Berguru pada Televisi
7

Berguru pada Televisi

television-paintingTiba-tiba saya teringat pada tokoh Kenneth di serial 30 Rock. Dia adalah pegawai rendahan (kalau tidak salah posisinya Pembantu Umum) yang bekerja di sebuah televisi swasta. Kenneth yang karakternya bego-bego lugu adalah seorang yang sangat mencintai pekerjaannya. Dia bekerja dengan passion, dia bangga menjadi bagian dari sebuah televisi, apapun posisinya.

Diam-diam, saya mencoba memahami kenapa 30 Rock membuat tokoh Kenneth dalam serialnya. Dia berasal dari kampung, anak udik yang kaget dengan gemerlapnya New York City. Matanya berbinar-binar jika melihat artis mampir di NBC, tempatnya bekerja. Dia anak kampung yang hampir seluruh hidupnya bergelut dengan peternakan, kini bisa menjadi bagian televisi.

Selama hampir enam bulan saya sudah benar-benar nyemplung di telvisi, selama itu pula menjadi pembuka mata saya akan dunia televisi. Saya, pernah seperti orang-orang yang tidak setuju dengan “pembodohan televisi”, sempat menganggap televisi adalah “sampah”, dan percaya bahwa too much TV makes your brain goes bad. Tapi sebenarnya saya tidak pernah benar-benar tidak menyukai televisi. Bagi saya, jika tak ada kerjaan, dan membaca menjadi kegiatan yang membosankan (hayo ngaku deh… pasti pernah kan merasa bosan baca buku), maka saya beralih ke televisi (selain menyewa DVD atau nonton bioskop). Tapi tentu, ada kalanya juga saya bosan nonton TV, seperti saya bosan pada buku-buku. Kesimpulan pribadi: saya pikir saya lumayan seimbang menempatkan diri antara televisi dan buku.

Kenneth si pecinta televisi di serial 30 Rock

Kenneth si pecinta televisi di serial 30 Rock

Ketika teman-teman saya mulai tahu saya bekerja untuk sebuah stasiun televisi dan bertugas membuat cerita untuk FTV (yang lebih banyak disebut “sinetron” oleh banyak orang), banyak pertanyaan dilontarkan ke saya. Di antaranya, “kok kamu bisa kerja bikin ‘cerita jelek’?”, “kok bisa sih kerja dikejar rating?”, dll. Awalnya, jujur saya juga bingung, dan bertanya pada diri sendiri: iya ya… kok bisa? Sekarang, setelah hampir enam bulan lewat, saya bisa bilang: ya, bisa saja, kenapa enggak?

Saya percaya, dalam waktu enam bulan ini saya menjadi orang yang lebih bijaksana karena sudah kerja di televisi. Saya jadi bisa melihat dari tiga sisi. Pertama, sisi para penulis sastra (di mana dari sinilah saya berasal); kedua, sisi orang program televisi; ketiga, sisi penonton. Saya bisa paham kenapa para penulis sastra tidak menyukai televisi, tetapi saya juga sangat bisa memahami kenapa orang televisi membuat acara yang sering disebut “enggak bermutu”, dan kenapa masih juga ada penontonnya.

Saya kini tidak percaya ada cerita yang jelek, yang ada… cerita itu tidak sesuai dengan selera seseorang, yang menyebabkan cerita itu laku/tidak. Dalam sebuah program televisi, berlaku hukum ekonomi: di mana ada permintaan, di situ barang diproduksi. Pada saat sinetron yang dibilang “enggak bermutu” itu dipertontonkan, dan ratingnya tinggi (berarti permintaannya tinggi), maka saat itulah sinetron ini akan jadi serial yang panjang. Kalau penonton sudah bosan, maka ratingnya turun, dan serial ini takkan diproduksi lagi. Nah, kira-kira seperti itulah.

Lain kali, kalau saya (atau Anda) mendengar ada orang marah-marah dengan serial Cinta Fitri yang sampai season 3, atau Tersanjung yang sampai season 9, maka saya bisa menjawab, “jangan kamu tonton serial itu, pasti nanti habis sendiri. Kalau ditonton terus, ya pasti akan diproduksi terus.”

Saya sering sekali mendengar komentar kalau acara kita tidak bermutu, tidak ada isinya, pembodohan, dll. Percayalah…, saya tahu bagaimana susahnya mencerdaskan bangsa lewat televisi. Saya pernah membuat cerita yang “berupaya mencerdaskan bangsa”, dan hasilnya ratingnya jeblok ketimbang cerita-cerita yang horor dan suspens. Dan jika sudah begini, maka cerita bergenre lebih cerdas tidak diproduksi lagi (setidaknya tidak dalam waktu dekat). Bagaimanapun, kita harus ingat, ketika masuk ke industri televisi, kita berhubungan dengan uang (yang bukan milik kita). Semua investor tentu mau uangnya kembali. Jika acara tersebut ratingnya jelek, maka tidak ada iklan yang mau masuk, maka modal tidak akan balik. Kira-kira begitu penjelasan sederhananya.

