<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ratih Kumala's Little Blog &#187; Graphic Novel</title>
	<atom:link href="http://ratihkumala.com/blog/category/graphic-novel/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ratihkumala.com</link>
	<description>The Only Constant is Change</description>
	<lastBuildDate>Fri, 25 Jun 2010 09:47:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Tiga Bayangan, novel grafis</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/tiga-bayangan-novel-grafis-517.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/tiga-bayangan-novel-grafis-517.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 09:39:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Graphic Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[cyril pedrosa]]></category>
		<category><![CDATA[three shadows]]></category>
		<category><![CDATA[tiga bayangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=517</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah sebuah keluarga kecil nan sederhana di sebuah desa: Louis sang ayah, Lise sang ibu dan Joachim putera mereka. Kehidupan mereka yang damai tiba-tiba diusik oleh tiga bayangan yang mengikuti Joachim. Sejak itu, apapaun dilakukan kedua orangtuanya ini untuk melindungi anak mereka. Lise mula-mula pergi ke Mistress Pike, seorang paranormal yang mampu &#8216;membaca&#8217; siapa ketiga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-519" title="three-shadows_2" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/three-shadows_2.jpg" alt="three-shadows_2" width="500" height="375" /> Alkisah sebuah keluarga kecil nan sederhana di sebuah desa: Louis sang ayah, Lise sang ibu dan Joachim putera mereka. Kehidupan mereka yang damai tiba-tiba diusik oleh tiga bayangan yang mengikuti Joachim. Sejak itu, apapaun dilakukan kedua orangtuanya ini untuk melindungi anak mereka. Lise mula-mula pergi ke Mistress Pike, seorang paranormal yang mampu &#8216;membaca&#8217; siapa ketiga bayangan itu. Mistress Pike hanya bisa bilang, &#8220;Jangan coba melawan &#8216;bayangan&#8217; ini&#8230; tidak ada gunanya. Nikamti saja setiap saat bersama Joachim, selama ia masih bersamamu.&#8221; Demikianlah, akhirnya Louis memutuskan untuk membawa Joachim jauh-jauh, pergi dari desa itu, terus berlari menghindar dari ketiga bayangan itu. Petualangan Louis dan Joachim pun dimulai, mereka ditipu, naik kapal, kena badai,  terdampar, lalu diselamatkan lelaki tua aneh yang berjanji bisa melindungi Joachim apabila Louis menyerahkan hidupnya sebagai imbalan. Lelaki tua itu lalu mengubah Joachim jadi begitu kecil (atau Louis yang jadi begitu besar?!) sehingga bocah itu masuk ke dalam telapak tangan Louis dan terlindungi selamanya dari tiga bayangan yang mengicar.</p>
<p>Harus saya katakan, <em>Tiga Bayangan</em> (Gramedia Pustaka Utama) tidak menyuguhkan happy ending (ups&#8230; sory buat yang belum baca). Cerita ini diakhiri dengan kesimpulan: hidup terus berjalan, sesakit apapun masa lalumu. Louis dan Lise punya anak lagi, yang mengggantikan Joachim, meski mereka tak pernah bisa melupakan putranya itu.</p>
<p><span id="more-517"></span></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-520" title="harvest" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/harvest.jpg" alt="harvest" width="260" height="222" /></p>
<p>Cyril Perdrosa adalah komikus asal Perancis yang pernah terlibat dalam produksi film Disney, yaitu  <em>The Hunchback of Notredame</em> dan <em>Hercules</em>. Saya tidak terlalu mengenal budaya tradisional Perancis, jika memang kehidupan desa di sana seperti yang digambarkan dalam novel grafis<em> Tiga Bayangan</em>. Perancis yang selama ini saya tahu (dari televisi dan majalah) adalah negara yang penuh gaya, orang-orang bersliweran di jalan dengan fesyen bermerk Internasional. Membaca <em>Tiga Bayangan</em>, saya merasa sangat jauh dari kesan Perancis selama ini yang saya kenal, sehingga saya sangat akrab dengan cerita-cerita macam ini: kehidupan desa yang sederhana, kepercayaan orang-orang terhadap hal-hal gaib, juga kebiasaan menipu orang-orang yang sedang terdesak/susah (hihihihi&#8230; akuilah!). Hal-hal macam ini biasa kita temui di Indonesia.</p>
