<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ratih Kumala's Little Blog &#187; Gallery</title>
	<atom:link href="http://ratihkumala.com/blog/category/gallery/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ratihkumala.com</link>
	<description>The Only Constant is Change</description>
	<lastBuildDate>Fri, 25 Jun 2010 09:47:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Gerhana Kembar, Sebuah Perspektif</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/gerhana-kembar-sebuah-perspektif-245.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/gerhana-kembar-sebuah-perspektif-245.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Aug 2008 05:32:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gallery]]></category>
		<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[On Writing]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Short Stories]]></category>
		<category><![CDATA[Clara Ng]]></category>
		<category><![CDATA[Gerhana Kembar]]></category>
		<category><![CDATA[Lesbian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=245</guid>
		<description><![CDATA[Saya menyebut novel Gerhana Kembar karya Clara Ng sebagai novel tentang lesbian tanpa pretensi yang mencurigakan. Novel ini bercerita tentang Fola dan Henrietta, sepasang lesbian yang menjadi tokoh utama. Dua plot utama yang ada pada novel ini yaitu pada tahun &#8217;60-an dan pada tahun 2008. Cerita diawali dengan pertemuan Fola dan Henrietta. Pada bab berikutnya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/clara2.jpg" rel="lightbox[245]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/clara2.jpg" alt="" title="clara2" width="400" height="533" class="alignleft size-full wp-image-250" /></a></p>
<p>Saya menyebut novel Gerhana Kembar karya Clara Ng sebagai novel tentang lesbian tanpa pretensi yang mencurigakan. Novel ini bercerita tentang Fola dan Henrietta, sepasang lesbian yang menjadi tokoh utama.  Dua plot utama yang ada pada novel ini yaitu pada tahun &#8217;60-an dan pada tahun 2008. Cerita diawali dengan pertemuan Fola dan Henrietta. Pada bab berikutnya, pembaca baru tahu bahwa Fola dan Henrietta adalah tokoh fiktif sebuah naskah berjudul &#8220;Gerhana Kembar&#8221; yang tengah dibaca oleh Lendy, pada tahun 2008. Sedikit demi sedikit, terkuak bahwa naskah &#8220;Gerhana Kembar&#8221; ditulis oleh Diana, nenek Lendy yang tengah sekarat, dan cerita itu berdasarkan pengalaman Diana dengan Selina, pasangan lesbinya ketika muda.<br />
<span id="more-245"></span><br />
Dalam novel novel sebelumnya, Dim Sum Terakhir, Clara Ng mengisahkan pertemuan empat perempuan kembar yang tiba-tiba harus pulang ke rumah masa kecilnya karena papanya terserang stroke. Di sini, keempat tokoh utama dihadapkan pada &#8216;hantu&#8217; masa lalu dan ketakutan masa depan. Papa yang sakit, yang sejak awal menjadi pemicu cerita, akhirnya meninggal dunia setelah koma. Novel ini mengambil latar kaum Tionghoa di Indonesia. Mengutip endorsment Putu Fajar Arcana untuk Dim Sum Terakhir, &#8220;Clara Ng barangkali novelis Indonesia pertama yang membeberkan persoalan-persoalan seputar keturunan Tionghoa tanpa prasangka.&#8221; Nah, seperti itu pulalah persaan saya ketika membaca Gerhana Kembar. Dengan tema besar lesbianisme, yang notabene masih sensitif di negara kita, Clara Ng bertutur tanpa prasangka. Ia seolah-olah ia tak ingin memberi jarak antara tulisannya dengan pembaca. Adegan ciuman pertama sepasang lesbian, misalnya, mampu Clara diceritakan dengan sangat lumrah. Pembaca dapat merasakan femininitas sekaligus maskulinitas yang muncul pada tokoh Henrietta. Anehnya, pembaca tidak merasa &#8216;jijik&#8217; jikapun ada seorang yang mungkin homofobia. Clara dengan sengaja mengesampingkan pendapat pembaca yang mungkin negatif terhadap kaum homoseksual. Dengan &#8216;berpretensi baik&#8217; terhadap semua orang, Clara justru berhasil memperkenalkan sisi lesbianisme kepada masyarakat umum. </p>
