<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ratih Kumala's Little Blog &#187; Journal</title>
	<atom:link href="http://ratihkumala.com/blog/category/journal/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ratihkumala.com</link>
	<description>The Only Constant is Change</description>
	<lastBuildDate>Fri, 25 Jun 2010 09:47:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Teater Musikal Abang None Jakarta</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/teater-musikal-abang-none-jakarta-589.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/teater-musikal-abang-none-jakarta-589.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 08:11:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Teater]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=589</guid>
		<description><![CDATA[Setelah tahun lalu Ikatan Abang None Jakarta sukses dengan sandiwara musikal berjudul &#8220;Cinta Dasima&#8221;, tahun ini Ikatan Abang None Jakarta kembali bekerjasama dengan Peqho Teater mempersembahkan sebuah sandiwara musikal Betawi: &#8220;DOEL: ANTARA ROTI BUAYA DAN BURUNG MERPATI, KEMBANG PARUNG NUNGGU DIPETIK&#8221; Waktu: Jumat, 14 Mei 2010, pukul, 19.30 WIB Sabtu, 15 Mei 2010, pukul, 16.00 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/si-doel-teater-abang-none.jpg" rel="lightbox[589]"><img class="aligncenter size-full wp-image-590" title="si doel-teater abang none" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/si-doel-teater-abang-none.jpg" alt="" width="333" height="333" /></a></p>
<p>Setelah tahun lalu Ikatan Abang None Jakarta sukses dengan sandiwara musikal berjudul &#8220;Cinta Dasima&#8221;, tahun ini Ikatan Abang None Jakarta kembali bekerjasama dengan Peqho Teater mempersembahkan sebuah sandiwara musikal Betawi:<br />
<span id="more-589"></span></p>
<p style="text-align: center;">
<span style="color: #800000;"><strong>&#8220;DOEL: ANTARA ROTI BUAYA DAN BURUNG MERPATI, KEMBANG PARUNG NUNGGU DIPETIK&#8221;</strong></span></p>
<p>Waktu:<br />
Jumat, 14 Mei 2010, pukul, 19.30 WIB<br />
Sabtu, 15 Mei 2010, pukul, 16.00 &amp; 19.30 WIB</p>
<p>Tempat:<br />
Gedung Kesenian Jakarta</p>
<p>Tiket:<br />
Rp. 100.000,- &amp; Rp. 75.000,- (Balcony)</p>
<p>Pelindung : Gubernur DKI Provinsi DKI Jakarta</p>
<p>Produser : Maudy Koesnaedy</p>
<p>Sutradara : Adjie N.A</p>
<p>Penulis Naskah : Ratih Kumala</p>
<p>Penata Artistik : Erros Evlin</p>
<p>Pelatih Silat : PS. Putra Betawi pimp. Bpk. S. Sanusi (Bang Uci)</p>
<p>Penata Gerak : Atien Kisam</p>
<p>Berangkat dari film berjudul &#8220;Si Doel, Sok Modern&#8221; yang dibintangi Benyamin S, Christine Hakim dan Ahmad Albar, sandiwara musikal Betawi berdurasi 2 jam ini dipentaskan oleh Ikatan Abnon Jakarta dari seluruh wilayah dari angkatan 90&#8242;an sampai 2009.</p>
<p>Informasi:<br />
Brata 081385004230, 02197492961<br />
Veronita 08128385257, 0219485257<br />
Roelly-GKJ 0213808283, 3441892</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/teater-musikal-abang-none-jakarta-589.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sayembara Menulis Novel dan Cerpen</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/sayembara-menulis-novel-dan-cerpen-584.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/sayembara-menulis-novel-dan-cerpen-584.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Apr 2010 14:42:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[On Writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=584</guid>
		<description><![CDATA[Ada beberapa lomba menulis nih, siapa tahu bloggers tertarik untuk ikutan :) SAYEMBARA MENULIS NOVEL DEWAN KESENIAN JAKARTA 2010 Untuk merangsang dan meningkatkan kreativitas pengarang Indonesia dalam penulisan novel, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) kembali menyelenggarakan Sayembara Menulis Novel. Lewat sayembara ini DKJ berharap lahirnya novel-novel terbaik, baik dari pengarang Indonesia yang sudah punya nama maupun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/typist.gif" rel="lightbox[584]"><img class="alignleft size-full wp-image-585" title="typist" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/typist.gif" alt="" width="180" height="175" /></a>Ada beberapa lomba menulis nih, siapa tahu bloggers tertarik untuk ikutan :)</p>
<div>
<div>
<p><strong>SAYEMBARA MENULIS NOVEL DEWAN KESENIAN JAKARTA 2010<br />
</strong></p>
<p>Untuk merangsang dan meningkatkan kreativitas pengarang Indonesia dalam penulisan novel, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) kembali menyelenggarakan Sayembara Menulis Novel. Lewat sayembara ini DKJ berharap lahirnya novel-novel terbaik, baik dari pengarang Indonesia yang sudah punya nama maupun pemula, yang memperlihatkan kebaruan dalam bentuk dan isi. Adapun persyaratannya sebagai berikut:</p>
<p><strong>Ketentuan Umum</strong></p>
<p>* Peserta adalah warga negara Indonesia (dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk atau bukti identitas lainnya).<br />
* Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah.<br />
* Naskah belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, baik sebagian maupun seluruhnya.<br />
* Naskah tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa.<br />
* Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik.<br />
* Tema bebas.<br />
* Naskah adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan (sebagian atau seluruhnya)</p>
<p><span id="more-584"></span><strong>Ketentuan Khusus</strong></p>
<p>* Panjang naskah minimal 150 halaman kuarto, 1,5 spasi, Times New Roman 12<br />
* Peserta menyertakan biodata dan alamat lengkap dalam lembar tersendiri, di luar naskah<br />
* Empat salinan naskah yang diketik dan dijilid dikirim ke:</p>
<p>Panitia Sayembara Menulis Novel DKJ 2010<br />
Dewan Kesenian Jakarta<br />
Jl. Cikini Raya 73<br />
Jakarta 10330</p>
<p>* Batas akhir pengiriman naskah: 30 September 2010 (cap pos atau diantar langsung)</p>
<p>Lain-lain</p>
<p>* Para Pemenang akan diumumkan dalam Malam Anugerah Sayembara Menulis Novel DKJ 2010 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada pertengahan Januari 2011.<br />
* Hak cipta dan hak penerbitan naskah peserta sepenuhnya berada pada penulis.<br />
* Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat-menyurat.<br />
* Pajak ditanggung pemenang.<br />
* Sayembara ini tertutup bagi anggota Dewan Kesenian Jakarta periode 2009-2012.<br />
* Maklumat ini juga bisa diakses di www.dkj.or.id<br />
* Dewan Juri: Agung Ayu, Anton Kurnia, dan A.S. Laksana</p>
<p>Hadiah</p>
<p>Pemenang utama                      Rp. 20.000.000<br />
Empat pemenang unggulan @    Rp.  7.500.000</p>
<p>sumber : <a href="http://www.dkj.or.id/?opt=pages&amp;cidsub=8&amp;pages_id=549">dkj.or.id</a></p>
</div>
</div>
<p><strong><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/writing.jpg" rel="lightbox[584]"><img class="alignleft size-medium wp-image-586" title="writing" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/writing-300x202.jpg" alt="" width="300" height="202" /></a>SAYEMBARA CERPEN DALAM BAHASA TIONGHOA, &#8220;PIALA ELANG EMAS&#8221; KE-4</strong></p>
<p>Penyelenggara: Himpunan Penulis Sastra Tionghoa Indonesia(Yinhua Zuoxie) &amp; Harian International Daily(Guoji Ribao)</p>
<p>Bentuk: cerpen<br />
Tema: bebas<br />
Jumlah aksara: maksimum 5000 huruf.</p>
<p><strong>Syarat:</strong><br />
- penduduk Indonesia<br />
- boleh menyerahkan lebih dari satu karya.<br />
-ditulis dalam Bahasa Tionghoa<br />
- bukan karya terjemahan, tak pernah terbit di koran atau majalah dalam luar negeri, atau terpilih dalam sayembara yg lain.<br />
- boleh tulisan tangan atau ketikan komputer.<br />
- di atas naskah hanya tertera judul dan isi karangan, nama dan data pribadi ditulis dalam lembar terpisah.<br />
- karya peserta dibuat sebanyak 6 copy, bersama lembar data dikirim ke alamat:<br />
Jl. Tiang Bedera 1/73cc, Jakarta Barat. Indonesia.<br />
- di sampul ditulis: Kepada Panitia Sayembara cerpen piala Elang Emas</p>
<p><strong>Hadiah:</strong><br />
Juara 1: Rp. 10.000.000,- +piala tetap dan bergilir<br />
Juara 2: Rp. 7.500.000.- + piala<br />
Juara 3: Rp. 5.000.000,- +piala<br />
5 Hadiah pujian: 5 orang, masing2 Rp.1.000.000,- +piagam<br />
20 finalis: piagam dan sovernir</p>
<p><strong>Juri: </strong></p>
<p>-Liu Haitao(China),<br />
-Dong Ru(Hongkong),<br />
-Tang Meixiao(Macao),<br />
-You Jing(Singapura),<br />
-Li Yijun(Malaysia).</p>
<p>Batas waktu pengiriman: 30-6-2010. Kiriman melalui pos dilihat dari tanggal di stempel.<br />