<p>Meskipun saya bukanlah seorang komikus, tetapi saya sangat menyukai gambar-gambar komik. Meskipun (juga) saya bukan ahli menggambar, saya suka memperhatikan gambar-gambar orang lain dan mereka-reka seperti apa prosesnya. Berbeda dengan komik Jepang yang identik dengan manga, setiap komikus asal Perancis memiliki ciri khas sendiri. Perhatikan Marjane Satrapi, komikus novel grafis <em>Persepolis,</em> meskipun ia asal Iran, tetapi ia mengenyam pendidikan di Perancis yang kemudian membesarkannya sebagai komikus. Ia menggunakan tinta cina (sebuatan di Indonesia), berbeda pula dengan David B., komikus novel grafis <em>Epileptik</em> yang konstan menggunakan mata pena. Cyril Pedrosa menggunakan media campuran, meski lebih banyak menggunakan pensil sebagai sketsa gambar, ia juga menggunakan tinta yang kelihatannya dibusel (maaf lahir batin kalo salah isitilahnya&#8230; namanya juga cuma penikmat, bukan ahlinya, hehehehe).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/tiga-bayangan-novel-grafis-517.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shakespeare dalam Manga</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/shakespeare-dalam-manga-392.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/shakespeare-dalam-manga-392.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 May 2009 06:21:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Graphic Novel]]></category>
		<category><![CDATA[On Writing]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[hamlet]]></category>
		<category><![CDATA[juliet]]></category>
		<category><![CDATA[julius caesar]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<category><![CDATA[macbety]]></category>
		<category><![CDATA[manga]]></category>
		<category><![CDATA[novel grafis]]></category>
		<category><![CDATA[romeo]]></category>
		<category><![CDATA[william shakespeare]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=392</guid>
		<description><![CDATA[Pertama kali saya berkenalan dengan Shakespeare lewat Romeo and Juliette yang saya toton filmnya di TVRI, ketika itu saya masih SD. Film itu dilengkapi dengan subtitle Bahasa Indonesia yang sangat membantu saya memahami sebab waktu itu saya tidak bisa berbahasa Inggris. Saya tidak tahu siapa itu William Shakespeare, tapi film Romeo and Juliette ketika itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-393" title="yhst-51816236815316_2048_41943808" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/yhst-51816236815316_2048_41943808.gif" alt="yhst-51816236815316_2048_41943808" width="259" height="300" /> Pertama kali saya berkenalan dengan Shakespeare lewat <em>Romeo and Juliette</em> yang saya toton filmnya di TVRI, ketika itu saya masih SD. Film itu dilengkapi dengan subtitle Bahasa Indonesia yang sangat membantu saya memahami sebab waktu itu saya tidak bisa berbahasa Inggris. Saya tidak tahu siapa itu William Shakespeare, tapi film Romeo and Juliette ketika itu lumayan membekas di benak saya. Beberapa tahun kemudian, saya baru tahu kalau film itu sejatinya diangkat dari karya seseorang yang bernama William Shakespeare. Beberapa tahun kemudian (lagi) saya juga baru tahu kalau karya Shakespeare itu bukan novel, novelet atau cerpen, melainkan naskah drama teater. Kesimpulannya: saya lumayan lambat mengenal siapa itu Shakespeare, hehehe&#8230;.</p>
<p>Ketika kuliah di jurusan Sastra Inggris, agaknya rada memalukan kalau tidak mengenal karya-karya Shakespeare. Terlebih lagi karena dosen-dosen saya kerap menyebut-nyebut namanya. Saya sempat ke perpustakaan kampus dan membaca buku William Shakespeare, dan hasilnya &#8230; (sejujurnya) saya bingung! Bahasa yang digunakan masih jadul (atau &#8216;klasik&#8217;, sebutan yang lebih elegan). Bahasa Inggris klasik tidak pernah benar-benar diajarkan di kampus saya. Untuk memahami sebuah kalimat berbahasa Inggris klasik, saya waktu itu bolak-balik membuka kamus, lumayan melelahkan. Mungkin ini adalah pengakuan dosa paling blak-blakan yang pernah saya lakukan: sewaktu jadi mahasiswa Sastra Inggris, saya lebih suka menonton film yang diangkat dari karya William Shakespeare ketimbang membacanya (semoga Tuhan mengampuni saya). Kisah-kisah yang ditulis Shakespeare bagi saya lebih mudah dipahami dengan menonton televisi. Satu-satunya kalimat yang paling saya ingat dari Shakespeare adalah &#8220;what&#8217;s in a name?