Blog.
Saya seorang penulis. Saya menulis beberapa buku, ulasan, cerita pendek, dan terutama blog.
2nd hand book di belakang Tokyo University

2nd hand book di belakang Tokyo University

Matabaca, edisi Desember 2008

Lahir

Saya sering mendengar kalimat ini: “tulisanku adalah anak-anakku”. Beberapa penulis bahkan saya tahu menyebut buku-bukunya yang telah terbit sebagai ‘anak ke-1’, ‘anak ke-2’, dst. Sebutan ‘anak’ bagi sebuah tulisan, bagi saya terdengar sangat over-protektif, sebab itulah yang biasa dilakukan orang tua (dalam hal ini penulis) terhadap anak-anaknya. Sayangnya, justru sikap over-protektif inilah yang membuat seorang penulis (dan tulisannya) tidak berkembang.

Bagi saya, sangatlah penting memberi jarak antara saya (sebagai penulis) dengan tulisan saya. Ketika suatu kali seorang penulis berhasil menulis sebuah cerpen, misalnya, dan diujibacakan kepada penulis senior (yang berperan sebagai pembaca), dan ternyata pembaca tidak suka dengan hasil tulisannya (bahkan mungkin dibilang jelek), nah… di sinilah daya tahan banting dan semangat belajar seorang penulis diuji. Jika ia mempertimbangkan masukan orang lain, dan ‘tega’ untuk mengobrak-abrik tulisannya, di situlah kita tahu bahwa penulis ini akan memiliki nyawa panjang dalam profesi kepenulisannya. Tetapi jika sebaliknya, maka jangan khawatir, kita takkan mendengar namanya diperbincangkan di dunia sastra.

Saya menyebut novel Gerhana Kembar karya Clara Ng sebagai novel tentang lesbian tanpa pretensi yang mencurigakan. Novel ini bercerita tentang Fola dan Henrietta, sepasang lesbian yang menjadi tokoh utama. Dua plot utama yang ada pada novel ini yaitu pada tahun ‘60-an dan pada tahun 2008. Cerita diawali dengan pertemuan Fola dan Henrietta. Pada bab berikutnya, pembaca baru tahu bahwa Fola dan Henrietta adalah tokoh fiktif sebuah naskah berjudul “Gerhana Kembar” yang tengah dibaca oleh Lendy, pada tahun 2008. Sedikit demi sedikit, terkuak bahwa naskah “Gerhana Kembar” ditulis oleh Diana, nenek Lendy yang tengah sekarat, dan cerita itu berdasarkan pengalaman Diana dengan Selina, pasangan lesbinya ketika muda.

foto_ibu.jpg
Ilustrasi oleh Wiediantoro

Sudah kupikir masak-masak; jika aku kelak membuat tato, maka tato itu adalah wajah ibuku. Akan kuukir di kulit punggungku, lebih tepatnya lagi di bagian tengah punggung agar tak kelihatan jika aku memakai baju berpunggung agak rendah, atau kaos yang terlalu tinggi potongan pinggangnya, atau baju renang. Aku tak ingin ibuku melihatnya. Tentu ia akan mengamuk jika tahu aku membuat tato, meskipun itu tato wajahnya. Aku bisa membayangkan ibuku akan berkhotbah; orang yang ada gambar di kulit, shalatnya tidak akan diterima, lalu akan masuk neraka. Sayangnya aku tak percaya neraka itu ada, seperti pesimisnya aku akan keberadaan surga. Yang aku percaya adalah reinkarnasi. Tapi ibuku percaya, dan aku tak mau mengecewakannya. Cita-cita ibuku adalah: kami sekeluarga—Ibu, aku, kedua adikku, dan bapakku— masuk surga bersama-sama. Sedang cita-citaku adalah: di kehidupan yang akan datang, aku ingin dilahirkan sebagai ibu dari ibuku agar aku bisa membalas kasih sayangnya di kehidupan yang sekarang.
read more »

sawali.jpg

Beberapa waktu lalu saya menyempatkan diri ke HB Jassin, acara sastra Indonesia-Malaysia. Sebetulnya bukan tema yang menarik saya untuk datang, tetapi karena saya rada kangen beberapa lama tidak ke TIM. Selain itu, saya juga lebih tertarik untuk melihat presentasi orang-orang sastra senior (ada pak Ahmadun Yosi Herfanda, kang Kurnia Effendi dan pak Maman S Mahayana), apa pun temanya. Satu lagi yang menarik saya; kebetulan sekali pak Sawali Tuhusetya ternyata juga di acara yang sama, saya dapat info ini dari SMS pak Maman S Mahayana.

Beberapa bulan sebelumnya saya sempat chatting dengannya. Saya termasuk orang yang sering penasaran, bagaimana wajah-wajah aseli orang-orang yang saya temui di dunia maya. Akhirnya, ketemu juga dengan pak Sawali. Sayang kami tidak sempat ngobrol panjang. Maklum, dia lagi meluncurkan buku kumcernya berjudul Perempuan Bergaun Putih (penerbit bukupop, 2008). Jadi rada sibuk melayani orang yang minta tanda tangan. Sesampai di rumah, saya tidak langsung membaca kumcer tersebut. Seperti buku-buku lainnya, saya letakkan di meja kecil sebelah tempat tidur sebagai penanda prioritas buku yang niat saya baca. Saya memang hobi menyicil bacaan, apalagi kalau itu kumpulan cerpen.

shakespearein-love.jpg
Joseph Fiennes, pemeran William Shakespeare dalam film Shakespeare in Love
Saya adalah orang yang sangat percaya, bahwa di balik sebuah cerita fiksi, ada cerita lain, yaitu penulisnya. Stephen King dalam bukunya berkata, bahwa (kalau tidak keliru mengutip), dibutuhkan tiga hal jika seseorang ingin jadi penulis: 1) pena, 2) kertas, 3) broken home!

Hah?! Broken home? Ya, broken home!