Pengumuman hasil: November 2010 di koran2, juga akan diberi tahu lewat surat.<br />
Penyerahan hadiah: Desember 2010.<br />
Penerbitan: karya pemenang dan para finalis akan dibukukan, hak terbit milik Himpunan Penulis Sastra Tionghoa Indonesia.</p>
<p><strong>Lembar data diri mencantumkan:</strong><br />
- nomor urut (dikosongkan)<br />
- judul karya lomba<br />
- nama Tionghoa<br />
- nama Indonesia<br />
- nama Pena<br />
- nomor KTP<br />
- tanggal lahir/ tempat lahir<br />
- alamat surat<br />
- no. Telpon; no.Hp; no. Fax<br />
- alamat email<br />
- pernyataan mengikuti semua aturan lomba.<br />
- tandatangan disertai tanggal ditanda tangani.</p>
<p>Lembar data diatas harap ditulis dalam aksara Tionghoa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/sayembara-menulis-novel-dan-cerpen-584.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat merokok, sodara-sodara!</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/selamat-merokok-sodara-sodara-577.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/selamat-merokok-sodara-sodara-577.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Mar 2010 15:34:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=577</guid>
		<description><![CDATA[Saya tidak terlalu suka dengan urusan politik. Saya juga merasa terganggu membaca koran yang isinya cuma korupsi, kolusi, nepotisme, gontok-gontokan di DPR, dll. Sebab itu, saya berusaha untuk tidak peduli. Tapi ketika mendengar berita bahwa Bloomberg membayar Rp. 3,4 milyar kepada Muhammadiyah agar mengharamkan rokok, saya merasa marah. Bukan karena saya merokok, tidak. Saya tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/cigarette.jpg" rel="lightbox[577]"><img class="alignleft size-full wp-image-578" title="cigarette" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/cigarette.jpg" alt="" width="150" height="205" /></a>Saya tidak terlalu suka dengan urusan politik. Saya juga merasa terganggu membaca koran yang isinya cuma korupsi, kolusi, nepotisme, gontok-gontokan di DPR, dll. Sebab itu, saya berusaha untuk tidak peduli. Tapi ketika mendengar berita bahwa Bloomberg membayar Rp. 3,4 milyar kepada Muhammadiyah agar mengharamkan rokok, saya merasa marah.</p>
<p>Bukan karena saya merokok, tidak. Saya tidak bisa merokok. Pernah mencobanya beberapa tahun lalu, dan saya norak sekali soal hal ini: saya tidak bisa merokok. Saya juga benci dengan asap rokok, apalagi yang tercampur dengan AC di ruangan tertutup. Saya sangat setuju dengan imbauan bahwa merokok membahayakan kesehatan, amat sangat setuju. Tapi ketika rokok akan diharamkan, saya amat sangat tidak setuju.</p>
<p><span id="more-577"></span>Kenapa saya marah soal pengharaman rokok ini? Pertama, semurah itukah Muhammadiyah mau dibayar&#8230;cuma 3,4 M, gitu loh! Dan mau saja disuruh &#8220;merusak&#8221; salah satu tulang punggung perekonomian negara kita. Ya! Ini adalah poin kedua, rokok itu -setidaksuka apapun saya- adalah tulang punggung perekonomian bertahun-tahun lamanya.  Rokok yang membuat jutaan orang Indonesia punya pekerjaan, menghidupi mereka, menghidupi keluarga mereka. Belum lagi para petani tembakau dan cengkeh. Dan ketiga, nama negara kita bisa besar dan harum juga dari rokok. Semua orang di dunia tahu kalau Indonesia salah satu penghasil rokok terbaik, produk kita dijual di luar dengan harga tinggi. Bahkan, beberapa teman pernah cerita, mereka sengaja membawa dua box rokok kretek untuk dijual di luar negeri sebagai biaya hidup jika kehabisan uang saku. Lebih dari itu, yang keempat, perusahaan-perusahaan rokok yang besar itu <em>give back</em> penghasilan mereka dengan menjadi sponsor kesenian. Sejak jaman tahu 1920-an, rokok Bal Tiga sudah mensponsori teater, tahun 1990 Sampoerna mengirimkan marching band ke California untuk pawai bunga di sana mewakili Indonesia (yang padahal konon total dibiayai Sampoerna), dan kini kita sering melihat Djarum mensponsori acara-acara kesenian. Yak, kesenian yang jarang sekali dilirik (apalagi dicolek) Pemerintah. Kelima, setahu saya di Al-Quran itu rokok hukumnya bukan haram, tapi makruh. Jadi ya&#8230;biarin aja orang yang mau ngerokok ya ngerokok saja, tak perlu repot menentukan terganjar dosa khusus orang yang merokok. Kalau mereka sudah sakit-sakitan, bengek, kan juga lama-lama kapok sendiri.</p>
<p>Oya, satu lagi&#8230;ini pesan sponsor dari teman-teman saya yang perokok. Mengingat para perokok itu sudah mendukung perekonomian negara, dan jumlahnya tidak sedikit,<em> mbok </em>tolong fasilitas untuk perokok di tempat-tempat umum itu diperbaiki. Tidak heran orang-orang tetap saja merokok sembarangan, orang tempat merokok yang nyaman pun tak disediakan. Menyuruh para perokok merokok di luar, berdiri di tempat parkir, dekat pembuangan AC dan genset itu termasuk tak manusiawi. Setidaknya sediakan ruangan yang nyaman dengan tempat duduk dan hexos, kan mereka sudah membantu memajukan perekonomian negara.</p>
<p>Gitu saja deh, sudah puas beruneg-uneg! Selamat merokok, sodara-sodara!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/selamat-merokok-sodara-sodara-577.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Managing Writers</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/managing-writers-530.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/managing-writers-530.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 05:32:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=530</guid>
		<description><![CDATA[Pertama-tama, sebetulnya saya ingin bikin judul bahasa Indonesia, &#8220;Memenej Penulis&#8221;. Tapi kok menulis kata ‘memenej’ saja rasanya janggal, dan saya merasa lebih akrab dengan bahasa Inggrisnya. Jadi deh&#8230;. Saya telah menyebut diri saya sebagai penulis kira-kira delapan tahun, sejak 2002. Sejak itu pula, saya tidak pernah berpikir untuk alih profesi. Alih bentuk tulisan, ya&#8230; toh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertama-tama, sebetulnya saya ingin bikin judul bahasa Indonesia, &#8220;Memenej Penulis&#8221;. Tapi kok menulis kata ‘memenej’ saja rasanya janggal, dan saya merasa lebih akrab dengan bahasa Inggrisnya. Jadi deh&#8230;.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-526" title="writers-block3" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/writers-block3.jpg" alt="writers-block3" width="307" height="400" /></p>
<p>Saya telah menyebut diri saya sebagai penulis kira-kira delapan tahun, sejak 2002. Sejak itu pula, saya tidak pernah berpikir untuk alih profesi. Alih bentuk tulisan, ya&#8230; toh semua penulis pasti akan selalu berproses (kecuali kalau ia berhenti menulis). Hingga sekarang, saya tidak bisa menghitung berapa tulisan gagal maupun berhasil yang sudah saya buat. Saya bukan seorang yang terorganisir dalam hal mengoleksi tulisan-tulisan yang telah terbit. Karier menulis saya dimulai dengan menulis novel, lalu saya mulai menulis cerpen (yang lebih banyak ditolak koran ketimbang yang dimuat), lalu saya menulis novel lagi, dan kini saya lebih banyak menulis skenario. Saya juga menulis tulisan pesanan selain menulis apapun yang saya ingin tulis. Kira-kira seperti itulah jalan karier menulis saya kalau benar-benar diringkas.</p>
<p>Ketika saya masuk ke dunia skenario, banyak hal baru yang saya temui, di antaranya … eng-ing-eng… ketemu selebriti! Yup&#8230; mulai dari artis jaman saya muda (serius, saya mengaku udah mulai tua) yang sekarang sudah jadi senior, artis sinetron yang baru-baru ini tengah naik daun, hingga artis-artis pendatang baru yang tenarnya masih tanggung. Mereka umumnya berusaha bersikap profesional dengan cara bergabung dalam manajemen artis (agen pemain sinetron/film/bintang iklan) tertentu. Manajemen artis mengurus segala keperluan sang artis, mulai dari dandanan, jadwal, bahkan kalau perlu demi membentuk  imej publik yang oke, merekalah yang memberi &#8220;modal&#8221; seperti mobil, rumah, juga modal untuk operasi plastik sang artis! Too good to be true? Percayalah&#8230; saya sendiri masih percaya enggak percaya. Sebagai imbalannya, sang artis harus menyisihkan beberapa persen (tergantung perjanjian) dari penghasilannya untuk manajemen artis. Nah, bisa dibayangkan berapa penghasilan seorang artis jika namanya meroket, yang pasti harus cukup untuk menutupi modal yang telah diberikan manajemen artis padanya. Maka jangan heran, berbondong-bondong orang yang mendaftar ke manajemen artis demi menjadi selebriti. Beda artis, beda pula penulis. Jujur saja, seburuk-buruknya honor artis medioker, masih lebih buruk honor penulis yang tulisannya sering dimuat di koran/majalah.</p>
