<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ratih Kumala &#187; Genesis</title>
	<atom:link href="http://ratihkumala.com/blog/category/genesis/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ratihkumala.com</link>
	<description>The Only Constant is Change</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Apr 2012 13:52:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Gangguan Kejiawaan Tokoh Ibu dalam &#8220;Genesis&#8221;</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/gangguan-kejiawaan-tokoh-ibu-dalam-genesis-645.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/gangguan-kejiawaan-tokoh-ibu-dalam-genesis-645.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Nov 2010 08:15:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Genesis]]></category>
		<category><![CDATA[ratih kumala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=645</guid>
		<description><![CDATA[Genesis adalah salah satu novel yang dapat dianalisis melalui pendekatan psikologi sastra. Novel karya Ratih Kumala ini menampilkan salah satu tokoh yang mengalami gangguan kejiwaan, yaitu tokoh ibu (ibu dari Pawestri sebagai tokoh utamanya) yang diceritakan terganggu kesehatan jiwanya. Novel Genesis bercerita tentang seorang gadis bernama Pawestri, yang dibesarkan dalam keluarga Katolik yang taat dalam agama. Pada usia 19 tahun ia terpikat dan jatuh cinta dengan seorang pemuda yang kemudian menghamilinya sebelum menikah dan pergi meninggalkannya begitu saja. Kenyataan ini menjadi semacam petir yang menghantam keluarga, sebuah aib yang sungguh tak dapat diterima. <a href="http://ratihkumala.com/blog/gangguan-kejiawaan-tokoh-ibu-dalam-genesis-645.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh <a href="http://irmadanifitri.wordpress.com/2010/10/10/gangguan-kejiwaan-tokoh-ibu-dalam-genesis/">Irma Dani Fitri</a></strong></p>
<p>Secara umum psikologi berarti ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia atau ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala jiwa manusia, sedangkan sastra adalah karya seni yang merupakan ekspresi kehidupan manusia. Menurut Atar Semi Pendekatan psikologi sastra bertolak dari asumsi bahwa karya sastra selalu membahas peristiwa kehidupan manusia. Manusia selalu memperlihatkan perilaku beragam. Bila ingin melihat dan mengenal manusia lebih dalam dan lebih jauh diperlukan psikologi. Semi juga berpendapat bahwa psikologi sastra adalah suatu disiplin ilmu yang memandang karya sastra sebagai suatu karya yang memuat peristiwa-peristiwa kehidupan manusia yang diperankan oleh tokoh-tokoh imajiner.</p>
<p>Genesis adalah salah satu novel yang dapat dianalisis melalui pendekatan psikologi sastra. Novel karya Ratih Kumala ini menampilkan salah satu tokoh yang mengalami gangguan kejiwaan, yaitu tokoh ibu (ibu dari Pawestri sebagai tokoh utamanya) yang diceritakan terganggu kesehatan jiwanya. Novel Genesis bercerita tentang seorang gadis bernama Pawestri, yang dibesarkan dalam keluarga Katolik yang taat dalam agama. Pada usia 19 tahun ia terpikat dan jatuh cinta dengan seorang pemuda yang kemudian menghamilinya sebelum menikah dan pergi meninggalkannya begitu saja. Kenyataan ini menjadi semacam petir yang menghantam keluarga, sebuah aib yang sungguh tak dapat diterima. Problem kehamilannya tanpa suami membuat Pawestri dikutuk oleh ayahnya. Ia tidak diakui lagi sebagai anak, diusir dari rumah, dan dianggap tidak pernah ada dalam keluarga. Sementara ibunya yang tunduk pada otoritas suami hanya dapat diam menahan pedih, tak dapat berbuat apa-apa dengan sikap keras suaminya. Namun kepergian Pawestri perlahan membuat ibunya merasa kehilangan,yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Luka karena kehilangan dan tekanan-tekanan suami membuat ibu Pawestri mulai terganggu kesehatan jiwanya. Ia tak waras lagi dan setiap hari bertingkah laku aneh, berlaku seolah-olah Pawestri ada. Akhirnya ia dibawa ke Rumah Sakit jiwa.<br />
<span id="more-645"></span><br />
Gangguan kejiwaan yang di alami tokoh ibu adalah depresi dan skizofrenia, kemudian tokoh ibu mengalami halusinasi. Penyimpangan pada perilaku tokoh Ibu disebabkan oleh kehilangan seorang anak dan akibat tekanan batin yang di alaminya. Ia tak waras lagi dan setiap hari bertingkah laku aneh, berlaku seolah-olah anaknya Pawestri yang sudah lama meninggalkan rumah, ada didekatnya.<br />
Psikoanalisis Sigmund Freud sebagai suatu pendekatan dapat pula digunakan dalam kaitannya dengan sebuah karya sastra. Utamanya dalam usaha memasuki karakter tokoh-tokoh yang terdapat di dalam suatu karya sastra, psikoanalisis menyentuh unsur dasar dari alam pikir manusia. Pendekatan ini berusaha memahami karya sastra sebagai sebuah kreasi yang tidak dapat dilepaskan dari aspek psikologis. Sigmund Freud adalah tokoh pertama yang menyelidiki kehidupan jiwa manusia berdasarkan pada hakikat ketidaksadaran. Menurut Freud, peran yang sangat penting dipegang oleh ‘yang tak sadar’ tersebut karena semua proses psikis bersumber pada ‘yang tak sadar’.</p>
<p>Pemikiran Freud dalam teori psikologi kepribadiannya mencoba memotret manusia baik dari fisik maupun psikisnya. Dalam teori psikologi kepribadian, Freud membagi struktur kepribadian menjadi tiga unsur, yaitu id, ego, dan superego. Id adalah dorongan-dorongan primitif yang harus dipuaskan. Dengan demikian id merupakan kenyataan subjektif primer, dunia batin sebelum individu memiliki pengalaman tentang dunia luar. Ego adalah kepribadian implementatif yang berupa kontak dengan dunia luar. Ego bertugas untuk mengontrol id. Sedangkan superego adalah sistem kepribadian yang berisi nilai-nilai aturan yang bersifat evaluatif (menyangkut baik/buruk). Superego berisi kata hati yang merupakan wakil dari nilai-nilai tradisional, karena itu superego dapat dianggap sebagai aspek moral dari kepribadian manusia.</p>