&#8221; (apalah arti sebuah nama?) Ketika Juliette ngomong sendiri di jendela kamarnya, sementara Romeo nguping setelah<em> tresspassing</em> dengan cara lompat pagar. Lain itu, tidak. Alhasil dari menonton itu adalah: saya mengetahui jalan cerita karya-karya Shakespeare, tapi tidak menghapal kalimat per kalimat -ini adalah hal yang lumayan memalukan sebagai seorang lulusan Sastra Inggris-. Mungkin saya satu-satunya orang yang mengakui hal (memalukan) ini; tapi saya tahu tidak sedikit mahasiswa Sastra Inggris (di Indonesia) yang melakukan hal sama seperti saya. Hanya saja mereka masih punya harga diri untuk tidak mengakuinya hehehehe.</p>
<p><span id="more-392"></span></p>
<p>Ketika masih kuliah, saya lebih suka membaca puisi-puisi karya Robert Frost, Emily Dickinson, Oscar Wilde, EE Cummings, dll. Entah kenapa, saya banyak jatuh cinta pada puisi-puisi berbahasa Inggris. Saya juga membaca prosa (novel/cerpen) berbahasa Inggris yang dijadikan bacaan wajib oleh dosen (umumnya karya klasik seperti Gone With The Wind, karya-karya Mark Twain, dll). Karya sastra prosa yang lebih saya nikmati justru lebih banyak berbahasa Indonesia. Saya waktu itu mirip Sponge Bob, menyerap bacaan sastra Indonesia apapun. Jika ada prosa berbahasa Inggris yang betul-betul saya nikmati maka itu karya moderen seperti serial Harry Potter. Kalau saya merasa sudah terlalu bosan melihat huruf, saya beralih ke komik. Saya punya langganan taman bacaan dekat rumah, di mana saya biasa menyewa komik, kebetulan di sana lebih banyak menyediakan komik manga (selain <em>Ko Ping Ho</em>). Untuk yang saju ini, saya jadi tidak pemilih. Saya melahap hampir segala jenis manga, baik untuk anak lelaki (seperti <em>Kungfu Boy, Conan, Dragon Ball</em>) maupun untuk anak perempuan (seperti <em>Candy-Candy, Pop Corn</em>, dan manga Serial Cantik).</p>
<p>Kesenangan saya akan komik sampai sekarang masih terjaga. Saya masih membaca ulang Asterix, ikut girang ketika Tin-Tin diterbitkan ulang (meskipun kalimat &#8220;sejuta topan badai&#8221; diganti, hiks&#8230;), juga mengikut beberapa manga terbaru seperti Miko, Vegabound dan Showa Man. Lebih dari itu, saya girang betul ketika dihadiahi seorang teman tiga buku membuat komik karya Scott McCloud: <em>Understanding Comics, Reinventing Comics </em>dan <em>Making Comics</em>. Akhir-akhir ini, saya juga sangat menikmati membaca novel grafis seperti karya-karya Frank Miller dan Marjane Satrapi. Entah kenapa, segala hal yang lebih visual (ada gambarnya) bagi saya sangat menghibur.</p>
<p>Ketika saya tahu karya-karya William Shakespeare disajikan dalam bentuk manga, reaksi saya pertama adalah: &#8220;hah?!&#8221; dengan heran. Apalagi ketika saya baca balon di manga (Bahasa Inggris) ini ternyata berbahasai Inggris klasik alias aseli tulisan Shakespeare (yang dulu sempat bikin saya bingung). Saya bertanya-tanya sendiri: apakah pembaca (Bahasa Inggris) akan memahaminya? Lalu, tiba-tiba saya tersadar: hey, ini Shakespeare dalam bentuk manga, jadi sesulit apapun karyanya, visual manga akan sangat membantu pembaca: inilah keuntungannya. Seperti menonton filmnya, hanya saja dalam kasus film penonton tidak bisa memperhatikan kalimat per kalimat dialog, terutama jika itu adalah Bahasa Inggris klasik, dan jikapun ada subtitle Bahasa Indonesia, penonton hanya diberikan waktu tiga hingga lima detik untuk membaca tiga baris subtittle.</p>
<p>Saat ini ada empat judul Shakespeare versi manga yang telah terbit dalam Bahasa Indonesia: <em>Hamlet, Macbeth, Romeo &amp; Juliet</em>, dan <em>Julius Caesar</em>. Meskipun membaca Shakespeare dalam Bahasa Indonesia (bagaimanapun) berbeda &#8220;rasa&#8221; dengan membaca bahasa aseli, tapi Shakespeare versi manga bisa menjadi pintu perkenalan kita sebelum benar-benar membaca karya Shakespeare dengan bahasa Inggris klasik. Minimal, memperkenalkan jalan cerita mahakarya ini secara lebih intens kalimat per kalimat.</p>
