television-paintingTiba-tiba saya teringat pada tokoh Kenneth di serial 30 Rock. Dia adalah pegawai rendahan (kalau tidak salah posisinya Pembantu Umum) yang bekerja di sebuah televisi swasta. Kenneth yang karakternya bego-bego lugu adalah seorang yang sangat mencintai pekerjaannya. Dia bekerja dengan passion, dia bangga menjadi bagian dari sebuah televisi, apapun posisinya.

Diam-diam, saya mencoba memahami kenapa 30 Rock membuat tokoh Kenneth dalam serialnya. Dia berasal dari kampung, anak udik yang kaget dengan gemerlapnya New York City. Matanya berbinar-binar jika melihat artis mampir di NBC, tempatnya bekerja. Dia anak kampung yang hampir seluruh hidupnya bergelut dengan peternakan, kini bisa menjadi bagian televisi.

Selama hampir enam bulan saya sudah benar-benar nyemplung di telvisi, selama itu pula menjadi pembuka mata saya akan dunia televisi. Saya, pernah seperti orang-orang yang tidak setuju dengan “pembodohan televisi”, sempat menganggap televisi adalah “sampah”, dan percaya bahwa too much TV makes your brain goes bad. Tapi sebenarnya saya tidak pernah benar-benar tidak menyukai televisi. Bagi saya, jika tak ada kerjaan, dan membaca menjadi kegiatan yang membosankan (hayo ngaku deh… pasti pernah kan merasa bosan baca buku), maka saya beralih ke televisi (selain menyewa DVD atau nonton bioskop). Tapi tentu, ada kalanya juga saya bosan nonton TV, seperti saya bosan pada buku-buku. Kesimpulan pribadi: saya pikir saya lumayan seimbang menempatkan diri antara televisi dan buku.

Kenneth si pecinta televisi di serial 30 Rock

Kenneth si pecinta televisi di serial 30 Rock

Ketika teman-teman saya mulai tahu saya bekerja untuk sebuah stasiun televisi dan bertugas membuat cerita untuk FTV (yang lebih banyak disebut “sinetron” oleh banyak orang), banyak pertanyaan dilontarkan ke saya. Di antaranya, “kok kamu bisa kerja bikin ‘cerita jelek’?”, “kok bisa sih kerja dikejar rating?”, dll. Awalnya, jujur saya juga bingung, dan bertanya pada diri sendiri: iya ya… kok bisa? Sekarang, setelah hampir enam bulan lewat, saya bisa bilang: ya, bisa saja, kenapa enggak?

Saya percaya, dalam waktu enam bulan ini saya menjadi orang yang lebih bijaksana karena sudah kerja di televisi. Saya jadi bisa melihat dari tiga sisi. Pertama, sisi para penulis sastra (di mana dari sinilah saya berasal); kedua, sisi orang program televisi; ketiga, sisi penonton. Saya bisa paham kenapa para penulis sastra tidak menyukai televisi, tetapi saya juga sangat bisa memahami kenapa orang televisi membuat acara yang sering disebut “enggak bermutu”, dan kenapa masih juga ada penontonnya.

Saya kini tidak percaya ada cerita yang jelek, yang ada… cerita itu tidak sesuai dengan selera seseorang, yang menyebabkan cerita itu laku/tidak. Dalam sebuah program televisi, berlaku hukum ekonomi: di mana ada permintaan, di situ barang diproduksi. Pada saat sinetron yang dibilang “enggak bermutu” itu dipertontonkan, dan ratingnya tinggi (berarti permintaannya tinggi), maka saat itulah sinetron ini akan jadi serial yang panjang. Kalau penonton sudah bosan, maka ratingnya turun, dan serial ini takkan diproduksi lagi. Nah, kira-kira seperti itulah.

Lain kali, kalau saya (atau Anda) mendengar ada orang marah-marah dengan serial Cinta Fitri yang sampai season 3, atau Tersanjung yang sampai season 9, maka saya bisa menjawab, “jangan kamu tonton serial itu, pasti nanti habis sendiri. Kalau ditonton terus, ya pasti akan diproduksi terus.”

Saya sering sekali mendengar komentar kalau acara kita tidak bermutu, tidak ada isinya, pembodohan, dll. Percayalah…, saya tahu bagaimana susahnya mencerdaskan bangsa lewat televisi. Saya pernah membuat cerita yang “berupaya mencerdaskan bangsa”, dan hasilnya ratingnya jeblok ketimbang cerita-cerita yang horor dan suspens. Dan jika sudah begini, maka cerita bergenre lebih cerdas tidak diproduksi lagi (setidaknya tidak dalam waktu dekat). Bagaimanapun, kita harus ingat, ketika masuk ke industri televisi, kita berhubungan dengan uang (yang bukan milik kita). Semua investor tentu mau uangnya kembali. Jika acara tersebut ratingnya jelek, maka tidak ada iklan yang mau masuk, maka modal tidak akan balik. Kira-kira begitu penjelasan sederhananya.

Kita tentu masih ingat dengan serial Dunia Tanpa Koma, yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo sebagai seorang jurnalis investigasi. Serial ini dibuat (konon) dalam rangka “mencerdaskan bangsa”, atau setidaknya memberikan tontonan yang lebih mendidik. Toh, pada kenyataannya, serial ini tidak bertahan lama, yang berarti tidak laku ditonton, yang berarti tidak ada iklan yang mau tayang. Aneh bukan? Jadi, jangan pernah bilang kalau pihak PH dan televisi tak pernah mencoba membuat acara yang bermutu. Sudah, dan kenyataannya: hancur di lapangan.

Tokoh Kenneth dalam 30 Rock bagi saya merupakan gambaran penonton kita yang memang aneh, mereka suka disuguhi “mimpi-mimpi”. Mereka suka para pemain yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng, meskipun diri sendiri jelek. Mereka juga suka menonton acara serial berlatar orang kaya, meskipun mereka sebenarnya miskin. Saya tidak tahu pasti kenapa, tetapi mungkin (ini hanya menduga-duga) karena hidup mereka sudah susah, kalau masih disuruh menonton acara yang harus mikir sepulang kerja berat seharian, bagi mereka itu suatu beban. Selain itu, mungkin karena bagi sebagian besar orang Indonesia buku masih merupakan barang mewah, sedang televisi hiburan murah, jadilah acara TV kita itu laku ditonton.

Saya pikir ada baiknya kita belajar melihat dari sisi penonton.