<p>Apabila terdapat keseimbangan yang wajar dan stabil dari ketiga unsur (id, ego, dan superego), maka akan diperoleh struktur kepribadian yang wajar dan biasa. Namun, apabila terjadi ketidakseimbangan antara ketiga unsur tersebut, maka akan diperoleh kepribadian yang tidak wajar dan akan muncul neurosis yang menghendaki penyaluran.</p>
<p>Dalam novel Genesis menunjukkan bahwa tidak ada keseimbangan antara id, ego dan superego yang dialami tokoh Ibu. Pendorong id bertentangan dengan kekuatan pengekang superego. Penyimpangan kejiwaan yang di alami tokoh ibu adalah depresi dan skizofrenia, kemudian tokoh ibu mengalami halusinasi. Penyimpangan pada perilaku tokoh Ibu disebabkan oleh kehilangan seorang anak dan akibat tekanan batin yang di alaminya. Depresi biasanya terjadi saat stress yang dialami oleh seseorang tidak kunjung reda, dan biasanya seseorang mengalami depresi akibat suatu kejadian dramatis yang baru saja terjadi atau menimpanya, misalnya kematian atau kehilangan seseorang yang sangat dicintai.</p>
<p>Halusinasi merupakan salah satu gejala yang sering ditemukan pada penderita dengan gangguan jiwa, Halusinasi adalah terjadinya persepsi dalam kondisi sadar tanpa adanya rangsang nyata terhadap indera. Kualitas dari persepsi itu dirasakan oleh penderita sangat jelas dan berasal dari luar ruang nyatanya. Contoh dari fenomena ini adalah di mana seseorang mengalami gangguan penglihatan, di mana dia merasa melihat suatu objek, namun indera penglihatan orang lain tidak dapat menangkap objek yang sama.</p>
<p>Dalam novel Genesis halusinasi yang dialami tokoh ibu tampak pada dialog berikut yang dikutip dari novel; Semua berjalan lancar-lancar saja seperti siang sebelumnya sehingga ibu tiba-tiba berkata kepada piring Westri yang masih utuh dengan makanan tak tersentuh; makanmu kok cuma segitu, nambah ya Wes? Dan ibu mengambilkan lagi secentong nasi serta lauk perkedelnya. Setelah itu ibu kembali sibuk dengan makanannya sendiri. (Kumala. 2005: 98). Dialognya yang lain; Kadang ibu berteriak marah pada dirimu. Memperingatimu agar jangan bermain gunting, jangan dekat-dekat kompor, jangan keluar terlalu sore sebab tak baik bagi anak perempuan. Seingatku, ibu bahkan tidak pernah menasehatimu sebegitu rupa saat kau masih benar-benar ada di rumah ini. (Kumala. 2005: 105).</p>
<p>Depresi yang berkepanjangan membuat seseorang rentan mengalami neurosis. Sigmund Freud berpendapat bahwa sumber dari neurosis adalah konflik batin. Neurosis dapat diartikan sebagai suatu gangguan kejiwaan yang mempunyai akar psikologis dengan tujuan menghindari atau mengurangi rasa cemas. Timbulnya neurosis pada kejiwaan manusia disebabkan oleh kesalahan penyesuaian secara emosional karena tidak dapat diselesaikannya konflik tak sadar. Penderita neurosis mengalami kecemasan karena adanya konflik yang tidak dapat diatasi secara benar dan akan muncul sesuai dengan tipe kepribadian seseorang. Tokoh ibu dalam novel ini diceritakan sebagai seorang yang tunduk pada otoritas suami hanya dapat diam menahan pedih, tak dapat berbuat apa-apa dengan sikap keras suaminya. Kenyataan bahwa anaknya hamil sebelum menikah menjadi aib yang tidak dapat diterima, membuat Pawestri diusir oleh ayahnya. Kepergian Pawestri perlahan membuat ibunya merasa kehilangan, yang semakin hari semakin menjadi-jadi sehingga membuat ibu Pawestri mulai terganggu kesehatan jiwanya.</p>
<p>Schizofhrenia merupakan penyakit otak yang sanggup merusak dan menghancurkan emosi. Selain karena faktor genetik, penyakit ini juga bisa muncul akibat tekanan tinggi di sekelilingnya. Ada dua gejala yang menyertai schizofrenia yakni gejala negatif dan gejala positif. Gejala negatif berupa tindakan yang tidak membawa dampak merugikan bagi lingkungannya, seperti mengurung diri di kamar, melamun, dan sebagainya. Sementara gejala positif adalah tindakan yang mulai membawa dampak bagi lingkungannya, seperti mengamuk dan berteriak-teriak.</p>
<p>Dilihat dari gejalanya tokoh ibu mengalami skizofrenia negatif, yaitu berupa tindakan yang tidak membawa dampak merugikan bagi lingkungannya, seperti mengurung diri di kamar, melamun, dan sebagainya. Seperti yang terlihat dalam kutipan novel tersebut; Kadang jika kucari di mana pun ibu tidak menyahut, itu berarti ibu sedang menangis di kamarnya. Kudekati dan kutanya kenapa. Tapi jawabannya selalu sama; menggeleng sambil menyebutkan nama Pawestri. (Kumala. 2005: 91). Selanjutnya; Akhir-akhir ini ibu jadi lebih sedih. Rindunya pada Pawestri mulai tidak dapat dibendung. Di antara ketakutannya pada bapak, ibu mulai menciptakan dramanya sendiri. (Kumala. 2005: 93)</p>
