<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ratih Kumala &#187; Literature</title>
	<atom:link href="http://ratihkumala.com/blog/category/literature/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ratihkumala.com</link>
	<description>The Only Constant is Change</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Apr 2012 13:52:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Intrik dari Selinting Kretek</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/intrik-dari-selinting-kretek-905.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/intrik-dari-selinting-kretek-905.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Apr 2012 13:52:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsip Media]]></category>
		<category><![CDATA[Gadis Kretek]]></category>
		<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Detik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=905</guid>
		<description><![CDATA[Majalah Detik Edisi 23-29 April 2012 Resensi Gadis Kretek Reporter: Silvia Galikano]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Majalah Detik<br />
Edisi 23-29 April 2012<br />
Resensi Gadis Kretek<br />
Reporter: Silvia Galikano</p>
<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/GadisKretek_Detik1.jpg" rel="lightbox[905]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/GadisKretek_Detik1.jpg" alt="" title="GadisKretek_Detik1" width="434" height="580" class="aligncenter size-full wp-image-908" /></a><br />
<span id="more-905"></span></p>
<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/GadisKretek_Detik2.jpg" rel="lightbox[905]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/GadisKretek_Detik2.jpg" alt="" title="GadisKretek_Detik2" width="434" height="581" class="aligncenter size-full wp-image-909" /></a></p>
<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/GadisKretek_Detik3.jpg" rel="lightbox[905]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/GadisKretek_Detik3.jpg" alt="" title="GadisKretek_Detik3" width="434" height="581" class="aligncenter size-full wp-image-910" /></a><br />
<a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/GadisKretek_Detik4.jpg" rel="lightbox[905]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/GadisKretek_Detik4.jpg" alt="" title="GadisKretek_Detik4" width="435" height="582" class="aligncenter size-full wp-image-911" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/intrik-dari-selinting-kretek-905.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Endorsement Pembaca Gadis Kretek</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/endorsement-pembaca-gadis-kretek-853.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/endorsement-pembaca-gadis-kretek-853.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Feb 2012 13:38:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsip Media]]></category>
		<category><![CDATA[Gadis Kretek]]></category>
		<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[On Writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=853</guid>
		<description><![CDATA[Mengejutkan, penuh dengan detail yang kaya sampai kalimat terakhir. Tanpa terasa kita diajak oleh tiga generasi Indonesia mutakhir yang berusaha meluruskan penyelewengan sejarah oleh generasi yang bercerai berai akibat ganasnya revolusi, politik dan kondisi sosial paling kontroversial di negeri ini lewat kretek, cinta, dan kasih tak sampai melalui ludah yang terasa manis. Semanis ludah Roro &#8230; <a href="http://ratihkumala.com/blog/endorsement-pembaca-gadis-kretek-853.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/FA-GADIS-KRETEK.jpg" rel="lightbox[853]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/FA-GADIS-KRETEK-689x1024.jpg" alt="" title="FA GADIS KRETEK" width="510" height="757" class="alignleft size-large wp-image-854" /></a></p>
<p>Mengejutkan, penuh dengan detail yang kaya sampai kalimat terakhir. Tanpa terasa kita diajak oleh tiga generasi Indonesia mutakhir yang berusaha meluruskan penyelewengan sejarah oleh generasi yang bercerai berai akibat ganasnya revolusi, politik dan kondisi sosial paling kontroversial di negeri ini lewat kretek, cinta, dan kasih tak sampai melalui ludah yang terasa manis. Semanis ludah Roro Mendut. Karya yang indah dan sayang untuk dilewatkan! (John-De Rantau, sutradara)</p>
<p>Gadis Kretek merupakan sebuah masterpiece — novel dengan jiwa besar dari seorang penulis muda yang selalu menghadirkan karya-karya ‘menggigit’. Gadis Kretek merupakan sebuah kajian budaya yang dibuat hidup oleh karakter-karakter yang ‘berani’ serta nuansa kekeluargaan yang meski tak sempurna, namun tetap penuh kehangatan. Bravo, Ratih! (Maggie Tiojakin, penulis)</p>
<p>———-</p>
<p>Pre-order novel Gadis Kretek dibuka dari tanggal 16 Februari-1 Maret 2012. 20 pembeli pertama akan mendapatkan bonus kumcer Larutan Senja. Untuk keterangan yang lebih detail, sila klik <a href="http://www.gramediashop.com/book/detail/9789792281415/Gadis-Kretek">http://www.gramediashop.com/book/detail/9789792281415/Gadis-Kretek</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/endorsement-pembaca-gadis-kretek-853.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membaca Jakarta Lewat Kacamata Ratih Kumala</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/membaca-jakarta-lewat-kacamata-ratih-kumala-847.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/membaca-jakarta-lewat-kacamata-ratih-kumala-847.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Feb 2012 13:18:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Kronik Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[On Writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=847</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ayu Welirang (Kompasiana) Siapa di sini yang nggak tahu sama Ratih Kumala? Wah, kalau nggak tahu sih ya kelewatan. Ratih Kumala ini sudah beberapa kali menulis untuk kolom cerpen koran dan cerita bersambung, di Kompas dan Republika. Keren bukan? Susah sekali untuk menembuskan tulisan kita ke dua surat kabar ternama itu, karena yang dipilih &#8230; <a href="http://ratihkumala.com/blog/membaca-jakarta-lewat-kacamata-ratih-kumala-847.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/kronik-betawi-small.jpg" rel="lightbox[847]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/kronik-betawi-small.jpg" alt="" title="kronik-betawi-small" width="200" height="300" class="alignleft size-full wp-image-691" /></a><br />