<p>Di luar negeri, di mana fungsi literary agent sudah eksis, segala urusan yang menyangkut kepenulisan (termasuk sebagai pembaca pertama, mencari penerbit, mempersiapkan peluncuran buku, memutuskan menerima/menolak sebuah wawancara/undangan acara sastra, serta tawar menawar harga jika rights buku dibeli oleh luar negeri) akan diurus mereka. Tugas penulis hanya menulis yang bagus agar tulisannya laku dijual. Sebagai imbalan (sama persis dengan manajemen artis), sekian persen dari penghasilan penulis akan dipotong sebagai honor literary agent. Singkatnya, literary agent juga berfungsi sebagai manajer penulis.</p>
<p><span id="more-530"></span></p>
<p>Saya menemukan fenomena baru di dunia kepenulisan Indonesia. Dengan mengesampingkan ketaktersediaan literary agent (agen sastra) di Indonesia, ternyata penulis kita mulai sadar akan pentingnya manajemen. Beberapa penulis Indonesia yang saya tahu, sudah ada yang memiliki manajer. Jika ia dihubungi oleh pers atau pihak ketiga lain yang ingin mengundangnya, ia akan bilang, &#8220;silakan hubungi manajer saya&#8221;. (Kalimat ini mengingatkan saya akan T-shirt yang dijual di Planet Hollywood, “call my agent”). Dengan kalimat ini, kita tahu bahwa segala urusan penulis yang bersangkutan akan diurus oleh manajernya.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-523" title="collapse_005-450w" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/collapse_005-450w.jpg" alt="collapse_005-450w" width="450" height="458" /></p>
<p>Mungkin kita masih merasa asing dengan fenomena ini. Meski saya pikir, hal seperti itu sah-sah saja. Penulis umumnya adalah orang ‘nyeni’ yang mengikuti kata hati (baca: seenaknya sendiri, hehehe… begitulah setidaknya saya dan suami), tidak terorganisir (baca: berantakan), serta butuh waktu banyak untuk mencari inspirasi dan riset (baca: mengulur-ulur waktu menulis! Bwahahaha *pengakuan dosa*). Dengan adanya seorang manajer, maka hidup seorang penulis diharapkan jadi lebih teratur. Manajer akan memastikan berapa honor yang diterima penulis jika ia menjadi pembicara sebuah acara, atau DP setelah menandatangani surat kontrak penerbitan/pengangkatan karyanya menjadi layar lebar. Ia juga orang yang mengingatkan kapan penulis itu harus datang ke sebuah undangan wawancara, serta menyaring orang-orang yang dianggap menggangu kegiatan utama penulis, yaitu menulis. Keberadaan seorang manajer yang menjadi pagar pembatas antara penulis dengan pihak ketiga itu sebenarnya bisa dianggap publik sebagai dua hal:<br />
1) Image building, bahwa penulis itu memang orang yang super sibuk dan (otomatis jadi) orang penting.<br />
2) Sombong amat lu! Lu pikir gue enggak tau tulisan lu enggak laku-laku amat, dan enggak bagus-bagus amat! (hixixixixix….)</p>
<p>Jika yang memiliki manajer adalah penulis seperti Dee, Rieke Dyah Pitaloka dan Happy Salma, ceritanya beda lagi. Hal ini wajar sebab pada dasarnya mereka terlebih dahulu dikenal sebagai artis/selebriti. Seperti yang saya bilang tadi, artis/selebriti umumnya memang memiliki manajemen yang mengurus semuanya. Jadi jangan heran jika untuk urusan buku pun akan diurus sekalian oleh sang manajer. Lantas, bagaimana dengan Habibburrahman El Shirazy dan Andrea Hirata, mereka kan penulis yang kemudian jadi selebriti? Begini saja gampangnya, apapun karier yang dipilih seseorang pada awalnya, tetapi ujungnya lebih banyak berakhir di infotainment, maka hitunganya juga selebriti. Jadi, mereka pun sah kalau punya manajer yang memagari antara diri mereka dengan pihak ketiga (baca: publik, ya kita-kita ini yang kadang mengganggu privacy!)</p>
<p>Di luar negeri, untuk penulis sebesar JK Rowling, tentu saja fungsi manajer menjadi penting. Selain memang memanajeri segala hal, ia juga berfungsi menjadi bodyguard naskah agar tidak bocor ke luar sebelum buku serial Harry Potter terbaru terbit. Bagi para penulis detektif/suspense semacam Tom Clancy, John Grisham dan Agatha Christie, mungkin beda lagi. Konon, mereka memiliki tim yang selain memanajeri juga membantu riset untuk bahan tulisan. Saya tidak heran, sebab menulis cerita detektif bukanlah hal main-main. Meski fiktif, cerita itu harus begitu detil sehingga kisah detektif yang disajikan menjadi sempurna. Para penulis besar tersebut tentu saja mereka membayar manajer/asisten pribadinya dengan harga yang pantas. Buku mereka laris manis bak kacang goreng, merebak di Negara sana-sini bak jamur di musim hujan, jadi tak kan kesulitan untuk membayar seorang manajer.</p>
<p>Di Jepang ceritanya beda lagi, para komikus yang sudah punya nama umumnya memiliki asisten yang membantunya membuat komik. Mereka adalah komikus pemula yang memang gigih ingin belajar, dan mau dibayar murah… amat sangat murah, hingga mereka harus tinggal satu flat berempat hingga berenam. Jika mereka sedang tidak punya uang, konon saling pinjam-meminjam beras agar bisa makan.</p>
<p>Beberapa tahun lalu, seorang teman pernah menawarkan seseorang yang konon butuh pekerjaan untuk menjadi manajer (atau setidaknya asisten) saya. “Dia bisa mengetik, dan memang ingin belajar banyak tentang menulis,” promosi teman saya waktu itu. Saya menolak tawaran itu dengan alasan saya belum butuh manajer/asisten, sebab saya merasa tidak sesibuk yang ia bayangkan, juga seamburadulnya saya, masih merasa bisa mengatur segala hal sendiri. Saya juga tidak bisa membayangkan, menulis dengan cara diketikan orang lain sementara saya mendiktenya, akan jadi seperti apa ya? Lebih dari itu, saya juga tidak tahu bagaimana saya harus membayarnya. Menggajinya tiap bulan, tentu saja saya tidak mampu, pembantu yang bebersihpun saya tak punya. Mengandalkan persenan dari honor cerpen yang saya hasilkan? Duh… percayalah, jumlahnya tidak manusiawi. Sekali lagi, persenan dari honor penulis berbeda dengan persenan honor seorang artis, bahkan yang medioker sekalipun.</p>
<p>Hingga sekarang saya menjadi super sibuk, nyaris waktu tidurpun harus mencuri, saya masih sama sekali tidak berniat punya seorang manajer pribadi. Saya lebih suka sesederhana mengangkat HP ketika seseorang menelepon saya, menerimanya baik-baik seperti juga menolaknya baik-baik jika ia meminta waktu untuk bertemu tetapi saya tidak punya cukup luang. Akhir-akhir ini saya juga menolak beberapa penulis pemula yang meminta masukan saya untuk tulisannya, saya bilang, “maaf, saya benar-benar sibuk sekali. Lebih baik saya menolak di awal daripada saya menyanggupi tapi tulisanmu tidak pernah saya baca.” Begitulah kira-kira.</p>
<p>Jikapun ada seseorang yang saya anggap sebagai “manajer”, maka orang itu adalah editor saya. Saya termasuk penulis yang nurut pada editor. Saya percaya padanya, dia punya mata yang tajam bagaimana kover buku seharusnya dibuat, bagaimana buku akan dipromosikan, selain tentu saja dia mengedit buku saya. Jika buku saya akan diterbitkan di luar negeri atau dibeli rightsnya untuk diangkat menjadi film, misalnya, tentu saja saya akan menyerahkannya kepada editor, sebab itu semua tercantum di dalam surat kontrak perjanjian. Tapi untuk urusan sekedar menjadwalkan undangan wawancara/menjadi pembicara, menolak menjadi proofreader, atau mencari beberapa buku untuk bahan riset, cukup saya sendiri yang melakukannya. Bagi saya pribadi, inilah bentuk kepraktisan manajemen sebagai penulis.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/managing-writers-530.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TEROKA: Optimisme dalam Prosa Betawi</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/teroka-optimisme-dalam-prosa-betawi-507.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/teroka-optimisme-dalam-prosa-betawi-507.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Jul 2009 15:17:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=507</guid>
		<description><![CDATA[Kompas &#124; Sabtu, 18 Juli 2009 Khazanah Betawi yang terhidang dalam prosa tidak lepas dari peran kepengarangan SM Ardan (1932- 2006) sebagaimana terlihat dalam bukunya Terang Bulan Terang di Kali (1955, cetak ulang oleh Masup Jakarta, 2007). HB Jassin mencatat, karya-karya Ardan sangat membantu ahli ilmu bahasa, ilmu bangsa-bangsa dan kemasyarakatan dalam penelitian tentang Jakarta. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="pl_24 pr_0 pb_15">
<div class="font36 c_black" style="font-weight: bold;">
