
It’s been three years since I got the first idea of writing this novel about ‘kretek’ (clove-cigarette), the signature cigarette of Indonesia. This is the longest period for me finishing a piece of novel. I guess it explains why I always support producing cigarette (especially kretek), though I don’t smoke at all. I got my reason, and the more I dig deeper on to clove-cigarette, the more I see the core of a kretek and how it worth treasure. (In this part, you don’t have to be agree with me, especially if you hate smoking and smokers *wink*)
Continue Reading »
Finishing New Novel
Kelas Online Menulis Cerpen Bersama Eka Kurniawan
Ada yang tertarik mengikuti kelas online menulis cerita pendek bersama Eka Kurniawan? Rencana kelas baru mulai 14 April 2011, diadakan oleh PlotPoint. Untuk yang tertarik, sila daftar di http://tulissekarang.com. Bisa juga sebelumnya bertanya dulu dengan ngobrol via YM di tulissekarang@yahoo.com. Yang menggunakan Twitter bisa follow@_PlotPoint, yang menggunakan Facebook, sila kunjungihttp://facebook.com/pages/plot-point-workshop.
Reader’s Block
Anda penulis? Menyebalkan bukan jika tiba-tiba terserang writer’s block? Tahu kan, itu lho…tiba-tiba lagi asik menulis, “terserang” masalah, entah mendadak mood jelek, rasa malas yang akut, mau nulis kurang bahan tulisan, dan lain-lain. Saya sering ditanya, gimana cara mengatasi writer’s block. Saya pribadi, akhir-akhir ini lebih suka membiarkan writer’s block itu sejenak menyerang saya, dan tak memaksakan otak saya untuk menulis. Jika merasa sudah tiba saatnya, saya akan mencoba memancing mood menulis dengan menulis hal-hal sederhana (misalnya menulis blog), atau membaca buku-buku yang menyenangkan, hingga nonton film yang bisa memancing ide-ide baru. Saya yakin, tiap penulis jika ditanya cara mengatasi writer’s block punya jawaban sendiri-sendiri.
Writer’s block itu ibaratnya “habluminallah” (tentu saja dengan tanda kutip, yang secara harafiah ‘hubungan manusia dengan Tuhan’). ‘tuhan’ (dengan ‘t’ kecil) di situ -versi saya- saya ibaratkan diri sendiri, penulis sebagai tuhan kecil untuk tulisannya sendiri. Bagaimana ia bertanggung jawab atas dirinya sebagai penulis dengan tulisan yang seharusnya ia hasilkan. Saya katakan ‘seharusnya’, karena memang banyak penulis yang mandeg begitu saja di tengah proses menulisnya (ya terserang writer’s block itu tadi) dan tak melanjutkan lagi. Tapi, ada lho, “habluminannas” dalam berkarya sastra (yang secara harafiah berarti ‘hubungan manusia dengan sesama’), yang berarti -versi saya- dalam hal sastra adalah hubungan buku yang dihasilkan oleh penulis yang bersangkutan dengan pembacanya.
Pernahkah Anda merasa sebal karena tahu bahwa tulisan Anda tak ada yang membacanya? Bagaimana cara tahunya? Yang sederhana dan paling mudah dilacak adalah ketika Anda melihat laporan dari penerbit, bahwa penjual buku Anda cuma beberapa gelintir saja alias tak laku. Kedua, cari saja orang yang mengapresiasi buku Anda dengan mereviewnya di media/internet, jangan-jangan isinya mencaci maki buku Anda. Atau lebih parah, tak ada yang mereviewnya sama sekali. Sakit hati, bukan? “Sialan, susah-susah aku nulis!” Umpat Anda dalam hati. Yah, tapi itulah resiko jadi penulis.
Continue Reading »
Ibu Rumah Tangga dalam Industri Kreatif
KOMPAS.com – Clara Ng (37), penulis yang populer dengan novel Tujuh Musim Setahun (Dewata Publishing, 2002), terang-terangan mengaku menulis novel adalah pekerjaan kedua. “Pekerjaan utama saya adalah mengurus anak,” tutur ibu dari Elysa (8) dan Cathy (4) ini saat ditemui di rumahnya di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat, Selasa (6/7/2010) lalu.
Padahal, produktivitas Clara sebagai penulis tak perlu diragukan lagi. Sejak menulis Tujuh Musim Setahun pada tahun 2000, hingga kini ia telah menulis dan menerbitkan tak kurang dari 11 novel dan 29 buku cerita anak-anak.