Oleh: Ayu Welirang (Kompasiana)</p>
<p>Siapa di sini yang nggak tahu sama Ratih Kumala? Wah, kalau nggak tahu sih ya kelewatan. Ratih Kumala ini sudah beberapa kali menulis untuk kolom cerpen koran dan cerita bersambung, di Kompas dan Republika. Keren bukan? Susah sekali untuk menembuskan tulisan kita ke dua surat kabar ternama itu, karena yang dipilih hanyalah tulisan-tulisan tertentu, dengan nilai sastra tinggi dan kajian budaya yang cukup kental.</p>
<p>Pertama kali yang saya lihat dari buku adalah sampul. Setelah sampul, kemudian sinopsis di bagian paling belakang buku. Setelah itu, barulah saya melihat nama pengarang. Kalau ternyata pengarangnya cukup ternama, saya sudah pasti akan membacanya. Dan ketika melihat sebuah buku dengan gambar yang etnik sekali, saya langsung tertarik. Sinopsisnya pun menarik! Dan yang lebih menyenangkan adalah, penulisnya itu Ratih Kumala.</p>
<p>Saya membelinya. Buku itu adalah buku yang paling keren di antara deretan buku-buku di Bogor Trade Mall. Saya ada di sana karena sudah berjanji pada keponakan, untuk mengajak dia makan di salah satu restoran fast food. Saya berangkat ke BTM bersama keponakan dan si oom-nya keponakan. Hehe. Sebelum makan, saya melihat-lihat toko buku di BTM dan langsung tertarik pada buku itu.<br />
<span id="more-847"></span><br />
Buku itu berjudul Kronik Betawi. Sebuah kisah keluarga Betawi yang mulai tergeser oleh peradaban Jakarta yang kian pesat. Kisah yang disampaikan oleh tiga orang Betawi, dua lelaki dan satu perempuan. Mereka bersaudara kandung. Di bagian sinopsis, ada potongan-potongan opini dari si tokoh fiktif pada novel ini, yaitu Haji Jaelani, Haji Jarkasi dan Juleha. Mereka sedang berbicara tentang Betawi dan itulah yang harusnya kita ketahui. Bagaimana seharusnya Jakarta. Bagaimanakah Betawi yang sebenarnya.</p>
<p>Selain itu, pada bagian awal novel, terdapat potongan lirik lagu oleh Iwan Fals yang berjudul Ujung Aspal Pondok Gede. Hal ini pernah dibahas pula pada posting-an ini.</p>
<p>Sampai saat, tanah moyangku. Tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota. Terlihat murung wajah pribumi. Terdengar langkah hewan bernyanyi…<br />
Penceritaan dalam novel ini dibagi menjadi tiga sudut pandang, dengan sudut pandang orang pertama tunggal. Dibagi tiga menjadi bagian Haji Jaelani yang protes terhadap pembelian tanah warisan moyang, yang sudah lama digunakan untuk ngangon sapi-sapinya. Tentang Haji Jaelani yang protes akan, “Sejak kapankah Jakarta banjir?” Padahal, dulu ketika ia masih kecil, Jakarta itu indah dan ladang bermain pun ada dimana-mana. Bagian kedua adalah tentang Haji Jarkasi, yang menjadi seniman lenong. Seniman yang terlupakan dan kerap kali tertangkap oleh Satpol PP. Padahal, sudah seharusnyalah dia dan timnya tetap dilestarikan. Sekarang, malah diusir, dianggap meresahkan warga dan membuat tata kota rusak. Apakah itu semua salah mereka? Mereka hanya seniman dan yang mereka bawa adalah budaya kita, budaya Indonesia! Budaya Betawi! Dan terakhir, adalah cerita dari seorang istri yang dimadu. Seorang istri setia yang menghempas jauh-jauh pemahaman bahwa orang Betawi itu bisa dengan mudah memadu. Padahal, tidak semua orang Betawi seperti itu. Hanya saja, karena dirinya lahir dalam lingkungan yang sudah seperti itu, seperti ayahnya yang memadu ibunya, kakaknya–Haji Jaelani yang menikah lagi sepeninggal istirnya, dan dirinya yang dimadu pula, Juleha jadi tidak bisa melakukan pembelaan lagi.</p>
<p>Cerita-cerita tersebut bergulir dengan alur campuran yang juga sangat unik. Menggambarkan kilas balik dari tiap tokoh dan mengapa mereka seperti itu. Ikatan saudara kandung antara ketiga tokoh tersebut juga sangat terlihat. Bukan hanya sekedar memanggil “Bang”, “Kak”, atau panggilan lainnya. Ada suatu hubungan artifisial yang digambarkan dalam tokoh-tokoh ini.</p>
<p>Seperti saat Haji Jaelani mempunyai anak dari istri keduanya. Anak yang bernama Fauzan itu malah lebih taat dibanding anak-anaknya, Juned dan Japri yang kerap kali menyulitkan Haji Jaelani. Dan seiring waktu, Fauzan malah menjadi anak Haji Jaelani satu-satunya, yang bisa melanjutkan studi di luar negeri. Betapa bangganya Haji Jaelani saat itu. Kisah terakhir pun ditutup dengan keberangkatan Fauzan ke Amerika untuk studinya.</p>
<p>Novel yang sebelumnya pernah dimuat dalam harian Republika, sebagai cerita bersambung ini, benar-benar menunjukkan wujud Jakarta. Bagaimana kroniknya. Bagaimana Jakarta masa lalu dan masa sekarang. Betapa besar perubahan Jakarta dari masa lalu ke masa sekarang.</p>
<p>Dan menurut saya sendiri, Ratih Kumala berhasil menampilkan hasil penelusurannya akan Jakarta, melalu kacamatanya sendiri. Beginilah Jakarta dan Kronik Betawi-nya.</p>
<p>Informasi Buku:</p>
<p>Judul: Kronik Betawi</p>
<p>Pengarang: Ratih Kumala</p>
<p>Penerbit: Gramedia</p>
<p>Tahun Terbit: 2009</p>
<p>Tebal: 268 halaman</p>
<p>Harga: Rp 34.400,-</p>
<p>Sumber:<br />
<a href="http://media.kompasiana.com/buku/2012/02/28/membaca-jakarta-lewat-kacamata-ratih-kumala/">http://media.kompasiana.com/buku/2012/02/28/membaca-jakarta-lewat-kacamata-ratih-kumala/</a><br />
dan<br />
 <a href="http://www.ayuwelirang.com/2012/02/membaca-jakarta-lewat-kacamata-ratih.html" title="www.ayuwelirang.com">http://www.ayuwelirang.com/2012/02/membaca-jakarta-lewat-kacamata-ratih.html</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/membaca-jakarta-lewat-kacamata-ratih-kumala-847.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Undangan Launching Gadis Kretek</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/undangan-launching-gadis-kretek-840.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/undangan-launching-gadis-kretek-840.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2012 12:46:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gadis Kretek]]></category>
