<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ratih Kumala's Little Blog &#187; On Writing</title>
	<atom:link href="http://ratihkumala.com/blog/category/on-writing/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ratihkumala.com</link>
	<description>The Only Constant is Change</description>
	<lastBuildDate>Fri, 25 Jun 2010 09:47:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Sayembara Menulis Novel dan Cerpen</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/sayembara-menulis-novel-dan-cerpen-584.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/sayembara-menulis-novel-dan-cerpen-584.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Apr 2010 14:42:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[On Writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=584</guid>
		<description><![CDATA[Ada beberapa lomba menulis nih, siapa tahu bloggers tertarik untuk ikutan :) SAYEMBARA MENULIS NOVEL DEWAN KESENIAN JAKARTA 2010 Untuk merangsang dan meningkatkan kreativitas pengarang Indonesia dalam penulisan novel, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) kembali menyelenggarakan Sayembara Menulis Novel. Lewat sayembara ini DKJ berharap lahirnya novel-novel terbaik, baik dari pengarang Indonesia yang sudah punya nama maupun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/typist.gif" rel="lightbox[584]"><img class="alignleft size-full wp-image-585" title="typist" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/typist.gif" alt="" width="180" height="175" /></a>Ada beberapa lomba menulis nih, siapa tahu bloggers tertarik untuk ikutan :)</p>
<div>
<div>
<p><strong>SAYEMBARA MENULIS NOVEL DEWAN KESENIAN JAKARTA 2010<br />
</strong></p>
<p>Untuk merangsang dan meningkatkan kreativitas pengarang Indonesia dalam penulisan novel, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) kembali menyelenggarakan Sayembara Menulis Novel. Lewat sayembara ini DKJ berharap lahirnya novel-novel terbaik, baik dari pengarang Indonesia yang sudah punya nama maupun pemula, yang memperlihatkan kebaruan dalam bentuk dan isi. Adapun persyaratannya sebagai berikut:</p>
<p><strong>Ketentuan Umum</strong></p>
<p>* Peserta adalah warga negara Indonesia (dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk atau bukti identitas lainnya).<br />
* Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah.<br />
* Naskah belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, baik sebagian maupun seluruhnya.<br />
* Naskah tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa.<br />
* Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik.<br />
* Tema bebas.<br />
* Naskah adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan (sebagian atau seluruhnya)</p>
<p><span id="more-584"></span><strong>Ketentuan Khusus</strong></p>
<p>* Panjang naskah minimal 150 halaman kuarto, 1,5 spasi, Times New Roman 12<br />
* Peserta menyertakan biodata dan alamat lengkap dalam lembar tersendiri, di luar naskah<br />
* Empat salinan naskah yang diketik dan dijilid dikirim ke:</p>
<p>Panitia Sayembara Menulis Novel DKJ 2010<br />
Dewan Kesenian Jakarta<br />
Jl. Cikini Raya 73<br />
Jakarta 10330</p>
<p>* Batas akhir pengiriman naskah: 30 September 2010 (cap pos atau diantar langsung)</p>
<p>Lain-lain</p>
<p>* Para Pemenang akan diumumkan dalam Malam Anugerah Sayembara Menulis Novel DKJ 2010 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada pertengahan Januari 2011.<br />
* Hak cipta dan hak penerbitan naskah peserta sepenuhnya berada pada penulis.<br />
* Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat-menyurat.<br />
* Pajak ditanggung pemenang.<br />
* Sayembara ini tertutup bagi anggota Dewan Kesenian Jakarta periode 2009-2012.<br />
* Maklumat ini juga bisa diakses di www.dkj.or.id<br />
* Dewan Juri: Agung Ayu, Anton Kurnia, dan A.S. Laksana</p>
<p>Hadiah</p>
<p>Pemenang utama                      Rp. 20.000.000<br />
Empat pemenang unggulan @    Rp.  7.500.000</p>
<p>sumber : <a href="http://www.dkj.or.id/?opt=pages&amp;cidsub=8&amp;pages_id=549">dkj.or.id</a></p>
</div>
</div>
<p><strong><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/writing.jpg" rel="lightbox[584]"><img class="alignleft size-medium wp-image-586" title="writing" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/writing-300x202.jpg" alt="" width="300" height="202" /></a>SAYEMBARA CERPEN DALAM BAHASA TIONGHOA, &#8220;PIALA ELANG EMAS&#8221; KE-4</strong></p>
<p>Penyelenggara: Himpunan Penulis Sastra Tionghoa Indonesia(Yinhua Zuoxie) &amp; Harian International Daily(Guoji Ribao)</p>
<p>Bentuk: cerpen<br />
Tema: bebas<br />
Jumlah aksara: maksimum 5000 huruf.</p>
<p><strong>Syarat:</strong><br />
- penduduk Indonesia<br />
- boleh menyerahkan lebih dari satu karya.<br />
-ditulis dalam Bahasa Tionghoa<br />
- bukan karya terjemahan, tak pernah terbit di koran atau majalah dalam luar negeri, atau terpilih dalam sayembara yg lain.<br />
- boleh tulisan tangan atau ketikan komputer.<br />
- di atas naskah hanya tertera judul dan isi karangan, nama dan data pribadi ditulis dalam lembar terpisah.<br />
- karya peserta dibuat sebanyak 6 copy, bersama lembar data dikirim ke alamat:<br />
Jl. Tiang Bedera 1/73cc, Jakarta Barat. Indonesia.<br />
- di sampul ditulis: Kepada Panitia Sayembara cerpen piala Elang Emas</p>
<p><strong>Hadiah:</strong><br />
Juara 1: Rp. 10.000.000,- +piala tetap dan bergilir<br />
Juara 2: Rp. 7.500.000.- + piala<br />
Juara 3: Rp. 5.000.000,- +piala<br />
5 Hadiah pujian: 5 orang, masing2 Rp.1.000.000,- +piagam<br />
20 finalis: piagam dan sovernir</p>
<p><strong>Juri: </strong></p>
<p>-Liu Haitao(China),<br />
-Dong Ru(Hongkong),<br />
-Tang Meixiao(Macao),<br />
-You Jing(Singapura),<br />
-Li Yijun(Malaysia).</p>
<p>Batas waktu pengiriman: 30-6-2010. Kiriman melalui pos dilihat dari tanggal di stempel.<br />
Pengumuman hasil: November 2010 di koran2, juga akan diberi tahu lewat surat.<br />
Penyerahan hadiah: Desember 2010.<br />
Penerbitan: karya pemenang dan para finalis akan dibukukan, hak terbit milik Himpunan Penulis Sastra Tionghoa Indonesia.</p>
<p><strong>Lembar data diri mencantumkan:</strong><br />
- nomor urut (dikosongkan)<br />
- judul karya lomba<br />
- nama Tionghoa<br />
- nama Indonesia<br />
- nama Pena<br />
- nomor KTP<br />
- tanggal lahir/ tempat lahir<br />
- alamat surat<br />
- no. Telpon; no.Hp; no. Fax<br />
- alamat email<br />
