Abdullah Harahap, Master of Horror Fiction

Posted January 27th, 2010 in Literature, On Writing by rk

Ketika mendengar nama Abdullah Harahap (AH), yang saya ingat adalah kover buku beliau yang provokatif. Biasanya ada gambar makhluk berwajah seram, dan seorang pemuda tampan, serta gadis cantik nan molek. Saya menemukan buku-buku AH ketika kecil, dijual eceran di antara koran-koran dan majalah, serta buku TTS. Saya besar di keluarga Islam, maka ketika ibu saya tahu saya melihat buku-buku bergambar seronok, saya dilarang membacanya. Pada suatu saat saya berkesempatan membacanya, saya tidak menyelesaikan buku AH. Sebabnya? Saya ini penakut!

Ada yang aneh pada buku-buku AH. Bagi saya (dan mungkin untuk kebanyakan orang), buku-buku AH tergolong “guilty pleasure“. Mau dibaca gengsi, enggak dibaca penasaran. Dari sekian banyak buku AH yang saya mulai baca, kesemuanya tidak ada yang saya selesaikan. Setiap kali setannya mau muncul, saya menutup buku itu. Meskipun saya bercita-cita menyelesaikannya, toh saya tidak pernah melanjutkan membaca.

Continue Reading »

Doel Hamid Asal Betawi

Posted November 20th, 2009 in Film, Literature, Tv Series by rk


Si Doel Anak Sekolahan, sinetron yang cukup populer di tahun ’90-an

Tak banyak orang tahu bahwa salah satu tokoh paling populer asal Betawi ini ternyata bukan diciptakan oleh sastrawan Jakarta, dialah Doel Hamid, atau yang lebih kita kenal dengan panggilan Si Doel. Pada tahun 1951, Aman Datuk Madjoindo, sastrawan asal Sumatera Barat menciptakan tokoh Si Doel dalam novel anak berjudul Si Doel Anak Betawi. Ketika nama “Betawi” diumumkan menjadi “Djakarta”, judul buku ini diubah menjadi Si Doel, lalu diubah lagi menjadi Si Doel Anak Djakarta. Mengutip pendahuluan Aman Datuk Madjoindo di buku cetakan ke lima, “Karena nama ‘Betawi’ itu sudah hilang sama sekali dari perasaan, hanya nama ‘Djakarta’ djua jang terlintas dihati, maka saja tambahkan kembali nama itu, djadi Si Doel anak Djakarta.”

Saya mengenal Si Doel pertama kali dari film karya Sjuman Djaya, Si Doel Anak Modern yang dibintangi oleh Benyamin, Christine Hakim dan Achmad Albar. Si Doel Anak Modern adalah sekuel dari Si Doel Anak Betawi yang dibintangi oleh Rano Karno kecil, dan Benyamin sebagai babenya. Tapi entah mengapa, yang terus teringat jelas di benak saya adalah Si Doel Anak Modern. Kisahnya tentang Si Doel yang sudah dewasa, dan lebih fokus pada kehidupan cintanya yang ternyata bertepuk sebelah tangan.

Selain film karya Sjuman Djaya, saya mengenal Si Doel lewat sinetron Si Doel Anak Sekolahan pada tahun ’90-an yang ketika itu lumayan populer. Rano Karno kembali membintangi menjadi Si Doel yang kini sudah lulus kuliah dan susah cari kerja. Benyamin tetap jadi babe Si Doel, yang kerjanya menjadi supir oplet. Beberapa karakter tambahan di versi sinetronnya membuat serial Si Doel jadi lebih hidup; Mandra, Mas Karyo (diperankan Basuki, alm.), Zaenab (diperankan Maudy Koesnadi), Sarah (diperankan Cornelia Agatha), dan beberapa tokoh lain.
Continue Reading »

Lahir, Jodoh, Rejeki dan Matinya Sebuah Tulisan

Posted December 11th, 2008 in Literature, On Writing by rk
2nd hand book di belakang Tokyo University

2nd hand book di belakang Tokyo University

Matabaca, edisi Desember 2008

Lahir

Saya sering mendengar kalimat ini: “tulisanku adalah anak-anakku”. Beberapa penulis bahkan saya tahu menyebut buku-bukunya yang telah terbit sebagai ‘anak ke-1’, ‘anak ke-2’, dst. Sebutan ‘anak’ bagi sebuah tulisan, bagi saya terdengar sangat over-protektif, sebab itulah yang biasa dilakukan orang tua (dalam hal ini penulis) terhadap anak-anaknya. Sayangnya, justru sikap over-protektif inilah yang membuat seorang penulis (dan tulisannya) tidak berkembang.

