<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ratih Kumala's Little Blog &#187; Short Stories</title>
	<atom:link href="http://ratihkumala.com/blog/category/short-stories/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ratihkumala.com</link>
	<description>The Only Constant is Change</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Mar 2010 17:37:17 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>&#8220;Rumah Duka&#8221;: sebuah pembacaan (kurang) seksama</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/rumah-duka-sebuah-pembacaan-kurang-seksama-296.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/rumah-duka-sebuah-pembacaan-kurang-seksama-296.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 13:24:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Short Stories]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[mirza rahadian]]></category>
		<category><![CDATA[ratih kumala]]></category>
		<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[rumah duka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=296</guid>
		<description><![CDATA[by : Mirza Rahadian

Bila cinta memiliki wajah, maka cerpen Ratih Kumala menunjukkan kecantikan cinta yang tidak umum. Sebentuk cantik yang wajar dan tidak berlebihan, yang hanya bisa dilihat cantik bila kita mampu melihat apa yang tersembunyi di balik wajah itu.

Cerpen Ratih Kumala berjudul Rumah Duka (Kompas, edisi 7 Juni 2008) mengambil tema yang mungkin telah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>by : <a href="http://k4cruterz.wordpress.com/2008/09/25/rumah-duka-sebuah-pembacaan-kurang-seksama/">Mirza Rahadian</a></strong></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/rumahduka.jpg" rel="lightbox[296]"><img class="alignnone size-full wp-image-191" title="Rumah Duka" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/rumahduka.jpg" alt="" width="400" height="365" /></a></p>
<p>Bila cinta memiliki wajah, maka cerpen Ratih Kumala menunjukkan kecantikan cinta yang tidak umum. Sebentuk cantik yang wajar dan tidak berlebihan, yang hanya bisa dilihat cantik bila kita mampu melihat apa yang tersembunyi di balik wajah itu.<br />
<span id="more-296"></span><br />
Cerpen Ratih Kumala berjudul Rumah Duka (Kompas, edisi 7 Juni 2008) mengambil tema yang mungkin telah digunakan oleh ratusan, atau bahkan ribuan, cerpen lainnya yang pernah dibuat. Sebuah tema yang usang, namun masih menyimpan kekuatan yang cukup menghentak. Tema tentang cinta yang mendua, sebuah Perselingkuhan, yang sudah umum terjadi pada hubungan berpasangan. Kekuatan tema ini terletak pada tingkat realitas yang cukup tinggi dan kedekatannya dengan para pembaca, karena hampir setiap pembaca pernah berinteraksi secara langsung ataupun tidak dengan perselingkuhan, baik sebagai korban, pelaku ataupun saksi. Realitas dan kedekatan tadi membuat cerita ini seolah mampu membangkitkan sebuah kenangan dalam kehidupan para pembaca, atau hanya sekedar renungan yang diselingi penghayatan. Pemilihan tema seperti ini memang sangat mudah mengajak pembaca masuk ke dalam cerita, tapi bila penulis kurang waspada, tulisan seperti itu malah akan menjadi seperti sebuah catatan harian yang picis. Untungnya Ratih Kumala adalah seorang penulis yang cukup handal, sehingga tema itu dapat tergali dengan cukup baik dan ditampilkan dengan cara yang unik namun masih terasa wajar. Tidak terlihat usaha untuk membuat cerita ini menjadi sebuah prosa—liris yang mengumbar kata—kata puitis dan simbolisme yang njelimet, tapi cerita ini mampu menampilkan dramatisasi dan pembentukan konflik yang baik, dan emosi cerita ini tersalurkan dengan sangat baik kepada pembaca tanpa terlihat memaksa.</p>
<p>Selain tema dan pengembangan konflik yang digarap dengan baik, cerita ini juga dengan berani menggunakan dua sudut pandang. Sudut pandang yang pertama dimunculkan adalah sudut pandang dari tokoh Istri, dan yang selanjutnya adalah sudut pandang tokoh wanita yang menjadi selingkuhan. Kedua sudut pandang ini muncul bergantian dan perpindahan sudut pandangnya terjadi dengan halus sehingga pembaca tidak kaget melihat perubahan pola tutur/gaya ujar dari kedua tokoh. Sepanjang pengalaman saya (yang terbilang tidak cukup banyak), cerita semacam ini memiliki resiko untuk membingungkan pembaca, terutama bila perpindahan sudut pandang tadi tidak diperhatikan, seperti misalnya : kedua sudut pandang menggunakan pola tutur/gaya ujar yang sama atau mirip, niscaya para pembaca akan bingung “Siapa yang sedang bertutur? Apakah tokoh A atau tokoh B?”. Selain itu, penggunaan dua sudut pandang (atau lebih) rentan membuat sang penulis kebingungan sendiri. Terutama ketika sang penulis tidak memiliki kerangka acuan yang jelas serta pola penulisan yang baik. Ratih Kumala dengan cerita ini, sekali lagi menunjukkan bahwa beliau mampu mengatasi masalah—masalah tersebut dengan sangat baik. Selain pola tutur/gaya bahasa yang khas dari masing—masing tokoh yang digunakan sudut pandangnya, penggambaran setting dan emosi dari tokoh—tokoh tersebut mampu menjelaskan kepada para pembaca (mungkin sekaligus penulis) tentang perkembangan cerita dari sebuah tokoh secara khusus tanpa sedikit pun merasa bingung.</p>
<p>Demikian hasil pembacaan saya terhadap cerpen Rumah Duka karya Ratih Kumala. Secara keseluruhan, cerita ini bisa menjadi referensi yang cukup baik bagi pembaca yang mencari sebuah cerita realis dengan tema sederhana namun menampilkan sebuah pengembangan konflik dan dramatisasi yang baik. Serta bagi para pembaca yang ingin mempelajari penggunaan lebih dari satu sudut pandang namun masih tetap luwes dan tidak membingungkan, dapat mempertimbangkan untuk membaca secara seksama cerpen ini.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Catatan: Terimakasih Mirza, sudah mengapresiasi cerpen ini :) /-rk-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/rumah-duka-sebuah-pembacaan-kurang-seksama-296.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gerhana Kembar, Sebuah Perspektif</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/gerhana-kembar-sebuah-perspektif-245.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/gerhana-kembar-sebuah-perspektif-245.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Aug 2008 05:32:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gallery]]></category>
		<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[On Writing]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Short Stories]]></category>
		<category><![CDATA[Clara Ng]]></category>
		<category><![CDATA[Gerhana Kembar]]></category>
		<category><![CDATA[Lesbian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=245</guid>
		<description><![CDATA[
Saya menyebut novel Gerhana Kembar karya Clara Ng sebagai novel tentang lesbian tanpa pretensi yang mencurigakan. Novel ini bercerita tentang Fola dan Henrietta, sepasang lesbian yang menjadi tokoh utama.  Dua plot utama yang ada pada novel ini yaitu pada tahun &#8216;60-an dan pada tahun 2008. Cerita diawali dengan pertemuan Fola dan Henrietta. Pada bab [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/clara2.jpg" rel="lightbox[245]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/clara2.jpg" alt="" title="clara2" width="400" height="533" class="alignleft size-full wp-image-250" /></a></p>