- pernyataan mengikuti semua aturan lomba.<br />
- tandatangan disertai tanggal ditanda tangani.</p>
<p>Lembar data diatas harap ditulis dalam aksara Tionghoa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/sayembara-menulis-novel-dan-cerpen-584.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keeping it Short</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/keeping-it-short-581.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/keeping-it-short-581.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 15:11:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsip Media]]></category>
		<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[On Writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=581</guid>
		<description><![CDATA[There are more than a million books published around the world every year, with short story collections accounting for less than 1 percent of them. Still, the last two years have seen the publication of some of the most intriguing anthologies by authors of all backgrounds, making 2008 and 2009 very successful years for short [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/larutansenja_tbl.png" rel="lightbox[581]"><img class="alignleft size-full wp-image-568" title="larutansenja_tbl" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/larutansenja_tbl.png" alt="" width="96" height="155" /></a>There are more than a million books published around the world every year, with short story collections accounting for less than 1 percent of them. Still, the last two years have seen the publication of some of the most intriguing anthologies by authors of all backgrounds, making 2008 and 2009 very successful years for short fiction. In the long run, it remains to be seen if the short story will gain the publishing upper hand. </em><em><strong>Maggie Tiojakin</strong></em><em> reports.</em></p>
<p>Short stories are hard to write, that’s true; but they’re even harder to sell, and that’s a fact.</p>
<p>Ratih Kumala is known for her quirky and sometimes disturbing stories that appear regularly in leading national dailies, including <em>Kompas</em> and <em>Suara Merdeka</em>. She’s the author of three novels – <em>Tabula Rasa </em>(2004), <em>Genesis </em>(2005) and <em>Kronik Betawi</em> (2009) – as well as a collection of short stories, <em>Larutan Senja</em> (2006), distinguishing her as one of the most promising young writers today.</p>
<p>The 14 stories included in <em>Larutan Senja</em> (Potion of Twilight) feature some of Ratih’s best writing to date, recounting anecdotes of a world driven by faith (or the lack of it), mysticism, fantasy and (some) horror. Yet the anthology is almost impossible to find in local bookstores and available for purchase only through the Internet. This is despite the fact that <em>Larutan Senja </em>was listed as one of the few notable books in the year of its publication.</p>
<p>“Our editorial department has often expressed a great interest in publishing short story collections,” says Hetih Rusli, a senior editor at publisher Gramedia Pustaka Utama. “But our marketing department has always been more than a little hesitant to put them out there because they never sell as well as we expect.”</p>
<p>Nevertheless, according to Ratih, the lack of interest on readers’ part in purchasing anthologies of short stories may also be attributed to the fact that local short stories are readily accessible in newspapers’ weekly cycle.<br />
<span id="more-581"></span></p>
<p>“This is a unique tradition for Indonesian writers and readers,” she says. “We’re accustomed to reading short stories while browsing the weekend edition of the national dailies, whereas we read books when we’re in the mood to get lost in larger works, like novels or even novellas.”</p>
<p>Over in other countries—notably the United States and Canada—short fiction remains somewhere at the center of all literary preoccupation. How could it not? North America is home to some 800 graduate creative writing programs and more than 1,000 literary journals (both print and electronic) whose dedication to short fiction is unrivaled in any other English-speaking country. Supporting these journals are creative writing departments in more than 2,000 American colleges, as well as annual anthologies the likes of <em>Best American Short Stories</em> and <em>The O. Henry Prize Stories</em>.</p>
<p>Tom Perrotta is an American novelist, short story writer, screenwriter and essayist. He’s the author of the novels <em>The Wishbones </em>(1997),<em> Election</em> (1998), <em>Joe College </em>(2000), <em>Little Children </em>(2004) and <em>The Abstinence Teacher </em>(2007), as well as a short story collection, <em>Bad Haircut: Stories of the Seventies </em>(1994). For him, the short story as a form “has gone in and out of fashion” in the face of publishing challenges.</p>
<p>“The main role of the short story collection … is to introduce new voices,” he tells the <em>WEEKENDER</em>. “Publishers hope these new voices will follow with a novel … [because] only a handful of major writers – Raymond Carver, Alice Munro, Mavis Gallant – have managed to carve out distinguished careers writing only in the short form.”</p>
<p>For Simon Van Booy, however, at the heart of all forms of writing is the story itself. The 2009 winner of the International Frank O’Connor Prize, arguably the most prestigious for short story writers, Van Booy is a British author who has penned two short story collections – <em>The Secret Lives of People in Love </em>(2007) and <em>Love Begins In Winter </em>(2009) – three books on philosophy and countless essays. His first novel is set for publication sometime next year.</p>
<p>“I think some stories are just more suited to [the short story] format,” Van Booy writes to the <em>WEEKENDER</em>. “A few stories in my imagination are yet to find their mode of deliverance.”</p>
<p>Ratih, though, believes the short story form is the equivalent of a beginner’s class for writers experimenting with and trying to find their own voice before eventually graduating to a novel.</p>
<p>“Writing a short story is how writers begin their career,” she says. “It’s a training ground, and a difficult one at that, because not all writers can do it well.”</p>
<p>Lori Ostlund agrees. A recipient of the Rona Jaffe Foundation Writer’s Award, her collection <em>The Bigness of the World</em> (2009) has been hailed by critics as a remarkable debut.</p>
