Feb 18
rkLiterature, Short Stories
Sudah hampir dua puluh lima tahun Ah Kauw menjadi penggali kubur. Jika kau mengira ia bekerja sebagai penggali kubur bagi mereka yang mati, maka kau salah.
Tadinya ia menggali kubur untuk orang yang sudah mati, seperti penggali kubur kebanyakan. Sampai suatu hari, Koh Hien, orang yang dikenal Ah Kauw sebagai pemilik toko yang menjual barang-barang untuk keperluan kematian orang-orang Tionghoa, menawarinya pekerjaan yang lebih menghasilkan uang di Jakarta.
Baca selengkapnya di sini: Suara Merdeka, 17 Februari 2008 (Home-Entertainment-Cerpen)
Feb 17
rkLiterature, Short Stories

Would you believe I have been in this nursing home for 20 years? I wonder why I have outlived all my friends. It’s not like I ever prayed for a drawn-out “life-sucking” existence.
Being old is no fun. I have had three strokes and three heart attacks. My doctor reckoned the third heart attack would take me out. He was wrong.
My kids and grandchildren say they are happy I’m still here.
So why did they put me in a home? I hate it here; gathered together with the other old folk.
I want to be cremated like my friends. I want my ashes to be poured into the sea, as were my son’s and my husband’s more than 10 years ago.
Baca lanjutannya / Read more at The Jakarta Post, 17 February 2008
Feb 16
rkGallery, Literature
Di ultah komunitas milis sastra ke-3, apresiasi-sastra@ yahoogroups.com, teman-teman yang biasanya ngobrol di dunia maya kali ini kopi darat. Di Japan Foundation, teman-teman Apsas bertemu dan bersastra; mulai dari launching buku, pertunjukan teater, diskusi, monolog, sampai baca puisi yang dulu pernah diposting ke milis oleh anggota-anggotanya. Ada acara potong tumpeng segala lho!
Feb 13
rkLiterature

Jika perbedaan banyak bahasa ibarat hulu dan hilir yang terpisah oleh sebuah sungai, maka penerjemah adalah jembatan di atas sungai itu; inilah yang saya pelajari ketika saya kuliah dulu. Penerjemahan merupakan mata kuliah favorit saya, bahkan saya memutuskan untuk mengambil penerjemahan untuk skripsi saya. Bagi saya menerjemahkan itu tidak semudah membalik telapak tangan. Saya berpikir berpuluh-puluh kali jika harus menerjemahkan satu karya, apalagi kalau itu bukan karya saya sendiri.
Akhir-akhir ini, ada hal yang menyentil ketika saya berkunjung ke toko buku. Buku pertama yang saya lihat adalah The Inheritance of Loss karya Kiran Desai diterjemahkan menjadi Senja di Himalaya (penerbit Hikmah). Awalnya, saya merasa ‘lucu’ dengan judul terjemahan ini. Tetapi kemudian saya menemukan beberapa buku terjemahan lain dengan judul berubah total. Di antaranya yang saya catat adalah Kafka on the Shore karya Haruki Murakami menjadi Labirin Asmara Ibu dan Anak (penerbit Alvabet), The Five People You Meet in Heaven karya Mitch Albom menjadi Meniti Bianglala (GPU), dan Great Expectations karya Charles Dickens menjadi Teman Istimewa (penerbit Narasi).
More
Jan 06
rkLiterature, Review
Nobel Kesusatraan

“Sjambok itu tergantung di depan pintu rumahnya, seperti slogan yang terpampang di dinding: Jangan ragu untuk membunuh jika memang perlu.” Demikian tulis Doris Lessing dalam novel debutnya.
Sjambok (cambuk khas Afrika) merupakan perlambang kekuasaan kulit putih yang mendominasi di Afrika Selatan. Sjambok biasa digantungkan di dinding atau pintu depan rumah orang kulit putih untuk menakut-nakuti para pekerjanya, orang kulit hitam. Seperti inilah gambaran zaman perbudakan sebelum tahun 50-an, yang menjadi latar novel The Grass is Singing.
Bagi penulis generasi sekarang, terutama di Indonesia (tak terkecuali saya), baru mendengar nama Doris Lessing ketika ia disebut sebagai pemenang Nobel Kesusastraan 2007 pada Oktober lalu. Namanya tak muncul secuil pun dalam taruhan siapa pemenang Nobel Kesusastraan 2007 yang marak di internet. Bahkan bisa dibilang, ia mungkin telah dilupakan. Pada tanggal 10 Desember 2007, perempuan berusia 87 tahun ini menerima hadiah sebesar 1,5 juta dollar AS di Kantor Pusat Akademi Nobel, Stockholm. Saya memutuskan untuk “berkenalan” dengannya melalui The Grass is Singing.
More
Older Entries Newer Entries