<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ratih Kumala's Little Blog &#187; Review</title>
	<atom:link href="http://ratihkumala.com/blog/category/review/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ratihkumala.com</link>
	<description>The Only Constant is Change</description>
	<lastBuildDate>Sun, 23 Oct 2011 13:24:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Membaca Catatan Harian Si Boy</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/membaca-catatan-harian-si-boy-764.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/membaca-catatan-harian-si-boy-764.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jul 2011 16:48:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Ario Bayu]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Si Boy]]></category>
		<category><![CDATA[Joko Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[Onky Alexander]]></category>
		<category><![CDATA[Putrama Tuta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=764</guid>
		<description><![CDATA[Saya harus curiga tiap kali Joko Anwar di twitter terlalu bersemangat mempromosikan satu film. Jika tidak film itu bikinannya sendiri, atau dia terlibat jadi sesuatu di situ. Ketika dia semangat mempromosikan Catatan Harian Si Boy (CHSB), saya jadi mencari-cari wajah Joko Anwar di film ini, dan betul saja&#8230;begitu adegan opening dia jadi bodyguard Si Boy [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/CatatnSiBoy.jpg" rel="lightbox[764]"><img class="alignleft size-full wp-image-768" title="CatatnSiBoy" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/CatatnSiBoy.jpg" alt="" width="178" height="284" /></a></p>
<p>Saya harus curiga tiap kali Joko Anwar di twitter terlalu bersemangat mempromosikan satu film. Jika tidak film itu bikinannya sendiri, atau dia terlibat jadi sesuatu di situ. Ketika dia semangat mempromosikan <em>Catatan Harian Si Boy</em> (CHSB), saya jadi mencari-cari wajah Joko Anwar di film ini, dan betul saja&#8230;begitu adegan opening dia jadi bodyguard Si Boy yang perannya lumayan cool mirip-mirip <em>Man in Black</em> *nyengir*. Tak hanya itu, ternyata di credit tittle terlihat namanya menjadi consultant film ini.</p>
<p>Saya berkesempatan menonton film ini bersama beberapa rekan kerja. <em>Film Catatan Si Boy</em> (yang masih dibintangi Onky Alexander) memang bukan film angkatan saya. Saya menonton film ini ketika diputar di televisi, bertahun lalu, bukan di bioskop. Saya mungkin masih terlalu kecil ketika <em>Catatan Si Boy</em> versi Onky Alexander diputar di bioskop, pada era &#8217;80-an. Namun begitu, saya cukup akrab sebab film ini (selain <em>Lupus, Olga Sepatu Roda, Si Kabayan</em>, dan <em>Si Doi</em>) masuk begitu saja dalam ingatan saya dan berdiam cukup lama. Terutama, tentu saja karena Onky Alexander ganteng, hahahaha. Saya pun sempat mengikuti gosip tentang Onky Alexander jaman dulu, dengan siapa dia pacaran, dan dengan siapa akhirnya dia menikah.</p>
<p>Ada yang berbeda dengan Si Boy yang sekarang. Dari segi film, perhatikan judulnya, bukan lagi <em>Catatan Si Boy</em>, melainkan <em>Catatan Harian Si Boy</em>. Meskipun kata &#8216;harian&#8217; di posternya seperti diselipkan, hingga yang besar-besar terbaca adalah <em>Catatan Si Boy.</em> Kisah ini tetang Boy yang sudah sukses, susah ditemui dan berubah. Pacar Boy yang bernama Nuke (kalau tidak salah, dulu dimainkan oleh Paramitha Rusady) terbaring sakit. Ia memegang buku harian milik Boy. Anak perempuan Nuke (diperankan Carissa Putri) mencari-cari Boy agar bisa bertemu dengan ibunya yang sakit. Dia pun dibantu Satriyo (Ario Bayu) mencari Boy. Kisah cinta segitiga terselip di antara mereka, sebab ternyata putri Nuke ini sudah punya pacar yang hobi judi dan mengandalkan harta orangtua.</p>
<p><span id="more-764"></span></p>
<p>Awalnya saya menebak-nebak, apakah film ini akan bercerita tentang Si Boy dengan versi baru? Tetapi ternyata saya salah, film ini tentang Satriyo yang membaca catatan milik Si Boy yang kita kenal dulu. Karakter Boy jaman dulu, diwakili oleh Satriyo yang sekarang. Cakep, hobi balap, rajin salat, anak orang kaya, baik-baik tapi rebelious, dan rada-rada narsis. Sedangkan karakter Emon yang kebanci-bancian dan Kendi yang serampangan yang dulu diperankan oleh Didi Petet dan Dede Yusuf, diwakili oleh tokoh Heri dan Andi. Turunan karakter-karakter ini cukup cerdas diambil oleh penulisnya Priesnanda Dwisatria, dan tentu saja, sutradaranya Putrama Tuta.</p>
<p>Film CHSB ini cukup menghibur terutama dengan dialog yang sangat kekinian, blak-blakan dan lucu. Saya sempat banyak tertawa mendengar dialog-dialognya. Favorit saya, ketika tokoh Andi menasehati Satriyo dengan kalimat, &#8220;Lu ninggalin taik di sini, ninggalin taik di sana, lama-lama dunia ini penuh ama taik lu.&#8221; Sederhana, kocak, tapi ternyata penuh pesan moral. Meskipun sebenarnya di beberapa adegan dragging, seperti misalnya adegan ngobrol di kafe, tetapi kebosanan penonton bisa diselamatkan karena dialog yang hidup. Lebih dari itu, sinematografi yang oke dan editingnya membuat film ini berkesan sangat dinamis.</p>
<p>Yang saya agak kecewa adalah, mengenai pencarian Si Boy ini terkesan tempelan saja, agar sekedar bisa membawa nama besar <em>Catatan Si Boy</em>, yang memang sudah sangat populer dan sukses dari sononya. Tapi inti ceritanya mengenai kisah cinta dan persahabatan Satriyo dan teman-temannya. Padahal, jika ingin berdiri sendiri dengan -misalnya- dikasih judul <em>Blog Si Satriyo</em> (secara jaman sekarang catatan harian/jurnal sudah enggak ngetrend lagi *maksa sih*), kisah Satriyo dkk ini sudah cukup kuat dan menarik. Tapi tentu saja, dari segi penjualan mungkin akan tersendat, sebab Si Satriyo tidak memiliki nama besar seperti Si Boy. Anyway, itu sah-sah saja, apalagi jika memang tujuan film ini adalah komersil, dan bukan festival.</p>
<p>Seandainya saja, soal pencarian Si Boy porsinya ditambah (tak perlulah harus sampai seperti pencarian di reality show Termehek-mehek), tapi ditambah barang tiga atau empat scene lagi saja, pasti akan jadi perfect. Cara Satriyo akhirnya ketemu Si Boy pun terkesan dipaksa. Dia ke kantor Si Boy, meskipun sudah diusir satpam, Si Boy yang kebetulan sedang nongol langsung dikejar-kejar hingga ke helipad. Dan&#8230;viola! Ketemulah! Satriyo pun membacakan isi catatan harian itu ke Boy.</p>
<p>Adegan closing, adalah adegan penting yang ditunggu-tunggu: pertemuan Boy (Onky ALexander) dan Nuke. Tapi, yang mengecewakan adalah wajah keduanya tak kelihatan. Hhhmmm&#8230;I wonder why. Mungkinkah pakai peran pengganti? Wajah Nuke, yang dulu diperankan oleh Paramitha Rusady pun tak terlihat dari awal hingga akhir. Padahal ia adalah karakter kunci, meskipun cuma berakting di tempat tidur. Saya merasa, karena keterbatasan pemain ada adegan dengan dialog-dialog penting yang terpaksa dihilangkan. Yah, untungnya cerita masih bisa berjalan.</p>
<p>Apapun adanya Boy sekarang, film ini mampu menghibur saya sebagai film komersil. Dan untuk ini, saya bersyukur sebab jadi bisa ketawa-ketiwi. Cuma satu yang kuraaaaang banget: ke mana lagu &#8220;Terserah Boy&#8221;  karya Harry Sabar? Padahal saya pengin sekali dengar itu sebagai OST film ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/membaca-catatan-harian-si-boy-764.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Reading Between The Lines</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/reading-between-the-lines-621.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/reading-between-the-lines-621.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Oct 2010 09:44:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsip Media]]></category>
		<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[sepocikopi.com]]></category>
		<category><![CDATA[Stefanny Irawan]]></category>
		<category><![CDATA[Un Soir Du Paris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=621</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta Globe &#124; Dalih Sembiring &#124; September 27, 2010 Of all the literary works that deal with lesbianism or have lesbians as lead characters, how many have been written in Indonesian? Try to list them and you will realize that there are very few. Oka Rusmini mentions lesbians in her novels “Tarian Bumi” (“Earth Dance”) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/kover_paris.jpg" rel="lightbox[621]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/kover_paris.jpg" alt="" title="kover_paris" width="171" height="250" class="alignleft size-full wp-image-623" /></a><br />