<p>“Short stories are the way that young writers build up their résumé,” Ostlund says in an email interview. “But it isn’t always the case that someone who writes a short story can also write a novel. Some people are fundamentally novelists and others are short story writers.”</p>
<p>Even so, on the point of short fiction as a literary commodity, most people tend to step back. While it’s true there are more literary outlets today than at any other time in history – taking into account the small presses and electronic-based journals around the world – there have also been a lot of financial cutbacks and loss of readership over the last few years.</p>
<p>Will short stories ever be able to outshine the bulky magnum opuses penned by genre authors such as J.K. Rowling and Stephanie Meyer?</p>
<p>“I’m not sure I see the short story as an especially commercial genre,” says Perrotta. “Yes, a few story collections do well in the marketplace, but most reach a relatively small audience, though there have been some high-profile exceptions.”</p>
<p>Among the special few is Jhumpa Lahiri, whose first collection, <em>Interpreter of Maladies </em>(1999), won the Pulitzer Prize and gave her an early taste of international fame. It was a groundbreaking volume, matched by her debut novel, <em>The Namesake </em>(2003), and second collection, <em>An Unaccustomed Earth </em>(2008).</p>
<p>An Indian-American writer, Lahiri’s popularity marked an interesting juncture in the development of American short stories. Following her success, and perhaps unintentionally so, other writers of foreign backgrounds began to emerge and mold their careers in the United States, where the literary market is highly selective and, at times, impossible to penetrate. Notable foreign writers on this list, whose American identity is bound by geographic upbringing and education rather than heritage, include Nam Le (Vietnam-Australia), Uwem Akpan (Nigeria), Alexandar Hemon (Bosnia) and Yiyun Li (China).</p>
<p>There were, of course, others before them: Russia’s Vladimir Nabokov, for one, whose controversial <em>Lolita</em> became the talk of the world back when it was first published in the 1950s, and whose short stories appeared in distinguished journals such as <em>The Atlantic</em>.</p>
<p><em>The Atlantic</em>, a monthly journal of literary and political commentary founded in 1857, is one of the first outlets many American short story writers turn to for publication and also to establish their reputation as masters of the form. Ernest Hemingway, F. Scott Fitzgerald, Nathaniel Hawthorne, Mark Twain and Louisa May Alcott, among others, launched their careers through the magazine. And for the next 148 years, it continued to publish monthly fiction.</p>
<p>Nevertheless, in 2005 the magazine changed gears. Fiction is no longer a part of its monthly editorial, though in its place is an annual collection of at least 10 short stories.</p>
<p>“Our <em>Fiction Issue </em>is designed to function a bit like an anthology,” says Sage Stossel, an editor at <em>The Atlantic</em>. “With short stories, poetry and articles about writers and writing all gathered together in one place.”</p>
<p>In December last year, <em>The Atlantic</em> began offering two short stories a month published exclusively through Amazon’s Kindle, priced at US$3.99 each – the first of its kind. If anything, it’s probably a sign that short stories are enjoying the kind of popularity to which they were previously unaccustomed.</p>
<p>“<em>The Atlantic</em> has historically served as an important outlet for short fiction,” says Stossel. “And it remains committed to publishing short fiction.”</p>
<p>In Southeast Asia, publishers are only just beginning to warm up to short fiction. Kuala Lumpur-based Silverfish Books, for instance, commits itself to publishing short story volumes by Malaysian authors. And Singapore’s QLRS (Quarterly Literary Review Singapore) has, for the past decade, regularly posted up short stories, criticism, essays and poetry by local authors.</p>
<p>Shih-Li Kow is a Chinese Malaysian whose debut short story collection, <em>Ripples and Other Stories </em>(2008), was shortlisted for the International Frank O’Connor Prize.</p>
<p>Expounding on the notion that most readers are now responding better to short stories, Kow says the key rests with the publishers and not (strictly) with the readers.</p>
<p>“I believe publishers are the ones who open up to different types of short fiction,” she says. “There can only be a potential readership if something is published.”</p>
<p>Asked about what drew her to the short story as a medium, Kow says, “It wasn’t so much that I chose the medium. I felt I didn’t have a choice but to write short stories.”</p>
<p>A similar sentiment is shared by Ostlund, who teaches creative writing at the Art Institute of California in San Francisco. Though currently at work on her first novel, Ostlund admits her heart belongs to the short story.</p>
<p>“I think there are a lot of readers out there who … don’t always run toward the novel,” she says. “And I’m gratified by the number of really good short story collections that I’ve been coming across lately, hoping for more to come.”</p>
<p>Overall, short fiction – individually and as a collection – does have its own irresistible appeal that puts readers and writers alike into a state of trance. The small moments of revelation contained within, the illuminating truth spoken by voices so familiar they sound like our own, as we mull over the quick yet subtle narrative, piercing dialogue, and often unpredictable ending. These are the winning points of the short story, which render the form arguably the most difficult to master, and the reason it continues to evolve.</p>
<p>Europe, a continent best known for its novels, poetry, plays and essays, whose literary market for many centuries has been divided by language, culture and history, has now entered the fray by publishing, for the first time, an anthology of 35 short stories by authors hailing from Albania to Wales.</p>
<p>The stories, selected by Hemon, a recipient of a MacArthur Foundation grant, are collected in a volume aptly titled <em>Best European Fiction 2010</em>. Released in January, the collection is expected to serve as the new benchmark for short stories.</p>
