<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ratih Kumala's Little Blog &#187; Kronik Betawi</title>
	<atom:link href="http://ratihkumala.com/blog/category/kronik-betawi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ratihkumala.com</link>
	<description>The Only Constant is Change</description>
	<lastBuildDate>Sun, 23 Oct 2011 13:24:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Betawi versus Modernisasi</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/betawi-versus-modernisasi-497.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/betawi-versus-modernisasi-497.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2009 13:12:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsip Media]]></category>
		<category><![CDATA[Kronik Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=497</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Muhammad Amin Sampai saat tanah moyangku tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota terlihat murung wajah pribumi terdengar langkah hewan bernyanyi Itulah sebait syair dari lagu “Ujung Aspal Pondok Gede” yang dilantunkan penyanyi kawakan Iwan Fals. Nyanyian itu merupakan satu dari suara kegetiran orang-orang Betawi, penduduk asli Jakarta yang perlahan mulai terpinggirkan oleh modernisasi. Kawasan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/kronik-betawi.jpg" alt="kronik-betawi" title="kronik-betawi" width="300" height="446" class="alignleft size-full wp-image-487" /></p>
<h3>Oleh Muhammad Amin</h3>
<p><em>Sampai saat tanah moyangku<br />
tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota<br />
terlihat murung wajah pribumi<br />
terdengar langkah hewan bernyanyi</em></p>
<p>Itulah sebait syair dari lagu “Ujung Aspal Pondok Gede” yang dilantunkan penyanyi kawakan Iwan Fals. Nyanyian itu merupakan satu dari suara kegetiran orang-orang Betawi, penduduk asli Jakarta yang perlahan mulai terpinggirkan oleh modernisasi. Kawasan Pondok Gede sendiri kini sudah menjadi kawasan yang ditumbuhi gedung-gedung, tidak lagi kawasan asli Betawi di zamannya yang nyaman dan asri.</p>
<p>Kisah dalam novel ini bermula dari banjir Jakarta yang entah mengapa menjadi jadwal musiman. Haji Jaelani adalah salah satu warga Betawi yang harus menerima akibat dari perkembangan Jakarta, dan juga menerima konsekuensinya. Salah satunya adalah banjir akibat hilangnya banyak sekali resapan air yang dulu tersedia.<br />
<span id="more-497"></span><br />
Hampir semua orang betawi memiliki empang. Selain berfungsi untuk memelihara ikan, empang juga sangat penting fungsinya untuk mengantisipasi banjir. Kini, empang-empang itu sudah berganti dengan gedung pencakar langit dan menghilangkan fungsi antisipasi banjirnya.</p>
<p>Haji Jaelani pun harus membuka harinya dengan melawan air. Sofa basah, teve radio dan alat elektronik yang harus diungsikan merupakan langganan pekerjaan ketika banjir mulai melanda. Pengusaha sapi perah ini juga harus pandai-pandai memindahkan sapi-sapinya ke tempat yang aman.</p>
<p>Usai bersih-bersih, rumah Haji Jaelani justru benar-benar ‘’dibersihkan’’. Dengan alasan perkembangan kota, Haji Jaelani mau tak mau harus tergusur dari kampung halamannya sendiri. Tak ada yang dapat diperbuat. Ia hanya pasrah. Sampai ia pun berujar: ‘’Coba dulu babeh gue ngajarin mantra Jiung yang dipake buat nyelametin orang-orang waktu tentara Jepang ngejarah, pasti tanah gue sekarang masih utuh…bisa selamet dari orang-orang yang pada ngegusur!’’</p>
<p>Haji Jaelani tak sendiri. Kronik penderitaan orang-orang Betawi terjadi nyaris di semua lini. Haji Jarkasi, seorang seniman juga mengalami hal yang sama. Kehidupan murid Haji Bokir ini tidak pernah beranjak lebih baik karena seniman Betawi nyaris tak pernah dihargai.</p>