<strong>Jakarta Globe | Dalih Sembiring | September 27, 2010</strong></p>
<p>Of all the literary works that deal with lesbianism or have lesbians as lead characters, how many have been written in Indonesian?</p>
<p>Try to list them and you will realize that there are very few.</p>
<p>Oka Rusmini mentions lesbians in her novels “Tarian Bumi” (“Earth Dance”) and “Tempurung” (“Shell”).</p>
<p>Then there are Clara Ng’s “Gerhana Kembar” (“Twin Eclipses”), Herlinatiens’s “Garis Tepi Seorang Lesbian” (“The Margin of a Lesbian”), Djenar Maesa Ayu’s “Nayla” and Ratih Kumala’s “Tabula Rasa.”</p>
<p>Other titles include “Club Camilan” by Bella Widjaja, Brigitta NS and Donna Talitha, as well as Alberthiene Endah’s “Dicintai Jo” (“Loved by Jo”) and “Detik Terakhir” (“The Final Second”).</p>
<p>These are not even enough to fill a single bookshelf on lesbian literature — if Indonesian libraries had such a section.</p>
<p>This is why a new anthology of short stories titled “Un Soir du Paris,” French for “An Evening in Paris,” is long overdue.<br />
<span id="more-621"></span><br />
It compiles 12 lesbian-themed short stories, each by a different author, making it the first lesbian-themed work of its kind in Indonesia.</p>
<p>The anthology allows readers to sample different viewpoints on this controversial issue.</p>
<p>However, it is still too early to tell whether this work will encourage other writers to produce a wider array of lesbian and gay literature.</p>
<p>Like most anthologies that tackle a single theme, some of the stories hit the mark much better than others.</p>
<p>After reading this book, I found it impossible to look past the tendency of many writers to present their lesbian characters as confused and trapped in unhappy marriages or relationships.</p>
<p>It’s a valid plot point but some of these stories don’t develop it further. This can be seen in Cok Sawitri’s “Sebilah Pisau Roti” (“A Blade of Bread Knife”) and Shantined’s “Saga,” two stories that never seem to get off the emotional launch pad.</p>
<p>Maggie Tiojakin’s “Hari Ini, Esok dan Kemarin” (“Today, Tomorrow and Yesterday”) nearly falls into the same trap, but is saved by its ability to project a suspenseful, foreboding mood.</p>
<p>But Seno Gumira Ajidarma’s “Dua Perempuan dengan HP-nya” (“Two Women and Their Phones”) and Ucu Agustin’s “Lelaki yang Menetas di Tubuhku” (“The Man That Hatched Inside My Body”) more than make up for the weaknesses of the other stories.</p>
<p>Both narratives provide readers with a sense of liberation.</p>
<p>Seno’s main characters feel content with their choices, while Ucu puts her character’s problems into sharp focus and builds on the ensuing conflict.</p>
<p>Agus Noor’s “Potongan-Potongan Cerita di Kartu Pos” (“Bits of a Story on Postcards”) and Ratih Kumala’s “Tahi Lalat di Punggung Istriku” (“A Mole on My Wife’s Back”) have carefully crafted plots that offer interesting twists at the end.</p>
<p>“Tahi Lalat,” however, uses lesbianism as the twist itself, which would have been more of a surprise if the story wasn’t already in a lesbian-themed anthology.</p>
<p>“Kartu Pos,” on the other hand, folds subtle lesbian elements to make the unique and symbolic narrative come full circle.</p>
<p>Stefanny Irawan’s “Un Soir du Paris,” used as the title of the anthology, also ends by revealing that the two main characters are lesbians. However, the story’s tone, conflict and execution make this short story unforgettable.</p>
<p>Triyanto Triwikromo’s “Cahaya Sunyi Ibu” (“Mother’s Silent Glow”) has an intriguing premise. The story revolves around a boy who suspects his mother, a former member of the Indonesian Communist Party (PKI), of carrying on a lesbian relationship with a Jewish woman.</p>
<p>Both women repeatedly try to escape from a nursing home run by a cruel nurse, until one of them is killed in the attempt. The story manages to offer a satisfying ending, but it is sometimes mired in over-the-top poetic language.</p>
<p>Linda Christanty, an author who has explored the theme of lesbianism before, in her short story “Mercusuar” (“Lighthouse”), makes an appearance in the anthology with “Danau” (“Lake”).</p>
<p>It is written with her characteristic emotional depth, but “Danau” mostly delves into the main character’s past instead of her present lesbian relationship.</p>
<p>A vague connection between the two relationships makes it feel like the story is treading water, but it is a compelling read.</p>
<p>Meanwhile, Clara Ng’s “Mata Indah” (“Beautiful Eyes”) and Abmi Handayani’s “Menulis Langit” (“The Sky Scribbler”) dive into the world of fairy tales.</p>
<p>Abmi’s whimsical tone lends excitement to her story. The main character is set free to write poems in the sky and bets with God in an attempt to be with the angel of her dreams.</p>
<p>Clara’s story, meanwhile, is tinged with darkness and symbols that expose how hateful society can be.</p>
<p>In the anthology’s introduction, Rusmini says the contents are more than just “whiny, sentimental love stories.”</p>
<p>She says Indonesian writers dealing with lesbianism should attempt to make bold ideas and language jump from the pages if they want to truly represent the lesbian community’s long and brutal struggle to gain acceptance in the country.</p>
<p>It is unfortunate that this statement is true, but it is also heartening to know that all the stories in the book serve as starting points for the long struggle ahead.</p>
<p>If this book inspires other writers, especially lesbian writers, to follow suit, “Un Soir du Paris” will have played an important role in helping Indonesia’s lesbian literature move closer to the point where it can change society’s views on homosexuality.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/reading-between-the-lines-621.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>This is it. The day the music died: Michael Jackson (1958-2009)</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/this-is-it-the-day-the-music-died-michael-jackson-1958-2009-533.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/this-is-it-the-day-the-music-died-michael-jackson-1958-2009-533.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 07:33:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=533</guid>
		<description><![CDATA[Aneh sekali, ketika saya melihat berita Michael Jackson meninggal dunia, yang saya ingat justru lagu “American Pie”-nya Don MacLean. Itu lho, yang dinyanyikan ulang oleh Madonna (durasi +/- 4 menit). Hanya saja biduanita itu tidak menyanyikan versi panjang. Sejujurnya, saya lebih suka versi klasik Don MacLean (durasi +/- 8 menit). Satu kalimat yang terus terngiang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-534" title="this_is_it_movie_poster_michael_jackson" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/this_is_it_movie_poster_michael_jackson.jpg" alt="this_is_it_movie_poster_michael_jackson" width="445" height="659" /></p>
<p>Aneh sekali, ketika saya melihat berita Michael Jackson meninggal dunia, yang saya ingat justru lagu “American Pie”-nya Don MacLean. Itu lho, yang dinyanyikan ulang oleh Madonna (durasi +/- 4 menit). Hanya saja biduanita itu tidak menyanyikan versi panjang. Sejujurnya, saya lebih suka versi klasik Don MacLean (durasi +/- 8 menit). Satu kalimat yang terus terngiang di benak saya adalah“the day the music died” (hari ketika musik mati). Ya, bagi saya, Michael Jackson adalah musik, dan musik adalah Michael Jackson. Seperti halnya lirik dalam “American Pie”: Long, long time ago, I can still remember, how that music used to make me smile (bertahun-tahun yang lalu, aku masih ingat, bagaimana musik itu membuatku tersenyum). Dan dua baris lirik yang berbunyi pertanyaan berikut: Do you believe in rock &#8216;n roll? /And can music save your mortal soul? (Apakah kau meyakini rock and roll?/Dan bahwa musik bisa menyelamatkan jiwamu?) Maka jawaban saya adalah, “yes I do believe it” (ya, aku percaya).</p>
<p>Bagi saya, berbicara tentang Michael Jackson berarti berbicara tentang masa ABG saya. Ketika baru saja menjadi siswi SMP pindahan, saya tertabrak bahasa daerah yang tak saya kuasai, kehidupan saya menjadi terisolasi dari teman-teman sekelas yang kesemuanya berbahasa Jawa. Saya menghabiskan masa ABG dengan membaca majalah Kawanku yang ketika itu formatnya masih berupa majalah musik (ya, saya tidak suka membaca majalah Gadis seperti cewek ABG kebanyakan). Majalah itu sempat menyajikan artikel bersambung biografi para pemusik dunia. Saya ingat, biografi New Kids on The Block pernah menjadi salah satunya. Tapi, saya sejak dahulu memang bukan penggemar boyband. Ketika Kawanku memuat artikel bersambung biografi Michael Jackson, saya mulai mengklipingnya. Beberapa edisi terlewat dikliping sebab majalah itu dipinjam seorang teman sekolah yang tak pernah mengembalikannya (dan saya sangat menyesal, sebab lupa siapa yang meminjam majalah itu).</p>