<p>Indonesia, by comparison, isn’t lagging far behind. Besides the weekly short stories in newspapers, some of which go on to be anthologized by the end of the year, there are also the prestigious Pena Kencana Award and Khatulistiwa Award, both of which recognize the contributions made by short stories to the Indonesian literary scene.</p>
<p>But is it enough to boost a writer’s ambition?</p>
<p>“Generally, [short story] writers aren’t well appreciated in Indonesia,” says Ratih. “And it’s understandable for our readers to choose novels over short story collections, because why go to the trouble of reading something that forces you to think hard rather than simply entertains?”</p>
<p>Surely, though, that isn’t what short fiction is all about.</p>
<p>“I think short stories have the sort of power that can seduce a reader,” says Van Booy. “The way you fall in love first and get to know the person later. A good story to me is something I can’t forget.”</p>
<p>Perrotta, whose short story “The Smile on Happy Chang’s Face” opened the anthology of <em>Best American Short Stories 2005</em>, credits fellow writers for preserving the form</p>
<p>“The short story continues to prosper because talented young writers haven’t abandoned it,” he says.</p>
<p>*source: <a href="http://www.thejakartapost.com/news/2010/03/31/keeping-it-short.html">http://www.thejakartapost.com/news/2010/03/31/keeping-it-short.html</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/keeping-it-short-581.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Abdullah Harahap, Master of Horror Fiction</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/abdullah-harahap-master-of-horror-fiction-552.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/abdullah-harahap-master-of-horror-fiction-552.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 13:18:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[On Writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=552</guid>
		<description><![CDATA[Ketika mendengar nama Abdullah Harahap (AH), yang saya ingat adalah kover buku beliau yang provokatif. Biasanya ada gambar makhluk berwajah seram, dan seorang pemuda tampan, serta gadis cantik nan molek. Saya menemukan buku-buku AH ketika kecil, dijual eceran di antara koran-koran dan majalah, serta buku TTS. Saya besar di keluarga Islam, maka ketika ibu saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/IMG00337-20100127-17071.jpg" rel="lightbox[552]"><img class="alignleft size-medium wp-image-554" title="IMG00337-20100127-1707" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/IMG00337-20100127-17071-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Ketika mendengar nama Abdullah Harahap (AH), yang saya ingat adalah kover buku beliau yang provokatif. Biasanya ada gambar makhluk berwajah seram, dan seorang pemuda tampan, serta gadis cantik nan molek. Saya menemukan buku-buku AH ketika kecil, dijual eceran di antara koran-koran dan majalah, serta buku TTS. Saya besar di keluarga Islam, maka ketika ibu saya tahu saya melihat buku-buku bergambar seronok, saya dilarang membacanya. Pada suatu saat saya berkesempatan membacanya, saya tidak menyelesaikan buku AH. Sebabnya? Saya ini penakut!</p>
<p>Ada yang aneh pada buku-buku AH. Bagi saya (dan mungkin untuk kebanyakan orang), buku-buku AH tergolong &#8220;<em>guilty pleasure</em>&#8220;. Mau dibaca gengsi, enggak dibaca penasaran. Dari sekian banyak buku AH yang saya mulai baca, kesemuanya tidak ada yang saya selesaikan. Setiap kali setannya mau muncul, saya menutup buku itu. Meskipun saya bercita-cita menyelesaikannya, toh saya tidak pernah melanjutkan membaca.</p>
<p><span id="more-552"></span></p>
<p>Akhirnya saya berkesempatan bertemu AH, via seorang teman. Setelah sebelumnya saya mengikuti perkembangan tiga penulis (Eka Kurniawan, Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad) mengerjakan antologi cerpen horror, tribut untuk Abdullah Harahap. Di usia yang memasuki kepala 7, beliau masih terlihat sehat dan bersemangat. Ternyata, meskipun tak lagi mengasilkan buku, beliau masih menulis skenario untuk FTV. Selama ini, beliau menetap di Bandung. Meski tak banyak waktu untuk mengobrol, tetapi bertemu beliau saja sudah membuat saya berasa beruntung: seorang legenda di depan mata saya.</p>
<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/n594598545_4355.jpg" rel="lightbox[552]"><img class="alignleft size-full wp-image-555" title="n594598545_4355" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/n594598545_4355.jpg" alt="" width="200" height="294" /></a>Berikut adalah cuplikan antologi cerpen <em>Kumpulan Budak Setan</em> (GPU) yang akan terbit Februari 2010</p>
<p><em>Kumpulan Budak Setan</em>, kompilasi cerita horor Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad, adalah proyek membaca ulang karya-karya Abdullah Harahap, penulis horor populer yang produktif di era 1970-1980an. Dua belas cerpen di dalamnya mengolah tema-tema khas Abdullah Harahap &#8212; balas dendam, seks, pembunuhan &#8212; serta motif-motif berupa setan, arwah penasaran, obyek gaib (jimat, topeng, susuk), dan manusia jadi-jadian.</p>
<p><em>Kupejamkan kembali mataku dan kubayangkan apa yang dilakukannya di balik punggungku. Mungkin ia berbaring telentang? Mungkin ia sedang memandangiku? Aku merasakan sehembus napas menerpa punggungku.</em></p>
<p><em>Akhirnya aku berbisik pelan, hingga kupingku pun nyaris tak mendengar:</em></p>
<p><em>“Ina Mia?”</em></p>
<p>(&#8220;Riwayat Kesendirian,” Eka Kurniawan)</p>
<p><em>Jilbabnya putih kusam, membingkai wajahnya yang tertutup bedak putih murahan – lebih mirip terigu menggumpal tersapu air – dan gincu merah tak rata serupa darah yang baru dihapus. Orang kampung tak yakin apakah mereka sedang melihat bibir yang tersenyum atau meringis kesakitan.</em></p>
<p>(“Goyang Penasaran,” Intan Paramaditha)</p>
<p><em> “Duluan mana ayam atau telur,” gumam Moko pelan. Intonasinya datar sehingga kalimat itu tak menjadi kalimat tanya. Laki-laki yang ia cekal tak tahu harus bilang apa, tengadah dan menatap ngeri pada pisau berkilat di tangannya. Moko tak menunggu laki-laki itu bersuara, menancapkan pisaunya cepat ke arah leher mangsanya. Sekali. Sekali lagi. Lagi.<br />
Darah di mana-mana.</em></p>
<p>(“Hidung Iblis,” Ugoran Prasad)</p>
