Tabula Rasa – Pertanyaan-pertanyaan Tentang Cinta

Oleh: Alex

Dua tokoh utama dalam novel ini melakukan begitu banyak perjalanan untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka tentang cinta. Galih mencintai Krasnaya. Raras mencintai Violet. Namun sejak awal kita tahu cinta mereka adalah cinta yang tak dipersatukan karena dipisahkan maut. Bahkan dalam daftar isi yang terbagi atas empat bagian pun kita sudah tahu. In Memoriam: Krasnaya. In Memoriam: Violet. Ego Distonik. Ego Sintonik.

Dalam Tabula Rasa, kita melihat gambaran manusia-manusia modern yang dirangkai dalam bentuk fragmen-fragmen dengan setting waktu dan tempat semau si pengarang. Sudut pandang cerita yang dibuat bergerak cepat dan berganti-ganti membuat pembaca bisa saja ogah membaca karena membingungkan, namun bisa juga membuat pembaca lain terseret pada gelombang naik-turun gejolak emosi tokoh-tokohnya. Akan tetapi Ratih Kumala, sang pengarang, berhasil membimbing pembaca memasuki dunia tokoh-tokohnya dengan menerabas waktu dan tempat.
Continue reading

Awal Bagus Mencapai Kematangan

Oleh Anwar Holid

Novel debut Ratih Kumala, Tabula Rasa, merupakan pemenang ke-2 Sayembara Novel DKJ 2003. Pemenang pertama dan ke-2nya saja aku tak sempat memberi perhatian penuh sama sekali. Aku belum membaca semua pemenang itu.

Tapi aku baca kritik Acep Iwan Saidi atas Dadaisme, dan menurutku dia sangsi sama sekali (i.e. curiga) kenapa karya itu bisa jadi pemenang pertama. Aku nggak mau menyoroti Tabula Rasa sebagai salah satu pemenang sayembara itu, alih-alih aku akan berusaha sewajarnya menghargai pencapaian itu, dan melakukan kritik yang benar-benar ingin aku sampaikan.
Continue reading

Tabula Rasa*1): Pasivitas Manusia dalam Menerima Lingkungan

Oleh Nisa Ayu

Saat saya membaca sebuah novel percintaan – seperti yang diungkapkan oleh salah satu endorsernya – biasanya menjadi suatu hal yang mengasyikkan, dan memang demikianlah adanya. Kemudian, ketika saya menggambarkan isi novel ini dengan menggabungkan efek label Pemenang Ketiga Sayembara Novel DKJ 2003 di sampul depan, tiga orang endorser kelas TOP – dalam artian top, tiga orang erdorser *2) tersebut adalah penulis dan pembangun menara sastra Indonesia, menurut saya tentunya- di bagian belakang, menjadi sebuah jaminan yang “mahal” bahwa ada sajian yang menarik dari novel ini.

Namun menjadi ironi ketika saya menemukan buku ini di tumpukan buku “sale” dengan harga bandrol sepuluh ribu rupiah, di sebuah pameran buku di wilayah Surabaya, saat Surabaya sedang merayakan bulan-bulan HUT eksistensinya sebagai Kota Niaga. Mengapa novel “bermutu” ini ada di keranjang sana, diantara deretan buku yang tidak “popular” dan tidak mempunyai “daya jual” di mata publik Surabaya? Padahal, menurut saya label-label tersebut adalah suatu jaminan. Ah… kemudian saya agak tersenyum kecut tapi lega, minat baca masyarakat Surabaya tidak se-memprihatinkan yang saya kira. Ketika saya cari-cari, buku ini tinggal satu di keranjang tersebut. Kecewa sebenarnya, karena biasanya saya akan membeli lebih untuk saya bingkiskan kepada orang lain.
Continue reading

Generasi Dunia Maya Tercermin di Novel

Kompas, 21 Juni 2004

Jakarta, Kompas – Karya-karya novel para pengarang muda sekarang cenderung menyajikan loncatan-loncatan ruang dan waktu yang liar. Novel Tabula Rasa karya pengarang muda Ratih Kumala misalnya, tak segan-segan menyuguhkan perasaan asing kepada pembaca dalam kerangka kosmolitisme, seperti yang lumrah ditemukan dalam novel Ayu Utami dan Dewi Lestari. Continue reading