<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ratih Kumala's Little Blog &#187; Arsip Media</title>
	<atom:link href="http://ratihkumala.com/blog/category/arsip-media/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ratihkumala.com</link>
	<description>The Only Constant is Change</description>
	<lastBuildDate>Sun, 23 Oct 2011 13:24:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Tabula Rasa &#8211; Pertanyaan-pertanyaan Tentang Cinta</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/pertanyaan-tentang-cinta-656.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/pertanyaan-tentang-cinta-656.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Nov 2010 09:40:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tabula Rasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=656</guid>
		<description><![CDATA[Dalam <span style="font-style: italic;">Tabula Rasa</span>, kita melihat gambaran manusia-manusia modern yang dirangkai dalam bentuk fragmen-fragmen dengan <span style="font-style: italic;">setting </span>waktu dan tempat semau si pengarang. Sudut pandang cerita yang dibuat bergerak cepat dan berganti-ganti membuat pembaca bisa saja ogah membaca karena membingungkan, namun bisa juga membuat pembaca lain terseret pada gelombang naik-turun gejolak emosi tokoh-tokohnya. Akan tetapi Ratih Kumala, sang pengarang, berhasil membimbing pembaca memasuki dunia tokoh-tokohnya dengan menerabas waktu dan tempat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: <a href="http://sepocikopi.blogspot.com/2008/07/dua-tokoh-utama-dalam-novel-ini.html">Alex</a></strong></p>
<p><img alt="" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/tabularasa_tbl.jpg" title="Tabula Rasa" class="alignleft" width="178" height="274" />Dua tokoh utama dalam novel ini melakukan begitu banyak perjalanan untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka tentang cinta. Galih mencintai Krasnaya. Raras mencintai Violet. Namun sejak awal kita tahu cinta mereka adalah cinta yang tak dipersatukan karena dipisahkan maut.  Bahkan dalam daftar isi yang terbagi atas empat bagian pun kita sudah tahu.  <span style="font-style: italic;">In Memoriam: </span>Krasnaya. <span style="font-style: italic;">In Memoriam: </span>Violet. Ego Distonik. Ego Sintonik.</p>
<p>Dalam <span style="font-style: italic;">Tabula Rasa</span>, kita melihat gambaran manusia-manusia modern yang dirangkai dalam bentuk fragmen-fragmen dengan <span style="font-style: italic;">setting </span>waktu dan tempat semau si pengarang. Sudut pandang cerita yang dibuat bergerak cepat dan berganti-ganti membuat pembaca bisa saja ogah membaca karena membingungkan, namun bisa juga membuat pembaca lain terseret pada gelombang naik-turun gejolak emosi tokoh-tokohnya. Akan tetapi Ratih Kumala, sang pengarang, berhasil membimbing pembaca memasuki dunia tokoh-tokohnya dengan menerabas waktu dan tempat.<br />
<span id="more-656"></span><br />
Selama bertahun-tahun Galih berhenti membuka hatinya untuk cinta karena ia <span style="font-style: italic;">keukeuh </span>menambatkan cintanya pada Krasnaya meskipun hatinya pedih dan kesepian. Ia yakin takkan bisa menemukan cinta yang lain seperti cintanya pada Krasnaya. Bertahun-tahun kemudian pula Galih bertemu Raras. Perempuan muda, mahasiswinya, yang menyimpan banyak kegundahan terhadap dirinya sendiri. Melalui Raras, Galih berusaha mengisi hatinya yang sekarat dengan rasa.</span></p>
<p>Tokoh-tokoh dalam novel ini bertindak atas nama cinta. Dalam perjalanan awal, Raras dan Galih menggenggam rasa mencintai itu dalam hati mereka. Mati-matian mereka berpikir beranggapan bahwa itulah hakikat cinta. Dengan terus bertahan menggenggam rasa cinta tanpa menyadari bahwa mereka sebenarnya hanya mengepalkan tangan. Dan saking kuatnya mengepal, Galih menutup hatinya untuk cinta.  Sementara saking kuatnya mengepal, Raras tidak membuka hatinya untuk berbagai kemungkinan atas cinta.</p>
<p>Raras adalah perempuan dengan masa lalu kelam dan berada dalam kondisi bimbang terhadap siapa diri dia sebenarnya. Ia berada di persimpangan jalan antara membalas cinta lelaki yang baik bernama Galih ini atau terus mempertanyakan cintanya pada Violet. Raras berusaha menyelami kembali siapa dirinya. Apakah dia lesbian, apakah dia hetero, apakah dia biseks? Pertanyaan-pertanyaan yang kian lama tampak wajar dalam dunia modern ini.</p>
<p>Jawaban-jawaban atas pertanyaan tentang cinta itu terjawab dengan sendirinya oleh hidup itu sendiri. Oleh pengalaman-pengalaman dan keputusan-keputusan yang diambil pada setiap belokan yang mereka temui dalam perjalanan hidup.<br />
<span style="font-style: italic;">Hal-hal bodoh yang pernah kulakukan di masa lalu. Selalu anehnya pada waktu itu kita berpikir bahwa itu adalah yang terbaik&#8230; Ada suara hati yang berbisik dan kita mendengarkannya. Dan dari semua hal, nafsu adalah hal yang paling abadi, dominan, permanen&#8230; Pusat pikiran serta konsentrasi kita padanya melebihi pegangan hidup kita lainnya seperti iman dan segala aturan, baik agama maupun negara, yang katanya untuk membimbing hidup. Apa lagi yang mengendalikan hidup kita selain hati? Akal, dan hanya itu yang bisa kita harapkan. </span>(h.134-135)</p>
<p>Lesbianisme dalam <span style="font-style: italic;">Tabula Rasa </span>bukanlah jadi wacana &#8220;mengapa&#8221; dan &#8220;bagaimana&#8221; tapi merupakan sesuatu yang memang sudah ada dan menunggu untuk ditemukan oleh Raras, si lesbian dalam novel ini. Cintanya pada Violet dan hubungannya dengan Galih menjadi sesuatu yang sifatnya empiris.</p>
<p><span style="font-style: italic;">Tabula Rasa </span>adalah pemenang ketiga Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2003. Dan ini merupakan novel pertama Ratih Kumala, perempuan kelahiran tahun 1980, lulusan Sastra Inggris Universitas Sebelas Maret. Selain menulis novel, cerpen-cerpen Ratih Kumala juga dimuat di berbagai media massa nasional. Pada tahun 2005, ia menerbitkan sebuah novel berjudul <span style="font-style: italic;">Genesis </span>dan kumpulan cerpen berjudul <span style="font-style: italic;">Larutan Senja </span>tahun 2007. Meskipun memperoleh penghargaan bergengsi, Tabula Rasa sebenarnya bukan novel “berat”. Ini adalah novel yang santai, namun sayangnya ada beberapa bagian yang seharusnya diedit dengan lebih rapi. Kesalahan-kesalahan ketik dan penggunaan bahasa yang berlapis dengan terjemahan menganggu kenyamanan pembaca.</p>
<p>Menurut wikipedia, Tabula Rasa yang berasal dari bahas latin berarti kertas kosong, merujuk pada pandangan  pandangan epistemologi bahwa seorang manusia lahir tanpa isi mental bawaan, dengan kata lain &#8220;kosong&#8221;, dan seluruh sumber pengetahuan diperoleh sedikit demi sedikit melalui pengalaman dan persepsi alat indranya terhadap dunia di luar dirinya.</p>
<p>Dan di sinilah konsep lesbianisme yang ditawarkan Ratih Kumala. Raras menjadi lesbian berdasarkan hasil pengalaman, yang terbentuk dari perjalanan hidupnya. <span style="font-style: italic;">Aku dilahirkan sebagai batu yang kosong. Aku tabula rasa, aku adalah dogma dari aliran empiris dan aku terbentuk dari jalannya hidup. </span>(h.183)</p>
<p>@Alex, SepociKopi, 2008</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/pertanyaan-tentang-cinta-656.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Awal Bagus Mencapai Kematangan</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/awal-bagus-mencapai-kematangan-654.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/awal-bagus-mencapai-kematangan-654.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Nov 2010 09:36:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tabula Rasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=654</guid>
		<description><![CDATA[Novel debut Ratih Kumala, Tabula Rasa, merupakan pemenang ke-2 Sayembara Novel DKJ 2003. Pemenang pertama dan ke-2nya saja aku tak sempat memberi perhatian penuh sama sekali. Aku belum membaca semua pemenang itu.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh <a href="http://halamanganjil.blogspot.com/2005/10/awal-bagus-mencapai-kematangan-tabula.html">Anwar Holid</a></strong></p>
<p><img alt="" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/tabularasa_tbl.jpg" title="Tabula Rasa" class="alignleft" width="178" height="274" />Novel debut Ratih Kumala, Tabula Rasa, merupakan pemenang ke-2 Sayembara Novel DKJ 2003. Pemenang pertama dan ke-2nya saja aku tak sempat memberi perhatian penuh sama sekali. Aku belum membaca semua pemenang itu.</p>
<p>Tapi aku baca kritik Acep Iwan Saidi atas Dadaisme, dan menurutku dia sangsi sama sekali (i.e. curiga) kenapa karya itu bisa jadi pemenang pertama. Aku nggak mau menyoroti Tabula Rasa sebagai salah satu pemenang sayembara itu, alih-alih aku akan berusaha sewajarnya menghargai pencapaian itu, dan melakukan kritik yang benar-benar ingin aku sampaikan.<br />
<span id="more-654"></span><br />
Mulailah aku membaca novel itu sejak diberikan Bilven sampai 24/09/04 malam. Tentu saja aku ngebut dan harus mengabaikan buku lain. Secara keseluruhan aku menikmati cara bertuturnya. Ratih Kumala lancar bercerita, lincah menceritakan peristiwa, cukup berani menyelami kepribadian karakter-karakternya; tapi sebaliknya aku merasa bahwa konfliknya sederhana&#8212;barangkali klise; dia hampir semuanya menggunakan penuturan orang pertama &#8216;aku&#8217;&#8212;tentu itu memiliki risiko; dan aku merasa bahwa novel itu memiliki aspek psikoanalisis yang cukup kuat. Dua bagian pertama novel ini bicara &#8216;in memoriam&#8217;: kenangan seseorang tentang kematian, yaitu kematian dua orang perempuan bernama Krasnaya oleh kekasihnya Galih; dan kematian perempuan bernama Violet oleh &#8216;kekasih rahasianya&#8217; bernama Raras. Di dua bagian terakhir ceritanya lebih menjurus: tentang krisis identitas dan keputusan terhadap pilihan. Krisisnya adalah keraguan Raras merasa dirinya sebagai seorang lesbian, dan keputusannya adalah meyakini dirinya memang benar lesbian, dan dia berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan dan lingkungannya itu dengan respons emosional yang baik, berusaha tidak membuat konflik dengan sikap orang lain. Di ujung novel Raras merasa dirinya adalah sebuah tabula rasa, dirinya terbentuk oleh jalan hidup. Tapi menjelang tamat, sebuah ramalan (writing on the wall?) tertulis: aku masih tetap larva, entah untuk berapa lama. Siapakah yang menulis itu? Aku lirik atau penulis?</p>
