Ada yang tertarik mengikuti kelas online menulis cerita pendek bersama Eka Kurniawan? Rencana kelas baru mulai 14 April 2011, diadakan oleh PlotPoint. Untuk yang tertarik, sila daftar di http://tulissekarang.com. Bisa juga sebelumnya bertanya dulu dengan ngobrol via YM di tulissekarang@yahoo.com. Yang menggunakan Twitter bisa follow@_PlotPoint, yang menggunakan Facebook, sila kunjungihttp://facebook.com/pages/plot-point-workshop.
Reader’s Block
Anda penulis? Menyebalkan bukan jika tiba-tiba terserang writer’s block? Tahu kan, itu lho…tiba-tiba lagi asik menulis, “terserang” masalah, entah mendadak mood jelek, rasa malas yang akut, mau nulis kurang bahan tulisan, dan lain-lain. Saya sering ditanya, gimana cara mengatasi writer’s block. Saya pribadi, akhir-akhir ini lebih suka membiarkan writer’s block itu sejenak menyerang saya, dan tak memaksakan otak saya untuk menulis. Jika merasa sudah tiba saatnya, saya akan mencoba memancing mood menulis dengan menulis hal-hal sederhana (misalnya menulis blog), atau membaca buku-buku yang menyenangkan, hingga nonton film yang bisa memancing ide-ide baru. Saya yakin, tiap penulis jika ditanya cara mengatasi writer’s block punya jawaban sendiri-sendiri.
Writer’s block itu ibaratnya “habluminallah” (tentu saja dengan tanda kutip, yang secara harafiah ‘hubungan manusia dengan Tuhan’). ‘tuhan’ (dengan ‘t’ kecil) di situ -versi saya- saya ibaratkan diri sendiri, penulis sebagai tuhan kecil untuk tulisannya sendiri. Bagaimana ia bertanggung jawab atas dirinya sebagai penulis dengan tulisan yang seharusnya ia hasilkan. Saya katakan ‘seharusnya’, karena memang banyak penulis yang mandeg begitu saja di tengah proses menulisnya (ya terserang writer’s block itu tadi) dan tak melanjutkan lagi. Tapi, ada lho, “habluminannas” dalam berkarya sastra (yang secara harafiah berarti ‘hubungan manusia dengan sesama’), yang berarti -versi saya- dalam hal sastra adalah hubungan buku yang dihasilkan oleh penulis yang bersangkutan dengan pembacanya.
Pernahkah Anda merasa sebal karena tahu bahwa tulisan Anda tak ada yang membacanya? Bagaimana cara tahunya? Yang sederhana dan paling mudah dilacak adalah ketika Anda melihat laporan dari penerbit, bahwa penjual buku Anda cuma beberapa gelintir saja alias tak laku. Kedua, cari saja orang yang mengapresiasi buku Anda dengan mereviewnya di media/internet, jangan-jangan isinya mencaci maki buku Anda. Atau lebih parah, tak ada yang mereviewnya sama sekali. Sakit hati, bukan? “Sialan, susah-susah aku nulis!” Umpat Anda dalam hati. Yah, tapi itulah resiko jadi penulis.
Continue Reading »
Putri Kami: Kidung Kinanti
Telah lahir bayi kami, Kidung Kinanti Kurniawan, pada 3 Januari 2011. Berikut ini foto-foto Kinan, oleh Husni Munir pas Kinan berumur 3 minggu:
Oleh-oleh dari Workshop Kelas Kreatif Fiksimini
Serunya Workshop Kelas Kreatif Fiksimini tanggal 27 November 2010 (Surabaya) dan 28 November 2010 (Jakarta) lalu. Ini oleh-olehnya. Di Surabaya, setelah workshop para peserta ikut Jelajah Museum dan Pabrik Pelintingan Rokok di House of Sampoerna. Sedang di Jakarta, setelah workshop para peserta Sunset Tour Jelajah Kota Tua bersama komunitas Historia. Ngomong-ngomong, sehabis sesiku ngomong, aku keliling Museum Bank Mandiri, lumayan spooky ternyata…hiiiy.
- Narsis-narsisan setelah ngobrol soal fiksi. Dapat plakat dari Oddie, si seksi sibuk.
- Hetih Rusli, editor GPU, juga ikut ngobrol di workshop ini tentang naskah-naskah seperti apa bisa diterbitkan.
- Pak Abdullah Harahap ngomong soal cara nyari ide yang joss, dan Oddie, setelah workshop selesai.
- Aku dan Esti Kinasih, penulis novel Fairish, yang juga jadi pembicara di worskhop.
