From Film

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

This one is my wedding gift to my husband, Eka Kurniawan who will publish his novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas.

This is a short film, based on his novel. Produced by me, directed and DOP by Reno Marciano, assistant director is Khairul Amri, casted by Cessa Putri, Khairul Amri and Rahmat H. Panca.

Watch the clip, click the link above. And read the novel, coming soon….Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas.

 

3 CEWEK PETUALANG, the movie

imageSally, Lyla, Citra, Jubed, dan Randu adalah lima sahabat semasa SMA yang berencana untuk bertemu kembali. Sally yang akan segera menikah dengan Denis mengajak mereka berlima untuk berlibur ke sebuah pulau di daerah Belitong. Ini adalah kesempatan terakhir bagi Sally untuk berlibur sebagai lajang.

KERASUKAN the movie

kerasukanmovieKerasukan (Possesed) is my first movie. The film is directed by Chiska Doppert, and produced by Mitra Production in cooperation with BIC Pictures. This horror film takes place in an empty village, where four girls trapped there and they found no way out. The only persons who lived there was an old strange lady and a young girl. They are the key to way out of the empty village.

Watch Kerasukan on the nearest Indonesia movie theaters, starts on 25 April 2013.

Membaca Catatan Harian Si Boy

Saya harus curiga tiap kali Joko Anwar di twitter terlalu bersemangat mempromosikan satu film. Jika tidak film itu bikinannya sendiri, atau dia terlibat jadi sesuatu di situ. Ketika dia semangat mempromosikan Catatan Harian Si Boy (CHSB), saya jadi mencari-cari wajah Joko Anwar di film ini, dan betul saja…begitu adegan opening dia jadi bodyguard Si Boy yang perannya lumayan cool mirip-mirip Man in Black *nyengir*. Tak hanya itu, ternyata di credit tittle terlihat namanya menjadi consultant film ini.

Saya berkesempatan menonton film ini bersama beberapa rekan kerja. Film Catatan Si Boy (yang masih dibintangi Onky Alexander) memang bukan film angkatan saya. Saya menonton film ini ketika diputar di televisi, bertahun lalu, bukan di bioskop. Saya mungkin masih terlalu kecil ketika Catatan Si Boy versi Onky Alexander diputar di bioskop, pada era ’80-an. Namun begitu, saya cukup akrab sebab film ini (selain Lupus, Olga Sepatu Roda, Si Kabayan, dan Si Doi) masuk begitu saja dalam ingatan saya dan berdiam cukup lama. Terutama, tentu saja karena Onky Alexander ganteng, hahahaha. Saya pun sempat mengikuti gosip tentang Onky Alexander jaman dulu, dengan siapa dia pacaran, dan dengan siapa akhirnya dia menikah.

Ada yang berbeda dengan Si Boy yang sekarang. Dari segi film, perhatikan judulnya, bukan lagi Catatan Si Boy, melainkan Catatan Harian Si Boy. Meskipun kata ‘harian’ di posternya seperti diselipkan, hingga yang besar-besar terbaca adalah Catatan Si Boy. Kisah ini tetang Boy yang sudah sukses, susah ditemui dan berubah. Pacar Boy yang bernama Nuke (kalau tidak salah, dulu dimainkan oleh Paramitha Rusady) terbaring sakit. Ia memegang buku harian milik Boy. Anak perempuan Nuke (diperankan Carissa Putri) mencari-cari Boy agar bisa bertemu dengan ibunya yang sakit. Dia pun dibantu Satriyo (Ario Bayu) mencari Boy. Kisah cinta segitiga terselip di antara mereka, sebab ternyata putri Nuke ini sudah punya pacar yang hobi judi dan mengandalkan harta orangtua.

Read more

Doel Hamid Asal Betawi


Si Doel Anak Sekolahan, sinetron yang cukup populer di tahun ’90-an

Tak banyak orang tahu bahwa salah satu tokoh paling populer asal Betawi ini ternyata bukan diciptakan oleh sastrawan Jakarta, dialah Doel Hamid, atau yang lebih kita kenal dengan panggilan Si Doel. Pada tahun 1951, Aman Datuk Madjoindo, sastrawan asal Sumatera Barat menciptakan tokoh Si Doel dalam novel anak berjudul Si Doel Anak Betawi. Ketika nama “Betawi” diumumkan menjadi “Djakarta”, judul buku ini diubah menjadi Si Doel, lalu diubah lagi menjadi Si Doel Anak Djakarta. Mengutip pendahuluan Aman Datuk Madjoindo di buku cetakan ke lima, “Karena nama ‘Betawi’ itu sudah hilang sama sekali dari perasaan, hanya nama ‘Djakarta’ djua jang terlintas dihati, maka saja tambahkan kembali nama itu, djadi Si Doel anak Djakarta.”

