<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ratih Kumala's Little Blog &#187; Film</title>
	<atom:link href="http://ratihkumala.com/blog/category/film/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ratihkumala.com</link>
	<description>The Only Constant is Change</description>
	<lastBuildDate>Sun, 23 Oct 2011 13:24:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Membaca Catatan Harian Si Boy</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/membaca-catatan-harian-si-boy-764.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/membaca-catatan-harian-si-boy-764.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jul 2011 16:48:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Ario Bayu]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Si Boy]]></category>
		<category><![CDATA[Joko Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[Onky Alexander]]></category>
		<category><![CDATA[Putrama Tuta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=764</guid>
		<description><![CDATA[Saya harus curiga tiap kali Joko Anwar di twitter terlalu bersemangat mempromosikan satu film. Jika tidak film itu bikinannya sendiri, atau dia terlibat jadi sesuatu di situ. Ketika dia semangat mempromosikan Catatan Harian Si Boy (CHSB), saya jadi mencari-cari wajah Joko Anwar di film ini, dan betul saja&#8230;begitu adegan opening dia jadi bodyguard Si Boy [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/CatatnSiBoy.jpg" rel="lightbox[764]"><img class="alignleft size-full wp-image-768" title="CatatnSiBoy" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/CatatnSiBoy.jpg" alt="" width="178" height="284" /></a></p>
<p>Saya harus curiga tiap kali Joko Anwar di twitter terlalu bersemangat mempromosikan satu film. Jika tidak film itu bikinannya sendiri, atau dia terlibat jadi sesuatu di situ. Ketika dia semangat mempromosikan <em>Catatan Harian Si Boy</em> (CHSB), saya jadi mencari-cari wajah Joko Anwar di film ini, dan betul saja&#8230;begitu adegan opening dia jadi bodyguard Si Boy yang perannya lumayan cool mirip-mirip <em>Man in Black</em> *nyengir*. Tak hanya itu, ternyata di credit tittle terlihat namanya menjadi consultant film ini.</p>
<p>Saya berkesempatan menonton film ini bersama beberapa rekan kerja. <em>Film Catatan Si Boy</em> (yang masih dibintangi Onky Alexander) memang bukan film angkatan saya. Saya menonton film ini ketika diputar di televisi, bertahun lalu, bukan di bioskop. Saya mungkin masih terlalu kecil ketika <em>Catatan Si Boy</em> versi Onky Alexander diputar di bioskop, pada era &#8217;80-an. Namun begitu, saya cukup akrab sebab film ini (selain <em>Lupus, Olga Sepatu Roda, Si Kabayan</em>, dan <em>Si Doi</em>) masuk begitu saja dalam ingatan saya dan berdiam cukup lama. Terutama, tentu saja karena Onky Alexander ganteng, hahahaha. Saya pun sempat mengikuti gosip tentang Onky Alexander jaman dulu, dengan siapa dia pacaran, dan dengan siapa akhirnya dia menikah.</p>
<p>Ada yang berbeda dengan Si Boy yang sekarang. Dari segi film, perhatikan judulnya, bukan lagi <em>Catatan Si Boy</em>, melainkan <em>Catatan Harian Si Boy</em>. Meskipun kata &#8216;harian&#8217; di posternya seperti diselipkan, hingga yang besar-besar terbaca adalah <em>Catatan Si Boy.</em> Kisah ini tetang Boy yang sudah sukses, susah ditemui dan berubah. Pacar Boy yang bernama Nuke (kalau tidak salah, dulu dimainkan oleh Paramitha Rusady) terbaring sakit. Ia memegang buku harian milik Boy. Anak perempuan Nuke (diperankan Carissa Putri) mencari-cari Boy agar bisa bertemu dengan ibunya yang sakit. Dia pun dibantu Satriyo (Ario Bayu) mencari Boy. Kisah cinta segitiga terselip di antara mereka, sebab ternyata putri Nuke ini sudah punya pacar yang hobi judi dan mengandalkan harta orangtua.</p>
<p><span id="more-764"></span></p>
<p>Awalnya saya menebak-nebak, apakah film ini akan bercerita tentang Si Boy dengan versi baru? Tetapi ternyata saya salah, film ini tentang Satriyo yang membaca catatan milik Si Boy yang kita kenal dulu. Karakter Boy jaman dulu, diwakili oleh Satriyo yang sekarang. Cakep, hobi balap, rajin salat, anak orang kaya, baik-baik tapi rebelious, dan rada-rada narsis. Sedangkan karakter Emon yang kebanci-bancian dan Kendi yang serampangan yang dulu diperankan oleh Didi Petet dan Dede Yusuf, diwakili oleh tokoh Heri dan Andi. Turunan karakter-karakter ini cukup cerdas diambil oleh penulisnya Priesnanda Dwisatria, dan tentu saja, sutradaranya Putrama Tuta.</p>
<p>Film CHSB ini cukup menghibur terutama dengan dialog yang sangat kekinian, blak-blakan dan lucu. Saya sempat banyak tertawa mendengar dialog-dialognya. Favorit saya, ketika tokoh Andi menasehati Satriyo dengan kalimat, &#8220;Lu ninggalin taik di sini, ninggalin taik di sana, lama-lama dunia ini penuh ama taik lu.&#8221; Sederhana, kocak, tapi ternyata penuh pesan moral. Meskipun sebenarnya di beberapa adegan dragging, seperti misalnya adegan ngobrol di kafe, tetapi kebosanan penonton bisa diselamatkan karena dialog yang hidup. Lebih dari itu, sinematografi yang oke dan editingnya membuat film ini berkesan sangat dinamis.</p>
<p>Yang saya agak kecewa adalah, mengenai pencarian Si Boy ini terkesan tempelan saja, agar sekedar bisa membawa nama besar <em>Catatan Si Boy</em>, yang memang sudah sangat populer dan sukses dari sononya. Tapi inti ceritanya mengenai kisah cinta dan persahabatan Satriyo dan teman-temannya. Padahal, jika ingin berdiri sendiri dengan -misalnya- dikasih judul <em>Blog Si Satriyo</em> (secara jaman sekarang catatan harian/jurnal sudah enggak ngetrend lagi *maksa sih*), kisah Satriyo dkk ini sudah cukup kuat dan menarik. Tapi tentu saja, dari segi penjualan mungkin akan tersendat, sebab Si Satriyo tidak memiliki nama besar seperti Si Boy. Anyway, itu sah-sah saja, apalagi jika memang tujuan film ini adalah komersil, dan bukan festival.</p>
<p>Seandainya saja, soal pencarian Si Boy porsinya ditambah (tak perlulah harus sampai seperti pencarian di reality show Termehek-mehek), tapi ditambah barang tiga atau empat scene lagi saja, pasti akan jadi perfect. Cara Satriyo akhirnya ketemu Si Boy pun terkesan dipaksa. Dia ke kantor Si Boy, meskipun sudah diusir satpam, Si Boy yang kebetulan sedang nongol langsung dikejar-kejar hingga ke helipad. Dan&#8230;viola! Ketemulah! Satriyo pun membacakan isi catatan harian itu ke Boy.</p>
<p>Adegan closing, adalah adegan penting yang ditunggu-tunggu: pertemuan Boy (Onky ALexander) dan Nuke. Tapi, yang mengecewakan adalah wajah keduanya tak kelihatan. Hhhmmm&#8230;I wonder why. Mungkinkah pakai peran pengganti? Wajah Nuke, yang dulu diperankan oleh Paramitha Rusady pun tak terlihat dari awal hingga akhir. Padahal ia adalah karakter kunci, meskipun cuma berakting di tempat tidur. Saya merasa, karena keterbatasan pemain ada adegan dengan dialog-dialog penting yang terpaksa dihilangkan. Yah, untungnya cerita masih bisa berjalan.</p>
<p>Apapun adanya Boy sekarang, film ini mampu menghibur saya sebagai film komersil. Dan untuk ini, saya bersyukur sebab jadi bisa ketawa-ketiwi. Cuma satu yang kuraaaaang banget: ke mana lagu &#8220;Terserah Boy&#8221;  karya Harry Sabar? Padahal saya pengin sekali dengar itu sebagai OST film ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/membaca-catatan-harian-si-boy-764.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doel Hamid Asal Betawi</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/doel-hamid-asal-betawi-540.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/doel-hamid-asal-betawi-540.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 05:53:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[Tv Series]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=540</guid>
		<description><![CDATA[Si Doel Anak Sekolahan, sinetron yang cukup populer di tahun &#8217;90-an Tak banyak orang tahu bahwa salah satu tokoh paling populer asal Betawi ini ternyata bukan diciptakan oleh sastrawan Jakarta, dialah Doel Hamid, atau yang lebih kita kenal dengan panggilan Si Doel. Pada tahun 1951, Aman Datuk Madjoindo, sastrawan asal Sumatera Barat menciptakan tokoh Si [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/si-doel.jpg" rel="lightbox[540]"><img class="aligncenter size-full wp-image-539" title="si doel" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/si-doel.jpg" alt="" width="461" height="380" /></a><br />
<small>Si Doel Anak Sekolahan, sinetron yang cukup populer di tahun &#8217;90-an</small></p>
<p>Tak banyak orang tahu bahwa salah satu tokoh paling populer asal Betawi ini ternyata bukan diciptakan oleh sastrawan Jakarta, dialah Doel Hamid, atau yang lebih kita kenal dengan panggilan Si Doel. Pada tahun 1951, Aman Datuk Madjoindo, sastrawan asal Sumatera Barat menciptakan tokoh Si Doel dalam novel anak berjudul <em>Si Doel Anak Betawi</em>. Ketika nama “Betawi” diumumkan menjadi “Djakarta”, judul buku ini diubah menjadi <em>Si Doel</em>, lalu diubah lagi menjadi <em>Si Doel Anak Djakarta.</em> Mengutip pendahuluan Aman Datuk Madjoindo di buku cetakan ke lima, “Karena nama ‘Betawi’ itu sudah hilang sama sekali dari perasaan, hanya nama ‘Djakarta’ djua jang terlintas dihati, maka saja tambahkan kembali nama itu, djadi <em>Si Doel anak Djakarta</em>.”</p>