<p>Dalam <em>Kumpulan Budak Setan</em>, sembari mengolah konvensi genre horor, kami juga memandang horor sebagai moda yang dipertukarkan di berbagai ranah, dari panggung politik hingga kehidupan sehari-hari. Horor tak melulu soal hantu, tetapi ruang liyan yang menciptakan kemungkinan runtuhnya “realitas” yang seharusnya, tatanan yang kita percaya. Horor beroperasi tak hanya dalam cerita setan, tapi juga dalam retorika politik (misalnya saja penggunaan moda horor dalam film sejarah Pengkhianatan G30S/PKI, atau, di tataran global, narasi seputar peristiwa 9/11) maupun hubungan personal dan sosial yang sepintas lalu tak berbahaya.</p>
<p>(Kata pengantar dari para budak setan)</p>
<p><strong><em>Kumpulan Budak Setan</em> akan diluncurkan di Salihara, 17 Februari 2010. Detil menyusul.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/abdullah-harahap-master-of-horror-fiction-552.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shakespeare dalam Manga</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/shakespeare-dalam-manga-392.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/shakespeare-dalam-manga-392.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 May 2009 06:21:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Graphic Novel]]></category>
		<category><![CDATA[On Writing]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[hamlet]]></category>
		<category><![CDATA[juliet]]></category>
		<category><![CDATA[julius caesar]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<category><![CDATA[macbety]]></category>
		<category><![CDATA[manga]]></category>
		<category><![CDATA[novel grafis]]></category>
		<category><![CDATA[romeo]]></category>
		<category><![CDATA[william shakespeare]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=392</guid>
		<description><![CDATA[Pertama kali saya berkenalan dengan Shakespeare lewat Romeo and Juliette yang saya toton filmnya di TVRI, ketika itu saya masih SD. Film itu dilengkapi dengan subtitle Bahasa Indonesia yang sangat membantu saya memahami sebab waktu itu saya tidak bisa berbahasa Inggris. Saya tidak tahu siapa itu William Shakespeare, tapi film Romeo and Juliette ketika itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-393" title="yhst-51816236815316_2048_41943808" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/yhst-51816236815316_2048_41943808.gif" alt="yhst-51816236815316_2048_41943808" width="259" height="300" /> Pertama kali saya berkenalan dengan Shakespeare lewat <em>Romeo and Juliette</em> yang saya toton filmnya di TVRI, ketika itu saya masih SD. Film itu dilengkapi dengan subtitle Bahasa Indonesia yang sangat membantu saya memahami sebab waktu itu saya tidak bisa berbahasa Inggris. Saya tidak tahu siapa itu William Shakespeare, tapi film Romeo and Juliette ketika itu lumayan membekas di benak saya. Beberapa tahun kemudian, saya baru tahu kalau film itu sejatinya diangkat dari karya seseorang yang bernama William Shakespeare. Beberapa tahun kemudian (lagi) saya juga baru tahu kalau karya Shakespeare itu bukan novel, novelet atau cerpen, melainkan naskah drama teater. Kesimpulannya: saya lumayan lambat mengenal siapa itu Shakespeare, hehehe&#8230;.</p>
<p>Ketika kuliah di jurusan Sastra Inggris, agaknya rada memalukan kalau tidak mengenal karya-karya Shakespeare. Terlebih lagi karena dosen-dosen saya kerap menyebut-nyebut namanya. Saya sempat ke perpustakaan kampus dan membaca buku William Shakespeare, dan hasilnya &#8230; (sejujurnya) saya bingung! Bahasa yang digunakan masih jadul (atau &#8216;klasik&#8217;, sebutan yang lebih elegan). Bahasa Inggris klasik tidak pernah benar-benar diajarkan di kampus saya. Untuk memahami sebuah kalimat berbahasa Inggris klasik, saya waktu itu bolak-balik membuka kamus, lumayan melelahkan. Mungkin ini adalah pengakuan dosa paling blak-blakan yang pernah saya lakukan: sewaktu jadi mahasiswa Sastra Inggris, saya lebih suka menonton film yang diangkat dari karya William Shakespeare ketimbang membacanya (semoga Tuhan mengampuni saya). Kisah-kisah yang ditulis Shakespeare bagi saya lebih mudah dipahami dengan menonton televisi. Satu-satunya kalimat yang paling saya ingat dari Shakespeare adalah &#8220;what&#8217;s in a name?&#8221; (apalah arti sebuah nama?) Ketika Juliette ngomong sendiri di jendela kamarnya, sementara Romeo nguping setelah<em> tresspassing</em> dengan cara lompat pagar. Lain itu, tidak. Alhasil dari menonton itu adalah: saya mengetahui jalan cerita karya-karya Shakespeare, tapi tidak menghapal kalimat per kalimat -ini adalah hal yang lumayan memalukan sebagai seorang lulusan Sastra Inggris-. Mungkin saya satu-satunya orang yang mengakui hal (memalukan) ini; tapi saya tahu tidak sedikit mahasiswa Sastra Inggris (di Indonesia) yang melakukan hal sama seperti saya. Hanya saja mereka masih punya harga diri untuk tidak mengakuinya hehehehe.</p>
<p><span id="more-392"></span></p>
<p>Ketika masih kuliah, saya lebih suka membaca puisi-puisi karya Robert Frost, Emily Dickinson, Oscar Wilde, EE Cummings, dll. Entah kenapa, saya banyak jatuh cinta pada puisi-puisi berbahasa Inggris. Saya juga membaca prosa (novel/cerpen) berbahasa Inggris yang dijadikan bacaan wajib oleh dosen (umumnya karya klasik seperti Gone With The Wind, karya-karya Mark Twain, dll). Karya sastra prosa yang lebih saya nikmati justru lebih banyak berbahasa Indonesia. Saya waktu itu mirip Sponge Bob, menyerap bacaan sastra Indonesia apapun. Jika ada prosa berbahasa Inggris yang betul-betul saya nikmati maka itu karya moderen seperti serial Harry Potter. Kalau saya merasa sudah terlalu bosan melihat huruf, saya beralih ke komik. Saya punya langganan taman bacaan dekat rumah, di mana saya biasa menyewa komik, kebetulan di sana lebih banyak menyediakan komik manga (selain <em>Ko Ping Ho</em>). Untuk yang saju ini, saya jadi tidak pemilih. Saya melahap hampir segala jenis manga, baik untuk anak lelaki (seperti <em>Kungfu Boy, Conan, Dragon Ball</em>) maupun untuk anak perempuan (seperti <em>Candy-Candy, Pop Corn</em>, dan manga Serial Cantik).</p>
<p>Kesenangan saya akan komik sampai sekarang masih terjaga. Saya masih membaca ulang Asterix, ikut girang ketika Tin-Tin diterbitkan ulang (meskipun kalimat &#8220;sejuta topan badai&#8221; diganti, hiks&#8230;), juga mengikut beberapa manga terbaru seperti Miko, Vegabound dan Showa Man. Lebih dari itu, saya girang betul ketika dihadiahi seorang teman tiga buku membuat komik karya Scott McCloud: <em>Understanding Comics, Reinventing Comics </em>dan <em>Making Comics</em>. Akhir-akhir ini, saya juga sangat menikmati membaca novel grafis seperti karya-karya Frank Miller dan Marjane Satrapi. Entah kenapa, segala hal yang lebih visual (ada gambarnya) bagi saya sangat menghibur.</p>