Saya mengenal Si Doel pertama kali dari film karya Sjuman Djaya, Si Doel Anak Modern yang dibintangi oleh Benyamin, Christine Hakim dan Achmad Albar. Si Doel Anak Modern adalah sekuel dari Si Doel Anak Betawi yang dibintangi oleh Rano Karno kecil, dan Benyamin sebagai babenya. Tapi entah mengapa, yang terus teringat jelas di benak saya adalah Si Doel Anak Modern. Kisahnya tentang Si Doel yang sudah dewasa, dan lebih fokus pada kehidupan cintanya yang ternyata bertepuk sebelah tangan.

Selain film karya Sjuman Djaya, saya mengenal Si Doel lewat sinetron Si Doel Anak Sekolahan pada tahun ’90-an yang ketika itu lumayan populer. Rano Karno kembali membintangi menjadi Si Doel yang kini sudah lulus kuliah dan susah cari kerja. Benyamin tetap jadi babe Si Doel, yang kerjanya menjadi supir oplet. Beberapa karakter tambahan di versi sinetronnya membuat serial Si Doel jadi lebih hidup; Mandra, Mas Karyo (diperankan Basuki, alm.), Zaenab (diperankan Maudy Koesnadi), Sarah (diperankan Cornelia Agatha), dan beberapa tokoh lain.
Read more

This is it. The day the music died: Michael Jackson (1958-2009)

this_is_it_movie_poster_michael_jackson

Aneh sekali, ketika saya melihat berita Michael Jackson meninggal dunia, yang saya ingat justru lagu “American Pie”-nya Don MacLean. Itu lho, yang dinyanyikan ulang oleh Madonna (durasi +/- 4 menit). Hanya saja biduanita itu tidak menyanyikan versi panjang. Sejujurnya, saya lebih suka versi klasik Don MacLean (durasi +/- 8 menit). Satu kalimat yang terus terngiang di benak saya adalah“the day the music died” (hari ketika musik mati). Ya, bagi saya, Michael Jackson adalah musik, dan musik adalah Michael Jackson. Seperti halnya lirik dalam “American Pie”: Long, long time ago, I can still remember, how that music used to make me smile (bertahun-tahun yang lalu, aku masih ingat, bagaimana musik itu membuatku tersenyum). Dan dua baris lirik yang berbunyi pertanyaan berikut: Do you believe in rock ‘n roll? /And can music save your mortal soul? (Apakah kau meyakini rock and roll?/Dan bahwa musik bisa menyelamatkan jiwamu?) Maka jawaban saya adalah, “yes I do believe it” (ya, aku percaya).

Bagi saya, berbicara tentang Michael Jackson berarti berbicara tentang masa ABG saya. Ketika baru saja menjadi siswi SMP pindahan, saya tertabrak bahasa daerah yang tak saya kuasai, kehidupan saya menjadi terisolasi dari teman-teman sekelas yang kesemuanya berbahasa Jawa. Saya menghabiskan masa ABG dengan membaca majalah Kawanku yang ketika itu formatnya masih berupa majalah musik (ya, saya tidak suka membaca majalah Gadis seperti cewek ABG kebanyakan). Majalah itu sempat menyajikan artikel bersambung biografi para pemusik dunia. Saya ingat, biografi New Kids on The Block pernah menjadi salah satunya. Tapi, saya sejak dahulu memang bukan penggemar boyband. Ketika Kawanku memuat artikel bersambung biografi Michael Jackson, saya mulai mengklipingnya. Beberapa edisi terlewat dikliping sebab majalah itu dipinjam seorang teman sekolah yang tak pernah mengembalikannya (dan saya sangat menyesal, sebab lupa siapa yang meminjam majalah itu).

Ketika saya masuk SMA (1995) dan mulai lancar berbahasa Jawa, saya terang-terangan bilang ke teman-teman bahwa saya menyukai musik-musik Michael Jackson. Sayangnya, teman-teman saya tidak terlalu menyukai dia. Mereka lebih menganggap MJ seorang freak karena operasi plastiknya yang berlebihan (juga karena tuduhan pelecehan seksualnya). Apa mau dikata, masa ABG saya memang tidak sejalan dengan masa puncak keemasan MJ. MJ praktis hampir seusia almarhum papah saya, jadi sebenarnya dia memang angkatan klasik (saya lebih suka menyebutnya demikian daripada kata ‘tua’). MJ sendiri menjadi benar-benar berada di puncak kariernya sebagai seorang extravaganstar pada periode 1978-1989. Sedang, pemusik yang sedang digandrungi ketika saya ABG adalah Bon Jovi, dan beberapa boyband semacam Backstreet Boys, Take That dan Caught In The Act (yang terakhir ini sudah benar-benar ditelan bumi). Saya ingat, beberapa teman bahkan mengejek karena saya beda sendiri: suka Michael Jackson (ah, saya bahkan masih ingat siapa-siapa saja yang mengejek saya waktu itu, hehehe). Tapi, bodo amat. Saya memang menyukai karya-karya MJ, so what? Saya bahkan banyak belajar Bahasa Inggris dari menerjemahkan lirik lagu-lagu MJ, sebab saya penasaran, dia itu sebenarnya nyanyi tentang apa sih? Jadi bisa dibilang, saya jatuh cinta pada musiknya dahulu, lalu liriknya, lalu kepribadian MJ yang dikabarkan sangat penyayang.

Read more