<p>Sebuah karya sastra begitu dipuja, sehingga orang mencari cara agar bisa dinikmati semua kalangan dan semua umur. Itulah karya William Shakespeare.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/shakespeare-dalam-manga-392.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CHE: Sebuah Biografi Grafis</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/che-sebuah-biografi-grafis-308.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/che-sebuah-biografi-grafis-308.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Oct 2008 17:49:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Graphic Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[che]]></category>
		<category><![CDATA[spain rodriguez]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=308</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Che Guevara adalah manusia paling lengkap pada masanya.&#8221; (Jean Paul Sartre) Sejak kematiannya pada tahu 1967, Ernesto &#8220;Che&#8221; Guevara telah menjadi ikon dan figur dengan citra sangat terkenal di dunia. Gambar Che terpampang di mana-mana; poster, buku, topi, pin, kotak rokok, sampul kaset, dan yang paling banyak, T-shirt. Tapi kenyataannya, banyak orang yang memakai kasor [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/ijwq1452big.jpg" rel="lightbox[308]"><img class="alignleft size-full wp-image-313" title="ijwq1452big" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/ijwq1452big.jpg" alt="" width="177" height="250" /></a></p>
<blockquote><p>&#8220;Che Guevara adalah manusia paling lengkap pada masanya.&#8221;<br />
(Jean Paul Sartre)</p></blockquote>
<p>Sejak kematiannya pada tahu 1967, Ernesto &#8220;Che&#8221; Guevara telah menjadi ikon dan figur dengan citra sangat terkenal di dunia. Gambar Che terpampang di mana-mana; poster, buku, topi, pin, kotak rokok, sampul kaset, dan yang paling banyak, T-shirt. Tapi kenyataannya, banyak orang yang memakai kasor bergambar Che tidak mengetahui siapa sebenarnya Che Guevara.</p>
<p>Biografi grafis (baca: komik) yang digambar dan ditulis berdasarkan riset oleh Spain Rodriguez ini memberi nafas baru pada sejarah dan perjuangan Che. Buku ini menyoroti kehidupan Che serta pengalaman yang membentuk karakternya. Dari perjalanan naik sepeda motor ke Amerika Latin, saat menduduki posisi penting sebagai pimpinan di gerakan revolusioner Fidel Castro, perjalan di Afrika, keterlibatan dengan pemberontakan di Bolivia yang berujung pada kematiannya, hingga warisan luar biasa yang ia tinggalkan untuk dunia.<br />
<span id="more-308"></span><br />
Saya ingat dua buah poster di TB Ultimus, Bandung yang saya datangi tahun 2004 lalu: poster Che dijajarkan dengan poster Kurt Cobain di dinding belakang kasir. Sumpah! Bagi saya wajah keduanya mirip. Entah apakah itu juga alasan anak-anak Ultimus menjajarkan kedua poster tersebut, atau mereka tanpa sengaja menjajarkan keduanya. Sekarang, jika dipikir-pikir, selain wajah Kurt dan Che mirip, keduanya sama-sama mati muda.</p>
<p>Sekitar 3 bulan lalu saya menerjemahkan biografi grafis <em>Che</em> (Penerbit Gramedia Pustaka Utama) ini. Sejujurnya, saya bersemangat dan girang mengerjakannya. Pertama, karena ini adalah buku tentang Che, kedua karena ada gambarnya. Bagi saya menerjemahkan buku bukan pekerjaan ringan. Orang bisa stress gara-gara menerjemahkan buku (percayalah). Maka itu, saya senang sekali karena buku ini dipenuhi gambar. Akhirnya, Oktober 2008 ini terbit juga :) Buat mereka yang sering pakai kaos Che tapi tidak tahu siapa dia sebernanya, ini adalah buku yang tepat untuk diam-diam berkenalan lebih dekat dengan Che.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/che-sebuah-biografi-grafis-308.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Epileptik</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/epileptik-85.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/epileptik-85.