<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ratih Kumala &#187; Journal</title>
	<atom:link href="http://ratihkumala.com/blog/category/journal/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ratihkumala.com</link>
	<description>The Only Constant is Change</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Apr 2012 13:52:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Thank you, Mas Tama.</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/thank-you-mas-tama-892.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/thank-you-mas-tama-892.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2012 15:48:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[trans 7]]></category>
		<category><![CDATA[trans corp]]></category>
		<category><![CDATA[trans tv]]></category>
		<category><![CDATA[wishnutama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=892</guid>
		<description><![CDATA[Remember, remember… 13 of April. Saya akan selalu mengingat tanggal ini, hari ketika CEO yang telah 11 tahun memimpin Trans TV, Wishutama, memutuskan untuk resign. Saya bukanlah pegawai yang dekat dengannya. Saya amat jarang berbicara dengan beliau, paling-paling bertegur sapa ketika bertemu di lift, atau lobby, atau di lantai 8, atau jika kebetulan Mas Tama &#8230; <a href="http://ratihkumala.com/blog/thank-you-mas-tama-892.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/mastama_lastday.tiff"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/mastama_lastday.tiff" alt="" title="mastama_lastday" class="aligncenter size-full wp-image-893" /></a></p>
<p>Remember, remember… 13 of April. Saya akan selalu mengingat tanggal ini, hari ketika CEO yang telah 11 tahun memimpin Trans TV, Wishutama, memutuskan untuk resign. </p>
<p>Saya bukanlah pegawai yang dekat dengannya. Saya amat jarang berbicara dengan beliau, paling-paling bertegur sapa ketika bertemu di lift, atau lobby, atau di lantai 8, atau jika kebetulan Mas Tama mampir ke lantai 7. Mas Tama dikenal sebagai boss yang cukup keras dan tegas, tapi di balik itu, setiap pegawainya tahu kalau dia memimpin dengan hati.<br />
<span id="more-892"></span><br />
Kenangan paling berkesan buat saya (yang mungkin Mas Tama sendiri tak ingat), adalah ketika menjelang HUT Trans TV ke-9, tiba-tiba Mas Emilka, E.P. saya, memerintahkan saya untuk menemui Mas Tama di ruangannya. Katanya, saya diminta membantu untuk membuat pidato HUT Trans TV. Ketika itu saya bertanya, “Kan Mas Tama punya banyak sekertaris, kenapa enggak sama sekertarisnya?”. Mas Emilka menjawab, “dia ingin sama penulis.” Jadilah, saya membawa laptop, plus perut buncit saya yang ketika itu hamil besar muncul ke ruangan Mas Tama.</p>
<p>Mas Tama melihat perut saya, dan menegur, “Kamu hamil?” Saya mengangguk sambil mengiyakan. Kami lalu berdiskusi tentang pidato ke-9 HUT Trans TV, mencari kata dan menata kalimat yang tepat untuk VT HUT. Di sela itu, tiba-tiba dia bercerita pengalamannya melihat kelahiran anak pertamanya. Dan hati saya mencelos, sebab bagi saya yang ketika itu sebentar lagi melahirkan, ceritanya cukup “menyeramkan”.</p>
<p>Mas Tama, terimakasih engkau telah memimpin kapal ini di tengah ombang-ambing lautan rating/share bernama AGB Nielsen. Saya hanyalah satu dari ribuan karyawanmu, dan betapa saya berharap bisa mengenalmu lebih dekat. 3 tahun terakhir, saya terlambat. Tapi kali lain, jika kesempatan ada, saya takkan melewatkannya begitu saja. Good luck, Mas Tama! Tabik saya selalu untukmu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/thank-you-mas-tama-892.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Crazy Little Thing Called Book</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/crazy-little-thing-called-book-868.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/crazy-little-thing-called-book-868.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Apr 2012 06:31:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Kemang]]></category>
		<category><![CDATA[Richard Oh]]></category>
		<category><![CDATA[The Reading Room]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=868</guid>
		<description><![CDATA[If you ask me who is the guy that loves book very much, the answer will be Richard Oh. Four years back he owned a tasteful QB Bookstore, which sadly now it’s closed. My husband and I went to his place several times, and he always welcomed us on his working room, which in my &#8230; <a href="http://ratihkumala.com/blog/crazy-little-thing-called-book-868.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/TheReadingRoom2a.jpg" rel="lightbox[868]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/TheReadingRoom2a.jpg" alt="" title="TheReadingRoom2a" width="347" height="481" class="aligncenter size-full wp-image-890" /></a></p>