Kita tentu masih ingat dengan serial Dunia Tanpa Koma, yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo sebagai seorang jurnalis investigasi. Serial ini dibuat (konon) dalam rangka “mencerdaskan bangsa”, atau setidaknya memberikan tontonan yang lebih mendidik. Toh, pada kenyataannya, serial ini tidak bertahan lama, yang berarti tidak laku ditonton, yang berarti tidak ada iklan yang mau tayang. Aneh bukan? Jadi, jangan pernah bilang kalau pihak PH dan televisi tak pernah mencoba membuat acara yang bermutu. Sudah, dan kenyataannya: hancur di lapangan.

Tokoh Kenneth dalam 30 Rock bagi saya merupakan gambaran penonton kita yang memang aneh, mereka suka disuguhi “mimpi-mimpi”. Mereka suka para pemain yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng, meskipun diri sendiri jelek. Mereka juga suka menonton acara serial berlatar orang kaya, meskipun mereka sebenarnya miskin. Saya tidak tahu pasti kenapa, tetapi mungkin (ini hanya menduga-duga) karena hidup mereka sudah susah, kalau masih disuruh menonton acara yang harus mikir sepulang kerja berat seharian, bagi mereka itu suatu beban. Selain itu, mungkin karena bagi sebagian besar orang Indonesia buku masih merupakan barang mewah, sedang televisi hiburan murah, jadilah acara TV kita itu laku ditonton.

Saya pikir ada baiknya kita belajar melihat dari sisi penonton.

7 thoughts on “Berguru pada Televisi

  1. Waahhh mataku jadi kebuka mbak, iya aku juga sampai sekarang bilang,, ah tivi itu RACUUUNNN RACUUUNNN waduh kebablasan deh nyanyi the changcutters, maaf >.<

    pas baca ini, iya ya tantangan mbak ratih wabot temen, mau mencerdaskan bangsa kog yo rating ambruk, bikin cerita hiburan dianggap jelek gak bermutu penyebar RACUUUUUNNN (maaf-maaf kebablasan maneh T-T )

    jadi yang Kuat n Sabar Mbak. Mau bagaimana lagi, itulah masyarakat kita, jadi kangen film Anak Seribu Pulau, soundtrack-nya Negeri Di Awan–Katon Kla Project. Mungkin versi sekarang Bolang kan? itu film bermutu, bukan film RACUUUUNNN (wah mbak wes edyan! aku)

  2. Mbak, saya jadi ingat apa yg dikatakan Horatius, “Utile et dulce” (bermanfaat dan nikmat/menghibur). Jadi, orientasinya ke penulis, pembaca/penonton, dan ke yg punya modal juga kali ya hehehe…Salam kenal…:)

  3. Aku juga dulu nggak suka nonton tv. Tapi sekarang, sih, aku lumayan rajin nonton tv. Termasuk ftv-ftv bikinan Mbak Ratih dkk. Lumayan menghibur.

    Tadinya aku pikir tv merusak. Tapi ternyata nggak selalu begitu. Malah sekarang aku pengen bikin skenario film. Mbak Ratih bisa ngasih tips cara bikin skenario film, nggak?

  4. memang berhasil-tidaknya sebuah tayangan TV diukur dr rating. namun perlu diingat juga, tak selamanya rating itu bs dijadikan tolok ukur. sy pernah baca tulisan salah satu mantan pekerja AC Nielsen yg membongkar kebobrokan dibalik rating TV. sy jd smakin yakin kalo tidak seharusnya pekerja TV bekerja semata u/ rating tinggi… sudah saatnya pihak … Read Moretv yg pegang kendali dan tidak disetir oleh rating yg gak jelas validitasnya. klo smua tv memproduksi acara berkualitas maka penonton tak punya pilihan lain selain menonton acara yg berkualitas itu dan sebaliknya pula. sebenernya tak selamanya tv harus menuruti selera pasar. tv yg hebat justru bs membuat trend baru n selera baru. bukan begitu??

    dan memang benar bahwa qt juga bisa berguru pada TV, toh tak semua tayangan itu tak bermutu dan membodohi. smua punya pangsa pasar sendiri2. yg suka sinetron silakan nonton sinetron, yg pengen nambah ilmu silakan nonton news.
    (missing having a nice chat with you again) Chayo mbak!!!

    ——————–

    @Yuniati Rohmah:
    Saya juga tidak percaya seutuhnya pada ukuran rating AC Nielsen. Dan pecayalah, orang TV yang berpikiran seperti ini tidak cuma saya, tapi rata-rata semua mempertanyakan keakuratannya. Tapi sialnya, saat ini di Indonesia tidak ada lagi yang bisa jadi tolak ukur tinggi rendahnya rating suatu acara. Kalau suatu hari televisi sudah jadi digital … Read Moreseperti halnya internet, yang setiap klik bisa dipantau perubahan channelnya, maka saya yakin AC Nielsen jadi enggak kepake lagi.

    Kalau soal selera pasar, sekali lagi berarti harus dikembalikan ke para investor TV. Dengan niat baik mencitakan trend baru, berarti gambling untuk kehilangan modal mereka lebih besar. Nah, tinggal kita tanya deh ama mereka, “mau enggak?!”