<p>Saya menyebut novel Gerhana Kembar karya Clara Ng sebagai novel tentang lesbian tanpa pretensi yang mencurigakan. Novel ini bercerita tentang Fola dan Henrietta, sepasang lesbian yang menjadi tokoh utama.  Dua plot utama yang ada pada novel ini yaitu pada tahun &#8216;60-an dan pada tahun 2008. Cerita diawali dengan pertemuan Fola dan Henrietta. Pada bab berikutnya, pembaca baru tahu bahwa Fola dan Henrietta adalah tokoh fiktif sebuah naskah berjudul &#8220;Gerhana Kembar&#8221; yang tengah dibaca oleh Lendy, pada tahun 2008. Sedikit demi sedikit, terkuak bahwa naskah &#8220;Gerhana Kembar&#8221; ditulis oleh Diana, nenek Lendy yang tengah sekarat, dan cerita itu berdasarkan pengalaman Diana dengan Selina, pasangan lesbinya ketika muda.<br />
<span id="more-245"></span><br />
Dalam novel novel sebelumnya, Dim Sum Terakhir, Clara Ng mengisahkan pertemuan empat perempuan kembar yang tiba-tiba harus pulang ke rumah masa kecilnya karena papanya terserang stroke. Di sini, keempat tokoh utama dihadapkan pada &#8216;hantu&#8217; masa lalu dan ketakutan masa depan. Papa yang sakit, yang sejak awal menjadi pemicu cerita, akhirnya meninggal dunia setelah koma. Novel ini mengambil latar kaum Tionghoa di Indonesia. Mengutip endorsment Putu Fajar Arcana untuk Dim Sum Terakhir, &#8220;Clara Ng barangkali novelis Indonesia pertama yang membeberkan persoalan-persoalan seputar keturunan Tionghoa tanpa prasangka.&#8221; Nah, seperti itu pulalah persaan saya ketika membaca Gerhana Kembar. Dengan tema besar lesbianisme, yang notabene masih sensitif di negara kita, Clara Ng bertutur tanpa prasangka. Ia seolah-olah ia tak ingin memberi jarak antara tulisannya dengan pembaca. Adegan ciuman pertama sepasang lesbian, misalnya, mampu Clara diceritakan dengan sangat lumrah. Pembaca dapat merasakan femininitas sekaligus maskulinitas yang muncul pada tokoh Henrietta. Anehnya, pembaca tidak merasa &#8216;jijik&#8217; jikapun ada seorang yang mungkin homofobia. Clara dengan sengaja mengesampingkan pendapat pembaca yang mungkin negatif terhadap kaum homoseksual. Dengan &#8216;berpretensi baik&#8217; terhadap semua orang, Clara justru berhasil memperkenalkan sisi lesbianisme kepada masyarakat umum. </p>
<p>Ada benang merah dalam kedua struktur perceritaan Dim Sum Terakhir dan Gerhana Kembar. Tokoh &#8216;orang sakit&#8217; telah menjadi tokoh yang –baik disadari atau tidak- digemari oleh penulis. Tokoh ini menjadi penting dalam kedua novel tersebut sebab menjadi &#8217;cause&#8217; keseluruhan cerita  (di dalam Dim Sum Terakhir, ada tokoh &#8216;papa&#8217; yang stroke, sedang di dalam Gerhana Kembar, tokoh Diana yang sedang sekarat). Struktur macam ini kerap digunakan oleh penulis-penulis populer Amerika, penulis-penulis yang ingin berkisah tentang belajar memaafkan dan memaklumi. Dalam Wednesday Letters karya Jason F. Wright, misalnya: Mathew, Samantha dan Malcolm, tiga bersaudara yang punya kehidupan sendiri-sendiri &#8220;dipaksa&#8221; pulang oleh sebab kematian orangtuanya, kematian inilah yang menjadi &#8217;cause&#8217;. &#8216;Effect&#8217;-nya (tentu saja), masing-masing tokoh dipaksa menghadapi persoalan yang sudah lama timbul di antara mereka.</p>
<p>Sebagai seorang pendongeng, Clara Ng tahu apa yang ingin dia ceritakan. Sebagai seorang novelis, ia adalah penulis yang mampu menulis dengan ritme sangat stabil dari awal sampai akhir. Pembaca tak akan menemukan ritme yang tiba-tiba terlalu cepat atau terlalu lambat hingga membuat bosan. Ia sangat tahu apa yang harus ditulis untuk membuat pembaca merasa ikut berempati pada sepasang lesbian yang sedang jatuh cinta. Clara bukanlah penulis yang &#8216;genit&#8217;, meski di beberapa bagian ia tergoda juga untuk menggunakan metafora-metafora, khususnya dalam surat-surat cinta Henrietta untuk Fola. Tapi kesemuanya tidak berlebihan, dan tidak membuat pembaca &#8216;mabuk&#8217;. Justru pembaca jadi sangat maklum kenapa ia meletakkan metafora itu di situ: sebagai bentuk rayuan seorang kekasih. Lebih dari itu, Clara juga bukan penulis yang &#8216;cerewet&#8217;. Agaknya ia sama sekali tidak tergoda untuk berkhotbah membela hak-hak kaum homoseksual. Padahal jika mau, ia bisa &#8220;membela diri&#8221; (baca=membela tokoh homoseksual).</p>
<p>Untuk dua novel yang sama-sama mengangkat tema lesbianisme, gaya penceritaan Clara Ng sangat berbeda dengan Herlinatiens dalam novel Garis Tepi Seorang Lesbian. Novel yang terbit tahun 2003 lalu, sempat menjadi banyak perdebatan karena membuka gamblang kehidupan seorang lesbian. Psikologi tokoh yang dibangun Herlina, antara amarah, sikap berontak, sekaligus kasmaran sangat terasa di banyak tempat. Pembaca dapat merasakan itu semua sekaligus (pada akhirnya, khusunya untuk mereka yang bukan homofobia) memakluminya sebagai bentuk perlawanan tokoh yang terjepit keadaan. Sedang, dalam Gerhana Kembar, campur aduk emosi macam itu tak akan ditemui pembaca. Clara jauh lebih cool meski tema yang ia angkat sangat mampu diperdebatkan. Belum lagi latar tahun &#8216;60-an yang dipilihnya, tahun yang masih sangat kolot, dan mungkin kata &#8216;lesbian&#8217; belum familiar di telinga kita. Sayangnya, justru karena terlalu cool inilah psikologi tokoh-tokoh dalam Gerhana Kembar jadi kurang tergali. Seorang homoseksual, sebelum ia betul-betul mendeklarasikan diri sebagai seorang homoseks, setidaknya akan mengalami guncangan batin dan &#8220;perang&#8221; dalam dirinya sendiri: apa benar saya homo, atau tidak? Salahkah saya jika saya benar-benar homoseks? Berdosakah saya? Bagaimana pandangan masyarakat dan agama? Kesemua pertanyaan itu absen baik dari tokoh Diana/Fola maupun Selina/Henrietta. Terutama Fola, sebagai tokoh perempuan yang digambarkan sangat konvensional, agak aneh jika tidak mempertanyakan itu semua. Ia begitu saja menerima Henrietta, nyaris tanpa pretensi apa-apa. Fokus kedua penulis ini memang sejak awal sudah berbeda: Clara mentikberatkan pada cerita cinta, sedang Herlina menitikberatan pada satu figur lesbian yang diciptakannya.</p>
<p>Mengenai homofobia, meskipun kata itu muncul beberapa kali di novel ini, tetapi perannya tidak terlalu dominan. Meski demikian, mungkin dengan cara seperti inilah justru cerita homoseksual bisa diterima di masyarakat luas tanpa dihakimi terlebih dahulu di awal, sampai-sampai Kompas mau menayangkannya sebagai cerita bersambung. Saya pikir, meski Clara tak ikut berkoar-koar, niat penulis untuk mengangkat tema tertentu saja sudah menunjukkan bahwa ia peduli. Tujuan Clara yang utama sepertinya cuma satu: bercerita.</p>
<p>Ratih Kumala, penulis<br />
Presentasi @GoetheHaus, 8 Agustus 2008</p>
<p>*) Foto oleh Abdillah Iqbal</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/gerhana-kembar-sebuah-perspektif-245.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Rumah Duka&#8221;</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/rumah-duka-190.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/rumah-duka-190.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 13:04:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Short Stories]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pendek]]></category>
		<category><![CDATA[duka]]></category>
		<category><![CDATA[kompas]]></category>
		<category><![CDATA[ratih kumala]]></category>
