2

Reading Between The Lines


Jakarta Globe | Dalih Sembiring | September 27, 2010

Of all the literary works that deal with lesbianism or have lesbians as lead characters, how many have been written in Indonesian?

Try to list them and you will realize that there are very few.

Oka Rusmini mentions lesbians in her novels “Tarian Bumi” (“Earth Dance”) and “Tempurung” (“Shell”).

Then there are Clara Ng’s “Gerhana Kembar” (“Twin Eclipses”), Herlinatiens’s “Garis Tepi Seorang Lesbian” (“The Margin of a Lesbian”), Djenar Maesa Ayu’s “Nayla” and Ratih Kumala’s “Tabula Rasa.”

Other titles include “Club Camilan” by Bella Widjaja, Brigitta NS and Donna Talitha, as well as Alberthiene Endah’s “Dicintai Jo” (“Loved by Jo”) and “Detik Terakhir” (“The Final Second”).

These are not even enough to fill a single bookshelf on lesbian literature — if Indonesian libraries had such a section.

This is why a new anthology of short stories titled “Un Soir du Paris,” French for “An Evening in Paris,” is long overdue.
Continue reading

12

This is it. The day the music died: Michael Jackson (1958-2009)

this_is_it_movie_poster_michael_jackson

Aneh sekali, ketika saya melihat berita Michael Jackson meninggal dunia, yang saya ingat justru lagu “American Pie”-nya Don MacLean. Itu lho, yang dinyanyikan ulang oleh Madonna (durasi +/- 4 menit). Hanya saja biduanita itu tidak menyanyikan versi panjang. Sejujurnya, saya lebih suka versi klasik Don MacLean (durasi +/- 8 menit). Satu kalimat yang terus terngiang di benak saya adalah“the day the music died” (hari ketika musik mati). Ya, bagi saya, Michael Jackson adalah musik, dan musik adalah Michael Jackson. Seperti halnya lirik dalam “American Pie”: Long, long time ago, I can still remember, how that music used to make me smile (bertahun-tahun yang lalu, aku masih ingat, bagaimana musik itu membuatku tersenyum). Dan dua baris lirik yang berbunyi pertanyaan berikut: Do you believe in rock ‘n roll? /And can music save your mortal soul? (Apakah kau meyakini rock and roll?/Dan bahwa musik bisa menyelamatkan jiwamu?) Maka jawaban saya adalah, “yes I do believe it” (ya, aku percaya).

Bagi saya, berbicara tentang Michael Jackson berarti berbicara tentang masa ABG saya. Ketika baru saja menjadi siswi SMP pindahan, saya tertabrak bahasa daerah yang tak saya kuasai, kehidupan saya menjadi terisolasi dari teman-teman sekelas yang kesemuanya berbahasa Jawa. Saya menghabiskan masa ABG dengan membaca majalah Kawanku yang ketika itu formatnya masih berupa majalah musik (ya, saya tidak suka membaca majalah Gadis seperti cewek ABG kebanyakan). Majalah itu sempat menyajikan artikel bersambung biografi para pemusik dunia. Saya ingat, biografi New Kids on The Block pernah menjadi salah satunya. Tapi, saya sejak dahulu memang bukan penggemar boyband. Ketika Kawanku memuat artikel bersambung biografi Michael Jackson, saya mulai mengklipingnya. Beberapa edisi terlewat dikliping sebab majalah itu dipinjam seorang teman sekolah yang tak pernah mengembalikannya (dan saya sangat menyesal, sebab lupa siapa yang meminjam majalah itu).