<p>Ada benang merah dalam kedua struktur perceritaan Dim Sum Terakhir dan Gerhana Kembar. Tokoh &#8216;orang sakit&#8217; telah menjadi tokoh yang –baik disadari atau tidak- digemari oleh penulis. Tokoh ini menjadi penting dalam kedua novel tersebut sebab menjadi &#8217;cause&#8217; keseluruhan cerita  (di dalam Dim Sum Terakhir, ada tokoh &#8216;papa&#8217; yang stroke, sedang di dalam Gerhana Kembar, tokoh Diana yang sedang sekarat). Struktur macam ini kerap digunakan oleh penulis-penulis populer Amerika, penulis-penulis yang ingin berkisah tentang belajar memaafkan dan memaklumi. Dalam Wednesday Letters karya Jason F. Wright, misalnya: Mathew, Samantha dan Malcolm, tiga bersaudara yang punya kehidupan sendiri-sendiri &#8220;dipaksa&#8221; pulang oleh sebab kematian orangtuanya, kematian inilah yang menjadi &#8217;cause&#8217;. &#8216;Effect&#8217;-nya (tentu saja), masing-masing tokoh dipaksa menghadapi persoalan yang sudah lama timbul di antara mereka.</p>
<p>Sebagai seorang pendongeng, Clara Ng tahu apa yang ingin dia ceritakan. Sebagai seorang novelis, ia adalah penulis yang mampu menulis dengan ritme sangat stabil dari awal sampai akhir. Pembaca tak akan menemukan ritme yang tiba-tiba terlalu cepat atau terlalu lambat hingga membuat bosan. Ia sangat tahu apa yang harus ditulis untuk membuat pembaca merasa ikut berempati pada sepasang lesbian yang sedang jatuh cinta. Clara bukanlah penulis yang &#8216;genit&#8217;, meski di beberapa bagian ia tergoda juga untuk menggunakan metafora-metafora, khususnya dalam surat-surat cinta Henrietta untuk Fola. Tapi kesemuanya tidak berlebihan, dan tidak membuat pembaca &#8216;mabuk&#8217;. Justru pembaca jadi sangat maklum kenapa ia meletakkan metafora itu di situ: sebagai bentuk rayuan seorang kekasih. Lebih dari itu, Clara juga bukan penulis yang &#8216;cerewet&#8217;. Agaknya ia sama sekali tidak tergoda untuk berkhotbah membela hak-hak kaum homoseksual. Padahal jika mau, ia bisa &#8220;membela diri&#8221; (baca=membela tokoh homoseksual).</p>
<p>Untuk dua novel yang sama-sama mengangkat tema lesbianisme, gaya penceritaan Clara Ng sangat berbeda dengan Herlinatiens dalam novel Garis Tepi Seorang Lesbian. Novel yang terbit tahun 2003 lalu, sempat menjadi banyak perdebatan karena membuka gamblang kehidupan seorang lesbian. Psikologi tokoh yang dibangun Herlina, antara amarah, sikap berontak, sekaligus kasmaran sangat terasa di banyak tempat. Pembaca dapat merasakan itu semua sekaligus (pada akhirnya, khusunya untuk mereka yang bukan homofobia) memakluminya sebagai bentuk perlawanan tokoh yang terjepit keadaan. Sedang, dalam Gerhana Kembar, campur aduk emosi macam itu tak akan ditemui pembaca. Clara jauh lebih cool meski tema yang ia angkat sangat mampu diperdebatkan. Belum lagi latar tahun &#8217;60-an yang dipilihnya, tahun yang masih sangat kolot, dan mungkin kata &#8216;lesbian&#8217; belum familiar di telinga kita. Sayangnya, justru karena terlalu cool inilah psikologi tokoh-tokoh dalam Gerhana Kembar jadi kurang tergali. Seorang homoseksual, sebelum ia betul-betul mendeklarasikan diri sebagai seorang homoseks, setidaknya akan mengalami guncangan batin dan &#8220;perang&#8221; dalam dirinya sendiri: apa benar saya homo, atau tidak? Salahkah saya jika saya benar-benar homoseks? Berdosakah saya? Bagaimana pandangan masyarakat dan agama? Kesemua pertanyaan itu absen baik dari tokoh Diana/Fola maupun Selina/Henrietta. Terutama Fola, sebagai tokoh perempuan yang digambarkan sangat konvensional, agak aneh jika tidak mempertanyakan itu semua. Ia begitu saja menerima Henrietta, nyaris tanpa pretensi apa-apa. Fokus kedua penulis ini memang sejak awal sudah berbeda: Clara mentikberatkan pada cerita cinta, sedang Herlina menitikberatan pada satu figur lesbian yang diciptakannya.</p>