<p>Novel Kronik Betawi ini memang menceritakan latar belakang Betawi dan orang-orangnya yang bersahaja, polos dan apa adanya. Ada harapan, penderitaan, juga kisah cinta yang didedahkan. Dalam Kronik Betawi ini, pengarangnya mencoba seluas mungkin mengeksplorasi budaya Betawi yang perlahan sudah tergerus zaman. Kendati terbilang sangat muda, Ratih Kumala mencoba memaparkan sejarah Betawi dengan upaya maksimal dan detil dengan gaya orang-orang jadul (jaman dulu) yang khas. Di antara yang sering terlupakan, misalnya bahwa Menteng itu merupakan nama buah, Bintaro itu nama pohon dan Kebon Jeruk memang merupakan kawasan perkebunan jeruk.</p>
<p>Orang Jakarta sekarang hanya tahu bahwa kawasan-kawasan itu adalah kawasan gedongan dan elit. Dalam novel ini, Ratih Kumala bercerita tentang perjalanan Betawi dan anak daerahnya menghadapi modernisasi ibu kota. Novel ini memang Betawi asli, dengan bahasa dan sudut pandang penceritaan yang sangat alami dan khas Betawi.***</p>
<p>Sumber: <a href="http://xpresiriau.com/resensi-buku/betawi-versus-modernisasi/">Xpresi Riau Pos</a>.<br />
Buat yang tertarik memesan novel ini, <a href="http://ratihkumala.com/blog/novel-kronik-betawi-bisa-pesan-di-sini-491.php">sila klik halaman ini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/betawi-versus-modernisasi-497.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Betawi Jaman Doeloe</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/betawi-jaman-doeloe-480.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/betawi-jaman-doeloe-480.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Jun 2009 18:46:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kronik Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[YouTube]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=480</guid>
		<description><![CDATA[Kita semua tahu, Jakarta telah berubah sedemikian rupa. Tapi seperti apakah Jakarta (alias Betawi, alias Batavia) sebelum perubahan itu ada? Sebelum gedung menjulang tinggi, sebelum jalan padat merayap, sebelum orang berkerumun bak rayap. Saya menemukan video menarik di YouTube.com yang diposting oleh falkonungu. Selamat menonton video pendek ini. Semoga kita makin menghargai ibukota ini. Saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><script src="http://www.gmodules.com/ig/ifr?url=http://www.google.com/ig/modules/youtube.xml&amp;up_channel=falkonungu&amp;container=youtube&amp;w=320&amp;h=390&amp;title=&amp;border=%23ffffff%7C3px%2C1px+solid+%23999999&amp;output=js"></script></p>
<p>Kita semua tahu, Jakarta telah berubah sedemikian rupa. Tapi seperti apakah Jakarta (alias Betawi, alias Batavia) sebelum perubahan itu ada? Sebelum gedung menjulang tinggi, sebelum jalan padat merayap, sebelum orang berkerumun bak rayap. Saya menemukan video menarik di YouTube.com yang diposting oleh falkonungu. Selamat menonton video pendek ini. Semoga kita makin menghargai ibukota ini.</p>
<p><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/kronik-betawi-201x300.jpg" alt="kronik-betawi" title="kronik-betawi" width="201" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-487" /><br />
Saya sering berpikir seperti apa Jakarta jaman dulu. Menulis <strong><em>Kronik Betawi </em></strong>lebih banyak membuka memori tentang Jakarta ketika saya masih kecil. Betapa semua berbeda ketika beberapa waktu lalu saya kembali ke Pondok Gede, rumah di mana saya dibesarkan. Rumah Sakit Husni Tamrin bukan lagi sebuah klinik bersalin kecil seperti ketika adik saya yang paling kecil dilahirkan. tanah pekuburan di depan gang masuk menuju rumah saya kini telah diratakan dan konon tulang belulang manusia sudah dipindahkan dari situ. Jalan gang yang dulu besar, kini serasa pendek dan sempit, sedangkan kebun kecapi yang dulu luas dan penuh nyamuk telah disulap jadi rumah bertingkat. </p>
