Saya menyebut novel Gerhana Kembar karya Clara Ng sebagai novel tentang lesbian tanpa pretensi yang mencurigakan. Novel ini bercerita tentang Fola dan Henrietta, sepasang lesbian yang menjadi tokoh utama. Dua plot utama yang ada pada novel ini yaitu pada tahun ‘60-an dan pada tahun 2008. Cerita diawali dengan pertemuan Fola dan Henrietta. Pada bab berikutnya, pembaca baru tahu bahwa Fola dan Henrietta adalah tokoh fiktif sebuah naskah berjudul “Gerhana Kembar” yang tengah dibaca oleh Lendy, pada tahun 2008. Sedikit demi sedikit, terkuak bahwa naskah “Gerhana Kembar” ditulis oleh Diana, nenek Lendy yang tengah sekarat, dan cerita itu berdasarkan pengalaman Diana dengan Selina, pasangan lesbinya ketika muda.
Ini gambar fotoku yang dibikin gaya gambar film “Juno”. Dibikin oleh Eka.
- Fotograger dan objeknya
Bapak penjual buah jadi model dadakan. Honornya: buahnya kami beli ya, Pak....
- Bajaj ngguling
Bajaj ngguling, keberatan bawaan, biar lagi susah, tetap aja fotografer jepret-jepret! Hi hi hi..., bukannya bantuin.
- Bapak-anak, fotografer semua
Anak ini umur 4 tahun, tapi bisa moto keren. Jadi malu.... Ngomong-ngomong ada 3 anak kecil yang ikutan bapaknya jalan sambil jepret-jepret. Sambil hunting foto, sambil membina quality-time bapak dan anak.
- Akhirnya kesampaian juga moto Pasar Baroe
- hunting foto sampe naik2 jembatan
Kalo ini, para fotografer yang ikutan street hunting.
- Ini nih, oknum yang ngajak saya street hunting
Husni lagi moto.
- Saya grab satu foto milik Wiwin Yulius
Update (30 Juni 2008): Saya grab satu foto milik Wiwin Yulius, anak fotografer.net. Ini foto keluarga (plus saya ikut-ikutan hi hi hi) sebelum berangkat hunting di Gambir, yang ikutan total 111 peserta. Silakan baca liputan yang ditulis Palty Osfred Silalahi klik di http://www.fotografer.net
Hari ini, saya diajak Husni Munir street hunting foto bersama teman-teman fotografer.net. Sejak malam sebelumnya, Husni memang sudah nginep di tempat saya. Maklum, rumah dia rada nun jauh di sana, jadi daripada bangun kepagian buat ngumpul di Gambir, mending pilih bermalam di rumah saya. Dari kemarin-kemarin Husni sudah manas-manasi saya biar terkontaminasi kamera juga. Tapi sengaja, saya jauh-jauh kalo dia lagi provokasi. Gak apa-apa deh jadi objek dia latihan aja, ketimbang saya kena racun kamera: soalnya kalo pengen harganya lumayan mahal (hiks).
Di ultah komunitas milis sastra ke-3, apresiasi-sastra@ yahoogroups.com, teman-teman yang biasanya ngobrol di dunia maya kali ini kopi darat. Di Japan Foundation, teman-teman Apsas bertemu dan bersastra; mulai dari launching buku, pertunjukan teater, diskusi, monolog, sampai baca puisi yang dulu pernah diposting ke milis oleh anggota-anggotanya. Ada acara potong tumpeng segala lho!
- Nasi Kuning
Gambar di atas adalah contoh tumpeng yang udah ancur, dimakan anak-anak Apsas! Setelah sebelumnya dipotong oleh Pak Rahmat Ali, anggota milis apsas paling senior.
- Nyanyi Beatles
Kelompok band ini… apa ya namanya? Lupa. Yang pasti mereka menyanyikan lagu-lagu The Beatles di sela diskusi buku-buku Haruki Murakami, termasuk lagu Norwegian Wood, yang diadaptasi jadi judul novel karya Haruki Murakami.
- Hamsad Rangkuti
Bang Hamsad Rangkuti baca salah satu cerpennya. Konon, cerpen-cerpennya sekarang sudah bisa diakses lewat SMS lho!
- BK and the Band
Ini fotonya BK dan kelompok band-nya. Apa namanya Band 310 juga (seperti nama kelompok teaternya)?
- Monolog "Cantik itu Luka"
Maya, memonolog Cantik Itu Luka (karya Eka Kurniawan). Dia berperan sebagai Dewi Ayu, tokoh dalam novel itu. Sutradaranya Bung Kelinci! Model tenar dari milis Apsas :)
- Shiho Sawai
Shiho Sawai, peneliti komunitas sastra Indonesia dari Jepang yang sekarang tinggal di Indonesia, jauh-jauh dari Jogja untuk datang ke ultah Apsas. Dia juga jadi pembicara untuk sesi diskusi Karya Sastra Terjemahan