<p>Saya mengenal Si Doel pertama kali dari film karya Sjuman Djaya, <em>Si Doel Anak Modern</em> yang dibintangi oleh Benyamin, Christine Hakim dan Achmad Albar. <em>Si Doel Anak Modern </em>adalah sekuel dari <em>Si Doel Anak Betawi </em>yang dibintangi oleh Rano Karno kecil, dan Benyamin sebagai babenya. Tapi entah mengapa, yang terus teringat jelas di benak saya adalah <em>Si Doel Anak Modern</em>. Kisahnya tentang Si Doel yang sudah dewasa, dan lebih fokus pada kehidupan cintanya yang ternyata bertepuk sebelah tangan.</p>
<p>Selain film karya Sjuman Djaya, saya mengenal Si Doel lewat sinetron <em>Si Doel Anak Sekolahan </em>pada tahun ’90-an yang ketika itu lumayan populer. Rano Karno kembali membintangi menjadi Si Doel yang kini sudah lulus kuliah dan susah cari kerja. Benyamin tetap jadi babe Si Doel, yang kerjanya menjadi supir oplet. Beberapa karakter tambahan di versi sinetronnya membuat serial Si Doel jadi lebih hidup; Mandra, Mas Karyo (diperankan Basuki, alm.), Zaenab (diperankan Maudy Koesnadi), Sarah (diperankan Cornelia Agatha), dan beberapa tokoh lain.<br />
<span id="more-540"></span><br />
Ketika kecil, saya tidak menemukan novel <em>Si Doel Anak Betawi </em>di toko-toko buku. Saya lebih banyak membaca buku karya Enyd Bliton. Jadi, sejujurnya, saya baru mengakrabi novel <em>Si Doel Anak Betawi</em> setelah saya mengenal versi layarnya. Dalam bukunya, dikisahkan karakter Si Doel sebagai seorang anak yang ceria, pemberani, dan penurut pada orangtuanya. Dia tinggal di daerah Pisangan Baru bersama babe dan nyaknya. Setiap sore dia pergi mengaji bersama teman-temannya yang diajar oleh Uak Salim, seorang guru ngaji yang keras, uang juga engkongnya sendiri.</p>
<div id="attachment_541" class="wp-caption alignleft" style="width: 178px"><img class="size-full wp-image-541" title="aman datuk" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/aman-datuk.jpg" alt="Aman Datuk Madjoindo, penulis novel Si Doel Anak Betawi" width="168" height="224" /><p class="wp-caption-text">Aman Datuk Madjoindo, penulis novel Si Doel Anak Betawi</p></div>
<p>Novel anak Si Doel Anak Betawi dibagi menjadi sembilan bab. Pada lima bab awal, pembaca akan mengira buku ini berisi cerita yang berdiri sendiri-sendiri tentang petualangan  keseharian Si Doel. Ada Si Doel yang berkelahi dengan temannya, ada pula Si Doel yang main pura-pura jadi Haji. Di lain cerita, Si Doel yang berusaha menggembalakan kambing. Ketika tiba pada bab enam, “Berjual Nasi Ulam” maka pembaca baru tahu bahwa buku ini sebenarnya bersambung dari bab ke bab, tidak berdiri sendiri-sendiri. Pada bab enam, babe Si Doel yang seorang sopir otobus mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Sedikit terlambat penempatan masalah babe meninggal ini sebenarnya, sebab itulah konflik terbesar novel ini. Setelah itu, Si Doel dan nyaknya hidup penuh penderitaan, dan Si Doel harus membantu ibunya bekerja. Tapi, biarpun demikian, kesan Si Doel sebagai anak Betawi yang pemberani dan ceria terus berlanjut. Hanya karena babe meninggal, tidak lantas kisah Si Doel jadi lebih berat. Sebagai novel anak, buku ini (bab enam-sembilan) sarat  dengan permasalahan yang sebenarnya berat dan dihadapi orang dewasa, tetapi dilihat dari sudut pandang Si Doel, serta bagaimana Si Doel menghadapi masalah itu. Saya sendiri, berkesimpulan bahwa pesan moral yang ingin disampaikan buku ini adalah, seorang anak haruslah menurut pada nasehat orangtua, terutama ibu.</p>
<p>Di buku, kisah Si Doel ditutup dengan senangnya ia bisa bersekolah. Sedang dalam sinetron, dikisahkan Si Doel yang baru selesai kuliah dan akhirnya menjadi orang sukses meski harus terseok-seok terlebih dahulu. Si Doel dalam buku, yang sejak kecil pun tak malu kerja keliling kampung berjualan nasi ulam, dalam sinetron disambung dengan Si Doel dewasa yang tak malu kerja menjadi sopir oplet ketika pekerjaan yang layak untuk seorang Insinyur sangat sulit didapatkan.</p>
<p>Kisah babe Si Doel yang meninggal dunia dalam buku, juga diangkat dalam filmnya (yang dibintangi Rano Karno kecil, dan Benyamin sebagai babenya). Ironisnya, ketika sinetron <em>Si Doel Anak Sekolahan</em> muncul, Benyamin (yang juga berperan sebagai karakter babe Si Doel) benar-benar meninggal dunia. Jadi, di serial sinetron pun naskahnya menyesuaikan pemainnya yang sudah tiada. Kisah nyak Si Doel yang tak mau keluar kamar berhari-hari, tak doyan makan, karena ditinggal mati suaminya pun diangkat persis di sinetron.</p>
<p>Untuk urusan asmara, kisah cinta yang mewarnai kehidupan Si Doel dewasa di versi layar sama sekali tidak terlihat di Si Doel kecil dalam versi buku. Hanya, ada satu karakter gadis cilik bernama Asnah, tetangga Si Doel yang selalu bersikap baik pada Si Doel, meski tak menunjukan tanda-tanda ‘naksir’. Saya pikir, hal semacam ini sengaja dibatasi oleh penulisnya, mengingat buku ini adalah novel untuk anak-anak. Si Doel dewasa dalam versi layar, punya kisah cinta yang unik. Bagi Sjuman Djaya, Si Doel  -sebagai anak Betawi yang konon dibilang ketinggalan jaman-, ternyata punya kisah cinta dengan gadis-gadis moderen, yang bukan aseli berasal dari Betawi. Dalam <em>Si Doel Anak Modern</em>, Si Doel jatuh cinta pada Christine Hakim, gadis moderen yang ternyata kisah cintanya putus nyambung dengan Achmad Albar. Achmad Albar pada jaman itu cukup ganteng dan populer, terutama karena rambutnya yang unik, keriting mekar mirip rambut orang kulit hitam yang ngetrend tahun ’70-an. Si Doel, demi mengejar cintanya menggunakan wig yang mirip rambut Achmad Albar. Kisah cinta Si Doel bertepuk sebelah tangan dalam film ini, Christine Hakim tak mau dinikahi Si Doel, padahal dia sudah datang  bersama rombongan dengan perlengkapan rebana untuk melamar Christine Hakim. Kisah cinta Si Doel dalam sinetron serial Si Doel Anak Sekolahan beda lagi. Cinta Si Doel terbagi dua, antara Zaenab (gadis kampung aseli Betawi yang konon sudah dijodohkan dengan Doel sejak kecil), dan seorang gadis bernama Sarah (gadis moderen yang ‘makan sekolahan’, yang awalnya mendekati Si Doel dan keluarganya untuk membuat riset skripsi kuliahnya, tapi kemudian jatuh cinta).</p>
<div id="attachment_542" class="wp-caption alignleft" style="width: 190px"><img class="size-full wp-image-542" title="Sjuman_Djaya" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/Sjuman_Djaya.jpg" alt="Sjuman Djaya, sutradara Si Doel Anak Betawi dan Si Doel Anak Modern" width="180" height="216" /><p class="wp-caption-text">Sjuman Djaya, sutradara Si Doel Anak Betawi dan Si Doel Anak Modern</p></div>
<p>Versi layar (baik film maupun sinetronnya) sudah tentu mengadaptasi karakter Si Doel dari buku. Film <em>Si Doel Anak Betawi</em> karya Sjuman Djaya lebih mengadaptasi versi aseli bukunya. Sjuman Djaya pun ikut sebagai main sebagai pemeran Asmad, bapak tiri Si Doel kecil. Sedang sekuelnya, jelas sekali cerita sudah jauh dari bukunya, hanya tokoh Si Doel saja yang dipertahankan. Seperti juga sinetron Si Doel Anak Sekolahan, yang kisahnya sudah lepas dari versi buku.  Aman Datuk Madjoindo setahu saya tidak pernah menulis kisah Si Doel kelanjutannya (tolong beritahu saya kalau memang dia membuat buku Si Doel lainnya). Si Doel tidak seperti tokoh Nyai Dasima, yang kisah legendanya hanya satu. Ia bisa berkembang sesuai pembuatnya. Tokoh Si Doel sepertinya sudah menjadi tokoh milik publik (khusunya Jakarta). Karakter Si Doel adalah representasi karakter putra Betawi yang memang begitulah adanya. Posisi Si Doel saya kira seperti Si Kabayan dari Sunda, Nasrudin dari Timur Tengah, dan Pak Belalang dari Melayu/Sumatera. Kisah Kabayan bisa berkembang ke mana-mana, lihat saja filnya: <em>Si Kabayan Saba Kota, Si Kabayan Saba Metropolitan. </em> Nasrudin menghadirkan kisah-kisah konyolnya yang bernapaskan Islami. Buku tentang Nasrudin ditulis oleh penulis-penulis yang berbeda, yang ingin menyampaikan kelakar dengan meminjam Nasrudin sebagai karakter utamanya. Sedang Pak Belalang menceritakan nujum palsu nan kocak yang dilakukan oleh Pak Belalang dan anaknya, Si Belalang. Kesamaannya adalah, baik Si Doel, Kabayan, Narsudin maupun Pak Belalang menawarkan kemungkinan besar untuk kisahnya berkembang. Persyaratan lain yang sepertinya tidak tertulis tetapi semua orang tahu adalah jika seorang kreator berniat membuat cerita dari empat tokoh di atas, maka kisahnya harus punya pesan moral dan disampaikan dengan kocak sehingga bisa diterima oleh masyarakan umum.</p>
<p>Ratih Kumala, penulis.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/doel-hamid-asal-betawi-540.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>This is it. The day the music died: Michael Jackson (1958-2009)</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/this-is-it-the-day-the-music-died-michael-jackson-1958-2009-533.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/this-is-it-the-day-the-music-died-michael-jackson-1958-2009-533.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 07:33:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=533</guid>
		<description><![CDATA[Aneh sekali, ketika saya melihat berita Michael Jackson meninggal dunia, yang saya ingat justru lagu “American Pie”-nya Don MacLean. Itu lho, yang dinyanyikan ulang oleh Madonna (durasi +/- 4 menit). Hanya saja biduanita itu tidak menyanyikan versi panjang. Sejujurnya, saya lebih suka versi klasik Don MacLean (durasi +/- 8 menit). Satu kalimat yang terus terngiang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-534" title="this_is_it_movie_poster_michael_jackson" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/this_is_it_movie_poster_michael_jackson.jpg" alt="this_is_it_movie_poster_michael_jackson" width="445" height="659" /></p>