<p>If you ask me who is the guy that loves book very much, the answer will be Richard Oh. Four years back he owned a tasteful QB Bookstore, which sadly now it’s closed. My husband and I went to his place several times, and he always welcomed us on his working room, which in my opinion is more of like unorganized library. You can find books everywhere and no place to sit in. I imagine Richard was like Scrooge McDuck, swimming on his pool of coins, but instead of coins, it’s pool of books. Now, he opens The Reading Room in Kemang, Jakarta. This place is super cozy with calming choice of color concept, the music, the coffee and Wi-Fi. It also has a screening room with 20 seats on it (filmmakers are going to love this place!), where films can be screened for limited audience. What makes it more special, instead of wall; you’ll find pile of books separate each area of The Reading Room. Most of the books are imported literature. Don’t be surprise if one day you visit The Reading Room and spot your favorite writer working seriously on his computer in a corner. This place is heaven for writer who needs to condition his writing atmosphere. And the good news is; it’s open as early as 9 AM. On the weekend it even opens until 2 AM, while on weekdays it opens until 12 PM. If QB Bookstore was basically a bookstore with a small café on it, The Reading Room is more of a café with tons of books on it. There are more than 5000 books in The Reading Room. Richard’s personal collection is in the 2nd floor, closed in glass cupboards and can only be read there. The book on the cupboard cannot be bought, however if you want, you can buy books outside the cupboard with IDR 50,000-125,000. Visit The Reading Room in Jalan Kemang Timur No. 57A-B, Jakarta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/crazy-little-thing-called-book-868.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membaca Jakarta Lewat Kacamata Ratih Kumala</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/membaca-jakarta-lewat-kacamata-ratih-kumala-847.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/membaca-jakarta-lewat-kacamata-ratih-kumala-847.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Feb 2012 13:18:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Kronik Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[On Writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=847</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ayu Welirang (Kompasiana) Siapa di sini yang nggak tahu sama Ratih Kumala? Wah, kalau nggak tahu sih ya kelewatan. Ratih Kumala ini sudah beberapa kali menulis untuk kolom cerpen koran dan cerita bersambung, di Kompas dan Republika. Keren bukan? Susah sekali untuk menembuskan tulisan kita ke dua surat kabar ternama itu, karena yang dipilih &#8230; <a href="http://ratihkumala.com/blog/membaca-jakarta-lewat-kacamata-ratih-kumala-847.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/kronik-betawi-small.jpg" rel="lightbox[847]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/kronik-betawi-small.jpg" alt="" title="kronik-betawi-small" width="200" height="300" class="alignleft size-full wp-image-691" /></a><br />
Oleh: Ayu Welirang (Kompasiana)</p>
<p>Siapa di sini yang nggak tahu sama Ratih Kumala? Wah, kalau nggak tahu sih ya kelewatan. Ratih Kumala ini sudah beberapa kali menulis untuk kolom cerpen koran dan cerita bersambung, di Kompas dan Republika. Keren bukan? Susah sekali untuk menembuskan tulisan kita ke dua surat kabar ternama itu, karena yang dipilih hanyalah tulisan-tulisan tertentu, dengan nilai sastra tinggi dan kajian budaya yang cukup kental.</p>
<p>Pertama kali yang saya lihat dari buku adalah sampul. Setelah sampul, kemudian sinopsis di bagian paling belakang buku. Setelah itu, barulah saya melihat nama pengarang. Kalau ternyata pengarangnya cukup ternama, saya sudah pasti akan membacanya. Dan ketika melihat sebuah buku dengan gambar yang etnik sekali, saya langsung tertarik. Sinopsisnya pun menarik! Dan yang lebih menyenangkan adalah, penulisnya itu Ratih Kumala.</p>
<p>Saya membelinya. Buku itu adalah buku yang paling keren di antara deretan buku-buku di Bogor Trade Mall. Saya ada di sana karena sudah berjanji pada keponakan, untuk mengajak dia makan di salah satu restoran fast food. Saya berangkat ke BTM bersama keponakan dan si oom-nya keponakan. Hehe. Sebelum makan, saya melihat-lihat toko buku di BTM dan langsung tertarik pada buku itu.<br />