Ketika saya masuk SMA (1995) dan mulai lancar berbahasa Jawa, saya terang-terangan bilang ke teman-teman bahwa saya menyukai musik-musik Michael Jackson. Sayangnya, teman-teman saya tidak terlalu menyukai dia. Mereka lebih menganggap MJ seorang freak karena operasi plastiknya yang berlebihan (juga karena tuduhan pelecehan seksualnya). Apa mau dikata, masa ABG saya memang tidak sejalan dengan masa puncak keemasan MJ. MJ praktis hampir seusia almarhum papah saya, jadi sebenarnya dia memang angkatan klasik (saya lebih suka menyebutnya demikian daripada kata ‘tua’). MJ sendiri menjadi benar-benar berada di puncak kariernya sebagai seorang extravaganstar pada periode 1978-1989. Sedang, pemusik yang sedang digandrungi ketika saya ABG adalah Bon Jovi, dan beberapa boyband semacam Backstreet Boys, Take That dan Caught In The Act (yang terakhir ini sudah benar-benar ditelan bumi). Saya ingat, beberapa teman bahkan mengejek karena saya beda sendiri: suka Michael Jackson (ah, saya bahkan masih ingat siapa-siapa saja yang mengejek saya waktu itu, hehehe). Tapi, bodo amat. Saya memang menyukai karya-karya MJ, so what? Saya bahkan banyak belajar Bahasa Inggris dari menerjemahkan lirik lagu-lagu MJ, sebab saya penasaran, dia itu sebenarnya nyanyi tentang apa sih? Jadi bisa dibilang, saya jatuh cinta pada musiknya dahulu, lalu liriknya, lalu kepribadian MJ yang dikabarkan sangat penyayang.

Continue reading

2

Tiga Bayangan, novel grafis

three-shadows_2 Alkisah sebuah keluarga kecil nan sederhana di sebuah desa: Louis sang ayah, Lise sang ibu dan Joachim putera mereka. Kehidupan mereka yang damai tiba-tiba diusik oleh tiga bayangan yang mengikuti Joachim. Sejak itu, apapaun dilakukan kedua orangtuanya ini untuk melindungi anak mereka. Lise mula-mula pergi ke Mistress Pike, seorang paranormal yang mampu ‘membaca’ siapa ketiga bayangan itu. Mistress Pike hanya bisa bilang, “Jangan coba melawan ‘bayangan’ ini… tidak ada gunanya. Nikamti saja setiap saat bersama Joachim, selama ia masih bersamamu.” Demikianlah, akhirnya Louis memutuskan untuk membawa Joachim jauh-jauh, pergi dari desa itu, terus berlari menghindar dari ketiga bayangan itu. Petualangan Louis dan Joachim pun dimulai, mereka ditipu, naik kapal, kena badai,  terdampar, lalu diselamatkan lelaki tua aneh yang berjanji bisa melindungi Joachim apabila Louis menyerahkan hidupnya sebagai imbalan. Lelaki tua itu lalu mengubah Joachim jadi begitu kecil (atau Louis yang jadi begitu besar?!) sehingga bocah itu masuk ke dalam telapak tangan Louis dan terlindungi selamanya dari tiga bayangan yang mengicar.

Harus saya katakan, Tiga Bayangan (Gramedia Pustaka Utama) tidak menyuguhkan happy ending (ups… sory buat yang belum baca). Cerita ini diakhiri dengan kesimpulan: hidup terus berjalan, sesakit apapun masa lalumu. Louis dan Lise punya anak lagi, yang mengggantikan Joachim, meski mereka tak pernah bisa melupakan putranya itu.

Continue reading

4

Betawi versus Modernisasi

kronik-betawi

Oleh Muhammad Amin

Sampai saat tanah moyangku
tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota
terlihat murung wajah pribumi
terdengar langkah hewan bernyanyi

Itulah sebait syair dari lagu “Ujung Aspal Pondok Gede” yang dilantunkan penyanyi kawakan Iwan Fals. Nyanyian itu merupakan satu dari suara kegetiran orang-orang Betawi, penduduk asli Jakarta yang perlahan mulai terpinggirkan oleh modernisasi. Kawasan Pondok Gede sendiri kini sudah menjadi kawasan yang ditumbuhi gedung-gedung, tidak lagi kawasan asli Betawi di zamannya yang nyaman dan asri.

Kisah dalam novel ini bermula dari banjir Jakarta yang entah mengapa menjadi jadwal musiman. Haji Jaelani adalah salah satu warga Betawi yang harus menerima akibat dari perkembangan Jakarta, dan juga menerima konsekuensinya. Salah satunya adalah banjir akibat hilangnya banyak sekali resapan air yang dulu tersedia.
Continue reading

4

Shakespeare dalam Manga

yhst-51816236815316_2048_41943808 Pertama kali saya berkenalan dengan Shakespeare lewat Romeo and Juliette yang saya toton filmnya di TVRI, ketika itu saya masih SD. Film itu dilengkapi dengan subtitle Bahasa Indonesia yang sangat membantu saya memahami sebab waktu itu saya tidak bisa berbahasa Inggris. Saya tidak tahu siapa itu William Shakespeare, tapi film Romeo and Juliette ketika itu lumayan membekas di benak saya. Beberapa tahun kemudian, saya baru tahu kalau film itu sejatinya diangkat dari karya seseorang yang bernama William Shakespeare. Beberapa tahun kemudian (lagi) saya juga baru tahu kalau karya Shakespeare itu bukan novel, novelet atau cerpen, melainkan naskah drama teater. Kesimpulannya: saya lumayan lambat mengenal siapa itu Shakespeare, hehehe….