		<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[Gramedia]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[ratih kumala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=840</guid>
		<description><![CDATA[Gadis Kretek &#124; sebuah novel Ratih Kumala &#124; Gramedia Pustaka Utama &#124; 2012 Pak Raja sekarat. Dalam menanti ajal, ia memanggil satu nama perempuan yang bukan istrinya; Jeng Yah. Tiga anaknya, pewaris Kretek Djagad Raja, dimakan gundah. Sang Ibu pun terbakar cemburu terlebih karena permintaan terakhir suaminya ingin bertemu Jeng Yah. Maka berpacu dengan malaikat &#8230; <a href="http://ratihkumala.com/blog/undangan-launching-gadis-kretek-840.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/undanganLaunching_koverbenar.jpg" rel="lightbox[840]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/undanganLaunching_koverbenar.jpg" alt="" title="undanganLaunching_koverbenar" width="567" height="418" class="alignleft size-full wp-image-844" /></a></p>
<p>Gadis Kretek | sebuah novel Ratih Kumala | Gramedia Pustaka Utama | 2012</p>
<p>Pak Raja sekarat. Dalam menanti ajal, ia memanggil satu nama perempuan yang bukan istrinya; Jeng Yah. Tiga anaknya, pewaris Kretek Djagad Raja, dimakan gundah. Sang Ibu pun terbakar cemburu terlebih karena permintaan terakhir suaminya ingin bertemu Jeng Yah. Maka berpacu dengan malaikat maut, Lebas, Karim, dan Tegar, pergi ke pelosok Jawa untuk mencari Jeng Yah, sebelum ajal  menjemput sang Ayah.  Perjalanan itu bagai napak tilas bisnis dan rahasia keluarga. Lebas, Karim dan Tegar bertemu dengan buruh bathil (pelinting) tua dan menguak asal-usul  Kretek Djagad Raja hingga menjadi kretek nomor 1 di Indonesia. Lebih dari itu, ketiganya juga mengetahui kisah cinta ayah mereka dengan Jeng Yah, yang ternyata adalah pemilik Kretek Gadis, kretek lokal Kota M yang terkenal pada zamannya.</p>
<p>Apakah Lebas, Karim dan Tegar akhirnya berhasil menemukan Jeng Yah?<br />
<span id="more-840"></span><br />
Gadis Kretek tidak sekadar bercerita tentang cinta dan pencarian jati diri para tokohnya. Dengan latar Kota M, Kudus, Jakarta, dari periode penjajahan Belanda hingga kemerdekaan, Gadis Kretek akan membawa pembaca berkenalan dengan perkembangan industri kretek di Indonesia. Kaya akan wangi tembakau. Sarat  dengan aroma cinta.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p><strong>Undangan Peluncuran Novel <em>Gadis Kretek</em><br />
Karya Ratih Kumala<br />
Penerbit Gramedia Pustaka Utama</p>
<p>Hari Jumat, 9 Maret 2012<br />
Jam 14:30-17:00 wib<br />
Di Toko Buku Gramedia, Grand Indonesia, Jakarta<br />
Bersama Djenar Maesa Ayu dan Mumu Aloha</p>
<p>Be there, guys! :)</strong></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Pre-order novel Gadis Kretek dibuka dari tanggal 16 Februari-1 Maret 2012. 20 pembeli pertama akan mendapatkan bonus kumcer Larutan Senja. Untuk keterangan yang lebih detail, sila klik <a href="http://www.gramediashop.com/book/detail/9789792281415/Gadis-Kretek">http://www.gramediashop.com/book/detail/9789792281415/Gadis-Kretek</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/undangan-launching-gadis-kretek-840.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gadis Kretek, Sebuah Novel yang Mulai Mewujud</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/gadis-kretek-sebuah-novel-832.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/gadis-kretek-sebuah-novel-832.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Feb 2012 04:51:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gadis Kretek]]></category>
		<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[On Writing]]></category>
		<category><![CDATA[Gramedia]]></category>
		<category><![CDATA[Iksaka Banu]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=832</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Februari 2012 ini saya begitu bersemangat, sebab saya &#8220;naik kelas&#8221; lagi. Memang sudah sejak Oktober 2011 novel ini selesai, setelah lebih dari tiga tahun saya berjuang di tengah kesibukan untuk melahirkannya. Ini novel terlama yang pernah saya tulis, dan saya sangat menikmati menuliskannya. Saya mengambil waktu sebanyak apapun yang saya butuhkan, baik untuk riset, &#8230; <a href="http://ratihkumala.com/blog/gadis-kretek-sebuah-novel-832.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/GadisKretek_small.jpg" rel="lightbox[832]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/GadisKretek_small.jpg" alt="" title="GadisKretek_small" width="198" height="295" class="alignleft size-full wp-image-833" /></a></p>
<p>Bulan Februari 2012 ini saya begitu bersemangat, sebab saya &#8220;naik kelas&#8221; lagi. Memang sudah sejak Oktober 2011 novel ini selesai, setelah lebih dari tiga tahun saya berjuang di tengah kesibukan untuk melahirkannya. Ini novel terlama yang pernah saya tulis, dan saya sangat menikmati menuliskannya. Saya mengambil waktu sebanyak apapun yang saya butuhkan, baik untuk riset, menata plot, menata ulang lagi, menuliskannya, menjalih, riset lagi, menuliskannya lagi, dan menjalinnya lagi, begitu terus. Editor saya, mbak Mirna (Gramedia Pustaka Utama) memilih pak Iksaka Banu untuk mendesain kover dan ilustrasi bagian dalam.<br />
<span id="more-832"></span><br />
Pilihan mbak Mirna tidak salah, kami bisa melihat passion dalam hasil desainnya. Pak Iksaka Banu memberi beberapa opsi pilihan kover, dan dengan sabar mendengarkan keseluruhan konsep yang telah lama saya bentuk di kepala saya. Novel saya <strong><em>Gadis Kretek</em></strong> akhirnya mulai mewujud. Berikut adalah percobaan nomor 3 kover <strong><em>Gadis Kretek</em></strong> yang <em>almost finsih</em> dan sudah dipublish baik di socmed. Pak Iksaka Banu sedang memberikan <em>final touch</em> untuk kover di atas.</p>
<p>Saya mengujibacakan novel ini ke beberapa proofreader yang juga teman-teman sendiri sebelum akhirnya saya dan mbak Mirna mengedit <strong><em>Gadis Kretek</em></strong>. Terimakasih untuk Annisa Pandan Sari, Maggie Tiojakin, Hetih Rusli, Andreas Teguh Trijaya, dan John D&#8217;Rantau yang telah bersedia menjadi pembaca pertama dan menjadi pengkritik yang demikian membangun.</p>