<p>Selain itu, tokoh ibu dalam novel ini diceritakan tidak hanya mengalami gejala skizofrenia negatif, tetapi juga mengalami gejala skizofrenia positif yakni adanya tindakan yang mulai membawa dampak bagi lingkungannya, seperti mengamuk dan berteriak-teriak. Bahkan tokoh ibu tidak mengenali lagi wajah anaknya (Pawestri) yang datang mengunjunginya di Rumah Sakit Jiwa. Hal ini terlihat dari kutipan novel berikut yang dipaparkan pada bagian awal cerita; “suster, aku telah menelantarkan anakku. Aku tak berani membantah suamiku yang menganggap anak perempuanku yang nomor satu tidak ada.” (Kumala. 2005: 5). Kemudian gejala skizofrenia positif tersebut jelas terlihat dari kutipan novel berikut; ”PERGI! PERGI! PERGI!” Ibu mulai histeris. Teriak-teriak. Dia mulai menggeleng-geleng kepala keras-keras lalu menjambak-jambak rambutnya sendiri. Perawat dating, membawanya dengan paksa. “PERGI! SEKARANG ADALAH SAATNYA MAKAN SIANG BERSAMA DENGAN ANAKKU! PERGI! JANGAN GANGGU AKU LAGI! PERGI! PERGI!” (Kumala. 2005: 6)</p>
<p>Freud dalam psikoanalisanya menekankan bahwa asal mula timbulnya kekacauan-kekacauan watak, sumber sakit syaraf, terletak lebih-lebih dalam hubungan-hubungan ‘aku’ sebagai obyek dan subyek dengan orang lain. Pendekatan psikologi sastra bertolak dari asumsi bahwa karya sastra selalu membahas peristiwa kehidupan manusia. Manusia selalu memperlihatkan perilaku beragam. Bila ingin melihat dan mengenal manusia lebih dalam dan lebih jauh diperlukan psikologi. Psikoanalisis sebagai suatu pendekatan dapat pula digunakan dalam kaitannya dengan sebuah karya sastra. Utamanya dalam usaha memasuki karakter tokoh-tokoh yang terdapat di dalam suatu karya sastra, psikoanalisis menyentuh unsur dasar dari alam pikir manusia. Demikianlah analisis psikologi sastra dalam novel Genesis karya Ratih Kumala. Dari analisis diatas dapat disimpulkan bahwa psikologi sastra adalah suatu disiplin ilmu yang memandang karya sastra sebagai suatu karya yang memuat peristiwa-peristiwa kehidupan manusia yang diperankan oleh tokoh-tokoh imajiner.</p>
<p><em>Penulis adalah mahasiswa Sastra Indonesia Unand.<br />
Sudah pernah dipublikasikan di Koran Singgalang, Minggu 13 Juni 2010.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/gangguan-kejiawaan-tokoh-ibu-dalam-genesis-645.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Drummer yang Tidak Pamer Drumset</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/drummer-yang-tidak-pamer-643.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/drummer-yang-tidak-pamer-643.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Nov 2010 08:09:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Genesis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=643</guid>
		<description><![CDATA[Dengan alur maju-mundur, Ratih Kumala mengisi celah-celah plot cerita. Cara ini cukup berhasil memberikan informasi kepada pembaca (baca: saya) akan latar belakang masing-masing tokoh beserta kisah masa lalunya. Lewat beberapa bab berisi flashback, saya menemukan alasan-alasan di balik tindakan masing-masing karakter. Mengapa mereka berada pada posisinya sekarang, apa yang mereka cari, dan sebagainya. <a href="http://ratihkumala.com/blog/drummer-yang-tidak-pamer-643.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: <a href="http://satusungai.wordpress.com/2010/03/25/genesis-ratih-kumala-drummer-yang-tidak-pamer-drumset/">Satu Sungai</a></strong></p>
<p><em>Sedikit Review Tak Beraturan</em></p>
<p><img alt="" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/genesis_tbl.jpg" title="Genesis" class="alignleft" width="178" height="252" />Suster Maria Faustina, yang hendak mengabdikan dirinya kepada Tuhan, malah melihat hal yang sama sekali aneh baginya. Kaumnya (umat Kristen) menghabisi nyawa orang Islam hanya karena mereka (Kristen; red) terlalu angkuh menganggap agamanya sendiri yang paling benar dan lainnya adalah salah. Tak jauh pula sebaliknya.</p>
<p>Di Ambon, tempat tujuan Prawesti, nama Suster Maria Faustina sebelum ia dibaptis, ia menemukan banyak sekali kekeliruan. Baik yang terjadi di luar dirinya, maupun yang berkutat dalam batinnya. Perang atas nama agama di luar. Perang pecah pula dalam dirinya, perang antara kepercayaan dan keraguannya akan Tuhan dan agamanya.<br />
<span id="more-643"></span><br />
Suster Maria Faustina memiliki anak bernama Noah, anak yang tidak dilahirkannya sendiri, melainkan melalui rahim seorang perempuan lain bernama Sawitri. Suster Maria Faustina tidak pernah melihat anaknya sampai mereka bertemu di Ambon, ketika Noah tengah bertugas ke sana sebagai anggota tim relawan.</p>
<p>- – -</p>
<p>Dengan alur maju-mundur, Ratih Kumala mengisi celah-celah plot cerita. Cara ini cukup berhasil memberikan informasi kepada pembaca (baca: saya) akan latar belakang masing-masing tokoh beserta kisah masa lalunya. Lewat beberapa bab berisi flashback, saya menemukan alasan-alasan di balik tindakan masing-masing karakter. Mengapa mereka berada pada posisinya sekarang, apa yang mereka cari, dan sebagainya.</p>
<p>Perihal konflik batin masing-masing karakter juga menjadi salah satu hal yang cukup kuat dalam “Genesis”. Penggambaran perasaan dan kegelisahan dalam diri, pikiran-pikiran yang berkecamuk dan mengganggu. Mulai dari Menur- adik Prawesti, Prawesti sebagai Prawesti, Prawesti sebagai Suster Maria Faustina, Sawitri, Noah, Elmira- istri Noah, dan tokoh-tokoh sampingan seperti awak kapal beserta kapten Srigunting hingga dr. Frans yang menyuntikkan kopi ke Suster Maria Faustina hingga ia menjadi menderita dan akhirnya terpaksa disuntik mati.</p>
<p>Pemanfaatan tokoh-tokoh secara optimal, itulah juga yang dilakukan oleh Ratih Kumala. Tak ada tokoh yang kehadirannya terasa sia-sia. Ini lagi-lagi yang saya sukai dari penulis cerita, khususnya novel. Ibarat seorang drummer, saya geli dan benci sekali dengan drummer yang sok-sokan pamer memasang drumset super-duper-lengkap dengan cymbal dan tom yang aduhai-alamak-beraneka-ragam-macamnya tapi ternyata ketika ia bermain yang dipakai hanyalah 1 snear, 1 hi-hat, 1 bass, 2 cymbal, 2 tom, dan 1 floor-tom, set standar!</p>
