan pesan-antar, dll. Memang, dibandingkan sendok logam, sendok plastik jelas berkualitas rendah. Setelah sekitar sepuluh kali pemakaian, sendok plastik biasanya patah. Setelah itu, baru saya anggap daya sendok plastik tak ada lagi. Saya membuangnya. Tapi, selama sendok plastik belum [...]
Baca selengkapnya ...by : Mirza Rahadian
Bila cinta memiliki wajah, maka cerpen Ratih Kumala menunjukkan kecantikan cinta yang tidak umum. Sebentuk cantik yang wajar dan tidak berlebihan, yang hanya bisa dilihat cantik bila kita mampu melihat apa yang tersembunyi di balik wajah itu.
Baca selengkapnya ...Selamat tahun baru 2009.
Semoga menjadi tahun yang keren yang tidak membosankan seperti tahun 2008.
Teman-teman,
mulai tanggal 8 Agustus novel saya Kronik Betawi resmi muncul di harian Republika sebagai cerita bersambung. Selamat membaca!
Mudik ke Solo dalam rangka papah meninggal, ternyata bisa terhibur juga. Tadinya saya dan Eka akan kembali ke Jakarta dalam tiga atau empat hari, ternyata tanggal 16 Agustus kami dapat berita Ugoran Prasad menikah di Solo. Dan... yang lebih bikin saya sumringah adalah, tempat resepsi dan jam acara dimulai sama! (di Grha Niekmat Rasa, jam 10 siang). Weee... kok bisa ya?! Selamat menempuh hidup baru buat Ugo dan Nini, selamat bergabung di 'dunia nyata'! :)
Majelis Kata Indonesia merupakan lembaga filantropi yang berikhtiar menumbuhkan dan mewadahi bentuk-bentuk penciptaan sastra yang menggerakkan kritisisme sosial, semangat toleransi, dan kesadaran kebangsaan. Lembaga ini mendorong dan mendukung bentuk-bentuk penciptaan sastra yang memperluas cakrawala memahami kemanusiaan.
Majelis Kata Indonesia menyelenggarakan beasiswa penulisan dan penerjemahan novel 2008 dengan ketentuan-ketentuan ini:
Selengkapnya baca di sini.