Tabula Rasa*1): Pasivitas Manusia dalam Menerima Lingkungan

Oleh Nisa Ayu

Saat saya membaca sebuah novel percintaan – seperti yang diungkapkan oleh salah satu endorsernya – biasanya menjadi suatu hal yang mengasyikkan, dan memang demikianlah adanya. Kemudian, ketika saya menggambarkan isi novel ini dengan menggabungkan efek label Pemenang Ketiga Sayembara Novel DKJ 2003 di sampul depan, tiga orang endorser kelas TOP – dalam artian top, tiga orang erdorser *2) tersebut adalah penulis dan pembangun menara sastra Indonesia, menurut saya tentunya- di bagian belakang, menjadi sebuah jaminan yang “mahal” bahwa ada sajian yang menarik dari novel ini.

Namun menjadi ironi ketika saya menemukan buku ini di tumpukan buku “sale” dengan harga bandrol sepuluh ribu rupiah, di sebuah pameran buku di wilayah Surabaya, saat Surabaya sedang merayakan bulan-bulan HUT eksistensinya sebagai Kota Niaga. Mengapa novel “bermutu” ini ada di keranjang sana, diantara deretan buku yang tidak “popular” dan tidak mempunyai “daya jual” di mata publik Surabaya? Padahal, menurut saya label-label tersebut adalah suatu jaminan. Ah… kemudian saya agak tersenyum kecut tapi lega, minat baca masyarakat Surabaya tidak se-memprihatinkan yang saya kira. Ketika saya cari-cari, buku ini tinggal satu di keranjang tersebut. Kecewa sebenarnya, karena biasanya saya akan membeli lebih untuk saya bingkiskan kepada orang lain.
Continue reading

Gangguan Kejiawaan Tokoh Ibu dalam “Genesis”

Oleh Irma Dani Fitri

Secara umum psikologi berarti ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia atau ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala jiwa manusia, sedangkan sastra adalah karya seni yang merupakan ekspresi kehidupan manusia. Menurut Atar Semi Pendekatan psikologi sastra bertolak dari asumsi bahwa karya sastra selalu membahas peristiwa kehidupan manusia. Manusia selalu memperlihatkan perilaku beragam. Bila ingin melihat dan mengenal manusia lebih dalam dan lebih jauh diperlukan psikologi. Semi juga berpendapat bahwa psikologi sastra adalah suatu disiplin ilmu yang memandang karya sastra sebagai suatu karya yang memuat peristiwa-peristiwa kehidupan manusia yang diperankan oleh tokoh-tokoh imajiner.

Genesis adalah salah satu novel yang dapat dianalisis melalui pendekatan psikologi sastra. Novel karya Ratih Kumala ini menampilkan salah satu tokoh yang mengalami gangguan kejiwaan, yaitu tokoh ibu (ibu dari Pawestri sebagai tokoh utamanya) yang diceritakan terganggu kesehatan jiwanya. Novel Genesis bercerita tentang seorang gadis bernama Pawestri, yang dibesarkan dalam keluarga Katolik yang taat dalam agama. Pada usia 19 tahun ia terpikat dan jatuh cinta dengan seorang pemuda yang kemudian menghamilinya sebelum menikah dan pergi meninggalkannya begitu saja. Kenyataan ini menjadi semacam petir yang menghantam keluarga, sebuah aib yang sungguh tak dapat diterima. Problem kehamilannya tanpa suami membuat Pawestri dikutuk oleh ayahnya. Ia tidak diakui lagi sebagai anak, diusir dari rumah, dan dianggap tidak pernah ada dalam keluarga. Sementara ibunya yang tunduk pada otoritas suami hanya dapat diam menahan pedih, tak dapat berbuat apa-apa dengan sikap keras suaminya. Namun kepergian Pawestri perlahan membuat ibunya merasa kehilangan,yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Luka karena kehilangan dan tekanan-tekanan suami membuat ibu Pawestri mulai terganggu kesehatan jiwanya. Ia tak waras lagi dan setiap hari bertingkah laku aneh, berlaku seolah-olah Pawestri ada. Akhirnya ia dibawa ke Rumah Sakit jiwa.
Continue reading

Drummer yang Tidak Pamer Drumset

Oleh: Satu Sungai

Sedikit Review Tak Beraturan

Suster Maria Faustina, yang hendak mengabdikan dirinya kepada Tuhan, malah melihat hal yang sama sekali aneh baginya. Kaumnya (umat Kristen) menghabisi nyawa orang Islam hanya karena mereka (Kristen; red) terlalu angkuh menganggap agamanya sendiri yang paling benar dan lainnya adalah salah. Tak jauh pula sebaliknya.

Di Ambon, tempat tujuan Prawesti, nama Suster Maria Faustina sebelum ia dibaptis, ia menemukan banyak sekali kekeliruan. Baik yang terjadi di luar dirinya, maupun yang berkutat dalam batinnya. Perang atas nama agama di luar. Perang pecah pula dalam dirinya, perang antara kepercayaan dan keraguannya akan Tuhan dan agamanya.
Continue reading

Reading Between The Lines


Jakarta Globe | Dalih Sembiring | September 27, 2010

Of all the literary works that deal with lesbianism or have lesbians as lead characters, how many have been written in Indonesian?

Try to list them and you will realize that there are very few.

Oka Rusmini mentions lesbians in her novels “Tarian Bumi” (“Earth Dance”) and “Tempurung” (“Shell”).

Then there are Clara Ng’s “Gerhana Kembar” (“Twin Eclipses”), Herlinatiens’s “Garis Tepi Seorang Lesbian” (“The Margin of a Lesbian”), Djenar Maesa Ayu’s “Nayla” and Ratih Kumala’s “Tabula Rasa.”