<p>Aneh sekali, ketika saya melihat berita Michael Jackson meninggal dunia, yang saya ingat justru lagu “American Pie”-nya Don MacLean. Itu lho, yang dinyanyikan ulang oleh Madonna (durasi +/- 4 menit). Hanya saja biduanita itu tidak menyanyikan versi panjang. Sejujurnya, saya lebih suka versi klasik Don MacLean (durasi +/- 8 menit). Satu kalimat yang terus terngiang di benak saya adalah“the day the music died” (hari ketika musik mati). Ya, bagi saya, Michael Jackson adalah musik, dan musik adalah Michael Jackson. Seperti halnya lirik dalam “American Pie”: Long, long time ago, I can still remember, how that music used to make me smile (bertahun-tahun yang lalu, aku masih ingat, bagaimana musik itu membuatku tersenyum). Dan dua baris lirik yang berbunyi pertanyaan berikut: Do you believe in rock &#8216;n roll? /And can music save your mortal soul? (Apakah kau meyakini rock and roll?/Dan bahwa musik bisa menyelamatkan jiwamu?) Maka jawaban saya adalah, “yes I do believe it” (ya, aku percaya).</p>
<p>Bagi saya, berbicara tentang Michael Jackson berarti berbicara tentang masa ABG saya. Ketika baru saja menjadi siswi SMP pindahan, saya tertabrak bahasa daerah yang tak saya kuasai, kehidupan saya menjadi terisolasi dari teman-teman sekelas yang kesemuanya berbahasa Jawa. Saya menghabiskan masa ABG dengan membaca majalah Kawanku yang ketika itu formatnya masih berupa majalah musik (ya, saya tidak suka membaca majalah Gadis seperti cewek ABG kebanyakan). Majalah itu sempat menyajikan artikel bersambung biografi para pemusik dunia. Saya ingat, biografi New Kids on The Block pernah menjadi salah satunya. Tapi, saya sejak dahulu memang bukan penggemar boyband. Ketika Kawanku memuat artikel bersambung biografi Michael Jackson, saya mulai mengklipingnya. Beberapa edisi terlewat dikliping sebab majalah itu dipinjam seorang teman sekolah yang tak pernah mengembalikannya (dan saya sangat menyesal, sebab lupa siapa yang meminjam majalah itu).</p>
<p>Ketika saya masuk SMA (1995) dan mulai lancar berbahasa Jawa, saya terang-terangan bilang ke teman-teman bahwa saya menyukai musik-musik Michael Jackson. Sayangnya, teman-teman saya tidak terlalu menyukai dia. Mereka lebih menganggap MJ seorang freak karena operasi plastiknya yang berlebihan (juga karena tuduhan pelecehan seksualnya). Apa mau dikata, masa ABG saya memang tidak sejalan dengan masa puncak keemasan MJ. MJ praktis hampir seusia almarhum papah saya, jadi sebenarnya dia memang angkatan klasik (saya lebih suka menyebutnya demikian daripada kata ‘tua’). MJ sendiri menjadi benar-benar berada di puncak kariernya sebagai seorang extravaganstar pada periode 1978-1989. Sedang, pemusik yang sedang digandrungi ketika saya ABG adalah Bon Jovi, dan beberapa boyband semacam Backstreet Boys, Take That dan Caught In The Act (yang terakhir ini sudah benar-benar ditelan bumi). Saya ingat, beberapa teman bahkan mengejek karena saya beda sendiri: suka Michael Jackson (ah, saya bahkan masih ingat siapa-siapa saja yang mengejek saya waktu itu, hehehe). Tapi, bodo amat. Saya memang menyukai karya-karya MJ, so what? Saya bahkan banyak belajar Bahasa Inggris dari menerjemahkan lirik lagu-lagu MJ, sebab saya penasaran, dia itu sebenarnya nyanyi tentang apa sih? Jadi bisa dibilang, saya jatuh cinta pada musiknya dahulu, lalu liriknya, lalu kepribadian MJ yang dikabarkan sangat penyayang.</p>
<p><span id="more-533"></span></p>
<p>Kematian MJ yang mengejutkan, dan segala dugaan-dugaan tentang bagaimana dia meninggal memang menyisakan tanda tanya besar. Kini, dokter pribadi MJ resmi menjadi tersangka utama kematian MJ. Banyak orang yang tidak percaya MJ baik-baik saja beberapa hari sebelum kematiannya. Terutama karena ia lebih sering tampil di media sebab kasus-kasus yang membuat namanya negatif. Publik menduga kalau MJ sakit-sakitan dan menderita. Padahal, MJ sedang menyiapkan konser paling spektakuler untuk bulan Juli 2009, di London. This is it, demikian dia menamai konser ini. Kelihatannya, dia yakin sekali bahwa this is it -inilah saatnya-, waktu yang tepat ia akan kembali meraih sinar bintang yang kemarin meredup.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-535" title="LittleMJ" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/LittleMJ.jpg" alt="LittleMJ" width="314" height="420" /></p>
<p>Kenny Ortega, sutradara panggung yang merekam segala kegiatan MJ ketika latihan konser This Is It, akhirnya menjawab pertanyaan publik seputar keadaan MJ sebelum meninggal. Film This Is It dilepas ke bioskop seluruh dunia tanggal 28 Oktober 2009 dan dikabarkan hanya akan berlangsung selama dua minggu. Film ini tadinya digarap hanya sebagai koleksi pribadi MJ. Tetapi akhirnya ditayangkan juga untuk publik demi menjawab segala dugaan-dugaan para penggemarnya. Lebih dari itu, keluarga Jackson, Kenny Ortega dan orang-orang yang bekerja bersama MJ di seputar persiapan konser This Is it, kelihatannya ingin memberitahu dunia bahwa MJ baik-baik saja, dan malah dalam kondisi yang fit.</p>
<p>Sebagai seorang berusia kepala lima, dan tuntutan kerja yang mengharuskannya terus aktif baik tubuh maupun otak, MJ memiliki kondisi yang cukup prima. Bagi kebanyakan penari, mereka umumnya menderita sakit tulang panggul sebab gerakan tarian yang dilakukan (misalnya, Paula Abdul). Tapi saya tidak pernah sekalipun mendengar berita MJ operasi tulang panggul. Rasa sakit yang diderita MJ adalah ketergantungannya pada obat pain killer (penghilang rasa sakit) yang disebabkan kecelakaan pada tahun 1984: ketika sedang syuting untuk iklan Pepsi, sebuah lampu di atas MJ yang sedang menari terbakar. Apinya jatuh tepat di kepala MJ, ia menderita luka bakar tingkat dua dan tiga. Sejak itu MJ tergantung pada pain killer. Kelihatannya, sejak itu pula, ‘hobi’-nya operasi plastik makin menjadi-jadi.</p>
<p>Konon, operasi plastik berfungsi layaknya candu, membuat seseorang akan ketagihan. Ya, menjadi cantik dan sempurna ternyata adalah candu. Betapa ‘sempurnanya’ pemampilan MJ ketika tampil dalam video klip “Black or White”, dari album Dangerous (1991). Michael yang beberapa waktu lalu masih terlihat selayaknya orang kulit hitam, kini sudah benar-benar berkulit putih. Banyak orang memandang perubahan penampilannya itu sebagai bentuk kegilaan, atau keanehan yang makin menjadi. Beberapa kritikus selebriti di channel E! Entertainment berpendapat, seharusnya MJ berhenti operasi plastik ketika penampilannya masih seperti di album Thriller (1982). Tapi, bagi saya (dan mungkin para penggemarnya –di manapun Anda berada), itu adalah bentuk totalitas kerja seni. Begitu totalnya, hingga cenderung menghancurkan diri sendiri. Ini mungkin sulit dipahami oleh orang lain (apalagi mereka yang bukan seorang pekerja seni). Tapi, bukankah jika kita (seorang seniman, aktivis atau apapun) menggembar-gemborkan idealisme ini, idealisme itu, idealisme bla-bla-bla, maka seharusnya kita total, tak peduli jika itu harus menghancurkan diri sendiri. Nah, seperti itulah saya memandang MJ.</p>
<p>Ada semacam kelegaan ketika saya menonton film This Is It, rasanya seperti kelegaan seorang anak yang mengetahui bahwa ayahnya yang baru saja meninggal ternyata mengucap “Allah” sebagai kata terakhinya. Keadan MJ yang baik-baik sajalah yang membuat saya lega. Meskipun popularitas MJ menurun tajam, tapi dia masih seorang seniman musik yang sama, yang berulang kali saya imajinasikan di dalam pikiran saya, bahkan lebih. Caranya memberi pengarahan kepada orang-orang yang bekerja untuknya, dan bagaimana dia kerap berkata, “it’s all for love. L-O-V-E” (semua demi cinta, c-i-n-t-a) dan “God bless you” (Tuhan memberkatimu). Mengutip ucapan Kenny Ortega yang menanggapi Michael, “church and rock ‘n roll” (gabungan antara gereja dan musik rock ‘n roll). Adegan favorit saya di film ini adalah ketika gitaris perempuannya harus maju bersama Michael memainkan solo gitar. Sang gitaris (saya tak mencatat namanya) menghentikan permainannya sebab memang not berakhir di situ, tetapi MJ justru menyuruhnya terus main hingga nada tertinggi. Ujarnya, “this is your moment to shine, reach your highest note! We’ll be there with you.” (Ini adalah saat bagimu bersinar, mainkan hingga nada tertinggi. Kami akan terus mendampingimu). Hanya seorang pemusik berjiwa besar yang mau membagi panggungnya bagi seorang gitaris yang tak populer, dan terang-terangan bilang bahwa itu adalah kesempatan baginya untuk bersinar.</p>
<p>MJ tahu seperti apa musik, lagu, dan bagaimana dia ingin menyajikannya untuk penonton. Bahkan ketika dia mencontohkan tarian, dengan otomatis mulutnya akan bernyanyi. Juga sebaliknya, ketika ia mulai mencocokan satu nada lagu, tubuhya mulai menari. Musik dan tari sepertinya sudah melebur dalam diri seorang Michael Jackson, dan muncul berupa suara indah serta gerakan tubuh. Saya merasa, menjadi seorang MJ berarti telingamu dipenuhi musik yang hanya bisa didengar olehmu sendiri. Mungkin, dalam kehidupannya sehari-haripun, dia selalu punya backsound atau theme song. Yah, mirip-mirip film lah.</p>