<p>Namun entah kenapa bagi saya ending “Genesis” kok terasa kurang nendang ya?</p>
<p>Ah, apalah, saya hanya pembaca yang rewel dan banyak komentar ini. Hahaha..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/drummer-yang-tidak-pamer-643.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perempuan dan Kebebasan Memaknai Hidup: Mengais Hikmah Filosofis di Balik Novel Genesis</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/perempuan-dan-kebebasan-memaknai-hidup-mengais-hikmah-filosofis-di-balik-novel-genesis-110.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/perempuan-dan-kebebasan-memaknai-hidup-mengais-hikmah-filosofis-di-balik-novel-genesis-110.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Apr 2008 17:26:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Genesis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/blog/perempuan-dan-kebebasan-memaknai-hidup-mengais-hikmah-filosofis-di-balik-novel-genesis-110.php</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Prass Engky photo by kevindooley, some rights reserved. I. Pendahuluan Filsafat dan sastra mempunyai dasar pijak yang sama,yaitu realitas. Bila filsafat bertolak dari kenyataan lalu diabstraksikan, dicari jati dirinya, hakikatnya, maka sastra mulai dari apa yang ada dalam kenyataan lalu diolah lewat imajinasi. Imajinasi ini ada dalam cipta kemudian dituangkan dalam tulisan atau kata-kata &#8230; <a href="http://ratihkumala.com/blog/perempuan-dan-kebebasan-memaknai-hidup-mengais-hikmah-filosofis-di-balik-novel-genesis-110.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>Oleh: Prass Engky</h3>
<p><center><img id="image111" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/nun400.jpg" alt="Genesis" /><br />
<small>photo by  <a href="http://www.flickr.com/photos/pagedooley/2331236780/">kevindooley</a>, <a href="http://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0/">some rights reserved</a>.</small></center></p>
<h3>I.  Pendahuluan</h3>
<p>Filsafat dan sastra mempunyai dasar pijak yang sama,yaitu realitas. Bila filsafat bertolak dari kenyataan lalu diabstraksikan, dicari jati dirinya, hakikatnya, maka sastra mulai dari apa yang ada dalam kenyataan lalu diolah lewat imajinasi. Imajinasi ini ada dalam cipta kemudian dituangkan dalam tulisan atau kata-kata (Sutrisno,1995: 16). Filsafat dan sastra bisa saling bergandengan. Kita dapat saja berfilsafat lewat sastra, apapun bentuknya. Hal ini telah dilakukan oleh kalangan sastrawan yang mengungkapkan dan mengkritisi realitas tertentu lewat kata-kata/bahasa.</p>
<p>Munculnya novelis-novelis perempuan dalam sastra Indonesia modern antara lain menunjukkan kerinduan dan semangat perempuan untuk menggarap dan mengkritisi realitas dari sudut pandang mereka. Ada muatan filosofi yang ingin diungkapkan lewat karya imajinatif mereka. Dalam tulisan ini, saya ingin ”mengais” (atau tepatnya: menafsir) muatan filosofi dari sebuah novel karya Ratih Kumala, berjudul <em>Genesis</em>. Sesuai dengan judulnya, makalah ini menyoroti tema ”kebebasan perempuan”, yang diperdalam dengan bantuan pandangan eksistensialisme Sartre.<br />
<span id="more-110"></span></p>
<h3>II.  Sekilas Tentang Pengarang dan Judul</h3>
<p>Ratih Kumala (Ratih), seorang novelis muda dalam sastra Indonesia dan tergolong pemula. Ia lahir di Jakarta, 4 Juni 1980, belajar sastra Inggris di Universitas Sebelas Maret-Surakarta. Selain novel <em>Genesis</em> (Insist Press, 2005) yang akan  dibahas dalam makalah ini, ia juga telah menulis novel pertamanya <em>Tabula Rasa</em> (Grasindo,2004). Beberapa cerpennya dimuat di koran dan antologi bersama.</p>
<p>Mengenai Judul ”Genesis” yang dikenakan pada novel keduanya tidak serta-merta diterangkan pengarang. Kita dapat memaklumi kebebasan seorang pengarang sastra dalam memberi judul sastranya. Akan tetapi dari novel ini kita dapat menduga-duga adanya bagian tertentu yang memberi inspirasi penjudulan, yakni dari bagian ”Daur Penciptaan dan Pembinasaan”. Ada kaitan isi bagian ini dengan makna kata ”Genesis”. </p>
<h3>III. Analisis Struktur Novel</h3>
<p><strong>Tema yang disoroti dalam <em>Genesis</em></strong><br />
Dari bahasa novel yang terkesan religius (dengan tokoh utamanya seorang perempuan yang menjadi biarawati Katholik), pertama-tama kita dapat saja menyimpulkan bahwa tema novel <em>Genesis</em> menyentuh persoalan religius/agama. Hal ini didukung oleh adanya penggunaan bahasa-bahasa Kitab Suci (Alkitab, Quran, Baghawad Gita, Mahabrata) yang kerap dipakai sebagai bahan refleksi dan analogia penulis dalam menggarap realitas. Pada poin berikut kita juga bisa menyimpulkan bahwa novel <em>Genesis</em> &#8212; yang sebagian isinya berlatarkan kerusuhan berbau SARA di Ambon&#8211;juga menyoroti tema politik dalam kaitan dengan agama.</p>
<p>Namun bagi saya, kedua tema di atas jika dibahas masing-masing agaknya tidak secara keseluruhan merepresentasikan penggambaran isi novel oleh pengarang. Menurut pemahaman saya novel <em>Genesis</em> secara keseluruhan melukiskan pergulatan seorang perempuan berhadapan dengan tuntutan realitas hidupnya. Realitas itu bervariasi, antara lain problem hidup masa muda, konfrontasi dengan keluarga, menentukan pilihan hidup, konsekuensi dan tanggung jawab panggilan, hingga menghadapi kematian. Dari novel ini kita dapat menangkap dengan jelas perjalanan seorang perempuan menemukan kebebasan eksistensialnya untuk memaknai kehidupan dan kematiannya. Judul makalah saya ”Perempuan dan Kebebasan Memaknai Hidup” terinspirasi oleh tema ini. Poin kebebasan perempuan inilah yang ingin saya soroti, sekurang-kurangnya sebagai sebuah ”pemikiran dan idealisme”pengarang yang tersirat dalam penggambaran kehidupan tokoh utama novel. </p>