<p>Ketika saya tahu karya-karya William Shakespeare disajikan dalam bentuk manga, reaksi saya pertama adalah: &#8220;hah?!&#8221; dengan heran. Apalagi ketika saya baca balon di manga (Bahasa Inggris) ini ternyata berbahasai Inggris klasik alias aseli tulisan Shakespeare (yang dulu sempat bikin saya bingung). Saya bertanya-tanya sendiri: apakah pembaca (Bahasa Inggris) akan memahaminya? Lalu, tiba-tiba saya tersadar: hey, ini Shakespeare dalam bentuk manga, jadi sesulit apapun karyanya, visual manga akan sangat membantu pembaca: inilah keuntungannya. Seperti menonton filmnya, hanya saja dalam kasus film penonton tidak bisa memperhatikan kalimat per kalimat dialog, terutama jika itu adalah Bahasa Inggris klasik, dan jikapun ada subtitle Bahasa Indonesia, penonton hanya diberikan waktu tiga hingga lima detik untuk membaca tiga baris subtittle.</p>
<p>Saat ini ada empat judul Shakespeare versi manga yang telah terbit dalam Bahasa Indonesia: <em>Hamlet, Macbeth, Romeo &amp; Juliet</em>, dan <em>Julius Caesar</em>. Meskipun membaca Shakespeare dalam Bahasa Indonesia (bagaimanapun) berbeda &#8220;rasa&#8221; dengan membaca bahasa aseli, tapi Shakespeare versi manga bisa menjadi pintu perkenalan kita sebelum benar-benar membaca karya Shakespeare dengan bahasa Inggris klasik. Minimal, memperkenalkan jalan cerita mahakarya ini secara lebih intens kalimat per kalimat.</p>
<p>Sebuah karya sastra begitu dipuja, sehingga orang mencari cara agar bisa dinikmati semua kalangan dan semua umur. Itulah karya William Shakespeare.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/shakespeare-dalam-manga-392.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lahir, Jodoh, Rejeki dan Matinya Sebuah Tulisan</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/lahir-jodoh-rejeki-dan-matinya-sebuah-tulisan-319.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/lahir-jodoh-rejeki-dan-matinya-sebuah-tulisan-319.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Dec 2008 04:41:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[On Writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=319</guid>
		<description><![CDATA[Matabaca, edisi Desember 2008 Lahir Saya sering mendengar kalimat ini: “tulisanku adalah anak-anakku”. Beberapa penulis bahkan saya tahu menyebut buku-bukunya yang telah terbit sebagai ‘anak ke-1’, ‘anak ke-2’, dst. Sebutan ‘anak’ bagi sebuah tulisan, bagi saya terdengar sangat over-protektif, sebab itulah yang biasa dilakukan orang tua (dalam hal ini penulis) terhadap anak-anaknya. Sayangnya, justru sikap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_323" class="wp-caption alignleft" style="width: 410px"><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/bukutokyo.jpg" rel="lightbox[319]"><img class="size-full wp-image-323" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/bukutokyo.jpg" alt="2nd hand book di belakang Tokyo University" width="400" height="371" /></a><p class="wp-caption-text">2nd hand book di belakang Tokyo University</p></div>
<p>Matabaca, edisi Desember 2008</p>
<p><strong>Lahir</strong></p>
<p>Saya sering mendengar kalimat ini: “tulisanku adalah anak-anakku”. Beberapa penulis bahkan saya tahu menyebut buku-bukunya yang telah terbit sebagai ‘anak ke-1’, ‘anak ke-2’, dst. Sebutan ‘anak’ bagi sebuah tulisan, bagi saya terdengar sangat over-protektif, sebab itulah yang biasa dilakukan orang tua (dalam hal ini penulis) terhadap anak-anaknya. Sayangnya, justru sikap over-protektif inilah yang membuat seorang penulis (dan tulisannya) tidak berkembang.</p>
<p>Bagi saya, sangatlah penting memberi jarak antara saya (sebagai  penulis) dengan tulisan saya. Ketika suatu kali seorang penulis berhasil menulis sebuah cerpen, misalnya, dan diujibacakan kepada penulis senior (yang berperan sebagai pembaca), dan ternyata pembaca tidak suka dengan hasil tulisannya (bahkan mungkin dibilang jelek), nah… di sinilah daya tahan banting dan semangat belajar seorang penulis diuji. Jika ia mempertimbangkan masukan orang lain, dan ‘tega’ untuk mengobrak-abrik tulisannya, di situlah kita tahu bahwa penulis ini akan memiliki nyawa panjang dalam profesi kepenulisannya. Tetapi jika sebaliknya, maka jangan khawatir, kita takkan mendengar namanya diperbincangkan di dunia sastra.<br />
<span id="more-319"></span></p>
<p><strong>Jodoh </strong></p>
<p>Selayaknya semua makhuk hidup yang mencari jodoh, begitu pula dengan tulisan. Setiap tulisan memiliki jodoh pembacanya sendiri-sendiri, dan media (baik itu cetak, internet, maupun televisi) ibarat mak comblang antara tulisan dan pembaca. Sebuah cerpen bertema romansa remaja tidak mungkin dimakcomblangi oleh Kompas, tapi sangat mungkin dimakcomblangi oleh majalah Kawanku atau Chick. Sebagai penulis kita harus pintar-pintar membaca pasar sebuah media, sebab inilah yang akan menjadi pintu bagi tulisan-tulisan kita untuk menemukan jodohnya.</p>
<p>Amatlah beruntung jika tulisan yang dibuat oleh seorang penulis (idealismenya) adalah model tulisan yang laku dipasaran, ini berarti tulisan itu gampang ketemu jodohnya. <em>Ayat-Ayat Cinta </em>karya Habibburrahman El-Shirazy, misalnya, atau naskah begenre teenlit/chicklit/metropop yang jelas populer di tengah masyarakat, model seperti ini banyak dicari penerbit. Berbeda dengan tulisan bergenre (<em>so-called as</em>) “sastra tinggi” yang sulit dipahami oleh kebanyakan orang, mungkin agak sulit mencari penerbit, meskipun karya itu bagus. Sah-sah saja kok, jika seorang penulis ingin menulis model tulisan yang sedang populer di pasar dengan alasan biar ingincepat-cepat melihat namanya tercantum di buku, atau ingin cepat dapat penerbit, atau bahkan agar karyanya cepat laku. Hanya karena suatu hari seorang penulis dipesan penerbit atau majalah/media apapun tulisan yang di luar standard idealismenya, bukan berarti ia tengah “melacur”. Justru, seseorang disebut sebagai ‘penulis professional’, karena ia hidup dari tulisan-tulisannya, termasuk tulisan pesanan (yang mungkin jauh dari idealismenya).</p>
<p><strong>Rejeki</strong></p>
