
Tanggal 20 November ini saya merayakan satu bulan saya bekerja di sebuah televisi swasta. Tiba-tiba saya kagum pada diri saya sendiri… “kok bisa ya, bertahan?” Saya merasa keluar dari cangkang kenyamanan yang selama ini saya erami.
Pertama, saya membenci rutinitas.
Kedua, saya tidak terlalu cakap bergaul dengan orang lain.
Ketiga, saya merasa sulit bekerja dengan orang lain -terutama untuk hal-hal yang kreatif.
Jadi…, hebat! Saya bisa bertahan. Untuk kali ini, saya memberi salut untuk diri sendiri (suatu hal yang jarang saya lakukan, ngomong-ngomong hehehehe).
Sudah terlalu lama saya bekerja sendiri. Dulu sempat sih, kerja kantoran. Waktu itu saya masih meraba-raba apa yang saya inginkan. Jadi, saya cenderung mencoba segala hal. Ketika saya memutuskan untuk fokus menulis, saya menjadi lebih intim dengan diri saya sendiri ketimbang dengan orang lain (istilah kerennya “autis” ya?). Hal kreatif menurut saya patutnya dilakukan sendiri saja, sebab jika dilakukan dengan orang lain, saya tidak akan mendapatkan apa yang ingin saya capai.
read more »

“Che Guevara adalah manusia paling lengkap pada masanya.”
(Jean Paul Sartre)
Sejak kematiannya pada tahu 1967, Ernesto “Che” Guevara telah menjadi ikon dan figur dengan citra sangat terkenal di dunia. Gambar Che terpampang di mana-mana; poster, buku, topi, pin, kotak rokok, sampul kaset, dan yang paling banyak, T-shirt. Tapi kenyataannya, banyak orang yang memakai kasor bergambar Che tidak mengetahui siapa sebenarnya Che Guevara.
Biografi grafis (baca: komik) yang digambar dan ditulis berdasarkan riset oleh Spain Rodriguez ini memberi nafas baru pada sejarah dan perjuangan Che. Buku ini menyoroti kehidupan Che serta pengalaman yang membentuk karakternya. Dari perjalanan naik sepeda motor ke Amerika Latin, saat menduduki posisi penting sebagai pimpinan di gerakan revolusioner Fidel Castro, perjalan di Afrika, keterlibatan dengan pemberontakan di Bolivia yang berujung pada kematiannya, hingga warisan luar biasa yang ia tinggalkan untuk dunia.
read more »
Di rumah, saya punya banyak sendok plastik yang saya dapat dari makan nasi kotak, pengaduk cappucino, makanan pesan-antar, dll. Memang, dibandingkan sendok logam, sendok plastik jelas berkualitas rendah. Setelah sekitar sepuluh kali pemakaian, sendok plastik biasanya patah. Setelah itu, baru saya anggap daya sendok plastik tak ada lagi. Saya membuangnya. Tapi, selama sendok plastik belum patah, saya akan memperlakukannya seperti sendok logam lain; mencuci dan menyimpan baik-baik setelah makan.
read more »
by : Mirza Rahadian

Bila cinta memiliki wajah, maka cerpen Ratih Kumala menunjukkan kecantikan cinta yang tidak umum. Sebentuk cantik yang wajar dan tidak berlebihan, yang hanya bisa dilihat cantik bila kita mampu melihat apa yang tersembunyi di balik wajah itu.
read more »

By Soe Tjen Marching
What’s wrong with sex? Of course, there is nothing wrong with it. For me, sex is just one of numerous human desires. But why is it considered taboo by several parties in Indonesia? Recently the Indonesian government issued a draft bill called “Rancangan Undang-Undang anti pornografi dan pornoaksi” [The anti pornography and pornographic action bills] or RUUAPP, which is comprised of 11 chapters and 93 sections.
It defines pornography as “substansi dalam media atau alat komunikasi yang dibuat untuk menyampaikan gagasan-gagasan yang mengeksploitasi seksual, kecabulan, dan/atau erotika” [materials in the mass media which are created to deliver ideas which exploit sexuality, pornography and/or eroticism]. Pornographic action is “perbuatan mengeksploitasi seksual, kecabulan, dan/atau erotika di muka umum” [action which exploits sexuality, pornography or eroticism in public].
Sexual activity seems to be worse than any other crime in the eyes of the Indonesian government, as its regulation has been dominating the agenda of legislation for years. Why is this desire considered dangerous? A careful examination of the draft of RUUAPP and the fact that, if passed, it will lead to the arrest of some women with short skirts and the persecution of Inul, can only lead to the conclusion that what is considered problematical is women’s sexuality.
read more »