<div id="attachment_508" class="wp-caption alignleft" style="width: 152px"><img class="size-full wp-image-508" title="terang-bulan-terang-kali" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/terang-bulan-terang-kali.jpg" alt="Terang Bulan Terang di Kali karya SM Ardan" width="142" height="218" /><p class="wp-caption-text">Terang Bulan Terang di Kali karya SM Ardan</p></div>
</div>
<div class="font36 c_black" style="font-weight: bold;">Kompas | Sabtu, 18 Juli 2009</div>
</div>
<p><!-- end judul + lead --> <!-- end headline --> <!-- isi berita --></p>
<p align="center"><strong></strong></p>
<p><strong></strong>Khazanah Betawi yang terhidang dalam prosa tidak lepas dari peran kepengarangan SM Ardan (1932- 2006) sebagaimana terlihat dalam bukunya<em> Terang Bulan Terang di Kali</em> (1955, cetak ulang oleh Masup Jakarta, 2007). HB Jassin mencatat, karya-karya Ardan sangat membantu ahli ilmu bahasa, ilmu bangsa-bangsa dan kemasyarakatan dalam penelitian tentang Jakarta.</p>
<p>Dialek lahir, tumbuh, dan mati. Adat dan kebiasaan muncul, berubah, dan hilang. Begitu pula permainan anak-anak Betawi yang lahir, tumbuh, sirna. Amat besar jasa Ardan dalam mendokumentasikannya.</p>
<p>Menurut Ajip Rosidi (2007), istilah ”cerita” pada antologi cerita pendek SM Ardan itu kurang tepat karena (kecuali satu-dua cerpen) tidak ada ceritanya sama sekali. Periksalah ”Pulang Pesta”, ”Pulang Siang”, atau ”Bang Senan Mau ke Mekah”, tak menjalin cerita sehingga yang terasa hanya ”suasana”.</p>
<div id="attachment_509" class="wp-caption alignright" style="width: 220px"><img class="size-full wp-image-509" title="gambangjakarte" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/gambangjakarte.jpg" alt="Gambang Jakarte karya Firman Muntaco" width="210" height="300" /><p class="wp-caption-text">Gambang Jakarte karya Firman Muntaco</p></div>
<p>Kalaupun ada cerpennya yang mengandung ”cerita”, bagi Ajip, cerita itu tidak seru, menyehari, gampang dijumpai dalam keseharian orang-orang kecil Jakarta masa itu. Tapi, justru di sinilah keistimewaan Ardan.<em> Boejoeng Saleh</em> (1955), dikutip JJ Rizal (2007), mencatat, ibarat seorang kameramen, Ardan punya lensa tajam. Ia tak hanya memotret realitas eksotik-romantik, tapi juga realistik; kenyataan yang sepahit-pahitnya.<br />
<strong></strong></p>
<p><strong><strong><br />
</strong></strong><strong>Betawi masa kini</strong></p>
<p>Apabila pengalaman baca terhadap karya-karya Aman Dt Majoindo (1896-1969), M Balfas (1921-1975), Firman Muntaco, hingga SM Ardan menimbulkan kesan: ”Ternyata orang Betawi seperti itu ya”, prosa-prosa berlatar Betawi garapan para pengarang masa kini mendedahkan sebentuk keheranan: ”Ternyata orang Betawi udah nggak kayak gitu ya&#8230;”.<br />
<span id="more-507"></span></p>
<div id="attachment_510" class="wp-caption alignright" style="width: 86px"><img class="size-full wp-image-510" title="rumah-kawin" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/rumah-kawin.jpg" alt="Rumah Kawin karya Zen Hae" width="76" height="120" /><p class="wp-caption-text">Rumah Kawin karya Zen Hae</p></div>
<p>Tengoklah <em>Rumah Kawin</em> (2004) dalam antologi cerpen Zen Hae, <em>Sebelas Colen di Malam Lebaran</em> (2008) karya C.G Ramadhan, <em>Rosid dan Delia </em>(2008) novel karya Ben Sohib, dan yang paling mutakhir, <em>Kronik Betawi </em>(2009) karya Ratih Kumala. Resistensi masyarakat Betawi terhadap modernisasi Jakarta yang semakin mengaburkan identitas dan kejatidirian mereka ditampakkan karya-karya pengarang muda itu.</p>
<div id="attachment_511" class="wp-caption alignleft" style="width: 144px"><img class="size-full wp-image-511" title="rosid-delia" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/rosid-delia.gif" alt="Rosid &amp; Delia karya Ben Sohib" width="134" height="200" /><p class="wp-caption-text">Rosid &amp; Delia karya Ben Sohib</p></div>
<p>Zen Hae dalam ”Kelewang Batu”, misalnya, melakukan demitologisasi kisah usang tentang para pemburu mestika api milik naga raksasa. Maka, pertarungan hebat tak terhindarkan, hingga naga itu tumbang. Selepas pertarungan itu, danau kering, tanah tempat matinya naga itu menjadi sebuah kampung yang kelak disebut Kampung Naga.</p>
<p>Bekas-bekas jejak naga menjelma sungai yang kelak dikenal ”Kali Bangkai”. Penduduk setempat menyebutnya Kali Bangke, dan keturunan berikutnya melafalkannya Kali Angke. Begitu salah satu versi riwayat Kali Angke yang kini telah dilupakan.</p>
<p>Para pendatang hanya tahu ”Menteng” sebagai kawasan gedongan, hunian orang-orang tajir dan berada , padahal ”menteng” sejatinya adalah nama buah. Begitu pula ”bintaro” yang sesungguhnya adalah nama pohon. Seiring dengan semakin menterengnya wajah Jakarta, tak hanya khazanah tanaman itu yang terlupakan, tetapi sejarah, kearifan, dan memori kolektif tentang Jakarta juga tenggelam dalam ingar-bingar panggung kosmopolitanisme.</p>
<p>Suasana nostalgik—sekaligus ironik—semacam ini tergambar dalam novel <em>Kronik Betawi</em> (2009), karya Ratih Kumala, yang memperlihatkan wajah Jakarta sebagai ironi.</p>
<p><em>Kronik Betawi</em> mengisahkan sebuah keluarga Betawi, pewaris usaha peternakan sapi perah. Setelah berkali-kali mengelak dari bujuk goda dan iming-iming untuk jangan melepas tanahnya di daerah Kuningan, Jaelani—kepala keluaga itu—akhirnya takluk juga, menyusul sejawat dan kerabat yang telah lebih dahulu angkat kaki.</p>
<p>Keluarga Jaelani pindah ke Ciganjur, sementara sapi-sapi perah itu diboyongnya ke Pondok Rangon. Meski telah tersingkir, Jaelani tidak tertarik membangun rumah-rumah kontrakan seperti sejawat-sejawatnya yang ujuk-ujuk telah menjadi juragan. Tapi, bertahan dengan etos kemandirian orang Betawi ternyata tidak gampang. Japri dan Juned, dua anak laki-lakinya, lebih tergiur menjadi tukang ojek ketimbang mengurus sapi sehingga usahanya itu nyaris bangkrut.</p>
<p><strong></strong></p>
<div id="attachment_481" class="wp-caption alignleft" style="width: 211px"><strong><strong><img class="size-full wp-image-481" title="kronik-betawi-201x300" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/kronik-betawi-201x300.jpg" alt="Kronik Betawi karya Ratih Kumala" width="201" height="300" /></strong></strong><p class="wp-caption-text">Kronik Betawi karya Ratih Kumala</p></div>
<p><strong>Optimisme Betawi</strong></p>
<p>Setiap tokoh dalam <em>Kronik Betawi</em> memikul beban persoalan orang Betawi masa kini. Jika Jaelani harus menerima kenyataan tentang anak-anak yang tidak punya etos mandiri, Jarkasi (adik Jaelani) berhadapan dengan betapa sulitnya mempertahankan kesenian tradisional Betawi pada kurun R &amp; B dan Jazz ini. Ia mendedikasikan hidupnya demi kelestarian gambang keromong, semacam orkes, perpaduan antara gamelan, musik Barat, dan corak kesenian China.</p>
<p>Jarkasi jatuh bangun sebagai seniman Betawi. Baginya, tanah kelahiran bolehlah lenyap ditelan gemuruh perubahan Jakarta, tetapi Betawi masih punya lenong dan gambang keromong, yang sedapat-dapat harus tetap hidup. Seni satu-satunya milik mereka yang belum terbeli.</p>
<p>Optimisme dalam menyongsong masa depan Betawi yang gemilang tampak kentara pada kerja keras Salomah guna melanjutkan pendidikan anaknya (Fauzan) hingga jenjang universitas, bahkan mendapat beasiswa ke Amerika Serikat.</p>
<p>Bagian ujung<em> Kronik Betawi</em> menampilkan Salomah-Jaelani sebagai manusia Betawi yang terobsesi hendak mencetak kaum intelek agar orang Betawi tidak sekadar menjadi juragan kontrakan, calo tanah, atau tukang ojek. Sebagaimana dibuktikan oleh sejarah terkini, Jaelani ingin kaumnya menjadi orang-orang yang diperhitungkan, disegani, dan bukan kuli di kampung sendiri.</p>
<p><a href="www.damhurimuhammad.blogspot.com"><strong>Damhuri Muhammad</strong></a>, <em>Cerpenis, editor, buku terbarunya Juru Masak (2009)</em></p>
<div style="font-family: verdana,helvetica,sans-serif; font-size: 10pt;">