Ketika kuliah di jurusan Sastra Inggris, agaknya rada memalukan kalau tidak mengenal karya-karya Shakespeare. Terlebih lagi karena dosen-dosen saya kerap menyebut-nyebut namanya. Saya sempat ke perpustakaan kampus dan membaca buku William Shakespeare, dan hasilnya … (sejujurnya) saya bingung! Bahasa yang digunakan masih jadul (atau ‘klasik’, sebutan yang lebih elegan). Bahasa Inggris klasik tidak pernah benar-benar diajarkan di kampus saya. Untuk memahami sebuah kalimat berbahasa Inggris klasik, saya waktu itu bolak-balik membuka kamus, lumayan melelahkan. Mungkin ini adalah pengakuan dosa paling blak-blakan yang pernah saya lakukan: sewaktu jadi mahasiswa Sastra Inggris, saya lebih suka menonton film yang diangkat dari karya William Shakespeare ketimbang membacanya (semoga Tuhan mengampuni saya). Kisah-kisah yang ditulis Shakespeare bagi saya lebih mudah dipahami dengan menonton televisi. Satu-satunya kalimat yang paling saya ingat dari Shakespeare adalah “what’s in a name?” (apalah arti sebuah nama?) Ketika Juliette ngomong sendiri di jendela kamarnya, sementara Romeo nguping setelah tresspassing dengan cara lompat pagar. Lain itu, tidak. Alhasil dari menonton itu adalah: saya mengetahui jalan cerita karya-karya Shakespeare, tapi tidak menghapal kalimat per kalimat -ini adalah hal yang lumayan memalukan sebagai seorang lulusan Sastra Inggris-. Mungkin saya satu-satunya orang yang mengakui hal (memalukan) ini; tapi saya tahu tidak sedikit mahasiswa Sastra Inggris (di Indonesia) yang melakukan hal sama seperti saya. Hanya saja mereka masih punya harga diri untuk tidak mengakuinya hehehehe.

Continue reading

7

Berguru pada Televisi

television-paintingTiba-tiba saya teringat pada tokoh Kenneth di serial 30 Rock. Dia adalah pegawai rendahan (kalau tidak salah posisinya Pembantu Umum) yang bekerja di sebuah televisi swasta. Kenneth yang karakternya bego-bego lugu adalah seorang yang sangat mencintai pekerjaannya. Dia bekerja dengan passion, dia bangga menjadi bagian dari sebuah televisi, apapun posisinya.

Diam-diam, saya mencoba memahami kenapa 30 Rock membuat tokoh Kenneth dalam serialnya. Dia berasal dari kampung, anak udik yang kaget dengan gemerlapnya New York City. Matanya berbinar-binar jika melihat artis mampir di NBC, tempatnya bekerja. Dia anak kampung yang hampir seluruh hidupnya bergelut dengan peternakan, kini bisa menjadi bagian televisi.

Selama hampir enam bulan saya sudah benar-benar nyemplung di telvisi, selama itu pula menjadi pembuka mata saya akan dunia televisi. Saya, pernah seperti orang-orang yang tidak setuju dengan “pembodohan televisi”, sempat menganggap televisi adalah “sampah”, dan percaya bahwa too much TV makes your brain goes bad. Tapi sebenarnya saya tidak pernah benar-benar tidak menyukai televisi. Bagi saya, jika tak ada kerjaan, dan membaca menjadi kegiatan yang membosankan (hayo ngaku deh… pasti pernah kan merasa bosan baca buku), maka saya beralih ke televisi (selain menyewa DVD atau nonton bioskop). Tapi tentu, ada kalanya juga saya bosan nonton TV, seperti saya bosan pada buku-buku. Kesimpulan pribadi: saya pikir saya lumayan seimbang menempatkan diri antara televisi dan buku.
Continue reading