5 Puisi yang Tak Tergantikan

A poem a day will keep the doctor away.
-rk-

Inilah kenyataan umum yang saya tahu jika saya kebetulan bertemu dengan orang-orang yang jatuh cinta pada kata-kata: mereka membaca puisi. Kisah cinta saya pada sastra juga diawali perkenalan dengan puisi. Ketika itu, saya belum punya napas yang cukup panjang untuk menyelesaikan sebuah cerpen (apalagi novel). Saya menulis puisi-puisi pendek di buku harian saya tentang tema-tema sederhana, misalnya tentang dompet merah yang hilang. Ketika itu saya masih SMP. Dulu, saya pikir, menulis puisi itu gampang. Ternyata, lama kelamaan bagi saya menulis puisi lebih sulit dibanding menulis prosa. Maka itu, sekarang saya tahu diri; tidak menulis puisi. Sampai sekarang saya masih heran dengan mereka yang bilang bahwa menulis puisi itu gampang, bagi saya menulis puisi itu pekerjaan berpikir yang tak selesai-selesai.

Ada puisi-puisi yang bagi saya tak tergantikan. Puisi-puisi yang di awal pembelajaran penulisan saya sering menemani saya, terus menerus, dan membuat saya jatuh cinta pada sastra. Meniru acara tv E! Count Down, saya ingin menghitungnya dari yang nomor lima dan terus membuncit hingga nomor satu:

Nomor 5

“Sakramen” karya Warih Wisatsana
Puisi ini ada di buku Ikan Terbang Tak Berkawan (penerbit Kompas). Seseorang memperkenalkan pada saya buku ini. Sejak itu, saya tak bisa berhenti membacanya. Saat pertama saya bertemu Warih di Popo Danes Art Veranda, Denpasar (kira-kira tiga tahun lalu, waktu itu kebetulan acaranya Putu Fajar Arcana dan saya diminta jadi pembaca cerpennya), saya menyempatkan diri membacakan puisi ini untuknya. Ini juga puisi terpanjang yang saya hapal. Ini petikan “Sakramen” (aselinya lebih panjang lagi):

Tubuhmu menyimpan badai dini hari
Aku burung nasar
malaikat ingkar
kehilangan pulau kecil
di teluk jauh terpencil.

Aku lewati gurun keramat
engkau seberangi
gaung murung lonceng
awal sesal yang kekal
akhir riang yang tak terbayang.

[…]

Nomor 4

“Taman” karya Chairil Anwar
Setelah mengenal Chairil lebih dekat di sekolah, saya baru sadar, bahwa saya tidak terlalu menikmati puisi “Aku”. Saya justru suka sekali dengan puisi ini (dimuat di buku Aku Ini Binatang Jalang, Penerbit GPU):

Taman

Taman punya kita berdua
tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki.
Bagi kita bukan halangan.
Karena
dalam taman punya berdua
kau kembang, aku kumbang
aku kumbang, kau kembang.
Kecil, penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia
(Maret 1943)

Nomor 3

“A Word is Dead” karya Emily Dickinson
Dickinson adalah salah satu dari banyak penyair yang paling saya kagumi. Ada banyak puisinya yang saya suka, dan sulit bagi saya untuk memilih satu di antaranya. Beberapa puisinya pun, kadang sengaja saya kutip untuk kartu ucapan untuk teman. “A Word is Dead” bagi saya adalah penyemangat untuk terus menulis, maka layak jika saya memilih puisi ini sebagai favorit saya:

A Word is Dead

A WORD is dead
When it is said,
Some say.
I say it just
Begins to live
That day.

Nomor 2

“Cinta Telah Tiba” karya Joko Pinurbo
Sebagaimana Emily Dickinson, saya kesulitan memutuskan puisi mana dari Jokpin yang paling saya sukai, terutama dari buku Kekasihku (penerbit KPG). Jadi, jika saya harus memilih satu puisi, maka pilihan saya (tentu saja) jatuh pada puisi ini (dimuat di buku Kepada Cium, penerbit GPU):

Cinta Telah Tiba
untuk eka dan ratih

cinta telah tiba
sebelum kulihat parasnya
di musim semi wajahmu

telah menjadi kita dan kata
saat kucicipi hangatnya
di kuncup rekah bibirmu

kian dalam dan tak terduga
saat kuarungi arusnya
di laut kecil matamu
(2006)

Nomor 1

“Stopping by Woods on a Snowy Evening” karya Robert Frost
Dari dulu, saya selalu menyukai Robert Frost. Dua puisinya yang tak bisa pergi dari pikiran saya adalah “The Road Not Taken” dan “Stopping by Woods on a Snowy Evening”. Saya kesulitan menentukan mana di antara dua itu yang paling saya suka. Akhirnya, setelah saya baca-baca ulang dan menimbang-nimbang, saya memutuskan lebih suka “Stopping by Woods on a Snowy Evening”.

Stopping by Woods on a Snowy Evening

Whose woods these are I think I know.
His house is in the village though;
He will not see me stopping here
To watch his woods fill up with snow.
My little horse must think it queer
To stop without a farmhouse near
Between the woods and frozen lake
The darkest evening of the year.
He gives his harness bells a shake
To ask if there is some mistake.
The only other sound’s the sweep
Of easy wind and downy flake.
The woods are lovely, dark and deep.
But I have promises to keep,
And miles to go before I sleep,
And miles to go before I sleep.