- Clara Ng -seksi sibuk sekaligus pembicara workshop di Surabaya- dan Faye Yolody -salah satu peserta workshop-.
Terimakasih Clara Ng dan Faye Yolody buat foto-fotonya :) makasih juga panitia seksi sibuk Workshop Kelas Kreatif Fiksimini
Reading Between The Lines

Jakarta Globe | Dalih Sembiring | September 27, 2010
Of all the literary works that deal with lesbianism or have lesbians as lead characters, how many have been written in Indonesian?
Try to list them and you will realize that there are very few.
Oka Rusmini mentions lesbians in her novels “Tarian Bumi” (“Earth Dance”) and “Tempurung” (“Shell”).
Then there are Clara Ng’s “Gerhana Kembar” (“Twin Eclipses”), Herlinatiens’s “Garis Tepi Seorang Lesbian” (“The Margin of a Lesbian”), Djenar Maesa Ayu’s “Nayla” and Ratih Kumala’s “Tabula Rasa.”
Other titles include “Club Camilan” by Bella Widjaja, Brigitta NS and Donna Talitha, as well as Alberthiene Endah’s “Dicintai Jo” (“Loved by Jo”) and “Detik Terakhir” (“The Final Second”).
These are not even enough to fill a single bookshelf on lesbian literature — if Indonesian libraries had such a section.
This is why a new anthology of short stories titled “Un Soir du Paris,” French for “An Evening in Paris,” is long overdue.
Continue Reading »
Ibu Rumah Tangga dalam Industri Kreatif
KOMPAS.com – Clara Ng (37), penulis yang populer dengan novel Tujuh Musim Setahun (Dewata Publishing, 2002), terang-terangan mengaku menulis novel adalah pekerjaan kedua. “Pekerjaan utama saya adalah mengurus anak,” tutur ibu dari Elysa (8) dan Cathy (4) ini saat ditemui di rumahnya di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat, Selasa (6/7/2010) lalu.
Padahal, produktivitas Clara sebagai penulis tak perlu diragukan lagi. Sejak menulis Tujuh Musim Setahun pada tahun 2000, hingga kini ia telah menulis dan menerbitkan tak kurang dari 11 novel dan 29 buku cerita anak-anak.
Senada dengan Clara, penulis Sitta Karina Rachmidiharja (29) mengatakan lebih ingin dikenal sebagai ibu rumah tangga daripada penulis atau selebriti apa pun. “Karena saya memang ibu rumah tangga dan tidak pernah ingin jadi selebriti. Lebih enak begini, punya privasi dan kebebasan,” kata Sitta di rumahnya di kawasan Kreo, Tangerang, Banten.
Sitta mulai dikenal sejak menerbitkan novel pertamanya,Lukisan Hujan, pada tahun 2004, dan sejak itu sudah menulis 15 novel. Novel Lukisan Hujan sendiri, yang diterbitkan penerbit Terrant Books itu, laku keras dan cetak ulang hingga lima kali.
Keluar dari pekerjaan
Awalnya, Sitta sempat beberapa kali pindah kerja, mulai dari Citibank, perusahaan konsultan manajemen Accenture, hingga menjadi konsultan di PT Freeport Indonesia. Namun, sejak 2005 ia memilih keluar dari pekerjaan dan menjadi penulis freelance. “Sebagai istri, saya ini sangat old fashioned. Bagi saya, tugas utama istri, ya, mengurus rumah dan anak-anak,” ungkap alumnus jurusan Teknik Industri, Universitas Trisakti, Jakarta, ini.
Keluar dari kerja kantoran untuk menekuni kegiatan menulis juga dilakukan Ratih Kumala (29). Ia sebenarnya sudah ingin menulis novelnya sejak lama, tetapi baru tahun 2002 ia memutuskan keluar dari pekerjaannya dan merampungkan novel pertama berjudul Tabula Rasa (Grasindo, 2004).
Hasilnya tak sia-sia, novel itu terpilih sebagai pemenang ketiga Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2004. “Sejak itu, saya menekuni pekerjaan jadi penulis lepas,” kata alumnus jurusan Sastra Inggris, Universitas Sebelas Maret, Solo, ini.
Menulis sendiri bagi Sitta adalah sebuah kegemaran lama. Sejak usia delapan tahun, Sitta sudah gemar mengarang cerita. Inspirasinya ia dapat dari kakeknya, almarhum Mara Karma, seniman dan penulis seangkatan Mochtar Lubis dan Rosihan Anwar.
Continue Reading »