<p>Jika sudah ketemu jodoh, maka rejeki untuk sebuah tulisan pun mulai terbuka. Rejeki sebuah tulisan bisa bervariasi, sebuah cerpen dihargai sekitar Rp. 300.000,- s.d. Rp. 2.000.000,- (tergantung koran/majalah yang memuatnya), dan sebuah puisi dihargai sekitar Rp.150.000,- s.d. Rp. 300.000,- (kadang kala tergantung panjang-pendeknya sebuah puisi juga). Sedang rejeki satu judul buku sastra tergantung harga jual, eksemplar dan ketebalan sebuah buku. Yang pasti, semakin tebal bukunya, maka semakin mahal harga jualnya (maklum, harga kertas mahal). Misalnya, sebuah buku setebal + 200 halaman yang dijual dengan harga Rp. 35.000,-, perhitungan rejekinya adalah = (harga buku X eksemplar X royalti 10%) = Rp. 35.000,- X 3000 eksemplar X 10% = Rp. 10.500.000,-. Royalti sebuah buku umumnya dilaportakan setiap enam bulan sekali, dan di awal kontrak, biasanya seorang penulis mendapatkan uang muka royalti. Tetapi ada pula kontrak buku dengan sistem beli putus. Kalau ini, tergantung perjanjian antara penulis dan penerbit.</p>
<p>Selain dari royalti dan honor pemuatan, ada beberapa penghargaan sastra yang bisa menjadi pintu rejeki sebuah tulisan. Di Indonesia, penghargaan macam ini yang sudah berjalan adalah Cerpen Kompas Pilihan (yang tahun ini dimenangkan oleh Seno Gumira Ajidarma untuk cerpen “Cinta di Atas Perahu Cadik”), mendapat hadiah Rp. 15 juta. Penghargaan sastra lain yang paling bergengsi saat ini adalah Khatulistiwa Literary Award, tahun ini dimenangkan oleh Ayu Utami untuk novel Bilangan Fu (katergori prosa) dan Nirwan Dewanto untuk kumpulan puisi Jantung Lebah Ratu (kategori puisi), masing-masing mendapat hadiah Rp. 100 juta. Sedang kategori buku best young writer (penulis di bawah usia 30 tahun), tahun ini dimenangkan oleh Wa Ode Wulan Ratna untuk kumcer Cari Aku di Canti. Ia dihadiahi Rp. 25 juta.</p>
<p>Satu anugerah yang memberi penghargaan untuk sastra koran adalah Anugerah Sastra Pena Kencana. Tahun ini, Anugerah Sastra Pena Kencana dimenangkan oleh Seno Gumira Ajidarma untuk cerpen “Cinta di Atas Perahu Cadik”, dan kategori puisi dimenangkan oleh Jimmy Maruli Alfian untuk puisi “Kidung Pohon”. Pemenang dihadiahi @ Rp. 50 juta. Bagi para sastrawan yang sudah mengabdi bertahun-tahun di dunia sastra, dan terus berkarya, ada Bakrie Award yang memberi hadiah Rp. 100 juta. Tahun ini Bakrie Award dianugerahi untuk Sutardji Calzoum Bachrie. Itu baru di Indonesia, jika sebuah tulisan sangat bagus dan sudah diterbitkan Internasional, ada kemungkinan bisa mendapat Man-Booker Prize atau bahkan Nobel Sastra. Nah, untuk bisa jadi pemenang tentu saja sebuah tulisan harus bagus, punya kapabilitas bersaing dengan karya sastra Internasional, memberi pengaruh yang kuat untuk pembacanya, berkualitas, unik, orisinil, dan sederet prasyarat lainnya.</p>
<p>Nah, kita sudah tahu rejeki untuk karya cetak, bagaimana dengan karya untuk bidang broadcasting. Mungkin sebagian dari Anda akan bertanya: memang apa hubungannya televisi/film dengan tulisan? Ada! Penting, malah. Sebuah acara televisi (baik sinetron, berita, dokumenter, bahkan reality show sekalipun) tak bisa berjalan tanpa naskah. Satu skenario televisi/film harganya bervariasi. Sinetron dan FTV, dihargai Rp. 3-10 juta. Sedang untuk skenario film, umunya lebih dari Rp. 20 juta per naskah. Harga seorang penulis skenario biasanya tergantung jam terbang dan secepat apa dia bisa bekerja. Maklum, broadcasting lebih menuntut perhitungan waktu yang intens.</p>
<p>Jika karya sastra seorang penulis bagus dan populer, sangat terbuka kemungkinan diangkat ke layar lebar. Saat ini yang tengah populer adalah <em>Laskar Pelangi</em>, filmnya diangkat dari novel karya Andrea Hirata. Harga beli hak karya cipta tergantung kesepakatan antara Production House dan penulis/penerbit.</p>
<p><strong>Mati</strong></p>
<p>Hanya karena penulis mati, tidak berarti tulisan itu ikut terkubur. Seperti <em>Romeo dan Juliet</em> karya William Shakespeare, dan <em>Don Quixote </em>karya Cervantes, selama masih ada pembaca, maka tulisan itu tak akan pernah mati.</p>
<p>Ada peraturan di dunia, bahwa selama 50-70 tahun setelah penulis mati (tergantung negara masing-masing. Di Indonesia, setelah 50 tahun penulis mati). Selama rentang waktu itu, jika tulisan masih terus dicetak ulang, maka ahli waris penulis masih berhak mendapatkan honor. Setelah periode itu lewat, sebuah tulisan bebas dicetak ulang ataupun dimuat di media mana pun tanpa membayar (sudah menjadi public domain). Tetapi tentu saja, nama penulis tidak boleh alpa dicantumkan, sebab bagaimana pun pengakuan sebuah karya adalah penghargaan tertinggi seorang penulis.</p>
<p><strong><em> Ratih Kumala, penulis</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/lahir-jodoh-rejeki-dan-matinya-sebuah-tulisan-319.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gerhana Kembar, Sebuah Perspektif</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/gerhana-kembar-sebuah-perspektif-245.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/gerhana-kembar-sebuah-perspektif-245.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Aug 2008 05:32:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gallery]]></category>
		<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[On Writing]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Short Stories]]></category>
		<category><![CDATA[Clara Ng]]></category>
		<category><![CDATA[Gerhana Kembar]]></category>
		<category><![CDATA[Lesbian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=245</guid>
		<description><![CDATA[Saya menyebut novel Gerhana Kembar karya Clara Ng sebagai novel tentang lesbian tanpa pretensi yang mencurigakan. Novel ini bercerita tentang Fola dan Henrietta, sepasang lesbian yang menjadi tokoh utama. Dua plot utama yang ada pada novel ini yaitu pada tahun &#8217;60-an dan pada tahun 2008. Cerita diawali dengan pertemuan Fola dan Henrietta. Pada bab berikutnya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/clara2.jpg" rel="lightbox[245]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/clara2.jpg" alt="" title="clara2" width="400" height="533" class="alignleft size-full wp-image-250" /></a></p>
<p>Saya menyebut novel Gerhana Kembar karya Clara Ng sebagai novel tentang lesbian tanpa pretensi yang mencurigakan. Novel ini bercerita tentang Fola dan Henrietta, sepasang lesbian yang menjadi tokoh utama.  Dua plot utama yang ada pada novel ini yaitu pada tahun &#8217;60-an dan pada tahun 2008. Cerita diawali dengan pertemuan Fola dan Henrietta. Pada bab berikutnya, pembaca baru tahu bahwa Fola dan Henrietta adalah tokoh fiktif sebuah naskah berjudul &#8220;Gerhana Kembar&#8221; yang tengah dibaca oleh Lendy, pada tahun 2008. Sedikit demi sedikit, terkuak bahwa naskah &#8220;Gerhana Kembar&#8221; ditulis oleh Diana, nenek Lendy yang tengah sekarat, dan cerita itu berdasarkan pengalaman Diana dengan Selina, pasangan lesbinya ketika muda.<br />
