Awal Bagus Mencapai Kematangan

Awal Bagus Mencapai Kematangan

Oleh Anwar Holid

Novel debut Ratih Kumala, Tabula Rasa, merupakan pemenang ke-2 Sayembara Novel DKJ 2003. Pemenang pertama dan ke-2nya saja aku tak sempat memberi perhatian penuh sama sekali. Aku belum membaca semua pemenang itu.

Tapi aku baca kritik Acep Iwan Saidi atas Dadaisme, dan menurutku dia sangsi sama sekali (i.e. curiga) kenapa karya itu bisa jadi pemenang pertama. Aku nggak mau menyoroti Tabula Rasa sebagai salah satu pemenang sayembara itu, alih-alih aku akan berusaha sewajarnya menghargai pencapaian itu, dan melakukan kritik yang benar-benar ingin aku sampaikan.

Mulailah aku membaca novel itu sejak diberikan Bilven sampai 24/09/04 malam. Tentu saja aku ngebut dan harus mengabaikan buku lain. Secara keseluruhan aku menikmati cara bertuturnya. Ratih Kumala lancar bercerita, lincah menceritakan peristiwa, cukup berani menyelami kepribadian karakter-karakternya; tapi sebaliknya aku merasa bahwa konfliknya sederhana—barangkali klise; dia hampir semuanya menggunakan penuturan orang pertama ‘aku’—tentu itu memiliki risiko; dan aku merasa bahwa novel itu memiliki aspek psikoanalisis yang cukup kuat. Dua bagian pertama novel ini bicara ‘in memoriam’: kenangan seseorang tentang kematian, yaitu kematian dua orang perempuan bernama Krasnaya oleh kekasihnya Galih; dan kematian perempuan bernama Violet oleh ‘kekasih rahasianya’ bernama Raras. Di dua bagian terakhir ceritanya lebih menjurus: tentang krisis identitas dan keputusan terhadap pilihan. Krisisnya adalah keraguan Raras merasa dirinya sebagai seorang lesbian, dan keputusannya adalah meyakini dirinya memang benar lesbian, dan dia berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan dan lingkungannya itu dengan respons emosional yang baik, berusaha tidak membuat konflik dengan sikap orang lain. Di ujung novel Raras merasa dirinya adalah sebuah tabula rasa, dirinya terbentuk oleh jalan hidup. Tapi menjelang tamat, sebuah ramalan (writing on the wall?) tertulis: aku masih tetap larva, entah untuk berapa lama. Siapakah yang menulis itu? Aku lirik atau penulis?

Di sela-sela kenikmatan itu, aku justru kerap sekali terganggu oleh sebuah hal: kegenitan penulisnya menggunakan bahasa asing (Rusia dan Inggris) yang tidak esensial sama sekali, tidak perlu. Tepatnya: seberapa esensial dia berbahasa Inggris pada novel itu? Menurutku pilihan menggunakan bahasa asing itu merupakan keputusan yang buruk, sebab kualitas bahasa asing yang digunakan adalah bahasa asing rendah, kelas percakapan tingkat permulaan yang jelas-jelas bisa diganti dengan ungkapan Indonesia (dan ironiknya kebanyakan memang dia terjemahkan dengan baik ke Indonesia). Bahasa asingnya tidak berbeda jauh dari yang ada di buku mahir berbahasa asing; kadang-kadang bahkan lebih parah, dia tidak segan mencampur aduk kosakata asing dan Indonesia untuk sebuah percakapan. Bagiku, kecenderungan itu adalah gejala yang persis juga muncul di sinetron-sinetron, snobisme kelas menengah Indonesia yang merasa bangga bila bisa mengucapkan Inggris dengan cukup lancar. Aku heran editornya membiarkan saja penggunaan begitu banyak bahasa asing mentah itu. Salah satu risikonya adalah ternyata penulis (dan editornya) terpeleset sendiri dengan keputusan itu: menulis Edgar Allen Poe bukannya Edgar Allan Poe, Effiel daripada Eiffel, alhtough alih-alih although, carcoal alih-alih charcoal, positif alih-alih positive, juga yahoomail.com alih-alih mail.yahoo.com. Bila dibandingkan dengan cerpen Umar Kayam (Seribu Kunang-kunang di Manhattan) atau Budi Darma (Orang-orang Bloomington), yang semua setingnya terjadi di luar negeri, berinteraksi dengan orang asing, termasuk logatnya, penggunaan bahasa asing dalam Tabula Rasa tidaklah memberi sumbangan apa pun dalam kekayaan sastra, justru memperlihatkan kemalasan penulis mengeksplorasi (setidak-tidaknya: menggunakan) bahasa Indonesia. Umar Kayam dan Budi Darma hanya menggunakan kosakata asing ‘bila benar-benar’ perlu, hanya untuk menggantikan kosakata yang waktu itu belum ada padanan Indonesianya, atau yang memang mustahil diganti, misalnya martini, bourbon, concierge, mistuh (logat Black-America nuntuk ‘mister’), madame, atau home run. Kedua penulis ini tahu mereka sedang berkarya (menulis/berekspresi) dalam bahasa Indonesia, untuk khalayak pembaca Indonesia, jadi harus mengeksplorasi kosakata Indonesia. Jadi percakapan orang asing pun langsung dalam Indonesia, lengkap dengan alam pikirannya. Akibatnya kosakata unik Indonesia seperti brangasan, tuyul, keparat, malah digunakan. Budi Darma langsung mengindonesiakan syair yang ditulisnya. Langkah sebaliknya dilakukan Ratih: dia gampang sekali menggunakan kosakata dan kalimat asing, namun malah membiarkan teks asing yang nyata-nyata sukar diindonesiakan, di antaranya puisi Jones Very, Wilfred Owen, Elizabeth Barrett Browning, larik-larik lagu, atau puisinya sendiri. Kesulitan? Memilih membiarkannya? Sayang sekali dia memilih itu, sementara dia rela menerjemahkan sebuah chatting yang tidak penting. Tentu saja mengindonesiakan puisi-puisi yang signifikan terhadap perkembangan karakter adalah esensial, dan karenanya bisa memicu pertanyaan, seberapa keras dia mengeksplorasi bahasa Indonesia dalam novel itu? Bila dibandingkan Puthut EA, Nukila Amal—sebagai sesama penulis prosa—eksplorasi Ratih pada bahasa Indonesia tidaklah menonjol, dia kadang-kadang mencoba melakukan percobaan, dengan pencapaian yang patut diperhatikan, misalnya monolog interior puitis pada awal bagian In Memoriam: Violet (hal. 67-70), ungkapan simile bagus pada hal. 121, termasuk menggunakan unsur dialek Jawa dengan baik. Dalam politik bahasa, langkah menelusuri khazanah bahasa bangsa sendiri (baik bahasa setempat atau kosakata kuno) selalu lebih patut dipuji daripada mudah tergoda menggunakan kosakata asing yang sebenarnya dangkal.