Senada dengan Clara, penulis Sitta Karina Rachmidiharja (29) mengatakan lebih ingin dikenal sebagai ibu rumah tangga daripada penulis atau selebriti apa pun. “Karena saya memang ibu rumah tangga dan tidak pernah ingin jadi selebriti. Lebih enak begini, punya privasi dan kebebasan,” kata Sitta di rumahnya di kawasan Kreo, Tangerang, Banten.
Sitta mulai dikenal sejak menerbitkan novel pertamanya,Lukisan Hujan, pada tahun 2004, dan sejak itu sudah menulis 15 novel. Novel Lukisan Hujan sendiri, yang diterbitkan penerbit Terrant Books itu, laku keras dan cetak ulang hingga lima kali.
Keluar dari pekerjaan
Awalnya, Sitta sempat beberapa kali pindah kerja, mulai dari Citibank, perusahaan konsultan manajemen Accenture, hingga menjadi konsultan di PT Freeport Indonesia. Namun, sejak 2005 ia memilih keluar dari pekerjaan dan menjadi penulis freelance. “Sebagai istri, saya ini sangat old fashioned. Bagi saya, tugas utama istri, ya, mengurus rumah dan anak-anak,” ungkap alumnus jurusan Teknik Industri, Universitas Trisakti, Jakarta, ini.
Keluar dari kerja kantoran untuk menekuni kegiatan menulis juga dilakukan Ratih Kumala (29). Ia sebenarnya sudah ingin menulis novelnya sejak lama, tetapi baru tahun 2002 ia memutuskan keluar dari pekerjaannya dan merampungkan novel pertama berjudul Tabula Rasa (Grasindo, 2004).
Hasilnya tak sia-sia, novel itu terpilih sebagai pemenang ketiga Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2004. “Sejak itu, saya menekuni pekerjaan jadi penulis lepas,” kata alumnus jurusan Sastra Inggris, Universitas Sebelas Maret, Solo, ini.
Menulis sendiri bagi Sitta adalah sebuah kegemaran lama. Sejak usia delapan tahun, Sitta sudah gemar mengarang cerita. Inspirasinya ia dapat dari kakeknya, almarhum Mara Karma, seniman dan penulis seangkatan Mochtar Lubis dan Rosihan Anwar.
Continue Reading »
Sayembara Menulis Novel dan Cerpen
Ada beberapa lomba menulis nih, siapa tahu bloggers tertarik untuk ikutan :)
SAYEMBARA MENULIS NOVEL DEWAN KESENIAN JAKARTA 2010
Untuk merangsang dan meningkatkan kreativitas pengarang Indonesia dalam penulisan novel, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) kembali menyelenggarakan Sayembara Menulis Novel. Lewat sayembara ini DKJ berharap lahirnya novel-novel terbaik, baik dari pengarang Indonesia yang sudah punya nama maupun pemula, yang memperlihatkan kebaruan dalam bentuk dan isi. Adapun persyaratannya sebagai berikut:
Ketentuan Umum
* Peserta adalah warga negara Indonesia (dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk atau bukti identitas lainnya).
* Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah.
* Naskah belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, baik sebagian maupun seluruhnya.
* Naskah tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa.
* Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik.
* Tema bebas.
* Naskah adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan (sebagian atau seluruhnya)
Keeping it Short
There are more than a million books published around the world every year, with short story collections accounting for less than 1 percent of them. Still, the last two years have seen the publication of some of the most intriguing anthologies by authors of all backgrounds, making 2008 and 2009 very successful years for short fiction. In the long run, it remains to be seen if the short story will gain the publishing upper hand. Maggie Tiojakin reports.
Short stories are hard to write, that’s true; but they’re even harder to sell, and that’s a fact.
Ratih Kumala is known for her quirky and sometimes disturbing stories that appear regularly in leading national dailies, including Kompas and Suara Merdeka. She’s the author of three novels – Tabula Rasa (2004), Genesis (2005) and Kronik Betawi (2009) – as well as a collection of short stories, Larutan Senja (2006), distinguishing her as one of the most promising young writers today.
The 14 stories included in Larutan Senja (Potion of Twilight) feature some of Ratih’s best writing to date, recounting anecdotes of a world driven by faith (or the lack of it), mysticism, fantasy and (some) horror. Yet the anthology is almost impossible to find in local bookstores and available for purchase only through the Internet. This is despite the fact that Larutan Senja was listed as one of the few notable books in the year of its publication.
“Our editorial department has often expressed a great interest in publishing short story collections,” says Hetih Rusli, a senior editor at publisher Gramedia Pustaka Utama. “But our marketing department has always been more than a little hesitant to put them out there because they never sell as well as we expect.”
Nevertheless, according to Ratih, the lack of interest on readers’ part in purchasing anthologies of short stories may also be attributed to the fact that local short stories are readily accessible in newspapers’ weekly cycle.
Continue Reading »