<p>Di sela-sela kenikmatan itu, aku justru kerap sekali terganggu oleh sebuah hal: kegenitan penulisnya menggunakan bahasa asing (Rusia dan Inggris) yang tidak esensial sama sekali, tidak perlu. Tepatnya: seberapa esensial dia berbahasa Inggris pada novel itu? Menurutku pilihan menggunakan bahasa asing itu merupakan keputusan yang buruk, sebab kualitas bahasa asing yang digunakan adalah bahasa asing rendah, kelas percakapan tingkat permulaan yang jelas-jelas bisa diganti dengan ungkapan Indonesia (dan ironiknya kebanyakan memang dia terjemahkan dengan baik ke Indonesia). Bahasa asingnya tidak berbeda jauh dari yang ada di buku mahir berbahasa asing; kadang-kadang bahkan lebih parah, dia tidak segan mencampur aduk kosakata asing dan Indonesia untuk sebuah percakapan. Bagiku, kecenderungan itu adalah gejala yang persis juga muncul di sinetron-sinetron, snobisme kelas menengah Indonesia yang merasa bangga bila bisa mengucapkan Inggris dengan cukup lancar. Aku heran editornya membiarkan saja penggunaan begitu banyak bahasa asing mentah itu. Salah satu risikonya adalah ternyata penulis (dan editornya) terpeleset sendiri dengan keputusan itu: menulis Edgar Allen Poe bukannya Edgar Allan Poe, Effiel daripada Eiffel, alhtough alih-alih although, carcoal alih-alih charcoal, positif alih-alih positive, juga yahoomail.com alih-alih mail.yahoo.com. Bila dibandingkan dengan cerpen Umar Kayam (Seribu Kunang-kunang di Manhattan) atau Budi Darma (Orang-orang Bloomington), yang semua setingnya terjadi di luar negeri, berinteraksi dengan orang asing, termasuk logatnya, penggunaan bahasa asing dalam Tabula Rasa tidaklah memberi sumbangan apa pun dalam kekayaan sastra, justru memperlihatkan kemalasan penulis mengeksplorasi (setidak-tidaknya: menggunakan) bahasa Indonesia. Umar Kayam dan Budi Darma hanya menggunakan kosakata asing &#8216;bila benar-benar&#8217; perlu, hanya untuk menggantikan kosakata yang waktu itu belum ada padanan Indonesianya, atau yang memang mustahil diganti, misalnya martini, bourbon, concierge, mistuh (logat Black-America nuntuk &#8216;mister&#8217;), madame, atau home run. Kedua penulis ini tahu mereka sedang berkarya (menulis/berekspresi) dalam bahasa Indonesia, untuk khalayak pembaca Indonesia, jadi harus mengeksplorasi kosakata Indonesia. Jadi percakapan orang asing pun langsung dalam Indonesia, lengkap dengan alam pikirannya. Akibatnya kosakata unik Indonesia seperti brangasan, tuyul, keparat, malah digunakan. Budi Darma langsung mengindonesiakan syair yang ditulisnya. Langkah sebaliknya dilakukan Ratih: dia gampang sekali menggunakan kosakata dan kalimat asing, namun malah membiarkan teks asing yang nyata-nyata sukar diindonesiakan, di antaranya puisi Jones Very, Wilfred Owen, Elizabeth Barrett Browning, larik-larik lagu, atau puisinya sendiri. Kesulitan? Memilih membiarkannya? Sayang sekali dia memilih itu, sementara dia rela menerjemahkan sebuah chatting yang tidak penting. Tentu saja mengindonesiakan puisi-puisi yang signifikan terhadap perkembangan karakter adalah esensial, dan karenanya bisa memicu pertanyaan, seberapa keras dia mengeksplorasi bahasa Indonesia dalam novel itu? Bila dibandingkan Puthut EA, Nukila Amal&#8212;sebagai sesama penulis prosa&#8212;eksplorasi Ratih pada bahasa Indonesia tidaklah menonjol, dia kadang-kadang mencoba melakukan percobaan, dengan pencapaian yang patut diperhatikan, misalnya monolog interior puitis pada awal bagian In Memoriam: Violet (hal. 67-70), ungkapan simile bagus pada hal. 121, termasuk menggunakan unsur dialek Jawa dengan baik. Dalam politik bahasa, langkah menelusuri khazanah bahasa bangsa sendiri (baik bahasa setempat atau kosakata kuno) selalu lebih patut dipuji daripada mudah tergoda menggunakan kosakata asing yang sebenarnya dangkal.</p>
<p>Aku merasa kekuatan utama novel ini ada pada cara bertutur yang lancar dan menarik. Meminjam pembagian cerita a la diari, rata-rata menggunakan tuturan orang pertama &#8216;aku&#8217;, Ratih lincah menceritakan perkembangan masing-masing karakter, mempertemukannya dalam alur peristiwa, berinteraksi, menghasilkan drama yang asyik dibaca, bisa jadi mudah, dan karena itu kronologi waktu yang tak beraturan bisa dikesampingkan. Aku sepakat dengan komentar Maman S. Mahayana bahwa pencerita&#8212;aku, dia, engkau&#8212;seenaknya gonta-ganti menyesuaikan diri degan tuntutan cerita, akibatnya pembaca seperti diajak menyaksikan serangkaian fragmen yang bergerak cepat ke sana-kemari: begitu filmis. Tapi teknik seperti itu berisiko tak memberi ruang luas pada pembaca secara mandiri merasakan persoalan psikologis dari luar, lebih berjarak. Ketika Violet sakaw dan setelah diperabukan misalnya, penulis memilih bercerita melalui &#8216;aku&#8217;, namun hasilnya pembaca mungkin segera berkomentar: seperti itukah kondisi orang sakaw?, bisakah dia menceritakan ulang kondisi mental dan pengalamannya?, dan lebih menantang: bagaimana mencari nalar jasad yang baru diperabukan (atau nyawa yang sudah mati) menceritakan pikirannya? Menurutku Ratih berhasil memasuki masing-masing diri karakter, mengembangkan wawasan dan pandangan dunianya. Meskipun sosok karakter itu ternyata tidak sangat kuat, setidak-tidaknya aku yakin mampu mempesona pembaca, terutama Galih dan Raras. Kelemahan karakter itu bisa dilihat dari konflik yang mereka alami dan cara menghadapinya. Raras misalnya, sebagai seorang yang terbiasa dengan puisi Inggris klasik, lancar Inggris, akrab dengan cyberspace, diam-diam menyadari dirinya lesbi (tepatnya: homoseksual predominan), ternyata masih asing dengan istilah homophobia. Janggal sekali. Ratih berusaha membangun kekuatan karakter dari percakapan, peristiwa, cara mereka menghadapi konflik, juga berinteraksi satu sama lain. Dia memang tidak berusaha mendeskripsikan tokoh secara konvensional, dan langkah itu boleh disaluti, tapi menurutku perkembangan dan perubahan karakternya gagal didalami sungguh-sungguh. Tepatnya: karakter itu gagal mempesona secara luar biasa. Bila Galih Praditama dibandingkan dengan Adrian Mole, menurutku Adrian Mole jauh lebih mempesona, padahal Sue Towmsend pun tidak mendeskripsikan perkembangan jiwa dan karakter Adrian melalui penjelasan harfiah maupun fisik, melainkan dari perkembangan pandangan dan pikirannya. Selain teknik bercerita dan isinya, persoalan karakter menurutku merupakan aspek yang harus diperhatikan dalam penciptaan sebuah fiksi.</p>
<p>Melampaui itu semua, bagaimanapun Tabula Rasa adalah novel layak baca, mengasyikkan. Di luar sejumlah penggarapan kurang maksimal dan perdebatan keputusan penyuntingan, buku ini pastilah mampu hadir dengan kekuatannya sendiri. Keterbacaan besar, tema ceritanya kontekstual dengan masa 2000-an, isu yang dikembangkannya luas, dari persoalan psikologis, politik, religiositas, homoseksualitas, hingga HIV/AIDS, persoalan waktu pun mampu dia lipat dengan cukup memikat. Di masa depan, kita boleh kembali berharap agar penulisnya berkarya lagi, mengeksplorasi, dengan teknik yang barangkali lebih dewasa. Sebuah buku selalu tidak cukup, malah merupakan pijakan awal yang baik untuk mencapai kematangan. Pencapaian pertamanya ini patut dihargai siapa pun khalayak pembaca Indonesia, merupakan salah satu fiksi yang berhasil baik dari segi sastra dan kelancaran bercerita.[]</p>
<p>Anwar Holid, eksponen komunitas TEXTOUR, Rumah Buku Bandung.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/awal-bagus-mencapai-kematangan-654.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tabula Rasa*1): Pasivitas Manusia dalam Menerima Lingkungan</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/pasivitas-manusia-647.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/pasivitas-manusia-647.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Nov 2010 08:22:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tabula Rasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=647</guid>
		<description><![CDATA[Saya ingat, saya mulai akrab dengan istilah Tabula Rasa ketika saya sedang menempuh pendidikan sarjana saya. Istilah ini seperti sebuah istilah ajaib semacam “Alohamora” dalam mantra “Harry Potter” sebagai pembuka kunci sebuah pintu. Dan saya tahu pintu itu adalah pintu dunia psikologis pembaca. Tabula Rasa adalah juga kata pertama yang didengung-dengungkan dalam diktat disiplin ilmu saya. Simak saja berikut:]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh <a href="http://resensi-nisa.blogspot.com/2010/03/by-statement-ratih-kumala.html">Nisa Ayu</a></strong></p>
<p><img alt="" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/tabularasa_tbl.jpg" title="Tabula Rasa" class="alignleft" width="178" height="274" />Saat saya membaca sebuah novel percintaan &#8211; seperti yang diungkapkan oleh salah satu endorsernya &#8211; biasanya menjadi suatu hal yang mengasyikkan, dan memang demikianlah adanya. Kemudian, ketika saya menggambarkan isi novel ini dengan menggabungkan efek label Pemenang Ketiga Sayembara Novel DKJ 2003 di sampul depan, tiga orang endorser kelas TOP – dalam artian top, tiga orang erdorser *2) tersebut adalah penulis dan pembangun menara sastra Indonesia, menurut saya tentunya- di bagian belakang, menjadi sebuah jaminan yang “mahal” bahwa ada sajian yang menarik dari novel ini.</p>