<p><strong>Latar/Setting</strong><br />
Hanya ada dua latar/setting yang ditemukan dalam novel <em>Genesis</em>: Jakarta sebagai latar pertama kehidupan tokoh utama sebelum ia menentukan pilihan hidupnya sebagai biarawati, dan Ambon (Maluku) sebagai latar lanjutan di mana ia berkarya hingga akhir hidupnya. </p>
<p><strong>Penokohan</strong><br />
1. Tokoh utama novel :</p>
<li>Pawestri, seorang perempuan muda yang memilih hidupnya menjadi biarawati</li>
<p>2. Tokoh-tokoh pendukung :</p>
<li>Ayah dan Ibu Pawestri, Menur (Adik perempuan Pawestri). Mereka adalahKeluarga Katolik tulen, tinggal di Jakarta.</li>
<li>Sawitri, seorang perempuan sebaya Pawestri yang merelakan rahimnya untuk mengandung dan melahirkan janin dari rahim Pawestri.</li>
<li>Noah, anak yang berasal dari indung telur Pawestri tetapi dilahirkan oleh Sawitri.</li>
<p>3. Tokoh-tokoh tambahan lain/pelengkap cerita </p>
<p><strong>Alur Cerita/Plot</strong><br />
Novel ini menggunakan alur gabungan, dimulai dengan cerita tentang Pawestri yang setelah menjadi biarawati berkunjung ke Jakarta untuk menengok ibunya di Rumah Sakit jiwa. Dari sini cerita bergerak mundur ke masa lalu Pawestri, kemudian perlahan-lahan bergerak maju hingga akhir hidup Pawestri (sesekali mengilas masa lalu). </p>
<p><strong>Gaya Bahasa dan Sudut Pandang</strong><br />
Gaya penceritaan Ratih Kumala dalam novel ini tampak mengalir dengan bahasa yang segar dan mudah dipahami. Kadang-kadang ia selipkan kutipan-kutipan berbahasa Inggris untuk memperkaya plot. Menarik juga bahwa ia pandai mengeksplorasi bahasa-bahasa religius disertai pemakaian kisah-kisah Kitab Suci untuk analogia dan metafora dari realitas yang digarap.</p>
<p>Secara umum kelihatan bahwa dengan sudut pandang orang pertama tunggal ”aku”, Pengarang melalui tokoh-tokoh cerita&#8211;terutama tokoh utama&#8211;bebas membahasakan dirinya dan realitas. </p>
<p><strong>Sinopsis Novel</strong><br />
Pawestri, seorang gadis, dibesarkan dalam keluarga Katolik yang taat dalam agama. Pada usia 19 tahun ia terpikat dan jatuh cinta dengan seorang pemuda yang kemudian menghamilinya sebelum nikah dan pergi meninggalkannya begitu saja. Kenyataan ini menjadi semacam petir yang menghantam keluarga,sebuah aib yang sungguh tak dapat diterima. Problem kehamilannya tanpa suami membuat Pawestri dikutuk oleh ayahnya. Ia tidak diakui lagi sebagai anak, diusir dari rumah, dan dianggap tidak pernah ada dalam keluarga. Sementara ibunya yang tunduk pada otoritas suami hanya dapat diam menahan pedih, tak dapat berbuat apa-apa dengan sikap keras suaminya. Namun kepergian Pawestri perlahan membuat ibunya merasa kehilangan,yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Luka karena kehilangan dan tekanan-tekanan suami membuat ibu Pawestri mulai terganggu kesehatan jiwanya. Ia tak waras lagi dan setiap hari bertingkah laku aneh, berlaku seolah-olah Pawestri ada. Akhirnya ia dibawa ke Rumah Sakit jiwa.</p>
<p>Setelah diusir dari rumah Pawestri bergulat sendiri menyelesaikan persoalannya dengan tinggal sementara di sebuah Kost. Ia kemudian memutuskan untuk memasang iklan, mencari, sekiranya ada seorang perempuan yang dengan ikhlas mau merelakan rahimnya menjadi tempat tinggal bagi jabang bayinya. Kebetulan sekali ada seoang perempuan muda yang telah menikah namun takut berhubungan seks dengan suaminya. Diam-diam ia menawarkan diri menyediakan rahimnya bagi janin Pawestri dan siap untuk melahirkannya. Perempuan itu adalah Sawitri. Atas bantuan seorang dukun ternama,pemindahan janin itu berhasil dilakukan. Pada saatnya Sawitri melahirkan anak laki-laki yang dibri nama Noah, seorang anak yang bukan dari indung telunya sendiri.</p>
<p>Setelah janin lepas dari rahimnya Pawestri berhadapan dengan pergolakan untuk menentukan pilihan hidupnya. Demi mengurangi rasa bersalahnya ia siap mempersembahkan hidup bagi Tuhan saja. Melalui perjuangan yang panjang ia akhirnya dapat diterima sebagai biarawati (suster) pada sebuah tarekat. Setelah beberapa tahun berkaul ia diutus ke Ambon dengan mengenakan nama kebiaraan ”Sr. Maria Faustina”.</p>
<p>Di Ambon dia malah berhadapan dengan resiko hidup-mati oleh karena kerusuhan berbau agama (Islam vs Kristen). Status dan penampilannya yang sangat jelas menunjukkan identitas dirinya sebenarnya sangat membahayakan dia dalam suasana kerusuhan itu. Namun ia nekad dan tak terganggu oleh perasaan takut. Sebuah godaan besar yang timbul oleh karena rasa kesepian dan kedekatan dengan seorang Pastor pun akhirnya dapat dikalahkannya melalui sebuah pergulatan panjang.</p>