<div style="border-left: 2px solid #1010ff; margin: 5px 0px 5px 5px; padding-left: 5px; font-family: times new roman,new york,times,serif; font-size: 12pt;"><!--~-|**|PrettyHtmlEnd|**|-~--> <!--~-|**|PrettyHtmlStart|**|-~--> <!-- #ygrp-mkp{ border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:14px 0px;padding:0px 14px;} #ygrp-mkp hr{ border:1px solid #d8d8d8;} #ygrp-mkp #hd{ color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:bold;line-height:122%;margin:10px 0px;} #ygrp-mkp #ads{ margin-bottom:10px;} #ygrp-mkp .ad{ padding:0 0;} #ygrp-mkp .ad a{ color:#0000ff;text-decoration:none;} --> <!-- #ygrp-sponsor #ygrp-lc{ font-family:Arial;} #ygrp-sponsor #ygrp-lc #hd{ margin:10px 0px;font-weight:bold;font-size:78%;line-height:122%;} #ygrp-sponsor #ygrp-lc .ad{ margin-bottom:10px;padding:0 0;} --> <!-- #ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;} #ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;} #ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica, clean, sans-serif;} #ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;} #ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;} #ygrp-text{ font-family:Georgia; } #ygrp-text p{ margin:0 0 1em 0;}  dd.last p a { font-family:Verdana;font-weight:bold;}  #ygrp-vitnav{ padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;} #ygrp-vitnav a{ padding:0 1px;} #ygrp-mlmsg #logo{ padding-bottom:10px;}  #ygrp-reco { margin-bottom:20px;padding:0px;} #ygrp-reco #reco-head { font-weight:bold;color:#ff7900;}  #reco-category{ font-size:77%;} #reco-desc{ font-size:77%;}  #ygrp-vital a{ text-decoration:none;}  #ygrp-vital a:hover{ text-decoration:underline;}  #ygrp-sponsor #ov ul{ padding:0 0 0 8px;margin:0;} #ygrp-sponsor #ov li{ list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;} #ygrp-sponsor #ov li a{ text-decoration:none;font-size:130%;} #ygrp-sponsor #nc{ background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;} #ygrp-sponsor .ad{ padding:8px 0;} #ygrp-sponsor .ad #hd1{ font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;} #ygrp-sponsor .ad a{ text-decoration:none;} #ygrp-sponsor .ad a:hover{ text-decoration:underline;} #ygrp-sponsor .ad p{ margin:0;font-weight:normal;color:#000000;} o{font-size:0;} .MsoNormal{ margin:0 0 0 0;} #ygrp-text tt{ font-size:120%;} blockquote{margin:0 0 0 4px;} .replbq{margin:4;}  dd.last p span { margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:bold;}  dd.last p span.yshortcuts { margin-right:0;}  div.photo-title a,  div.photo-title a:active,  div.photo-title a:hover,  div.photo-title a:visited { text-decoration:none;}  div.file-title a,  div.file-title a:active,  div.file-title a:hover,  div.file-title a:visited { text-decoration:none;}  #ygrp-msg p#attach-count { clear:both;padding:15px 0 3px 0;overflow:hidden;}  #ygrp-msg p#attach-count span { color:#1E66AE;font-weight:bold;}  div#ygrp-mlmsg #ygrp-msg p a span.yshortcuts { font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}  #ygrp-msg p a { font-family:Verdana;font-size:10px;}  #ygrp-mlmsg a { color:#1E66AE;}  div.attach-table div div a { text-decoration:none;}  div.attach-table { width:400px;} --> <!--~-|**|PrettyHtmlEnd|**|-~--></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/teroka-optimisme-dalam-prosa-betawi-507.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Novel KRONIK BETAWI Bisa Pesan di Sini :)</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/novel-kronik-betawi-bisa-pesan-di-sini-491.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/novel-kronik-betawi-bisa-pesan-di-sini-491.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2009 16:15:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=491</guid>
		<description><![CDATA[KRONIK BETAWI Jenis : Fiksi/Novel Penulis: Ratih Kumala Penerbit: Gramedia Putaka Utama, 2009 Tebal: 268 halaman Buat teman-teman yang males ke toko buku, novel Kronik Betawi bisa dipesan langsung lewat saya :) Novel Kronik Betawi bercerita tentang perjalanan kota Betawi dan anak daerahnya menghadapi modernisasi dan menepis berbagai persepsi miring terutama dari para pendatang. Kerelaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/kronik-betawi.jpg" alt="kronik-betawi" title="kronik-betawi" width="300" height="446" class="alignleft size-full wp-image-487" /></p>
<p><strong><em>KRONIK BETAWI</em></strong><br />
Jenis : Fiksi/Novel<br />
Penulis: Ratih Kumala<br />
Penerbit: Gramedia Putaka Utama, 2009<br />
Tebal: 268 halaman</p>
<p>Buat teman-teman yang males ke toko buku, novel <strong><em>Kronik Betawi</em></strong> bisa dipesan langsung lewat saya :)</p>
<p>Novel <strong><em>Kronik Betawi</em></strong> bercerita tentang perjalanan kota Betawi dan anak daerahnya menghadapi modernisasi dan menepis berbagai persepsi miring terutama dari para pendatang. Kerelaan berbagi dengan kaum pendatang dalam mengais rejeki di ibukota ternyata tidak sebanding dengan dampaknya. Kota Jakarta bagai bukan milik penduduk aslinya lagi. Diceritakan, pembangunan yang sembarangan dan pertumbuhan permukiman bahkan telah menghilangkan asal-usul serta sejarah beberapa tempat.</p>
<p>Novel ini khas Betawi. Menghibur, menyindir, dan ceplas-ceplos. Sebuah pengingat, dokumentasi, dan apresiasi bagi nilai-nilai dan keluhuran budaya Betawi yang patut dibanggakan.</p>
<p>Harga bukunya <strong>Rp. 40.000,-</strong> dan saya tidak menarik biaya pengiriman, selama masih di Indonesia. Tapi buat yang di luar negeri, so sorry&#8230; kena biaya kirim ya (maklum, paketinnya mahal hehe).</p>
<p>Kalau tertarik, silakan transfer ke:<br />
<strong>BCA No.Rek. 1530234017<br />
atasnama Ratih Kumala.</strong></p>
<p>Lalu, konfirmai lewat email ke <strong>ratihkumala@gmail.com</strong>, jangan lupa mencantumkan alamat pengiriman dan nomor telepon (just in case). Novel <strong><em>Kronik Betawi</em></strong> segera dikirim setelah pembayaran diterima.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/novel-kronik-betawi-bisa-pesan-di-sini-491.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Baju Seragam Anak Pemulung” :  Sinetron Lepas Terpuji dari Forum Film Bandung 2009</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/baju-seragam-anak-pemulung-386.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/baju-seragam-anak-pemulung-386.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Apr 2009 07:35:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=386</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal 24 April 2009 malam, sebuah SMS menggembirakan datang dari Executive Produser saya, salah satu FTV program Bioskop Indonesia menang sebagai kategori Sinetron Lepas Terpuji dari Forum Film Bandung 2009. FTV ini berjudul “Baju Seragam Anak Pemulung”, berkisah tentang dua anak pemulung, Evi dan Akil, yang ingin terus sekolah. Evi dan Akil -dua tokoh dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-390" title="seragamsd" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/seragamsd-300x212.jpg" alt="seragamsd" width="300" height="212" /></p>
<p>Tanggal 24 April 2009 malam, sebuah SMS menggembirakan datang dari Executive Produser saya, salah satu FTV program Bioskop Indonesia menang sebagai kategori Sinetron Lepas Terpuji dari Forum Film Bandung 2009. FTV ini berjudul “Baju Seragam Anak Pemulung”, berkisah tentang dua anak pemulung, Evi dan Akil, yang ingin terus sekolah.</p>
<p>Evi dan Akil -dua tokoh dalam FTV ini- adalah kakak beradik yang kurang beruntung. Mereka sebenarnya diajar oleh kakeknya, hingga kakek mereka punya uang yang cukup untuk menyekolahkan keduanya. Betapa bangganya sang kakek, ketika melihat kedua cucunya berseragam sekolah merah-putih dengan dasi. Sayangnya, ketika pulang, kakek yang sedang mulung ditabrak truk dan meninggal. Sejak itu, Evi dan Akil tinggal bersama Bibi dan Otoy, sepupu mereka yang gendut, super songong dan hobi makan. Di rumah bibinya, Evi dan Akil masih tetap berusaha untuk mandiri. Bagaimanapun, bibi mereka bukanlah orang kaya, hanya seorang janda yang berjualan pecel untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.<br />
<span id="more-386"></span><br />
Ide &#8220;Baju Seragam Anak Pemulung&#8221; ini sebenarnya sudah lumayan lama. Awalnya dicetuskan oleh mas Harli Rusdiantoro, salah satu Associate Produser program Bioskop Indonesia – Trans TV. Dari perbincangan kami, Tim Penulis (saya, Tary, Ana) mengembangkan sinopsis untuk selanjutnya dikembangkan lagi menjadi skenario (Madin). Seperti halnya naskah Bioskop Indonesia lainnya, naskah &#8220;Baju Seragam Anak Pemulung&#8221; juga tidak langsung lolos dari draft 1. Jika saya tidak salah ingat, saya mengerjakan editing naskah ini hingga draft ke-4. Selama pengerjaan, dua kali saya sempat lembur hingga jam empat pagi. Tapi bagaimanapun, semua itu kini rasanya sudah terbayar dengan menangnya FTV ini di FFB 2009.</p>