<p>Namun menjadi ironi ketika saya menemukan buku ini di tumpukan buku “sale” dengan harga bandrol sepuluh ribu rupiah, di sebuah pameran buku di wilayah Surabaya, saat Surabaya sedang merayakan bulan-bulan HUT eksistensinya sebagai Kota Niaga. Mengapa novel “bermutu” ini ada di keranjang sana, diantara deretan buku yang tidak “popular” dan tidak mempunyai “daya jual” di mata publik Surabaya? Padahal, menurut saya label-label tersebut adalah suatu jaminan. Ah… kemudian saya agak tersenyum kecut tapi lega, minat baca masyarakat Surabaya tidak se-memprihatinkan yang saya kira. Ketika saya cari-cari, buku ini tinggal satu di keranjang tersebut. Kecewa sebenarnya, karena biasanya saya akan membeli lebih untuk saya bingkiskan kepada orang lain.<br />
<span id="more-647"></span><br />
Ya, kemudian pembicaraan saya berikutnya adalah, marilah mengesampingkan terlebih dahulu problematika market, idealisme dan momentum dalam sebuah penerbitan dan penjualan buku, dan saya malah lebih asyik membicarakan apa di dalam novel yang dibungkus cover putih dengan lukisan semi-absurd, tanpa judul dan tanpa tercantum siapa desainernya dan diberi tajuk “TABULA RASA” ini.</p>
<p>Saya ingat, saya mulai akrab dengan istilah Tabula Rasa ketika saya sedang menempuh pendidikan sarjana saya. Istilah ini seperti sebuah istilah ajaib semacam “Alohamora” dalam mantra “Harry Potter” sebagai pembuka kunci sebuah pintu. Dan saya tahu pintu itu adalah pintu dunia psikologis pembaca. Tabula Rasa adalah juga kata pertama yang didengung-dengungkan dalam diktat disiplin ilmu saya. Simak saja berikut:</p>
<blockquote><p>Teori “tabula rasa” sebagai kelanjutan pendapat Aristoteles yang secara garis besar menganalogikan manusia ( bayi ) sebagai kertas putih dan menjadikan hitam atau menjadikan berwarna lain adalah pengalaman atau hasil interaksi dengan lingkungannya. Lingkungan dan treatmen dari orang-orang yang berpengaruhlah yang membentuknya melalui proses belajar dan pembiasaan-pembiasaan. Tak ada daya bagi manusia untuk menjadikan hidupnya. Satu-satunya yang menentukan adalah lingkungan. *3)</p></blockquote>
<p>Apakah itu yang dimaksud oleh penulis? Maka ketika saya membaca, saya ketemukan apakah makna Tabula Rasa menurut penulis, lewat sebuah kutipan salah satu tokoh sentralnya – Raras &#8211; sebagai bentuk pasivitas manusia dalam lingkungannya, layaknya bayi, seperti penggalan berikut.</p>
<blockquote><p>Vi, aku kini tahu siapa aku. Aku dilahirkan sebagai batu tulis kosong. Aku tabula rasa, aku adalah dogma dari aliran empiris yang terbentuk dari jalannya hidup. Aku tak pernah menyesalinya. Aku tak menyesali jalanku. *4)</p></blockquote>
<p>Raras, perempuan dengan naluri homoseksual perdominan, gamang dengan pilihan akhir hidupnya.</p>
<blockquote><p>Kalau memang kaum kami berdosa besar, lalu kenapa kaum kami harus diciptakan? Apakah kaum kami berdosa besar, lalu kenapa kaum kami harus diciptakan? Apakah dulu malaikat salah taruh jiwa laki-laki ke tubuh perempuan dan jiwa perempuan ke tubuh laki-laki? …. Aku tidak pernah minta dilahirkan untuk menjadi homoseksual, semua orang juga maunya lahir normal. Maka kuanggap biseksual adalah solusinya, tapi kemudian Argus menasehati agar aku memilih menjadi homoseksual atau heteroseks saja sebab ancaman bahaya untuk kesehatanku jadi lebih besar jika aku menjadi biseksual. *5) </p></blockquote>
<p>Raras dihadapkan oleh penulis sebagai tokoh yang tidak bisa membuat pillihan hidup, ia seakan-akan telah diberi pilihan dan pilihan itulah yang harus dijalaninya.</p>
<p>Apakah seperti demikian maksud &#8220;Tabula Rasa&#8221; yang ingin dipresentasikan dalam novel tersebut? Yang saya ingat, ketika pembaca membuka dan mulai membaca, tak pernah ada tabula rasa dalam setiap individu.</p>
<p>Apabila demikian apakah manusia hanya boneka “suatu takdir”, “rencana hidup”, “Tuhan” atau lingkungan sebagai representasi dasar dari pemaknaan Tabula Rasa tersendiri?</p>
<p>Saya ingat, ketika saya mulai membaca, saya mempunyai berjuta-juta rasa tersendiri, patah hati, kecamuk menghidupi diri, masalah pribadi dan berjuta polemik dan permasalahan yang tentu saja BERBEDA dan UNIK dari orang lain. Apabila setiap orang – sebagai satuan unit lingkungan- seperti kertas kosong, tentu tidak ada yang UNIK dari kita bukan? Atau mungkin memang, Raras sebagai tokoh sentral Tabula Rasa merupakan sebuah tokoh sentral dinamika kepasifan manusia atas lingkungannya.</p>
<p>Saya pikir, Tabula Rasa lebih dari sekadar sebuah jalinan cerita reka ulang adegan yang serampangan, karena didalamnya banyak kandungan dinamika psikologis manusia yang dieksplorasi dengan cerdas dan perenungan.</p>
<p><strong>Pencatat:</strong><br />
<em>Nisa Ayu. mahasiswa jebolan S1 Fakultas Psikologi UBAYA</em></p>
<p><strong>Daftar Rujukan:</strong><br />
*1) Judul novel yang ditulis oleh Ratih Kumala, terbitan PT. Grasindo, tahun 2004.<br />
*2) Tiga endorser tersebut adalah Budi Darma beliau adalah cerpenis, novelis dan pengamat sastra, Maman S. Mahayana, pengamat dan kritikus sastra dan Puthut EA, penulis.<br />
*3) Diambil dari <a href="http://74.125.153.132/search?q=cache:vCfhMISEApsJ:edwi.dosen.upnyk.ac.id/PSISOS.1.doc+tabula+rasa+%2B+psikologi&#038;cd=3&#038;hl=id&#038;ct=clnk&#038;gl=id">http://74.125.153.132/search?q=cache:vCfhMISEApsJ:edwi.dosen.upnyk.ac.id/PSISOS.1.doc+tabula+rasa+%2B+psikologi&#038;cd=3&#038;hl=id&#038;ct=clnk&#038;gl=id</a><br />
*4) Tabula Rasa. hal. 183<br />
*5) Ibid. hal. 158-159</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/pasivitas-manusia-647.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gangguan Kejiawaan Tokoh Ibu dalam &#8220;Genesis&#8221;</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/gangguan-kejiawaan-tokoh-ibu-dalam-genesis-645.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/gangguan-kejiawaan-tokoh-ibu-dalam-genesis-645.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Nov 2010 08:15:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Genesis]]></category>
		<category><![CDATA[ratih kumala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=645</guid>
		<description><![CDATA[Genesis adalah salah satu novel yang dapat dianalisis melalui pendekatan psikologi sastra. Novel karya Ratih Kumala ini menampilkan salah satu tokoh yang mengalami gangguan kejiwaan, yaitu tokoh ibu (ibu dari Pawestri sebagai tokoh utamanya) yang diceritakan terganggu kesehatan jiwanya. Novel Genesis bercerita tentang seorang gadis bernama Pawestri, yang dibesarkan dalam keluarga Katolik yang taat dalam agama. Pada usia 19 tahun ia terpikat dan jatuh cinta dengan seorang pemuda yang kemudian menghamilinya sebelum menikah dan pergi meninggalkannya begitu saja. Kenyataan ini menjadi semacam petir yang menghantam keluarga, sebuah aib yang sungguh tak dapat diterima.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh <a href="http://irmadanifitri.wordpress.com/2010/10/10/gangguan-kejiwaan-tokoh-ibu-dalam-genesis/">Irma Dani Fitri</a></strong></p>
<p>Secara umum psikologi berarti ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia atau ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala jiwa manusia, sedangkan sastra adalah karya seni yang merupakan ekspresi kehidupan manusia. Menurut Atar Semi Pendekatan psikologi sastra bertolak dari asumsi bahwa karya sastra selalu membahas peristiwa kehidupan manusia. Manusia selalu memperlihatkan perilaku beragam. Bila ingin melihat dan mengenal manusia lebih dalam dan lebih jauh diperlukan psikologi. Semi juga berpendapat bahwa psikologi sastra adalah suatu disiplin ilmu yang memandang karya sastra sebagai suatu karya yang memuat peristiwa-peristiwa kehidupan manusia yang diperankan oleh tokoh-tokoh imajiner.</p>
<p>Genesis adalah salah satu novel yang dapat dianalisis melalui pendekatan psikologi sastra. Novel karya Ratih Kumala ini menampilkan salah satu tokoh yang mengalami gangguan kejiwaan, yaitu tokoh ibu (ibu dari Pawestri sebagai tokoh utamanya) yang diceritakan terganggu kesehatan jiwanya. Novel Genesis bercerita tentang seorang gadis bernama Pawestri, yang dibesarkan dalam keluarga Katolik yang taat dalam agama. Pada usia 19 tahun ia terpikat dan jatuh cinta dengan seorang pemuda yang kemudian menghamilinya sebelum menikah dan pergi meninggalkannya begitu saja. Kenyataan ini menjadi semacam petir yang menghantam keluarga, sebuah aib yang sungguh tak dapat diterima. Problem kehamilannya tanpa suami membuat Pawestri dikutuk oleh ayahnya. Ia tidak diakui lagi sebagai anak, diusir dari rumah, dan dianggap tidak pernah ada dalam keluarga. Sementara ibunya yang tunduk pada otoritas suami hanya dapat diam menahan pedih, tak dapat berbuat apa-apa dengan sikap keras suaminya. Namun kepergian Pawestri perlahan membuat ibunya merasa kehilangan,yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Luka karena kehilangan dan tekanan-tekanan suami membuat ibu Pawestri mulai terganggu kesehatan jiwanya. Ia tak waras lagi dan setiap hari bertingkah laku aneh, berlaku seolah-olah Pawestri ada. Akhirnya ia dibawa ke Rumah Sakit jiwa.<br />
<span id="more-645"></span><br />
Gangguan kejiwaan yang di alami tokoh ibu adalah depresi dan skizofrenia, kemudian tokoh ibu mengalami halusinasi. Penyimpangan pada perilaku tokoh Ibu disebabkan oleh kehilangan seorang anak dan akibat tekanan batin yang di alaminya. Ia tak waras lagi dan setiap hari bertingkah laku aneh, berlaku seolah-olah anaknya Pawestri yang sudah lama meninggalkan rumah, ada didekatnya.<br />
Psikoanalisis Sigmund Freud sebagai suatu pendekatan dapat pula digunakan dalam kaitannya dengan sebuah karya sastra. Utamanya dalam usaha memasuki karakter tokoh-tokoh yang terdapat di dalam suatu karya sastra, psikoanalisis menyentuh unsur dasar dari alam pikir manusia. Pendekatan ini berusaha memahami karya sastra sebagai sebuah kreasi yang tidak dapat dilepaskan dari aspek psikologis. Sigmund Freud adalah tokoh pertama yang menyelidiki kehidupan jiwa manusia berdasarkan pada hakikat ketidaksadaran. Menurut Freud, peran yang sangat penting dipegang oleh ‘yang tak sadar’ tersebut karena semua proses psikis bersumber pada ‘yang tak sadar’.</p>
<p>Pemikiran Freud dalam teori psikologi kepribadiannya mencoba memotret manusia baik dari fisik maupun psikisnya. Dalam teori psikologi kepribadian, Freud membagi struktur kepribadian menjadi tiga unsur, yaitu id, ego, dan superego. Id adalah dorongan-dorongan primitif yang harus dipuaskan. Dengan demikian id merupakan kenyataan subjektif primer, dunia batin sebelum individu memiliki pengalaman tentang dunia luar. Ego adalah kepribadian implementatif yang berupa kontak dengan dunia luar. Ego bertugas untuk mengontrol id. Sedangkan superego adalah sistem kepribadian yang berisi nilai-nilai aturan yang bersifat evaluatif (menyangkut baik/buruk). Superego berisi kata hati yang merupakan wakil dari nilai-nilai tradisional, karena itu superego dapat dianggap sebagai aspek moral dari kepribadian manusia.</p>
<p>Apabila terdapat keseimbangan yang wajar dan stabil dari ketiga unsur (id, ego, dan superego), maka akan diperoleh struktur kepribadian yang wajar dan biasa. Namun, apabila terjadi ketidakseimbangan antara ketiga unsur tersebut, maka akan diperoleh kepribadian yang tidak wajar dan akan muncul neurosis yang menghendaki penyaluran.</p>
<p>Dalam novel Genesis menunjukkan bahwa tidak ada keseimbangan antara id, ego dan superego yang dialami tokoh Ibu. Pendorong id bertentangan dengan kekuatan pengekang superego. Penyimpangan kejiwaan yang di alami tokoh ibu adalah depresi dan skizofrenia, kemudian tokoh ibu mengalami halusinasi. Penyimpangan pada perilaku tokoh Ibu disebabkan oleh kehilangan seorang anak dan akibat tekanan batin yang di alaminya. Depresi biasanya terjadi saat stress yang dialami oleh seseorang tidak kunjung reda, dan biasanya seseorang mengalami depresi akibat suatu kejadian dramatis yang baru saja terjadi atau menimpanya, misalnya kematian atau kehilangan seseorang yang sangat dicintai.</p>
<p>Halusinasi merupakan salah satu gejala yang sering ditemukan pada penderita dengan gangguan jiwa, Halusinasi adalah terjadinya persepsi dalam kondisi sadar tanpa adanya rangsang nyata terhadap indera. Kualitas dari persepsi itu dirasakan oleh penderita sangat jelas dan berasal dari luar ruang nyatanya. Contoh dari fenomena ini adalah di mana seseorang mengalami gangguan penglihatan, di mana dia merasa melihat suatu objek, namun indera penglihatan orang lain tidak dapat menangkap objek yang sama.</p>
<p>Dalam novel Genesis halusinasi yang dialami tokoh ibu tampak pada dialog berikut yang dikutip dari novel; Semua berjalan lancar-lancar saja seperti siang sebelumnya sehingga ibu tiba-tiba berkata kepada piring Westri yang masih utuh dengan makanan tak tersentuh; makanmu kok cuma segitu, nambah ya Wes? Dan ibu mengambilkan lagi secentong nasi serta lauk perkedelnya. Setelah itu ibu kembali sibuk dengan makanannya sendiri. (Kumala. 2005: 98). Dialognya yang lain; Kadang ibu berteriak marah pada dirimu. Memperingatimu agar jangan bermain gunting, jangan dekat-dekat kompor, jangan keluar terlalu sore sebab tak baik bagi anak perempuan. Seingatku, ibu bahkan tidak pernah menasehatimu sebegitu rupa saat kau masih benar-benar ada di rumah ini. (Kumala. 2005: 105).</p>
<p>Depresi yang berkepanjangan membuat seseorang rentan mengalami neurosis. Sigmund Freud berpendapat bahwa sumber dari neurosis adalah konflik batin. Neurosis dapat diartikan sebagai suatu gangguan kejiwaan yang mempunyai akar psikologis dengan tujuan menghindari atau mengurangi rasa cemas. Timbulnya neurosis pada kejiwaan manusia disebabkan oleh kesalahan penyesuaian secara emosional karena tidak dapat diselesaikannya konflik tak sadar. Penderita neurosis mengalami kecemasan karena adanya konflik yang tidak dapat diatasi secara benar dan akan muncul sesuai dengan tipe kepribadian seseorang. Tokoh ibu dalam novel ini diceritakan sebagai seorang yang tunduk pada otoritas suami hanya dapat diam menahan pedih, tak dapat berbuat apa-apa dengan sikap keras suaminya. Kenyataan bahwa anaknya hamil sebelum menikah menjadi aib yang tidak dapat diterima, membuat Pawestri diusir oleh ayahnya. Kepergian Pawestri perlahan membuat ibunya merasa kehilangan, yang semakin hari semakin menjadi-jadi sehingga membuat ibu Pawestri mulai terganggu kesehatan jiwanya.</p>
<p>Schizofhrenia merupakan penyakit otak yang sanggup merusak dan menghancurkan emosi. Selain karena faktor genetik, penyakit ini juga bisa muncul akibat tekanan tinggi di sekelilingnya. Ada dua gejala yang menyertai schizofrenia yakni gejala negatif dan gejala positif. Gejala negatif berupa tindakan yang tidak membawa dampak merugikan bagi lingkungannya, seperti mengurung diri di kamar, melamun, dan sebagainya. Sementara gejala positif adalah tindakan yang mulai membawa dampak bagi lingkungannya, seperti mengamuk dan berteriak-teriak.</p>
<p>Dilihat dari gejalanya tokoh ibu mengalami skizofrenia negatif, yaitu berupa tindakan yang tidak membawa dampak merugikan bagi lingkungannya, seperti mengurung diri di kamar, melamun, dan sebagainya. Seperti yang terlihat dalam kutipan novel tersebut; Kadang jika kucari di mana pun ibu tidak menyahut, itu berarti ibu sedang menangis di kamarnya. Kudekati dan kutanya kenapa. Tapi jawabannya selalu sama; menggeleng sambil menyebutkan nama Pawestri. (Kumala. 2005: 91). Selanjutnya; Akhir-akhir ini ibu jadi lebih sedih. Rindunya pada Pawestri mulai tidak dapat dibendung. Di antara ketakutannya pada bapak, ibu mulai menciptakan dramanya sendiri. (Kumala. 2005: 93)</p>
<p>Selain itu, tokoh ibu dalam novel ini diceritakan tidak hanya mengalami gejala skizofrenia negatif, tetapi juga mengalami gejala skizofrenia positif yakni adanya tindakan yang mulai membawa dampak bagi lingkungannya, seperti mengamuk dan berteriak-teriak. Bahkan tokoh ibu tidak mengenali lagi wajah anaknya (Pawestri) yang datang mengunjunginya di Rumah Sakit Jiwa. Hal ini terlihat dari kutipan novel berikut yang dipaparkan pada bagian awal cerita; “suster, aku telah menelantarkan anakku. Aku tak berani membantah suamiku yang menganggap anak perempuanku yang nomor satu tidak ada.” (Kumala. 2005: 5). Kemudian gejala skizofrenia positif tersebut jelas terlihat dari kutipan novel berikut; ”PERGI! PERGI! PERGI!” Ibu mulai histeris. Teriak-teriak. Dia mulai menggeleng-geleng kepala keras-keras lalu menjambak-jambak rambutnya sendiri. Perawat dating, membawanya dengan paksa. “PERGI! SEKARANG ADALAH SAATNYA MAKAN SIANG BERSAMA DENGAN ANAKKU! PERGI! JANGAN GANGGU AKU LAGI! PERGI! PERGI!” (Kumala. 2005: 6)</p>
<p>Freud dalam psikoanalisanya menekankan bahwa asal mula timbulnya kekacauan-kekacauan watak, sumber sakit syaraf, terletak lebih-lebih dalam hubungan-hubungan ‘aku’ sebagai obyek dan subyek dengan orang lain. Pendekatan psikologi sastra bertolak dari asumsi bahwa karya sastra selalu membahas peristiwa kehidupan manusia. Manusia selalu memperlihatkan perilaku beragam. Bila ingin melihat dan mengenal manusia lebih dalam dan lebih jauh diperlukan psikologi. Psikoanalisis sebagai suatu pendekatan dapat pula digunakan dalam kaitannya dengan sebuah karya sastra. Utamanya dalam usaha memasuki karakter tokoh-tokoh yang terdapat di dalam suatu karya sastra, psikoanalisis menyentuh unsur dasar dari alam pikir manusia. Demikianlah analisis psikologi sastra dalam novel Genesis karya Ratih Kumala. Dari analisis diatas dapat disimpulkan bahwa psikologi sastra adalah suatu disiplin ilmu yang memandang karya sastra sebagai suatu karya yang memuat peristiwa-peristiwa kehidupan manusia yang diperankan oleh tokoh-tokoh imajiner.</p>
<p><em>Penulis adalah mahasiswa Sastra Indonesia Unand.<br />
Sudah pernah dipublikasikan di Koran Singgalang, Minggu 13 Juni 2010.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/gangguan-kejiawaan-tokoh-ibu-dalam-genesis-645.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Drummer yang Tidak Pamer Drumset</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/drummer-yang-tidak-pamer-643.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/drummer-yang-tidak-pamer-643.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Nov 2010 08:09:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Genesis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=643</guid>
		<description><![CDATA[Dengan alur maju-mundur, Ratih Kumala mengisi celah-celah plot cerita. Cara ini cukup berhasil memberikan informasi kepada pembaca (baca: saya) akan latar belakang masing-masing tokoh beserta kisah masa lalunya. Lewat beberapa bab berisi flashback, saya menemukan alasan-alasan di balik tindakan masing-masing karakter. Mengapa mereka berada pada posisinya sekarang, apa yang mereka cari, dan sebagainya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: <a href="http://satusungai.wordpress.com/2010/03/25/genesis-ratih-kumala-drummer-yang-tidak-pamer-drumset/">Satu Sungai</a></strong></p>
<p><em>Sedikit Review Tak Beraturan</em></p>
<p><img alt="" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/genesis_tbl.jpg" title="Genesis" class="alignleft" width="178" height="252" />Suster Maria Faustina, yang hendak mengabdikan dirinya kepada Tuhan, malah melihat hal yang sama sekali aneh baginya. Kaumnya (umat Kristen) menghabisi nyawa orang Islam hanya karena mereka (Kristen; red) terlalu angkuh menganggap agamanya sendiri yang paling benar dan lainnya adalah salah. Tak jauh pula sebaliknya.</p>
<p>Di Ambon, tempat tujuan Prawesti, nama Suster Maria Faustina sebelum ia dibaptis, ia menemukan banyak sekali kekeliruan. Baik yang terjadi di luar dirinya, maupun yang berkutat dalam batinnya. Perang atas nama agama di luar. Perang pecah pula dalam dirinya, perang antara kepercayaan dan keraguannya akan Tuhan dan agamanya.<br />
<span id="more-643"></span><br />
Suster Maria Faustina memiliki anak bernama Noah, anak yang tidak dilahirkannya sendiri, melainkan melalui rahim seorang perempuan lain bernama Sawitri. Suster Maria Faustina tidak pernah melihat anaknya sampai mereka bertemu di Ambon, ketika Noah tengah bertugas ke sana sebagai anggota tim relawan.</p>
<p>- – -</p>
<p>Dengan alur maju-mundur, Ratih Kumala mengisi celah-celah plot cerita. Cara ini cukup berhasil memberikan informasi kepada pembaca (baca: saya) akan latar belakang masing-masing tokoh beserta kisah masa lalunya. Lewat beberapa bab berisi flashback, saya menemukan alasan-alasan di balik tindakan masing-masing karakter. Mengapa mereka berada pada posisinya sekarang, apa yang mereka cari, dan sebagainya.</p>
<p>Perihal konflik batin masing-masing karakter juga menjadi salah satu hal yang cukup kuat dalam “Genesis”. Penggambaran perasaan dan kegelisahan dalam diri, pikiran-pikiran yang berkecamuk dan mengganggu. Mulai dari Menur- adik Prawesti, Prawesti sebagai Prawesti, Prawesti sebagai Suster Maria Faustina, Sawitri, Noah, Elmira- istri Noah, dan tokoh-tokoh sampingan seperti awak kapal beserta kapten Srigunting hingga dr. Frans yang menyuntikkan kopi ke Suster Maria Faustina hingga ia menjadi menderita dan akhirnya terpaksa disuntik mati.</p>
<p>Pemanfaatan tokoh-tokoh secara optimal, itulah juga yang dilakukan oleh Ratih Kumala. Tak ada tokoh yang kehadirannya terasa sia-sia. Ini lagi-lagi yang saya sukai dari penulis cerita, khususnya novel. Ibarat seorang drummer, saya geli dan benci sekali dengan drummer yang sok-sokan pamer memasang drumset super-duper-lengkap dengan cymbal dan tom yang aduhai-alamak-beraneka-ragam-macamnya tapi ternyata ketika ia bermain yang dipakai hanyalah 1 snear, 1 hi-hat, 1 bass, 2 cymbal, 2 tom, dan 1 floor-tom, set standar!</p>
<p>Namun entah kenapa bagi saya ending “Genesis” kok terasa kurang nendang ya?</p>
<p>Ah, apalah, saya hanya pembaca yang rewel dan banyak komentar ini. Hahaha..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/drummer-yang-tidak-pamer-643.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Reading Between The Lines</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/reading-between-the-lines-621.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/reading-between-the-lines-621.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Oct 2010 09:44:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsip Media]]></category>
		<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[sepocikopi.com]]></category>
		<category><![CDATA[Stefanny Irawan]]></category>
		<category><![CDATA[Un Soir Du Paris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=621</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta Globe &#124; Dalih Sembiring &#124; September 27, 2010 Of all the literary works that deal with lesbianism or have lesbians as lead characters, how many have been written in Indonesian? Try to list them and you will realize that there are very few. Oka Rusmini mentions lesbians in her novels “Tarian Bumi” (“Earth Dance”) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/kover_paris.jpg" rel="lightbox[621]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/kover_paris.jpg" alt="" title="kover_paris" width="171" height="250" class="alignleft size-full wp-image-623" /></a><br />
<strong>Jakarta Globe | Dalih Sembiring | September 27, 2010</strong></p>
<p>Of all the literary works that deal with lesbianism or have lesbians as lead characters, how many have been written in Indonesian?</p>
<p>Try to list them and you will realize that there are very few.</p>
<p>Oka Rusmini mentions lesbians in her novels “Tarian Bumi” (“Earth Dance”) and “Tempurung” (“Shell”).</p>
<p>Then there are Clara Ng’s “Gerhana Kembar” (“Twin Eclipses”), Herlinatiens’s “Garis Tepi Seorang Lesbian” (“The Margin of a Lesbian”), Djenar Maesa Ayu’s “Nayla” and Ratih Kumala’s “Tabula Rasa.”</p>
<p>Other titles include “Club Camilan” by Bella Widjaja, Brigitta NS and Donna Talitha, as well as Alberthiene Endah’s “Dicintai Jo” (“Loved by Jo”) and “Detik Terakhir” (“The Final Second”).</p>
<p>These are not even enough to fill a single bookshelf on lesbian literature — if Indonesian libraries had such a section.</p>
<p>This is why a new anthology of short stories titled “Un Soir du Paris,” French for “An Evening in Paris,” is long overdue.<br />
<span id="more-621"></span><br />
It compiles 12 lesbian-themed short stories, each by a different author, making it the first lesbian-themed work of its kind in Indonesia.</p>
<p>The anthology allows readers to sample different viewpoints on this controversial issue.</p>
<p>However, it is still too early to tell whether this work will encourage other writers to produce a wider array of lesbian and gay literature.</p>
<p>Like most anthologies that tackle a single theme, some of the stories hit the mark much better than others.</p>
<p>After reading this book, I found it impossible to look past the tendency of many writers to present their lesbian characters as confused and trapped in unhappy marriages or relationships.</p>
<p>It’s a valid plot point but some of these stories don’t develop it further. This can be seen in Cok Sawitri’s “Sebilah Pisau Roti” (“A Blade of Bread Knife”) and Shantined’s “Saga,” two stories that never seem to get off the emotional launch pad.</p>
<p>Maggie Tiojakin’s “Hari Ini, Esok dan Kemarin” (“Today, Tomorrow and Yesterday”) nearly falls into the same trap, but is saved by its ability to project a suspenseful, foreboding mood.</p>
<p>But Seno Gumira Ajidarma’s “Dua Perempuan dengan HP-nya” (“Two Women and Their Phones”) and Ucu Agustin’s “Lelaki yang Menetas di Tubuhku” (“The Man That Hatched Inside My Body”) more than make up for the weaknesses of the other stories.</p>
<p>Both narratives provide readers with a sense of liberation.</p>
<p>Seno’s main characters feel content with their choices, while Ucu puts her character’s problems into sharp focus and builds on the ensuing conflict.</p>
<p>Agus Noor’s “Potongan-Potongan Cerita di Kartu Pos” (“Bits of a Story on Postcards”) and Ratih Kumala’s “Tahi Lalat di Punggung Istriku” (“A Mole on My Wife’s Back”) have carefully crafted plots that offer interesting twists at the end.</p>
<p>“Tahi Lalat,” however, uses lesbianism as the twist itself, which would have been more of a surprise if the story wasn’t already in a lesbian-themed anthology.</p>
<p>“Kartu Pos,” on the other hand, folds subtle lesbian elements to make the unique and symbolic narrative come full circle.</p>
<p>Stefanny Irawan’s “Un Soir du Paris,” used as the title of the anthology, also ends by revealing that the two main characters are lesbians. However, the story’s tone, conflict and execution make this short story unforgettable.</p>
<p>Triyanto Triwikromo’s “Cahaya Sunyi Ibu” (“Mother’s Silent Glow”) has an intriguing premise. The story revolves around a boy who suspects his mother, a former member of the Indonesian Communist Party (PKI), of carrying on a lesbian relationship with a Jewish woman.</p>
<p>Both women repeatedly try to escape from a nursing home run by a cruel nurse, until one of them is killed in the attempt. The story manages to offer a satisfying ending, but it is sometimes mired in over-the-top poetic language.</p>
<p>Linda Christanty, an author who has explored the theme of lesbianism before, in her short story “Mercusuar” (“Lighthouse”), makes an appearance in the anthology with “Danau” (“Lake”).</p>
<p>It is written with her characteristic emotional depth, but “Danau” mostly delves into the main character’s past instead of her present lesbian relationship.</p>
<p>A vague connection between the two relationships makes it feel like the story is treading water, but it is a compelling read.</p>
<p>Meanwhile, Clara Ng’s “Mata Indah” (“Beautiful Eyes”) and Abmi Handayani’s “Menulis Langit” (“The Sky Scribbler”) dive into the world of fairy tales.</p>
<p>Abmi’s whimsical tone lends excitement to her story. The main character is set free to write poems in the sky and bets with God in an attempt to be with the angel of her dreams.</p>
<p>Clara’s story, meanwhile, is tinged with darkness and symbols that expose how hateful society can be.</p>
<p>In the anthology’s introduction, Rusmini says the contents are more than just “whiny, sentimental love stories.”</p>
<p>She says Indonesian writers dealing with lesbianism should attempt to make bold ideas and language jump from the pages if they want to truly represent the lesbian community’s long and brutal struggle to gain acceptance in the country.</p>
<p>It is unfortunate that this statement is true, but it is also heartening to know that all the stories in the book serve as starting points for the long struggle ahead.</p>
<p>If this book inspires other writers, especially lesbian writers, to follow suit, “Un Soir du Paris” will have played an important role in helping Indonesia’s lesbian literature move closer to the point where it can change society’s views on homosexuality.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/reading-between-the-lines-621.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibu Rumah Tangga dalam Industri Kreatif</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/ibu-rumah-tangga-dalam-industri-kreatif-599.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/ibu-rumah-tangga-dalam-industri-kreatif-599.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Sep 2010 02:59:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsip Media]]></category>
		<category><![CDATA[On Writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=599</guid>