<span id="more-847"></span><br />
Buku itu berjudul Kronik Betawi. Sebuah kisah keluarga Betawi yang mulai tergeser oleh peradaban Jakarta yang kian pesat. Kisah yang disampaikan oleh tiga orang Betawi, dua lelaki dan satu perempuan. Mereka bersaudara kandung. Di bagian sinopsis, ada potongan-potongan opini dari si tokoh fiktif pada novel ini, yaitu Haji Jaelani, Haji Jarkasi dan Juleha. Mereka sedang berbicara tentang Betawi dan itulah yang harusnya kita ketahui. Bagaimana seharusnya Jakarta. Bagaimanakah Betawi yang sebenarnya.</p>
<p>Selain itu, pada bagian awal novel, terdapat potongan lirik lagu oleh Iwan Fals yang berjudul Ujung Aspal Pondok Gede. Hal ini pernah dibahas pula pada posting-an ini.</p>
<p>Sampai saat, tanah moyangku. Tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota. Terlihat murung wajah pribumi. Terdengar langkah hewan bernyanyi…<br />
Penceritaan dalam novel ini dibagi menjadi tiga sudut pandang, dengan sudut pandang orang pertama tunggal. Dibagi tiga menjadi bagian Haji Jaelani yang protes terhadap pembelian tanah warisan moyang, yang sudah lama digunakan untuk ngangon sapi-sapinya. Tentang Haji Jaelani yang protes akan, “Sejak kapankah Jakarta banjir?” Padahal, dulu ketika ia masih kecil, Jakarta itu indah dan ladang bermain pun ada dimana-mana. Bagian kedua adalah tentang Haji Jarkasi, yang menjadi seniman lenong. Seniman yang terlupakan dan kerap kali tertangkap oleh Satpol PP. Padahal, sudah seharusnyalah dia dan timnya tetap dilestarikan. Sekarang, malah diusir, dianggap meresahkan warga dan membuat tata kota rusak. Apakah itu semua salah mereka? Mereka hanya seniman dan yang mereka bawa adalah budaya kita, budaya Indonesia! Budaya Betawi! Dan terakhir, adalah cerita dari seorang istri yang dimadu. Seorang istri setia yang menghempas jauh-jauh pemahaman bahwa orang Betawi itu bisa dengan mudah memadu. Padahal, tidak semua orang Betawi seperti itu. Hanya saja, karena dirinya lahir dalam lingkungan yang sudah seperti itu, seperti ayahnya yang memadu ibunya, kakaknya–Haji Jaelani yang menikah lagi sepeninggal istirnya, dan dirinya yang dimadu pula, Juleha jadi tidak bisa melakukan pembelaan lagi.</p>
<p>Cerita-cerita tersebut bergulir dengan alur campuran yang juga sangat unik. Menggambarkan kilas balik dari tiap tokoh dan mengapa mereka seperti itu. Ikatan saudara kandung antara ketiga tokoh tersebut juga sangat terlihat. Bukan hanya sekedar memanggil “Bang”, “Kak”, atau panggilan lainnya. Ada suatu hubungan artifisial yang digambarkan dalam tokoh-tokoh ini.</p>
<p>Seperti saat Haji Jaelani mempunyai anak dari istri keduanya. Anak yang bernama Fauzan itu malah lebih taat dibanding anak-anaknya, Juned dan Japri yang kerap kali menyulitkan Haji Jaelani. Dan seiring waktu, Fauzan malah menjadi anak Haji Jaelani satu-satunya, yang bisa melanjutkan studi di luar negeri. Betapa bangganya Haji Jaelani saat itu. Kisah terakhir pun ditutup dengan keberangkatan Fauzan ke Amerika untuk studinya.</p>
<p>Novel yang sebelumnya pernah dimuat dalam harian Republika, sebagai cerita bersambung ini, benar-benar menunjukkan wujud Jakarta. Bagaimana kroniknya. Bagaimana Jakarta masa lalu dan masa sekarang. Betapa besar perubahan Jakarta dari masa lalu ke masa sekarang.</p>
<p>Dan menurut saya sendiri, Ratih Kumala berhasil menampilkan hasil penelusurannya akan Jakarta, melalu kacamatanya sendiri. Beginilah Jakarta dan Kronik Betawi-nya.</p>
<p>Informasi Buku:</p>
<p>Judul: Kronik Betawi</p>
<p>Pengarang: Ratih Kumala</p>
<p>Penerbit: Gramedia</p>
<p>Tahun Terbit: 2009</p>
<p>Tebal: 268 halaman</p>
<p>Harga: Rp 34.400,-</p>
<p>Sumber:<br />
<a href="http://media.kompasiana.com/buku/2012/02/28/membaca-jakarta-lewat-kacamata-ratih-kumala/">http://media.kompasiana.com/buku/2012/02/28/membaca-jakarta-lewat-kacamata-ratih-kumala/</a><br />
dan<br />
 <a href="http://www.ayuwelirang.com/2012/02/membaca-jakarta-lewat-kacamata-ratih.html" title="www.ayuwelirang.com">http://www.ayuwelirang.com/2012/02/membaca-jakarta-lewat-kacamata-ratih.html</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/membaca-jakarta-lewat-kacamata-ratih-kumala-847.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>quote</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/quote-800.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/quote-800.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Oct 2011 13:24:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Friederich Nietzsche]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=800</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;The author must keep his mouth shut when his work starts to speak.&#8221; Friederich Nietzsche]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;The author must keep his mouth shut when his work starts to speak.&#8221;</em><br />