<p>Ketika saya masuk SMA (1995) dan mulai lancar berbahasa Jawa, saya terang-terangan bilang ke teman-teman bahwa saya menyukai musik-musik Michael Jackson. Sayangnya, teman-teman saya tidak terlalu menyukai dia. Mereka lebih menganggap MJ seorang freak karena operasi plastiknya yang berlebihan (juga karena tuduhan pelecehan seksualnya). Apa mau dikata, masa ABG saya memang tidak sejalan dengan masa puncak keemasan MJ. MJ praktis hampir seusia almarhum papah saya, jadi sebenarnya dia memang angkatan klasik (saya lebih suka menyebutnya demikian daripada kata ‘tua’). MJ sendiri menjadi benar-benar berada di puncak kariernya sebagai seorang extravaganstar pada periode 1978-1989. Sedang, pemusik yang sedang digandrungi ketika saya ABG adalah Bon Jovi, dan beberapa boyband semacam Backstreet Boys, Take That dan Caught In The Act (yang terakhir ini sudah benar-benar ditelan bumi). Saya ingat, beberapa teman bahkan mengejek karena saya beda sendiri: suka Michael Jackson (ah, saya bahkan masih ingat siapa-siapa saja yang mengejek saya waktu itu, hehehe). Tapi, bodo amat. Saya memang menyukai karya-karya MJ, so what? Saya bahkan banyak belajar Bahasa Inggris dari menerjemahkan lirik lagu-lagu MJ, sebab saya penasaran, dia itu sebenarnya nyanyi tentang apa sih? Jadi bisa dibilang, saya jatuh cinta pada musiknya dahulu, lalu liriknya, lalu kepribadian MJ yang dikabarkan sangat penyayang.</p>
<p><span id="more-533"></span></p>
<p>Kematian MJ yang mengejutkan, dan segala dugaan-dugaan tentang bagaimana dia meninggal memang menyisakan tanda tanya besar. Kini, dokter pribadi MJ resmi menjadi tersangka utama kematian MJ. Banyak orang yang tidak percaya MJ baik-baik saja beberapa hari sebelum kematiannya. Terutama karena ia lebih sering tampil di media sebab kasus-kasus yang membuat namanya negatif. Publik menduga kalau MJ sakit-sakitan dan menderita. Padahal, MJ sedang menyiapkan konser paling spektakuler untuk bulan Juli 2009, di London. This is it, demikian dia menamai konser ini. Kelihatannya, dia yakin sekali bahwa this is it -inilah saatnya-, waktu yang tepat ia akan kembali meraih sinar bintang yang kemarin meredup.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-535" title="LittleMJ" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/LittleMJ.jpg" alt="LittleMJ" width="314" height="420" /></p>
<p>Kenny Ortega, sutradara panggung yang merekam segala kegiatan MJ ketika latihan konser This Is It, akhirnya menjawab pertanyaan publik seputar keadaan MJ sebelum meninggal. Film This Is It dilepas ke bioskop seluruh dunia tanggal 28 Oktober 2009 dan dikabarkan hanya akan berlangsung selama dua minggu. Film ini tadinya digarap hanya sebagai koleksi pribadi MJ. Tetapi akhirnya ditayangkan juga untuk publik demi menjawab segala dugaan-dugaan para penggemarnya. Lebih dari itu, keluarga Jackson, Kenny Ortega dan orang-orang yang bekerja bersama MJ di seputar persiapan konser This Is it, kelihatannya ingin memberitahu dunia bahwa MJ baik-baik saja, dan malah dalam kondisi yang fit.</p>
<p>Sebagai seorang berusia kepala lima, dan tuntutan kerja yang mengharuskannya terus aktif baik tubuh maupun otak, MJ memiliki kondisi yang cukup prima. Bagi kebanyakan penari, mereka umumnya menderita sakit tulang panggul sebab gerakan tarian yang dilakukan (misalnya, Paula Abdul). Tapi saya tidak pernah sekalipun mendengar berita MJ operasi tulang panggul. Rasa sakit yang diderita MJ adalah ketergantungannya pada obat pain killer (penghilang rasa sakit) yang disebabkan kecelakaan pada tahun 1984: ketika sedang syuting untuk iklan Pepsi, sebuah lampu di atas MJ yang sedang menari terbakar. Apinya jatuh tepat di kepala MJ, ia menderita luka bakar tingkat dua dan tiga. Sejak itu MJ tergantung pada pain killer. Kelihatannya, sejak itu pula, ‘hobi’-nya operasi plastik makin menjadi-jadi.</p>
<p>Konon, operasi plastik berfungsi layaknya candu, membuat seseorang akan ketagihan. Ya, menjadi cantik dan sempurna ternyata adalah candu. Betapa ‘sempurnanya’ pemampilan MJ ketika tampil dalam video klip “Black or White”, dari album Dangerous (1991). Michael yang beberapa waktu lalu masih terlihat selayaknya orang kulit hitam, kini sudah benar-benar berkulit putih. Banyak orang memandang perubahan penampilannya itu sebagai bentuk kegilaan, atau keanehan yang makin menjadi. Beberapa kritikus selebriti di channel E! Entertainment berpendapat, seharusnya MJ berhenti operasi plastik ketika penampilannya masih seperti di album Thriller (1982). Tapi, bagi saya (dan mungkin para penggemarnya –di manapun Anda berada), itu adalah bentuk totalitas kerja seni. Begitu totalnya, hingga cenderung menghancurkan diri sendiri. Ini mungkin sulit dipahami oleh orang lain (apalagi mereka yang bukan seorang pekerja seni). Tapi, bukankah jika kita (seorang seniman, aktivis atau apapun) menggembar-gemborkan idealisme ini, idealisme itu, idealisme bla-bla-bla, maka seharusnya kita total, tak peduli jika itu harus menghancurkan diri sendiri. Nah, seperti itulah saya memandang MJ.</p>
<p>Ada semacam kelegaan ketika saya menonton film This Is It, rasanya seperti kelegaan seorang anak yang mengetahui bahwa ayahnya yang baru saja meninggal ternyata mengucap “Allah” sebagai kata terakhinya. Keadan MJ yang baik-baik sajalah yang membuat saya lega. Meskipun popularitas MJ menurun tajam, tapi dia masih seorang seniman musik yang sama, yang berulang kali saya imajinasikan di dalam pikiran saya, bahkan lebih. Caranya memberi pengarahan kepada orang-orang yang bekerja untuknya, dan bagaimana dia kerap berkata, “it’s all for love. L-O-V-E” (semua demi cinta, c-i-n-t-a) dan “God bless you” (Tuhan memberkatimu). Mengutip ucapan Kenny Ortega yang menanggapi Michael, “church and rock ‘n roll” (gabungan antara gereja dan musik rock ‘n roll). Adegan favorit saya di film ini adalah ketika gitaris perempuannya harus maju bersama Michael memainkan solo gitar. Sang gitaris (saya tak mencatat namanya) menghentikan permainannya sebab memang not berakhir di situ, tetapi MJ justru menyuruhnya terus main hingga nada tertinggi. Ujarnya, “this is your moment to shine, reach your highest note! We’ll be there with you.” (Ini adalah saat bagimu bersinar, mainkan hingga nada tertinggi. Kami akan terus mendampingimu). Hanya seorang pemusik berjiwa besar yang mau membagi panggungnya bagi seorang gitaris yang tak populer, dan terang-terangan bilang bahwa itu adalah kesempatan baginya untuk bersinar.</p>
<p>MJ tahu seperti apa musik, lagu, dan bagaimana dia ingin menyajikannya untuk penonton. Bahkan ketika dia mencontohkan tarian, dengan otomatis mulutnya akan bernyanyi. Juga sebaliknya, ketika ia mulai mencocokan satu nada lagu, tubuhya mulai menari. Musik dan tari sepertinya sudah melebur dalam diri seorang Michael Jackson, dan muncul berupa suara indah serta gerakan tubuh. Saya merasa, menjadi seorang MJ berarti telingamu dipenuhi musik yang hanya bisa didengar olehmu sendiri. Mungkin, dalam kehidupannya sehari-haripun, dia selalu punya backsound atau theme song. Yah, mirip-mirip film lah.</p>
<p>Andaikata konser This Is It jadi digelar, maka kita masih akan menemukan satu ciri khas dari semua konsernya: bahwa tiap lagu akan disajikan dengan konsep yang berbeda, yaitu seperti video klip yang kita lihat di televisi. Siapa pemusik yang menggarap konsernya seperti ini? Saya belum pernah tahu lainnya. Hanya MJ. Selebihnya, di dalam This Is It, semua konsep digarap baru, lebih fresh, diberi detail yang akan menggetarkan penonton konser. Yang membuat saya tercengang adalah, MJ tahu, kapan sebuah nada harus ditahan, dan kapan dia harus memberi ‘cue’ kepada pemusik/penarinya untuk kembali bermain sehingga penonton akan merasa deg-degan. Bagi saya, ini mirip dengan serial televisi Korea yang kerap menyajikan adegan sepasang kekasih yang berkelahi, mereka berada dalam satu frame, tetapi keduanya tidak saling tahu sebab sibuk saling memikirkan satu sama lain (mungkin yang satu sedang duduk di balik tanaman rambat di sebuah taman, sementara di jalan setapak taman yang sama kekasihnya lewat membelakanginya). Juga adegan ketika Superman membawa kekasihnya terbang melewati permukaan laut sebelum mengajaknya terbang melihat bumi dari kejauhan langit. Ini adalah adegan-adegan yang membuat penonton deg-degan sekaligus gemas. Nah, seperti itulah MJ, dia mengetahui bagaimana cara membuat penonton konsernya deg-degan dan gemas hanya dengan menahan satu ketuk nada, atau memainkan refrain dengan jumlah yang lebih banyak.</p>
