Film REMEMBER THE FLAVOR, Tentang Rasa, Pulang Kampung dan Kenangan
0

Film REMEMBER THE FLAVOR, Tentang Rasa, Pulang Kampung dan Kenangan

Foto_perscon_RTF

Movie Goers Magazine, 20 Mei 2016

Setiap orang tentu punya rasa yang berbeda terhadap sebuah kenangan. Ada yang ingin meninggalkannya, ada yang sekedar ingin membangkitkannya dan kemudian melupakan, ada yang ingin menghidupkannya kembali, bahkan ada yang ingin terus mengulangi kenangan itu kembali. Berangkat dari fenomena ini, Limelight dan MP Pro memproduksi film ‘Remember The Flavor’ Sebuah film tentang rasa, pulang kampung dan kenangan.
Continue reading »

Ketika Rangga Kehilangan Puisi
3

Ketika Rangga Kehilangan Puisi

puisi-rangga-e1462523782727
Foto: Still Image dari Official Trailer AADC2/ Miles Film

Artikel ini pertama kali dimuat di: The River Post, 6 Mei 2016.
———-

Jika kamu hendak menonton AADC 2, persiapan yang paling penting adalah mental. Tanggalkan atribut “kritikus” dan “filmmaker”-mu di luar pintu bioskop. Masuklah ke bioskop bersama hantu masa lalu, siapkan hatimu untuk dihajar oleh kenangan. Siapkah kamu untuk mengingat persahabatanmu yang diwakili oleh Cinta, Milly, Karmen dan Maura? Siapkah kamu untuk mengingat ketika pertama benar-benar merasakan jatuh cinta yang diwakili oleh Rangga dan Cinta? Siapkah kamu untuk baper? Film AADC 2 menjual satu hal: nostalgia. Selamat buat cewek-cewek yang berhasil menarik pacarnya nonton film bergenre chick flick ini. Namanya juga chick flick, tentu film ini target penontonnya adalah perempuan. Lebih luas lagi, target penontonnya adalah orang yang menonton AADC 14 tahun yang lalu. Jika kamu (terutama para cowok) mengharapkan lebih dari itu, silakan tonton film lain dengan tema yang lebih berat. Sebab jika tidak, kalian bisa tiba-tiba mejelma jadi kritikus dadakan.
Continue reading »

Mendefinisi Ulang Arti “True Love” dalam Film Kartun/Animasi Disney
1

Mendefinisi Ulang Arti “True Love” dalam Film Kartun/Animasi Disney

say_disney_snow_white_evil_queen

Ingatkah kalian pada masa kecil, ketika film kartun membuat setiap anak perempuan berangan-angan menjadi “princess”? Semua anak-anak yang menonton Snow White and Seven Dwarft, Sleeping Beauty dan Cinderella pasti mengangankan hal yang sama: berparas cantik, berkulit putih, dengan gaun indah, dan tinggal di istana megah dengan Pangeran Tampan. Itu adalah hari-hari ketika Disney menanamkan ke kepala setiap anak perempuan, bahwa mereka kelak akan diselamatkan oleh laki-laki. Mari kita melihat kembali ke belakang:

Maleficent mengutuk Aurora dengan kalimat ini sejak dia baru lahir, “From this slumber she shall wake, when true love’s kiss the spell shall break.” (Sleeping Beauty, 1959). Evil Queen yang iri akan kecantikan Snow White meracuni Snow White dengan jebakan apel beracun yang menyebabkan mati suri, “The victim of the sleeping death can be revived only by Love’s First Kiss” (Snow White and The Seven Dwarfts, 1937). Sedang dalam film Cinderella (1950), meskipun istilah true love tidak gamblang diucapkan dalam dialog, melaikan lebih halus dengan harapan Cinderella tentang kebahagiaan. Di sini dia pun diselamatkan oleh Pangeran Tampan yang repot-repot mencarinya sambil membawa sebelah sepatu kaca yang dicobakan ke setiap kaki gadis yang ditemuinya di negeri itu. Ketika Cinderella cocok dengan sepatu kaca itu, dia pun terselamatkan dari kekejaman Ibu Tiri dan dua saudara tirinya.
Continue reading »

Frankfurt Book Fair 2015

Frankfurt Book Fair 2015

Ada banyak pertentangan sebelum Frankfurt Book Fair 2015 berlangsung. Sejumlah orang dari berbagai pihak banyak yang tidak puas dan protes, baik itu cuma sekedar mengeluh di belakang, maupun vokal di socmed. Ssaya tidak perlu menyebut satu per satu siapa saja yang buka mulut, protes ini-itu. Pada akhirnya saya cuma bisa memaklumi, dan berkata dalam hati, mungkin mereka ingin didengar. 

Pada tanggal 13 Oktober 2015 saya terbang ke Frankfurt untuk menghadiri FBF 2015. Tiba di kota itu siang hari, sekitar jam 1. Pembukaan FBF 2015 dijadwalkan jam 5 sore. Saya tidak bisa ikut pembukaan karena baru menemukan hotel sekitar jam 5 lewat. Hari itu saya gunakan untuk istirahat. 13 jam perjalanan pesawat dengan satu kali transit di Abu Dhabi cukup membuat saya lelah. Meski di dalam pesawat saya merasa cukup produktif dengan menonton serial How to Get Away with Murder dan membaca e-book di iPad saya.

Continue reading »