		<category><![CDATA[rumah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=190</guid>
		<description><![CDATA[Kompas &#124; Minggu, 6 Juli 2008

Hal pertama yang muncul di kepala saat laki-lakiku menamatkan sisa nyawanya adalah; mungkin perempuan itulah yang lebih kehilangan dibanding aku, istri sahnya. Ketika itu jarum jam menggenapkan pukul tiga pagi. Anak perempuanku menangis berteriak memanggil-manggil nama papahnya, gema suaranya menyayat ke sudut-sudut koridor rumah sakit. Aku menangis tertahan. Sedang anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/06/01400565/rumah.duka">Kompas | Minggu, 6 Juli 2008</a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/rumahduka.jpg" rel="lightbox[190]"><img class="alignnone size-full wp-image-191" title="Rumah Duka" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/rumahduka.jpg" alt="" width="400" height="365" /></a></p>
<p>Hal pertama yang muncul di kepala saat laki-lakiku menamatkan sisa nyawanya adalah; mungkin perempuan itulah yang lebih kehilangan dibanding aku, istri sahnya. Ketika itu jarum jam menggenapkan pukul tiga pagi. Anak perempuanku menangis berteriak memanggil-manggil nama papahnya, gema suaranya menyayat ke sudut-sudut koridor rumah sakit. Aku menangis tertahan. Sedang anak laki-lakiku menjadi bisu dan dingin.</p>
<p>Entah siapa yang mewartakan, tahu-tahu perempuan itu muncul di depan kamar rumah sakit ini. Wajahnya menghitam karena duka. Ia hendak masuk ke kamar ini, mendekati mayat suamiku. Tapi aku tak membiarkannya.</p>
<p>”Tolong…, hormati keluarga kami yang sedang berduka,” desisku. Ia menghentikan langkah, menatapku sebentar, lantas berbalik dan berlalu. Mungkin sambil menangis.<br />
<span id="more-190"></span><br />
Kami segera mengurus segala hal untuk kremasi. Rumah duka kami booking. Rangkaian bunga duka cita dari kolega-kolega suamiku mulai berdatangan. Hari ini, mayatnya dirias, sebelum diistirahatkan. Tujuh belas tahun! Tujuh belas tahun! Perempuan itu mencuri tujuh belas tahun dari tiga puluh empat tahun pernikahan kami. Aku mengumpat sambil memilih jas terbaik untuk suamiku. Aku selalu tahu, suamiku suka mencicipi banyak perempuan. Seperti kesukaannya mencicip makanan di banyak restauran (kami tak punya restauran favorit keluarga, acara makan malam di luar rumah selalu berpindah lokasi). Aku tahu, dan diam-diam aku tak keberatan, dengan syarat; perempuan-perempuan itu tetap sebagai ’makanan’ dan bukan sebagai ’anjing’. Ya, sebab jika sudah menjadi ’anjing’, berarti dia dipelihara. Kadang jika ketahuan baru ’jajan’, aku akan marah-marah. Tapi toh, diam-diam aku tak keberatan, selama jajanan tak dibawa ke rumah. Aku punya alasan sendiri untuk ini. Ia biasa beralasan tugas di luar kota, atau pulang pagi karena lembur, dan sampai di kamar ini, tanpa melepaskan kemejanya ia langsung tidur mendekap guling mirip udang. Tapi ia tetap milikku, pulang ke padaku. Hingga si jalang itu datang ke kehidupan kami. Penyanyi kafe jazz bersuara berat, berusia pertengahan dua puluh, berkulit agak gelap, dan (tentu saja) lebih langsing dariku. Aku mengobrak-abrik lemari, mencari sebuah dasi sebagai pelengkap pakaian suamiku. Ada banyak dasi, tapi yang kumaksud belum juga ketemu. Dasi yang kubelikan di Singapura.</p>
<p>Suamiku sejak kecil berlatih saksofon. Ada masa ia ingin menjadi seorang musisi, tetapi orangtuanya tak setuju. Ia mengubur impiannya. Menahan saksofon untuk sekadar hobi. Kupandangi kotak saksofon yang ditinggal empunyanya. Kubuka, warnanya masih mengkilat. Beberapa hari sebelum masuk rumah sakit, suamiku sempat membersihkan saksofon ini. Kini ia teronggok bisu di dalam kotak. Jazz adalah musik sejati suamiku. Aku pun penyuka musik, tapi sungguh… sampai ajal suamiku, aku tetap tak bisa menikmati jazz. Aku lebih suka pop dengan nada-nada slow. Musik-musik orang kebanyakan. Musik yang bisa dinikmati semua orang. Musik yang tidak eksklusif. Perhatianku teralih ke lemari lagi, masih mencari dasi yang kumaksud. Mungkin, awalnya perempuan itu hanya ’makanan’, tapi ia makanan yang diramu oleh chef yang andal, jadilah suamiku ketagihan. Lama kelamaan, ’makanan’ itu menjelma jadi ’anjing’ peliharaan. Entah kenapa, aku jadi malah membongkar seisi lemari, bahkan lemari bagian pakaianku pun isinya sudah bertebaran di lantai kamar kami.</p>
<p>Ranjang di kamarku serasa hangat, seperti tuntas ditiduri sosok manusia malam itu. Malam ketika Bim meninggal dunia. Dari pukul sembilan aku berusaha memejamkan mata, tapi tak bisa. Sudah satu minggu Bim masuk rumah sakit, dan aku (tentu saja) tak bisa menengoknya. Siapalah aku, orang luar perusuh rumah tangga orang. Meski aku cinta setinggi langit sedalam lautan, itu tak mengubah apa pun. Apalagi statusku.</p>
<p>Tujuh belas tahun lalu, Bim muncul dalam hidupku. Saat malam-malam aku masih menyanyi di sebuah kafe jazz. Dia datang bersama sekelompok teman. Salah satu dari mereka diperkenalkan sebagai istrinya, yang naga-naganya tak terlalu menikmati musik jazz. Tapi Bim kulihat sangat menghayati lagu-lagu yang kami suguhkan. Lalu, ketika ben kami istirahat sejenak, dan panggung kosong, Bim tiba-tiba maju. Dengan percaya diri ia mengeluarkan saksofon milik pribadi dan meminta ijin untuk memainkannya. Smoke Gets in Your Eyes mengalun. Aku yang tadinya hendak mengistirahatkan suara, jadi tertarik untuk bernyanyi dengan iringan tiupan saksofon Bim. Aku langsung menyambar mikrofon. Pengunjung kafe bersorak dengan penampilan kami.</p>
<p>Bim mulai jadi pengunjung setia kafe jazz. Awalnya, masih bergerombol dengan teman-temannya (kadang pula dengan istri). Lama kelamaan, teman yang ikut makin sedikit, dan akhirnya, ia lebih sering datang sendiri. Setelah ketujuh kalinya datang solo, ia menunggu hingga kafe tutup jam dua pagi. Lantas menawariku untuk diantar pulang. Ketika itu, aku sudah sangat tahu bahwa ia kerap datang hanya untuk melihatku. Kami tak langsung pulang, ia menawariku makan tengah malam. Satu-satunya tempat makan yang masih buka jam segitu, yang nyaman untuk ngobrol, adalah restauran di hotel berbintang. Kami berbincang tentang musik. Dari situ aku tahu, ia adalah pengagum Louis Armstrong. Betapa selera kami sama, dan itu adalah pemantik. Sebab hari itu berakhir dengan check-in.</p>
<p>”Istrimu…, apa dia tidak mencarimu?”</p>
<p>”Dia tahu, aku sering kerja sampai pagi.”</p>
<p>Jam lima pagi, kami check-out. Ia mengantarku pulang ke kos. Aku melanjutkan tidur dalam damai. Seks yang hebat, pikirku, habis ini ia tak akan pernah muncul lagi karena yang diinginkan sudah ia dapat. Tak pernah terpikir, bahwa malam itu hanya awal dari tujuh belas tahun hubungan kami berikutnya. Hingga ia diambil Tuhan.</p>
<p>Aku terbiasa tidur dengan ranjang yang dingin. Ia pulang ke tempat istrinya, dan hanya datang kalau sedang alasan tugas ke luar kota. Atau mampir ketika waktu makan siang. Tak sekadar untuk sex after lunch, lebih dari itu… ia bahkan datang hanya untuk makan masakanku. Ya, kami kucing-kucingan macam ini. Tapi malam itu, malam ketika ia diambil Tuhan, ranjangku hangat. Aku bisa mencium odornya di bantal, di selimut, di guling. Ia selalu tidur mirip keluwing, dengan guling didekap erat. Bahkan aku bisa merasakan aroma sisa percintaan kami. Kupandangi parfumnya di meja riasku, dan selembar celana pendeknya yang tergantung di pintu. Sedikit barang yang sengaja ditinggalkannya di sini. Aku tahu ia di rumah sakit mana, meski aku tak pernah mengunjunginya. Aku harus menemuinya! Harus!</p>