<p>Satu hal lagi yang membuat saya lega, film ini tidak diakhiri dengan berita kematian MJ yang sudah terlalu sering kita lihat di televisi/baca di media. Padahal sejak awal saya sudah mempersiapkan mental akan melihat ending film yang menyedihkan. Ya, saya memang lebih suka melihat film-film berakhir bahagia, seperti kebanyakan film bergenre chick-flick dan kartun, sesederhana itu saja. Sepertinya, film This Is It merupakan bentuk perayaan hidup seorang King of Pop. Sangat wajar bagi saya, ketika seorang seniman seperti MJ mengetahui bahwa this is it –inilah saatnya- ketika ia berada di puncak kejayaan dan ingin mati ketika itu terjadi. Saya pikir, sebab itulah MJ mengadakan konser This Is It. Dia mungkin tahu waktunya tak banyak, dia juga tahu bahwa akan kembali menjadi superstar, dan sekaligus ingin kehidupanya berakhir di saat puncak. Sebuah akhir drama kehidupan yang ironis, bukan? Sejujurnya, saya iri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/this-is-it-the-day-the-music-died-michael-jackson-1958-2009-533.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga Bayangan, novel grafis</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/tiga-bayangan-novel-grafis-517.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/tiga-bayangan-novel-grafis-517.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 09:39:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Graphic Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[cyril pedrosa]]></category>
		<category><![CDATA[three shadows]]></category>
		<category><![CDATA[tiga bayangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=517</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah sebuah keluarga kecil nan sederhana di sebuah desa: Louis sang ayah, Lise sang ibu dan Joachim putera mereka. Kehidupan mereka yang damai tiba-tiba diusik oleh tiga bayangan yang mengikuti Joachim. Sejak itu, apapaun dilakukan kedua orangtuanya ini untuk melindungi anak mereka. Lise mula-mula pergi ke Mistress Pike, seorang paranormal yang mampu &#8216;membaca&#8217; siapa ketiga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-519" title="three-shadows_2" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/three-shadows_2.jpg" alt="three-shadows_2" width="500" height="375" /> Alkisah sebuah keluarga kecil nan sederhana di sebuah desa: Louis sang ayah, Lise sang ibu dan Joachim putera mereka. Kehidupan mereka yang damai tiba-tiba diusik oleh tiga bayangan yang mengikuti Joachim. Sejak itu, apapaun dilakukan kedua orangtuanya ini untuk melindungi anak mereka. Lise mula-mula pergi ke Mistress Pike, seorang paranormal yang mampu &#8216;membaca&#8217; siapa ketiga bayangan itu. Mistress Pike hanya bisa bilang, &#8220;Jangan coba melawan &#8216;bayangan&#8217; ini&#8230; tidak ada gunanya. Nikamti saja setiap saat bersama Joachim, selama ia masih bersamamu.&#8221; Demikianlah, akhirnya Louis memutuskan untuk membawa Joachim jauh-jauh, pergi dari desa itu, terus berlari menghindar dari ketiga bayangan itu. Petualangan Louis dan Joachim pun dimulai, mereka ditipu, naik kapal, kena badai,  terdampar, lalu diselamatkan lelaki tua aneh yang berjanji bisa melindungi Joachim apabila Louis menyerahkan hidupnya sebagai imbalan. Lelaki tua itu lalu mengubah Joachim jadi begitu kecil (atau Louis yang jadi begitu besar?!) sehingga bocah itu masuk ke dalam telapak tangan Louis dan terlindungi selamanya dari tiga bayangan yang mengicar.</p>
<p>Harus saya katakan, <em>Tiga Bayangan</em> (Gramedia Pustaka Utama) tidak menyuguhkan happy ending (ups&#8230; sory buat yang belum baca). Cerita ini diakhiri dengan kesimpulan: hidup terus berjalan, sesakit apapun masa lalumu. Louis dan Lise punya anak lagi, yang mengggantikan Joachim, meski mereka tak pernah bisa melupakan putranya itu.</p>
<p><span id="more-517"></span></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-520" title="harvest" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/harvest.jpg" alt="harvest" width="260" height="222" /></p>
<p>Cyril Perdrosa adalah komikus asal Perancis yang pernah terlibat dalam produksi film Disney, yaitu  <em>The Hunchback of Notredame</em> dan <em>Hercules</em>. Saya tidak terlalu mengenal budaya tradisional Perancis, jika memang kehidupan desa di sana seperti yang digambarkan dalam novel grafis<em> Tiga Bayangan</em>. Perancis yang selama ini saya tahu (dari televisi dan majalah) adalah negara yang penuh gaya, orang-orang bersliweran di jalan dengan fesyen bermerk Internasional. Membaca <em>Tiga Bayangan</em>, saya merasa sangat jauh dari kesan Perancis selama ini yang saya kenal, sehingga saya sangat akrab dengan cerita-cerita macam ini: kehidupan desa yang sederhana, kepercayaan orang-orang terhadap hal-hal gaib, juga kebiasaan menipu orang-orang yang sedang terdesak/susah (hihihihi&#8230; akuilah!). Hal-hal macam ini biasa kita temui di Indonesia.</p>
<p>Meskipun saya bukanlah seorang komikus, tetapi saya sangat menyukai gambar-gambar komik. Meskipun (juga) saya bukan ahli menggambar, saya suka memperhatikan gambar-gambar orang lain dan mereka-reka seperti apa prosesnya. Berbeda dengan komik Jepang yang identik dengan manga, setiap komikus asal Perancis memiliki ciri khas sendiri. Perhatikan Marjane Satrapi, komikus novel grafis <em>Persepolis,</em> meskipun ia asal Iran, tetapi ia mengenyam pendidikan di Perancis yang kemudian membesarkannya sebagai komikus. Ia menggunakan tinta cina (sebuatan di Indonesia), berbeda pula dengan David B., komikus novel grafis <em>Epileptik</em> yang konstan menggunakan mata pena. Cyril Pedrosa menggunakan media campuran, meski lebih banyak menggunakan pensil sebagai sketsa gambar, ia juga menggunakan tinta yang kelihatannya dibusel (maaf lahir batin kalo salah isitilahnya&#8230; namanya juga cuma penikmat, bukan ahlinya, hehehehe).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/tiga-bayangan-novel-grafis-517.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Betawi versus Modernisasi</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/betawi-versus-modernisasi-497.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/betawi-versus-modernisasi-497.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2009 13:12:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsip Media]]></category>
		<category><![CDATA[Kronik Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=497</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Muhammad Amin Sampai saat tanah moyangku tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota terlihat murung wajah pribumi terdengar langkah hewan bernyanyi Itulah sebait syair dari lagu “Ujung Aspal Pondok Gede” yang dilantunkan penyanyi kawakan Iwan Fals. Nyanyian itu merupakan satu dari suara kegetiran orang-orang Betawi, penduduk asli Jakarta yang perlahan mulai terpinggirkan oleh modernisasi. Kawasan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/kronik-betawi.jpg" alt="kronik-betawi" title="kronik-betawi" width="300" height="446" class="alignleft size-full wp-image-487" /></p>
<h3>Oleh Muhammad Amin</h3>
<p><em>Sampai saat tanah moyangku<br />
tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota<br />
terlihat murung wajah pribumi<br />
terdengar langkah hewan bernyanyi</em></p>
<p>Itulah sebait syair dari lagu “Ujung Aspal Pondok Gede” yang dilantunkan penyanyi kawakan Iwan Fals. Nyanyian itu merupakan satu dari suara kegetiran orang-orang Betawi, penduduk asli Jakarta yang perlahan mulai terpinggirkan oleh modernisasi. Kawasan Pondok Gede sendiri kini sudah menjadi kawasan yang ditumbuhi gedung-gedung, tidak lagi kawasan asli Betawi di zamannya yang nyaman dan asri.</p>
<p>Kisah dalam novel ini bermula dari banjir Jakarta yang entah mengapa menjadi jadwal musiman. Haji Jaelani adalah salah satu warga Betawi yang harus menerima akibat dari perkembangan Jakarta, dan juga menerima konsekuensinya. Salah satunya adalah banjir akibat hilangnya banyak sekali resapan air yang dulu tersedia.<br />
<span id="more-497"></span><br />
Hampir semua orang betawi memiliki empang. Selain berfungsi untuk memelihara ikan, empang juga sangat penting fungsinya untuk mengantisipasi banjir. Kini, empang-empang itu sudah berganti dengan gedung pencakar langit dan menghilangkan fungsi antisipasi banjirnya.</p>