<p><strong><em>Gadis Kretek</em></strong> akan terbit pada 28 Februari 2012, dan <em>launching</em> pada Maret 2012. Selamat membaca, teman-teman.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/gadis-kretek-sebuah-novel-832.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nonik, sebuah cerpen</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/nonik-sebuah-cerpen-805.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/nonik-sebuah-cerpen-805.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 15:46:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pendek]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Esquire]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=805</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen: Ratih Kumala Dimuat: Esquire Indonesia, Edisi Desember 2011 Aida tak pernah menyangka, episode hidupnya bakal seperti adegan film Hollywood: sebuah lampu 7 watt menggantung, bergoyang-goyang di dalam sarangnya hingga hanya menerangi meja yang di atasnya ada sebuah tape. Kaset berpita itu terus berputar, seolah menghipnotisnya untuk mengaku. Mengaku? Mengaku apa? Aida senyatanya tak tahu &#8230; <a href="http://ratihkumala.com/blog/nonik-sebuah-cerpen-805.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerpen: Ratih Kumala<br />
Dimuat: Esquire Indonesia, Edisi Desember 2011</p>
<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/esquiredesember.jpg" rel="lightbox[805]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/esquiredesember.jpg" alt="" title="esquiredesember" width="196" height="257" class="alignleft size-full wp-image-830" /></a></p>
<p>Aida tak pernah menyangka, episode hidupnya bakal seperti adegan film Hollywood: sebuah lampu 7 watt menggantung, bergoyang-goyang di dalam sarangnya hingga hanya menerangi meja yang di atasnya ada sebuah <em>tape</em>. Kaset berpita itu terus berputar, seolah menghipnotisnya untuk mengaku. Mengaku? Mengaku apa? Aida senyatanya tak tahu apa-apa. Tapi toh, petugas polisi yang berpakaian preman itu tetap mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang seolah tak berujung. Nonik. Nonik. Nonik. Nama itu terus disebut-sebut dalam dialog yang tak bisa dibilang beramah-tamah itu.</p>
<p>“Sejak kapan kamu kenal Nonik?”<br />
Ketika itu Aida sedang berdiri di halte bus, jam di tangannya menunjukan pukul 11:12. Aida memutuskan, seperempat jam lagi bus yang ditunggunya tak juga muncul, ia terpaksa menghentikan taksi agar tak terlambat ujian di kampus. Tapi tiba-tiba sebuah sedan berhenti di depannya, kacanya turun, dan wajah seorang gadis nongol di situ. Nonik Malika Marten. Ketika itu Aida belum tahu namanya.<br />
“Lo anak Unkris kan?”<br />
“Iya.”<br />
“Yuk bareng.” Aida tak lantas naik, ia ragu. “Mau ngampus kan?” Aida mengangguk. “Gue juga. Yuk!” Nadanya setengah memaksa. Aida masuk ke mobil yang kemudian melaju ke satu tujuan yang sama. Itulah perkenalan mereka. Nonik berkuliah di fakultas yang sama dengan Aida, Komunikasi. Tetapi jurusannya berbeda. Mereka tak pernah satu kelas. Tapi sejak itu keduanya jadi akrab. Nonik ternyata tinggal di kompleks perumahan orang-orang kaya yang letaknya di depan kampung tempat Aida tinggal. Dia sering melihat Aida yang pulang dengan bis dan berhenti di depan kompleks perumahannya. Diam-diam Nonik berjanji pada diri sendiri, jika ada kesempatan ia akan mengajak Aida berangkat bersama.<br />
<span id="more-805"></span><br />
Rumah Aida kecil, masuk gang. Rumahnya tentu saja sisa-sisa dari perkampungan khas Betawi yang sebenarnya luas, tetapi tandas dijual ke pengembang yang lantas membangun perumahan mewah. Sebuah pagar tinggi membatasi antara kampung dan perumahan. Di satu sudut yang tertutup pohon pisang di pinggiran tembok pembatas itu, ada bagian yang dijebol orang kampung. Gunanya, agar orang kampung punya jalan pintas jika ingin ke jalan raya. Jika tidak begitu, mereka harus berputar, dan itu berarti jauh.<br />
Rumah Nonik besar sekali. Bisa dibilang, rumahnya adalah salah satu yang paling mewah di antara rumah-rumah mewah di kompleks itu. Pagarnya putih, catnya putih, pintu masuknya besar dengan gagang keemasan berukir. Aida teringat dongeng tentang istana yang dihuni putri raja di dalamnya. Nonik adalah putri raja itu. Aida bertanya dalam hati, kapan ia bakal bisa membangun rumah sebesar itu?<br />
Nonik ibarat putri cantik nan baik hati yang tak membeda-bedakan rakyatnya yang jelata. Diajaknya Aida pergi jalan-jalan. Ke Puncak, ke Bandung, ke kelab-kelab malam. Nonik bahkan berjanji akan mengajaknya jalan-jalan ke Malaysia.<br />
“Ke kelab malam aja lo yang bayarin. Mana sanggup gue jalan ke Malaysia.”<br />
“Tenang…lo pokoknya bikin passport aja!” Ujar Nonik. </p>
<p>“Ke kelab malam? Kalian terlibat narkoba?”<br />
Keringat Aida serasa diperas, kakinya tiba-tiba kesemutan, tenggorokannya kering. Petugas polisi itu lalu menyodorkan segelas air. Aida meneguknya sekali. Kerongkongannya terasa menyempit ketika air itu melewatinya. Aida menggeleng, lalu mengangguk, dan menggeleng lagi. Petugas polisi itu menggebrak meja, lantas dengan kasar menyuruh Aida mengingat-ingat: yang benar pernah terlibat narkoba atau tidak?<br />
“Saya tahu Nonik pernah membeli pil di kelab malam. Tapi demi Tuhan, saya tidak pernah mencicipinya.” Meski dalam hati Aida menyesali karena pernah sekali mencoba mengisap ganja yang diselipkan dalam lintingan campuran tembakau. Itu juga setelah Nonik mengejeknya sebagai ‘anak baik-baik’.<br />
Nonik selalu menyebutnya Si Penjaga Moral, jika ia sedang tinggi dengan teman-temannya. Senyatanya, Aida memang pantas disebut demikian. Dialah yang menyingkirkan Nonik jauh-jauh dari teman-teman laki-lakinya jika mereka mulai grepek-grepek Nonik. Dia juga yang mengangkat Nonik jika terkapar tak sadarkan diri di toilet kelab malam setelah muntah-muntah. Aida pun yang memanggilkan taksi dan mengantar Nonik pulang, lalu dengan susah payah menariknya sampai ke tempat tidurnya. Aida menjaga Nonik sedemikian rupa, karena bagi Aida, Nonik adalah gadis kaya yang sedang bingung harus diapakan uangnya yang banyak itu.<br />