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Mar 2008 18:34:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Graphic Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Literature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/blog/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Ya, dia anakku. Dia sakit.&#8221; Bagaimanakah sebuah penyakit bisa mempengaruhi hidup sebuah keluarga? Bagi keluarga Beauchard penyakit yang diderita anak tertua mereka lama kelamaan berlaku selayaknya kompas; menunjukkan ke arah mana keluarga ini akan pergi. Jean-Christope menderita epilepsi sejak kecil. Ia bisa terserang hingga tiga kali sehari, tanpa mengenal waktu maupun tempat. Jika serangannya terjadi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><center><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/epileptik450.jpg" alt="" /><br />
<small> &#8220;Ya, dia anakku. Dia sakit.&#8221; </small></center></p>
<p>Bagaimanakah sebuah penyakit bisa mempengaruhi hidup sebuah keluarga? Bagi keluarga Beauchard  penyakit yang diderita anak tertua mereka lama kelamaan berlaku selayaknya kompas; menunjukkan ke arah mana keluarga ini akan pergi. Jean-Christope menderita epilepsi sejak kecil. Ia bisa terserang hingga tiga kali sehari, tanpa mengenal waktu maupun tempat. Jika serangannya terjadi, ia tiba-tiba menjadi lumpuh, pandangannya tak tentu, tak punya kontrol terhadap dirinya sendiri, air liurnya pun tumpah. Lalu, jika ini terjadi di tempat-tempat umum (dan kebetulan sering), maka orang-orang akan mengerumuninya. Dengan tatapan heran, jijik, takut, sekaligus bersemangat, orang-orang bergumam-gumam, mengata-ngatainya gila, perlu dibawa ke RSJ, kesurupan, atau paling bagus, ia dituduh idiot.<br />
<span id="more-85"></span><br />
Novel grafis <em>Epileptik</em> ditulis dan digambar oleh David B. Lewat kacamatanya pula ia bercerita tentang penyakit kakaknya. Dikisahkan, orang tua mereka mencoba mengobati Jean-Christophe mulai dari perawatan medis hingga alternatif semacam makrobiotik, pemijatan, voodoo, hingga bermacam kepercayaan religi. Untuk mendukung kemajuan kesembuhan Jean-Christophe, seluruh keluarga mengikuti prosedur perawatan (terutama perawatan pengobatan alternatif). Ketika David B. sudah dewasa, mulai kuliah, dan mulai punya kehidupan pribadi sendiri, ia tak bisa sepenuhnya lepas dari bayang-bayang penyakit kakaknya. Di banyak bagian novel ini, David B. bertanya-tanya; apakah perawatan kali ini akan betul-betul menyembuhkannya atau hanya harapan kosong belaka? Ke manakah jiwa kakaknya pergi ketika ia mengalami serangan, apakah ia tetap sadar atau pergi ke alam lain? Apakah dirinya berdosa jika ia jadi lebih maju dari kakaknya? Dan yang paling ektrim adalah, ia berharap kakaknya cepat mati.</p>
<p>Ketika membaca <em>Epileptik</em>, terasa sekali ada masa bahwa David B. sebenarnya secara tak sadar terobsesi dengan epilepsi. Mungkin, ketika ia memutuskan untuk menulis novel grafis inilah, ketika ia mulai sadar dengan obsesinya terhadap penyakit kakaknya. Di banyak bagian, grafisnya menceritakan mimpi-mimpi dan khayalannya yang ia gambarkan secara harafiah dan gamblang. Di antara mimpi-mimpinya itu banyak yang berkaitan dengan Jean-Christophe. Gambar-gambarnya tak jarang penuh teror, seperti penyakit itu sendiri yang bisa datang tiba-tiba, kapan saja, di mana saja. Ekspresi-ekspresi wajah tokoh yang digambarkan lebih banyak murung daripada tersenyum, juga kesan abu-abu dalam kehidupan masa lalu keluarga Beauchard, menggambarkan kesedihan sekaligus harapan yang tak putus akan kesembuhan Jean-Christophe. Sayangnya, semakin lama Jean-Christophe semakin menggunakan penyakit ini sebagai tameng. David B. menggambarkan kekesalannya sebab kakaknya punya &#8220;pelindung&#8221; sedang dirinya tidak, ada masa ia iri dengan penyakit yang diderita kakaknya sekaligus membencinya karena penyakit itu tiba-tiba menjadi jerat baginya. Di samping itu semua, lewat grafis-grafisnya David B. seperti memberi penyataan untuk memaafkan, seperti dikutip endorsement kover belakang dari The Washington Post Book World. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/epileptik-85.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
