Blog.
Saya seorang penulis. Saya menulis beberapa buku, ulasan, cerita pendek, dan terutama blog.
Journal @ 20 November 2008, “12 Comments”

Tanggal 20 November ini saya merayakan satu bulan saya bekerja di sebuah televisi swasta.  Tiba-tiba saya kagum pada diri saya sendiri… “kok bisa ya, bertahan?” Saya merasa keluar dari cangkang kenyamanan yang selama ini saya erami.

Pertama, saya membenci rutinitas.
Kedua, saya tidak terlalu cakap bergaul dengan orang lain.
Ketiga, saya merasa sulit bekerja dengan orang lain -terutama untuk hal-hal yang kreatif.

Jadi…, hebat! Saya bisa bertahan. Untuk kali ini, saya memberi salut untuk diri sendiri (suatu hal yang jarang saya lakukan, ngomong-ngomong hehehehe).

Sudah terlalu lama saya bekerja sendiri. Dulu sempat sih, kerja kantoran. Waktu itu saya masih meraba-raba apa yang saya inginkan. Jadi, saya cenderung mencoba segala hal. Ketika saya memutuskan untuk fokus menulis, saya menjadi lebih intim dengan diri saya sendiri ketimbang dengan orang lain (istilah kerennya “autis” ya?). Hal kreatif menurut saya patutnya dilakukan sendiri saja, sebab jika dilakukan dengan orang lain, saya tidak akan mendapatkan apa yang ingin saya capai.

Journal @ 19 October 2008, “5 Comments”

Di rumah, saya punya banyak sendok plastik yang saya dapat dari makan nasi kotak, pengaduk cappucino, makanan pesan-antar, dll. Memang, dibandingkan sendok logam, sendok plastik jelas berkualitas rendah. Setelah sekitar sepuluh kali pemakaian, sendok plastik biasanya patah. Setelah itu, baru saya anggap daya sendok plastik tak ada lagi. Saya membuangnya. Tapi, selama sendok plastik belum patah, saya akan memperlakukannya seperti sendok logam lain; mencuci dan menyimpan baik-baik setelah makan.

Journal @ 22 September 2008, “No Comments”

By Soe Tjen Marching

What’s wrong with sex?  Of course, there is nothing wrong with it.  For me, sex is just one of numerous human desires.  But why is it considered taboo by several parties in Indonesia? Recently the Indonesian government issued a draft bill called “Rancangan Undang-Undang anti pornografi dan pornoaksi” [The anti pornography and pornographic action bills] or RUUAPP, which is comprised of 11 chapters and 93 sections. 

It defines pornography as “substansi dalam media atau alat komunikasi yang dibuat untuk menyampaikan gagasan-gagasan yang mengeksploitasi seksual, kecabulan, dan/atau erotika” [materials in the mass media which are created to deliver ideas which exploit sexuality, pornography and/or eroticism].  Pornographic action is “perbuatan mengeksploitasi seksual, kecabulan, dan/atau erotika di muka umum” [action which exploits sexuality, pornography or eroticism in public]. 

Sexual activity seems to be worse than any other crime in the eyes of the Indonesian government, as its regulation has been dominating the agenda of legislation for years.  Why is this desire considered dangerous? A careful examination of the draft of RUUAPP and the fact that, if passed, it will lead to the arrest of some women with short skirts and the persecution of Inul, can only lead to the conclusion that what is considered problematical is women’s sexuality. 

Journal @ 15 September 2008, “5 Comments”

 

Nyambung artikel “The Power of Surat Pembaca”, Surat Pembaca saya sudah dapat tanggapan di harian Kompas tanggal 10 September 2008 lalu. Ini nih:

Santunan Klaim Telah Diterima

Menanggapi surat Ibu Ratih Kumala di Kompas (28/8) ”Nasabah Bumiputera Disalahkan”, kami mohon maaf atas ketidaknyamanan layanan yang diterima dari petugas di kantor Cabang Solo Gladag. Polis orangtua Ibu Ratih (Nomor: 2000341973 atas nama Ibu Badriah dengan tertanggung almarhum Harris Fadilla) dalam status lapse (tidak aktif membayar premi) saat tertanggung meninggal dunia sehingga sesuai dengan ketentuan klaim dibayarkan sebesar uang pertanggungan bebas premi.

Proses klaim sudah dibicarakan pada 12 Agustus 2008, tetapi ahli waris menolak dengan alasan bahwa ketidakaktifan polis karena premi tidak tertagih petugas Bumiputera. Berdasarkan syarat umum polis (Pasal 5 Ayat 3) tentang pembayaran premi disebutkan: ”Jika karena sesuatu hal penagihan premi tidak dilakukan tepat waktunya oleh Badan (dalam hal ini Bumiputera), tidak membebaskan kewajiban pemegang polis untuk membayar premi kepada Badan.”

Pihak kami telah menemui Ibu Badriah sebagai ahli waris agar kembali dan sepakat dengan penghitungan santunan klaim. Santunan tersebut telah diterima oleh Ibu Bardiah pada tanggal 28 Agustus 2008. Kepada pemegang polis/nasabah Bumiputera jika memiliki pertanyaan/keluhan terkait layanan Bumiputera di lapangan agar menghubungi Halo Bumiputera di telepon 0800- 188-1912, atau melalui e-mail: komunikasi@bumiputera.com.
Ana Mustamin 
Kepala Departemen Komunikasi Perusahaan AJB Bumiputera 1912

Sejujurnya, pengennya sih saya balas lagi. Tapi…, hhhhmmmm… sekali lagi: karena ibu saya berusaha ngayem2i saya, ditambah pula dengan kalimat, “ini bulan puasa, harus saling memaafkan” (gubrak!), jadilah -seperti biasa- saya harus kembali mengalah.

Journal @ 08 September 2008, “8 Comments”
Ada yang berbeda dengan puasa kali ini. Seperti halnya berbeda dengan puasa tiga tahun lalu dan dua belas tahun lalu. Ya, saya mengalami empat situasi puasa yang berbeda selama hidup:
1. Ketika saya kecil, saat mulai belajar berpuasa. Saya tinggal di perkampungan khas Jakarta yang penuh sesak. Tak ada privasi di kampung saya itu. Segala gosip beredar cepat. Ketika itu juga, saya ikut TPA (Taman Pendidikan Al-Quran) yang diadakan oleh tetangga saya, namanya Pak Kholis. Saat itu, sekolah saya juga membagikan sebuah buku yang berisi laporan kegiatan selama bulan puasa. Setiap murid SD ketika itu agaknya punya buku macam ini. Saya harus mengisi apakah hari ini saya puasa penuh atau puasa beduk. Apakah saya hari ini mengaji dan tarawih atau tidak. Lebih dari itu, saja juga harus mengisi laporan kultum yang diberikan ketika tarawih usai. Saya begitu menyukai Ramadhan dan Lebaran (ya, saya lebih akrab dengan sebutan ‘lebaran’ ketimbang ‘idul fitri’). Mendekati Ramadhan usai, para orang tua dan guru ngaji senantiasa mengingatkan untuk mengencangkan ibadah karena siapa tahu kita bertemu malam lailatul qadar yang lebih baik dari 1000 bulan. Selain itu, kami juga bersiap-siap dengan baju baru yang hanya dibeli setahun sekali, tak lupa juga dompet! Karena para tetangga pasti akan membagikan uang ang-pao yang lumayan.