<p>Aku tak pernah menyangka bahwa suamiku akan mati terlebih dahulu. Gagal ginjal sudah lama mengancamku di sudut jalan dengan belatinya. Aku selalu bersiap ia menggorok leherku, dan mencongkel nyawaku. Bertahun-tahun aku harus menjalani cuci darah. Bertahun-tahun pula aku mencari donor ginjal. Meski kedua anakku menawarkan satu ginjal mereka untukku, aku tak mau menerimanya. Lebih baik aku cuci darah seumur hidup, ketimbang menerima ginjal itu. Sebab itu berarti aku merampas masa depan mereka. Tak sia-sia, aku menemukan ginjal di India. Malah suamiku yang tiba-tiba anfal. Maut memang suka bergurau dengan hidup. Inilah kenapa, aku diam-diam tak keberatan suamiku ’jajan’.</p>
<p>Rumah duka mulai penuh. Aku tak berhasil menemukan dasi yang kumaksud. Ia terlihat tampan dengan setelan jas Armani miliknya. Ah, harusnya kuminta ia dipakaikan kaos panjang model turtle neck saja. Dipadu dengan jas ini, tentu keren dan lebih terlihat muda. Kenapa pula aku harus memilih kemeja, kalau dasi yang kumaksud tak ketemu.</p>
<p>Perempuan itu, si jalang itu… aku tahu, ketika lama aku dirawat di rumah sakit, atau berobat ke luar negeri, pasti suamiku pergi ke rumahnya. Pembantuku yang lapor. Katanya, ”selama Nyonya pergi, Tuan juga tidak pulang.” Anak-anak lebih menjaga perasaanku, tak mau mengadukan perihal macam ini. Hal yang menyebabkan aku sedih</p>
<p>Aku tahu, suamiku masih sayang padaku. Cinta mungkin sudah tidak. Tapi sayang, masih. Dia terlihat sedih ketika lama aku sakit. Kadang membawakan makanan yang kusuka. Aku tak memakannya, karena dokter melarangku. Toh, aku cukup senang dengan perhatiannya. Maka ketika pembantuku lapor demikian, meski marah (dan sejatinya aku tak punya kekuatan untuk marah), diam-diam aku bersyukur; ada orang lain yang mengurus suamiku, melayaninya dengan baik. Bahkan bisa diajaknya perempuan itu bertukar pikiran tentang jazz yang tak pernah kupahami. Kupikir, masakkah perempuan itu cuma mau mengeruk harta suamiku? Sebab jika ya, tak mungkin usia hubungan mereka sampai belasan tahun.</p>
<p>Sehari setelah suamiku meninggal, aku baru bisa memahami air mataku. Bahwa ia mengalir untuk ’bapak dari anak-anakku’ yang kini jadi yatim (meski semua telah dewasa dan mandiri), dan bukan mengalir untuk ’suamiku’. Senyatanya aku tak merasa sekehilangan itu. Sebab meski aku memilikinya, aku tak pernah benar-benar bisa menggenggamnya. Lihat saja daftar perempuannya. Mungkin juga aku bukan istri yang baik, jika ya, tentu ia tak akan ’jajan’ di luar. Bahkan diam-diam memelihara ’anjing’.</p>
<p>Aku pernah menemui perempuan itu. Meminta dia untuk tak mengganggu rumah tangga kami. Untuk sejenak, memang suamiku kelihatan lebih banyak di rumah. Sehabis ngantor, langsung pulang. Tapi itu tak bertahan lama. Meski aku tak melihat dengan mata kepala sendiri, tapi aku tahu makin dekat. Malah kemudian, aku juga tahu suamiku diam-diam membelikannya rumah dan mobil. Ketika aku mencoba mencarinya di kafe jazz, hendak melabrak dengan murka, mereka bilang dia sudah tak bekerja di situ lagi.</p>
<p>Aku tak berhasil menemui kekasihku malam itu, malam ketika Bim dipanggil Tuhan. Aku pulang dengan hati kosong, menangis di ranjang kosong yang sudah berubah dingin. Kupeluk guling Bim, mencari sisa aroma tubuhnya di situ. Ah…, Bim… apa kau tak tahu, aku lebih kehilangan dirimu ketimbang istrimu itu? Kau milikku yang tak pernah benar-benar kugenggam. Sial kau! Gara-gara kau, aku melewati usia pernikahanku! Gara-gara kau juga, aku menahan diri untuk tidak hamil. Aku tak mau memberimu masalah, sebab kau bilang, jika aku hamil berarti itu masalah. Gara-gara kau, aku sekarang kesepian. Sial kau, Bim! Terkutuklah kau di neraka jahanam sana!</p>
<p>Aku pernah menuntut Bim untuk memilih, antara aku dan istrinya. Ia selalu bilang, tak akan menceraikan istrinya, sebab agamanya melarang. Mengajarinya untuk menikah satu kali, dan hanya sekali. Tak boleh bercerai. Aku pun tak mau dijadikan istri kedua, meski agamaku memperbolehkan poligami.</p>
<p>”Kan bisa pembatalan pernikahan!” protesku.</p>
<p>”Prosesnya tak gampang. Tahunan.” Alasannya. Biarpun tahunan, akan kutunggu kau! Toh Bim tak pernah mengajukan pembatalan pernikahan. Menurutku, bukan agama yang menjadi alasannya. Ia masih cinta. Ya, ia masih cinta perempuan itu. Ini terlihat jelas ketika istrinya sakit keras. Kata Bim, seminggu dua kali istrinya musti cuci darah. Aku sempat mengangankan, sebentar lagi kami akan jadi suami-istri. Sebentar lagi perempuan itu game over. Tapi aku keliru.</p>
<p>Meski ketika perempuan itu berobat ke luar negeri Bim tinggal di tempatku, toh ia tak berhenti membicarakan istrinya. Kenangan mereka, awal-awal pernikahan mereka dan bagaimana mereka berjuang bersama dari nol (yang tak pernah kualami), serta ketakutan karena istrinya sekarat. Aku cemburu. Sangat cemburu. Terlebih ketika tema musik jazz tak lagi menarik baginya. Lalu suatu hari, ketika telah dua minggu Bim tinggal di rumahku selama istrinya berobat, dan aku mulai merasa ia milikku sepenuhnya, tanpa harus pulang ke rumah sana, Bim menerima telepon. Ia girang bukan kepalang, dengan semangat ia bilang padaku, ”ginjalnya dapat! Ginjalnya dapat!” lalu diciumnya pipiku, saking gembiranya. Diam-diam aku menyumpah, aku marah pada Tuhan. Kenapa Ia mempermainkan perasaanku. Impian-impianku, rasa nyaman adanya Bim di rumahku, tercerabut kasar. Aku sadar lagi; Bim belum jadi milikku, dan memang tak pernah jadi milikku.</p>
<p>Obituari Bim muncul di koran pagi ini, memberitahuku ia disemayamkan di rumah duka mana. Dia masih kekasihku, meski sudah tak bernyawa. Dan aku merasa, meski tak satu hal mampu mengubah keadaan apa pun—apalagi statusku—aku tetap mencintai Bim. Setinggi langit sedalam lautan. Aku akan menyetir pelan-pelan, sambil mengisi penuh tangki keberanianku. Aku harus menemui Bim, memberinya penghormatan terakhir sebelum dia dibakar jadi abu.</p>
<p>Ia datang lagi, perempuan jalang itu. Pasti ia baca obituari di koran. Ini resikonya. Ia jadi tahu. Beberapa orang memandangi kedatangannya, beberapa berbisik-bisik. Tentu mereka tahu siapa perempuan itu dan bagaimana statusnya. Ia mendekatiku. Apa ia tak sadar, aku bisa jadi harimau yang tiba-tiba menerkam anjing buduk.</p>
<p>”Maaf, ini dasi kesayangan Bim. Mungkin dia mau memakainya.”</p>
<p>”….” Kupandangi dasi yang dilipat rapi itu. Dasi yang dua hari terakhir ini kucari-cari. Tak terpikir bahwa suamiku akan menyimpan di rumahnya. Tentu ada barang lainnya di sana. Barang-barang pribadi suamiku yang tiba-tiba hilang. Aku mengerti sekarang, rumah perempuan itu, bagi suamiku adalah rumahnya juga. Atau mungkin aku sudah tahu, tapi coba mengelak. Kuterima dasi itu.</p>
<p>”Bolehkan saya…,”</p>
<p>”Silakan.” Potongku.</p>
<p>”Terima kasih.”</p>
<p>Entah kenapa, aku seraya lega. Meski kulihat perempuan itu mencium suamiku. Suamiku yang semakin tampan dengan dasi ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/rumah-duka-190.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Foto Ibu&#8221;</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/foto-ibu-147.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/foto-ibu-147.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jun 2008 03:51:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[Short Stories]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[foto]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[kompas]]></category>