Nonik tinggal di rumahnya yang besar itu bersama mamahnya. Saking besarnya, Nonik tak pernah ketahuan pulang-pulang mabuk. Kamarnya berada di sayap kanan rumah, sementara mamahnya di sayap kiri.<br />
“Aida… Aida… lo baik banget sih. Gue udah abis jadi pelacur kali kalo lo enggak ada pas gue teler gini. Lo ngingetin gue ama diri gue yang dulu. Anak baik-baik.” Lalu Noni tepar setelah berceloteh demikian. Ia baru akan terbangun besok sore jika malamnya mabuk seperti itu. Aida sudah terbiasa dengan keadaan Nonik yang seperti itu.<br />
Mamah Nonik adalah perempuan pendiam dengan gaya aristokrat yang cuma mengangguk kecil dengan senyum tertahan jika bertemu Aida. Kata Nonik, mamanya senang ia berteman dengan Aida, sebab Aida perempuan. Ia tak suka melihat Nonik bergaul dengan laki-laki. Ibunya juga kerap mengingatkannya untuk mengunjungi Opa Pierre di rumah atau di rumah sakit, jika kebetulan sedang dirawat. Menurut mamahnya, Nonik harus membuat Opa Pierre senang sebab dia adalah trust fund baby, alias keturunan yang mendapat dana perwalian. Dari situlah kekayaan mereka berasal, meskipun Aida tak pernah tanya apa sebenarnya bisnis Opa Pierre.</p>
<p>“Kamu pernah ketemu dengan Opa Pierre?”<br />
Setelah beberapa kali mamahnya menegur Nonik di depan Aida agar mengunjungi Opa Pierre, akhirnya Nonik pun menurut. Sore itu Aida dan Nonik ke RSCM, di ruang VIP Opa Pierre dirawat. Laki-laki itu berkulit putih, dengan bercak-bercak yang jelas di wajahnya. Rambutnya tinggal beberapa lembar, itu pun cuma di bagian belakang. Sedang di kepala atas, gundul. Tubuh Opa Pierre kegemukan, kata dokter ia harus berdiet. Tapi Opa susah sekali disuruh diet. Dia suka makan makanan enak.<br />
“Hidup kan harus dinikmati, Nik.” Opa Pierre terkekeh. Nonik duduk di sebelahnya sambil memegang tangan Opa Pierre, sementara Aida duduk di sofa, menunggui Nonik kangen-kangenan sama opanya. Aida agak heran, kenapa Nonik ogah-ogahan menjenguk opanya. Padahal kalau sudah bertemu seperti sekarang, keduanya terlihat akrab.<br />
Sekali, Nonik minta maaf karena tidak bisa pulang bareng Aida. Sebagai gantinya, Nonik memberikan uang untuk ongkos taksi yang kemudian ditolak Aida. Katanya, Opa Pierre akan menjemputnya, dan mereka akan makan malam bersama keluarga merayakan Opa Pierre yang dinyatakan sembuh oleh dokter. Laki-laki itu tiba di kampus dengan Mercy hitam mengkilat. Semua mata tertuju ke mobil itu. Kacanya dilapisi film gelap, sehingga tak ada yang tahu siapa di dalamnya jika Opa Pierre tidak keluar. Sopir membukakan pintu belakang, sebuah tongkat muncul duluan, disusul sepasang kaki tua yang gendut dan agak bergetar, kaki Opa Pierre. Nonik menyambut Opa Pierre dengan girang. Diciumnya tangan lelaki tua itu, lalu pipinya dan keningnya yang licin.<br />
“Opa masih ingat Aida kan? Yang waktu itu nemanin Nonik pas ngejenguk Opa.” Opa Pierre mengangguk-angguk sambil tersenyum. Aida tak yakin laki-laki itu ingat pada dirinya. Pertama, waktu menjenguk Aida cuma kenalan dan tak berbincang apa-apa dengannya. Kedua, Opa Pierre pakai kacamata yang tebalnya satu meter, mana mungkin dia melihat wajah Aida dengan jelas.<br />
Petugas Polisi tiga kali menanyakan kapan lagi Aida bertemu Opa Pierre. Ia mengelilingi Aida. Aroma tubuhnya yang masam, membuat Aida pusing.<br />
“Cuma dua kali itu saya ketemu Opa Pierre, Pak. Sumpah.”</p>
<p>“Kamu dan Nonik jadi ke Malaysia?”<br />
Nonik sudah menyiapkan dua tiket, satu untuknya, satu lagi untuk Aida. Tiket itu dibelinya begitu Nonik selesai sidang gelar S1-nya. Aida sendiri sudah selesai duluan tiga bulan lalu. Ia sengaja menunda wisuda demi bisa wisuda bareng Nonik. Aida juga yang membantu Nonik menyelesaikan skripsinya. Sebenarnya, Aida tak diijinkan pergi oleh Aep, pacarnya. Tapi karena itu adalah bulan terakhir Aida melajang, Aep akhirnya mengijinkannya. Tiga minggu dari hari kepulangan mereka dari Malaysia, Aida dan Aep akan melangsungkan pernikahan.<br />
Aida melewati koridor-koridor bandara dengan mata berbinar sekaligus kikuk. Serasa ada kupu-kupu terbang di dalam perut menggelitiknya penuh keriangan. Itu adalah kali pertama ia naik pesawat. Aida tak pernah menyangka bisa pergi ke luar negeri. Gratis pula. Untuk liburan, bukan untuk bekerja. Ia beruntung sekali bisa berteman baik dengan Nonik. Sesampai di Kuala Lumpur, seorang laki-laki muda menjemput mereka. Tanpa malu-malu, Nonik langsung berhambur menciumi lelaki itu.<br />
“Ichsan.” Demikian lelaki itu memperkenalkan dirinya. Berkulit putih, tampan, dan kelihatan cerdas. Aida harus membuka telinga lebar-lebar jika berbicara dengan Ichsan, sebab meski Bahasa Indonesia masih nyambung dengan orang Malaysia yang berbahasa Melayu, tetapi logat dan beberapa kata berbeda dari Bahasa Indonesia.<br />
Nonik mengajak Aida bersenang-senang. “Anggap aja ini kado kawinan gue buat lo. Tapi bukan buat Aep.” Derai tawa Nonik mengikuti setelah ia mengatakan kalimat itu. Ya, Aep tak mungkin diharapkan untuk mampu membiayai bulan madu. Ia baru lulus kuliah, kerja pun masih dalam masa percobaan, belum diangkat jadi pegawai. Tapi laki-laki itu tulus dan serius menyintai Aida, meski ia kadang menunjukan ketidaksukaan kedekatan Aida dengan Nonik.<br />
Nonik dan Aida berdiam selama enam malam tujuh hari di Kuala Lumpur. Sesiangan mereka jalan-jalan pelesir kota. Malamnya berisitirahat di hotel. Dari total enam malam itu, Nonik cuma tinggal satu malam di kamar hotel mereka. Sisanya, Nonik lebih memilih bobok bareng Ichsan.<br />
“Lo enggak takut hamil?”<br />
“Kalo hamil ya udah…kebetulan. Gue juga pengin punya anak dari Ichsan.” Nonik menjawab ringan.<br />
“Cinta emang buta ya.”<br />
“Cinta enggak buta, Da. Yang buta itu uang!” Derai tawa Nonik terdengar renyah. Aida juga tertawa, meski sebenarnya ia masih mencoba mencerna kalimat Nonik.<br />
Nonik nangis-nangis ketika berpisah di bandara, tak yakin kapan akan bisa bertemu lagi dengan Ichsan. Di pesawat pun, Aida masih berusaha menenangkan Nonik yang belum usai menangisi perpisahannya. Kelihatannya Nonik cinta mati pada Ichsan.</p>
<p>“Kapan terakhir kali kamu ketemu Nonik?”<br />