<p>Suatu ketika pada remang-remang sore menjelang malam terjadi penyerbuan oleh orang-orang Kristen terhadap perkampungan Muslim yang terletak jauh di pesisir utara Ambon. Suster Faustina memberanikan diri untuk menyusul ke tempat itu hendak meredahkan amarah para penyerbu. Namun di sana ia hanya dapat terbelalak, ngeri meyaksikan adegan pembantaian terhadap orang-orang muslim. Dia menjadi saksi mata dari peristiwa naas itu dan hanya berhasil menyelamatkan seorang bocah yang kehilangan segalanya. Setelah kejadian itu ia tak segera kembali ke biaranya di Ambon yang berjauhan dengan tempat kejadian. Sepanjang malam ia hanya bersama si bocah dalam kesunyian yang mencekam. Keesokan harinya saat berjalan menyusuri pantai, ia berjumpa dengan Kapal Motor”Srigunting”yang membawa bantuan medis untuk korban kerusuhan tersebut.  Sr. Faustina memohon agar diantarkan ke Ambon, dan para kru Srigunting bersedia dengan syarat ia harus bersama-sama mereka dalam pelayanan medis untuk beberapa hari berikutnya. Menjadi sukarelawan di Zona Putih (sebutan untuk wilayah Acang/Muslim) menuntut Sr. Faustina untuk sementara melepaskan busana dan identitas kebiaraannya demi keamanan dirinya. Ia harus menempatkan dirinya sebagai pihak netral. Dengan kejadian pembantaian tersebut timbul berbagai pertanyaan dan pergolakan dalam batinnya yang sampai menghantarnya pada pertanyaan esensial&#8230;di manakah Tuhan&#8230;, mengapa dia membiarkan kejahatan terjadi?</p>
<p>Hari pertama setelah kembali ke Ambon, Sr. Faustina kedatangan pihak keamanan dan membawanya ke Kepolisian. Katanya ia akan dijadikan saksi dari pembantaian beberapa waktu lalu. Namun kenyataan selanjutnya tidak demikian. Ia dijebloskan ke dalam sebuah ruangan tertutup tanpa tahu di mana persisnya letak tempat itu dan tidak juga tahu apa yang dikehendaki dari dirinya. Hari demi hari ia diinjeksi dengan cairan penenang”Pentobarbital”, yang sekaligus membunuhnya secara pertlahan-lahan. Pemberontakan dirinya untuk dibebaskan sama sekali tidak berarti apa-apa. Bahkan pada akhirnya tanpa sadar tubuhnya dihanyutkan ke laut dan terdampar di pantai. Ia ditemukan oleh awak kapal Srigunting yang pernah bersama-sama dengan dia dalam misi ke White Zone, dalam kondisi koma. Dia menjadi korban politik, penghilangan jejak saksi demi kepentingan golongan tertentu? Oleh Kru Srigunting yang dominan atheis, diadakan voting untuk menentukan ajal Pawestri (Sr.Faustina). Euthanasia lewat injeksi cairan akan dilaksanakan untuk mengakhiri penderitaan dan hidup Pawestri. Terakhir, tubuhnya dibuang ke laut. Pawestri telah mati dengan cara yang tak manusiawi. Namun, pada pergulatan akhir sebelum ajal ia mencoba menerima dan memaknai kematiannya secara positif. </p>
<h3>IV. Mengais Hikmah Filosofis di Balik Novel <em>Genesis</em></h3>
<p><strong>4.1. Kebebasan Perempuan dari Sudut Pandang <em>Genesis</em></strong></p>
<p>Pada pembahasan sebelumnya tentang tema, telah dikemukakan bahwa tulisan ini menyoroti kebebasan perempuan dalam hal”memberi arti/makna”pada kehidupannya dari perspektif novel Genesis. Kebebasan perempuan ini terepresentasi dalam lakon tokoh utama Pawestri,dengan segala kharakter yang menyertainya. Maka penggalian hikmah kebebasan ini dimulai dengan menyoroti peristiwa-peristiwa tertentu dalam hidup Pawestri sebagai poin-poin penting yang mengindikasikan lakon kebebasan seorang perempuan dalam memberi arti bagi hidupnya.  </p>
<p><strong>Menghadapi Otoritas Ayah</strong><br />
Berhadapan dengan sikap keras ayahnya, Pawestri justru menemukan dan menyadari dirinya sebagai makhluk perempuan yang disubordinasi. </p>
<blockquote><p>Laki-laki angkuh itu lalu pergi entah ke mana, meninggalkan aku yang tengah berbadan dua. Pada saat yang sama diusir pula aku dari rumah. Aku bukan lagi anak, jelas bukan isteri orang. Aku hanyalah: perempuan.  (Kumala, 2005: 11)  </p>
<p>Makhluk laki-laki memiliki derajat tertinggi dalam hidup&#8230; Mungkin aku dulu telah berbuat salah maka kini dihukum jadi perempuan.  (Kumala, 2005: 17) </p>
<p>&#8230;tak mungkin aku kembali ke rumah orang tuaku. Mereka tak lagi menganggapku ada. (Kumala, 2005: 81) </p></blockquote>
<p>Tumbuhnya kesadaran Pawestri ini menghantar dia menuju pencerahan diri. Ia membutuhkan kebebasan untuk menentukan dan menjalani hidupnya sendiri, tanpa harus bergantung atau takluk pada otoritas keluarga. Menerima kenyataan bahwa ia diusir dari rumah keluarga adalah sikap yang paling  tepat, di mana ia dapat mengaktualisasikan dirinya secara lebih bebas dalam kehidupan yang baru. </p>
<blockquote><p>Aku tak inginkan pertemuan dengan keluarga walaupun aku rindu mereka. Maka aku mulai menata hidupku lagi di tempat orang-orang yang tak menghakimi masa laluku dengan pandangan mereka. Aku ingin punya kehidupan yang baru. (Kumala, 2005: 84) </p></blockquote>
<p>Dengan kesadaran ini pula dapat dikatakan bahwa Pawestri tengah bergerak maju memahami eksistensinya; makhluk bermartabat yang dari kodratnya pantas diterima, dicintai dan dihargai, juga dengan kelemahan dan keterbatasan yang ada. Pawestri telah memberi makna baru bagi dirinya terhadap realitas yang sungguh tak dikehendakinya. Ini adalah cela menuju kebebasan eksistensial yang dirindukan begitu banyak perempuan di dunia. Cela yang membuatnya terbebas dari belenggu adat patriarkhi dan dari kungkungan otoritas keluarga yang konservatif. </p>
<blockquote><p>Diam-diam aku menginginkan sebuah kebebasan; keluar dari rumah dan membuat perjalanan sebagai rumahku yang selalu bisa kusinggahi&#8230;  (Kumala, 2005: 120) </p></blockquote>
<p><strong>Pemindahan Janin</strong><br />
Jika dapat dikatakan sebagai sebuah kebebasan, maka kebebasan yang dimaksud dari keputusan dan tindakan ini perlu digaris bawahi. Sebab pemindahan janin adalah sebuah tindakan melawan kodrat,bentuk pelarian dari tanggung jawab yang tak dapat dibenarkan. Dalam konteks Pawestri keputusan tersebut diambil dengan sadar,tahu dan mau, sebab ia menyadari ada kehidupan baru dalam rahimnya. </p>
