10

Gerhana Kembar, Sebuah Perspektif

Saya menyebut novel Gerhana Kembar karya Clara Ng sebagai novel tentang lesbian tanpa pretensi yang mencurigakan. Novel ini bercerita tentang Fola dan Henrietta, sepasang lesbian yang menjadi tokoh utama. Dua plot utama yang ada pada novel ini yaitu pada tahun ’60-an dan pada tahun 2008. Cerita diawali dengan pertemuan Fola dan Henrietta. Pada bab berikutnya, pembaca baru tahu bahwa Fola dan Henrietta adalah tokoh fiktif sebuah naskah berjudul “Gerhana Kembar” yang tengah dibaca oleh Lendy, pada tahun 2008. Sedikit demi sedikit, terkuak bahwa naskah “Gerhana Kembar” ditulis oleh Diana, nenek Lendy yang tengah sekarat, dan cerita itu berdasarkan pengalaman Diana dengan Selina, pasangan lesbinya ketika muda.
Continue reading

25

Para Peburu Hantu -Lokal dan Internasional-

Sekitar empat atau lima tahun lalu, daripada pacaran, saya termasuk salah satu orang yang lebih memilih nonton acara¬†Dunia Lain di Trans TV. Sambil takut-takut sekaligus penasaran, saya mengumpulkan keberanian untuk menonton Dunia Lain. Segmen “Uji Nyali” di acara ini adalah bagian kesukaan saya. Saya ternganga ketika seorang ibu yang sedang uji nyali di sebuah ruangan yang ada gong besar, tiba-tiba gong tersebut bergerak-gerak. Dan tentu saja, yang paling bikin adrenalin saya berderis hebat adalah ketika mereka syuting di Lawang Sewu, Semarang –tempat paling angker sedunia! Kamera menangakap sosok setan perempuan, dan spontan peserta uji nyali teriak-teriak minta keluar. Konon, gosip yang beredar, seminggu kemudian peserta uji nyali meninggal dunia –katanya diikuti hantunya. Hiiiiiiiyyyy….
Continue reading

26

Film-Film tentang Penulis

shakespearein-love.jpg
Joseph Fiennes, pemeran William Shakespeare dalam film Shakespeare in Love
Saya adalah orang yang sangat percaya, bahwa di balik sebuah cerita fiksi, ada cerita lain, yaitu penulisnya. Stephen King dalam bukunya berkata, bahwa (kalau tidak keliru mengutip), dibutuhkan tiga hal jika seseorang ingin jadi penulis: 1) pena, 2) kertas, 3) broken home!

Hah?! Broken home? Ya, broken home!
Continue reading

3

The Forbidden Kingdom

forbiddenkingdom.jpg

Hari ini, saya girang sekali (sampai-sampai memutuskan untuk menulis di blog). Pasalnya, (akhirnya) saya nonton juga The Forbidden Kingdom. Malam minggu lalu, bersama dua orang teman dekat, saya dan suami pindah bioskom tiga kali hanya karena ingin nonton ini. Semua bioskop yang kami datangi full! Kami akhirnya pulang membawa penasaran. Hari Minggu, teman kami (yang malam sebelumnya keliling bersama ke tiga bioskop), SMS dan manas-manasin betapa kerennya The Forbidden Kingdom. Jadilah…. Maksa, hari ini bangun tidur kuterus mandi, tak lupa menggosok gigi, tak membersihkan tempat tidur, tapi langsung ke bioskop Jakarta Teater, antre beli tiket nonton The Forbidden Kingdom. Dua orang aktor yang saya kagumi sejak dulu main di film ini; Jackie Chan dan Jet Li. Satu hal yang lebih membuat saya lebih semangat lagi adalah, tema besar film ini adalah (eng ing eng…) Sun Go Kong, si Raja Kera! Hore!!!
Continue reading

9

Terapi Dapur Nigella Lawson

nigella.jpg

If you can organize your kitchen, you can organize your life
(Louis Parrish)

Ini dia perempuan yang sekitar satu tahun ini membuat saya takjub, Nigella Lawson. Sejujurnya, saya baru mengenalnya satu tahun terakhir gara-gara nonton acara dia Nigella’s Feast, Nigella’s Bites, Forever Summer with Nigella dan yang terakhir Nigella Express di kanal Discovery Travel and Living.

Tidak seperti pembawa acara masak-memasak di Indonesia yang lazim kita kenal di tv, sangat kaku, bertujuan memberi tutorial masak memasak untuk pemirsa, dan berusaha berramah-tamah (meskipun hanya satu arah). Sebaliknya, Nigella lebih personal. Konon, syutingnya pun dilakukan di rumah sendiri. Dan satu resep, disyut hingga empat kali untuk kesempurnaan hasil akhir! Lebih dari itu, kelihatan sekali Nigella berusaha menggunakan latar yang minimalis tetapi tetap berkesan hangat. Kok bisa ya? Padahal selama ini, penataan ruang yang minimalis berkesan sangat “dingin”. Tapi tidak di acara Nigella. Kesan minimalis saya tangkap dari pilihan warna barang-barang yang ada di situ, bahkan warna pakaiannya pun terlihat jelas dipilih khusus. Kesan hangat yang “tersembunyi” itu, saya dapatkan dari sosok Nigellanya sediri (yang tak bosan-bosannya tersenyum dan bercerita tentang persona dirinya sendiri), juga dari masakan-masakan yang dibuatnya.
Continue reading