<strong>Friederich Nietzsche</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/quote-800.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meet the Writer, Tariq Ali</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/meet-the-writer-tariq-ali-784.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/meet-the-writer-tariq-ali-784.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Oct 2011 16:07:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[Tariq Ali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=784</guid>
		<description><![CDATA[I&#8217;m lucky enough to get an opportunity to meet this smart funny man, Tariq Ali. My husband, Eka Kurniawan, and I met him at the hotel in Kemang, Jakarta, to give him some books. And you know what, he gave us his book too! Its tittle is Fear of Mirrors. Lucky (^,^)v Then we got &#8230; <a href="http://ratihkumala.com/blog/meet-the-writer-tariq-ali-784.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/TariqAli_RatihKumala2.jpg" rel="lightbox[784]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/TariqAli_RatihKumala2-300x225.jpg" alt="" title="TariqAli_RatihKumala2" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-785" /></a><br />
I&#8217;m lucky enough to get an opportunity to meet this smart funny man, Tariq Ali. My husband, Eka Kurniawan, and I met him at the hotel in Kemang, Jakarta, to give him some books. And you know what, he gave us his book too! Its tittle is <em>Fear of Mirrors</em>. Lucky (^,^)v  Then we got a chance to have a chat. I&#8217;m not saying it was a light chat, since we talked mostly about politics! Yes, can you believe it? But Mr. Ali was a very positive person whose able to bring the conversation into a nice chat. From Pramoedya Ananta Toer to Cuba, the chat got me carried away. For a man who admit don&#8217;t know much about Indonesia (than other Asia countries), he sure knew many about Indonesian history. One funny thing happen, when he saw a news paper named Koran Jakarta. He thought it was about religion. Then I explained that &#8216;koran&#8217; in Indonesian means &#8216;news papper&#8217;, not &#8216;Al-Quran&#8217;. Hopefully we&#8217;ll get a chance to meet again in a future, sometime. I don&#8217;t know any other serious writer whose fun like him.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/meet-the-writer-tariq-ali-784.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>In Memoriam: Steve Jobs</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/in-memoriam-steve-jobs-781.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/in-memoriam-steve-jobs-781.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Oct 2011 15:53:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Steve Jobs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=781</guid>
		<description><![CDATA[Thank you for all the piece of art you have created for us, Mr. Jobs. You will always be remembered.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/Steve-Jobs-1955-2011.jpg" rel="lightbox[781]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/Steve-Jobs-1955-2011-300x184.jpg" alt="" title="Steve-Jobs-1955-2011" width="300" height="184" class="aligncenter size-medium wp-image-782" /></a><br />
Thank you for all the piece of art you have created for us, Mr. Jobs. You will always be remembered.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/in-memoriam-steve-jobs-781.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Reader&#8217;s Block</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/readers-block-742.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/readers-block-742.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Mar 2011 16:47:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[On Writing]]></category>
		<category><![CDATA[reader's block]]></category>
		<category><![CDATA[witer's block]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=742</guid>