Other titles include “Club Camilan” by Bella Widjaja, Brigitta NS and Donna Talitha, as well as Alberthiene Endah’s “Dicintai Jo” (“Loved by Jo”) and “Detik Terakhir” (“The Final Second”).

These are not even enough to fill a single bookshelf on lesbian literature — if Indonesian libraries had such a section.

This is why a new anthology of short stories titled “Un Soir du Paris,” French for “An Evening in Paris,” is long overdue.
Continue reading

Ibu Rumah Tangga dalam Industri Kreatif

Senin, 12/7/2010 | 13:47 WIB

KOMPAS.com – Clara Ng (37), penulis yang populer dengan novel Tujuh Musim Setahun (Dewata Publishing, 2002), terang-terangan mengaku menulis novel adalah pekerjaan kedua. “Pekerjaan utama saya adalah mengurus anak,” tutur ibu dari Elysa (8) dan Cathy (4) ini saat ditemui di rumahnya di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat, Selasa (6/7/2010) lalu.

Padahal, produktivitas Clara sebagai penulis tak perlu diragukan lagi. Sejak menulis Tujuh Musim Setahun pada tahun 2000, hingga kini ia telah menulis dan menerbitkan tak kurang dari 11 novel dan 29 buku cerita anak-anak.

Senada dengan Clara, penulis Sitta Karina Rachmidiharja (29) mengatakan lebih ingin dikenal sebagai ibu rumah tangga daripada penulis atau selebriti apa pun. “Karena saya memang ibu rumah tangga dan tidak pernah ingin jadi selebriti. Lebih enak begini, punya privasi dan kebebasan,” kata Sitta di rumahnya di kawasan Kreo, Tangerang, Banten.

Sitta mulai dikenal sejak menerbitkan novel pertamanya,Lukisan Hujan, pada tahun 2004, dan sejak itu sudah menulis 15 novel. Novel Lukisan Hujan sendiri, yang diterbitkan penerbit Terrant Books itu, laku keras dan cetak ulang hingga lima kali.

Keluar dari pekerjaan
Awalnya, Sitta sempat beberapa kali pindah kerja, mulai dari Citibank, perusahaan konsultan manajemen Accenture, hingga menjadi konsultan di PT Freeport Indonesia. Namun, sejak 2005 ia memilih keluar dari pekerjaan dan menjadi penulis freelance. “Sebagai istri, saya ini sangat old fashioned. Bagi saya, tugas utama istri, ya, mengurus rumah dan anak-anak,” ungkap alumnus jurusan Teknik Industri, Universitas Trisakti, Jakarta, ini.

Keluar dari kerja kantoran untuk menekuni kegiatan menulis juga dilakukan Ratih Kumala (29). Ia sebenarnya sudah ingin menulis novelnya sejak lama, tetapi baru tahun 2002 ia memutuskan keluar dari pekerjaannya dan merampungkan novel pertama berjudul Tabula Rasa (Grasindo, 2004).

Hasilnya tak sia-sia, novel itu terpilih sebagai pemenang ketiga Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2004. “Sejak itu, saya menekuni pekerjaan jadi penulis lepas,” kata alumnus jurusan Sastra Inggris, Universitas Sebelas Maret, Solo, ini.

Menulis sendiri bagi Sitta adalah sebuah kegemaran lama. Sejak usia delapan tahun, Sitta sudah gemar mengarang cerita. Inspirasinya ia dapat dari kakeknya, almarhum Mara Karma, seniman dan penulis seangkatan Mochtar Lubis dan Rosihan Anwar.
Continue reading

Keeping it Short

There are more than a million books published around the world every year, with short story collections accounting for less than 1 percent of them. Still, the last two years have seen the publication of some of the most intriguing anthologies by authors of all backgrounds, making 2008 and 2009 very successful years for short fiction. In the long run, it remains to be seen if the short story will gain the publishing upper hand. Maggie Tiojakin reports.

Short stories are hard to write, that’s true; but they’re even harder to sell, and that’s a fact.

Ratih Kumala is known for her quirky and sometimes disturbing stories that appear regularly in leading national dailies, including Kompas and Suara Merdeka. She’s the author of three novels – Tabula Rasa (2004), Genesis (2005) and Kronik Betawi (2009) – as well as a collection of short stories, Larutan Senja (2006), distinguishing her as one of the most promising young writers today.

The 14 stories included in Larutan Senja (Potion of Twilight) feature some of Ratih’s best writing to date, recounting anecdotes of a world driven by faith (or the lack of it), mysticism, fantasy and (some) horror. Yet the anthology is almost impossible to find in local bookstores and available for purchase only through the Internet. This is despite the fact that Larutan Senja was listed as one of the few notable books in the year of its publication.

“Our editorial department has often expressed a great interest in publishing short story collections,” says Hetih Rusli, a senior editor at publisher Gramedia Pustaka Utama. “But our marketing department has always been more than a little hesitant to put them out there because they never sell as well as we expect.”

Nevertheless, according to Ratih, the lack of interest on readers’ part in purchasing anthologies of short stories may also be attributed to the fact that local short stories are readily accessible in newspapers’ weekly cycle.
Continue reading

Profil

Saya seorang penulis (novel, cerita pendek, skenario, esai). Saya bekerja sebagai script editor di sebuah stasiun televisi. Sila buka laman Tentang Saya untuk berkenalan lebih lanjut.

Berlangganan

Masukkan email Anda untuk berlangganan posting terbaru: