From Graphic Novel

Tiga Bayangan, novel grafis

three-shadows_2 Alkisah sebuah keluarga kecil nan sederhana di sebuah desa: Louis sang ayah, Lise sang ibu dan Joachim putera mereka. Kehidupan mereka yang damai tiba-tiba diusik oleh tiga bayangan yang mengikuti Joachim. Sejak itu, apapaun dilakukan kedua orangtuanya ini untuk melindungi anak mereka. Lise mula-mula pergi ke Mistress Pike, seorang paranormal yang mampu ‘membaca’ siapa ketiga bayangan itu. Mistress Pike hanya bisa bilang, “Jangan coba melawan ‘bayangan’ ini… tidak ada gunanya. Nikamti saja setiap saat bersama Joachim, selama ia masih bersamamu.” Demikianlah, akhirnya Louis memutuskan untuk membawa Joachim jauh-jauh, pergi dari desa itu, terus berlari menghindar dari ketiga bayangan itu. Petualangan Louis dan Joachim pun dimulai, mereka ditipu, naik kapal, kena badai,  terdampar, lalu diselamatkan lelaki tua aneh yang berjanji bisa melindungi Joachim apabila Louis menyerahkan hidupnya sebagai imbalan. Lelaki tua itu lalu mengubah Joachim jadi begitu kecil (atau Louis yang jadi begitu besar?!) sehingga bocah itu masuk ke dalam telapak tangan Louis dan terlindungi selamanya dari tiga bayangan yang mengicar.

Harus saya katakan, Tiga Bayangan (Gramedia Pustaka Utama) tidak menyuguhkan happy ending (ups… sory buat yang belum baca). Cerita ini diakhiri dengan kesimpulan: hidup terus berjalan, sesakit apapun masa lalumu. Louis dan Lise punya anak lagi, yang mengggantikan Joachim, meski mereka tak pernah bisa melupakan putranya itu.

Read more

Shakespeare dalam Manga

yhst-51816236815316_2048_41943808 Pertama kali saya berkenalan dengan Shakespeare lewat Romeo and Juliette yang saya toton filmnya di TVRI, ketika itu saya masih SD. Film itu dilengkapi dengan subtitle Bahasa Indonesia yang sangat membantu saya memahami sebab waktu itu saya tidak bisa berbahasa Inggris. Saya tidak tahu siapa itu William Shakespeare, tapi film Romeo and Juliette ketika itu lumayan membekas di benak saya. Beberapa tahun kemudian, saya baru tahu kalau film itu sejatinya diangkat dari karya seseorang yang bernama William Shakespeare. Beberapa tahun kemudian (lagi) saya juga baru tahu kalau karya Shakespeare itu bukan novel, novelet atau cerpen, melainkan naskah drama teater. Kesimpulannya: saya lumayan lambat mengenal siapa itu Shakespeare, hehehe….

Ketika kuliah di jurusan Sastra Inggris, agaknya rada memalukan kalau tidak mengenal karya-karya Shakespeare. Terlebih lagi karena dosen-dosen saya kerap menyebut-nyebut namanya. Saya sempat ke perpustakaan kampus dan membaca buku William Shakespeare, dan hasilnya … (sejujurnya) saya bingung! Bahasa yang digunakan masih jadul (atau ‘klasik’, sebutan yang lebih elegan). Bahasa Inggris klasik tidak pernah benar-benar diajarkan di kampus saya. Untuk memahami sebuah kalimat berbahasa Inggris klasik, saya waktu itu bolak-balik membuka kamus, lumayan melelahkan. Mungkin ini adalah pengakuan dosa paling blak-blakan yang pernah saya lakukan: sewaktu jadi mahasiswa Sastra Inggris, saya lebih suka menonton film yang diangkat dari karya William Shakespeare ketimbang membacanya (semoga Tuhan mengampuni saya). Kisah-kisah yang ditulis Shakespeare bagi saya lebih mudah dipahami dengan menonton televisi. Satu-satunya kalimat yang paling saya ingat dari Shakespeare adalah “what’s in a name?” (apalah arti sebuah nama?) Ketika Juliette ngomong sendiri di jendela kamarnya, sementara Romeo nguping setelah tresspassing dengan cara lompat pagar. Lain itu, tidak. Alhasil dari menonton itu adalah: saya mengetahui jalan cerita karya-karya Shakespeare, tapi tidak menghapal kalimat per kalimat -ini adalah hal yang lumayan memalukan sebagai seorang lulusan Sastra Inggris-. Mungkin saya satu-satunya orang yang mengakui hal (memalukan) ini; tapi saya tahu tidak sedikit mahasiswa Sastra Inggris (di Indonesia) yang melakukan hal sama seperti saya. Hanya saja mereka masih punya harga diri untuk tidak mengakuinya hehehehe.

Read more

CHE: Sebuah Biografi Grafis

“Che Guevara adalah manusia paling lengkap pada masanya.”
(Jean Paul Sartre)

Sejak kematiannya pada tahu 1967, Ernesto “Che” Guevara telah menjadi ikon dan figur dengan citra sangat terkenal di dunia. Gambar Che terpampang di mana-mana; poster, buku, topi, pin, kotak rokok, sampul kaset, dan yang paling banyak, T-shirt. Tapi kenyataannya, banyak orang yang memakai kasor bergambar Che tidak mengetahui siapa sebenarnya Che Guevara.

Biografi grafis (baca: komik) yang digambar dan ditulis berdasarkan riset oleh Spain Rodriguez ini memberi nafas baru pada sejarah dan perjuangan Che. Buku ini menyoroti kehidupan Che serta pengalaman yang membentuk karakternya. Dari perjalanan naik sepeda motor ke Amerika Latin, saat menduduki posisi penting sebagai pimpinan di gerakan revolusioner Fidel Castro, perjalan di Afrika, keterlibatan dengan pemberontakan di Bolivia yang berujung pada kematiannya, hingga warisan luar biasa yang ia tinggalkan untuk dunia.
Read more

Epileptik


“Ya, dia anakku. Dia sakit.”

Bagaimanakah sebuah penyakit bisa mempengaruhi hidup sebuah keluarga? Bagi keluarga Beauchard penyakit yang diderita anak tertua mereka lama kelamaan berlaku selayaknya kompas; menunjukkan ke arah mana keluarga ini akan pergi. Jean-Christope menderita epilepsi sejak kecil. Ia bisa terserang hingga tiga kali sehari, tanpa mengenal waktu maupun tempat. Jika serangannya terjadi, ia tiba-tiba menjadi lumpuh, pandangannya tak tentu, tak punya kontrol terhadap dirinya sendiri, air liurnya pun tumpah. Lalu, jika ini terjadi di tempat-tempat umum (dan kebetulan sering), maka orang-orang akan mengerumuninya. Dengan tatapan heran, jijik, takut, sekaligus bersemangat, orang-orang bergumam-gumam, mengata-ngatainya gila, perlu dibawa ke RSJ, kesurupan, atau paling bagus, ia dituduh idiot.
Read more