		<description><![CDATA[Anda penulis? Menyebalkan bukan jika tiba-tiba terserang writer&#8217;s block? Tahu kan, itu lho&#8230;tiba-tiba lagi asik menulis, &#8220;terserang&#8221; masalah, entah mendadak mood jelek, rasa malas yang akut, mau nulis kurang bahan tulisan, dan lain-lain. Saya sering ditanya, gimana cara mengatasi writer&#8217;s block. Saya pribadi, akhir-akhir ini lebih suka membiarkan writer&#8217;s block itu sejenak menyerang saya, dan &#8230; <a href="http://ratihkumala.com/blog/readers-block-742.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/abandonedbook3.jpg" rel="lightbox[742]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/abandonedbook3-199x300.jpg" alt="" title="abandonedbook" width="199" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-761" /></a>Anda penulis? Menyebalkan bukan jika tiba-tiba terserang <em>writer&#8217;s block</em>? Tahu kan, itu lho&#8230;tiba-tiba lagi asik menulis, &#8220;terserang&#8221; masalah, entah mendadak mood jelek, rasa malas yang akut, mau nulis kurang bahan tulisan, dan lain-lain. Saya sering ditanya, gimana cara mengatasi <em>writer&#8217;s block</em>. Saya pribadi, akhir-akhir ini lebih suka membiarkan writer&#8217;s block itu sejenak menyerang saya, dan tak memaksakan otak saya untuk menulis. Jika merasa sudah tiba saatnya, saya akan mencoba memancing mood menulis dengan menulis hal-hal sederhana (misalnya menulis blog), atau membaca buku-buku yang menyenangkan, hingga nonton film yang bisa memancing ide-ide baru. Saya yakin, tiap penulis jika ditanya cara mengatasi <em>writer&#8217;s block</em> punya jawaban sendiri-sendiri.</p>
<p><em>Writer&#8217;s block</em> itu ibaratnya &#8220;habluminallah&#8221; (tentu saja dengan tanda kutip, yang secara harafiah &#8216;hubungan manusia dengan Tuhan&#8217;). &#8216;tuhan&#8217; (dengan &#8216;t&#8217; kecil) di situ -versi saya- saya ibaratkan diri sendiri, penulis sebagai tuhan kecil untuk tulisannya sendiri. Bagaimana ia bertanggung jawab atas dirinya sebagai penulis dengan tulisan yang <em>seharusnya </em>ia hasilkan. Saya katakan &#8216;seharusnya&#8217;, karena memang banyak penulis yang mandeg begitu saja di tengah proses menulisnya (ya terserang writer&#8217;s block itu tadi) dan tak melanjutkan lagi. Tapi, ada lho, &#8220;habluminannas&#8221; dalam berkarya sastra (yang secara harafiah berarti &#8216;hubungan manusia dengan sesama&#8217;), yang berarti -versi saya- dalam hal sastra adalah hubungan buku yang dihasilkan oleh penulis yang bersangkutan dengan pembacanya.</p>
<p>Pernahkah Anda merasa sebal karena tahu bahwa tulisan Anda tak ada yang membacanya? Bagaimana cara tahunya? Yang sederhana dan paling mudah dilacak adalah ketika Anda melihat laporan dari penerbit, bahwa penjual buku Anda cuma beberapa gelintir saja alias tak laku. Kedua, cari saja orang yang mengapresiasi buku Anda dengan mereviewnya di media/internet, jangan-jangan isinya mencaci maki buku Anda. Atau lebih parah, tak ada yang mereviewnya sama sekali. Sakit hati, bukan? &#8220;Sialan, susah-susah aku nulis!&#8221; Umpat Anda dalam hati. Yah, tapi itulah resiko jadi penulis.<br />
<span id="more-742"></span><br />
<a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/read_me.jpg" rel="lightbox[742]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/read_me.jpg" alt="" title="read_me" width="500" height="333" class="aligncenter size-full wp-image-743" /></a><br />
Jangan menyalahkan pembaca, jika mereka tak tertarik dengan bukumu. Mungkin, buku yang Anda tulis dengan susah payah dan berdarah-darah itu Anda anggap sebagai <em>masterpiece</em>, atau lebih parah, Anda anggap sebagai &#8220;anak&#8221;. Tapi tahukah Anda, pada akhirnya sebuah buku hanya akan menjadi benda berdebu, teronggok di pojok rak dan bertahun-tahun tak tersentuh jika buku itu memang tak menarik untuk dibaca. Inilah yang saya sebut dengan <em>reader&#8217;s block, </em>dan inilah yang saya sebut sebagai &#8220;habluminannas&#8221; itu tadi: hubungan buku yang dihasilkan oleh penulis bersangkutan dengan pembacanya.</p>
<p>Saya harus mengakui, ada beberapa buku yang membuat saya terserang <em>reader&#8217;s block </em>(demi kedamaian dunia, saya takkan menyebutkan judulnya, cukuplah untuk diri saya sendiri). Sebenarnya, apa yang membuat <em>reader&#8217;s block</em> tiba-tiba terjadi? Sebagai pembaca, saya mencoba untuk menjabarkannya:</p>
<p>Pertama, buku yang terlampau tebal. Yak, bukan penulis saja yang dituntut punya napas panjang untuk menuliskan buku yang tebalnya bisa untuk mengganjal pintu. Pembacapun perlu napas panjang untuk membaca buku itu. Kebanyakan pembaca Indonesia tidak punya napas yang cukup panjang. Jangankan napas panjang, baru lihat bentuk fisik bukunya saja sudah jiper, yakin benar dari awal tidak akan selesai baca buku itu.</p>