<p>Haji Jaelani pun harus membuka harinya dengan melawan air. Sofa basah, teve radio dan alat elektronik yang harus diungsikan merupakan langganan pekerjaan ketika banjir mulai melanda. Pengusaha sapi perah ini juga harus pandai-pandai memindahkan sapi-sapinya ke tempat yang aman.</p>
<p>Usai bersih-bersih, rumah Haji Jaelani justru benar-benar ‘’dibersihkan’’. Dengan alasan perkembangan kota, Haji Jaelani mau tak mau harus tergusur dari kampung halamannya sendiri. Tak ada yang dapat diperbuat. Ia hanya pasrah. Sampai ia pun berujar: ‘’Coba dulu babeh gue ngajarin mantra Jiung yang dipake buat nyelametin orang-orang waktu tentara Jepang ngejarah, pasti tanah gue sekarang masih utuh…bisa selamet dari orang-orang yang pada ngegusur!’’</p>
<p>Haji Jaelani tak sendiri. Kronik penderitaan orang-orang Betawi terjadi nyaris di semua lini. Haji Jarkasi, seorang seniman juga mengalami hal yang sama. Kehidupan murid Haji Bokir ini tidak pernah beranjak lebih baik karena seniman Betawi nyaris tak pernah dihargai.</p>
<p>Novel Kronik Betawi ini memang menceritakan latar belakang Betawi dan orang-orangnya yang bersahaja, polos dan apa adanya. Ada harapan, penderitaan, juga kisah cinta yang didedahkan. Dalam Kronik Betawi ini, pengarangnya mencoba seluas mungkin mengeksplorasi budaya Betawi yang perlahan sudah tergerus zaman. Kendati terbilang sangat muda, Ratih Kumala mencoba memaparkan sejarah Betawi dengan upaya maksimal dan detil dengan gaya orang-orang jadul (jaman dulu) yang khas. Di antara yang sering terlupakan, misalnya bahwa Menteng itu merupakan nama buah, Bintaro itu nama pohon dan Kebon Jeruk memang merupakan kawasan perkebunan jeruk.</p>
<p>Orang Jakarta sekarang hanya tahu bahwa kawasan-kawasan itu adalah kawasan gedongan dan elit. Dalam novel ini, Ratih Kumala bercerita tentang perjalanan Betawi dan anak daerahnya menghadapi modernisasi ibu kota. Novel ini memang Betawi asli, dengan bahasa dan sudut pandang penceritaan yang sangat alami dan khas Betawi.***</p>
<p>Sumber: <a href="http://xpresiriau.com/resensi-buku/betawi-versus-modernisasi/">Xpresi Riau Pos</a>.<br />
Buat yang tertarik memesan novel ini, <a href="http://ratihkumala.com/blog/novel-kronik-betawi-bisa-pesan-di-sini-491.php">sila klik halaman ini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/betawi-versus-modernisasi-497.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shakespeare dalam Manga</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/shakespeare-dalam-manga-392.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/shakespeare-dalam-manga-392.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 May 2009 06:21:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Graphic Novel]]></category>
		<category><![CDATA[On Writing]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[hamlet]]></category>
		<category><![CDATA[juliet]]></category>
		<category><![CDATA[julius caesar]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<category><![CDATA[macbety]]></category>
		<category><![CDATA[manga]]></category>
		<category><![CDATA[novel grafis]]></category>
		<category><![CDATA[romeo]]></category>
		<category><![CDATA[william shakespeare]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=392</guid>
		<description><![CDATA[Pertama kali saya berkenalan dengan Shakespeare lewat Romeo and Juliette yang saya toton filmnya di TVRI, ketika itu saya masih SD. Film itu dilengkapi dengan subtitle Bahasa Indonesia yang sangat membantu saya memahami sebab waktu itu saya tidak bisa berbahasa Inggris. Saya tidak tahu siapa itu William Shakespeare, tapi film Romeo and Juliette ketika itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-393" title="yhst-51816236815316_2048_41943808" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/yhst-51816236815316_2048_41943808.gif" alt="yhst-51816236815316_2048_41943808" width="259" height="300" /> Pertama kali saya berkenalan dengan Shakespeare lewat <em>Romeo and Juliette</em> yang saya toton filmnya di TVRI, ketika itu saya masih SD. Film itu dilengkapi dengan subtitle Bahasa Indonesia yang sangat membantu saya memahami sebab waktu itu saya tidak bisa berbahasa Inggris. Saya tidak tahu siapa itu William Shakespeare, tapi film Romeo and Juliette ketika itu lumayan membekas di benak saya. Beberapa tahun kemudian, saya baru tahu kalau film itu sejatinya diangkat dari karya seseorang yang bernama William Shakespeare. Beberapa tahun kemudian (lagi) saya juga baru tahu kalau karya Shakespeare itu bukan novel, novelet atau cerpen, melainkan naskah drama teater. Kesimpulannya: saya lumayan lambat mengenal siapa itu Shakespeare, hehehe&#8230;.</p>
<p>Ketika kuliah di jurusan Sastra Inggris, agaknya rada memalukan kalau tidak mengenal karya-karya Shakespeare. Terlebih lagi karena dosen-dosen saya kerap menyebut-nyebut namanya. Saya sempat ke perpustakaan kampus dan membaca buku William Shakespeare, dan hasilnya &#8230; (sejujurnya) saya bingung! Bahasa yang digunakan masih jadul (atau &#8216;klasik&#8217;, sebutan yang lebih elegan). Bahasa Inggris klasik tidak pernah benar-benar diajarkan di kampus saya. Untuk memahami sebuah kalimat berbahasa Inggris klasik, saya waktu itu bolak-balik membuka kamus, lumayan melelahkan. Mungkin ini adalah pengakuan dosa paling blak-blakan yang pernah saya lakukan: sewaktu jadi mahasiswa Sastra Inggris, saya lebih suka menonton film yang diangkat dari karya William Shakespeare ketimbang membacanya (semoga Tuhan mengampuni saya). Kisah-kisah yang ditulis Shakespeare bagi saya lebih mudah dipahami dengan menonton televisi. Satu-satunya kalimat yang paling saya ingat dari Shakespeare adalah &#8220;what&#8217;s in a name?&#8221; (apalah arti sebuah nama?) Ketika Juliette ngomong sendiri di jendela kamarnya, sementara Romeo nguping setelah<em> tresspassing</em> dengan cara lompat pagar. Lain itu, tidak. Alhasil dari menonton itu adalah: saya mengetahui jalan cerita karya-karya Shakespeare, tapi tidak menghapal kalimat per kalimat -ini adalah hal yang lumayan memalukan sebagai seorang lulusan Sastra Inggris-. Mungkin saya satu-satunya orang yang mengakui hal (memalukan) ini; tapi saya tahu tidak sedikit mahasiswa Sastra Inggris (di Indonesia) yang melakukan hal sama seperti saya. Hanya saja mereka masih punya harga diri untuk tidak mengakuinya hehehehe.</p>
<p><span id="more-392"></span></p>
<p>Ketika masih kuliah, saya lebih suka membaca puisi-puisi karya Robert Frost, Emily Dickinson, Oscar Wilde, EE Cummings, dll. Entah kenapa, saya banyak jatuh cinta pada puisi-puisi berbahasa Inggris. Saya juga membaca prosa (novel/cerpen) berbahasa Inggris yang dijadikan bacaan wajib oleh dosen (umumnya karya klasik seperti Gone With The Wind, karya-karya Mark Twain, dll). Karya sastra prosa yang lebih saya nikmati justru lebih banyak berbahasa Indonesia. Saya waktu itu mirip Sponge Bob, menyerap bacaan sastra Indonesia apapun. Jika ada prosa berbahasa Inggris yang betul-betul saya nikmati maka itu karya moderen seperti serial Harry Potter. Kalau saya merasa sudah terlalu bosan melihat huruf, saya beralih ke komik. Saya punya langganan taman bacaan dekat rumah, di mana saya biasa menyewa komik, kebetulan di sana lebih banyak menyediakan komik manga (selain <em>Ko Ping Ho</em>). Untuk yang saju ini, saya jadi tidak pemilih. Saya melahap hampir segala jenis manga, baik untuk anak lelaki (seperti <em>Kungfu Boy, Conan, Dragon Ball</em>) maupun untuk anak perempuan (seperti <em>Candy-Candy, Pop Corn</em>, dan manga Serial Cantik).</p>
<p>Kesenangan saya akan komik sampai sekarang masih terjaga. Saya masih membaca ulang Asterix, ikut girang ketika Tin-Tin diterbitkan ulang (meskipun kalimat &#8220;sejuta topan badai&#8221; diganti, hiks&#8230;), juga mengikut beberapa manga terbaru seperti Miko, Vegabound dan Showa Man. Lebih dari itu, saya girang betul ketika dihadiahi seorang teman tiga buku membuat komik karya Scott McCloud: <em>Understanding Comics, Reinventing Comics </em>dan <em>Making Comics</em>. Akhir-akhir ini, saya juga sangat menikmati membaca novel grafis seperti karya-karya Frank Miller dan Marjane Satrapi. Entah kenapa, segala hal yang lebih visual (ada gambarnya) bagi saya sangat menghibur.</p>