<p>Andaikata konser This Is It jadi digelar, maka kita masih akan menemukan satu ciri khas dari semua konsernya: bahwa tiap lagu akan disajikan dengan konsep yang berbeda, yaitu seperti video klip yang kita lihat di televisi. Siapa pemusik yang menggarap konsernya seperti ini? Saya belum pernah tahu lainnya. Hanya MJ. Selebihnya, di dalam This Is It, semua konsep digarap baru, lebih fresh, diberi detail yang akan menggetarkan penonton konser. Yang membuat saya tercengang adalah, MJ tahu, kapan sebuah nada harus ditahan, dan kapan dia harus memberi ‘cue’ kepada pemusik/penarinya untuk kembali bermain sehingga penonton akan merasa deg-degan. Bagi saya, ini mirip dengan serial televisi Korea yang kerap menyajikan adegan sepasang kekasih yang berkelahi, mereka berada dalam satu frame, tetapi keduanya tidak saling tahu sebab sibuk saling memikirkan satu sama lain (mungkin yang satu sedang duduk di balik tanaman rambat di sebuah taman, sementara di jalan setapak taman yang sama kekasihnya lewat membelakanginya). Juga adegan ketika Superman membawa kekasihnya terbang melewati permukaan laut sebelum mengajaknya terbang melihat bumi dari kejauhan langit. Ini adalah adegan-adegan yang membuat penonton deg-degan sekaligus gemas. Nah, seperti itulah MJ, dia mengetahui bagaimana cara membuat penonton konsernya deg-degan dan gemas hanya dengan menahan satu ketuk nada, atau memainkan refrain dengan jumlah yang lebih banyak.</p>
<p>Satu hal lagi yang membuat saya lega, film ini tidak diakhiri dengan berita kematian MJ yang sudah terlalu sering kita lihat di televisi/baca di media. Padahal sejak awal saya sudah mempersiapkan mental akan melihat ending film yang menyedihkan. Ya, saya memang lebih suka melihat film-film berakhir bahagia, seperti kebanyakan film bergenre chick-flick dan kartun, sesederhana itu saja. Sepertinya, film This Is It merupakan bentuk perayaan hidup seorang King of Pop. Sangat wajar bagi saya, ketika seorang seniman seperti MJ mengetahui bahwa this is it –inilah saatnya- ketika ia berada di puncak kejayaan dan ingin mati ketika itu terjadi. Saya pikir, sebab itulah MJ mengadakan konser This Is It. Dia mungkin tahu waktunya tak banyak, dia juga tahu bahwa akan kembali menjadi superstar, dan sekaligus ingin kehidupanya berakhir di saat puncak. Sebuah akhir drama kehidupan yang ironis, bukan? Sejujurnya, saya iri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/this-is-it-the-day-the-music-died-michael-jackson-1958-2009-533.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berguru pada Televisi</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/berguru-pada-televisi-374.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/berguru-pada-televisi-374.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2009 12:18:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Tv Series]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=374</guid>
		<description><![CDATA[Tiba-tiba saya teringat pada tokoh Kenneth di serial 30 Rock. Dia adalah pegawai rendahan (kalau tidak salah posisinya Pembantu Umum) yang bekerja di sebuah televisi swasta. Kenneth yang karakternya bego-bego lugu adalah seorang yang sangat mencintai pekerjaannya. Dia bekerja dengan passion, dia bangga menjadi bagian dari sebuah televisi, apapun posisinya. Diam-diam, saya mencoba memahami kenapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/television-painting-225x300.jpg" alt="television-painting" title="television-painting" width="225" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-375" />Tiba-tiba saya teringat pada tokoh Kenneth di serial 30 Rock. Dia adalah pegawai rendahan (kalau tidak salah posisinya Pembantu Umum) yang bekerja di sebuah televisi swasta. Kenneth yang karakternya bego-bego lugu adalah seorang yang sangat mencintai pekerjaannya. Dia bekerja dengan <em>passion</em>, dia bangga menjadi bagian dari sebuah televisi, apapun posisinya.</p>
<p>Diam-diam, saya mencoba memahami kenapa 30 Rock membuat tokoh Kenneth dalam serialnya. Dia berasal dari kampung, anak udik yang kaget dengan gemerlapnya New York City. Matanya berbinar-binar jika melihat artis mampir di NBC, tempatnya bekerja. Dia anak kampung yang hampir seluruh hidupnya bergelut dengan peternakan, kini bisa menjadi bagian televisi.</p>
<p>Selama hampir enam bulan saya sudah benar-benar nyemplung di telvisi, selama itu pula menjadi pembuka mata saya akan dunia televisi. Saya, pernah seperti orang-orang yang tidak setuju dengan &#8220;pembodohan televisi&#8221;, sempat menganggap televisi adalah &#8220;sampah&#8221;, dan percaya bahwa <em>too much TV makes your brain goes bad</em>. Tapi sebenarnya saya tidak pernah benar-benar tidak menyukai televisi. Bagi saya, jika tak ada kerjaan, dan membaca menjadi kegiatan yang membosankan (hayo ngaku deh&#8230; pasti pernah kan merasa bosan baca buku), maka saya beralih ke televisi (selain menyewa DVD atau nonton bioskop). Tapi tentu, ada kalanya juga saya bosan nonton TV, seperti saya bosan pada buku-buku. Kesimpulan pribadi: saya pikir saya lumayan seimbang menempatkan diri antara televisi dan buku.<br />
<span id="more-374"></span></p>
<p> <div id="attachment_376" class="wp-caption alignright" style="width: 243px"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/30rock_kenneth-233x300.jpg" alt="Kenneth si pecinta televisi di serial 30 Rock" title="30rock_kenneth" width="233" height="300" class="size-medium wp-image-376" /><p class="wp-caption-text">Kenneth si pecinta televisi di serial 30 Rock</p></div> Ketika teman-teman saya mulai tahu saya bekerja untuk sebuah stasiun televisi dan bertugas membuat cerita untuk FTV (yang lebih banyak disebut &#8220;sinetron&#8221; oleh banyak orang), banyak pertanyaan dilontarkan ke saya. Di antaranya, &#8220;kok kamu bisa kerja bikin &#8216;cerita jelek&#8217;?&#8221;, &#8220;kok bisa sih kerja dikejar rating?&#8221;, dll. Awalnya, jujur saya juga bingung, dan bertanya pada diri sendiri: iya ya&#8230; kok bisa? Sekarang, setelah hampir enam bulan lewat, saya bisa bilang: ya, bisa saja, kenapa enggak?</p>
<p>Saya percaya, dalam waktu enam bulan ini saya menjadi orang yang lebih bijaksana karena sudah kerja di televisi. Saya jadi bisa melihat dari tiga sisi. Pertama, sisi para penulis sastra (di mana dari sinilah saya berasal); kedua, sisi orang program televisi; ketiga, sisi penonton. Saya bisa paham kenapa para penulis sastra tidak menyukai televisi, tetapi saya juga sangat bisa memahami kenapa orang televisi membuat acara yang sering disebut &#8220;enggak bermutu&#8221;, dan kenapa masih juga ada penontonnya.</p>
<p>Saya kini tidak percaya ada cerita yang jelek, yang ada&#8230; cerita itu tidak sesuai dengan selera seseorang, yang menyebabkan cerita itu laku/tidak. Dalam sebuah program televisi, berlaku hukum ekonomi: di mana ada permintaan, di situ barang diproduksi. Pada saat sinetron yang dibilang &#8220;enggak bermutu&#8221; itu dipertontonkan, dan ratingnya tinggi (berarti permintaannya tinggi), maka saat itulah sinetron ini akan jadi serial yang panjang. Kalau penonton sudah bosan, maka ratingnya turun, dan serial ini takkan diproduksi lagi. Nah, kira-kira seperti itulah. </p>
<p>Lain kali, kalau saya (atau Anda) mendengar ada orang marah-marah dengan serial Cinta Fitri yang sampai season 3, atau Tersanjung yang sampai season 9, maka saya bisa menjawab, &#8220;jangan kamu tonton serial itu, pasti nanti habis sendiri. Kalau ditonton terus, ya pasti akan diproduksi terus.&#8221;</p>
<p>Saya sering sekali mendengar komentar kalau acara kita tidak bermutu, tidak ada isinya, pembodohan, dll. Percayalah&#8230;, saya tahu bagaimana susahnya mencerdaskan bangsa lewat televisi. Saya pernah membuat cerita yang &#8220;berupaya mencerdaskan bangsa&#8221;, dan hasilnya ratingnya jeblok ketimbang cerita-cerita yang horor dan suspens. Dan jika sudah begini, maka cerita bergenre lebih cerdas tidak diproduksi lagi (setidaknya tidak dalam waktu dekat). Bagaimanapun, kita harus ingat, ketika masuk ke industri televisi, kita berhubungan dengan uang (yang bukan milik kita). Semua investor tentu mau uangnya kembali. Jika acara tersebut ratingnya jelek, maka tidak ada iklan yang mau masuk, maka modal tidak akan balik. Kira-kira begitu penjelasan sederhananya.</p>
<p>Kita tentu masih ingat dengan serial Dunia Tanpa Koma, yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo sebagai seorang jurnalis investigasi. Serial ini dibuat (konon) dalam rangka &#8220;mencerdaskan bangsa&#8221;, atau setidaknya memberikan tontonan yang lebih mendidik. Toh, pada kenyataannya, serial ini tidak bertahan lama, yang berarti tidak laku ditonton, yang berarti tidak ada iklan yang mau tayang. Aneh bukan? Jadi, jangan pernah bilang kalau pihak PH dan televisi tak pernah mencoba membuat acara yang bermutu. Sudah, dan kenyataannya: hancur di lapangan.</p>
<p>Tokoh Kenneth dalam 30 Rock bagi saya merupakan gambaran penonton kita yang memang aneh, mereka suka disuguhi &#8220;mimpi-mimpi&#8221;. Mereka suka para pemain yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng, meskipun diri sendiri jelek. Mereka juga suka menonton acara serial berlatar orang kaya, meskipun mereka sebenarnya miskin. Saya tidak tahu pasti kenapa, tetapi mungkin (ini hanya menduga-duga) karena hidup mereka sudah susah, kalau masih disuruh menonton acara yang harus mikir sepulang kerja berat seharian, bagi mereka itu suatu beban. Selain itu, mungkin karena bagi sebagian besar orang Indonesia buku masih merupakan barang mewah, sedang televisi hiburan murah, jadilah acara TV kita itu laku ditonton. </p>