		<category><![CDATA[ratih kumala]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/blog/foto-ibu-147.php</guid>
		<description><![CDATA[
Ilustrasi oleh Wiediantoro
Sudah kupikir masak-masak; jika aku kelak membuat tato, maka tato itu adalah wajah ibuku. Akan kuukir di kulit punggungku, lebih tepatnya lagi di bagian tengah punggung agar tak kelihatan jika aku memakai baju berpunggung agak rendah, atau kaos yang terlalu tinggi potongan pinggangnya, atau baju renang. Aku tak ingin ibuku melihatnya. Tentu ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><center><img id="image148" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/foto_ibu.jpg" alt="foto_ibu.jpg" /><br />
<small>Ilustrasi oleh Wiediantoro</small></center><br />
Sudah kupikir masak-masak; jika aku kelak membuat tato, maka tato itu adalah wajah ibuku. Akan kuukir di kulit punggungku, lebih tepatnya lagi di bagian tengah punggung agar tak kelihatan jika aku memakai baju berpunggung agak rendah, atau kaos yang terlalu tinggi potongan pinggangnya, atau baju renang. Aku tak ingin ibuku melihatnya. Tentu ia akan mengamuk jika tahu aku membuat tato, meskipun itu tato wajahnya. Aku bisa membayangkan ibuku akan berkhotbah; orang yang ada gambar di kulit, shalatnya tidak akan diterima, lalu akan masuk neraka. Sayangnya aku tak percaya neraka itu ada, seperti pesimisnya aku akan keberadaan surga. Yang aku percaya adalah reinkarnasi. Tapi ibuku percaya, dan aku tak mau mengecewakannya. Cita-cita ibuku adalah: kami sekeluarga—Ibu, aku, kedua adikku, dan bapakku— masuk surga bersama-sama. Sedang cita-citaku adalah: di kehidupan yang akan datang, aku ingin dilahirkan sebagai ibu dari ibuku agar aku bisa membalas kasih sayangnya di kehidupan yang sekarang.<br />
<span id="more-147"></span><br />
Ibu pernah muda. Itulah kesimpulan yang kutarik ketika kami membuka-buka kembali album foto lama keluarga. Ia pernah menjadi gadis yang baru berkembang. Meski sekarang Ibu melarangku memakai celana pendek (terutama jika bepergian), toh kutemukan selembar foto Ibu sedang bergaya mengenakan celana pendek yang sekarang populer dengan sebuatan ”hot pants”. Ketika itu, usianya sekitar 13 tahun. Tipikal foto zaman itu, bagian tepinya dipotong dengan cara yang khas, seperti diukir. Kenapa foto-foto sekarang tidak dipotong demikian, ya? Aku tak pernah mendengar cerita Ibu punya pacar ketika berusia ABG (anak baru gede). Aku ingat ketika duduk di bangku SMP, Ibu marah-marah padaku saat seorang teman laki-lakiku mulai rutin menelepon ke rumah. Tentu saja, temanku itu naksir aku. Meski tidak naksir dia, aku tetap menerima teleponnya baik-baik. Ibu mulai rajin angkat telepon. Jika itu ditujukan untukku, Ibu kerap berkata bahwa aku sedang tidur atau sedang belajar. Jika pun disampaikan padaku, Ibu akan menginterogasinya terlebih dahulu. Ibu mulai menghapal suara teman-temanku.</p>
<p>”Ini foto waktu aku sudah lulus kuliah dan mau cari kerja,” komentar Ibu pada selembar foto hitam putih. Di foto itu, rambut Ibu kelihatan tinggi oleh sebab mengenakan wig. Menurut Ibu, pas foto zaman sekarang terlalu kaku. Semua melihat ke arah kamera. Jika kau terlalu menunduk, jidatmu yang lebar akan terlihat semakin jembar. Sedang jika terlalu mendongak, maka bibirmu kelihatan tambah maju. Belum lagi baju yang harus berkerah, semakin menambah kesan kaku. Ibu berfoto demikian baru ketika akan menikah. KUA mengharuskan foto model kaku begitu. Lalu setelah menikah, disusul pas foto kaku lainnya yang sengaja diambil secara massal berbarengan dengan ibu-ibu Dharma Wanita kelompoknya. Tentu saja latar yang dipergunakan berwarna merah, dengan seragam Dharma Wanita berkelir pink keungu-unguan.</p>
<p>”Zaman dulu, semua pas foto lamaran kerja berupa ’profil’ yang kupingnya harus kelihatan dan difoto menyamping,” jelas Ibu. Memang kelihatan lebih anggun.</p>
<p>”Zaman sekarang, kalau aku melamar kerja dengan foto model begitu, pasti tidak diterima. Bisa-bisa disangka genit pula kirim foto model gitu,” ujarku.</p>
<p>Ibu ingin aku menjadi pegawai negeri, ”Lebih bagus lagi kalau bisa kerja di bank!” ujar Ibu ketika aku baru lulus kuliah. Sejujurnya, aku tak tertarik bekerja di bank meski ada uang pensiun. Bapakku bekerja di bank. Dulu, ibuku sering bilang, ”Siapa tahu nanti bapakmu bisa memasukkanmu ke bank ini atau ke bank itu.”</p>
<p>Suatu hari aku mengantarkan Ibu pergi ke bank untuk mengambil uang (ketika itu ATM belum trend), teller-nya cantik-cantik dengan make-up tebal, seragam necis, ruang kerja ber-AC. Nasabah bergantian dilayani. Tiba-tiba aku melihat mereka mirip robot yang sudah diprogram; caranya memberi salam, melayani, tersenyum, sampai mengucapkan terima kasih. Aku keluar bank dan mendapati diriku muntah-muntah demi melihat itu semua. Sejak itulah aku bersumpah tak mau kerja di bank. Tapi Ibu punya cerita lain lagi soal bank:</p>
<p>”Waktu aku kecil,” Ibu memulai ceritanya, ”Kakekmu itu kerjanya pedagang. Kalau lagi ramai, kami sekeluarga jadi kaya. Tapi kalau lagi sepi, kami bisa kelaparan. Suatu hari, ketika kami sedang kelaparan, aku melihat ada pegawai bank yang makan bakso yang mangkal di depan kantornya. Mereka bisa mengambil sendiri bakso yang mau dibeli. Sejak itu, cita-citaku ingin kerja di bank atau punya suami pegawai bank.” Dan, ternyata Tuhan mengabulkan doa-doa ibuku (ngomong-ngomong cerita ini kerap diulang-ulang dituturkan padaku).</p>
<p>Kami membuka-buka kembali album foto yang berserakan. Aneh, begitu banyak gambar Ibu, tetapi kesemua seolah hanya bercerita tentang satu cerita. Jika dipikir-pikir, ibuku itu sebetulnya hobi difoto. Ada banyak gambar dengan kostum yang berbeda-beda. Entah itu sedang duduk di depan kaca, sambil memegang bunga, mengenakan pashmina, duduk di bangku taman, berdiri di dekat sebuah mobil (yang zaman itu) mewah, dan lain-lain. Aku jadi geli sendiri. Bahkan aku pun tidak se-banci-kamera itu. Terakhir aku niat difoto dengan mimik cantik dan pakaian anggun adalah setelah Ibu berhasil memasukkanku untuk kursus pengembangan kepribadian. Menurut Ibu, anak gadis satu-satunya ini terlalu tomboy, kursus itu dianggapnya mampu menyelamatkan masa depanku.</p>
<p>Foto pernikahan Ibu yang dicetak besar hanya ada satu, yaitu ketika difoto bersama orangtua dan mertuanya (kakek dan nenekku). Ibu dan bapakku berpakaian adat Jawa, lengkap dengan paes dan blangkonnya. Mereka menikah dengan pakaian adat Yogyakarta. Konde Ibu kempis. Mungkin zaman itu belum musim pengantin dihairspray. Di foto ini, Ibu dan bapakku kelihatan serius dan agak tegang.</p>
<p>”Dulu sebelum bapakmu, pacar Ibu pilot.” Kuingat Ibu pernah bercerita demikian. Dulu…, dulu sekali, waktu aku masih SD. Lalu aku membayangkan punya bapak yang bisa menerbangkan pesawat. Pasti keren.</p>
<p>”Kok tidak menikah sama yang itu saja, Bu?” tanyaku waktu itu.</p>
<p>”Dia meninggal, pesawatnya kecelakaan,” ujar Ibu. Seraya gambar pesawat di kepalaku terlihat njebluk ke tanah. ”Lagi pula, kalau Ibu menikah sama dia, kamu tidak bakalan lahir,” sambung Ibu.</p>