<p>Ketika saya tahu karya-karya William Shakespeare disajikan dalam bentuk manga, reaksi saya pertama adalah: &#8220;hah?!&#8221; dengan heran. Apalagi ketika saya baca balon di manga (Bahasa Inggris) ini ternyata berbahasai Inggris klasik alias aseli tulisan Shakespeare (yang dulu sempat bikin saya bingung). Saya bertanya-tanya sendiri: apakah pembaca (Bahasa Inggris) akan memahaminya? Lalu, tiba-tiba saya tersadar: hey, ini Shakespeare dalam bentuk manga, jadi sesulit apapun karyanya, visual manga akan sangat membantu pembaca: inilah keuntungannya. Seperti menonton filmnya, hanya saja dalam kasus film penonton tidak bisa memperhatikan kalimat per kalimat dialog, terutama jika itu adalah Bahasa Inggris klasik, dan jikapun ada subtitle Bahasa Indonesia, penonton hanya diberikan waktu tiga hingga lima detik untuk membaca tiga baris subtittle.</p>
<p>Saat ini ada empat judul Shakespeare versi manga yang telah terbit dalam Bahasa Indonesia: <em>Hamlet, Macbeth, Romeo &amp; Juliet</em>, dan <em>Julius Caesar</em>. Meskipun membaca Shakespeare dalam Bahasa Indonesia (bagaimanapun) berbeda &#8220;rasa&#8221; dengan membaca bahasa aseli, tapi Shakespeare versi manga bisa menjadi pintu perkenalan kita sebelum benar-benar membaca karya Shakespeare dengan bahasa Inggris klasik. Minimal, memperkenalkan jalan cerita mahakarya ini secara lebih intens kalimat per kalimat.</p>
<p>Sebuah karya sastra begitu dipuja, sehingga orang mencari cara agar bisa dinikmati semua kalangan dan semua umur. Itulah karya William Shakespeare.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/shakespeare-dalam-manga-392.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berguru pada Televisi</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/berguru-pada-televisi-374.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/berguru-pada-televisi-374.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2009 12:18:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Tv Series]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=374</guid>
		<description><![CDATA[Tiba-tiba saya teringat pada tokoh Kenneth di serial 30 Rock. Dia adalah pegawai rendahan (kalau tidak salah posisinya Pembantu Umum) yang bekerja di sebuah televisi swasta. Kenneth yang karakternya bego-bego lugu adalah seorang yang sangat mencintai pekerjaannya. Dia bekerja dengan passion, dia bangga menjadi bagian dari sebuah televisi, apapun posisinya. Diam-diam, saya mencoba memahami kenapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/television-painting-225x300.jpg" alt="television-painting" title="television-painting" width="225" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-375" />Tiba-tiba saya teringat pada tokoh Kenneth di serial 30 Rock. Dia adalah pegawai rendahan (kalau tidak salah posisinya Pembantu Umum) yang bekerja di sebuah televisi swasta. Kenneth yang karakternya bego-bego lugu adalah seorang yang sangat mencintai pekerjaannya. Dia bekerja dengan <em>passion</em>, dia bangga menjadi bagian dari sebuah televisi, apapun posisinya.</p>
<p>Diam-diam, saya mencoba memahami kenapa 30 Rock membuat tokoh Kenneth dalam serialnya. Dia berasal dari kampung, anak udik yang kaget dengan gemerlapnya New York City. Matanya berbinar-binar jika melihat artis mampir di NBC, tempatnya bekerja. Dia anak kampung yang hampir seluruh hidupnya bergelut dengan peternakan, kini bisa menjadi bagian televisi.</p>
<p>Selama hampir enam bulan saya sudah benar-benar nyemplung di telvisi, selama itu pula menjadi pembuka mata saya akan dunia televisi. Saya, pernah seperti orang-orang yang tidak setuju dengan &#8220;pembodohan televisi&#8221;, sempat menganggap televisi adalah &#8220;sampah&#8221;, dan percaya bahwa <em>too much TV makes your brain goes bad</em>. Tapi sebenarnya saya tidak pernah benar-benar tidak menyukai televisi. Bagi saya, jika tak ada kerjaan, dan membaca menjadi kegiatan yang membosankan (hayo ngaku deh&#8230; pasti pernah kan merasa bosan baca buku), maka saya beralih ke televisi (selain menyewa DVD atau nonton bioskop). Tapi tentu, ada kalanya juga saya bosan nonton TV, seperti saya bosan pada buku-buku. Kesimpulan pribadi: saya pikir saya lumayan seimbang menempatkan diri antara televisi dan buku.<br />
<span id="more-374"></span></p>
<p> <div id="attachment_376" class="wp-caption alignright" style="width: 243px"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/30rock_kenneth-233x300.jpg" alt="Kenneth si pecinta televisi di serial 30 Rock" title="30rock_kenneth" width="233" height="300" class="size-medium wp-image-376" /><p class="wp-caption-text">Kenneth si pecinta televisi di serial 30 Rock</p></div> Ketika teman-teman saya mulai tahu saya bekerja untuk sebuah stasiun televisi dan bertugas membuat cerita untuk FTV (yang lebih banyak disebut &#8220;sinetron&#8221; oleh banyak orang), banyak pertanyaan dilontarkan ke saya. Di antaranya, &#8220;kok kamu bisa kerja bikin &#8216;cerita jelek&#8217;?&#8221;, &#8220;kok bisa sih kerja dikejar rating?&#8221;, dll. Awalnya, jujur saya juga bingung, dan bertanya pada diri sendiri: iya ya&#8230; kok bisa? Sekarang, setelah hampir enam bulan lewat, saya bisa bilang: ya, bisa saja, kenapa enggak?</p>
<p>Saya percaya, dalam waktu enam bulan ini saya menjadi orang yang lebih bijaksana karena sudah kerja di televisi. Saya jadi bisa melihat dari tiga sisi. Pertama, sisi para penulis sastra (di mana dari sinilah saya berasal); kedua, sisi orang program televisi; ketiga, sisi penonton. Saya bisa paham kenapa para penulis sastra tidak menyukai televisi, tetapi saya juga sangat bisa memahami kenapa orang televisi membuat acara yang sering disebut &#8220;enggak bermutu&#8221;, dan kenapa masih juga ada penontonnya.</p>
<p>Saya kini tidak percaya ada cerita yang jelek, yang ada&#8230; cerita itu tidak sesuai dengan selera seseorang, yang menyebabkan cerita itu laku/tidak. Dalam sebuah program televisi, berlaku hukum ekonomi: di mana ada permintaan, di situ barang diproduksi. Pada saat sinetron yang dibilang &#8220;enggak bermutu&#8221; itu dipertontonkan, dan ratingnya tinggi (berarti permintaannya tinggi), maka saat itulah sinetron ini akan jadi serial yang panjang. Kalau penonton sudah bosan, maka ratingnya turun, dan serial ini takkan diproduksi lagi. Nah, kira-kira seperti itulah. </p>
<p>Lain kali, kalau saya (atau Anda) mendengar ada orang marah-marah dengan serial Cinta Fitri yang sampai season 3, atau Tersanjung yang sampai season 9, maka saya bisa menjawab, &#8220;jangan kamu tonton serial itu, pasti nanti habis sendiri. Kalau ditonton terus, ya pasti akan diproduksi terus.&#8221;</p>
<p>Saya sering sekali mendengar komentar kalau acara kita tidak bermutu, tidak ada isinya, pembodohan, dll. Percayalah&#8230;, saya tahu bagaimana susahnya mencerdaskan bangsa lewat televisi. Saya pernah membuat cerita yang &#8220;berupaya mencerdaskan bangsa&#8221;, dan hasilnya ratingnya jeblok ketimbang cerita-cerita yang horor dan suspens. Dan jika sudah begini, maka cerita bergenre lebih cerdas tidak diproduksi lagi (setidaknya tidak dalam waktu dekat). Bagaimanapun, kita harus ingat, ketika masuk ke industri televisi, kita berhubungan dengan uang (yang bukan milik kita). Semua investor tentu mau uangnya kembali. Jika acara tersebut ratingnya jelek, maka tidak ada iklan yang mau masuk, maka modal tidak akan balik. Kira-kira begitu penjelasan sederhananya.</p>
<p>Kita tentu masih ingat dengan serial Dunia Tanpa Koma, yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo sebagai seorang jurnalis investigasi. Serial ini dibuat (konon) dalam rangka &#8220;mencerdaskan bangsa&#8221;, atau setidaknya memberikan tontonan yang lebih mendidik. Toh, pada kenyataannya, serial ini tidak bertahan lama, yang berarti tidak laku ditonton, yang berarti tidak ada iklan yang mau tayang. Aneh bukan? Jadi, jangan pernah bilang kalau pihak PH dan televisi tak pernah mencoba membuat acara yang bermutu. Sudah, dan kenyataannya: hancur di lapangan.</p>
<p>Tokoh Kenneth dalam 30 Rock bagi saya merupakan gambaran penonton kita yang memang aneh, mereka suka disuguhi &#8220;mimpi-mimpi&#8221;. Mereka suka para pemain yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng, meskipun diri sendiri jelek. Mereka juga suka menonton acara serial berlatar orang kaya, meskipun mereka sebenarnya miskin. Saya tidak tahu pasti kenapa, tetapi mungkin (ini hanya menduga-duga) karena hidup mereka sudah susah, kalau masih disuruh menonton acara yang harus mikir sepulang kerja berat seharian, bagi mereka itu suatu beban. Selain itu, mungkin karena bagi sebagian besar orang Indonesia buku masih merupakan barang mewah, sedang televisi hiburan murah, jadilah acara TV kita itu laku ditonton. </p>