Bagi saya, sangatlah penting memberi jarak antara saya (sebagai penulis) dengan tulisan saya. Ketika suatu kali seorang penulis berhasil menulis sebuah cerpen, misalnya, dan diujibacakan kepada penulis senior (yang berperan sebagai pembaca), dan ternyata pembaca tidak suka dengan hasil tulisannya (bahkan mungkin dibilang jelek), nah… di sinilah daya tahan banting dan semangat belajar seorang penulis diuji. Jika ia mempertimbangkan masukan orang lain, dan ‘tega’ untuk mengobrak-abrik tulisannya, di situlah kita tahu bahwa penulis ini akan memiliki nyawa panjang dalam profesi kepenulisannya. Tetapi jika sebaliknya, maka jangan khawatir, kita takkan mendengar namanya diperbincangkan di dunia sastra.
Continue Reading »

Gerhana Kembar, Sebuah Perspektif

Posted August 16th, 2008 in Gallery, Literature, On Writing, Review, Short Stories by rk

Saya menyebut novel Gerhana Kembar karya Clara Ng sebagai novel tentang lesbian tanpa pretensi yang mencurigakan. Novel ini bercerita tentang Fola dan Henrietta, sepasang lesbian yang menjadi tokoh utama. Dua plot utama yang ada pada novel ini yaitu pada tahun ’60-an dan pada tahun 2008. Cerita diawali dengan pertemuan Fola dan Henrietta. Pada bab berikutnya, pembaca baru tahu bahwa Fola dan Henrietta adalah tokoh fiktif sebuah naskah berjudul “Gerhana Kembar” yang tengah dibaca oleh Lendy, pada tahun 2008. Sedikit demi sedikit, terkuak bahwa naskah “Gerhana Kembar” ditulis oleh Diana, nenek Lendy yang tengah sekarat, dan cerita itu berdasarkan pengalaman Diana dengan Selina, pasangan lesbinya ketika muda.
Continue Reading »

“Foto Ibu”

Posted June 3rd, 2008 in Literature, Short Stories by rk

foto_ibu.jpg
Ilustrasi oleh Wiediantoro

Sudah kupikir masak-masak; jika aku kelak membuat tato, maka tato itu adalah wajah ibuku. Akan kuukir di kulit punggungku, lebih tepatnya lagi di bagian tengah punggung agar tak kelihatan jika aku memakai baju berpunggung agak rendah, atau kaos yang terlalu tinggi potongan pinggangnya, atau baju renang. Aku tak ingin ibuku melihatnya. Tentu ia akan mengamuk jika tahu aku membuat tato, meskipun itu tato wajahnya. Aku bisa membayangkan ibuku akan berkhotbah; orang yang ada gambar di kulit, shalatnya tidak akan diterima, lalu akan masuk neraka. Sayangnya aku tak percaya neraka itu ada, seperti pesimisnya aku akan keberadaan surga. Yang aku percaya adalah reinkarnasi. Tapi ibuku percaya, dan aku tak mau mengecewakannya. Cita-cita ibuku adalah: kami sekeluarga—Ibu, aku, kedua adikku, dan bapakku— masuk surga bersama-sama. Sedang cita-citaku adalah: di kehidupan yang akan datang, aku ingin dilahirkan sebagai ibu dari ibuku agar aku bisa membalas kasih sayangnya di kehidupan yang sekarang.
Continue Reading »

Orang Gila dalam Fiksi

Posted May 25th, 2008 in Literature by rk

sawali.jpg

Beberapa waktu lalu saya menyempatkan diri ke HB Jassin, acara sastra Indonesia-Malaysia. Sebetulnya bukan tema yang menarik saya untuk datang, tetapi karena saya rada kangen beberapa lama tidak ke TIM. Selain itu, saya juga lebih tertarik untuk melihat presentasi orang-orang sastra senior (ada pak Ahmadun Yosi Herfanda, kang Kurnia Effendi dan pak Maman S Mahayana), apa pun temanya. Satu lagi yang menarik saya; kebetulan sekali pak Sawali Tuhusetya ternyata juga di acara yang sama, saya dapat info ini dari SMS pak Maman S Mahayana.

Beberapa bulan sebelumnya saya sempat chatting dengannya. Saya termasuk orang yang sering penasaran, bagaimana wajah-wajah aseli orang-orang yang saya temui di dunia maya. Akhirnya, ketemu juga dengan pak Sawali. Sayang kami tidak sempat ngobrol panjang. Maklum, dia lagi meluncurkan buku kumcernya berjudul Perempuan Bergaun Putih (penerbit bukupop, 2008). Jadi rada sibuk melayani orang yang minta tanda tangan. Sesampai di rumah, saya tidak langsung membaca kumcer tersebut. Seperti buku-buku lainnya, saya letakkan di meja kecil sebelah tempat tidur sebagai penanda prioritas buku yang niat saya baca. Saya memang hobi menyicil bacaan, apalagi kalau itu kumpulan cerpen.
Continue Reading »

Page 2 of 41234