Dalam Tabula Rasa, kita melihat gambaran manusia-manusia modern yang dirangkai dalam bentuk fragmen-fragmen dengan setting waktu dan tempat semau si pengarang. Sudut pandang cerita yang dibuat bergerak cepat dan berganti-ganti membuat pembaca bisa saja ogah membaca karena membingungkan, namun bisa juga membuat pembaca lain terseret pada gelombang naik-turun gejolak emosi tokoh-tokohnya. Akan tetapi Ratih Kumala, sang pengarang, berhasil membimbing pembaca memasuki dunia tokoh-tokohnya dengan menerabas waktu dan tempat.
Category Archives: Tabula Rasa
Awal Bagus Mencapai Kematangan
Novel debut Ratih Kumala, Tabula Rasa, merupakan pemenang ke-2 Sayembara Novel DKJ 2003. Pemenang pertama dan ke-2nya saja aku tak sempat memberi perhatian penuh sama sekali. Aku belum membaca semua pemenang itu.
Tabula Rasa*1): Pasivitas Manusia dalam Menerima Lingkungan
Saya ingat, saya mulai akrab dengan istilah Tabula Rasa ketika saya sedang menempuh pendidikan sarjana saya. Istilah ini seperti sebuah istilah ajaib semacam “Alohamora” dalam mantra “Harry Potter” sebagai pembuka kunci sebuah pintu. Dan saya tahu pintu itu adalah pintu dunia psikologis pembaca. Tabula Rasa adalah juga kata pertama yang didengung-dengungkan dalam diktat disiplin ilmu saya. Simak saja berikut:
Generasi Dunia Maya Tercermin di Novel
Karya-karya novel para pengarang muda sekarang cenderung menyajikan loncatan-loncatan ruang dan waktu yang liar. Novel Tabula Rasa karya pengarang muda Ratih Kumala misalnya, tak segan-segan menyuguhkan perasaan asing kepada pembaca dalam kerangka kosmolitisme, seperti yang lumrah ditemukan dalam novel Ayu Utami dan Dewi Lestari.