1

Gangguan Kejiawaan Tokoh Ibu dalam “Genesis”

Oleh Irma Dani Fitri

Secara umum psikologi berarti ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia atau ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala jiwa manusia, sedangkan sastra adalah karya seni yang merupakan ekspresi kehidupan manusia. Menurut Atar Semi Pendekatan psikologi sastra bertolak dari asumsi bahwa karya sastra selalu membahas peristiwa kehidupan manusia. Manusia selalu memperlihatkan perilaku beragam. Bila ingin melihat dan mengenal manusia lebih dalam dan lebih jauh diperlukan psikologi. Semi juga berpendapat bahwa psikologi sastra adalah suatu disiplin ilmu yang memandang karya sastra sebagai suatu karya yang memuat peristiwa-peristiwa kehidupan manusia yang diperankan oleh tokoh-tokoh imajiner.

Genesis adalah salah satu novel yang dapat dianalisis melalui pendekatan psikologi sastra. Novel karya Ratih Kumala ini menampilkan salah satu tokoh yang mengalami gangguan kejiwaan, yaitu tokoh ibu (ibu dari Pawestri sebagai tokoh utamanya) yang diceritakan terganggu kesehatan jiwanya. Novel Genesis bercerita tentang seorang gadis bernama Pawestri, yang dibesarkan dalam keluarga Katolik yang taat dalam agama. Pada usia 19 tahun ia terpikat dan jatuh cinta dengan seorang pemuda yang kemudian menghamilinya sebelum menikah dan pergi meninggalkannya begitu saja. Kenyataan ini menjadi semacam petir yang menghantam keluarga, sebuah aib yang sungguh tak dapat diterima. Problem kehamilannya tanpa suami membuat Pawestri dikutuk oleh ayahnya. Ia tidak diakui lagi sebagai anak, diusir dari rumah, dan dianggap tidak pernah ada dalam keluarga. Sementara ibunya yang tunduk pada otoritas suami hanya dapat diam menahan pedih, tak dapat berbuat apa-apa dengan sikap keras suaminya. Namun kepergian Pawestri perlahan membuat ibunya merasa kehilangan,yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Luka karena kehilangan dan tekanan-tekanan suami membuat ibu Pawestri mulai terganggu kesehatan jiwanya. Ia tak waras lagi dan setiap hari bertingkah laku aneh, berlaku seolah-olah Pawestri ada. Akhirnya ia dibawa ke Rumah Sakit jiwa.
Continue reading

Drummer yang Tidak Pamer Drumset

Oleh: Satu Sungai

Sedikit Review Tak Beraturan

Suster Maria Faustina, yang hendak mengabdikan dirinya kepada Tuhan, malah melihat hal yang sama sekali aneh baginya. Kaumnya (umat Kristen) menghabisi nyawa orang Islam hanya karena mereka (Kristen; red) terlalu angkuh menganggap agamanya sendiri yang paling benar dan lainnya adalah salah. Tak jauh pula sebaliknya.

Di Ambon, tempat tujuan Prawesti, nama Suster Maria Faustina sebelum ia dibaptis, ia menemukan banyak sekali kekeliruan. Baik yang terjadi di luar dirinya, maupun yang berkutat dalam batinnya. Perang atas nama agama di luar. Perang pecah pula dalam dirinya, perang antara kepercayaan dan keraguannya akan Tuhan dan agamanya.
Continue reading

5

Perempuan dan Kebebasan Memaknai Hidup:
Mengais Hikmah Filosofis di Balik Novel Genesis

Oleh: Prass Engky

Genesis
photo by kevindooley, some rights reserved.

I. Pendahuluan

Filsafat dan sastra mempunyai dasar pijak yang sama,yaitu realitas. Bila filsafat bertolak dari kenyataan lalu diabstraksikan, dicari jati dirinya, hakikatnya, maka sastra mulai dari apa yang ada dalam kenyataan lalu diolah lewat imajinasi. Imajinasi ini ada dalam cipta kemudian dituangkan dalam tulisan atau kata-kata (Sutrisno,1995: 16). Filsafat dan sastra bisa saling bergandengan. Kita dapat saja berfilsafat lewat sastra, apapun bentuknya. Hal ini telah dilakukan oleh kalangan sastrawan yang mengungkapkan dan mengkritisi realitas tertentu lewat kata-kata/bahasa.

Munculnya novelis-novelis perempuan dalam sastra Indonesia modern antara lain menunjukkan kerinduan dan semangat perempuan untuk menggarap dan mengkritisi realitas dari sudut pandang mereka. Ada muatan filosofi yang ingin diungkapkan lewat karya imajinatif mereka. Dalam tulisan ini, saya ingin ”mengais” (atau tepatnya: menafsir) muatan filosofi dari sebuah novel karya Ratih Kumala, berjudul Genesis. Sesuai dengan judulnya, makalah ini menyoroti tema ”kebebasan perempuan”, yang diperdalam dengan bantuan pandangan eksistensialisme Sartre.
Continue reading