		<description><![CDATA[Senin, 12/7/2010 &#124; 13:47 WIB KOMPAS.com &#8211; Clara Ng (37), penulis yang populer dengan novel Tujuh Musim Setahun (Dewata Publishing, 2002), terang-terangan mengaku menulis novel adalah pekerjaan kedua. &#8220;Pekerjaan utama saya adalah mengurus anak,&#8221; tutur ibu dari Elysa (8) dan Cathy (4) ini saat ditemui di rumahnya di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat, Selasa (6/7/2010) lalu. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/Ratih_kompas.jpg" rel="lightbox[599]"><img class="alignleft size-full wp-image-600" title="Ratih_kompas" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/Ratih_kompas.jpg" alt="" width="298" height="225" /></a>Senin, 12/7/2010 | 13:47 WIB</p>
<p><strong>KOMPAS.com</strong> &#8211; Clara Ng (37), penulis yang populer dengan novel <em>Tujuh Musim Setahun</em> (Dewata Publishing, 2002), terang-terangan mengaku menulis novel adalah pekerjaan kedua. &#8220;Pekerjaan utama saya adalah mengurus anak,&#8221; tutur ibu dari Elysa (8) dan Cathy (4) ini saat ditemui di rumahnya di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat, Selasa (6/7/2010) lalu.</p>
<p>Padahal, produktivitas Clara sebagai penulis tak perlu diragukan lagi. Sejak menulis <em>Tujuh Musim Setahun</em> pada tahun 2000, hingga kini ia telah menulis dan menerbitkan tak kurang dari 11 novel dan 29 buku cerita anak-anak.</p>
<p>Senada dengan Clara, penulis Sitta Karina Rachmidiharja (29) mengatakan lebih ingin dikenal sebagai ibu rumah tangga daripada penulis atau selebriti apa pun. &#8220;Karena saya memang ibu rumah tangga dan tidak pernah ingin jadi selebriti. Lebih enak begini, punya privasi dan kebebasan,&#8221; kata Sitta di rumahnya di kawasan Kreo, Tangerang, Banten.</p>
<p>Sitta mulai dikenal sejak menerbitkan novel pertamanya,<em>Lukisan Hujan,</em> pada tahun 2004, dan sejak itu sudah menulis 15 novel. Novel <em>Lukisan Hujan</em> sendiri, yang diterbitkan penerbit Terrant Books itu, laku keras dan cetak ulang hingga lima kali.</p>
<p><strong><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/clara_sitta_kompas.jpg" rel="lightbox[599]"><img class="alignleft size-full wp-image-601" title="clara_sitta_kompas" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/clara_sitta_kompas.jpg" alt="" width="298" height="225" /></a>Keluar dari pekerjaan</strong><br />
Awalnya, Sitta sempat beberapa kali pindah kerja, mulai dari Citibank, perusahaan konsultan manajemen Accenture, hingga menjadi konsultan di PT Freeport Indonesia. Namun, sejak 2005 ia memilih keluar dari pekerjaan dan menjadi penulis <em>freelance</em>. &#8220;Sebagai istri, saya ini sangat <em>old fashioned</em>. Bagi saya, tugas utama istri, ya, mengurus rumah dan anak-anak,&#8221; ungkap alumnus jurusan Teknik Industri, Universitas Trisakti, Jakarta, ini.</p>
<p>Keluar dari kerja kantoran untuk menekuni kegiatan menulis juga dilakukan Ratih Kumala (29). Ia sebenarnya sudah ingin menulis novelnya sejak lama, tetapi baru tahun 2002 ia memutuskan keluar dari pekerjaannya dan merampungkan novel pertama berjudul <em>Tabula Rasa</em> (Grasindo, 2004).</p>
<p>Hasilnya tak sia-sia, novel itu terpilih sebagai pemenang ketiga Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2004. &#8220;Sejak itu, saya menekuni pekerjaan jadi penulis lepas,&#8221; kata alumnus jurusan Sastra Inggris, Universitas Sebelas Maret, Solo, ini.</p>
<p>Menulis sendiri bagi Sitta adalah sebuah kegemaran lama. Sejak usia delapan tahun, Sitta sudah gemar mengarang cerita. Inspirasinya ia dapat dari kakeknya, almarhum Mara Karma, seniman dan penulis seangkatan Mochtar Lubis dan Rosihan Anwar.<br />
<span id="more-599"></span>Sementara bagi Clara, menulis sudah menjadi kebutuhan. Dalam blog-nya, Clara mengaku menulis karena usia ini singkat dan begitu banyak yang harus diungkapkan. &#8220;Ada kebutuhan untuk berbagi isi kepala saya kepada orang lain,&#8221; kata lulusan jurusan Komunikasi Interpersonal di Ohio State University, Amerika Serikat, itu.</p>
<p>Clara juga sempat bekerja di sebuah perusahaan perkapalan di Jakarta sepulang dari AS. Namun, ia memutuskan keluar setelah tiga tahun karena sempat mengalami keguguran kandungan hingga dua kali. Setelah berhenti bekerja itulah, ia punya waktu untuk menekuni kembali hobi menulisnya.</p>
<p><strong>Film dan sinetron</strong><br />
Menurut Sitta, tawaran untuk mengangkat novel-novelnya menjadi film sudah datang silih berganti, tetapi ia selalu menolak. Alasannya, kualitas sebagian besar aktor di Indonesia belum sesuai harapannya, dan jika dipaksakan, justru bisa merusak karakter-karakter dalam novelnya.</p>
<p>Sementara Clara mengaku belum mau menerima tawaran menulis skenario untuk sinetron dengan alasan kebebasan berkarya. &#8220;Kalau menulis skenario, saya harus memenuhi tenggat waktu yang ketat, padahal saya lebih mementingkan keluarga,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Berbeda dengan dua penulis tersebut, Ratih justru memutuskan mencoba dunia baru untuk penulisan tersebut. Awal Mei lalu, Ratih terlibat sebagai penulis skenario teater musikal berjudul <em>&#8220;Doel: Antara Roti Buaya dan Burung Merpati, Kembang Parung Nunggu Dipetik</em>&#8220;. Pentas, yang diselenggarakan Ikatan Abang None Jakarta bekerja sama dengan Teater Peqho, itu digelar di Gedung Kesenian Jakarta, 14-15 Mei.</p>
<p>Ratih juga setiap hari berkecimpung dalam dunia skenario  sinetron karena posisinya sebagai editor naskah cerita drama di Divisi Drama TransTV. Dua tahun lalu Ratih memang memutuskan memasuki dunia kerja lagi.</p>
<p>&#8220;Jadi penulis <em>freelance</em> itu sangat enak. Bisa kerja di rumah, tidak ada jam kerja. Tetapi, lama-lama jenuh juga. Saya merasa perlu mendisiplinkan diri karena lama-lama hidup saya mulai <em>ngaco</em>,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Menurut dia, seorang penulis harus membuat jenjang kariernya sendiri. &#8220;Setelah menulis untuk media dan buku sudah khatam, saya harus naik kelas. Bekerja di TV dan menulis naskah teater ini adalah naik kelas saya,&#8221; tandas istri penulis novel Eka Kurniawan ini.</p>
<p>(Dahono Fitrianto/Lusiana Indriasari)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/ibu-rumah-tangga-dalam-industri-kreatif-599.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keeping it Short</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/keeping-it-short-581.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/keeping-it-short-581.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 15:11:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsip Media]]></category>
		<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[On Writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=581</guid>
		<description><![CDATA[There are more than a million books published around the world every year, with short story collections accounting for less than 1 percent of them. Still, the last two years have seen the publication of some of the most intriguing anthologies by authors of all backgrounds, making 2008 and 2009 very successful years for short [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/larutansenja_tbl.png" rel="lightbox[581]"><img class="alignleft size-full wp-image-568" title="larutansenja_tbl" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/larutansenja_tbl.png" alt="" width="96" height="155" /></a>There are more than a million books published around the world every year, with short story collections accounting for less than 1 percent of them. Still, the last two years have seen the publication of some of the most intriguing anthologies by authors of all backgrounds, making 2008 and 2009 very successful years for short fiction. In the long run, it remains to be seen if the short story will gain the publishing upper hand. </em><em><strong>Maggie Tiojakin</strong></em><em> reports.</em></p>
<p>Short stories are hard to write, that’s true; but they’re even harder to sell, and that’s a fact.</p>
<p>Ratih Kumala is known for her quirky and sometimes disturbing stories that appear regularly in leading national dailies, including <em>Kompas</em> and <em>Suara Merdeka</em>. She’s the author of three novels – <em>Tabula Rasa </em>(2004), <em>Genesis </em>(2005) and <em>Kronik Betawi</em> (2009) – as well as a collection of short stories, <em>Larutan Senja</em> (2006), distinguishing her as one of the most promising young writers today.</p>
<p>The 14 stories included in <em>Larutan Senja</em> (Potion of Twilight) feature some of Ratih’s best writing to date, recounting anecdotes of a world driven by faith (or the lack of it), mysticism, fantasy and (some) horror. Yet the anthology is almost impossible to find in local bookstores and available for purchase only through the Internet. This is despite the fact that <em>Larutan Senja </em>was listed as one of the few notable books in the year of its publication.</p>
<p>“Our editorial department has often expressed a great interest in publishing short story collections,” says Hetih Rusli, a senior editor at publisher Gramedia Pustaka Utama. “But our marketing department has always been more than a little hesitant to put them out there because they never sell as well as we expect.”</p>
<p>Nevertheless, according to Ratih, the lack of interest on readers’ part in purchasing anthologies of short stories may also be attributed to the fact that local short stories are readily accessible in newspapers’ weekly cycle.<br />
<span id="more-581"></span></p>
<p>“This is a unique tradition for Indonesian writers and readers,” she says. “We’re accustomed to reading short stories while browsing the weekend edition of the national dailies, whereas we read books when we’re in the mood to get lost in larger works, like novels or even novellas.”</p>