<p>Saya pikir ada baiknya kita belajar melihat dari sisi penonton.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/berguru-pada-televisi-374.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CHE: Sebuah Biografi Grafis</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/che-sebuah-biografi-grafis-308.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/che-sebuah-biografi-grafis-308.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Oct 2008 17:49:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Graphic Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[che]]></category>
		<category><![CDATA[spain rodriguez]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=308</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Che Guevara adalah manusia paling lengkap pada masanya.&#8221; (Jean Paul Sartre) Sejak kematiannya pada tahu 1967, Ernesto &#8220;Che&#8221; Guevara telah menjadi ikon dan figur dengan citra sangat terkenal di dunia. Gambar Che terpampang di mana-mana; poster, buku, topi, pin, kotak rokok, sampul kaset, dan yang paling banyak, T-shirt. Tapi kenyataannya, banyak orang yang memakai kasor [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/ijwq1452big.jpg" rel="lightbox[308]"><img class="alignleft size-full wp-image-313" title="ijwq1452big" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/ijwq1452big.jpg" alt="" width="177" height="250" /></a></p>
<blockquote><p>&#8220;Che Guevara adalah manusia paling lengkap pada masanya.&#8221;<br />
(Jean Paul Sartre)</p></blockquote>
<p>Sejak kematiannya pada tahu 1967, Ernesto &#8220;Che&#8221; Guevara telah menjadi ikon dan figur dengan citra sangat terkenal di dunia. Gambar Che terpampang di mana-mana; poster, buku, topi, pin, kotak rokok, sampul kaset, dan yang paling banyak, T-shirt. Tapi kenyataannya, banyak orang yang memakai kasor bergambar Che tidak mengetahui siapa sebenarnya Che Guevara.</p>
<p>Biografi grafis (baca: komik) yang digambar dan ditulis berdasarkan riset oleh Spain Rodriguez ini memberi nafas baru pada sejarah dan perjuangan Che. Buku ini menyoroti kehidupan Che serta pengalaman yang membentuk karakternya. Dari perjalanan naik sepeda motor ke Amerika Latin, saat menduduki posisi penting sebagai pimpinan di gerakan revolusioner Fidel Castro, perjalan di Afrika, keterlibatan dengan pemberontakan di Bolivia yang berujung pada kematiannya, hingga warisan luar biasa yang ia tinggalkan untuk dunia.<br />
<span id="more-308"></span><br />
Saya ingat dua buah poster di TB Ultimus, Bandung yang saya datangi tahun 2004 lalu: poster Che dijajarkan dengan poster Kurt Cobain di dinding belakang kasir. Sumpah! Bagi saya wajah keduanya mirip. Entah apakah itu juga alasan anak-anak Ultimus menjajarkan kedua poster tersebut, atau mereka tanpa sengaja menjajarkan keduanya. Sekarang, jika dipikir-pikir, selain wajah Kurt dan Che mirip, keduanya sama-sama mati muda.</p>
<p>Sekitar 3 bulan lalu saya menerjemahkan biografi grafis <em>Che</em> (Penerbit Gramedia Pustaka Utama) ini. Sejujurnya, saya bersemangat dan girang mengerjakannya. Pertama, karena ini adalah buku tentang Che, kedua karena ada gambarnya. Bagi saya menerjemahkan buku bukan pekerjaan ringan. Orang bisa stress gara-gara menerjemahkan buku (percayalah). Maka itu, saya senang sekali karena buku ini dipenuhi gambar. Akhirnya, Oktober 2008 ini terbit juga :) Buat mereka yang sering pakai kaos Che tapi tidak tahu siapa dia sebernanya, ini adalah buku yang tepat untuk diam-diam berkenalan lebih dekat dengan Che.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/che-sebuah-biografi-grafis-308.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Rumah Duka&#8221;: sebuah pembacaan (kurang) seksama</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/rumah-duka-sebuah-pembacaan-kurang-seksama-296.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/rumah-duka-sebuah-pembacaan-kurang-seksama-296.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 13:24:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Short Stories]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[mirza rahadian]]></category>
		<category><![CDATA[ratih kumala]]></category>
		<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[rumah duka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=296</guid>
		<description><![CDATA[by : Mirza Rahadian Bila cinta memiliki wajah, maka cerpen Ratih Kumala menunjukkan kecantikan cinta yang tidak umum. Sebentuk cantik yang wajar dan tidak berlebihan, yang hanya bisa dilihat cantik bila kita mampu melihat apa yang tersembunyi di balik wajah itu. Cerpen Ratih Kumala berjudul Rumah Duka (Kompas, edisi 7 Juni 2008) mengambil tema yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>by : <a href="http://k4cruterz.wordpress.com/2008/09/25/rumah-duka-sebuah-pembacaan-kurang-seksama/">Mirza Rahadian</a></strong></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/rumahduka.jpg" rel="lightbox[296]"><img class="alignnone size-full wp-image-191" title="Rumah Duka" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/rumahduka.jpg" alt="" width="400" height="365" /></a></p>
<p>Bila cinta memiliki wajah, maka cerpen Ratih Kumala menunjukkan kecantikan cinta yang tidak umum. Sebentuk cantik yang wajar dan tidak berlebihan, yang hanya bisa dilihat cantik bila kita mampu melihat apa yang tersembunyi di balik wajah itu.<br />
<span id="more-296"></span><br />
Cerpen Ratih Kumala berjudul Rumah Duka (Kompas, edisi 7 Juni 2008) mengambil tema yang mungkin telah digunakan oleh ratusan, atau bahkan ribuan, cerpen lainnya yang pernah dibuat. Sebuah tema yang usang, namun masih menyimpan kekuatan yang cukup menghentak. Tema tentang cinta yang mendua, sebuah Perselingkuhan, yang sudah umum terjadi pada hubungan berpasangan. Kekuatan tema ini terletak pada tingkat realitas yang cukup tinggi dan kedekatannya dengan para pembaca, karena hampir setiap pembaca pernah berinteraksi secara langsung ataupun tidak dengan perselingkuhan, baik sebagai korban, pelaku ataupun saksi. Realitas dan kedekatan tadi membuat cerita ini seolah mampu membangkitkan sebuah kenangan dalam kehidupan para pembaca, atau hanya sekedar renungan yang diselingi penghayatan. Pemilihan tema seperti ini memang sangat mudah mengajak pembaca masuk ke dalam cerita, tapi bila penulis kurang waspada, tulisan seperti itu malah akan menjadi seperti sebuah catatan harian yang picis. Untungnya Ratih Kumala adalah seorang penulis yang cukup handal, sehingga tema itu dapat tergali dengan cukup baik dan ditampilkan dengan cara yang unik namun masih terasa wajar. Tidak terlihat usaha untuk membuat cerita ini menjadi sebuah prosa—liris yang mengumbar kata—kata puitis dan simbolisme yang njelimet, tapi cerita ini mampu menampilkan dramatisasi dan pembentukan konflik yang baik, dan emosi cerita ini tersalurkan dengan sangat baik kepada pembaca tanpa terlihat memaksa.</p>
<p>Selain tema dan pengembangan konflik yang digarap dengan baik, cerita ini juga dengan berani menggunakan dua sudut pandang. Sudut pandang yang pertama dimunculkan adalah sudut pandang dari tokoh Istri, dan yang selanjutnya adalah sudut pandang tokoh wanita yang menjadi selingkuhan. Kedua sudut pandang ini muncul bergantian dan perpindahan sudut pandangnya terjadi dengan halus sehingga pembaca tidak kaget melihat perubahan pola tutur/gaya ujar dari kedua tokoh. Sepanjang pengalaman saya (yang terbilang tidak cukup banyak), cerita semacam ini memiliki resiko untuk membingungkan pembaca, terutama bila perpindahan sudut pandang tadi tidak diperhatikan, seperti misalnya : kedua sudut pandang menggunakan pola tutur/gaya ujar yang sama atau mirip, niscaya para pembaca akan bingung “Siapa yang sedang bertutur? Apakah tokoh A atau tokoh B?”. Selain itu, penggunaan dua sudut pandang (atau lebih) rentan membuat sang penulis kebingungan sendiri. Terutama ketika sang penulis tidak memiliki kerangka acuan yang jelas serta pola penulisan yang baik. Ratih Kumala dengan cerita ini, sekali lagi menunjukkan bahwa beliau mampu mengatasi masalah—masalah tersebut dengan sangat baik. Selain pola tutur/gaya bahasa yang khas dari masing—masing tokoh yang digunakan sudut pandangnya, penggambaran setting dan emosi dari tokoh—tokoh tersebut mampu menjelaskan kepada para pembaca (mungkin sekaligus penulis) tentang perkembangan cerita dari sebuah tokoh secara khusus tanpa sedikit pun merasa bingung.</p>