<p>Saya pikir ada baiknya kita belajar melihat dari sisi penonton.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/berguru-pada-televisi-374.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Slumdog Millionaire: Merayakan Kemenangan</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/slumdog-millionairemerayakan-kemenangan-353.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/slumdog-millionairemerayakan-kemenangan-353.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2009 14:45:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[india]]></category>
		<category><![CDATA[Q and A]]></category>
		<category><![CDATA[slumdog millionaire]]></category>
		<category><![CDATA[Vikas Swarup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=353</guid>
		<description><![CDATA[Baru-baru ini saya menonton film Slumdog Millionaire, film bersetting Mumbay, India, yang diangkat dari novel Q and A karya Vikas Swarup. Ada sesuatu yang segar dari film ini, yang berbeda dari film-film Bollywood lainnya. Saya termasuk orang yang akrab dengan film selain Hollywood. Saya menyukai film-film Korea, Jepang, juga India. Meskipun menari dan menyanyi sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_355" class="wp-caption alignleft" style="width: 206px"><img class="size-medium wp-image-355" title="qa" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/qa-196x300.jpg" alt="Novel &lt;em&gt;Q and A&lt;/em&gt;, karya Vikas Swarup" width="196" height="300" /><p class="wp-caption-text">Novel Q and A, karya Vikas Swarup</p></div>
<p>Baru-baru ini saya menonton film <em>Slumdog Millionaire</em>, film bersetting Mumbay, India,  yang diangkat dari novel <em>Q and A </em>karya Vikas Swarup. Ada sesuatu yang segar dari film ini, yang berbeda dari film-film Bollywood lainnya. Saya termasuk<em> </em>orang yang akrab dengan film selain Hollywood. Saya menyukai film-film Korea, Jepang, juga India. Meskipun menari dan menyanyi sudah merupakan bagian penting dari film-film India, tapi sejujurnya, saya masih tidak terlalu akrab dan nyaman dengan tari-nyanyi dalam film Bollywood.</p>
<p>Slumdog Millionaire bercerita tentang Jamal, seorang anak jalanan yang menang dalam acara kuis &#8216;Who Wants To Be A Millionaire&#8217; versi India. Uniknya, Jamal menang bukan karena dia terpelajar, tetapi karena setiap pertanyaan yang diajukan selalu mengingatkannya pada sejadian di masa lalu. Jadilah film ini kerap flashback mulai dari Jamal masih kecil, ABG, sampai dewasa. Uniknya lagi, Jamal ikut kuis ini bukan karena ingin jadi milyuner, tetapi karena ia ingin mencari kekasihnya Latika. Setiap flashback yang ada, selalu merujuk pada kejadian ketika dia mencari Latika. Dia berharap, dengan mengikuti kuis ini, Latika akan melihatnya dan akan tahu di mana dirinya. Ending cerita memuaskan penonton (dan pembaca), <em>happy ending</em>, tentu saja. Jamal bertemu dengan Latika, juga memenangkan kuis hadiah utama. Seorang anak jalanan yang tiba-tiba kaya raya gara-gara ikut kuis.</p>
<p><span id="more-353"></span></p>
<p>Film/buku ini mungkin bisa disebut sebagai <em>road-story</em>, bagaimana Jamal mencari orang yang dicintainya dengan berragam cara. Begitu hampir ketemu, pasti ada hal yang memisahkan mereka lagi. Ya, kalo versi kecilnya mungkin kira-kira seperti <em>reality show</em> &#8216;Termehek-Mehek&#8217;. Sejak awal, penonton diajak bersimpati dengan tokoh Jamal. Cerita tentang orang kecil yang meraih kebahagiaan (terutama kekayaan) memang drama yang tak pernah mati untuk urusan menguras emosi.</p>
<div id="attachment_356" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-356" title="slumdogmillionaire" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/slumdogmillionaire-300x160.jpg" alt="Salah satu adegan Slumdog Millionaire, ketika Jamal masih kecil." width="300" height="160" /><p class="wp-caption-text">Salah satu adegan Slumdog Millionaire, ketika Jamal masih kecil.</p></div>
<div class="mceTemp" style="text-align: left;">Bagi saya, yang membahagiakan adalah bahwa <em>Slumdog Millionaire</em> merupakan film India pertama yang saya tonton betul-betul saya nikmati hingga harus menahan pipis. Pasalnya, film India ini tak ada jeda tari-nyanyi yang memang saya kurang bisa nikmati. Ya, sejujurnya, meskipun (seperti yang diceritakan teman saya) bahwa di India sana konon para penonton bioskop film Bollywood bisa nyanyi bareng-bareng satu gedung jika adegan tari-nyanyi mulai tayang, tapi bagi saya itu adalah saat yang tepat untuk pipis.</div>
<p>Saya begitu menikmatinya hingga saya tak sadar harus menahan pipis. Saya juga tak sadar ini bukan seperti film India umumnya. Ketika cerita sudah berakhir, baru ada adegan tari-nyanyi semua talent, bersamaan dengan credit tittle. Mungkin itu untuk mensyahkan harus ada tari-nyanyi di film Bollywood, heheheh&#8230;. Atau mungkin tari-nyanyi itu sebagai metafora perayaan akhir cerita bahagia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/slumdog-millionairemerayakan-kemenangan-353.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>JUNO</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/juno-194.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/juno-194.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 07:45:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[ellen degenerest]]></category>
		<category><![CDATA[ellen page]]></category>
		<category><![CDATA[juno]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=194</guid>
		<description><![CDATA[Dari sebulan yang lalu teman sama, Metta, wanti-wanti untuk menonton JUNO. Sebetulnya waktu film ini tayang di bioskop, saya sudah niat mau nonton, gara-garanya orang Hollywood muji-muji film ini. Termasuk waktu Ellen Page (pemeran Juno) tampil di acara Ellen Degenerest, keliatannya Ellen Page cool banget dan aktinya dipuji habis-habisan sama Ellen. Akhirnya, setelah melewati dua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/juno_contact.jpg" rel="lightbox[194]"><img class="aligncenter size-full wp-image-195" title="juno_contact" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/juno_contact.jpg" alt="" width="500" height="281" /></a></p>
<p>Dari sebulan yang lalu teman sama, Metta, wanti-wanti untuk menonton JUNO. Sebetulnya waktu film ini tayang di bioskop, saya sudah niat mau nonton, gara-garanya orang Hollywood muji-muji film ini. Termasuk waktu Ellen Page (pemeran Juno) tampil di acara Ellen Degenerest, keliatannya Ellen Page <em>cool</em> banget dan aktinya dipuji habis-habisan sama Ellen. Akhirnya, setelah melewati dua malam mengutak atik VCD Juno yang gak mau muter di laptop, saya berhasil juga menontonnya dengan meminjam laptop suami.</p>
<p><span id="more-194"></span></p>
<p>Juno adalah remaja berusia 16 tahun yang tiba-tiba hamil. Tidak seperti film-film kehamilan remaja lainnya, tokoh Juno adalah karakter yang cuek dan selalu yakin dengan apa yang akan dilakukannya. Ketika mengetahui dirinya hamil, langkah pertama yang dilakukannya adalah meyakinkan bahwa dia betul-betul hamil. Dia tes hingga tiga kali, setelah itu ia menelepon temannya, yang sepanjang film selalu mendukung keputusannya. Ketiga, dia menghubungi laki-laki yang menghamilinya, namanya Bleeker, teman sekolahnya yang menjadi atlit lari. Setelah itu, dia menghubungi satu klinik untuk menggugurkan kandungannya. Tetapi kemudian dia mengurungkan niatnya, sebab seorang anak yang demonstrasi sendirian di luar klinik berteriak bahwa &#8220;all babies want to get born&#8221;, jadilah Juno pulang lagi. Bersama temannya, mereka membuat rencana B, yaitu mencari iklan orang tua yang butuh anak. Juno menginginkan bayinya diasuh oleh sepasang lesbian baik hati, atau pasangan orangtua berusia pertengahan 30-an yang <em>cool</em>. Setelah ia menemukan orangtua yang kira-kira cocok untuk bayinya, ia baru berbicara pada orangtuanya perihal kehamilannya.</p>
<p><span style="color: #0000ee; text-decoration: underline;"><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/juno_2_disc.jpg" rel="lightbox[194]"><img class="alignleft size-medium wp-image-198" title="juno_2_disc" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/juno_2_disc-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a></span>Dalam film ini, kehamilan di luar nikah diangkat menjadi hal yang sangat wajar. Meski ada beberapa teman yang menggosipinya, tapi Juno maju terus. Rasa percaya dirinya tak berkurang hanya gara-gara hamil. Di film-film dengan tema serupa, selalu digambarkan bahwa anak gadis tersebut akan mengasingkan diri hingga ia melahirkan. Di samping itu, biasanya juga ia akan stress, menyesal, dan merasa sangat-sangat berdosa karena hamil di luar nikah. Tidak dalam film Juno, ia selalu yakin dengan keputusan yang diambil. Daripada mengurung diri, ia justru tetap aktif sekolah, meski ketika makan siang ia dilihat banyak orang karena banyak makan. Juno juga cuma cengengesan ketika petugas TU memandangi perutnya yang membesar dengan curiga, saat ia minta surat ijin pergi keluar untuk meng-USG kehamilannya.</p>
<p>Gosip yang beredar, gara-gara Juno, sekelompok anak sekolah SMA di Amerika ramai-ramai janjian hamil bareng. Halah! Ada-ada saja. Tapi kemudian gosip beredar lagi, bahwa mereka sebeutlnya bukan janjian hamil bareng karena film Juno, melainkan karena ada guru yang melakukan pelecehan seksual terhadap sekelompok anak perempuan muridnya. Tau deh mana yang benar.</p>