Hari H pernikahan Aida dan Aep dilangsungkan sederhana. Nonik berdandan dengan kebaya, sebagai sahabat dekat mempelai. Dengan senang Nonik membantu Aida menyediakan apa yang dia butuhkan selama hari pernikahannya. Mulai dari mengambilkan makan dan minum, mencarikan peniti ketika mengenakan baju pengantin, sampai akhirnya ikut beres-beres mengangkut kado dan menyimpankan uang saweran dari tetamu.<br />
Aida baru selesai difoto di kamar penganten bersama Aep ketika Nonik pamit pulang.<br />
“Gue minggu depan mau ke Malaysia, Da. Keliatannya enggak bakal balik lagi ke Jakarta.”<br />
“Hah?! Serius?”<br />
“Gue iri lihat lo sama Aep, berani memulai keluarga baru, meskipun kalian enggak punya apa-apa. Gue juga mau kayak lo.”<br />
“Lo mau kawin? Eh…, nikah sama Ichsan?”<br />
Aida mengangguk mantap, “Nanti gue kirimin lo tiket PP ke Kuala Lumpur kalau tanggal nikah gue udah fix. Tapi jangan bilang-bilang orang ya kalo gue ke Malaysia.” Nonik memeluk Aida dan pergi masih dengan kebaya.<br />
Seperti kebanyakan pengantin baru yang betah berlama-lama di dalam kamar. Aida dan Aep tak segera keluar kamar meski hari telah benderang. Ia baru keluar pukul satu siang, disambut suara-suara kerabat saudaranya yang bersiul-siul menggoda pasca malam pertama. Aida menyiapkan air teh untuk suaminya ketika tanpa sengaja ia mendengar berita di televisi. Kematian tragis seorang gadis dan ibunya di rumahnya, ada 12 tusukan di tubuh Nonik, dan delapan tusukan di tubuh ibunya. Aida seperti kehilangan kekuatan, air teh yang dipegangnya terjatuh. Cangkir itu menjadi keping. Disebutkan rumah Nonik penuh dengan ceceran darah, sebab ia tak langsung mati ketika baru beberapa tusukan, ia sempat menyeret tubuhnya demi melawan mata pisau. Seisi rumah melotot nganga  tak percaya melihat foto Nonik di televisi. Menjelang Maghrib, tiga petugas polisi berpakaian preman mendatangi Aida. Mereka tak memberi kesempatan pada Aida untuk menuntaskan salat Maghrib, dan memaksannya langsung ikut ke kantor untuk diinterogasi.</p>
<p>Aida dilepas keesokan paginya, menjelang Subuh. Aep menunggu semalaman di kantor polisi. Beberapa hari kemudian, mata Aida masih saja lekat ke televisi setiap berita kriminal dimulai. Mereka telah menemukan tersangka utamanya, seorang pejabat komisaris sebuah bank yang diduga adalah suami Nonik dengan inisial PM. Nonik adalah istri keenam dari lelaki itu.<br />
“PM?” Aida tertegun. Sebuah nama muncul begitu saja di kepalanya.  “Pierre Marten? Opa Pierre!”<br />
Aida memang tak pernah mendengar kabar apa-apa lagi dari polisi. Ibarat arsip yang terus tertumpuk, berdebu, lalu terlupakan. Berita kematian Nonik tertelan oleh berita-berita kriminal lain. Aida menata sendiri puzzle kematian sahabatnya. Ada banyak ‘mungkin’ yang muncul di kepala Aida.  Mungkin, ia cuma gadis yang dijual mamahnya ke Opa Pierre sebagai istri ke sekian agar kehidupan mereka bisa sejahtera, lalu mengaku-aku sebagai trust fund baby agar tak dicurigai orang. Nonik tak pernah menyintai Opa Pierre. Mungkin, cinta sejatinya adalah Ichsan, dan dengannya ia ingin menghabiskan sisa hidupnya. Mungkin, Opa Pierre telah mencium rencana Nonik untuk minggat ke Malaysia. Dan mungkin, Opa Pierre benar menyintainya hingga ia terbutakan oleh rasa cemburu. Tapi toh Nonik tak pernah percaya bahwa cinta itu buta.<br />
<em>Cuma uang yang bisa bikin buta.</em></p>
<p>-rk-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/nonik-sebuah-cerpen-805.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Finishing New Novel</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/finishing-new-novel-795.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/finishing-new-novel-795.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Oct 2011 14:12:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[On Writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=795</guid>
		<description><![CDATA[It&#8217;s been three years since I got the first idea of writing this novel about &#8216;kretek&#8217; (clove-cigarette), the signature cigarette of Indonesia. This is the longest period for me finishing a piece of novel. I guess it explains why I always support producing cigarette (especially kretek), though I don&#8217;t smoke at all. I got my &#8230; <a href="http://ratihkumala.com/blog/finishing-new-novel-795.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/rokok-kretek-gapri-.jpg" rel="lightbox[795]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/rokok-kretek-gapri-.jpg" alt="" title="rokok kretek gapri" width="298" height="223" class="alignleft size-full wp-image-796" /></a><br />
It&#8217;s been three years since I got the first idea of writing this novel about &#8216;kretek&#8217; (clove-cigarette), the signature cigarette of Indonesia. This is the longest period for me finishing a piece of novel. I guess it explains why I always support producing cigarette (especially kretek), though I don&#8217;t smoke at all. I got my reason, and the more I dig deeper  on to clove-cigarette, the more I see the core of a kretek and how it worth treasure. (In this part, you don&#8217;t have to be agree with me, especially if you hate smoking and smokers *wink*)<br />
<span id="more-795"></span><br />
I have given this hot-hot-hot fresh from the oven novel to my first readers. They are my closest friends whom I trust to be objective enough to criticize my work. And of course, one of them is my editor in Gramedia Pustaka Utama Publisher. Hopefully, by January or February 2012, my novel will be seen on the market. </p>
<p>If the previous novel, <em>Kronik Betawi</em>, I took my father&#8217;s background as its setting, then in this novel I took my mother&#8217;s. Somehow, even if I don&#8217;t mean to, those two novels bring me closer -spiritually- to my parents, although I don&#8217;t always have smooth relations with them. But those novels had transformed to time machine for me which allows me to peek deeper side of their personality and my families of the previous generations (whom I don&#8217;t even know at the present).</p>
