Blog.
Saya seorang penulis. Saya menulis beberapa buku, ulasan, cerita pendek, dan terutama blog.
Film @ 24 July 2008, “12 Comments”

Dari sebulan yang lalu teman sama, Metta, wanti-wanti untuk menonton JUNO. Sebetulnya waktu film ini tayang di bioskop, saya sudah niat mau nonton, gara-garanya orang Hollywood muji-muji film ini. Termasuk waktu Ellen Page (pemeran Juno) tampil di acara Ellen Degenerest, keliatannya Ellen Page cool banget dan aktinya dipuji habis-habisan sama Ellen. Akhirnya, setelah melewati dua malam mengutak atik VCD Juno yang gak mau muter di laptop, saya berhasil juga menontonnya dengan meminjam laptop suami.

shakespearein-love.jpg
Joseph Fiennes, pemeran William Shakespeare dalam film Shakespeare in Love
Saya adalah orang yang sangat percaya, bahwa di balik sebuah cerita fiksi, ada cerita lain, yaitu penulisnya. Stephen King dalam bukunya berkata, bahwa (kalau tidak keliru mengutip), dibutuhkan tiga hal jika seseorang ingin jadi penulis: 1) pena, 2) kertas, 3) broken home!

Hah?! Broken home? Ya, broken home!

Film, Review @ 21 April 2008, “2 Comments”

forbiddenkingdom.jpg

Hari ini, saya girang sekali (sampai-sampai memutuskan untuk menulis di blog). Pasalnya, (akhirnya) saya nonton juga The Forbidden Kingdom. Malam minggu lalu, bersama dua orang teman dekat, saya dan suami pindah bioskom tiga kali hanya karena ingin nonton ini. Semua bioskop yang kami datangi full! Kami akhirnya pulang membawa penasaran. Hari Minggu, teman kami (yang malam sebelumnya keliling bersama ke tiga bioskop), SMS dan manas-manasin betapa kerennya The Forbidden Kingdom. Jadilah…. Maksa, hari ini bangun tidur kuterus mandi, tak lupa menggosok gigi, tak membersihkan tempat tidur, tapi langsung ke bioskop Jakarta Teater, antre beli tiket nonton The Forbidden Kingdom. Dua orang aktor yang saya kagumi sejak dulu main di film ini; Jackie Chan dan Jet Li. Satu hal yang lebih membuat saya lebih semangat lagi adalah, tema besar film ini adalah (eng ing eng…) Sun Go Kong, si Raja Kera! Hore!!!
read more »

Film, Review @ 30 March 2008, “1 Comment”

Saya tidak akan pernah lupa nasihat ibu saya, “nyalakan air jika bak kamar mandi kosong. Isikan sampai sedikit meluber, tapi jangan biarkan air di kamar mandi terbuang banyak karena kran tak dimatikan.” Bagi ibu saya, itu bukan sekedar nasehat berhemat air, itu juga falsafah hidupnya. Menyalakan air kran kamar mandi adalah metafora rejeki. Jika tampungan kosong maka rejeki harus diisi sampai penuh dan sedikit meluber (luberan air yang sedikit itu melambangkan ‘pembersihan’). Tapi tidak boleh membuang rejeki dengan sia-sia (kran tak dimatikan). Sampai sekarang saya selalu mematikan kran air, sekaligus risih dengan kran yang tak dimatikan baik itu di rumah sendiri atau di tempat-tempat umum.

Film, Review @ 18 March 2008, “15 Comments”

Jika banyak orang bilang bahwa tokoh Fahri dalam novel Ayat-Ayat Cinta sangat sempurna, maka saya berkata bahwa novel ini berusaha berkisah sebuah kehidupan Islami yang sempurna dari seseorang muslim (bukan ‘muslimah’, melainkan ‘muslim’). Menonton film Ayat-Ayat Cinta seraya mengingatkan saya pada Aa’ Gym. Ingat sebelum Aa’ Gym menikah untuk yang kedua kalinya? Semua ibu-ibu serasa memuja dia sebagai ‘laki-laki yang sempurna’. Setelah ia berpoligami, tiba-tiba pamornya turun drastis. Sekeras apa pun Aa’ Gym mencoba memperbaiki ‘kesalahannya’ ini, cacat tetaplah cacat. Di mata ummatnya ia bukan lagi sempurna, meskipun di program tv Kick Andy dibela-belain pake acara nangis segala.

Saya tidak tahu, apa sebenarnya yang ada di dalam pikiran muslim (sekali lagi, ‘muslim’… bukan ‘muslimah’) kita. Selama ini kita terlalu sibuk berkoar-koar mencari tahu: apakah surat An-Nisa itu sebetulnya memperbolehkan poligami atau tidak. Tapi, bagaimana dengan apa yang ada di isi kepala kaum muslim itu sendiri? Apakah mereka ingin poligami? Atau tidak ingin, meski istrinya (seperti halnya Aisya dalam novel AAC) sudah menyuruhnya menikah lagi.