<p>Kalau &#8220;orang kita&#8221; yang nonton film ini, pasti mereka akan bilang: pesan moral film ini, jangan melakukan seks di luar nikah, <em>or else</em> kamu akan hamil. Tapi kalo saya sih: siapa pun yang hamil, berhak memilih yang terbaik untuk diri sendiri dan bayinya, baik itu hamil di luar nikah atau enggak.</p>
<p>Anyway&#8230; saya suka sekali Juno. Keseluruhan. Opening scenes-nya sangat-sangat menarik, dibuat seperti animasi pensil (tuh di atas, lihat saja sendiri). Selain itu, lagu-lagu yang ada di Juno keren-keren!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/juno-194.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Film-Film tentang Penulis</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/film-film-tentang-penulis-125.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/film-film-tentang-penulis-125.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 May 2008 10:48:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/blog/film-film-tentang-penulis-125.php</guid>
		<description><![CDATA[Joseph Fiennes, pemeran William Shakespeare dalam film Shakespeare in LoveSaya adalah orang yang sangat percaya, bahwa di balik sebuah cerita fiksi, ada cerita lain, yaitu penulisnya. Stephen King dalam bukunya berkata, bahwa (kalau tidak keliru mengutip), dibutuhkan tiga hal jika seseorang ingin jadi penulis: 1) pena, 2) kertas, 3) broken home! Hah?! Broken home? Ya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><center><img alt="shakespearein-love.jpg" id="image126" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/shakespearein-love.jpg" /><br />
<small>Joseph Fiennes, pemeran William Shakespeare dalam film <em>Shakespeare in Love</em></small></center>Saya adalah orang yang sangat percaya, bahwa di balik sebuah cerita fiksi, ada cerita lain, yaitu penulisnya. Stephen King dalam bukunya berkata, bahwa (kalau tidak keliru mengutip), dibutuhkan tiga hal jika seseorang ingin jadi penulis: 1) pena, 2) kertas, 3) <em>broken home</em>!</p>
<p>Hah?! Broken home? Ya, broken home!<br />
<span id="more-125"></span><br />
Mungkin yang dimaksud Stephen King dengan &#8216;broken home&#8217; adalah kegelisahan yang menjadi pelatuk seseorang untuk menulis. Sebab, begitulah proses intim saya dengan tulisan-tulisan saya.</p>
<p>Jika saya membaca cerpen di koran, saya kerap bertanya-tanya, dan mereka-reka sendiri; kira-kira penulis mengalami apa hingga ia menulis tulisan demikian. Dalam benak saya, pengalaman penulis lebih tergambar realis, terutama jika tulisannya surealis. Biasalah, penulis kan suka hiperbola dengan tulisannya (hehehe).</p>
<p>Ketika saya menonton <em>Shakespeare in Love </em>(1998), saya sendiri bertanya-tanya, apa betul seperti itulah proses Shakespeare menulis naskah <em>Romeo dan Juliet</em>? Ia jatuh cinta kepada seorang putri bangsawan yang kebetulan sangat ingin menjadi aktor. Pada zaman itu, perempuan tidak lazim menjadi aktor. Maka ia menyamar menjadi laki-laki. Ketika kasting untuk peran <em>Romeo dan Juliet</em> diadakan, ia mendapat peran sebagai Romeo. Lama kelamaan, rahasia bahwa ia adalah perempuan diketahui oleh Shakespeare. Sambil jatuh cinta, Shakespeare mendapat inspirasi untuk terus menulis drama <em>Romeo dan Juliet</em>. Ia juga bercinta sambil berlatih drama. Begitulah, bagi William Shakespeare dalam <em>Shakespeare in Love</em>,  jatuh cinta adalah &#8216;kegelisahan&#8217; untuk menulis drama cintanya yang terkenal sepanjang masa. Kelihatannya, kegelisahan jatuh cinta ini juga sering digunakan oleh banyak penyair untuk membuat puisi-puisi cinta. Bukan rahasia lagi, penulis (atau lebih tepatnya -dan lebih banyak- penyair) kerap &#8216;mengkondisikan&#8217; dirinya untuk terus dalam keadaan jatuh cinta.<br />
<img align="left" alt="hours.jpg" id="image128" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/hours.jpg" /><br />
Dalam film <em>The Hours</em> (2002), kisah hidup penulis Virginia Wolf diangkat. Film ini unik, dibagi tiga plot dengan tiga tokoh perempuan, yang masing-masing punya peran dan berbenang merah Virginia Wolf. Pertama, seorang perempuan hamil bernama Laura Brown, hidup pada tahun 1951 yang sedang membaca buku <em>Mrs. Dalloway</em> karya Virginia Wolf. Tokoh perempuan yang kedua adalah lesbian bernama Clarissa Vaughn (hidup tahun 2001), ia seorang editor yang bekerja untuk penerbitan dan hendak membuat pesta ulang tahun untuk temannya, penulis yang menderita AIDS. Dan yang ketiga adalah Virginia Wolf sendiri (yang diperankan dengan apik oleh Nicole Kidman) yang sedang berproses menulis novelnya, hidup di tahun 1923. <em>The Hours</em> memang bukan jenis film hiburan yang tidak perlu berpikir ketika menonton. Dalam film ini, Nicole Kidman bahkan menambal hidungnya agar lebih mancung, supaya lebih mirip sosok Virginia.</p>
<p>Berbeda dengan <em>Shakespeare in Love</em>, &#8216;kegelisahan&#8217; yang menemani proses menulis Virginia Wolf adalah depresi yang mebuatnya ingin bunuh diri. Depresi yang dialami Virginia Wolf itu yang mungkin di zaman sekarang disebut sebagai Bi-Polar Decease atau Manic Depression, yang kemudian diangkat ke dalam novelnya, <span style="font-style: italic">Mrs Dalloway</span>.</p>
<p><img align="left" alt="mbsm.jpg" id="image123" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/mbsm.jpg" /><br />
Di Indonesia, saya menemukan film yang bertemakan kepenulisan yang bagi saya menarik;<em> Mereka Bilang Saya Moyet</em>, karya <a href="http://djenar.com">Djenar Maesa Ayu</a>. Film ini diangkat dari dua cerpennya berjudul &#8220;Lintah&#8221; dan &#8220;Melukis Jendela&#8221;. Tokoh Adjeng adalah penulis muda yang berusaha menyembuhkan luka masa lalunya yang pahit dengan cara menulis. Luka-luka masa lalu inilah yang menjadi &#8216;kegelisahan&#8217; tokoh Adjeng. Dikisahkan, cerpen debutnya berjudul &#8220;Lintah&#8221; kemudian membawa kepada pintu pertikaian dengan ibunya. Suatu harga mahal yang harus dibayar untuk berdamai dengan masa lalu.</p>
<p>Begitulah proses menulis. Di luar obsesi seseorang yang mungkin ingin terkenal, pembuktian diri, ingin jadi kaya karena menulis, dan lain-lain, &#8216;kegelisahan&#8217; bisa menjadi modal besar untuk menulis. &#8216;Kegelisahan&#8217; yang menjadi pelatuk ini bisa berupa apa saja. Tidak hanya broken home (seperti yang disebutkan oleh Stephen King), lebih dari itu bisa jatuh cinta, masa lalu yang kelam, sampai keinginan bunuh diri.</p>
<p><img align="left" alt="findingforrester.jpg" id="image122" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/findingforrester.jpg" /><br />
Lantas, bagaimana dengan penulis yang sudah &#8216;jadi&#8217;? Bagaimana proses kepenulisan, kegelisahan dan kehidupannya? Film <em>Finding Forrester</em> (2000) menarik perhatian saya.  Film ini diperankan oleh Sean Connery sebagai tokoh penulis William Forrester.</p>
<p>Dikisahkan, setelah meraih Pulitzer untuk novel <em>Avalon Landing</em>, William Forrester memilih untuk menyembunyikan diri di daerah Bronx. Secara berkala, ada orang yang mengantarkan kebutuhannya mulai dari makan, membayar tagihan listrik, mengurus binatu, dan lain-lain. Jamal Wallace adalah pemuda kulit hitam yang diam-diam  gemar menulis meski ia mendapat beasiswa di sekolah elit karena keahliannya main basket. William Forrester menjadi guru menulis bagi Jamal Wallace. Ia bahkan sempat dituduh sebagai penjiplak karya William Forrester oleh guru Bahasa Inggrisnya. Hubungan keduanya berkembang lebih dari sekedar guru dan murid. Setelah bertahun-tahun tak pernah keluar apartemen, Wallace mengajak Forrester untuk menonton pertandingan base-ball. Hingga akhirnya, William Forrester pulang ke negara asalnya dan meninggal dunia. Ia mewariskan apartemen, buku-buku, naskah buku yang akan datang, hingga mesin ketik tuanya untuk Jamal Wallace.</p>
<p>Bagi saya, film-film tersebut lebih dari sekedar tontonan. Saya belajar banyak tentang kepenulisan, <span style="font-style: italic">creative writing</span> hingga memotivasi diri sendiri untuk bertahan menjadi <span style="font-style: italic">full time writer</span> (yang memang tidak mudah). Film-film tentang kepenulisan lainnya yang juga patut ditonton antara lain <em>Quills</em>, <em>Dead Poet Society</em>, <em>Freedom Writers</em>, dan beberapa judul lain yang tidak bisa saya ingat. Kalau anda punya judul film lain, silakan sarankan pada saya, saya pasti akan mencari kesempatan untuk menontonnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/film-film-tentang-penulis-125.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Forbidden Kingdom</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/the-forbidden-kingdom-118.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/the-forbidden-kingdom-118.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 15:22:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/blog/the-forbidden-kingdom-118.php</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini, saya girang sekali (sampai-sampai memutuskan untuk menulis di blog). Pasalnya, (akhirnya) saya nonton juga The Forbidden Kingdom. Malam minggu lalu, bersama dua orang teman dekat, saya dan suami pindah bioskom tiga kali hanya karena ingin nonton ini. Semua bioskop yang kami datangi full! Kami akhirnya pulang membawa penasaran. Hari Minggu, teman kami (yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><center><img id="image119" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/forbiddenkingdom.jpg" alt="forbiddenkingdom.jpg" /></center><br />