<p>Buku saya keempat, <strong><em>Kronik Betawi</em> </strong>, bercerita tentang Jakarta dari jaman penjajahan Jepang (tahun &#8217;40-an) hingga awal era Reformasi (1998). Tiga tokoh yang merupakan anak daerah, yaitu Jaelani, Jarkasi dan Juleha (beserta garis keturunan keluarga mereka) tiba-tiba tergusur dan tergeser. Novel ini sengaja saya tulis dengan sangat ringan dan sederhana, jauh dari kesan &#8220;high-literature&#8221; yang jelimet. Ini adalah persembahan saya untuk kota kelahiran saya, Jakarta. Selamat membaca dan selamat makin mencintai Jakarta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/betawi-jaman-doeloe-480.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kronik Betawi, sebuah novel</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/kronik-betawi-sebuah-novel-3-398.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/kronik-betawi-sebuah-novel-3-398.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 May 2009 10:24:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kronik Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[betawi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[ratih kumala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=398</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Untuk almarhum papahku, Haris Fadillah, dan Jakarta, kota kelahiranku. Dua nama yang telah membesarkanku.&#8221; Kronik Betawi terbit pertama kali sebagai cerita bersambung di harian Republika, Agustus-Desember 2008. Fiksi ini saya tulis selama kurang lebih satu tahun, berdasarkan ide cerita Nugroho Suksmato yang kemudian saya kembangkan menjadi novel. Hari ini, tanggal 22 Mei 2009, saya menerima [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_399" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-399" title="kronik4" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/kronik4-300x225.jpg" alt="Kronik Betawi" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Kronik Betawi</p></div>
<blockquote><p><em><strong>&#8220;Untuk almarhum papahku, Haris Fadillah, dan Jakarta, kota kelahiranku. Dua nama yang telah membesarkanku.&#8221;</strong></em></p></blockquote>
<p><em><strong>Kronik Betawi</strong></em> terbit pertama kali sebagai cerita bersambung di harian Republika, Agustus-Desember 2008. Fiksi ini saya tulis selama kurang lebih satu tahun, berdasarkan ide cerita Nugroho Suksmato yang kemudian saya kembangkan menjadi novel. Hari ini, tanggal 22 Mei 2009, saya menerima POD sebagai contoh fisik buku yang akan terbit dari Mbak Mirna, editor saya di GPU.</p>
<p>Bagi saya, novel ini menguak memori masa kecil. Saya lahir dan besar di Jakarta, tepatnya di Pondok Gede. Saya tinggal di lingkungan yang kental dengan budaya Betawi, di mana Bokir, Mandra (yang waktu itu masih miskin) sehari-hari bertemu dengan saya. Saya juga kerap menonton cucu-cucu Pak Haji Bokir berlatih di sanggar mereka saat malam minggu tiba.</p>
<p>Ketika novel ini terbit sebagai cerber di Republika pada tanggal 8 Agustus 2008, tengah malam hari tanggal 9 Agustus 2009, papah saya dipanggil Yang Kuasa. Ia belum sempat melihat karya saya yang teranyar. Untuk itulah novel ini saya persembahkan untuk Papah.</p>
<p><span id="more-398"></span></p>
<p><strong>Sinopsis <em>Kronik Betawi</em></strong></p>
<p>&#8220;Coba dulu babeh gue ngajarin mantra Jiung yang dipake buat nyelametin orang-orang waktu tentara Jepang ngejarah, pasti tanah gue sekarang masih utuh&#8230; bisa selamet dari orang-orang yang pada ngegusur!&#8221; <em>-Ha</em><em>ji Jaelani, pengusaha sapi perah baru kena gusur-</em></p>
<p>&#8220;Kira-kira kapan ye, pertunjukan lenong dibayar seratus juga sekali manggung?&#8221; <em>-Haji Jarkasi, pernah berguru pada Haji Bokir-</em></p>
<p>&#8220;Emang orang Betawi itu tukang kawin ye? Aye kagak setuju kalo ini dibilang tradisi!&#8221; <em>-Juleha, belum hajjah-</em></p>
<p>Kebanyakan  orang Jakarta sekarang pada kurang paham, kalau Menteng itu nama buah, Bintao itu nama pohon dan Kebon Jeruk, memang dulu di sana ada hamparan tanaman yang benar-benar jeruk buahnya. Para pendatang agaknya hanya kenal nama-nama itu sebagai kawasan gedongan. Lalu, benarkah yang namanya peradaban itu berarti membangun banyak gedung? Dalam <em>Kronik Betawi</em>, Ratih Kumala bercerita tentang perjalanan Betawi dan anak daerahnya menghadapi modernisasi ibukota tercinta ini. Ternyata, yang hilang tidak cuma tanaman-tanaman itu -yang menyisakan nama- tetapi sejarahnya pun juga ikut terkubur.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/kronik-betawi-sebuah-novel-3-398.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