<blockquote><p>Star tidak pernah menuntut apa-apa dariku, dia hanya butuh tempat untuk berteduh, sebuah rumah. Dan dia memilih tubuhku sebagai rumahnya. Dia tidak menuntut aku untuk memperhatikannya&#8230;. Dia tidak membuatku mual di pagi hari  ataupun muntah saat sikat gigi.  (Kumala, 2005: 25) </p></blockquote>
<p>Kesadaran tersebut menghantar dia untuk tidak mementingkan diri sendiri dengan mengambil tindakan secara gegabah seperti pengguguran atau aborsi misalnya. Dia mengambil keputusan yang lebih berkadar manusiawi: memindahkan janin ke rahim lain tanpa merusaknya. Hanya dengan bantuan seorang dukun?</p>
<p>Bagi saya, pemindahan janin ini hanyalah sebuah tindakan simbolik; sebuah pemberontakan perempuan oleh dorongan kerinduan untuk bebas, sebebas laki-laki yang seenaknya menghamili dan menunggalkan perempuan tanpa tahu bertanggung jawab. </p>
<p><strong>Menentukan Pilihan Hidup</strong><br />
Lepas dari ikatan keluarga dan beban janinnya, Pawestri sampai kepada kebebasan dirinya yang penuh. Kesadaran akan eksistensinya menghantar dia kepada sebuah pilihan bebas, tanpa tekanan, desakan dan pengaruh pihak manapun. Ia menentukan pilihannya menjadi biarawati. Di sanalah ia menemukan kebebasannya. </p>
<blockquote><p>Aku ingin memulai sebuah hidup yang benar-benar baru&#8230; aku ingin mengabdikan diriku kepada Tuhan.  (Kumala, 2005: 86) </p>
<p>Sebuah keanehan terjadi; aku menggapai kebebasanku dengan mengikat diri dalam selibat.  (Kumala, 2005: 120) </p></blockquote>
<p>Dari poin ini dapat dikatakan bahwa melalui tokoh Pawestri, pengarang ingin mengangkat kesadaran perempuan akan kebebasan menentukan sendiri kehidupannya dan memberi arti padanya. </p>
<p><strong>Menghadapi Konsekuensi dan Resiko dalam Karya</strong><br />
Pilihan hidup yang bebas dari dirinya sendiri menghantar Pawestri kepada penerimaan tugas secara bebas pula. Ia tidak takut menghadapi resiko bahwa Ambon adalah sebuah medan karya yang berbahaya baginya. </p>
<blockquote><p>Aku datang membawa status, sebuah dogma yang sedikit banyak kusesali sekaligus kubanggakan&#8230;  ini bisa saja menjadi senjataku sekaligus titik lemahku, sebab setiap saat jika aku terjebak di tempat yang salah maka akan digorok leherku&#8230; (Kumala, 2005: 69) </p>
<p>Tak kupercaya, aku benar-benar berani pergi ke suatu tempat asing, sendirtian pula. (Kumala, 2005: 71) </p></blockquote>
<p>Dalam pergulatan menghadapi godaan hidup ia tegas menentukan sikap. </p>
<blockquote><p>Ada perang di dalam diriku. Aku harus mengalahkan diriku sendiri. (Kumala, 2005: 78)</p>
<p>Aku menjauhinya karena aku ingin kembali bersetia pada cinta yang sejak awal kuberikan hanya untuk Allah.  (Kumala, 2005: 79)</p></blockquote>
<p>Juga ketika menyaksikan sendiri peristiwa pembantaian, hatinya bergolak menanyai Tuhan. </p>
<blockquote><p>Jangan Kau reka sebuah skenario yang membuatku jatuh tak percaya pada-Mu Tuhanku&#8230;<br />
Telah lama aku menaruh curiga, dan tak cukupkah hukuman yang diberikan kepada manusia?<br />
Bukankah Kau telah dengan sengaja menciptakan kami manusia sebagai boneka mainan-Mu dan menjanjikan Surga atau Neraka bagi mereka yang mengimani-Mu dan yang tidak mengimani-Mu?  (Kumala, 2005: 124) </p>
<p>Jika Kau benar ada, lindungi aku&#8230; (Kumala, 2005: 125) </p></blockquote>
<p>Berbagai pergulatan ini menunjukkan perjuangan Pawestri untuk memberi makna/arti pada pilihan hidupnya sendiri. Ia telah bebas memilih, maka ia dengan bebas dan berani pula menjalaninya. Bukankah ia telah memberi makna pada eksistensi dirinya sebagai makhluk yang bebas memaknai kehidupan sendiri? </p>
<p><strong>Menghadapi Kematian</strong><br />
Fakta bahwa ia menjadi saksi dari peristiwa pembantaian menghantar dia menuju sebuah ruangan gelap, tertutup. Nyawanya dihabisi secara perlahan-lahan dengan injeksi cairan penenang dan dibuang ke laut untuk menghilangkan jejaknya. Namun awak kapal Srigunting menemukannya masih dalam keadaan koma, dan demi mengahkiri penderitaanya dia di-eutanasia. Jazadnya diapungkan di laut pula.</p>
<p>Akhir hidupnya yang memilukan ini diterima dan dimaknai secara bebas oleh Pawestri dalam soliloqui menjelang ajalnya. </p>
<blockquote><p>Jika aku pergi menuju inkarnasiku esok hari, maka buatlah cepat. Aku ingin menjadi Amba yang menceburkan diri ke dalam api agar bisa lahir kembali sebagai Srikandi yang memanah mati Bhisma. Melaksanakan tugas yang belum selesai tuntas. Bukankah malaikat maut yang sebenarnya telah bermofosis menjadi waktu? Semua hanya tinggal menunggu waktu. Dan jika aku telah benar-benar menjadi tinggal seonggok tubuh kosong, biarkan aku bersahabat dengan laut. Ajari aku menjadi ikan yang mampu terbang menuju tujuh lapis langit. (Kumala, 2005: 198) </p>
<p>Beruntunglah aku yang akan ditidurkan bersama jutaan teman-teman baruku, hewan-hewan laut.<br />
Hingga tak perlu lagi merepotkan juru kunci untuk menggali lubang bagi aku dan peti mati.  (Kumala, 2005: 199) </p></blockquote>
<p>Kesadaran untuk memaknai kematian ini dapat dilihat sebagai kesadaran Pawestri akan eksistensinya sendiri. Hidup yang adalah sebuah eksistensi telah diberinya arti melalui seluruh perjuangan, dan usaha untuk menerima dan memaknai kematian adalah puncak kesadaran akan eksistensi itu sendiri. Cara ajal menjemput bukanlah patokan penilaian atas eksistensi seseorang, juga bila dia hanyalah seorang perempuan dalam pandangan dunia.<br />