<p>Aku tak pernah menanyakan lagi pada Ibu tentang pacarnya yang dulu. Yang kutahu kemudian, Ibu cukup bahagia hidup dengan bapakku. Ada aku dan adik-adikku yang meramaikan hidup mereka. Aku tak pernah membaca kesusahan di wajah Ibu, tak pula membaca kegirangan yang teramat sangat. Hidup ibuku berjalan seperti seharusnya kehidupan seorang perempuan; sekolah, menikah satu kali, membesarkan anak, mengurus rumah, menjahit, menanam bunga, sementara suaminya bekerja.</p>
<p>Gagal menikah dengan pilot, cintanya tertambat pada seorang pegawai bank. Baginya, kerja di bank berarti kemapanan; ada gaji tetap, ada tunjangan untuk keluarga, ada uang pensiun. Singkatnya, kehidupan terjamin.</p>
<p>Ibuku selalu bilang bahwa seorang istri membawa rezeki sendiri-sendiri bagi suaminya. Setelah menikah dengan Ibu, karier bapakku terbukti menanjak. Mereka memulai hidup dari nol. Hingga kemudian bisa beli tanah, beli mobil, bikin rumah yang bagus. Konon, sampai-sampai kakekku ketika berkunjung ke rumah baru mereka bergumam begini, ”Masya’allah…, anakku bisa bikin rumah sebesar ini!” Tapi aku lalu menemukan kenyataan lain; teman sekolahku, bapaknya kerja jadi tukang becak. Jelas-jelas itu bukan karier yang menanjak. Aku bertanya-tanya, apa dulunya sebelum orangtua temanku menikah, bapaknya itu pengangguran? Sehingga jadi tukang becak saja berarti sudah merupakan kenaikan pangkat. Hingga suatu hari aku membuka-buka sebuah majalah tua, sebuah artikel menarik perhatianku; ’Letak Tahi Lalat dan Artinya’. Aku menemukan satu rahasia! Ibuku punya semacam tahi lalat di ujung jemarinya, tepatnya di salah satu jari manis tangannya. Konon, perempuan dengan tahi lalat di posisi ini, membawa rezeki untuk suaminya! Tiba-tiba aku jatuh kasihan, ibunya temanku pasti tidak punya tahi lalat di ujung jarinya….</p>
<p>Kubandingkan foto-fotoku dengan foto-foto ibuku. Ada gambar aku cemberut, tertawa keras-keras, bergaya ala rapper, sampai foto aku menangis gara-gara rebutan bantal kesayangan dengan adikku. Foto-foto Ibu, tak ada satu pun yang berekspresi berlebihan. Wajahnya selalu dengan senyum tertahan yang tak genap menjadi sunggingan. Ibu bahkan sangat jarang memperlihatkan geliginya di foto. Mimiknya selalu tenang. Ia tahu sudut mana dari wajahnya yang paling apik ketika difoto. Rambutnya pun tak pernah tak rapi. Berbeda denganku, yang bersisir pun malas. Bahkan ada fotoku yang baru bangun tidur dengan rambut acak-acakan. (Taruhan, ibuku pasti tak akan mau difoto ketika bangun tidur). Ibu selalu menganggapku terlalu emosional, mungkin Ibu benar. Buktinya, lihat saja foto-fotoku. Mulai dari menutup pintu yang menurutnya terlalu keras (aku selalu menganggap ini bukan salahku, melainkan salah pintunya yang susah dibuka-tutup), berjalan dengan langkah yang terlalu tergesa, hingga memencet mesin ketik dengan keras sehingga menimbulkan bunyi berisik (dan menurutku ini pun salah mesin ketiknya yang terlalu keras untuk dipencet). Ketika aku marah akan suatu hal yang mengesalkan, ibuku mengingatkan bahwa berdoa lebih baik ketika sedang merasa teraniaya. Sebab Tuhan akan menjamin doamu terkabul. Tentu ini lebih baik ketimbang marah-marah tak jelas juntrungannya. Ketika aku sedang senang dan tertawa cekikian dengan teman-teman pun, Ibu tak alpa mengingatkan, ”Jangan terlalu girang!” Sebab bisa saja setan lewat dan mengubah segala kesenangan jadi musibah.</p>
<p>Aku tak pernah mengingat Ibu menangis, tidak sebelum kejadian itu; ketika foto seorang anak ditemukan di dalam dompet Bapak. Ketika itu, aku sudah tahu…, dan Ibu pun sebetulnya tahu…, tapi tak ada dari kami yang berani mengutarakannya. Toh Ibu masih berusaha berpikiran baik perihal kemungkinan-kemungkinan foto seorang anak yang ketinggalan dan dipungut bapakku di pinggir jalan. Ia tak menanyakan langsung pada Bapak. Hingga detik ia tak mampu lagi menahannya; aku bersembunyi di ruang sebelah sambil memasang kuping lebar-lebar. Ibu menangis sambil membanting pot kembang plastik yang tak pecah. Bapak mengaku; foto itu adalah anak Bapak dari perempuan lain. Sementara setelah kejadian itu aku mengeluarkan segala sumpah serapah kebun binatangku pada Bapak, sedang ibuku cuma bilang, ”Bapakmu…, aroma surga pun tak akan pernah diciumnya!” Itu kalimat paling kasar yang pernah diucapkannya. Ibuku terdiam lagi ketika pembantu kami mengelap air dan menyelamatkan nyawa tanaman hias yang tumpah dari pot kembang.</p>
<p>Ibuku, seperti foto-fotonya, tahu sisi mana yang paling apik yang harus diperlihatkan kepada orang lain. Kepadaku. Meski itu berarti ia harus menahan diri. Aku tahu Bu, sesekali kau ingin girang menari. Maka, izinkanlah jarum bertinta itu bermain di kulitku, kau boleh berdansa di punggunggku.***</p>
<p>Dimuat di <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/01/01224884/foto.ibu"><em>KOMPAS</em> | Minggu, 1 Juni 2008</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/foto-ibu-147.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Ah Kauw&#8221;</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/ah-kauw-72.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/ah-kauw-72.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Feb 2008 10:17:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[Short Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/blog/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[
Sudah hampir dua puluh lima tahun Ah Kauw menjadi penggali kubur. Jika kau mengira ia bekerja sebagai penggali kubur bagi mereka yang mati, maka kau salah.
Tadinya ia menggali kubur untuk orang yang sudah mati, seperti penggali kubur kebanyakan. Sampai suatu hari, Koh Hien, orang yang dikenal Ah Kauw sebagai pemilik toko yang menjual barang-barang untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><center><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/ahkauw-web.jpg" alt="" /></center></p>
<p>Sudah hampir dua puluh lima tahun Ah Kauw menjadi penggali kubur. Jika kau mengira ia bekerja sebagai penggali kubur bagi mereka yang mati, maka kau salah.</p>
<p>Tadinya ia menggali kubur untuk orang yang sudah mati, seperti penggali kubur kebanyakan. Sampai suatu hari, Koh Hien, orang yang dikenal Ah Kauw sebagai pemilik toko yang menjual barang-barang untuk keperluan kematian orang-orang Tionghoa, menawarinya pekerjaan yang lebih menghasilkan uang di Jakarta.</p>
<p>Baca selengkapnya di sini: <a href="http://entertainmen.suaramerdeka.com/index.php?id=683">Suara Merdeka, 17 Februari 2008</a> (Home-Entertainment-Cerpen)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/ah-kauw-72.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;The Man Across The Street&#8221;</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/the-man-across-the-street-68.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/the-man-across-the-street-68.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Feb 2008 11:11:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[Short Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/blog/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[
Would you believe I have been in this nursing home for 20 years? I wonder why I have outlived all my friends. It&#8217;s not like I ever prayed for a drawn-out &#8220;life-sucking&#8221; existence.