Hari ini, saya girang sekali (sampai-sampai memutuskan untuk menulis di blog). Pasalnya, (akhirnya) saya nonton juga <em>The Forbidden Kingdom</em>. Malam minggu lalu, bersama dua orang teman dekat, saya dan suami pindah bioskom tiga kali hanya karena ingin nonton ini. Semua bioskop yang kami datangi full! Kami akhirnya pulang membawa penasaran. Hari Minggu, teman kami (yang malam sebelumnya keliling bersama ke tiga bioskop), SMS dan manas-manasin betapa kerennya <em>The Forbidden Kingdom</em>. Jadilah&#8230;. Maksa, hari ini bangun tidur  kuterus mandi, tak lupa menggosok gigi, tak membersihkan tempat tidur, tapi langsung ke bioskop Jakarta Teater, antre beli tiket nonton <em>The Forbidden Kingdom</em>. Dua orang aktor yang saya kagumi sejak dulu main di film ini; Jackie Chan dan Jet Li. Satu hal yang lebih membuat saya lebih semangat lagi adalah, tema besar film ini adalah (eng ing eng&#8230;) Sun Go Kong, si Raja Kera! Hore!!!<br />
<span id="more-118"></span><br />
<strong>Kangen </strong><br />
Waktu itu saya masih SMP-SMA, di televisi diputar serial Kera Sakti. Saya termasuk penonton setianya, bahkan theme song lagu ini (yang ngerap itu) pun hapal! Bagi saya, serial ini berisi sarat wejangan yang dikemas secara populer. Ketika Kera Sakti dan gurunya sampai di Kerajaan Budha untuk mengantarkan kitab suci yang akan menyelamatkan umat manusia (dan diangkat jadi Budha –musuh-musuhnya pun jadi tobat), saya jadi rada sedih, sebab tentu saja serial ini jadi berakhir. Beberapa kali saya nonton film produksi Cina/Hong Kong bertema Raja Kera, tapi saya kecewa dengan hasil akhirnya. Baru ketika <em>The Forbidden Kingdom</em> ini muncul, saya optimis lagi.</p>
<p>Dari beberapa kisah dongeng (baik dongeng lokal maupun dongeng luar negeri), Kera Sakti adalah satu yang paling saya kagumi. Saya menyukai kisah Keong Mas, The Beauty and The Beast, dan dulu sekali saya pernah juga sempat menggilai Peter Pan. Rasa kangen saya terhadap kisah Raja Kera sempat terobati ketika saya membaca buku <em>American Born Chinese </em> karya Gene Luen Yang, yang juga mengaitkan dunia nyata dengan kisah Raja Kera. </p>
<p><strong>Misi penyelamatan Raja Kera</strong><br />
Alkisah, ada seorang anak asal Boston yang menggilai cerita-cerita asal China. Dia hobi berkunjung ke daerah pecinan dan berburu film bajakan cerita China. Toko ini dikelola oleh seorang yang sangat tua. Suatu hari, anak ini melihat ada sebatang tongkat di toko tersebut. Ia mengenal tongkat itu sebagai tongkan Raja Kera. Pak tua pemilik toko menjelaskan, tongkat itu menunggu untuk ditemukan oleh seseorang yang akan mengembalikannya kepada Raja Kera. Kakek pak tua itu, dulu menunggu orang tersebut, tapi tak datang juga. Kini, giliran dia yang menunggu. Sekelompok anak berandalan hendak merampok toko Pak Tua itu, ketika Pak Tua tertembak, ia berpesan kepada anak Amerika untuk mengembalikan tongkat itu kepada pemiliknya. Anak ini lari, kabur membawa tongkat, hingga ke atas gedung, dikepung oleh kawanan berandalan yang hendak membungkamnya.  Di sinilah kemudian dia merasa, tongkat itu menariknya. Tahu-tahu ketika sadar, ia telah berpakaian pengembara ala China dan telah terlempar ke tahun lampau. Dimulailah pengembaraannya mengembalikan tongkat ke Raja Kera yang sedang dikutuk jadi batu oleh Panglima Giok di Kerajaan Terlarang. Yang asik, anak amerika ini bertemu tokoh legenda cerita China lainnya, seperti  Drunken Master (Pendekar Mabuk, yang kemudian jadi gurunya -diperankan oleh Jackie Chan), Sparrow (Pendekar Burung Walet), juga Crow (Siluman Gagak, musuh Kera Sakti). </p>
<p>Di sana-sini diwarnai silat ala China yang segar, meski akrab bagi saya yang kerap nonton film-film silat China (lebih segar dari silat di film Crouching Tiger Hidden Dragon). Jaminan nama Jackie Chan dan Jet Li, ditambah penulis naskah kenamaan John Fusco membuat film ini patut diacungi empat jempol (dua jempol tangan dan dua jempol kaki!). Rasa kangen saya terobati, tidak hanya kangen kepada Raja Kera, tetapi juga pada kisah-kisah antah-berantah, penghidupan dunia khayal yang jadi nyata.</p>
<p>Kisah anak yang “terlempar” ke dunia antah-berantah, tentu bukan tema baru. Ada <em>The Never Ending Story</em> (film lama, kalau tidak salah diproduksi tahun 1979), lalu ada film animasi <em>Alice in Wonderland</em> (ini juga film lama). Film-film baru dengan tema sama; <em>Narnia: The Witch, The Lion and The Wardrobe.</em> Kisah Peter Pan yang dibintangi oleh Robin Williams, diangkat dengan judul <em>The Hook</em>, juga dibuka dengan tokoh yang tiba-tiba masuk ke dunia kanak abadi di balik awan.</p>
<p>Saya tidak mau berbicara soal tehnik kamera, pencahayaan, adegan mubadzir, and all that crap, karena saya sedang girang. Lagipula, memang tidak ada yang perlu dipersoalkan. Bahkan ending cerita yang sudah bisa ditebak, yaitu ketika tokoh Sparrow dihidupkan kebali di dunia nyata sebagai gadis China yang bekerja di toko seberang toko milik Pak Tua, pun mampu menghibur saya. Semua rasanya pas, mood saya sedang pas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/the-forbidden-kingdom-118.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berdamai Dengan Air</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/mbok-giyem-dan-air-99.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/mbok-giyem-dan-air-99.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Mar 2008 03:33:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/blog/mbok-giyem-dan-air-99.php</guid>
		<description><![CDATA[Saya tidak akan pernah lupa nasihat ibu saya, &#8220;nyalakan air jika bak kamar mandi kosong. Isikan sampai sedikit meluber, tapi jangan biarkan air di kamar mandi terbuang banyak karena kran tak dimatikan.&#8221; Bagi ibu saya, itu bukan sekedar nasehat berhemat air, itu juga falsafah hidupnya. Menyalakan air kran kamar mandi adalah metafora rejeki. Jika tampungan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/mbokgiyem.gif" alt="" /></p>
<p>Saya tidak akan pernah lupa nasihat ibu saya, &#8220;nyalakan air jika bak kamar mandi kosong. Isikan sampai sedikit <em>meluber</em>, tapi jangan biarkan air di kamar mandi terbuang banyak karena kran tak dimatikan.&#8221; Bagi ibu saya, itu bukan sekedar nasehat berhemat air, itu juga falsafah hidupnya. Menyalakan air kran kamar mandi adalah metafora rejeki. Jika tampungan kosong maka rejeki harus diisi sampai penuh dan sedikit meluber (luberan air yang sedikit itu melambangkan &#8216;pembersihan&#8217;). Tapi tidak boleh membuang rejeki dengan sia-sia (kran tak dimatikan). Sampai sekarang saya selalu mematikan kran air, sekaligus risih dengan kran yang tak dimatikan baik itu di rumah sendiri atau di tempat-tempat umum.<br />
<span id="more-99"></span><br />
Sejujurnya saya belum pernah merasa kekurangan air. Saya selalu bisa mandi dan minum sepuas-puasnya. Kalimat &#8216;air adalah sumber kehidupan&#8217; bagi saya hanya lewat di telinga (meski saya tahu betul bahwa air memang penting). Ketika tahun lalu Jakarta dilanda banjir besar, saya sempat kena imbasnya. Selain tak bisa ke mana-mana karena terkepung air (meskipun tak kebagian banjir), tapi tetap saja air kran kalau diperhatikan benar-benar jadi agar berwarna kecokelatan. Tak bisa pula kami pesan air galon, karena selama satu minggu tak ada transportasi yang bisa lewat. Saya sempat diare ketika banjir terjadi. </p>
<p>Film <em>Punggung Berkeringat di Tanah yang Retak (Ngobrol dengan Mbok Giyem)</em> adalah film dokumentasi produksi Matabunga Institute dan disutradarai oleh M. Toha Nuhson Hajji, teman baik saya. Hari Sabtu (29/03) lalu film ini memenangi Kompetisi Film Dokumentasi Forkami: Manusia dan Air. Mbok Giyem, perempuan yang tinggal di daerah Boyolali harus berjalan sekitar 5 jam untuk mencari air. Ia <em>nggrundel </em>mengenai pembagian kerja mengambil air dengan suaminya. Di awal pernikahannya, Mbok Giyem sempat was-was soal air, namun lama-kelamaan mengambil air adalah kegiatan robotik, dan semua orang di desa itu melakukannya.</p>
<p>Toha dan Pita (produser), datang jauh-jauh dari Solo, Sabtu sore. Sabtu siang saya baru ditelepon bahwa mereka akan ke <a href="http://www.ccfjakarta.or.id/">CCF</a>, berkaitan dengan film bertema air yang mereka buat. Saya pikir hanya <em>screening</em> biasa, sampai diumumkan bahwa film <em>Punggung Berkeringat di Tanah yang Retak</em> masuk enam besar dan akan dipilih juara satu, dua, dan tiga. Saya sudah celingat-celinguk, Pita dan Toha datang terlambat gara-gara pesawatnya di<em>delay</em>; kalau mereka menang, berarti sayalah yang harus maju mewakili mereka.  Saya mulai deg-degan, panas-dingin, jangan-jangan kalau betulan menang, saya harus kasih <em>speech</em> atau semacamnya. Ternyata&#8230;, tepat ketika diumumkan juara pertama, Toha dan Pita muncul dengan lugu dan bingung, sementara semua orang yang hadir di CCF bersorak menyuruh mereka maju mengambil hadiah. <em>Nggak</em> jadi deh saya speech, hehehe.</p>