<p>Mengenai homofobia, meskipun kata itu muncul beberapa kali di novel ini, tetapi perannya tidak terlalu dominan. Meski demikian, mungkin dengan cara seperti inilah justru cerita homoseksual bisa diterima di masyarakat luas tanpa dihakimi terlebih dahulu di awal, sampai-sampai Kompas mau menayangkannya sebagai cerita bersambung. Saya pikir, meski Clara tak ikut berkoar-koar, niat penulis untuk mengangkat tema tertentu saja sudah menunjukkan bahwa ia peduli. Tujuan Clara yang utama sepertinya cuma satu: bercerita.</p>
<p>Ratih Kumala, penulis<br />
Presentasi @GoetheHaus, 8 Agustus 2008</p>
<p>*) Foto oleh Abdillah Iqbal</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/gerhana-kembar-sebuah-perspektif-245.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gambarku a-la &#8220;Juno&#8221;</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/gambarku-a-la-juno-201.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/gambarku-a-la-juno-201.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jul 2008 19:56:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gallery]]></category>
		<category><![CDATA[Eka Kurniawan]]></category>
		<category><![CDATA[juno]]></category>
		<category><![CDATA[ratih kumala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[Ini gambar fotoku yang dibikin gaya gambar film &#8220;Juno&#8221;. Dibikin oleh Eka.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/ratih_juno.jpg" rel="lightbox[201]"><img class="aligncenter size-full wp-image-202" title="ratih_juno" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/ratih_juno.jpg" alt="" width="400" height="400"/></a></p>
<p>Ini gambar fotoku yang dibikin gaya gambar film &#8220;Juno&#8221;. Dibikin oleh <a href="http://ekakurniawan.com">Eka</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/gambarku-a-la-juno-201.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Street Hunting Komunitas fotografer.net</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/street-hunting-komunitas-fotograferdotnet-186.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/street-hunting-komunitas-fotograferdotnet-186.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jun 2008 14:48:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[Gallery]]></category>
		<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[foto]]></category>
		<category><![CDATA[fotografer.net]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/blog/186-186.php</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini, saya diajak Husni Munir street hunting foto bersama teman-teman fotografer.net. Sejak malam sebelumnya, Husni memang sudah nginep di tempat saya. Maklum, rumah dia rada nun jauh di sana, jadi daripada bangun kepagian buat ngumpul di Gambir, mending pilih bermalam di rumah saya. Dari kemarin-kemarin Husni sudah manas-manasi saya biar terkontaminasi kamera juga. Tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<a href='http://ratihkumala.com/blog/street-hunting-komunitas-fotograferdotnet-186.php/fotograferdanobjek1' title='fotograferdanobjek1'><img width="150" height="150" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/fotograferdanobjek1-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Fotograger dan objeknya" title="fotograferdanobjek1" /></a>
<a href='http://ratihkumala.com/blog/street-hunting-komunitas-fotograferdotnet-186.php/bajaj' title='bajaj'><img width="150" height="150" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/bajaj-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Bajaj ngguling" title="bajaj" /></a>