<p>Kedua, buku itu sudah diangkat ke layar lebar. Ini pengalaman saya sewaktu kuliah di Fakultas Sastra: beberapa mahasiswa malas untuk membaca buku yang harus mereka review atas tugas dosen, dan mereka sengaja memilih buku-buku yang sudah diangkat jadi film. Tentu saja, mereka lebih memilih menonton filmnya ketimbang membacanya. Kelemahannya, tentu saja, tidak semua jalan cerita yang tertulis di buku bisa diangkat ke layar. Terlebih lagi, jika buku tersebut dapat banyak pujian justru karena gaya bertuturnya yang lebih oke, dan ceritanya sih sebetulnya biasa-biasa saja. Tentu pembaca, eh&#8230;maksud saya, penonton <em>film based on book</em> tersebut akan ketinggalan banyak hal.</p>
<p>Ketiga, <em>the book simply a bad book!</em> Nah, kalau ini sih parah banget. Memang bukunya jelek sih, mau bilang apa dong? Dibuka di dua-tiga halaman pertama, belum ada percik api yang mendorong pembaca untuk meneruskannya. Maka ia pun membuka ke halaman akhir, lalu berpikir, &#8220;kok keliatannya endingnya gitu aja?&#8221; atau &#8220;alah, gampang banget ditebak.&#8221; Lalu ia masih berusaha untuk membuka-buka di halaman tengah, tetap saja merasa tidak tertarik. Buku ini resmi jadi buku yang bisa membuat pembaca terserang <em>reader&#8217;s block </em>yang akut.</p>
<p>Ya, ya&#8230;saya tahu&#8230;sebagai penulis ada semacam ego yang mendorong kita untuk menulis tulisan yang &#8220;gue banget&#8221;. Dan yang &#8220;gue banget&#8221; itu biasanya sangat idealis, harus begini-harus begitu, tak bisa ditawar. Parahnya, dari lubuh hati yang paling dalam, sebetulnya sang penulis memaksakan egonya pada pembaca dan <em>harus </em>suka. Kalau tidak suka, mendingan diam, deh! Dengan kata lain, penulis tidak memikirkan pembaca. Apa yang pembaca ingin baca, apa yang pembaca harapkan dari sebuah buku yang telah ia beli.</p>
<p>Saya tidak bilang bahwa penulis harus menulis sesuatu yang pasti disukai pembaca. Toh, soal suka atau tidak adalah masalah selera. Dan tiap orang punya selera yang berbeda-beda. Tapi, pada akhirnya, kesenangan dari memilih perofesi menjadi penulis adalah jika ia telah memiliki banyak pembaca, dan mereka mengapresiasinya dengan baik.</p>
<p>Akhirul kalam, saya berdoa semoga pembaca buku saya tidak terserang <em>reader&#8217;s block</em>. Peace! Hehe.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/readers-block-742.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Oleh-oleh dari Workshop Kelas Kreatif Fiksimini</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/oleh-oleh-dari-workshop-kelas-kreatif-fiksimini-660.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/oleh-oleh-dari-workshop-kelas-kreatif-fiksimini-660.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Nov 2010 11:04:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gallery]]></category>
		<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksimini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=660</guid>
		<description><![CDATA[Serunya Workshop Kelas Kreatif Fiksimini tanggal 27 November 2010 (Surabaya) dan 28 November 2010 (Jakarta) lalu. Ini oleh-olehnya. Di Surabaya, setelah workshop para peserta ikut Jelajah Museum dan Pabrik Pelintingan Rokok di House of Sampoerna. Sedang di Jakarta, setelah workshop para peserta Sunset Tour Jelajah Kota Tua bersama komunitas Historia. Ngomong-ngomong, sehabis sesiku ngomong, aku &#8230; <a href="http://ratihkumala.com/blog/oleh-oleh-dari-workshop-kelas-kreatif-fiksimini-660.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Serunya Workshop Kelas Kreatif <a href="http://wordpress.fiksimini.com/">Fiksimini</a> tanggal 27 November 2010 (Surabaya) dan 28 November 2010 (Jakarta) lalu. Ini oleh-olehnya. Di Surabaya, setelah workshop para peserta ikut Jelajah Museum dan Pabrik Pelintingan Rokok di House of Sampoerna. Sedang di Jakarta, setelah workshop para peserta Sunset Tour Jelajah Kota Tua bersama <a href="http://www.komunitashistoria.org/">komunitas Historia</a>. Ngomong-ngomong, sehabis sesiku ngomong, aku keliling Museum Bank Mandiri, lumayan spooky ternyata&#8230;hiiiy.</p>

<a href='http://ratihkumala.com/blog/oleh-oleh-dari-workshop-kelas-kreatif-fiksimini-660.php/fiksimini1' title='fiksimini1'><img width="150" height="150" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/fiksimini1-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Narsis-narsisan setelah ngobrol soal fiksi. Dapat plakat dari Oddie, si seksi sibuk." title="fiksimini1" /></a>