<p>Saya sempat terlibat di salah satu film bertema air garapan Matabunga Institute sekitar dua tahun lalu. Pita dan Toha meminta saya untuk mengerjakan <em>subtitle </em>bahasa Inggris. Film itu berjudul <em>Air di Tanah Kami</em> berdurasi 56&#8242;. Sedang film <em>Punggung Berkeringat di Tanah yang Retak</em> (durasi 19&#8242; 59&#8243;) masih merupakan bagian dari film pertama, namun difokuskan pada Mbok Giyem sebagai &#8216;pemeran utama&#8217;. </p>
<p>Mereka shooting di desa kering di Boyolali selama 10 hari, bermodalkan galon besar aqua yang sengaja mereka bawa untuk minum. Karena kekurangan air, tentu saja 10 hari itu mereka tak mandi! Bahkan untuk buang air besar pun masih dengan sistem gali lobang, tumpuk tanah, tumpuk tinja lagi, lalu kalau sudah penuh, baru tutup lobang. (Yak, sesusah itulah kehidupan Mbok Giyem akan air.) Boyolali mungkin terkenal subur, tapi tak banyak orang tahu, karena bentuk fisiknya yang berbukit, justru ada desa-desa di Boyolali yang betul-betul kekeringan. Contohnya; Desa Blado, Kec. Juwangi, Kab. Boyolali, tempat tinggal Mbok Giyem. Menurut Pita, karakter tanah di Desa Blado berpasir, jadi air langsung masuk ke dalam tanah.</p>
<p><em>Punggung Berkeringat di Tanah yang Retak</em> mengalahkan sekitar 40 film dokumenter lainnya (yang juga bertemakan air). Saya sempat melihat beberapa film lainnya; ada orang yang menampung air dengan mengandalkan kabut, ada orang yang minum air masih berwarna cokelat, ada pula anak-anak yang mandi berlumuran lumpur. Bagaimana pun, saya sekarang lebih bersyukur bisa hidup tanpa kekurangan air.</p>
<p>Ps.<br />
Untuk tahu lebih jauh tentang film <em>Punggung Berkeringat di Tanah yang Retak (Ngobrol dengan mbok GIyem)</em>, silakan kontak ke matabunga@yahoo.com atau surat ke Matabunga Institute, Jalan Gajahan I Rt.03/03 Gajahan, Solo.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/mbok-giyem-dan-air-99.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Romantisme Islami &#8220;Ayat-Ayat Cinta&#8221;</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/romantisme-islami-ayat-ayat-cinta-89.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/romantisme-islami-ayat-ayat-cinta-89.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Mar 2008 14:25:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/blog/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Jika banyak orang bilang bahwa tokoh Fahri dalam novel Ayat-Ayat Cinta sangat sempurna, maka saya berkata bahwa novel ini berusaha berkisah sebuah kehidupan Islami yang sempurna dari seseorang muslim (bukan &#8216;muslimah&#8217;, melainkan &#8216;muslim&#8217;). Menonton film Ayat-Ayat Cinta seraya mengingatkan saya pada Aa&#8217; Gym. Ingat sebelum Aa&#8217; Gym menikah untuk yang kedua kalinya? Semua ibu-ibu serasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/ayat_ayat_cinta_movie_poster_210.jpg" alt="" align="left"/></p>
<p>Jika banyak orang bilang bahwa tokoh Fahri dalam novel <em>Ayat-Ayat Cinta</em> sangat sempurna, maka saya berkata bahwa novel ini berusaha berkisah sebuah kehidupan Islami yang sempurna dari seseorang muslim (bukan &#8216;muslimah&#8217;, melainkan &#8216;muslim&#8217;). Menonton film <em>Ayat-Ayat Cinta</em> seraya mengingatkan saya pada Aa&#8217; Gym. Ingat sebelum Aa&#8217; Gym menikah untuk yang kedua kalinya? Semua ibu-ibu serasa memuja dia sebagai &#8216;laki-laki yang sempurna&#8217;. Setelah ia berpoligami, tiba-tiba pamornya turun drastis. Sekeras apa pun Aa&#8217; Gym mencoba memperbaiki &#8216;kesalahannya&#8217; ini, cacat tetaplah cacat. Di mata ummatnya ia bukan lagi sempurna, meskipun di program tv Kick Andy <em>dibela-belain pake</em> acara nangis segala.</p>
<p>Saya tidak tahu, apa sebenarnya yang ada di dalam pikiran muslim (sekali lagi, &#8216;muslim&#8217;&#8230; bukan &#8216;muslimah&#8217;) kita. Selama ini kita terlalu sibuk berkoar-koar mencari tahu: apakah surat An-Nisa itu sebetulnya memperbolehkan poligami atau tidak. Tapi, bagaimana dengan apa yang ada di isi kepala kaum muslim itu sendiri? Apakah mereka ingin poligami? Atau tidak ingin, meski istrinya (seperti halnya Aisya dalam novel AAC) sudah menyuruhnya menikah lagi.<br />
<span id="more-89"></span><br />
Di dalam filmnya, Maria, Fahri dan Aisya dikisahkan sempat hidup bersama sebagai keluarga poligami. Diceritakan, Fahri sempat bingung bagaimana menyatukan kedua istrinya ini. Sedang di dalam novel, ceritanya beda lagi: Maria dinikahi Fahri ketika sakit parah, ia lalu bersaksi bahwa Fahri tidak pernah memerkosa Noura, setelah itu di ruang sidang Maria pingsan, dilarikan ke Rumah Sakit dan tak lama kemudian meninggal dunia. Bagi saya, sebagai cerita justru lebih logis versi film ketimbang novelnya. Dengan <em>ending</em> hidup Maria seperti di novel, sepertinya jika difilmkan akan jadi &#8216;sangat sinetron&#8217;.</p>
<p>Saya melihat, AAC sepertinya obsesi (kebanyakan) muslim (atau setidaknya obsesi Habibburahman sendiri). Sebagai perempuan, bilanglah saya sinis. Bagaimana tidak: Fahri adalah muslim yang sangat baik, sekolah agama di Kairo, aktifis, bisa sembilan bahasa berbeda, pintar, sabar, baik hati, berperasaan halus, disukai banyak perempuan, dan ketika sudah menikah, dapat istri kaya raya (jadi tidak usah susah-susah kerja -meskipun diceritakan bahwa Fahri tidak ikhlas istrinya lebih kaya-), cantiknya mirip bidadari, mau mencari bukti bahwa suaminya tidak bersalah, dan&#8230; (yang paling penting) istri yang cantik bak bidadari inilah yang <em>memaksa</em> Fahri untuk menikahi perempuan yang sebenarnya dicintai Fahri, yaitu Maria. Belum berhenti sampai di situ, diceritakan pula, Fahri akhrinya bisa menarik Maria masuk ke agama Islam. Bukankah ini semua yang diinginkan muslim (sekali lagi, bukan &#8216;muslimah&#8217; yang saya bicarakan). Kisah poligami Fahri juga sepertinya mau cari &#8216;aman&#8217; (atau lebih tepatnya dibuat &#8216;aman&#8217; oleh penulisnya. Di film, Hanung justru berusaha membuatnya untuk tidak terlalu &#8216;aman&#8217; dari konsekweksi poligami): diceritakan Fahri sebetulnya tidak mau menikah lagi, yang memaksa adalah istrinya. Lalu, setelah dinikahi, tak lama kemudian Maria meninggal dunia. Duh&#8230; berutung sekali ya jadi Fahri! Inilah sebabnya, bagi saya AAC adalah gambaran sempurna hidup seorang muslim (bukan muslimah).<br />
<img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/aac2.jpg" alt="" align="left"/></p>
<p>Di infotainment, Habiburrahman El Shirazy (novelis AAC), berkomentar akan film ini; bahwa Hanung tidak sepenuhnya mengerti isi novelnya, terutama karena perubahan-perubahan yang ada di dalam film. Dakwah dan keindahan diksi yang ada di novel juga jadi tidak terlalu jelas di film. Saya kira, Hanung (sutradara AAC) punya banyak alasan kenapa ia menerjemahkan novel ke dalam film sedemikian rupa. Hanung lebih mengerti bahasa gambar ketimbang Habiburrahman, itu sudah pasti. Dan semua orang juga tahu, bahwa kata-kata tidak bisa seluruhnya diterjemahkan ke dalam gambar, begitu pula sebaliknya. Habiburrahman mungkin ingin idealis sebagai novelis yang bukunya diterjemahkan ke dalam gambar. Berulang kali para sineas ingin membeli novel karya Pramoedya Ananta Toer untuk dijadikan film, dan itu bukan hanya sineas Indonesia. Berulang kali pula Pram menolak dengan alasan yang sangat &#8216;idealis&#8217;. Saya pikir, jika seorang penulis begitu yakin tulisannya sangat bagus, dan akan diubah-ubah sedemikian rupa oleh sineas, ia berhak untuk menolak perubahan itu, atau bisa lebih ekstrem; menolak sekalian. Belum lama saya menonton film <em>Love in the Time of Cholera</em> yang dibuat berdasarkan novel karya Gabriel Garcia Marquez. Di film itu, kolera sepertinya hanya menjadi tempelan dan yang utama adalah kisah cinta tokoh-tokoh yang ada. Ini tentu sangat berbeda dengan novel aselinya. Saya, sebagai penonton, juga kecewa (mungkin seperti kecewanya para penggemar novel AAC). Tapi toh Marquez tidak pernah berkoar-koar betapa kecewanya ia pada hasil akhir filmnya. Ia menghormati keputusan sineas pembuat filmnya dan (yang paling penting) menghormati kontrak, mengingat Marquez toh dibayar pula agar novelnya dibuat film.</p>
<p>Tokoh yang saya sukai (dan menurut saya sekali lagi Hanung membuat keputusan yang cerdas) yaitu tokoh teman penjara Fahri. Di antara semua karakter yang ada di dalam filmya, dialah kasting favorit saya. Di dalam novel, ada empat orang rekan sepenjara Fahri yang memainkan peranan berbeda-beda. Ia sepertinya bermain-main dengan metafora iblis, malaikat, keduaniawian, keakhiratan yang diwakili oleh empat tokoh yang berbeda. Sedang di dalam film semua hanya diwakili oleh satu tokoh; rekan sepenjara yang bisa berlaku gila, layaknya iblis hingga menjadi malaikat yang mengingatkan Fahri akan keikhlasan. Kasting rekan sepenjara Fahri berakting bagus, bagi saya, malah mungkin yang paling bagus di antara kasting lainnya yang kelihatannya cenderung sinetron. Untungnya pengambilan gambar dan <em>grading </em>film ini bagus, jadi kasting yang cukupan bisa ditutupi.</p>
<p>P.S.<br />
Kembali ke soal Aa&#8217; Gym&#8230;. Sayang, romantismenya dengan kedua istrinya tidak seindah kisah Fahri, meskipun sudah cukup Islami.</p>
<p>=====</p>
<p><strong>Update:</strong><br />
<em>Blaik&#8230;! </em>Ternyata musik latar di film AAC jiplakan! Baca selengkapnya <a href="http://takhsin.blogspot.com/2008/03/ayat-ayat-kecewa.html">di sini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/romantisme-islami-ayat-ayat-cinta-89.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