<p>There&#8217;s a lot of ways to upgrade oneself. And for someone whom I think I had been too long stuck in a class, while the others have upgrading themselves, for me -as a writer- this is an upgrade. My dear readers, I humbly present to you: <em>GADIS KRETEK</em>, a novel.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/finishing-new-novel-795.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meet the Writer, Tariq Ali</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/meet-the-writer-tariq-ali-784.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/meet-the-writer-tariq-ali-784.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Oct 2011 16:07:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[Tariq Ali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=784</guid>
		<description><![CDATA[I&#8217;m lucky enough to get an opportunity to meet this smart funny man, Tariq Ali. My husband, Eka Kurniawan, and I met him at the hotel in Kemang, Jakarta, to give him some books. And you know what, he gave us his book too! Its tittle is Fear of Mirrors. Lucky (^,^)v Then we got &#8230; <a href="http://ratihkumala.com/blog/meet-the-writer-tariq-ali-784.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/TariqAli_RatihKumala2.jpg" rel="lightbox[784]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/TariqAli_RatihKumala2-300x225.jpg" alt="" title="TariqAli_RatihKumala2" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-785" /></a><br />
I&#8217;m lucky enough to get an opportunity to meet this smart funny man, Tariq Ali. My husband, Eka Kurniawan, and I met him at the hotel in Kemang, Jakarta, to give him some books. And you know what, he gave us his book too! Its tittle is <em>Fear of Mirrors</em>. Lucky (^,^)v  Then we got a chance to have a chat. I&#8217;m not saying it was a light chat, since we talked mostly about politics! Yes, can you believe it? But Mr. Ali was a very positive person whose able to bring the conversation into a nice chat. From Pramoedya Ananta Toer to Cuba, the chat got me carried away. For a man who admit don&#8217;t know much about Indonesia (than other Asia countries), he sure knew many about Indonesian history. One funny thing happen, when he saw a news paper named Koran Jakarta. He thought it was about religion. Then I explained that &#8216;koran&#8217; in Indonesian means &#8216;news papper&#8217;, not &#8216;Al-Quran&#8217;. Hopefully we&#8217;ll get a chance to meet again in a future, sometime. I don&#8217;t know any other serious writer whose fun like him.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/meet-the-writer-tariq-ali-784.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kelas Online Menulis Cerpen Bersama Eka Kurniawan</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/kelas-online-menulis-cerpen-bersama-eka-kurniawan-754.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/kelas-online-menulis-cerpen-bersama-eka-kurniawan-754.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Apr 2011 13:18:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[On Writing]]></category>
		<category><![CDATA[Eka Kurniawan]]></category>
		<category><![CDATA[kelas menulis]]></category>
		<category><![CDATA[plotpoint]]></category>
		<category><![CDATA[tulissekarang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=754</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang tertarik mengikuti kelas online menulis cerita pendek bersama Eka Kurniawan? Rencana kelas baru mulai 14 April 2011, diadakan oleh PlotPoint. Untuk yang tertarik, sila daftar di http://tulissekarang.com. Bisa juga sebelumnya bertanya dulu dengan ngobrol via YM di tulissekarang@yahoo.com. Yang menggunakan Twitter bisa follow@_PlotPoint, yang menggunakan Facebook, sila kunjungihttp://facebook.com/pages/plot-point-workshop.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada yang tertarik mengikuti kelas online menulis cerita pendek bersama <a title="Eka kurniawan" href="http://ekakurniawan.com">Eka Kurniawan</a>? Rencana kelas baru mulai 14 April 2011, diadakan oleh <a href="http://tulissekarang.com/">PlotPoint</a>. Untuk yang tertarik, sila daftar di <a href="http://tulissekarang.com/">http://tulissekarang.com</a>. Bisa juga sebelumnya bertanya dulu dengan ngobrol via YM di <a href="mailto:tulissekarang@yahoo.com">tulissekarang@yahoo.com</a>. Yang menggunakan Twitter bisa follow<a href="http://twitter.com/_PlotPoint">@_PlotPoint</a>, yang menggunakan Facebook, sila kunjungi<a href="http://facebook.com/pages/plot-point-workshop">http://facebook.com/pages/plot-point-workshop</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/kelas-online-menulis-cerpen-bersama-eka-kurniawan-754.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Reader&#8217;s Block</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/readers-block-742.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/readers-block-742.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Mar 2011 16:47:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[On Writing]]></category>
		<category><![CDATA[reader's block]]></category>
		<category><![CDATA[witer's block]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=742</guid>
		<description><![CDATA[Anda penulis? Menyebalkan bukan jika tiba-tiba terserang writer&#8217;s block? Tahu kan, itu lho&#8230;tiba-tiba lagi asik menulis, &#8220;terserang&#8221; masalah, entah mendadak mood jelek, rasa malas yang akut, mau nulis kurang bahan tulisan, dan lain-lain. Saya sering ditanya, gimana cara mengatasi writer&#8217;s block. Saya pribadi, akhir-akhir ini lebih suka membiarkan writer&#8217;s block itu sejenak menyerang saya, dan &#8230; <a href="http://ratihkumala.com/blog/readers-block-742.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/abandonedbook3.jpg" rel="lightbox[742]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/abandonedbook3-199x300.jpg" alt="" title="abandonedbook" width="199" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-761" /></a>Anda penulis? Menyebalkan bukan jika tiba-tiba terserang <em>writer&#8217;s block</em>? Tahu kan, itu lho&#8230;tiba-tiba lagi asik menulis, &#8220;terserang&#8221; masalah, entah mendadak mood jelek, rasa malas yang akut, mau nulis kurang bahan tulisan, dan lain-lain. Saya sering ditanya, gimana cara mengatasi <em>writer&#8217;s block</em>. Saya pribadi, akhir-akhir ini lebih suka membiarkan writer&#8217;s block itu sejenak menyerang saya, dan tak memaksakan otak saya untuk menulis. Jika merasa sudah tiba saatnya, saya akan mencoba memancing mood menulis dengan menulis hal-hal sederhana (misalnya menulis blog), atau membaca buku-buku yang menyenangkan, hingga nonton film yang bisa memancing ide-ide baru. Saya yakin, tiap penulis jika ditanya cara mengatasi <em>writer&#8217;s block</em> punya jawaban sendiri-sendiri.</p>
