1

Berdamai Dengan Air

Saya tidak akan pernah lupa nasihat ibu saya, “nyalakan air jika bak kamar mandi kosong. Isikan sampai sedikit meluber, tapi jangan biarkan air di kamar mandi terbuang banyak karena kran tak dimatikan.” Bagi ibu saya, itu bukan sekedar nasehat berhemat air, itu juga falsafah hidupnya. Menyalakan air kran kamar mandi adalah metafora rejeki. Jika tampungan kosong maka rejeki harus diisi sampai penuh dan sedikit meluber (luberan air yang sedikit itu melambangkan ‘pembersihan’). Tapi tidak boleh membuang rejeki dengan sia-sia (kran tak dimatikan). Sampai sekarang saya selalu mematikan kran air, sekaligus risih dengan kran yang tak dimatikan baik itu di rumah sendiri atau di tempat-tempat umum.
Continue reading

16

Romantisme Islami “Ayat-Ayat Cinta”

Jika banyak orang bilang bahwa tokoh Fahri dalam novel Ayat-Ayat Cinta sangat sempurna, maka saya berkata bahwa novel ini berusaha berkisah sebuah kehidupan Islami yang sempurna dari seseorang muslim (bukan ‘muslimah’, melainkan ‘muslim’). Menonton film Ayat-Ayat Cinta seraya mengingatkan saya pada Aa’ Gym. Ingat sebelum Aa’ Gym menikah untuk yang kedua kalinya? Semua ibu-ibu serasa memuja dia sebagai ‘laki-laki yang sempurna’. Setelah ia berpoligami, tiba-tiba pamornya turun drastis. Sekeras apa pun Aa’ Gym mencoba memperbaiki ‘kesalahannya’ ini, cacat tetaplah cacat. Di mata ummatnya ia bukan lagi sempurna, meskipun di program tv Kick Andy dibela-belain pake acara nangis segala.

Saya tidak tahu, apa sebenarnya yang ada di dalam pikiran muslim (sekali lagi, ‘muslim’… bukan ‘muslimah’) kita. Selama ini kita terlalu sibuk berkoar-koar mencari tahu: apakah surat An-Nisa itu sebetulnya memperbolehkan poligami atau tidak. Tapi, bagaimana dengan apa yang ada di isi kepala kaum muslim itu sendiri? Apakah mereka ingin poligami? Atau tidak ingin, meski istrinya (seperti halnya Aisya dalam novel AAC) sudah menyuruhnya menikah lagi.
Continue reading

20

Masyarakat Samin dalam Film Layar Lebar


Mbah diperankan oleh WS Rendra dalam salah satu adegan Lari Dari Blora

Masyarakat Samin adalah suku pedalaman yang ada di daerah Blora, kota kecil di Jawa Tengah. Sebagai orang yang sempat tinggal di daerah Jawa Tengah, saya lumayan akrab dengan kata “samin”. Kata ini biasanya berkembang fungsinya dalam percakapan sehari-hari sebagai ejekan yang artinya “gila”.
Continue reading

10

The Grass is Singing: Skenario Terburuk Perempuan

Nobel Kesusatraan

“Sjambok itu tergantung di depan pintu rumahnya, seperti slogan yang terpampang di dinding: Jangan ragu untuk membunuh jika memang perlu.” Demikian tulis Doris Lessing dalam novel debutnya.

Sjambok (cambuk khas Afrika) merupakan perlambang kekuasaan kulit putih yang mendominasi di Afrika Selatan. Sjambok biasa digantungkan di dinding atau pintu depan rumah orang kulit putih untuk menakut-nakuti para pekerjanya, orang kulit hitam. Seperti inilah gambaran zaman perbudakan sebelum tahun 50-an, yang menjadi latar novel The Grass is Singing.

Bagi penulis generasi sekarang, terutama di Indonesia (tak terkecuali saya), baru mendengar nama Doris Lessing ketika ia disebut sebagai pemenang Nobel Kesusastraan 2007 pada Oktober lalu. Namanya tak muncul secuil pun dalam taruhan siapa pemenang Nobel Kesusastraan 2007 yang marak di internet. Bahkan bisa dibilang, ia mungkin telah dilupakan. Pada tanggal 10 Desember 2007, perempuan berusia 87 tahun ini menerima hadiah sebesar 1,5 juta dollar AS di Kantor Pusat Akademi Nobel, Stockholm. Saya memutuskan untuk “berkenalan” dengannya melalui The Grass is Singing.
Continue reading

1

Larutan Senja

:: kisstheangel.multiply.com 

Gaya bahasanya.. wow! Imajiner, tepat pada sasaran, dan punya makna. Tadinya, saya pikir, kumpulan cerpen ini akan sama dengan kumpulan cerpen penulis2 lain. Tapi ternyata isinya jauh dari yang saya kira..

Awal mulanya, saya direkomendasikan buku ini oleh senior saya yang angkatan 2004. Katanya, sebagai mahasiswi Antropologi, saya wajib baca buku ini karena dalam buku ini mengandung unsur2 yang ‘antrop banget’. Nilai budaya, tradisi, estetika masyarakat, sampai religi (namun tidak religius).

Continue reading