<p>Demikian hasil pembacaan saya terhadap cerpen Rumah Duka karya Ratih Kumala. Secara keseluruhan, cerita ini bisa menjadi referensi yang cukup baik bagi pembaca yang mencari sebuah cerita realis dengan tema sederhana namun menampilkan sebuah pengembangan konflik dan dramatisasi yang baik. Serta bagi para pembaca yang ingin mempelajari penggunaan lebih dari satu sudut pandang namun masih tetap luwes dan tidak membingungkan, dapat mempertimbangkan untuk membaca secara seksama cerpen ini.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Catatan: Terimakasih Mirza, sudah mengapresiasi cerpen ini :) /-rk-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/rumah-duka-sebuah-pembacaan-kurang-seksama-296.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gerhana Kembar, Sebuah Perspektif</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/gerhana-kembar-sebuah-perspektif-245.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/gerhana-kembar-sebuah-perspektif-245.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Aug 2008 05:32:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gallery]]></category>
		<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[On Writing]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Short Stories]]></category>
		<category><![CDATA[Clara Ng]]></category>
		<category><![CDATA[Gerhana Kembar]]></category>
		<category><![CDATA[Lesbian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=245</guid>
		<description><![CDATA[Saya menyebut novel Gerhana Kembar karya Clara Ng sebagai novel tentang lesbian tanpa pretensi yang mencurigakan. Novel ini bercerita tentang Fola dan Henrietta, sepasang lesbian yang menjadi tokoh utama. Dua plot utama yang ada pada novel ini yaitu pada tahun &#8217;60-an dan pada tahun 2008. Cerita diawali dengan pertemuan Fola dan Henrietta. Pada bab berikutnya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/clara2.jpg" rel="lightbox[245]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/clara2.jpg" alt="" title="clara2" width="400" height="533" class="alignleft size-full wp-image-250" /></a></p>
<p>Saya menyebut novel Gerhana Kembar karya Clara Ng sebagai novel tentang lesbian tanpa pretensi yang mencurigakan. Novel ini bercerita tentang Fola dan Henrietta, sepasang lesbian yang menjadi tokoh utama.  Dua plot utama yang ada pada novel ini yaitu pada tahun &#8217;60-an dan pada tahun 2008. Cerita diawali dengan pertemuan Fola dan Henrietta. Pada bab berikutnya, pembaca baru tahu bahwa Fola dan Henrietta adalah tokoh fiktif sebuah naskah berjudul &#8220;Gerhana Kembar&#8221; yang tengah dibaca oleh Lendy, pada tahun 2008. Sedikit demi sedikit, terkuak bahwa naskah &#8220;Gerhana Kembar&#8221; ditulis oleh Diana, nenek Lendy yang tengah sekarat, dan cerita itu berdasarkan pengalaman Diana dengan Selina, pasangan lesbinya ketika muda.<br />
<span id="more-245"></span><br />
Dalam novel novel sebelumnya, Dim Sum Terakhir, Clara Ng mengisahkan pertemuan empat perempuan kembar yang tiba-tiba harus pulang ke rumah masa kecilnya karena papanya terserang stroke. Di sini, keempat tokoh utama dihadapkan pada &#8216;hantu&#8217; masa lalu dan ketakutan masa depan. Papa yang sakit, yang sejak awal menjadi pemicu cerita, akhirnya meninggal dunia setelah koma. Novel ini mengambil latar kaum Tionghoa di Indonesia. Mengutip endorsment Putu Fajar Arcana untuk Dim Sum Terakhir, &#8220;Clara Ng barangkali novelis Indonesia pertama yang membeberkan persoalan-persoalan seputar keturunan Tionghoa tanpa prasangka.&#8221; Nah, seperti itu pulalah persaan saya ketika membaca Gerhana Kembar. Dengan tema besar lesbianisme, yang notabene masih sensitif di negara kita, Clara Ng bertutur tanpa prasangka. Ia seolah-olah ia tak ingin memberi jarak antara tulisannya dengan pembaca. Adegan ciuman pertama sepasang lesbian, misalnya, mampu Clara diceritakan dengan sangat lumrah. Pembaca dapat merasakan femininitas sekaligus maskulinitas yang muncul pada tokoh Henrietta. Anehnya, pembaca tidak merasa &#8216;jijik&#8217; jikapun ada seorang yang mungkin homofobia. Clara dengan sengaja mengesampingkan pendapat pembaca yang mungkin negatif terhadap kaum homoseksual. Dengan &#8216;berpretensi baik&#8217; terhadap semua orang, Clara justru berhasil memperkenalkan sisi lesbianisme kepada masyarakat umum. </p>
<p>Ada benang merah dalam kedua struktur perceritaan Dim Sum Terakhir dan Gerhana Kembar. Tokoh &#8216;orang sakit&#8217; telah menjadi tokoh yang –baik disadari atau tidak- digemari oleh penulis. Tokoh ini menjadi penting dalam kedua novel tersebut sebab menjadi &#8217;cause&#8217; keseluruhan cerita  (di dalam Dim Sum Terakhir, ada tokoh &#8216;papa&#8217; yang stroke, sedang di dalam Gerhana Kembar, tokoh Diana yang sedang sekarat). Struktur macam ini kerap digunakan oleh penulis-penulis populer Amerika, penulis-penulis yang ingin berkisah tentang belajar memaafkan dan memaklumi. Dalam Wednesday Letters karya Jason F. Wright, misalnya: Mathew, Samantha dan Malcolm, tiga bersaudara yang punya kehidupan sendiri-sendiri &#8220;dipaksa&#8221; pulang oleh sebab kematian orangtuanya, kematian inilah yang menjadi &#8217;cause&#8217;. &#8216;Effect&#8217;-nya (tentu saja), masing-masing tokoh dipaksa menghadapi persoalan yang sudah lama timbul di antara mereka.</p>
<p>Sebagai seorang pendongeng, Clara Ng tahu apa yang ingin dia ceritakan. Sebagai seorang novelis, ia adalah penulis yang mampu menulis dengan ritme sangat stabil dari awal sampai akhir. Pembaca tak akan menemukan ritme yang tiba-tiba terlalu cepat atau terlalu lambat hingga membuat bosan. Ia sangat tahu apa yang harus ditulis untuk membuat pembaca merasa ikut berempati pada sepasang lesbian yang sedang jatuh cinta. Clara bukanlah penulis yang &#8216;genit&#8217;, meski di beberapa bagian ia tergoda juga untuk menggunakan metafora-metafora, khususnya dalam surat-surat cinta Henrietta untuk Fola. Tapi kesemuanya tidak berlebihan, dan tidak membuat pembaca &#8216;mabuk&#8217;. Justru pembaca jadi sangat maklum kenapa ia meletakkan metafora itu di situ: sebagai bentuk rayuan seorang kekasih. Lebih dari itu, Clara juga bukan penulis yang &#8216;cerewet&#8217;. Agaknya ia sama sekali tidak tergoda untuk berkhotbah membela hak-hak kaum homoseksual. Padahal jika mau, ia bisa &#8220;membela diri&#8221; (baca=membela tokoh homoseksual).</p>
<p>Untuk dua novel yang sama-sama mengangkat tema lesbianisme, gaya penceritaan Clara Ng sangat berbeda dengan Herlinatiens dalam novel Garis Tepi Seorang Lesbian. Novel yang terbit tahun 2003 lalu, sempat menjadi banyak perdebatan karena membuka gamblang kehidupan seorang lesbian. Psikologi tokoh yang dibangun Herlina, antara amarah, sikap berontak, sekaligus kasmaran sangat terasa di banyak tempat. Pembaca dapat merasakan itu semua sekaligus (pada akhirnya, khusunya untuk mereka yang bukan homofobia) memakluminya sebagai bentuk perlawanan tokoh yang terjepit keadaan. Sedang, dalam Gerhana Kembar, campur aduk emosi macam itu tak akan ditemui pembaca. Clara jauh lebih cool meski tema yang ia angkat sangat mampu diperdebatkan. Belum lagi latar tahun &#8217;60-an yang dipilihnya, tahun yang masih sangat kolot, dan mungkin kata &#8216;lesbian&#8217; belum familiar di telinga kita. Sayangnya, justru karena terlalu cool inilah psikologi tokoh-tokoh dalam Gerhana Kembar jadi kurang tergali. Seorang homoseksual, sebelum ia betul-betul mendeklarasikan diri sebagai seorang homoseks, setidaknya akan mengalami guncangan batin dan &#8220;perang&#8221; dalam dirinya sendiri: apa benar saya homo, atau tidak? Salahkah saya jika saya benar-benar homoseks? Berdosakah saya? Bagaimana pandangan masyarakat dan agama? Kesemua pertanyaan itu absen baik dari tokoh Diana/Fola maupun Selina/Henrietta. Terutama Fola, sebagai tokoh perempuan yang digambarkan sangat konvensional, agak aneh jika tidak mempertanyakan itu semua. Ia begitu saja menerima Henrietta, nyaris tanpa pretensi apa-apa. Fokus kedua penulis ini memang sejak awal sudah berbeda: Clara mentikberatkan pada cerita cinta, sedang Herlina menitikberatan pada satu figur lesbian yang diciptakannya.</p>
<p>Mengenai homofobia, meskipun kata itu muncul beberapa kali di novel ini, tetapi perannya tidak terlalu dominan. Meski demikian, mungkin dengan cara seperti inilah justru cerita homoseksual bisa diterima di masyarakat luas tanpa dihakimi terlebih dahulu di awal, sampai-sampai Kompas mau menayangkannya sebagai cerita bersambung. Saya pikir, meski Clara tak ikut berkoar-koar, niat penulis untuk mengangkat tema tertentu saja sudah menunjukkan bahwa ia peduli. Tujuan Clara yang utama sepertinya cuma satu: bercerita.</p>
<p>Ratih Kumala, penulis<br />
Presentasi @GoetheHaus, 8 Agustus 2008</p>
<p>*) Foto oleh Abdillah Iqbal</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/gerhana-kembar-sebuah-perspektif-245.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