<p><em>Writer&#8217;s block</em> itu ibaratnya &#8220;habluminallah&#8221; (tentu saja dengan tanda kutip, yang secara harafiah &#8216;hubungan manusia dengan Tuhan&#8217;). &#8216;tuhan&#8217; (dengan &#8216;t&#8217; kecil) di situ -versi saya- saya ibaratkan diri sendiri, penulis sebagai tuhan kecil untuk tulisannya sendiri. Bagaimana ia bertanggung jawab atas dirinya sebagai penulis dengan tulisan yang <em>seharusnya </em>ia hasilkan. Saya katakan &#8216;seharusnya&#8217;, karena memang banyak penulis yang mandeg begitu saja di tengah proses menulisnya (ya terserang writer&#8217;s block itu tadi) dan tak melanjutkan lagi. Tapi, ada lho, &#8220;habluminannas&#8221; dalam berkarya sastra (yang secara harafiah berarti &#8216;hubungan manusia dengan sesama&#8217;), yang berarti -versi saya- dalam hal sastra adalah hubungan buku yang dihasilkan oleh penulis yang bersangkutan dengan pembacanya.</p>
<p>Pernahkah Anda merasa sebal karena tahu bahwa tulisan Anda tak ada yang membacanya? Bagaimana cara tahunya? Yang sederhana dan paling mudah dilacak adalah ketika Anda melihat laporan dari penerbit, bahwa penjual buku Anda cuma beberapa gelintir saja alias tak laku. Kedua, cari saja orang yang mengapresiasi buku Anda dengan mereviewnya di media/internet, jangan-jangan isinya mencaci maki buku Anda. Atau lebih parah, tak ada yang mereviewnya sama sekali. Sakit hati, bukan? &#8220;Sialan, susah-susah aku nulis!&#8221; Umpat Anda dalam hati. Yah, tapi itulah resiko jadi penulis.<br />
<span id="more-742"></span><br />
<a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/read_me.jpg" rel="lightbox[742]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/read_me.jpg" alt="" title="read_me" width="500" height="333" class="aligncenter size-full wp-image-743" /></a><br />
Jangan menyalahkan pembaca, jika mereka tak tertarik dengan bukumu. Mungkin, buku yang Anda tulis dengan susah payah dan berdarah-darah itu Anda anggap sebagai <em>masterpiece</em>, atau lebih parah, Anda anggap sebagai &#8220;anak&#8221;. Tapi tahukah Anda, pada akhirnya sebuah buku hanya akan menjadi benda berdebu, teronggok di pojok rak dan bertahun-tahun tak tersentuh jika buku itu memang tak menarik untuk dibaca. Inilah yang saya sebut dengan <em>reader&#8217;s block, </em>dan inilah yang saya sebut sebagai &#8220;habluminannas&#8221; itu tadi: hubungan buku yang dihasilkan oleh penulis bersangkutan dengan pembacanya.</p>
<p>Saya harus mengakui, ada beberapa buku yang membuat saya terserang <em>reader&#8217;s block </em>(demi kedamaian dunia, saya takkan menyebutkan judulnya, cukuplah untuk diri saya sendiri). Sebenarnya, apa yang membuat <em>reader&#8217;s block</em> tiba-tiba terjadi? Sebagai pembaca, saya mencoba untuk menjabarkannya:</p>
<p>Pertama, buku yang terlampau tebal. Yak, bukan penulis saja yang dituntut punya napas panjang untuk menuliskan buku yang tebalnya bisa untuk mengganjal pintu. Pembacapun perlu napas panjang untuk membaca buku itu. Kebanyakan pembaca Indonesia tidak punya napas yang cukup panjang. Jangankan napas panjang, baru lihat bentuk fisik bukunya saja sudah jiper, yakin benar dari awal tidak akan selesai baca buku itu.</p>
<p>Kedua, buku itu sudah diangkat ke layar lebar. Ini pengalaman saya sewaktu kuliah di Fakultas Sastra: beberapa mahasiswa malas untuk membaca buku yang harus mereka review atas tugas dosen, dan mereka sengaja memilih buku-buku yang sudah diangkat jadi film. Tentu saja, mereka lebih memilih menonton filmnya ketimbang membacanya. Kelemahannya, tentu saja, tidak semua jalan cerita yang tertulis di buku bisa diangkat ke layar. Terlebih lagi, jika buku tersebut dapat banyak pujian justru karena gaya bertuturnya yang lebih oke, dan ceritanya sih sebetulnya biasa-biasa saja. Tentu pembaca, eh&#8230;maksud saya, penonton <em>film based on book</em> tersebut akan ketinggalan banyak hal.</p>
<p>Ketiga, <em>the book simply a bad book!</em> Nah, kalau ini sih parah banget. Memang bukunya jelek sih, mau bilang apa dong? Dibuka di dua-tiga halaman pertama, belum ada percik api yang mendorong pembaca untuk meneruskannya. Maka ia pun membuka ke halaman akhir, lalu berpikir, &#8220;kok keliatannya endingnya gitu aja?&#8221; atau &#8220;alah, gampang banget ditebak.&#8221; Lalu ia masih berusaha untuk membuka-buka di halaman tengah, tetap saja merasa tidak tertarik. Buku ini resmi jadi buku yang bisa membuat pembaca terserang <em>reader&#8217;s block </em>yang akut.</p>
<p>Ya, ya&#8230;saya tahu&#8230;sebagai penulis ada semacam ego yang mendorong kita untuk menulis tulisan yang &#8220;gue banget&#8221;. Dan yang &#8220;gue banget&#8221; itu biasanya sangat idealis, harus begini-harus begitu, tak bisa ditawar. Parahnya, dari lubuh hati yang paling dalam, sebetulnya sang penulis memaksakan egonya pada pembaca dan <em>harus </em>suka. Kalau tidak suka, mendingan diam, deh! Dengan kata lain, penulis tidak memikirkan pembaca. Apa yang pembaca ingin baca, apa yang pembaca harapkan dari sebuah buku yang telah ia beli.</p>
<p>Saya tidak bilang bahwa penulis harus menulis sesuatu yang pasti disukai pembaca. Toh, soal suka atau tidak adalah masalah selera. Dan tiap orang punya selera yang berbeda-beda. Tapi, pada akhirnya, kesenangan dari memilih perofesi menjadi penulis adalah jika ia telah memiliki banyak pembaca, dan mereka mengapresiasinya dengan baik.</p>
<p>Akhirul kalam, saya berdoa semoga pembaca buku saya tidak terserang <em>reader&#8217;s block</em>. Peace! Hehe.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/readers-block-742.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