<p>“Baju Seragam Anak Pemulung” disutradarai oleh Betul Solihin. Puluhan anak-anak datang untuk ikut kasting FTV ini. Teman-teman Creative sampai “teler” mengkasting anak-anak yang membludak dari pagi sampai malam. Akhinrya dipilih tiga aktor cilik yang sangat berbakat untuk pemeran Akil, Evi dan Otoy. FTV ini pertama tayang pada Kamis, 26 Februari 2009 pukul 19.00-21.00 WIB. Kami selalu deg-degan dengan hasil rating/share drama murni, mengingat saingan di stasiun televisi lain sudah menyajikan drama serial yang lebih mengikat. FTV ini adalah proyek idealis kami, dan secara batin diam-diam semua sudah bersiap-siap untuk mendapatkan rating jeblok. Tak disangka-sangka, hasilnya sangat berbeda dari yang kami duga. “Baju Seragam Anak Pemulung” menjadi Bioskop Indonesia dengan daily rating/share tertinggi, bahkan ketika itu mengalahkan rating/share sinetron serial. Sejak itu saya pribadi percaya, bahwa penonton pun sebenarnya cerdas memilih program. Bagi saya pribadi &#8211;meskipun yang memberi ide adalah mas Harli, yang mengembangkan sinopsis dan pengerjaan editing adalah saya, dan yang menulis skenario adalah Madin&#8211;, tetap percaya bahwa “Baju Seragam Anak Pemulung” adalah hasil karya tim sukses Bioskop Indonesia. Bagaimanapun, semua orang dalam tim ini telah mencurahkan pikiran dan tenaganya untuk FTV ini. Bravo! ^_^</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/baju-seragam-anak-pemulung-386.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Free Ponari!!!</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/free-ponari-362.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/free-ponari-362.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2009 07:12:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=362</guid>
		<description><![CDATA[Saya mendadak jadi pemirsa setia berita siang gara-gara heboh Ponari, si bocah dukun dari Jombang. Awalnya saya tidak terlalu mengikuti kisah Ponari. Tetapi karena semua orang, televisi dan koran membincangkannya, maka saya jadi ikut-ikutan. Ponari (siswa kelas III SDN I Balongsari, Jombang, Jawa Timur) mengingatkan saya pada tokoh Micah dalam serial Heroes, seorang bocah yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_363" class="wp-caption alignleft" style="width: 295px"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/ponari.jpg" alt="Aksi Ponari saat sedang mengobati pasien. Orang yang sakit di mana, Ponarinya sendiri fokusnya juga ke mana....?!?!" title="ponari" width="285" height="221" class="size-full wp-image-363" /><p class="wp-caption-text">Aksi Ponari saat sedang mengobati pasien. Orang yang sakit di mana, Ponarinya sendiri fokusnya juga ke mana....?!?!</p></div>
<p>Saya mendadak jadi pemirsa setia berita siang gara-gara heboh Ponari, si bocah dukun dari Jombang. Awalnya saya tidak terlalu mengikuti kisah Ponari. Tetapi karena semua orang, televisi dan koran membincangkannya, maka saya jadi ikut-ikutan.</p>
<p>Ponari (siswa kelas III SDN I Balongsari, Jombang, Jawa Timur) mengingatkan saya pada tokoh Micah dalam serial Heroes, seorang bocah yang punya kekuatan super bisa berkomunikasi dengan alat elektronik dan bisa memerintah. Ponari sendiri bisa punya kekuatan setelah dia disamber gledek, dan tiba-tiba ada batu di genggamannya yang konon bisa menyembuhkan. Ah, saya tidak perlu berpanjang-panjang menjelaskan siapa itu Ponari, semua orang Indonesia sudah tahu.</p>
<p>Yang saya heran adalah ketika mendengar kabar kalau Ponari sampai sakit gara-gara ingin menyembuhkan orang sakit (?!?!?!?!?!). Dan, ketika orang-orang diminta pulang karena Ponari ingin beristirahat, mereka semua bertahan. Kabar selanjutnya, ketika orangtua Ponari ingin menghentikan usaha pengobatan alternatif ala Ponari, justru kakak kandung Ponari marah dan menyerang ayahandanya, bahkan memukulinya. Kakak Ponari konon mengancam ingin menuntut hak asuh Ponari. Berita lain mengatakan, warga sekitar tempat tinggal Ponari ikut-ikutan marah karena tak ingin usaha pengobatan ala Ponari ditutup, sebab itu telah menjadi salah satu sumber penghasilan mereka. Bagaimana tidak, pasien yang datang bisa lebih dari 5000 orang, mau tak mau rumah warga sekitar disewakan untuk tempat berteduh, buka warung, sembari menunggu giliran air yang mereka bawa dicemplungi batu obat samber gledeknya Ponari.<br />
<span id="more-362"></span><br />
Kak Seto sampai ikut campur tangan, gara-gara heboh Ponari. Saya paham betul keterlibatan Kak Seto, saya sendiri yang belum punya anak dan tidak bergiat dalam hak asasi anak juga paham: bahwa kehidupan pribadi Ponari sebagai anak kecil telah terrenggut. </p>
<p>Aneh sekali, ada koran yang mengutip satu kalimat seorang tetangga Ponari dan mengatakan kalau Ponari itu anak yang malas dan manja, maka ia selalu digendong ketika mengobati orang. Bagi saya wajar sekali anak seumur dia berperilaku begitu. Seindigo-indigonya Ponari, yang konon berarti jiwanya sudah &#8220;tua&#8221;, tapi fisiknya masih kecil, pikirannya juga masih pikiran anak kecil. Mungkin dia juga belum punya kesadaran penuh kalau dia sedang menolong orang dan menghasilkan banyak uang. Mungkin yang ada di pikirannya, ia masih ingin main di lapangan (yang mungkin tempat di mana ia tersembar gledek).</p>
<p>Sekarang, lihat saja cara Ponari menyembuhkan orang: digendong, terkantuk-kantuk, sebelah tangannya membawa batu gledek bertuah, dan orang yang menggendongnya adalah orang yang mencemplungkan batu itu ke tangan para pasien. Ponari sendiri tidak fokus, mungkin dia capek, mungkin dia ngantuk. Mungkin&#8230;. Namanya juga anak kecil.</p>
<p>Sampai sekarang, jika saya berpikir tentang sakit dan mati, saya kerap beripikir: bagaimana caranya saya bisa sakit/mati tapi tidak menyusahkan orang lain? Ya, saya tahu&#8230; sakit adalah ujian bagi yang menderita, maka yang menderita punya hak untuk dirawat. Tapi kalau sakit menyusahkan orang banyak, apakah itu perbuatan baik bagi si sakit? Meskipun yang merawat mungkin memang merasa berkewajiban untuk mengurus si sakit.</p>
<p>Bukannya saya mau menyalahkan orang-orang yang datang kepada Ponari, namnaya juga orang putus asa ingin sembuh. Tetapi minta pertolongan tanpa memberikan kesempatan pada Ponari untuk menjalani kehidupan pribadinya sendiri, bahkan untuk sekedar istirahat ketika Ponari sendiri sakit, apakah itu perbuatan mulia? Duh&#8230; saya kok malah jadi sok moralis sih? Udah, ah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/free-ponari-362.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tokyo di Penghujung Musim Gugur</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/tokyo-di-penghujung-musim-gugur-332.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/tokyo-di-penghujung-musim-gugur-332.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jan 2009 15:35:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=332</guid>
		<description><![CDATA[Ketika saya berkunjung ke Jepang tahun 2008 lalu, musim gugur hampir di penghujung, tetapi salju belum turun, jalan belum licin. Meski daun-daun yang kuning sebagian sudah berubah cokelat, tetapi angin di Tokyo cukup hangat untuk sekedar mengenakan pakaian dua lapis dan sebuah syal. Cukup nyaman untuk seorang yang biasa hidup di daerah tropis sepanjang tahun. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_333" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-333" title="festival" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/fest_kuil2-300x225.jpg" alt="festival ketika musim gugur di kuil yang saya tidak tahu namanya" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">festival ketika musim gugur di kuil yang saya tidak tahu namanya</p></div>
<p>Ketika saya berkunjung ke Jepang tahun 2008 lalu, musim gugur hampir di penghujung, tetapi salju belum turun, jalan belum licin. Meski daun-daun yang kuning sebagian sudah berubah cokelat, tetapi angin di Tokyo cukup hangat untuk sekedar mengenakan pakaian dua lapis dan sebuah syal. Cukup nyaman untuk seorang yang biasa hidup di daerah tropis sepanjang tahun. Ornamen-ornamen natal terlihat berkerlap-kerlip di sepanjang jalan. Salah satu yang paling semarak adalah hiasan natal di depan Tokyo Tower. Lebih dari itu, 2008 juga ulangtahun Tokyo Tower ke-50. Tak heran jika di badan menara ini tertulis “50” dengan lampu gemerlap sehingga terlihat dari jauh. Meski mayoritas orang Jepang bukan beragama Kristiani, tetapi mereka suka sekali dengan segala perayaan. Tak hanya perayaan kepercayaan Shinto, tetapi juga hari Valentine, Hallowen, dan kini, menyambut Natal. Hal pertama yang menarik perhatian saya adalah kesukaan mereka pada benda-benda kecil (miniatur) dan tiruan. Mulai dari tiruan makanan, miniatur tokoh-tokoh anime, hingga miniatur kota Tokyo jaman dulu yang sangat detil digelar di lantai bawah Tokyo Tower.</p>
