“The author must keep his mouth shut when his work starts to speak.”
Friederich Nietzsche
Meet the Writer, Tariq Ali

I’m lucky enough to get an opportunity to meet this smart funny man, Tariq Ali. My husband, Eka Kurniawan, and I met him at the hotel in Kemang, Jakarta, to give him some books. And you know what, he gave us his book too! Its tittle is Fear of Mirrors. Lucky (^,^)v Then we got a chance to have a chat. I’m not saying it was a light chat, since we talked mostly about politics! Yes, can you believe it? But Mr. Ali was a very positive person whose able to bring the conversation into a nice chat. From Pramoedya Ananta Toer to Cuba, the chat got me carried away. For a man who admit don’t know much about Indonesia (than other Asia countries), he sure knew many about Indonesian history. One funny thing happen, when he saw a news paper named Koran Jakarta. He thought it was about religion. Then I explained that ‘koran’ in Indonesian means ‘news papper’, not ‘Al-Quran’. Hopefully we’ll get a chance to meet again in a future, sometime. I don’t know any other serious writer whose fun like him.
Reader’s Block
Anda penulis? Menyebalkan bukan jika tiba-tiba terserang writer’s block? Tahu kan, itu lho…tiba-tiba lagi asik menulis, “terserang” masalah, entah mendadak mood jelek, rasa malas yang akut, mau nulis kurang bahan tulisan, dan lain-lain. Saya sering ditanya, gimana cara mengatasi writer’s block. Saya pribadi, akhir-akhir ini lebih suka membiarkan writer’s block itu sejenak menyerang saya, dan tak memaksakan otak saya untuk menulis. Jika merasa sudah tiba saatnya, saya akan mencoba memancing mood menulis dengan menulis hal-hal sederhana (misalnya menulis blog), atau membaca buku-buku yang menyenangkan, hingga nonton film yang bisa memancing ide-ide baru. Saya yakin, tiap penulis jika ditanya cara mengatasi writer’s block punya jawaban sendiri-sendiri.
Writer’s block itu ibaratnya “habluminallah” (tentu saja dengan tanda kutip, yang secara harafiah ‘hubungan manusia dengan Tuhan’). ‘tuhan’ (dengan ‘t’ kecil) di situ -versi saya- saya ibaratkan diri sendiri, penulis sebagai tuhan kecil untuk tulisannya sendiri. Bagaimana ia bertanggung jawab atas dirinya sebagai penulis dengan tulisan yang seharusnya ia hasilkan. Saya katakan ‘seharusnya’, karena memang banyak penulis yang mandeg begitu saja di tengah proses menulisnya (ya terserang writer’s block itu tadi) dan tak melanjutkan lagi. Tapi, ada lho, “habluminannas” dalam berkarya sastra (yang secara harafiah berarti ‘hubungan manusia dengan sesama’), yang berarti -versi saya- dalam hal sastra adalah hubungan buku yang dihasilkan oleh penulis yang bersangkutan dengan pembacanya.
Pernahkah Anda merasa sebal karena tahu bahwa tulisan Anda tak ada yang membacanya? Bagaimana cara tahunya? Yang sederhana dan paling mudah dilacak adalah ketika Anda melihat laporan dari penerbit, bahwa penjual buku Anda cuma beberapa gelintir saja alias tak laku. Kedua, cari saja orang yang mengapresiasi buku Anda dengan mereviewnya di media/internet, jangan-jangan isinya mencaci maki buku Anda. Atau lebih parah, tak ada yang mereviewnya sama sekali. Sakit hati, bukan? “Sialan, susah-susah aku nulis!” Umpat Anda dalam hati. Yah, tapi itulah resiko jadi penulis.
Continue Reading »
Oleh-oleh dari Workshop Kelas Kreatif Fiksimini
Serunya Workshop Kelas Kreatif Fiksimini tanggal 27 November 2010 (Surabaya) dan 28 November 2010 (Jakarta) lalu. Ini oleh-olehnya. Di Surabaya, setelah workshop para peserta ikut Jelajah Museum dan Pabrik Pelintingan Rokok di House of Sampoerna. Sedang di Jakarta, setelah workshop para peserta Sunset Tour Jelajah Kota Tua bersama komunitas Historia. Ngomong-ngomong, sehabis sesiku ngomong, aku keliling Museum Bank Mandiri, lumayan spooky ternyata…hiiiy.
- Narsis-narsisan setelah ngobrol soal fiksi. Dapat plakat dari Oddie, si seksi sibuk.
- Hetih Rusli, editor GPU, juga ikut ngobrol di workshop ini tentang naskah-naskah seperti apa bisa diterbitkan.
- Pak Abdullah Harahap ngomong soal cara nyari ide yang joss, dan Oddie, setelah workshop selesai.
- Aku dan Esti Kinasih, penulis novel Fairish, yang juga jadi pembicara di worskhop.
- Clara Ng -seksi sibuk sekaligus pembicara workshop di Surabaya- dan Faye Yolody -salah satu peserta workshop-.
Terimakasih Clara Ng dan Faye Yolody buat foto-fotonya :) makasih juga panitia seksi sibuk Workshop Kelas Kreatif Fiksimini
Oleh-oleh nonton “DOEL: ANTARA ROTI BUAYA DAN BURUNG MERPATI, KEMBANG PARUNG NUNGGU DIPETIK”
Pentas Doel: Antara Roti Buaya dan Burung Merpati, Kembang Parung Nunggu Dipetik sukses digelar di Gedung Kesenian Jakarta, tanggal 14 dan 15 Mei 2010. Ini oleh-olehnya:
- Sebelum mulai pentas, berdoa dulu di belakang panggung, ade Mas Adji-Teater Peqho (kaos putih) yang jadi dalangnye, ame Bang Uci (paling tua) yang ngelatih silat Betawi.
- Doel (Ade Firman Hakim), Koh Tong Hiem dan Salempang (Egi Abdullah) lagi tawar-tawaran jual-beli tanah.
- Babehnya Asnah (Adji Pangestu), Fauzan (Rizaldi) dan Asnah (Nabila Zata) betamu ke rumahnye si Doel.
- Doel bengkelahi! (menang kok)
- Bintang tamunye Endah N Rhesa, nyanyi dua lagu :)
- Produsernye, Mpok Maudy Koesnadi, ame bintang tamunye, Endah N Rhesa, poto-poto sehabis manggung.
- Yang nulis ceritanye -aye kendiri-, ame S Nacita Mizwar, yang maen jadi Usnul alias Usje.