<a href='http://ratihkumala.com/blog/oleh-oleh-dari-workshop-kelas-kreatif-fiksimini-660.php/fiksimini2' title='fiksimini2'><img width="150" height="150" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/fiksimini2-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Hetih Rusli, editor GPU, juga ikut ngobrol di workshop ini tentang naskah-naskah seperti apa bisa diterbitkan." title="fiksimini2" /></a>
<a href='http://ratihkumala.com/blog/oleh-oleh-dari-workshop-kelas-kreatif-fiksimini-660.php/fiksimini3' title='fiksimini3'><img width="150" height="150" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/fiksimini3-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Pak Abdullah Harahap ngomong soal cara nyari ide yang joss, dan Oddie, setelah workshop selesai." title="fiksimini3" /></a>
<a href='http://ratihkumala.com/blog/oleh-oleh-dari-workshop-kelas-kreatif-fiksimini-660.php/fiksimini5' title='fiksimini5'><img width="150" height="150" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/fiksimini5-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Aku dan Esti Kinasih, penulis novel Fairish, yang juga jadi pembicara di worskhop." title="fiksimini5" /></a>
<a href='http://ratihkumala.com/blog/oleh-oleh-dari-workshop-kelas-kreatif-fiksimini-660.php/fiksimini4' title='fiksimini4'><img width="150" height="150" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/fiksimini4-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Clara Ng -seksi sibuk sekaligus pembicara workshop di Surabaya- dan Faye Yolody -salah satu peserta workshop-." title="fiksimini4" /></a>

<p>Terimakasih Clara Ng dan Faye Yolody buat foto-fotonya :) makasih juga panitia seksi sibuk Workshop Kelas Kreatif Fiksimini</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/oleh-oleh-dari-workshop-kelas-kreatif-fiksimini-660.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Oleh-oleh nonton “DOEL: ANTARA ROTI BUAYA DAN BURUNG MERPATI, KEMBANG PARUNG NUNGGU DIPETIK”</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/oleh-oleh-nonton-%e2%80%9cdoel-antara-roti-buaya-dan-burung-merpati-kembang-parung-nunggu-dipetik%e2%80%9d-605.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/oleh-oleh-nonton-%e2%80%9cdoel-antara-roti-buaya-dan-burung-merpati-kembang-parung-nunggu-dipetik%e2%80%9d-605.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 May 2010 03:36:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Teater]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=605</guid>
		<description><![CDATA[Pentas Doel: Antara Roti Buaya dan Burung Merpati, Kembang Parung Nunggu Dipetik sukses digelar di Gedung Kesenian Jakarta, tanggal 14 dan 15 Mei 2010. Ini oleh-olehnya:]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pentas <em>Doel: Antara Roti Buaya dan Burung Merpati, Kembang Parung Nunggu Dipetik</em> sukses digelar di Gedung Kesenian Jakarta, tanggal 14 dan 15 Mei 2010. Ini oleh-olehnya:</p>

<a href='http://ratihkumala.com/blog/oleh-oleh-nonton-%e2%80%9cdoel-antara-roti-buaya-dan-burung-merpati-kembang-parung-nunggu-dipetik%e2%80%9d-605.php/img00464-20100513-1946' title='Belakang panggung.'><img width="150" height="150" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/IMG00464-20100513-1946-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Sebelum mulai pentas, berdoa dulu di belakang panggung, ade Mas Adji-Teater Peqho (kaos putih) yang jadi dalangnye, ame Bang Uci (paling tua) yang ngelatih silat Betawi." title="Belakang panggung." /></a>
<a href='http://ratihkumala.com/blog/oleh-oleh-nonton-%e2%80%9cdoel-antara-roti-buaya-dan-burung-merpati-kembang-parung-nunggu-dipetik%e2%80%9d-605.php/img00465-20100513-2052' title='Adegan 2'><img width="150" height="150" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/IMG00465-20100513-2052-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Doel (Ade Firman Hakim), Koh Tong Hiem dan Salempang (Egi Abdullah) lagi tawar-tawaran jual-beli tanah." title="Adegan 2" /></a>
<a href='http://ratihkumala.com/blog/oleh-oleh-nonton-%e2%80%9cdoel-antara-roti-buaya-dan-burung-merpati-kembang-parung-nunggu-dipetik%e2%80%9d-605.php/adjipangestu-doel' title='Ke rumah Doel.'><img width="150" height="150" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/AdjiPangestu-DOEL-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Babehnya Asnah (Adji Pangestu), Fauzan (Rizaldi) dan Asnah (Nabila Zata) betamu ke rumahnye si Doel." title="Ke rumah Doel." /></a>
<a href='http://ratihkumala.com/blog/oleh-oleh-nonton-%e2%80%9cdoel-antara-roti-buaya-dan-burung-merpati-kembang-parung-nunggu-dipetik%e2%80%9d-605.php/img00467-20100513-2204' title='Di Binaria.'><img width="150" height="150" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/IMG00467-20100513-2204-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Doel bengkelahi! (menang kok)" title="Di Binaria." /></a>