<p>Seorang teman pernah bercerita pada saya, sepulang dari Jepang, kerabat-kerabat Jepangnya membawakan sedikit kenang-kenangan yang –biarpun kecil- dibungkus lucu-lucu, disertai ucapan yang agak panjang. Kadang, ucapan itu juga menjelaskan kenapa ia memberikan hadiah tertentu untuk orang itu. Di mata saya, perayaan apapun bagi orang Jepang kelihatannya berkaitan dengan kesukaan mereka memberi hadiah yang mungil-mungil. Toko kertas (yang saya maksud di sini bukan sekedar toko kertas menjual HVS rim-riman seperti di Indonesia, tetapi juga meliputi kertas kado dengan warna dan pola unik) mungkin belum terlihat ramai, tapi jangan khawatir… tak lama lagi antriannya pasti akan panjang, dipenuhi orang-orang yang ingin mengemas hadiah Natal.</p>
<p><span id="more-332"></span></p>
<p><strong>Hachiko, si Anjing Setia</strong></p>
<div id="attachment_334" class="wp-caption alignleft" style="width: 235px"><img class="size-medium wp-image-334" title="hatchiko" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/hatchiko-225x300.jpg" alt="Di depan patung hatchiko di stasiun Shibuya" width="225" height="300" /><p class="wp-caption-text">Di depan patung hatchiko di stasiun Shibuya</p></div>
<p>Waktu kecil, saya pernah membaca sebuah cerita di majalah anak-anak, yang tadinya saya pikir hanya dongeng belaka. Seekor anjing setia setiap pagi mengantar tuannya ke stasiun kereta. Sorenya, anjing itu akan menjemput di stasiun yang sama. Hingga suatu hari, tuan pemilik anjing meninggal di tempat kerja. Tetapi si anjing tidak tahu, dan terus menjemput tuannya setiap sore hingga 10 tahun lamanya, setiap hari. Hachiko adalah nama anjing setia itu, yang tak bosan menjemput tuannya, Profesor Ueno, seorang Dosen di Universitas Tokyo yang meninggal pada 21 Mei 1925. Hachiko adalah anjing jantan ras Akita Inu kelahiran Odate, Prefektur Akita, Jepang. Hachiko tiba-tiba menjadi dikenal penduduk sekitar Stasiun Shibuya. Banyak orang konon ke situ hanya untuk melihat Hachiko datang menjempung Profesor yang tak kunjung datang sambil memandanginya dengan iba. Sejak tahun 1934 -satu tahun sebelum anjing ini mati-, di depan Stasiun Shibuya didirikan patung Hachiko.</p>
<p> </p>
<p>Kini, tempat ini merupakan meeting point orang-orang Tokyo. Banyak anak muda yang terlihat berdiri, bersandar di dinding, atau duduk di sekitar patung Hachiko sambil menunggu kencannya. Bagi saya, cukup menarik hanya melihat orang jalan di meeting point Hachiko. Setiap beberapa menit, tepatnya ketika lampu tanda pejalankaki berubah hijau, perempatan Shibuya bergerak cepat oleh para penyeberang. Sekitar 100-200 orang bergegas, berpacu dengan lampu lalu lintas yang sebentar lagi berubah merah. Selain kereta, memang jalan kaki dan bersepeda adalah transportasi utama kebanyakan penduduk Tokyo. Hanya sedikit orang yang naik kendaraan bermotor, sedang taksi hanya digunakan oleh orang-orang yang benar-benar kaya mengingat argonya sangat mahal.</p>
<p><strong>Kota Fashionista</strong></p>
<p>Penduduk Tokyo pada umumnya adalah orang-orang yang melek fesyen. Sebuah mall bernama 109 di daerah Shibuya saya datangi, anak-anak muda dengan pakaian sangat modern terlihat di setiap sudut. Mereka mengingatkan saya pada boneka Jepang yang saya dapat sebagai oleh-oleh dari paman saya sekitar 20 tahun lalu. Hanya saja, dengan kostum yang sama sekali berbeda. Baju berlengan panjang, rok mini, coat, stoking warna-warni berpola variasi, serta sepasang sepatu boot berhak tinggi telah menggantikan kimono dan bakiak Jepang. Sedang yang laki-laki tak kalah dengan gaya mereka yang dandy sekaligus funky. Sekilas saya memperhatikan sepatu mereka, saya pikir tak ada orang Tokyo yang tak mengindahkan sepatu. Dari keseluruhan gayanya, kelihatannya sepatu menjadi bagian penting yang tak boleh alpa dipikirkan. Pada musim gugur, boot menjadi pilihan utama. Bermacam model boot dijual mulai harga 2000 yen hingga puluhan ribu yen. Beberapa menggunakan bulu binatang sebagai syal penutup leher. Rambut mereka dicat non-hitam dengan potongan modern, sebagian bahkan me-make-over wajahnya dengan bedak berwarna kecokelatan, sehingga kulitnya berkesan tanned. Rasanya istilah ‘mati gaya&#8217; paling tepat untuk menggambarkan orang pendatang yang sekedar mengenakan baju panjang untuk menghangatkan tubuh.</p>
<p> </p>
<div id="attachment_335" class="wp-caption alignleft" style="width: 235px"><img class="size-medium wp-image-335" title="harajukust" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/harajukust-225x300.jpg" alt="Eka di daerah Harajuku" width="225" height="300" /><p class="wp-caption-text">Eka di daerah Harajuku</p></div>
<p>Dari Stasiun Shibuya, saya naik kereta dalam kota menuju Harajuku. Beberapa orang terlihat santai membaca buku, baik duduk maupun sambil berdiri. Di sini, orang terbiasa menutupi kover buku bacaannya dengan sampul dari toko buku. Biasanya, sampulnya berwarna cokelat dan ada nama tokonya. Jika tidak, beberapa sengaja menutupinya dengan kertas putih. Budaya membaca buku agaknya hal yang biasa di Jepang. Di sepanjang jalan, toko-toko buku 2nd hand juga hidup. Jika rajin mencarinya, bahkan buku Harry Potter serial terakhir versi bahasa Inggris hard cover pun sudah bisa didapat hanya seharga 500 yen (sekitar Rp. 60.000,-). Kebanyakan buku yang mereka bawa berukuran buku saku, baik itu komik maupun non-komik. Mereka membaca buku bahkan ketika sedang di eskalator stasiun kereta dan subway. Begitu tangga jalan habis, buku mereka selipkan di tas untuk nanti dibaca lagi.</p>
<p> </p>
<p>Tak sampai sepuluh menit dari Shibuya, saya tiba di stasiun Harajuku. Sebenarnya jalan kakipun bisa, tetapi karena jalan menuju Harajuku naik bukit, jadi saya memilih naik kereta. Nama Harajuku begitu terkenal di Indonesia karena Maia Ahmad mengklaim dirinya berdandan ala anak muda daerah ini. Begitu keluar stasiun, segera saya lihat lautan orang di Takeshita Street. Beberapa anak muda laki-laki dengan ramput spikey terlihat sedang berdiri di sana-sini. Di sinilah anak-anak Harajuku konon membeli baju-bajunya dengan harga murah, mulai dari 350 yen hingga beberapa ribu yen. Ketika masuk ke dalam Takeshita Street, baru saya ngeh ada toko-toko yang menjual pakaian 2nd hand dan toko pakaian satu harga (semua baju seharga 500 yen). Anak-anak muda Harajuku berdandanan jauh lebih ekstrim ketimbang Maia. Jika tidak bergaya ala gothic, punk, berkostum binatang, dan Barbie-girl/boy. Anehnya, meskipun mereka berani berdandan ekstrem, tetapi kebanyakan malu difoto. Pertokoan di sepanjang jalan ini dipenuhi anak-anak muda, baik yang belanja maupun bekerja sebagai salesman –berteriak-teriak sambil membawa papan promosi atau membagi-bagikan leaflet dengan bonus sebungkus tissue-, semua bergaya ekstrim. Selain orang Jepang, orang kulit hitam juga lazim di sini. Dengan bahasa Jepang yang terbatas, dan senyum yang ramah mereka mempersilakan tamunya masuk. Umumnya, orang-orang kulit hitam mengelola toko khusus menjual pakaian dan aksesori hip-hop.</p>
<p>Harajuku merupakan Bronx-nya Jepang. Di sinilah titik ‘pemberontakan’ dari segala sikap resmi dan unggah-ungguh ala Jepang. Ini satu-satunya daerah yang para pelayan tokonya yang tidak selalu berkata irasainase (=selamat datang) kepada pengunjung. Sangat berbeda dengan daerah Ginza atau Roponggi, barang-barang di Harajuku bisa didapat dengan harga jauh lebih murah. Apabila di Jepang sangat susah mendapatkan barang bajakan, maka di daerah Harajuku (tepatnya di Takeshita Street) sajalah kemungkinan barang bajakan diperdagangkan. Sedikit banyak tempat ini mengingatkan saya pada Blok M, Jakarta.</p>
<p>Di akhir Takeshita Street, menyeberang sedikit, di situlah letak Harajuku Street yang mengingatkan saya pada Bandung. Jika di Takeshita Street menjual barang-barang yang diambil dari pemasok, maka  di Harajuku Street toko-toko independen (distro) yang menjual pakaian rancangan sendiri bertebaran bahkan di gang-gang kecil. Beberapa toko yang menjual pakaian dan aksesori ala India, Hindu/Budha, dan penduduk aseli Amerika (Indian) terselip di antara toko-toko pakaian ala Barbie-girl/boy. Kelihatannya, femonema bergaya eksotis di Tokyo akan menghiasi musim dingin yang sebentar lagi tiba.</p>
