
Joseph Fiennes, pemeran William Shakespeare dalam film Shakespeare in Love
Hah?! Broken home? Ya, broken home!
Continue Reading »

Hah?! Broken home? Ya, broken home!
Continue Reading »


Saya tidak akan pernah lupa nasihat ibu saya, “nyalakan air jika bak kamar mandi kosong. Isikan sampai sedikit meluber, tapi jangan biarkan air di kamar mandi terbuang banyak karena kran tak dimatikan.” Bagi ibu saya, itu bukan sekedar nasehat berhemat air, itu juga falsafah hidupnya. Menyalakan air kran kamar mandi adalah metafora rejeki. Jika tampungan kosong maka rejeki harus diisi sampai penuh dan sedikit meluber (luberan air yang sedikit itu melambangkan ‘pembersihan’). Tapi tidak boleh membuang rejeki dengan sia-sia (kran tak dimatikan). Sampai sekarang saya selalu mematikan kran air, sekaligus risih dengan kran yang tak dimatikan baik itu di rumah sendiri atau di tempat-tempat umum.
Continue Reading »

Jika banyak orang bilang bahwa tokoh Fahri dalam novel Ayat-Ayat Cinta sangat sempurna, maka saya berkata bahwa novel ini berusaha berkisah sebuah kehidupan Islami yang sempurna dari seseorang muslim (bukan ‘muslimah’, melainkan ‘muslim’). Menonton film Ayat-Ayat Cinta seraya mengingatkan saya pada Aa’ Gym. Ingat sebelum Aa’ Gym menikah untuk yang kedua kalinya? Semua ibu-ibu serasa memuja dia sebagai ‘laki-laki yang sempurna’. Setelah ia berpoligami, tiba-tiba pamornya turun drastis. Sekeras apa pun Aa’ Gym mencoba memperbaiki ‘kesalahannya’ ini, cacat tetaplah cacat. Di mata ummatnya ia bukan lagi sempurna, meskipun di program tv Kick Andy dibela-belain pake acara nangis segala.
Saya tidak tahu, apa sebenarnya yang ada di dalam pikiran muslim (sekali lagi, ‘muslim’… bukan ‘muslimah’) kita. Selama ini kita terlalu sibuk berkoar-koar mencari tahu: apakah surat An-Nisa itu sebetulnya memperbolehkan poligami atau tidak. Tapi, bagaimana dengan apa yang ada di isi kepala kaum muslim itu sendiri? Apakah mereka ingin poligami? Atau tidak ingin, meski istrinya (seperti halnya Aisya dalam novel AAC) sudah menyuruhnya menikah lagi.
Continue Reading »

Masyarakat Samin adalah suku pedalaman yang ada di daerah Blora, kota kecil di Jawa Tengah. Sebagai orang yang sempat tinggal di daerah Jawa Tengah, saya lumayan akrab dengan kata “samin”. Kata ini biasanya berkembang fungsinya dalam percakapan sehari-hari sebagai ejekan yang artinya “gila”.
Continue Reading »

Belum lama, seorang teman datang berkunjung. Ada yang menarik yang dibawanya, film pendek buatannya!
Alkisah, seorang gadis buta yang hidup dengan mendengar dan meraba. Hidupnya kesepian meski ia datang dari keluarga berada, ibunya telah meninggal dan ayahnya terlalu sibuk dengan pekerjaan. Di tempat lain, seorang preman yang tuli dan gagu merencanakan untuk merampok sebuah rumah; rumah tempat tinggal gadis buta. Suatu hari, ketika gadis buta sedang sendirian, pencuri itu masuk. Interaksi kemudian terjadi, antara gadis buta yang mengira perampok itu adalah ayahnya dan perampok tuli/gagu yang tak mau menyakiti gadis buta tersebut.
Continue Reading »