Menyoroti Kebebasan Eksistensial bersama Sartre</p>
<p>Novel <em>Genesis</em> telah melukiskan gerak kebebasan seorang perempuan untuk memaknai kehidupannya. Bagaimanakah kebebasan ini disoroti dalam filsafat eksistensialisme? Hemat saya, pemikiran Jean Paul Sartre tentang”kebebasan”cukup relevan dalam pembahasan ini. Meskipun ia tidak  secara khusus memberi pandangannya tentang kebebasan perempuan. Ia hanya meletakan dasar pemikirannya tentang kebebasan eksistensial manusia secara umum. Lagi pula jika kita menerima kesamaan martabat laki-laki dan perempuan apakah perlu membedakan kebebasan laki-laki dan kebebasan perempuan? Bukankah itu hanyalah wacana dan produk kebudayaan patriarkhi?</p>
<p>Perlu diketahui bahwa Sartre adalah seorang filsuf atheis. Namun baiklah kita menyoroti pandangannya tentang kebebasan manusia lepas dari pandangan kebebasan radikalnya sebagai seorang atheis. Artinya dalam pembahasan ini hanya dilihat ”kebebasan manusia dalam hubungan antar manusia” (bdk. Muzairi, 2002: 166&#8211;180).</p>
<p>Bagi Sartre, ”manusia itu bebas”, bahkan”manusia adalah kebebasan itu sendiri”. Ke-apa-an dan ke-bagaimana-an manusia tergantung pada kemauan dan kemerdekaannya sendiri (Muzairi, 2002: viii). Sartre menegaskan doktrinnya:”manusia adalah apa yang ia cita-citakan, manusia ada sejauh ia merealisasikan dirinya, dan oleh karena itu ia adalah keseluruhan tindakannya. Manusia bukanlah apa-apa, kecuali apa yang dinyatakan oleh hidupnya” (Sartre, 2002: 73). Dengan pernyataan ini Sartre ingin menegaskan bahwa eksistensi manusia adalah menyangkut keseluruhan rangkaian usaha-usaha yang ia lakukan dalam hidupnya. “Manusia bukanlah siapa-siapa, selain apa yang diperjuangkan dalam hidupnya” (Sartre, 2002: 76). Pernyataan-pernyataan eksistensial ini perlu dipahami dengan baik sebagai dasar untuk memahami kebebasan manusia. Menarik bahwa ia menyoroti kebebasan manusia secara umum dan netral, laki-laki dan perempuan dipandang sama sebagai manusia yang bebas.</p>
<p>Dengan pendasaran ini saya boleh mengatakan bahwa kebebasan perempuan perspektif novel <em>Genesis</em> mendapat afirmasinya dari pemikiran eksistensial Sartre ini. Kebebasan seorang perempuan (sebagai manusia) yang diwakili oleh Pawestri telah menjadi model konkrit dari kebebasan manusia yang digambarkan Sartre. Pawestri telah berjuang untuk memilih, memutuskan dan memaknai kehidupannya secara bebas hingga akhir hidupnya. Ia telah bebas membentuk dirinya seturut apa yang dicita-citakannya, ia telah bebas merealisasikan dirinya dalam panggilan hidupnya, bebas mengekspresikan dirinya dalam seluruh tindakannya. Bahkan lebih jauh ia telah bebas memaknai kematiannya untuk menerimanya sebagai kelanjutan dari hidup. Pawestri telah menggapai eksistensinya sebagai manusia-perempuan yang bebas.</p>
<p>Namun kebebasan yang dimiliki Pawestri bukanlah sebuah kebebasan absolut yang tidak mengandaikan tanggung jawab. Sebab pengandaian bahwa kebebasan terpisah dari tanggung jawab adalah suatu abstraksi yang tak dapat dibenarkan (Muzairi, 2002: 181). Tentang poin inipun Pawestri telah membuktikannya. Tanggung jawab dirinya sebagai manusia yang bebas terpelihara antara lain karena dalam kebebasannya ia tetap memiliki pegangan, dari mana dan ke mana tujuan hidupnya. Kesadaran tentang hal  ini terungkap dalam refleksi terakhirnya yang menutup kisah novel:</p>
<blockquote><p>Tuhan telah memberi, Tuhan telah mengambil (Kumala, 2005: 202). </p></blockquote>
<h3>V.  Penutup</h3>
<p>Dengan memahami novel <em>Genesis</em> secara lebih dalam disertai suguhan filosofi kebebasan Sartre, saya dapat menyimpulkan bahwa novel <em>Genesis</em> (betapapun sederhana kisahnya) telah mengedepankan poin kebebasan perempuan sebagai manusia yang bereksistensi. Tema tentang kebebasan perempuan ini senantiasa relevan untuk segala zaman, juga dewasa ini. Sebab realitas adanya subordinasi perempuan telah membatasi kebebasan perempuan sampai pada tataran eksistensial: penentuan pilihan hidup sendiri dan pemberian makna atasnya. Banyak kali perempuan tersesat dalam lingkaran ini. Maka perlulah kesadaran perempuan untuk menggapai kembali kebebasan eksistensialnya, kebebasan dari segala belenggu ideologi, budaya, dan otoritas patriarkhi.</p>
<p>Perempuan harus keluar dari kepasifan diri sebagai obyek yang serba diatur untuk meraih kembali eksistensinya sebagai subyek yang aktif, yang bebas menentukan sendiri arah kehidupannya. Di sinilah letak sumbangan novel Genesis sebagai sastra yang mau mengangkat kesadaran perempuan akan kodrat kebebasannya sebagai manusia. Semoga saja para pembaca <em>Genesis</em> dapat menangkap hikmah yang tersirat dalam kisah novel ini. Menangkap kerinduan dan idealisme pengarang sebagai seorang perempuan yang hidup pada jaman ini. </p>
<p><strong>KEPUSTAKAAN </strong><br />
Kumala,Ratih.<em>Genesis</em>.Yogyakarta: INSISTPress,2005</p>
<p>Muzairi,H,Drs,MA.<em>Eksistensialisme Jean Paul Sartre;Sumur Tanpa Dasar Kebebasan                        Manusia</em>.Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2002</p>
<p>Sartre,Jean Paul.<em>Eksistensialisme dan Humanisme</em>, terj. Yudhi Murtanto.Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2002</p>
<p>Sutrisno,Mudji,SJ.<em>Filsafat,Sastra dan Budaya</em>.Jakarta: OBOR,1995 </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/perempuan-dan-kebebasan-memaknai-hidup-mengais-hikmah-filosofis-di-balik-novel-genesis-110.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