Being old is no fun. I have had three strokes and three heart attacks. My doctor reckoned the third heart attack would take [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><center><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/cerpenjakpos.gif" alt="" /></center><br />
Would you believe I have been in this nursing home for 20 years? I wonder why I have outlived all my friends. It&#8217;s not like I ever prayed for a drawn-out &#8220;life-sucking&#8221; existence.</p>
<p>Being old is no fun. I have had three strokes and three heart attacks. My doctor reckoned the third heart attack would take me out. He was wrong.</p>
<p>My kids and grandchildren say they are happy I&#8217;m still here.</p>
<p>So why did they put me in a home? I hate it here; gathered together with the other old folk.</p>
<p>I want to be cremated like my friends. I want my ashes to be poured into the sea, as were my son&#8217;s and my husband&#8217;s more than 10 years ago.</p>
<p>Baca lanjutannya / Read more at <a href="http://209.85.175.104/search?q=cache:D2QZGqW9EQgJ:www.thejakartapost.com/yesterdaydetail.asp%3Ffileid%3D20080217.I13+the+man+across+the+street,+ratih+kumala&#038;hl=en&#038;ct=clnk&#038;cd=3&#038;client=safari">The Jakarta Post, 17 February 2008</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/the-man-across-the-street-68.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita tentang Ipah dan Kucing-Kucingnya</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/kronik-betawi-sebuah-novel-32.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/kronik-betawi-sebuah-novel-32.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jan 2008 17:32:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Short Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/blog/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Kronik Betawi, Sebuah Novel:
Different are the rewards of those who come to heaven; hapines is bestowed on them; delightful their state; verily they have arrived in the land of silver. Truly yoy are directed to a place which is exalted, pointed by Dewas, who preside at death and become your guide; because the dead are [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kronik Betawi, Sebuah Novel:</strong></p>
<blockquote><p>Different are the rewards of those who come to heaven; hapines is bestowed on them; delightful their state; verily they have arrived in the land of silver. Truly yoy are directed to a place which is exalted, pointed by Dewas, who preside at death and become your guide; because the dead are mixed in a land which is wide and level, are given occupations and quickly go, each flying to the first place until arrive at the seventh</p>
<blockquote><p>-<strong>Sir Thomas Stamford Raffles</strong>: <em>History of Java,</em> page cxxix-</p></blockquote>
</blockquote>
<div style="text-align: center"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/kucing3.jpg" /></div>
<p>Tidak sejak Juleha kecil ibunya hobi memelihara kucing. Kesenangan itu mulai muncul ketika ia selesai menikahkan anaknya yang paling kecil, Juleha, dengan Jiih. Suaminya, Bung Juned, semakin lama semakin lebih betah tinggal di Serang, di rumah bini ke duanya. Apalagi setelah anak terakhir mereka menikah. Seakan-akan Bung Juned sudah tidak punya tanggungan lagi di rumah bini pertamanya. Tak sampai satu tahun Juleha menikah, seekor kucing kampung datang mendekati Ipah. Ketika itu ia tengah menunggu suaminya pulang, seperti kemarin-kemarin. Tetapi laki-laki itu tak kunjung datang; ia tak pernah memberitahu Ipah kapan bakal kembali, dan berapa lama ia akan di Serang. Toh setiap hari, selayaknya bakti setia seorang istri, Ipah menyiapkan makanan untuk dua orang.</p>
<p><span id="more-32"></span>Ketika itu sudah menjelang magrib, dan ia tahu betul… hari itu suaminya tak akan datang. Hanya satu yang dipikirannya; betapa sia-sianya masakan yang telah ia buat. Ia selalu membuang makanan-makanan itu, kalau tidak pusing-pusing mencari pengemis lewat untuk diberikan. Ya, hanya itu. Ia tak punya lagi rasa amarah atau sedih pada suaminya. Perasaan macam itu sudah habis bertahun-tahun lalu, ketika laki-lakinya membawa pulang seorang anak kecil yang merupakan anak dari bini kedua suaminya. Ketika ia memandangi jalan depan rumahnya, berharap laki-lakinya muncul untuk menghabiskan makanan yang telah ia siapkan, suara meong-meong mengganggunya. Seekor kucing kurus dengan bulu abu-abu belang yang entah datang dari mana sudah ada di kakinya, memandangi wajah Ipah sambil mengeong tak henti-henti. Ipah sebetulnya tak terlalu menyukai kucing, ia merasa jika menyentuh tubuh kucing rasanya lembek. Lagipula, kucing itu binatang yang licik, ia mencuri makanan di meja, atau ikan di akuarium, atau burung di dalam sangkar, atau hamster peliharaan musiman, jika si empunya rumah sedang lengah. Tapi entah kenapa sore itu ia merasa ingin berramah-tamah pada kucing nyasar itu.</p>
<p>“He… kamu nyasar ya?” sapa Ipah waktu itu, disambung dengan meong-meong lagi. Ipah langsung masuk ke rumahnya, mengambil makanan jatah untuk suaminya dan diberikannya pada kucing itu. Hantinya lega, masakannya tak sia-sia.</p>
<p>Keesokannya, siang setelah Ipah selesai memasak (sekali lagi masak untuk dua orang), ia kembali mendengar suara yang mengeong-ngeong. Ipah menuju ke pintu depan, didapati kucing itu lagi.<br />
“Kamu nyasar lagi?” sapa Ipah.</p>
<p>Toh ia tahu, laki-lakinya tak akan datang lagi hari itu. Dan aroma ikan kuek yang baru selesai digorengnya memang harum membanjiri ruangan, membuat siapa pun yang mencium pasti akan lapar. Tak terkecuali kucing nyasar itu. Ipah cepat-cepat mengambil piring plastik, mengisinya dengan ikan kuek yang dihancurkan bersama nasi hangat. Si kucing nyasar makan dengan lahapnya. Setelah kenyang, kucing itu pergi, dan menjelang margib kembali ia datang sambil mengeong untuk minta makan.</p>
<p><img align="right" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/kucing2.jpeg" />Kucing itu adalah kucing paling santun yang pernah dikenal Ipah, ia tak pernah masuk ke rumah. Apalagi mencuri, sama sekali tak pernah dilakukannya. Selalu di depan pintu masuk, ia juga menghabiskan makanannya di depan pintu masuk. Suatu hari, Bung Juned datang. Ini berarti ia memakan makanan buatan Ipah yang memang sudah disediakan. Toh, Ipah masih ingat dengan kucing nyasar itu. Ia menyisihkan sedikit makanan untuk binatang tersebut. Ditunggunya hingga selesai Isya’, kucing itu tak juga datang. Ipah meninggalkan jatah makanan kucing itu di depan rumahnya. Hingga pagi, didapatinya makanan itu masih utuh. Menjelang siang, Ipah mengganti makanan jatah kucing yang sudah basi dengan yang baru, kembali ia letakkan di depan pintu. Kucing nyasar itu tak juga datang. Ketika Ipah mendengar suara mengeong-ngeong, ia segera ke depan. Dilihanya dua ekor kucing menyerbu jatah si kucing nyasar. Mereka hendak berkelahi memperebutkan makanan itu. Ipah, dengan kesal mengambil segayung air dari kamar mandi, dan menyiram ke arah kucing-kucing yang bulu-bulunya mulai berdiri karena bersitegang. Membuat dua ekor kucing itu lari tunggang-langgang dengan ngeongan ketakutan yang tercekik dan menghilang di udara. Kucing-kucing itu bukanlah si kucing nyasar yang ditunggunya.<br />