<a href='http://ratihkumala.com/blog/oleh-oleh-nonton-%e2%80%9cdoel-antara-roti-buaya-dan-burung-merpati-kembang-parung-nunggu-dipetik%e2%80%9d-605.php/img00469-20100513-2230' title='Endah N Rhesa'><img width="150" height="150" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/IMG00469-20100513-2230-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Bintang tamunye Endah N Rhesa, nyanyi dua lagu :)" title="Endah N Rhesa" /></a>
<a href='http://ratihkumala.com/blog/oleh-oleh-nonton-%e2%80%9cdoel-antara-roti-buaya-dan-burung-merpati-kembang-parung-nunggu-dipetik%e2%80%9d-605.php/img00480-20100515-1900' title='Sehabis manggung.'><img width="150" height="150" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/IMG00480-20100515-1900-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Produsernye, Mpok Maudy Koesnadi, ame bintang tamunye, Endah N Rhesa, poto-poto sehabis manggung." title="Sehabis manggung." /></a>
<a href='http://ratihkumala.com/blog/oleh-oleh-nonton-%e2%80%9cdoel-antara-roti-buaya-dan-burung-merpati-kembang-parung-nunggu-dipetik%e2%80%9d-605.php/img00186-20100515-2307' title='Sehabis manggung juga.'><img width="150" height="150" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/IMG00186-20100515-2307-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Yang nulis ceritanye -aye kendiri-, ame S Nacita Mizwar, yang maen jadi Usnul alias Usje." title="Sehabis manggung juga." /></a>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/oleh-oleh-nonton-%e2%80%9cdoel-antara-roti-buaya-dan-burung-merpati-kembang-parung-nunggu-dipetik%e2%80%9d-605.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teater Musikal Abang None Jakarta</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/teater-musikal-abang-none-jakarta-589.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/teater-musikal-abang-none-jakarta-589.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 08:11:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Teater]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=589</guid>
		<description><![CDATA[Setelah tahun lalu Ikatan Abang None Jakarta sukses dengan sandiwara musikal berjudul &#8220;Cinta Dasima&#8221;, tahun ini Ikatan Abang None Jakarta kembali bekerjasama dengan Peqho Teater mempersembahkan sebuah sandiwara musikal Betawi: &#8220;DOEL: ANTARA ROTI BUAYA DAN BURUNG MERPATI, KEMBANG PARUNG NUNGGU DIPETIK&#8221; Waktu: Jumat, 14 Mei 2010, pukul, 19.30 WIB Sabtu, 15 Mei 2010, pukul, 16.00 &#8230; <a href="http://ratihkumala.com/blog/teater-musikal-abang-none-jakarta-589.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/si-doel-teater-abang-none.jpg" rel="lightbox[589]"><img class="aligncenter size-full wp-image-590" title="si doel-teater abang none" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/si-doel-teater-abang-none.jpg" alt="" width="333" height="333" /></a></p>
<p>Setelah tahun lalu Ikatan Abang None Jakarta sukses dengan sandiwara musikal berjudul &#8220;Cinta Dasima&#8221;, tahun ini Ikatan Abang None Jakarta kembali bekerjasama dengan Peqho Teater mempersembahkan sebuah sandiwara musikal Betawi:<br />
<span id="more-589"></span></p>
<p style="text-align: center;">
<span style="color: #800000;"><strong>&#8220;DOEL: ANTARA ROTI BUAYA DAN BURUNG MERPATI, KEMBANG PARUNG NUNGGU DIPETIK&#8221;</strong></span></p>
<p>Waktu:<br />
Jumat, 14 Mei 2010, pukul, 19.30 WIB<br />
Sabtu, 15 Mei 2010, pukul, 16.00 &amp; 19.30 WIB</p>
<p>Tempat:<br />
Gedung Kesenian Jakarta</p>
<p>Tiket:<br />
Rp. 100.000,- &amp; Rp. 75.000,- (Balcony)</p>
<p>Pelindung : Gubernur DKI Provinsi DKI Jakarta</p>
<p>Produser : Maudy Koesnaedy</p>
<p>Sutradara : Adjie N.A</p>
<p>Penulis Naskah : Ratih Kumala</p>
<p>Penata Artistik : Erros Evlin</p>
<p>Pelatih Silat : PS. Putra Betawi pimp. Bpk. S. Sanusi (Bang Uci)</p>
<p>Penata Gerak : Atien Kisam</p>
<p>Berangkat dari film berjudul &#8220;Si Doel, Sok Modern&#8221; yang dibintangi Benyamin S, Christine Hakim dan Ahmad Albar, sandiwara musikal Betawi berdurasi 2 jam ini dipentaskan oleh Ikatan Abnon Jakarta dari seluruh wilayah dari angkatan 90&#8242;an sampai 2009.</p>
<p>Informasi:<br />
Brata 081385004230, 02197492961<br />
Veronita 08128385257, 0219485257<br />
Roelly-GKJ 0213808283, 3441892</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/teater-musikal-abang-none-jakarta-589.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