<p>Masih di daerah Harajuku, di dekat taman para musisi jalanan menyuguhkan kebolehannya. Setiap aliran musik punya teritori sendiri-sendiri dan tidak menganggagu satu sama lain. Konon, di tempat inilah band-band Jepang ditemukan bakatnya oleh para produser. Tak hanya itu, beberapa penggemar Elvis Presley yang berdadan dengan rambut dijambul tinggi juga terlihat sedang menari-nari di pinggir taman dengan iringan lagu-lagu Presley. Di kursi panjang seorang pengemis terlihat bermalasan di bangku panjang. Sebuah koper berisi harta bendanya, juga tumpukan kardus yang kelihatannya jadi alas tidurnya, tertata rapi di situ. Sedang, ia sendiri rebahan di atas tas gendutnya sambil membaca sebuah buku. Seorang teman asal Indonesia yang lama berada di Jepang menjelaskan, mereka yang jadi pengemis, jika tidak karena benar-benar malas sehingga miskin, banyak pula karena tak punya keluarga. Dengan menjadi pengemis, mereka bisa berkomunitas dan punya banyak teman.</p>
<p> </p>
<div id="attachment_339" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-339" title="sake" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/sake-300x225.jpg" alt="Tumpukan sake yang digelar sebelum gerbang akhir Kuil Meiji" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Tumpukan sake yang digelar sebelum gerbang akhir Kuil Meiji</p></div>
<p>Di dekat taman, segera kita melihat sebuah gerbang besar menuju Kuil Meiji. Kuil ini akan dipenuhi orang terutama pada tahun baru, ketika penganut Shinto berdoa minta berkah di awal tahun. Jalan sepanjang kira-kira 1km saya tempuh sebelum bertemu gerbang akhir Kuil Shinto. Suasana sakral segera menyelimuti saya. Burung gagak terlihat beterbangan di antara pepohonan hutan buatan. Konon, penduduknya menyumbangkan ribuan batang pohon untuk membuat hutan buatan menuju kuil Meiji. Tumpukan drum sake dengan berragam ornamen dipajang tak jauh dari gerbang pertama menuju kuil, berseberangan dengan tumpukan drum wine (minuman angur). Penganut Shinto di Jepang percaya, minum minuman beralkohol berarti membersihkan jiwa dan raga seseorang. Ada beberapa gerbang besar berbentuk kanji ‘pintu’ yang harus dilewati sebelum sampai ke gerbang akhir.</p>
<p> </p>
<p>Memasuki gerbang terkahir, setiap orang harus mencuci tangan dan berkumur-kumur di sebuah mata air sangat dingin yang sudah disediakan. Gayung kecil bergagang panjang terbuat dari bambu berjajar di pinggirnya. Ketika memasuki kuil, pengunjung dilarang menginjak anak tangga paling tinggi, kami harus melangkahinya. Sebab dipercaya anak tangga paling tinggi adalah kedudukan Dewa-Dewa. Sebuah toko yang menjual berragam jimat dikerumuni pengunjung. Mulai dari jimat enteng jodoh, banyak rejeki, hinga jimat selamat di jalan dijual dengan kemasan warna-warni. Beberapa orang terlihat membeli sebuah papan yang disebut tablet doa seharga 500 yen. Tiba-tiba, saya teringat acara <em>Talkshow Oprah</em> yang topiknya impian yang jadi kenyataan; beberapa bintang tamunya mengaku menuliskan cita-cita mereka di sebuah papan dan memajangnya untuk menyugesti diri sendiri mewujudkan impian itu. Di halaman kuil, tepatnya di sebelah kanan sebelum pintu masuk kuil, ribuan tablet doa tergantung memutar di papan yang sudah disediakan. Masing-masing tablet bertuliskan harapan dan cita-cita penulisnya. Membaca harapan orang lain tiba-tiba menjadi hiburan untuk para turis, terutama harapan yang berbahasa Inggris. Orang Jepang yang datang dan menulis tablet doa biasanya siswa yang akan ujian dan berharap lulus. Saya juga membaca sebuah tablet yang bercita-cita menjadi komikus manga terkenal agar bisa membantu ibunya.</p>
<p> </p>
<div id="attachment_336" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-336" title="tokyotower" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/tokyotower-300x225.jpg" alt="Tokyo Tower dan hiasan natal yang semarak" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Tokyo Tower dan hiasan natal yang semarak</p></div>
<p>Di dalam kuil, yang paling menarik bagi saya adalah sebuah kotak yang disebut ‘waka’. Dengan 100 yen, pengunjung bisa mengambil sebuah gulungan kertas kecil berisi puisi Kaisar Meiji yang isinya merefleksikan kepribadian dan menasehati si Pengambil Kertas. Beberapa orang terlihat berdoa setelah melemparkan koin berlubang (5 yen atau 50 yen), sementara para pendeta terlihat seliweran tak terganggu pengunjung yang sesekali mengambil foto.</p>
<p> </p>
<p>Sekitar pukul 16:30 hari mulai menggelap. Lampu-lampu kota mulai menyala. Hiasan natal terlihat semakin gemerlap seiring dengan menggelapnya hari. Perut saya mulai lapar, angin juga sudah mulai lebih dingin. Sepanjang jalan, tiruan makanan yang bentuknya persis aselinya dipajang di depan kedai makan, membuat perut saya makin keroncongan. Saya menarik kapucung untuk menutup kepala, dan memutuskan jalan ke kedai cepat saji tempura untuk makan malam sekaligus menghangatkan diri dalam ruangan ber-AC dengan suhu 23°C.</p>
<p>Dimuat di <a href="http://gaya.suaramerdeka.com/index.php?id=396"><em>Suara Merdeka</em></a>, 11 Januari 2009.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/tokyo-di-penghujung-musim-gugur-332.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Naik Kelas</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/naik-kelas-316.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/naik-kelas-316.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Nov 2008 15:14:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[bioskop indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[editor]]></category>
		<category><![CDATA[scriptwriter]]></category>
		<category><![CDATA[televisi]]></category>
		<category><![CDATA[trans tv]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=316</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal 20 November ini saya merayakan satu bulan saya bekerja di sebuah televisi swasta.  Tiba-tiba saya kagum pada diri saya sendiri&#8230; &#8220;kok bisa ya, bertahan?&#8221; Saya merasa keluar dari cangkang kenyamanan yang selama ini saya erami. Pertama, saya membenci rutinitas. Kedua, saya tidak terlalu cakap bergaul dengan orang lain. Ketiga, saya merasa sulit bekerja dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/film.jpg" rel="lightbox[316]"><img class="alignleft size-full wp-image-317" title="film" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/film.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a></p>
<p>Tanggal 20 November ini saya merayakan satu bulan saya bekerja di sebuah televisi swasta.  Tiba-tiba saya kagum pada diri saya sendiri&#8230; &#8220;kok bisa ya, bertahan?&#8221; Saya merasa keluar dari cangkang kenyamanan yang selama ini saya erami.</p>
<p>Pertama, saya membenci rutinitas.<br />
Kedua, saya tidak terlalu cakap bergaul dengan orang lain.<br />
Ketiga, saya merasa sulit bekerja dengan orang lain -terutama untuk hal-hal yang kreatif.</p>
<p>Jadi&#8230;, hebat! Saya bisa bertahan. Untuk kali ini, saya memberi salut untuk diri sendiri (suatu hal yang jarang saya lakukan, ngomong-ngomong hehehehe).</p>
<p>Sudah terlalu lama saya bekerja sendiri. Dulu sempat sih, kerja kantoran. Waktu itu saya masih meraba-raba apa yang saya inginkan. Jadi, saya cenderung mencoba segala hal. Ketika saya memutuskan untuk fokus menulis, saya menjadi lebih intim dengan diri saya sendiri ketimbang dengan orang lain (istilah kerennya &#8220;autis&#8221; ya?). Hal kreatif menurut saya patutnya dilakukan sendiri saja, sebab jika dilakukan dengan orang lain, saya tidak akan mendapatkan apa yang ingin saya capai.</p>
<p><span id="more-316"></span>Dulu pernah mencoba menulis bareng teman, hasilnya acakadul. Saya tidak percaya dengan konsep <em>&#8220;two heads better than one&#8221;.</em> Sekarang, ketika saya diwajibkan bekerja dengan orang lain, saya belajar banyak. Dan konsep <em>&#8220;many heads will give a better result&#8221; </em>tiba-tiba jadi pegangan saya. Bagaimana tidak? Kenyataannya saya tidak bisa bekerja sendiri untuk mendapat hasil akhir yang keren.</p>
<p>Meskipun pekerjaan saya masih seputar tulisan (ya, masih di situ-situ juga! hehehe), tapi kali ini saya harus mendengar omongan orang lain: masukan, kritikan, cacian. Dan bagaimana pun, saya harus mendengarkan itu semua meski sebenarnya tidak ingin, mengingat hasil akhir yang mutakhir tidak hanya berada di tangan saya. Saya cuma sebagai pintu bagi teman-teman kru untuk membuat film televisi yang bagus.</p>
<p>Hal lain lagi yang saya pelajari adalah, saya harus berkompromi dengan pasar. Karena bagaimana pun, <em>rating is the king!</em> Di sini, saya belajar untuk lebih tidak jadi egois lagi. Saya yang terbiasa menulis sesuka-suka diri saya, kini harus mempertimbangkan pemirsa. Saya tidak bisa lagi bersikap masa bodoh untuk hal yang satu ini.</p>
<p>Untuk alasan itu semua, saya pikir, saya baru saja naik kelas.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/naik-kelas-316.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