<p>Over in other countries—notably the United States and Canada—short fiction remains somewhere at the center of all literary preoccupation. How could it not? North America is home to some 800 graduate creative writing programs and more than 1,000 literary journals (both print and electronic) whose dedication to short fiction is unrivaled in any other English-speaking country. Supporting these journals are creative writing departments in more than 2,000 American colleges, as well as annual anthologies the likes of <em>Best American Short Stories</em> and <em>The O. Henry Prize Stories</em>.</p>
<p>Tom Perrotta is an American novelist, short story writer, screenwriter and essayist. He’s the author of the novels <em>The Wishbones </em>(1997),<em> Election</em> (1998), <em>Joe College </em>(2000), <em>Little Children </em>(2004) and <em>The Abstinence Teacher </em>(2007), as well as a short story collection, <em>Bad Haircut: Stories of the Seventies </em>(1994). For him, the short story as a form “has gone in and out of fashion” in the face of publishing challenges.</p>
<p>“The main role of the short story collection … is to introduce new voices,” he tells the <em>WEEKENDER</em>. “Publishers hope these new voices will follow with a novel … [because] only a handful of major writers – Raymond Carver, Alice Munro, Mavis Gallant – have managed to carve out distinguished careers writing only in the short form.”</p>
<p>For Simon Van Booy, however, at the heart of all forms of writing is the story itself. The 2009 winner of the International Frank O’Connor Prize, arguably the most prestigious for short story writers, Van Booy is a British author who has penned two short story collections – <em>The Secret Lives of People in Love </em>(2007) and <em>Love Begins In Winter </em>(2009) – three books on philosophy and countless essays. His first novel is set for publication sometime next year.</p>
<p>“I think some stories are just more suited to [the short story] format,” Van Booy writes to the <em>WEEKENDER</em>. “A few stories in my imagination are yet to find their mode of deliverance.”</p>
<p>Ratih, though, believes the short story form is the equivalent of a beginner’s class for writers experimenting with and trying to find their own voice before eventually graduating to a novel.</p>
<p>“Writing a short story is how writers begin their career,” she says. “It’s a training ground, and a difficult one at that, because not all writers can do it well.”</p>
<p>Lori Ostlund agrees. A recipient of the Rona Jaffe Foundation Writer’s Award, her collection <em>The Bigness of the World</em> (2009) has been hailed by critics as a remarkable debut.</p>
<p>“Short stories are the way that young writers build up their résumé,” Ostlund says in an email interview. “But it isn’t always the case that someone who writes a short story can also write a novel. Some people are fundamentally novelists and others are short story writers.”</p>
<p>Even so, on the point of short fiction as a literary commodity, most people tend to step back. While it’s true there are more literary outlets today than at any other time in history – taking into account the small presses and electronic-based journals around the world – there have also been a lot of financial cutbacks and loss of readership over the last few years.</p>
<p>Will short stories ever be able to outshine the bulky magnum opuses penned by genre authors such as J.K. Rowling and Stephanie Meyer?</p>
<p>“I’m not sure I see the short story as an especially commercial genre,” says Perrotta. “Yes, a few story collections do well in the marketplace, but most reach a relatively small audience, though there have been some high-profile exceptions.”</p>
<p>Among the special few is Jhumpa Lahiri, whose first collection, <em>Interpreter of Maladies </em>(1999), won the Pulitzer Prize and gave her an early taste of international fame. It was a groundbreaking volume, matched by her debut novel, <em>The Namesake </em>(2003), and second collection, <em>An Unaccustomed Earth </em>(2008).</p>
<p>An Indian-American writer, Lahiri’s popularity marked an interesting juncture in the development of American short stories. Following her success, and perhaps unintentionally so, other writers of foreign backgrounds began to emerge and mold their careers in the United States, where the literary market is highly selective and, at times, impossible to penetrate. Notable foreign writers on this list, whose American identity is bound by geographic upbringing and education rather than heritage, include Nam Le (Vietnam-Australia), Uwem Akpan (Nigeria), Alexandar Hemon (Bosnia) and Yiyun Li (China).</p>
<p>There were, of course, others before them: Russia’s Vladimir Nabokov, for one, whose controversial <em>Lolita</em> became the talk of the world back when it was first published in the 1950s, and whose short stories appeared in distinguished journals such as <em>The Atlantic</em>.</p>
<p><em>The Atlantic</em>, a monthly journal of literary and political commentary founded in 1857, is one of the first outlets many American short story writers turn to for publication and also to establish their reputation as masters of the form. Ernest Hemingway, F. Scott Fitzgerald, Nathaniel Hawthorne, Mark Twain and Louisa May Alcott, among others, launched their careers through the magazine. And for the next 148 years, it continued to publish monthly fiction.</p>
<p>Nevertheless, in 2005 the magazine changed gears. Fiction is no longer a part of its monthly editorial, though in its place is an annual collection of at least 10 short stories.</p>
<p>“Our <em>Fiction Issue </em>is designed to function a bit like an anthology,” says Sage Stossel, an editor at <em>The Atlantic</em>. “With short stories, poetry and articles about writers and writing all gathered together in one place.”</p>
<p>In December last year, <em>The Atlantic</em> began offering two short stories a month published exclusively through Amazon’s Kindle, priced at US$3.99 each – the first of its kind. If anything, it’s probably a sign that short stories are enjoying the kind of popularity to which they were previously unaccustomed.</p>
<p>“<em>The Atlantic</em> has historically served as an important outlet for short fiction,” says Stossel. “And it remains committed to publishing short fiction.”</p>
<p>In Southeast Asia, publishers are only just beginning to warm up to short fiction. Kuala Lumpur-based Silverfish Books, for instance, commits itself to publishing short story volumes by Malaysian authors. And Singapore’s QLRS (Quarterly Literary Review Singapore) has, for the past decade, regularly posted up short stories, criticism, essays and poetry by local authors.</p>
<p>Shih-Li Kow is a Chinese Malaysian whose debut short story collection, <em>Ripples and Other Stories </em>(2008), was shortlisted for the International Frank O’Connor Prize.</p>
<p>Expounding on the notion that most readers are now responding better to short stories, Kow says the key rests with the publishers and not (strictly) with the readers.</p>
<p>“I believe publishers are the ones who open up to different types of short fiction,” she says. “There can only be a potential readership if something is published.”</p>
<p>Asked about what drew her to the short story as a medium, Kow says, “It wasn’t so much that I chose the medium. I felt I didn’t have a choice but to write short stories.”</p>
<p>A similar sentiment is shared by Ostlund, who teaches creative writing at the Art Institute of California in San Francisco. Though currently at work on her first novel, Ostlund admits her heart belongs to the short story.</p>
<p>“I think there are a lot of readers out there who … don’t always run toward the novel,” she says. “And I’m gratified by the number of really good short story collections that I’ve been coming across lately, hoping for more to come.”</p>
<p>Overall, short fiction – individually and as a collection – does have its own irresistible appeal that puts readers and writers alike into a state of trance. The small moments of revelation contained within, the illuminating truth spoken by voices so familiar they sound like our own, as we mull over the quick yet subtle narrative, piercing dialogue, and often unpredictable ending. These are the winning points of the short story, which render the form arguably the most difficult to master, and the reason it continues to evolve.</p>
<p>Europe, a continent best known for its novels, poetry, plays and essays, whose literary market for many centuries has been divided by language, culture and history, has now entered the fray by publishing, for the first time, an anthology of 35 short stories by authors hailing from Albania to Wales.</p>
<p>The stories, selected by Hemon, a recipient of a MacArthur Foundation grant, are collected in a volume aptly titled <em>Best European Fiction 2010</em>. Released in January, the collection is expected to serve as the new benchmark for short stories.</p>
<p>Indonesia, by comparison, isn’t lagging far behind. Besides the weekly short stories in newspapers, some of which go on to be anthologized by the end of the year, there are also the prestigious Pena Kencana Award and Khatulistiwa Award, both of which recognize the contributions made by short stories to the Indonesian literary scene.</p>
<p>But is it enough to boost a writer’s ambition?</p>
<p>“Generally, [short story] writers aren’t well appreciated in Indonesia,” says Ratih. “And it’s understandable for our readers to choose novels over short story collections, because why go to the trouble of reading something that forces you to think hard rather than simply entertains?”</p>
<p>Surely, though, that isn’t what short fiction is all about.</p>
<p>“I think short stories have the sort of power that can seduce a reader,” says Van Booy. “The way you fall in love first and get to know the person later. A good story to me is something I can’t forget.”</p>
<p>Perrotta, whose short story “The Smile on Happy Chang’s Face” opened the anthology of <em>Best American Short Stories 2005</em>, credits fellow writers for preserving the form</p>