<a href='http://ratihkumala.com/blog/street-hunting-komunitas-fotograferdotnet-186.php/quality-time' title='quality-time'><img width="150" height="150" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/quality-time-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Bapak-anak, fotografer semua" title="quality-time" /></a>
<a href='http://ratihkumala.com/blog/street-hunting-komunitas-fotograferdotnet-186.php/pasarbaroe' title='pasarbaroe'><img width="150" height="150" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/pasarbaroe-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Akhirnya kesampaian juga moto Pasar Baroe" title="pasarbaroe" /></a>
<a href='http://ratihkumala.com/blog/street-hunting-komunitas-fotograferdotnet-186.php/hunter' title='hunter'><img width="150" height="150" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/hunter-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="hunting foto sampe naik2 jembatan" title="hunter" /></a>
<a href='http://ratihkumala.com/blog/street-hunting-komunitas-fotograferdotnet-186.php/husni' title='husni'><img width="150" height="150" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/husni-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Ini nih, oknum yang ngajak saya street hunting" title="husni" /></a>
<a href='http://ratihkumala.com/blog/street-hunting-komunitas-fotograferdotnet-186.php/fotograferdotnet' title='Big family of fotografer.net, yang ikutan total 111 peserta'><img width="150" height="150" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/fotograferdotnet-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Saya grab satu foto milik Wiwin Yulius" title="Big family of fotografer.net, yang ikutan total 111 peserta" /></a>

<p>Hari ini, saya diajak <a href="http://husnialmunir.multiply.com">Husni Munir</a> <em>street hunting </em>foto bersama teman-teman <a href="http://fotografer.net">fotografer.net</a>. Sejak malam sebelumnya, Husni memang sudah nginep di tempat saya. Maklum, rumah dia rada nun jauh di sana, jadi daripada bangun kepagian buat ngumpul di Gambir, mending pilih bermalam di rumah saya. Dari kemarin-kemarin Husni sudah manas-manasi saya biar terkontaminasi kamera juga. Tapi sengaja, saya jauh-jauh kalo dia lagi provokasi. Gak apa-apa deh jadi objek dia latihan aja, ketimbang saya kena racun kamera: soalnya kalo pengen harganya lumayan mahal (hiks).</p>
<p><span id="more-186"></span></p>
<p>Rada males pagi-pagi harus bangun, sebetulnya. Tapi karena tahu ada tamu yang mau pergi pagi, jadi deh, begitu bangun enggak bisa merem lagi. Saya memutuskan untuk ikutan, mumpung hari Minggu gak ada kerjaan, dan mumpung suami masih merem dimintai ijin manggut-manggut aja (he he). Yang saya tidak mengira adalah: ya ampun&#8230; ternyata rutenya jauuuuuuh. Tiga tahun terakhir tinggal di Jakarta, baru kali ini jalan-jalan pake kaki! Mulai dari Gambir, jalan ke Masjid Istiqlal, terus jalan lagi sampe ke Pasar Baroe, terus lagi sampe ke Atrium Senen. Di sini kira-kira jam 12 siang, jadi makan dulu. Tapi gimana pun, kaki saya sudah keburu gempor. Jadi deh, pulang duluan. Sementara teman-teman fotografer.net masih melanjutkan perjuangan ke Kwitang, dan berakhir di Gambir lagi.</p>
<p>Saya sebetulnya minder ikut-ikutan street hunting. Secara gitu loh, anak-anak fotografer.net! Pasti kameranya bagus-bagus. Tapi biar sah, sengaja saya bawa kamera digital pocket! Ada satu orang lagi yang pake kamera pocket, tapi sumpah&#8230; punya saya yang paling tua! ha ha ha. Malu ah, ngeliatin foto-foto hasil jepretan ke anak-anak fotografer.net :( punya saya jelek-jelek. Itu tuh, hasilnya dijejer di atas. Gitu deh, gak ada yang spesial. </p>
<p>Tapi gimana pun, asik juga ikutan teman-teman fotografer.net meski gak punya kamera. Ini kopi darat yang buat saya baru. Selama ini, kopi darat dengan teman-teman milis sastra, isinya diskusi. Nah, sekarang isinya foto-fotoan he he he.</p>
<p>&#8212;&#8212;</p>
<p><strong>Update (30 Juni 2008):</strong><br />