<span id="more-245"></span><br />
Dalam novel novel sebelumnya, Dim Sum Terakhir, Clara Ng mengisahkan pertemuan empat perempuan kembar yang tiba-tiba harus pulang ke rumah masa kecilnya karena papanya terserang stroke. Di sini, keempat tokoh utama dihadapkan pada &#8216;hantu&#8217; masa lalu dan ketakutan masa depan. Papa yang sakit, yang sejak awal menjadi pemicu cerita, akhirnya meninggal dunia setelah koma. Novel ini mengambil latar kaum Tionghoa di Indonesia. Mengutip endorsment Putu Fajar Arcana untuk Dim Sum Terakhir, &#8220;Clara Ng barangkali novelis Indonesia pertama yang membeberkan persoalan-persoalan seputar keturunan Tionghoa tanpa prasangka.&#8221; Nah, seperti itu pulalah persaan saya ketika membaca Gerhana Kembar. Dengan tema besar lesbianisme, yang notabene masih sensitif di negara kita, Clara Ng bertutur tanpa prasangka. Ia seolah-olah ia tak ingin memberi jarak antara tulisannya dengan pembaca. Adegan ciuman pertama sepasang lesbian, misalnya, mampu Clara diceritakan dengan sangat lumrah. Pembaca dapat merasakan femininitas sekaligus maskulinitas yang muncul pada tokoh Henrietta. Anehnya, pembaca tidak merasa &#8216;jijik&#8217; jikapun ada seorang yang mungkin homofobia. Clara dengan sengaja mengesampingkan pendapat pembaca yang mungkin negatif terhadap kaum homoseksual. Dengan &#8216;berpretensi baik&#8217; terhadap semua orang, Clara justru berhasil memperkenalkan sisi lesbianisme kepada masyarakat umum. </p>
<p>Ada benang merah dalam kedua struktur perceritaan Dim Sum Terakhir dan Gerhana Kembar. Tokoh &#8216;orang sakit&#8217; telah menjadi tokoh yang –baik disadari atau tidak- digemari oleh penulis. Tokoh ini menjadi penting dalam kedua novel tersebut sebab menjadi &#8217;cause&#8217; keseluruhan cerita  (di dalam Dim Sum Terakhir, ada tokoh &#8216;papa&#8217; yang stroke, sedang di dalam Gerhana Kembar, tokoh Diana yang sedang sekarat). Struktur macam ini kerap digunakan oleh penulis-penulis populer Amerika, penulis-penulis yang ingin berkisah tentang belajar memaafkan dan memaklumi. Dalam Wednesday Letters karya Jason F. Wright, misalnya: Mathew, Samantha dan Malcolm, tiga bersaudara yang punya kehidupan sendiri-sendiri &#8220;dipaksa&#8221; pulang oleh sebab kematian orangtuanya, kematian inilah yang menjadi &#8217;cause&#8217;. &#8216;Effect&#8217;-nya (tentu saja), masing-masing tokoh dipaksa menghadapi persoalan yang sudah lama timbul di antara mereka.</p>
<p>Sebagai seorang pendongeng, Clara Ng tahu apa yang ingin dia ceritakan. Sebagai seorang novelis, ia adalah penulis yang mampu menulis dengan ritme sangat stabil dari awal sampai akhir. Pembaca tak akan menemukan ritme yang tiba-tiba terlalu cepat atau terlalu lambat hingga membuat bosan. Ia sangat tahu apa yang harus ditulis untuk membuat pembaca merasa ikut berempati pada sepasang lesbian yang sedang jatuh cinta. Clara bukanlah penulis yang &#8216;genit&#8217;, meski di beberapa bagian ia tergoda juga untuk menggunakan metafora-metafora, khususnya dalam surat-surat cinta Henrietta untuk Fola. Tapi kesemuanya tidak berlebihan, dan tidak membuat pembaca &#8216;mabuk&#8217;. Justru pembaca jadi sangat maklum kenapa ia meletakkan metafora itu di situ: sebagai bentuk rayuan seorang kekasih. Lebih dari itu, Clara juga bukan penulis yang &#8216;cerewet&#8217;. Agaknya ia sama sekali tidak tergoda untuk berkhotbah membela hak-hak kaum homoseksual. Padahal jika mau, ia bisa &#8220;membela diri&#8221; (baca=membela tokoh homoseksual).</p>
<p>Untuk dua novel yang sama-sama mengangkat tema lesbianisme, gaya penceritaan Clara Ng sangat berbeda dengan Herlinatiens dalam novel Garis Tepi Seorang Lesbian. Novel yang terbit tahun 2003 lalu, sempat menjadi banyak perdebatan karena membuka gamblang kehidupan seorang lesbian. Psikologi tokoh yang dibangun Herlina, antara amarah, sikap berontak, sekaligus kasmaran sangat terasa di banyak tempat. Pembaca dapat merasakan itu semua sekaligus (pada akhirnya, khusunya untuk mereka yang bukan homofobia) memakluminya sebagai bentuk perlawanan tokoh yang terjepit keadaan. Sedang, dalam Gerhana Kembar, campur aduk emosi macam itu tak akan ditemui pembaca. Clara jauh lebih cool meski tema yang ia angkat sangat mampu diperdebatkan. Belum lagi latar tahun &#8217;60-an yang dipilihnya, tahun yang masih sangat kolot, dan mungkin kata &#8216;lesbian&#8217; belum familiar di telinga kita. Sayangnya, justru karena terlalu cool inilah psikologi tokoh-tokoh dalam Gerhana Kembar jadi kurang tergali. Seorang homoseksual, sebelum ia betul-betul mendeklarasikan diri sebagai seorang homoseks, setidaknya akan mengalami guncangan batin dan &#8220;perang&#8221; dalam dirinya sendiri: apa benar saya homo, atau tidak? Salahkah saya jika saya benar-benar homoseks? Berdosakah saya? Bagaimana pandangan masyarakat dan agama? Kesemua pertanyaan itu absen baik dari tokoh Diana/Fola maupun Selina/Henrietta. Terutama Fola, sebagai tokoh perempuan yang digambarkan sangat konvensional, agak aneh jika tidak mempertanyakan itu semua. Ia begitu saja menerima Henrietta, nyaris tanpa pretensi apa-apa. Fokus kedua penulis ini memang sejak awal sudah berbeda: Clara mentikberatkan pada cerita cinta, sedang Herlina menitikberatan pada satu figur lesbian yang diciptakannya.</p>
<p>Mengenai homofobia, meskipun kata itu muncul beberapa kali di novel ini, tetapi perannya tidak terlalu dominan. Meski demikian, mungkin dengan cara seperti inilah justru cerita homoseksual bisa diterima di masyarakat luas tanpa dihakimi terlebih dahulu di awal, sampai-sampai Kompas mau menayangkannya sebagai cerita bersambung. Saya pikir, meski Clara tak ikut berkoar-koar, niat penulis untuk mengangkat tema tertentu saja sudah menunjukkan bahwa ia peduli. Tujuan Clara yang utama sepertinya cuma satu: bercerita.</p>
<p>Ratih Kumala, penulis<br />
Presentasi @GoetheHaus, 8 Agustus 2008</p>
<p>*) Foto oleh Abdillah Iqbal</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/gerhana-kembar-sebuah-perspektif-245.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