<p>“The short story continues to prosper because talented young writers haven’t abandoned it,” he says.</p>
<p>*source: <a href="http://www.thejakartapost.com/news/2010/03/31/keeping-it-short.html">http://www.thejakartapost.com/news/2010/03/31/keeping-it-short.html</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/keeping-it-short-581.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Betawi versus Modernisasi</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/betawi-versus-modernisasi-497.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/betawi-versus-modernisasi-497.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2009 13:12:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsip Media]]></category>
		<category><![CDATA[Kronik Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=497</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Muhammad Amin Sampai saat tanah moyangku tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota terlihat murung wajah pribumi terdengar langkah hewan bernyanyi Itulah sebait syair dari lagu “Ujung Aspal Pondok Gede” yang dilantunkan penyanyi kawakan Iwan Fals. Nyanyian itu merupakan satu dari suara kegetiran orang-orang Betawi, penduduk asli Jakarta yang perlahan mulai terpinggirkan oleh modernisasi. Kawasan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/kronik-betawi.jpg" alt="kronik-betawi" title="kronik-betawi" width="300" height="446" class="alignleft size-full wp-image-487" /></p>
<h3>Oleh Muhammad Amin</h3>
<p><em>Sampai saat tanah moyangku<br />
tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota<br />
terlihat murung wajah pribumi<br />
terdengar langkah hewan bernyanyi</em></p>
<p>Itulah sebait syair dari lagu “Ujung Aspal Pondok Gede” yang dilantunkan penyanyi kawakan Iwan Fals. Nyanyian itu merupakan satu dari suara kegetiran orang-orang Betawi, penduduk asli Jakarta yang perlahan mulai terpinggirkan oleh modernisasi. Kawasan Pondok Gede sendiri kini sudah menjadi kawasan yang ditumbuhi gedung-gedung, tidak lagi kawasan asli Betawi di zamannya yang nyaman dan asri.</p>
<p>Kisah dalam novel ini bermula dari banjir Jakarta yang entah mengapa menjadi jadwal musiman. Haji Jaelani adalah salah satu warga Betawi yang harus menerima akibat dari perkembangan Jakarta, dan juga menerima konsekuensinya. Salah satunya adalah banjir akibat hilangnya banyak sekali resapan air yang dulu tersedia.<br />
<span id="more-497"></span><br />
Hampir semua orang betawi memiliki empang. Selain berfungsi untuk memelihara ikan, empang juga sangat penting fungsinya untuk mengantisipasi banjir. Kini, empang-empang itu sudah berganti dengan gedung pencakar langit dan menghilangkan fungsi antisipasi banjirnya.</p>
<p>Haji Jaelani pun harus membuka harinya dengan melawan air. Sofa basah, teve radio dan alat elektronik yang harus diungsikan merupakan langganan pekerjaan ketika banjir mulai melanda. Pengusaha sapi perah ini juga harus pandai-pandai memindahkan sapi-sapinya ke tempat yang aman.</p>
<p>Usai bersih-bersih, rumah Haji Jaelani justru benar-benar ‘’dibersihkan’’. Dengan alasan perkembangan kota, Haji Jaelani mau tak mau harus tergusur dari kampung halamannya sendiri. Tak ada yang dapat diperbuat. Ia hanya pasrah. Sampai ia pun berujar: ‘’Coba dulu babeh gue ngajarin mantra Jiung yang dipake buat nyelametin orang-orang waktu tentara Jepang ngejarah, pasti tanah gue sekarang masih utuh…bisa selamet dari orang-orang yang pada ngegusur!’’</p>
<p>Haji Jaelani tak sendiri. Kronik penderitaan orang-orang Betawi terjadi nyaris di semua lini. Haji Jarkasi, seorang seniman juga mengalami hal yang sama. Kehidupan murid Haji Bokir ini tidak pernah beranjak lebih baik karena seniman Betawi nyaris tak pernah dihargai.</p>
<p>Novel Kronik Betawi ini memang menceritakan latar belakang Betawi dan orang-orangnya yang bersahaja, polos dan apa adanya. Ada harapan, penderitaan, juga kisah cinta yang didedahkan. Dalam Kronik Betawi ini, pengarangnya mencoba seluas mungkin mengeksplorasi budaya Betawi yang perlahan sudah tergerus zaman. Kendati terbilang sangat muda, Ratih Kumala mencoba memaparkan sejarah Betawi dengan upaya maksimal dan detil dengan gaya orang-orang jadul (jaman dulu) yang khas. Di antara yang sering terlupakan, misalnya bahwa Menteng itu merupakan nama buah, Bintaro itu nama pohon dan Kebon Jeruk memang merupakan kawasan perkebunan jeruk.</p>
<p>Orang Jakarta sekarang hanya tahu bahwa kawasan-kawasan itu adalah kawasan gedongan dan elit. Dalam novel ini, Ratih Kumala bercerita tentang perjalanan Betawi dan anak daerahnya menghadapi modernisasi ibu kota. Novel ini memang Betawi asli, dengan bahasa dan sudut pandang penceritaan yang sangat alami dan khas Betawi.***</p>
<p>Sumber: <a href="http://xpresiriau.com/resensi-buku/betawi-versus-modernisasi/">Xpresi Riau Pos</a>.<br />
Buat yang tertarik memesan novel ini, <a href="http://ratihkumala.com/blog/novel-kronik-betawi-bisa-pesan-di-sini-491.php">sila klik halaman ini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/betawi-versus-modernisasi-497.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Betawi versus Modernisasi</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/betawi-versus-modernisasi-497.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/betawi-versus-modernisasi-497.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2009 13:12:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsip Media]]></category>
		<category><![CDATA[Kronik Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=497</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Muhammad Amin Sampai saat tanah moyangku tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota terlihat murung wajah pribumi terdengar langkah hewan bernyanyi Itulah sebait syair dari lagu “Ujung Aspal Pondok Gede” yang dilantunkan penyanyi kawakan Iwan Fals. Nyanyian itu merupakan satu dari suara kegetiran orang-orang Betawi, penduduk asli Jakarta yang perlahan mulai terpinggirkan oleh modernisasi. Kawasan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/kronik-betawi.jpg" alt="kronik-betawi" title="kronik-betawi" width="300" height="446" class="alignleft size-full wp-image-487" /></p>
<h3>Oleh Muhammad Amin</h3>
<p><em>Sampai saat tanah moyangku<br />
tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota<br />
terlihat murung wajah pribumi<br />
terdengar langkah hewan bernyanyi</em></p>
<p>Itulah sebait syair dari lagu “Ujung Aspal Pondok Gede” yang dilantunkan penyanyi kawakan Iwan Fals. Nyanyian itu merupakan satu dari suara kegetiran orang-orang Betawi, penduduk asli Jakarta yang perlahan mulai terpinggirkan oleh modernisasi. Kawasan Pondok Gede sendiri kini sudah menjadi kawasan yang ditumbuhi gedung-gedung, tidak lagi kawasan asli Betawi di zamannya yang nyaman dan asri.</p>
<p>Kisah dalam novel ini bermula dari banjir Jakarta yang entah mengapa menjadi jadwal musiman. Haji Jaelani adalah salah satu warga Betawi yang harus menerima akibat dari perkembangan Jakarta, dan juga menerima konsekuensinya. Salah satunya adalah banjir akibat hilangnya banyak sekali resapan air yang dulu tersedia.<br />
<span id="more-497"></span><br />
Hampir semua orang betawi memiliki empang. Selain berfungsi untuk memelihara ikan, empang juga sangat penting fungsinya untuk mengantisipasi banjir. Kini, empang-empang itu sudah berganti dengan gedung pencakar langit dan menghilangkan fungsi antisipasi banjirnya.</p>
<p>Haji Jaelani pun harus membuka harinya dengan melawan air. Sofa basah, teve radio dan alat elektronik yang harus diungsikan merupakan langganan pekerjaan ketika banjir mulai melanda. Pengusaha sapi perah ini juga harus pandai-pandai memindahkan sapi-sapinya ke tempat yang aman.</p>
<p>Usai bersih-bersih, rumah Haji Jaelani justru benar-benar ‘’dibersihkan’’. Dengan alasan perkembangan kota, Haji Jaelani mau tak mau harus tergusur dari kampung halamannya sendiri. Tak ada yang dapat diperbuat. Ia hanya pasrah. Sampai ia pun berujar: ‘’Coba dulu babeh gue ngajarin mantra Jiung yang dipake buat nyelametin orang-orang waktu tentara Jepang ngejarah, pasti tanah gue sekarang masih utuh…bisa selamet dari orang-orang yang pada ngegusur!’’</p>
<p>Haji Jaelani tak sendiri. Kronik penderitaan orang-orang Betawi terjadi nyaris di semua lini. Haji Jarkasi, seorang seniman juga mengalami hal yang sama. Kehidupan murid Haji Bokir ini tidak pernah beranjak lebih baik karena seniman Betawi nyaris tak pernah dihargai.</p>
<p>Novel Kronik Betawi ini memang menceritakan latar belakang Betawi dan orang-orangnya yang bersahaja, polos dan apa adanya. Ada harapan, penderitaan, juga kisah cinta yang didedahkan. Dalam Kronik Betawi ini, pengarangnya mencoba seluas mungkin mengeksplorasi budaya Betawi yang perlahan sudah tergerus zaman. Kendati terbilang sangat muda, Ratih Kumala mencoba memaparkan sejarah Betawi dengan upaya maksimal dan detil dengan gaya orang-orang jadul (jaman dulu) yang khas. Di antara yang sering terlupakan, misalnya bahwa Menteng itu merupakan nama buah, Bintaro itu nama pohon dan Kebon Jeruk memang merupakan kawasan perkebunan jeruk.</p>
<p>Orang Jakarta sekarang hanya tahu bahwa kawasan-kawasan itu adalah kawasan gedongan dan elit. Dalam novel ini, Ratih Kumala bercerita tentang perjalanan Betawi dan anak daerahnya menghadapi modernisasi ibu kota. Novel ini memang Betawi asli, dengan bahasa dan sudut pandang penceritaan yang sangat alami dan khas Betawi.***</p>
<p>Sumber: <a href="http://xpresiriau.com/resensi-buku/betawi-versus-modernisasi/">Xpresi Riau Pos</a>.<br />
Buat yang tertarik memesan novel ini, <a href="http://ratihkumala.com/blog/novel-kronik-betawi-bisa-pesan-di-sini-491.php">sila klik halaman ini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/betawi-versus-modernisasi-497.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