Sejujurnya, masih banyak puisi dari penyair lain yang saya sangat sukai, ada Goenawan Mohammad, Sapardi Djoko Damono, Elizabeth Barrett Browning, E.E. Cummings, dll. Tapi saya sudah terlanjur membatasi diri untuk memilih lima saja -jadi rada nyesel :( -. Itu pun sudah saya batasi satu puisi, satu penyair. Biar adil.

Hhmm…, apa teman-teman punya “5 Puisi yang Tak Tergantikan” versi diri sendiri? Silakan berbagi dengan saya :)

17 thoughts on “5 Puisi yang Tak Tergantikan

  1. wah, mbak ratih piawai juga bikin puisi. terus kenapa sekarang nggak nulis puisi, mbak? btw, kalau saya disuruh bikin puisi mending disuruh minum kopi aja, mbak, hehehehe :lol: yups, salam buat mas eka kurniawan.

    ———-

    Pak Sawali:
    Sama Pak! Saya juga mendingan minum kopi ketimbang bikin puisi. Baca aja deh. Hehehehe. Ngopi bareng yuk!
    -rk-

  2. kalau aku jelas suka Puisinya Nuruddin Asyhadie yang judulnya “kupanggil namamu ketika gelap melahap” dalam kumpulan puisi Beatnik ;)

    ———-

    Husni:
    Emangnya itu puisi buatmu?! wakakakakaka…..!!!!! :D
    -rk-

  3. Kayaknya orang yang bisa memilih puisi baik punya potensi nulis puisi baik deh. He he he masih ingatkah kau betapa aku pernah ngintip puisimu yang hebatnya kayak “puisi pujangga baru” itu? Bikin lagi deh. Siapa tahu dikau justru jadi penyair masa depan.

  4. kalau boleh saya bayangkan, kayaknya mbak ratih tu suka dengan warana puisi…….yang…….yang apa ya??? kok saya jadi lupa

    lihat saja 5 puisi yang tak tergantikan….

  5. pokoknya puisi jokpin yang paling keren..hehehe…ratih, you know which one of your poem that i like most….tentang perempuan 30 tahunan itu lohh…sayang aku lupa judulnya. sepertinya menyindir siapa yah…wakakakakak… miss you, RK. ayo norak2an lagi….

  6. pokoknya puisi jokpin yang paling keren..hehehe…ratih, you know which one of your poem that i like most, dan itu juga masuk top 5 puisi versiku….tentang perempuan 30 tahunan itu lohh…sayang aku lupa judulnya. sepertinya menyindir siapa yah…wakakakakak… miss you, RK. ayo norak2an lagi….

  7. ga ada yang keren….. semua puisi hanya permainan kata mbak….
    kasihan yang baca…

    puisi yang baik hanya puisi yang bisa di dengar dan dirasa pembaca

    semua penyair egoiss

    ============
    mukhtar mukti ali:
    lha, saya kan juga pembaca? saya juga bisa dengar dan merasa? saya senang mereka justru karena mereka memang egois. meskipun penyair semua egois, boleh dong sebagai pembaca saya juga egois.
    (ratihkumala)

  8. saya juga sastrawan lho mbak… pemuja eka pranita dewi jiga mbak kenal. tapi saya tidak egois makanya saya selalu bertanya pada mereka. apa yang susah apa yang tak dimengerti biar aku kasih tahu. lihat lah mbak karya karya saya di friendster saya. di rythemofme@yahoo.com.

    seolah saya ini membuka diklat kursus membuat puisi saja pada mereka.

  9. saya terkesima membaca puisi berjudul “taman”,aku ini binatang jalang karya chairil anwar, dimanakah saya bisa mencari buku ini???

    ——————–

    @JEJE:
    Kelihatannya buku itu masih banyak kok di toko buku gramedia. Kalau kamu tinggal di Jakarta, coba cari di kedai buku Jose, di Taman Ismail Marzuki. Di sana banyak buku yang asik2 dan kadang aneh2. Kovernya warna perak dengan gambar siluet Chairil Anwar lagi ngerokok. Selamat berburu buku! :)

  10. salam kenal….senang berkunjung ke situs anda….saya tunggu kunjungan baliknya…..saya ingin tukar link dengan anda,apa anda berkenan?

  11. bagaimana dengan ‘afrizal’?

    ——————–

    @dusone:
    Saya suka tulisan Afrizal, tetapi belum ada yang spesifik ‘kena’ di hati (cie…).
    Yang saya tulis di sini, adalah yang sangat berkesan untuk saya, dan yang sekali baca langsung ingat.

  12. usai” sudah semua cerita saat kita bercanda bersama tinggal kenangan tinggallah duka saat kau pergi jauh s’lamat jalan sahabat ku kan slalu doakan dirimu oh tuhan ku mahon tempatkanlah dirimu di sampingmu s’lamat jalan sahabat

  13. versi saya:
    1. Rendra, Makna Sebuah Titipan
    2. Sapardi Djoko Damono, Aku Ingin
    3. Robert Frost, The Road Not Taken
    4. Chairil Anwar, SENJA DI PELABUHAN KECIL

  14. Salam kenal, Saya seorang Mahasiswa yg pada awalnya bosan dng karya puisi. Namun, seiring waktu ternyata puisi membawa makna khusus dari sang penulis kpd pembaca.
    Jadi, boleh minta referensi buku-buku kumpulan puisi yang menarik untuk pemula?

Comments are closed.