Setelah tahun lalu Ikatan Abang None Jakarta sukses dengan sandiwara musikal berjudul “Cinta Dasima”, tahun ini Ikatan Abang None Jakarta kembali bekerjasama dengan Peqho Teater mempersembahkan sebuah sandiwara musikal Betawi:
Continue Reading »
Teater Musikal Abang None Jakarta
Sayembara Menulis Novel dan Cerpen
Ada beberapa lomba menulis nih, siapa tahu bloggers tertarik untuk ikutan :)
SAYEMBARA MENULIS NOVEL DEWAN KESENIAN JAKARTA 2010
Untuk merangsang dan meningkatkan kreativitas pengarang Indonesia dalam penulisan novel, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) kembali menyelenggarakan Sayembara Menulis Novel. Lewat sayembara ini DKJ berharap lahirnya novel-novel terbaik, baik dari pengarang Indonesia yang sudah punya nama maupun pemula, yang memperlihatkan kebaruan dalam bentuk dan isi. Adapun persyaratannya sebagai berikut:
Ketentuan Umum
* Peserta adalah warga negara Indonesia (dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk atau bukti identitas lainnya).
* Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah.
* Naskah belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, baik sebagian maupun seluruhnya.
* Naskah tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa.
* Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik.
* Tema bebas.
* Naskah adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan (sebagian atau seluruhnya)
Selamat merokok, sodara-sodara!
Saya tidak terlalu suka dengan urusan politik. Saya juga merasa terganggu membaca koran yang isinya cuma korupsi, kolusi, nepotisme, gontok-gontokan di DPR, dll. Sebab itu, saya berusaha untuk tidak peduli. Tapi ketika mendengar berita bahwa Bloomberg membayar Rp. 3,4 milyar kepada Muhammadiyah agar mengharamkan rokok, saya merasa marah.
Bukan karena saya merokok, tidak. Saya tidak bisa merokok. Pernah mencobanya beberapa tahun lalu, dan saya norak sekali soal hal ini: saya tidak bisa merokok. Saya juga benci dengan asap rokok, apalagi yang tercampur dengan AC di ruangan tertutup. Saya sangat setuju dengan imbauan bahwa merokok membahayakan kesehatan, amat sangat setuju. Tapi ketika rokok akan diharamkan, saya amat sangat tidak setuju.
Managing Writers
Pertama-tama, sebetulnya saya ingin bikin judul bahasa Indonesia, “Memenej Penulis”. Tapi kok menulis kata ‘memenej’ saja rasanya janggal, dan saya merasa lebih akrab dengan bahasa Inggrisnya. Jadi deh….

Saya telah menyebut diri saya sebagai penulis kira-kira delapan tahun, sejak 2002. Sejak itu pula, saya tidak pernah berpikir untuk alih profesi. Alih bentuk tulisan, ya… toh semua penulis pasti akan selalu berproses (kecuali kalau ia berhenti menulis). Hingga sekarang, saya tidak bisa menghitung berapa tulisan gagal maupun berhasil yang sudah saya buat. Saya bukan seorang yang terorganisir dalam hal mengoleksi tulisan-tulisan yang telah terbit. Karier menulis saya dimulai dengan menulis novel, lalu saya mulai menulis cerpen (yang lebih banyak ditolak koran ketimbang yang dimuat), lalu saya menulis novel lagi, dan kini saya lebih banyak menulis skenario. Saya juga menulis tulisan pesanan selain menulis apapun yang saya ingin tulis. Kira-kira seperti itulah jalan karier menulis saya kalau benar-benar diringkas.
Ketika saya masuk ke dunia skenario, banyak hal baru yang saya temui, di antaranya … eng-ing-eng… ketemu selebriti! Yup… mulai dari artis jaman saya muda (serius, saya mengaku udah mulai tua) yang sekarang sudah jadi senior, artis sinetron yang baru-baru ini tengah naik daun, hingga artis-artis pendatang baru yang tenarnya masih tanggung. Mereka umumnya berusaha bersikap profesional dengan cara bergabung dalam manajemen artis (agen pemain sinetron/film/bintang iklan) tertentu. Manajemen artis mengurus segala keperluan sang artis, mulai dari dandanan, jadwal, bahkan kalau perlu demi membentuk imej publik yang oke, merekalah yang memberi “modal” seperti mobil, rumah, juga modal untuk operasi plastik sang artis! Too good to be true? Percayalah… saya sendiri masih percaya enggak percaya. Sebagai imbalannya, sang artis harus menyisihkan beberapa persen (tergantung perjanjian) dari penghasilannya untuk manajemen artis. Nah, bisa dibayangkan berapa penghasilan seorang artis jika namanya meroket, yang pasti harus cukup untuk menutupi modal yang telah diberikan manajemen artis padanya. Maka jangan heran, berbondong-bondong orang yang mendaftar ke manajemen artis demi menjadi selebriti. Beda artis, beda pula penulis. Jujur saja, seburuk-buruknya honor artis medioker, masih lebih buruk honor penulis yang tulisannya sering dimuat di koran/majalah.
Di luar negeri, di mana fungsi literary agent sudah eksis, segala urusan yang menyangkut kepenulisan (termasuk sebagai pembaca pertama, mencari penerbit, mempersiapkan peluncuran buku, memutuskan menerima/menolak sebuah wawancara/undangan acara sastra, serta tawar menawar harga jika rights buku dibeli oleh luar negeri) akan diurus mereka. Tugas penulis hanya menulis yang bagus agar tulisannya laku dijual. Sebagai imbalan (sama persis dengan manajemen artis), sekian persen dari penghasilan penulis akan dipotong sebagai honor literary agent. Singkatnya, literary agent juga berfungsi sebagai manajer penulis.
TEROKA: Optimisme dalam Prosa Betawi