Saya grab satu foto milik Wiwin Yulius, anak fotografer.net. Ini foto keluarga (plus saya ikut-ikutan hi hi hi) sebelum berangkat hunting di Gambir, yang ikutan  total 111 peserta. Silakan baca liputan yang ditulis Palty Osfred Silalahi klik di <a href="http://www.fotografer.net/isi/forum/topik.php?id=3193851752&amp;p=1">http://www.fotografer.net</a> </p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/street-hunting-komunitas-fotograferdotnet-186.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Happy B&#8217;day Apsas!</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/happy-bday-apsas-63.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/happy-bday-apsas-63.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Feb 2008 13:50:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gallery]]></category>
		<category><![CDATA[Literature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/blog/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[Di ultah komunitas milis sastra ke-3, apresiasi-sastra@ yahoogroups.com, teman-teman yang biasanya ngobrol di dunia maya kali ini kopi darat. Di Japan Foundation, teman-teman Apsas bertemu dan bersastra; mulai dari launching buku, pertunjukan teater, diskusi, monolog, sampai baca puisi yang dulu pernah diposting ke milis oleh anggota-anggotanya. Ada acara potong tumpeng segala lho!  ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di ultah komunitas milis sastra ke-3, <a href="http://groups.yahoo.com/group/Apresiasi-Sastra/"><strong>apresiasi-sastra@ yahoogroups.com</strong></a>, teman-teman yang biasanya ngobrol di dunia maya kali ini kopi darat. Di <a href="http://www.jpf.go.jp/">Japan Foundation</a>, teman-teman Apsas bertemu dan bersastra; mulai dari launching buku, pertunjukan teater, diskusi, monolog, sampai baca puisi yang dulu pernah diposting ke milis oleh anggota-anggotanya. Ada acara potong tumpeng segala lho!</p>

<a href='http://ratihkumala.com/blog/happy-bday-apsas-63.php/nasikuning' title='Nasi Kuning'><img width="150" height="150" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/nasikuning-150x150.gif" class="attachment-thumbnail" alt="Nasi Kuning" title="Nasi Kuning" /></a>
<a href='http://ratihkumala.com/blog/happy-bday-apsas-63.php/nyanyibeatles' title='Nyanyi Beatles'><img width="150" height="150" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/nyanyibeatles-150x150.gif" class="attachment-thumbnail" alt="Nyanyi Beatles" title="Nyanyi Beatles" /></a>
<a href='http://ratihkumala.com/blog/happy-bday-apsas-63.php/hamsadrangkuti' title='Hamsad Rangkuti'><img width="150" height="150" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/hamsadrangkuti-150x150.gif" class="attachment-thumbnail" alt="Hamsad Rangkuti" title="Hamsad Rangkuti" /></a>
<a href='http://ratihkumala.com/blog/happy-bday-apsas-63.php/bkandband' title='BK and the Band'><img width="150" height="150" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/bkandband-150x150.gif" class="attachment-thumbnail" alt="BK and the Band" title="BK and the Band" /></a>
<a href='http://ratihkumala.com/blog/happy-bday-apsas-63.php/monologcil' title='Monolog &quot;Cantik itu Luka&quot;'><img width="150" height="150" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/monologcil-150x150.gif" class="attachment-thumbnail" alt="Monolog &quot;Cantik itu Luka&quot;" title="Monolog &quot;Cantik itu Luka&quot;" /></a>
<a href='http://ratihkumala.com/blog/happy-bday-apsas-63.php/shiho' title='Shiho Sawai'><img width="150" height="150" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/shiho-150x150.gif" class="attachment-thumbnail" alt="Shiho Sawai" title="Shiho Sawai" /></a>

<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/happy-bday-apsas-63.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
