Buronan Taksi

Your fugitive’s name is Dr. Richard Kimble. What I want out of everyone of you is a hard-target search, of every gas station, residence, warehouse, farmhouse, henhouse, outhouse and doghouse in that area!

-lines of Deputy Marshal Samuel Gerard (Tommy Lee Jones) at The Fugitive, the movie-


Bagaimanakah rasanya jadi buronan? Pertanyaan ini muncul di benak saya ketika saya pulang dari Blok M setelah janjian dengan seorang teman. Baru sekarang saya heran dengan orang-orang yang pakai kaos betuliskan besar-besar “Buronan Mertua”. Pernahkan mereka betul-betul membayangkan, seandainya mereka benar jadi buronan mertua?
Ketika akan berangkat ke Blok M, saya sempat ragu; mau naik taksi atau naik busway? Akhirnya saya putuskan untuk naik taksi yang saya tunggu di lobi depan apartemen. Seorang satpam berbaik hati memanggilkan pesanan taksi, tentu saja saya terima dengan senang hati.

Sebelum ke temapt tujuan, saya minta Pak Taksi mampir ke ATM yang ada di Rumah Sakit dekat tempat tinggal saya. Saya minta Pak Taksi menunggu sebentar. Biasanya, ATM di situ tidak ramai. Entah kenapa, ketika saya datang, sudah ada antrian meski tidak banyak. Sambil menunggu giliran, saya celingak-celinguk ke bagian parkiran. Mata saya mencari-cari taksi yang tadi saya tumpangi. Kok tidak ada ya? Mungkin parkir di luar, batin saya.

Tiba giliran saya pakai mesin ATM, saya berusaha cepat-cepat. Setelah itu saya bergegas mencari taksi yang sejak awal saya tumpangi. Kok… tidak kelihatan? Saya keluar Rumah Sakit dan mencari-cari taksi yang saya maksud, sementara barisan tukang ojek dengan semangat menggoga kalau tidak menawari saya tumpangan. Sebuah bemo di seberang jalan sedang ngetem. Supir bemo melihat ke arah saya penuh harap agar saya menumpanginya. Sedang saya masih celingak-celinguk mencari taksi tadi.

Saya lihat jam di HP, lima belas menit lagi jam 11:00, saya pasti akan telat! Gimana kalau teman saya menunggu terlalu lama? Tapi… gimana kalau tukang taksi juga menunggu? Sementara supir bemo memandang saya dengan makin memelas. Akhirnya saya putuskan untuk menyeberang, naik ke bemo lalu menyambung dengan busway menuju Blok M. Toh taksi juga tidak kelihatan batang moncong kap mobilnya. Akan lebih tidak etis kalau saya pergi dengan taksi lain.

Saya bertemu teman saya yang ternyata sama-sama telat. Kami bergossip ngalor-ngidul, tapi pikiran saya tidak bisa benar-benar lepas dari taksi tadi. Saya telepon suami saya, menceritakannyanya tentang taksi yang tiba-tiba hilang, selain saya sudah cerita lebih dahulu dengan teman saya soal taksi yang sama.
“Apa itu taksi hantu? Kok tiba-tiba hilang?” dugaan saya konyol.
“Ah, mungkin taksinya kelamaan nunggu kamu. Terus dia dapat penumpang lain,” ujar suami saya. Ya benar, tidak mungkin taksi hantu. Orang itu siang bolong.

Pulangnya, karena bawa banyak belanjaan, saya putuskan naik taksi. Sampai di lobi apartemen, Pak Satpam yang baik hati bilang, “maaf Bu… taksi yang tadi datang ke sini…,” dia jeda sejenak, mau cari kalimat yang tepat. Saya menunggu, tapi dia tetap diam dan memandang saya dengan rikuh.
“O, iya… Pak Taksinya tadi kok ilang ya?” sahut saya memecah kebekuan, “saya tadi nunggu-nunggu dia. Saya juga bingung.”
“Iya, eh… Bu… saya tadi dipesankan untuk minta itu….”
Saya tahu maksudhnya ‘itu’ apa. Ongkos. Saya langsung merogoh tas, “iya, saya harus bayar dia berapa ya?” tanya saya.
“Eeemm, tadi argonya berapa ya?” tanyanya kikuk sendiri.
Saya keluarkan uang lembar 20.000-an. Seingat saya, tadi argo di taksi masih 5000-an waktu saya turun untuk ambil ATM. Jadi semoga uang itu cukup, “ini bisa saya titip ke Bapak? Untuk bayar taksi?”
“Iya, nanti saya sampaikan.” jawab Pak Satpam

Biar pun saya sudah membayar uang taksi, tapi tetap saja saya merasa bersalah. Di saat yang bersamaan, saya tidak mau disalahkan, karena saya juga sudah berusaha mencari taksinya. Dan yang paling penting lagi, wajahnya Pak Satpam dan mungkin kelak para supir taksi yang ngetem di sekitar situ; bisa-bisa saya disangka penumpang gadungan yang mau kabur bayar taksi!

One thought on “Buronan Taksi

Comments are closed.