  5. wah..wah… ternyata t sangat mendewakan rating, ya..
    padahal alat yang dibuat oleh AC Nielsen itu penempatan di rumah2 warga bersifat acak. Di Semarang aja yang penduduknya tergolong padat, hanya ada 250 alat yang terpasang.
    Bagaimana dengan 250 alat yang dipasang tersebut dipercaya sebagai alat ukur rating?
    Dan menurut dosen saya, alat rating tersebut dipasang pada masyarakat yang (maaf) berpendidikan rendah, alias tidak kritis, alias meneriam apa saja tayangan di tv. Coba kalo masangnya di rumah orng2 yg berpendidikan tinggi, berpendidikan kritis
    Sudah saatnya AC Nielsen mempunyai tandingan. Dan televisi tidak mempercayai begitu saja dengan AC Nielsen. Serta satu lagi televisi tidak terlalu dikuasai oleh pemilik modal. Hehehehe
    Gmn kalo ada tayangan pembuatan video dokumenter? kayaknya oke juga.
    O, iya FTV jangan menjual kemwahan dan hedonisme, dunk! Jual aja tontonan yang real, bukan menjual mimpi. Takutnya masyarakat kita jadi kecanduan tv, senang berkhayal, dan tidak mau berusaha.
    Thx

  6. iya tih, bener apa yg kamu tulis itu, memang tampaknya kita terlalu sering bersikap egois, memandang sesuatu dari sebelah sisi saja, harusnya kan kita mau berusaha melihat dari sudut pandang yang lain juga. sama seperti masalah acara tv.

    di saat orang hidup dengan beban, apalagi orang kota seperti jakarta, yang seharian stres bekerja, stres di jalanan, ketemu macet dll, pastinya mereka cari acara yang menghibur. itu lah kenapa acara2 yg unbelievable menurut sebagian orang bisa laku.

    ya, walopun belum pernah liat ftv hasil garapan kamu, aku yakin kamu bisa bikin skenario yang keren dan wokeh . jujur aku tuh sebenernya seneng ntn ftv, dulu sering ntn yg di sctv, yg mulainya jam 11 malem. kalo mainnya jam 7 mlm kayak yg punya kamu, wah, susah cari waktu yang pas utk ntnnya:D

    sukses ya di tv… nanti kalo bosen, jangan sungkan berhenti, hehe… semangat!

  7. dulu gw pernah kerja di TV.
    nulis sinetron stripping. kerja dari pagi ketemu pagi. dikejer deadline. rating jelek penulis yang disalahin. rating bagus penulis gak pernah di puji (gak ngarepin juga sih!) revisi segambreng-gambreng, pernah gak tidur 3 hari gegara revisi naskah krn salah satu artisnya ternyata lagi liburan ke luar negeri. jadi harus ngubah 10 episode script yang udah di bikin. Saat itu, dikala seluruh rakyat Indonesia bergegap gempita, bersuka cita serta bergembira ria merayakan kemerdekaan Negara Republik Indonesia ke 64, gw harus berjibaku dengan revisian naskah. Indonesia boleh aja udah merdeka, tapi gw masih dijajah oleh India. Behhhh gw Berasa Romusha yang lagi kerja rodi.

    dan akhirnya, gw tau semua seluk beluk pertelevisian.

    benar kalo mereka mendewakan rating
    benar kalo mereka hanya berpatokan pada share
    benar kalo mereka mereka menjadikan iklan sebagai kiblat mereka

    yah… tv adalah industri
    hukum ekonomi berlaku disini.

    gw alumni matematika-statistik yang pas kuliah kesehariannya belajar tentang sebaran, peluang, prediksi termasuk masalah rating. (jauh banget ya ama kerjaan gw sekarang :))
    bahkan gw pernah kuliah kerja lapangan di AGB Nielsen.
    dari dunia kuliah dan selama kuliah kerja lapangan, gw taulah gimana proses rating dan buruk2nya.
    otomatis gw gak terlalu berpatokan pada rating. masa bodo tulisan yang gw buat kemudian mengudara itu ratingnya jelek/bagus.

    tapi beberapa kali pula gw harus adu argumen dengan headwriter krn masalah rating. bukan hanya itu, terkadang produser dan sutradara juga ikut campur dalam hal penulisan yang kadang bertentangan dengan idealisme gw.

    apapun akan mereka lakukan untuk menaikkan rating dan share. mulailah jalan cerita yang enggak banget, adegan bunuh2an gak jelas, dialog2 kacrut, rebutan ini itu ono dsb.ihhh gak jelas deh.

    bisa ditebak. gw gak tahan lagi. i quit.

    dan sekarang i’m freelance scriptwriter.

    emang sih, miskin. tapi setidaknya gw gak mau bohongin hati gw yang tersiksa lahir batin ketika harus berhadapan dengan industri pertelivisan yang menjadikan rating sebagai tuhan dan iklan sebagai kiblat.

    yahhh… ini sih pendapat pribadi gw.
    yang gak setuju silakan saja.

    ——-

    @Peng: yah…saya memahami betul perasaanmu (-_-)

Comments are closed.