Gallery
0

“‘Wesel Pos’ dan keberpihakan Ratih Kumala” oleh Joss Wibisono

 

Dibatjaken di Leiden pada sabtu sore 29 september 2018 wektu pengluntjuran Wesel Pos karja Ratih Kumala

Continue reading

0

Terjemahan Bahasa Inggris Kumcer ‘Larutan Senja’ Diluncurkan di London

Jumat, 28 Sep 2018 12:07 WIB  ·   Tia Agnes – detikHOT

Jakarta – Buku kumpulan cerpen ‘Larutan Senja’ yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi ‘The Potion of Twilight’ telah diluncurkan di London. Penulis Ratih Kumala awalnya merilis 12 tahun yang lalu.
Continue reading

Image

WESEL POS, novelet

Cuma orang sakti yang bisa bertahan hidup di Jakarta.

Sinopsis:

Ada dua jenis orang yang hidup di Jakarta. Pertama adalah orang sakti, mereka adalah orang yang akan bertahan hidup sebab ‘ilmu’ mereka sudah tinggi. Kedua adalah orang sakit, yang akan mati ditelan kekalahan di kota ini. Elisa datang ke Jakarta membawaku, sebab di atas tubuhku tertulis alamat kakaknya yang selama ini mengiriminya uang melalui aku, si Wesel Pos. Apakah dia akan menjadi orang sakti atau orang sakit? Sungguh tipis perbedaan menjadi sakti dan sakit.

Continue reading

Image

BUMI MANUSIA DAN PEMBACA YANG BORO-BORO NONTON, SUDAH BURU-BURU KECEWA

Terbit pertama kali di Mojok.co, 29 Mei 2018

MOJOK.CO – Kecewa ketika menonton film yang diangkat dari buku adalah hal biasa. Tapi, kecewa bahkan sebelum filmnya dibuat? Seposesif itukah para pembaca Bumi Manusia?

Sudah lama sekali saya mendengar berita bahwa Bumi Manusia akan difilmkan. Sepertinya sudah lebih dari 10 tahun lalu. Proyek ini juga sudah pindah tangan dari sineas satu ke sineas lainnya. Seperti tebak-tebak buah manggis, siapa yang bisa bikin film ini paling manis? Beberapa nama seperti Riri Riza dan Anggi Umbara kabarnya pernah mencoba memegang proyek ini, tetapi belum berjodoh. Lebih baik menunggu orang yang tepat untuk bisa merealisasikan karya sastra ini ke layar lebar ketimbang jadi proyek abrakadabra yang digarap tergesa-gesa.

Continue reading

Image
2

Dilan: The Power of Gombal

FotoFilmDilan

Hari ketika saya menulis artikel ini, Iqbaal Ramadhan –si pemeran Dilan- sedang belajar di luar negeri tetapi rekaman dirinya muncul di layar lebar minta maaf ke penonton sebab tak bisa hadir di tengah-tengah mereka. Di bioskop yang sama, seseorang mamah muda beranak satu sedang date night dengan suaminya menonton Dilan 1990. Di tempat lain, seorang pekerja sedang lembur sambil membuka liputan6.com dan membaca berita kalau jumlah penonton Dilan 1990 sudah mencapai 5 juta. Sedangkan seorang kid jaman now sedang posting di Instagram, menambah panjang daftar meme tentang Dilan yang kali ini isinya gambar Dilan dan Milea dilengkapi teks, “Bilang ke Dilan, yang berat itu nurunin berat badan, bukan rindu.” Tentu, semua yang baca pasti sudah tahu kalau meme soal berat dan rindu itu berasal dari dialog berikut:

Dilan: “Sekarang kamu tidur. Jangan begadang. Dan, jangan rindu.”
Milea: “Kenapa?”
Dilan: “Berat. Kau gak akan kuat. Biar aku saja.”

Dilan 1990 diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Pidi Baiq, terbit tahun 2014. Dilan bukanlah film remaja pertama yang diangkat dari karya fiksi. Ada banyak, tetapi yang menghadirkan tokoh yang namanya terus diingat, kalimat-kalimatnya dikutip, dan pembaca/penonton berharap bisa jadi dia, terbatas. Coba kita lihat daftarnya; ada Ali Topan Anak Jalanan (1977), Lupus (1986), Catatan Si Boy (1987), Rangga di Ada Apa dengan Cinta (2002) -yang ini sebenarnya bukan dari fiksi, tapi akan saya jelaskan nanti kenapa saya masukan di sini-, dan yang terbaru, tentu saja, Dilan 1990 (2014). Dari masa ke masa, selalu ada satu tokoh remaja cowok yang ikonik. Yang cewek mau jadi pacar dia, dan yang cowok ingin jadi dia. Satu lagi kesamaan mereka, dengan caranya sendiri, mereka pintar ngegombal dan bikin cewek kelepek-kelepek. Yuk dibahas.

Continue reading

Image

Asian Review of Books: “Cigarette Girl” by Ratih Kumala

Cigarette Girl, Ratih Kumala, Annie Tucker (trans.) (Monsoon Books, September 2016)

Cigarette Girl, Ratih Kumala, Annie Tucker (trans.) (Monsoon Books, September 2016)

Asian Review of Books, 14 March 2017

Redolent of the ubiquitous Indonesian kreteksCigarette Girlfollows three generations of two Javanese families from the time of the Dutch surrender to the Japanese in 1942, via the crackdown on the communists and the massacres of 1965, to the present.

Written by Ratih Kumala (whose author husband Eka Kurniawan has already made a splash in English-language translation), Cigarette Girl has been fluently translated by Annie Tucker, who made the sensible decision to leave many terms in either Bahasa Indonesia, or in Javanese, most, although not all, with explanations in the text, adding a layer of linguistic richness and interest to an already interesting and absorbing novel.

Continue reading