Aku merasa kekuatan utama novel ini ada pada cara bertutur yang lancar dan menarik. Meminjam pembagian cerita a la diari, rata-rata menggunakan tuturan orang pertama ‘aku’, Ratih lincah menceritakan perkembangan masing-masing karakter, mempertemukannya dalam alur peristiwa, berinteraksi, menghasilkan drama yang asyik dibaca, bisa jadi mudah, dan karena itu kronologi waktu yang tak beraturan bisa dikesampingkan. Aku sepakat dengan komentar Maman S. Mahayana bahwa pencerita—aku, dia, engkau—seenaknya gonta-ganti menyesuaikan diri degan tuntutan cerita, akibatnya pembaca seperti diajak menyaksikan serangkaian fragmen yang bergerak cepat ke sana-kemari: begitu filmis. Tapi teknik seperti itu berisiko tak memberi ruang luas pada pembaca secara mandiri merasakan persoalan psikologis dari luar, lebih berjarak. Ketika Violet sakaw dan setelah diperabukan misalnya, penulis memilih bercerita melalui ‘aku’, namun hasilnya pembaca mungkin segera berkomentar: seperti itukah kondisi orang sakaw?, bisakah dia menceritakan ulang kondisi mental dan pengalamannya?, dan lebih menantang: bagaimana mencari nalar jasad yang baru diperabukan (atau nyawa yang sudah mati) menceritakan pikirannya? Menurutku Ratih berhasil memasuki masing-masing diri karakter, mengembangkan wawasan dan pandangan dunianya. Meskipun sosok karakter itu ternyata tidak sangat kuat, setidak-tidaknya aku yakin mampu mempesona pembaca, terutama Galih dan Raras. Kelemahan karakter itu bisa dilihat dari konflik yang mereka alami dan cara menghadapinya. Raras misalnya, sebagai seorang yang terbiasa dengan puisi Inggris klasik, lancar Inggris, akrab dengan cyberspace, diam-diam menyadari dirinya lesbi (tepatnya: homoseksual predominan), ternyata masih asing dengan istilah homophobia. Janggal sekali. Ratih berusaha membangun kekuatan karakter dari percakapan, peristiwa, cara mereka menghadapi konflik, juga berinteraksi satu sama lain. Dia memang tidak berusaha mendeskripsikan tokoh secara konvensional, dan langkah itu boleh disaluti, tapi menurutku perkembangan dan perubahan karakternya gagal didalami sungguh-sungguh. Tepatnya: karakter itu gagal mempesona secara luar biasa. Bila Galih Praditama dibandingkan dengan Adrian Mole, menurutku Adrian Mole jauh lebih mempesona, padahal Sue Towmsend pun tidak mendeskripsikan perkembangan jiwa dan karakter Adrian melalui penjelasan harfiah maupun fisik, melainkan dari perkembangan pandangan dan pikirannya. Selain teknik bercerita dan isinya, persoalan karakter menurutku merupakan aspek yang harus diperhatikan dalam penciptaan sebuah fiksi.

Melampaui itu semua, bagaimanapun Tabula Rasa adalah novel layak baca, mengasyikkan. Di luar sejumlah penggarapan kurang maksimal dan perdebatan keputusan penyuntingan, buku ini pastilah mampu hadir dengan kekuatannya sendiri. Keterbacaan besar, tema ceritanya kontekstual dengan masa 2000-an, isu yang dikembangkannya luas, dari persoalan psikologis, politik, religiositas, homoseksualitas, hingga HIV/AIDS, persoalan waktu pun mampu dia lipat dengan cukup memikat. Di masa depan, kita boleh kembali berharap agar penulisnya berkarya lagi, mengeksplorasi, dengan teknik yang barangkali lebih dewasa. Sebuah buku selalu tidak cukup, malah merupakan pijakan awal yang baik untuk mencapai kematangan. Pencapaian pertamanya ini patut dihargai siapa pun khalayak pembaca Indonesia, merupakan salah satu fiksi yang berhasil baik dari segi sastra dan kelancaran bercerita.[]

Anwar Holid, eksponen komunitas TEXTOUR, Rumah Buku Bandung.