Terang Bulan Terang di Kali karya SM Ardan
Khazanah Betawi yang terhidang dalam prosa tidak lepas dari peran kepengarangan SM Ardan (1932- 2006) sebagaimana terlihat dalam bukunya Terang Bulan Terang di Kali (1955, cetak ulang oleh Masup Jakarta, 2007). HB Jassin mencatat, karya-karya Ardan sangat membantu ahli ilmu bahasa, ilmu bangsa-bangsa dan kemasyarakatan dalam penelitian tentang Jakarta.
Dialek lahir, tumbuh, dan mati. Adat dan kebiasaan muncul, berubah, dan hilang. Begitu pula permainan anak-anak Betawi yang lahir, tumbuh, sirna. Amat besar jasa Ardan dalam mendokumentasikannya.
Menurut Ajip Rosidi (2007), istilah ”cerita” pada antologi cerita pendek SM Ardan itu kurang tepat karena (kecuali satu-dua cerpen) tidak ada ceritanya sama sekali. Periksalah ”Pulang Pesta”, ”Pulang Siang”, atau ”Bang Senan Mau ke Mekah”, tak menjalin cerita sehingga yang terasa hanya ”suasana”.

Gambang Jakarte karya Firman Muntaco
Kalaupun ada cerpennya yang mengandung ”cerita”, bagi Ajip, cerita itu tidak seru, menyehari, gampang dijumpai dalam keseharian orang-orang kecil Jakarta masa itu. Tapi, justru di sinilah keistimewaan Ardan. Boejoeng Saleh (1955), dikutip JJ Rizal (2007), mencatat, ibarat seorang kameramen, Ardan punya lensa tajam. Ia tak hanya memotret realitas eksotik-romantik, tapi juga realistik; kenyataan yang sepahit-pahitnya.
Betawi masa kini
Apabila pengalaman baca terhadap karya-karya Aman Dt Majoindo (1896-1969), M Balfas (1921-1975), Firman Muntaco, hingga SM Ardan menimbulkan kesan: ”Ternyata orang Betawi seperti itu ya”, prosa-prosa berlatar Betawi garapan para pengarang masa kini mendedahkan sebentuk keheranan: ”Ternyata orang Betawi udah nggak kayak gitu ya…”.
Continue Reading »
Novel KRONIK BETAWI Bisa Pesan di Sini :)

KRONIK BETAWI
Jenis : Fiksi/Novel
Penulis: Ratih Kumala
Penerbit: Gramedia Putaka Utama, 2009
Tebal: 268 halaman
Buat teman-teman yang males ke toko buku, novel Kronik Betawi bisa dipesan langsung lewat saya :)
Novel Kronik Betawi bercerita tentang perjalanan kota Betawi dan anak daerahnya menghadapi modernisasi dan menepis berbagai persepsi miring terutama dari para pendatang. Kerelaan berbagi dengan kaum pendatang dalam mengais rejeki di ibukota ternyata tidak sebanding dengan dampaknya. Kota Jakarta bagai bukan milik penduduk aslinya lagi. Diceritakan, pembangunan yang sembarangan dan pertumbuhan permukiman bahkan telah menghilangkan asal-usul serta sejarah beberapa tempat.
Novel ini khas Betawi. Menghibur, menyindir, dan ceplas-ceplos. Sebuah pengingat, dokumentasi, dan apresiasi bagi nilai-nilai dan keluhuran budaya Betawi yang patut dibanggakan.
Harga bukunya Rp. 40.000,- dan saya tidak menarik biaya pengiriman, selama masih di Indonesia. Tapi buat yang di luar negeri, so sorry… kena biaya kirim ya (maklum, paketinnya mahal hehe).
Kalau tertarik, silakan transfer ke:
BCA No.Rek. 1530234017
atasnama Ratih Kumala.
Lalu, konfirmai lewat email ke ratihkumala@gmail.com, jangan lupa mencantumkan alamat pengiriman dan nomor telepon (just in case). Novel Kronik Betawi segera dikirim setelah pembayaran diterima.