“Pah, ngapain lu naro-naro makanan di situ? Entar kalo kucing-kucingnya pada masup rumah, pegimane?” komentar Bung Juned, Ipah diam saja. Lalu mengambil piring si kucing nyasar yang makanannya tinggal separo dan berantakan.</p>
<p>Dua hari Bung Juned tinggal di rumah, dua hari pula si kucing nyasar tidak datang. Hari ke tiga, Bung Juned pergi ke rumah bini ke dua. Sorenya, kucing nyasar datang mengambil jatah makanannya.</p>
<p>“Kok kemaren gak dateng?” tanya Ipah, sembari jongkok melihat kucing itu makan dari piring plastik. Tentu saja kucing tiu cuma bisa mengeong. “Lu kucing nyasar dari mane?” tanya Ipah lagi, kali ini ia mencoba mengelus-elus leher kucing. Lembek, pikirnya. Ia merasa sedikit merinding menyentuhnya, namun ia kembali mengelus-elus kucing itu. Tak terlalu buruk, makhluk itu tak menggigit atau mencakarnya, pikir Ipah. Dan kucing itu kembali mengeong kecil sambil terus menghabiskan jatah makannnya.</p>
<p>Lama-kelamaan, Ipah memanggilnya ‘Nyasar’, karena sampai ia tak pernah tahu dari mana kucing itu datang. Atau mungkin karena ia terlalu malas mencari nama yang pantas untuk seekor kucing kampung yang jelek. Dan Ipah semakin memperhatikan, bahwa setiap kali Bung Juned ada di rumah, Nyasar tak pernah datang. Ipah memperbolehkan Nyasar masuk ke rumah. Ditemaninya perempuan itu ketika nonton televisi, atau duduk-duduk di belakang sembari melihat empang. Bahkan ketika ia masak, dan Nyasar –seperti seorang yang gentleman- tak pernah mencuri masakan Ipah. Kucing-kucing lain, yang tahu ada seorang ibu-ibu baik hati mau memberi makan kucing, tentu saja mulai berdatangan. Ipah tak keberatan memberi kucing-kucing itu makanan. Ia tak memberi nama bagi kucing-kucing itu, dan ia tak memperbolehkan kucing-kucing lain masuk ke rumahnya selain Nyasar.</p>
<p>Ketika Bung Juned sakit, dan cukup lama lelaki itu tinggal di rumah yang ditempati Ipah, Nyasar sama sekali tak pernah datang. Jika lelaki itu pindah ke rumah istri ke duanya, kembali Nyasar datang lagi. Ketika Bung Juned sakit cukup parah, dan telah hampir satu bulan Ipah menjaga suaminya setelah laki-laki itu memaksa pulang dari rumah sakit, tiba-tiba seorang perempuan dengan dua orang anak laki-laki dan perempuan yang masih remaja, muncul di depan pintu rumah Ipah. Ketika itu, anak-anak Ipah dan Bung Juned; Jaelani, Jarkasi, Juleha dan masing-masing dengan istri serta suaminya, juga telah datang berkumpul. Tetangga-tetangga pun ada yang berkumpul di situ, menengok Bung Juned.<br />
Semua mata memandangi perempuan dan dua anaknya itu, yang langsung mendekati Bung Juned. Perempuan itu memandang sinis pada Ipah, lalu ia berbisik pada Bung Juned, “Bang, Abang pulang aje yuk…. Biar aye bisa urus Abang di rumah.”</p>
<p><img align="left" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/kucing1.jpeg" />“Ini juga rumah die!” sahut Ipah dengan tegas, malah bisa dibilang setengah berteriak. Membuat semua yang ada di situ tersedot perhatiannya pada dua perempuan yang tak bisa dibilang muda itu.</p>
<p>“Saye bininya, punya hak ngurus Bang Juned!” sahut perempuan itu.<br />
“Gue lebih-lebih lagi, punya hak ngurus die. Elu itu cuma dateng belakangan!” sahut Ipah. Perempuan itu seumur-umur tak pernah marah, baru kali itulah ia membentak-bentak. Bahkan anak-anaknya pun terkejut dibuatnya.</p>
<p>Sementara Bung Juned membuka mulut, tanpa ada kata-kata jelas yang keluar dari mulutnya. Tapi semua orang yang hadir tahu, Bung Juned meminta keduanya untuk tidak berkelahi. Kelima anak-anak Bung Juned; tiga orang dari Ipah dan dua orang dari bini ke duanya, mendekati Bung Juned. Jarkasi mendekatkan telinganya ke mulut bapaknya.<br />
“Katenye… Serang.” Ujar Jarkasi dengan kecewa.</p>
<p>Perempuan itu tersenyum menang. Ia menyuruh dua anaknya untuk membantu mengangkat Bung Juned. Jiih, Jarkasi dan Jaelani juga membantu mengangkat Bung Juneh ke dalam mobil. Tiba-tiba Bung Juned berkata bersuara kembali, jelas dan parau, “Pah… Pah…!” sahutnya. Ia memanggil Ipah yang mulai terpuruk sedih. Istri keduanya berusaha menenangkan, menyuruh Bung Juned diam. Tetapi Bung Juned tetap berkata, “Pah… Pah…!” Ipah cepat-cepat menghampiri suaminya. Mendekatkan telinganya ke mulut suaminya. Tangan lelaki itu menarik wajah Ipah, dan mencium pipinya, membuat istri keduanya menahan napas di dada dengan tatapan kesal. Lalu cepat-cepat menyuruh semua yang membantu Bung Juned memasukkan lelaki itu ke dalam mobil. Perempuan itu menyuruh anaknya cepat-cepat tancap gas. Bahkan pamitan pun tidak.</p>
<p>Ipah, yang ditinggal, mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali suaminya mencium pipinya. Tapi tak berhasil diingatnya, sementara hangat bekas bibir dan aroma sakit laki-lakinya masih tersisa di wajahnya. Ia menangis tertahan, suaranya tak keluar dan tubuhnya seraya lemas. Perempuan itu jatuh terduduk di depan rumahnya. Para tetangga melihatnya, beberapa ibu-ibu tetangga ada yang tak sadar ikut menangis melihat pemandangan barusan. Anak-anaknya lantas mencoba membantu ibunya duduk di kursi depan.</p>
<p>“Istighfar Nyak, istighfar…” hanya itu kata-kata yang berulang-ulang diucapkan anak-anaknya. Tiba-tiba kakinya merasakan benda lembek, Ipah terkaget, ia menengok ke bawah. Nyasar, si kucing, berputar-putar di kaki tua perempuan itu. Kucing itu datang, tepat ketika lelakinya pergi. Entah bagaimana, saat itu juga Ipah tiba-tiba merasa lega.</p>
<p>Tak lama setelah itu, Bung Juned minta dibawa ke rumah Ipah. Ketika dalam perawatannya, Bung Juned meninggal. Tak bisa dibayangkan betapa leganya hati Ipah, suaminya meninggal ketika dalam perawatannya, dan bukan bini ke duanya. Ini adalah cita-cita luhurnya setelah menikahkan ketiga anaknya sudah terlaksana. Segera setelah Bung Juned selesai meregang nyawa, Ipah menyuruh anaknya untuk menelepon bini ke dua Bung Juned.</p>
<p>“Enyak, apa-apaan sih, ngapain pake telepon tuh perempuan?!” protes Juleha waktu itu.<br />
“Mau gimana-gimana juga mereka punya hak, Ha. Di sana kan ada anak-anaknya juga,” ucap Ipah.</p>
<p>Perempuan ke dua Bung Juned awalnya merengek meminta suaminya dikubur di Serang, ia menangis histeris di telepon. Minta segera lelakinya dikirim dengan ambulance. Jaelani yang awalnya berbicara di telepon bingung harus bicara apa. Ia lalu mendiskusikannya dengan Jarkasi dan Juleha yang ada di sebelahnya. Juleha langsung menyambar teleponnya dan mempertegas; “heh, orang mati hukumunya wajib cepet-cepet diurus. Kalau mau dateng syukur, enggak juga syukur!” Lalu telepon ia putus dengan kesal. Juleha berlalu sambil bersungut-sungut, membuat kedua kakaknya terkagum-kagum dengan Juleha yang ternyata juga bisa galak.</p>
<p><img align="right" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/kucing.jpeg" />Akhirnya perempuan itu datang ketika hari sudah turun gelap sempurna. Matanya bengkak, hidungnya kemerahan. Wajahnya suram tanpa make-up, dan ia berusaha menutupi dengan kerudung hitam yang menyampir menutupi hampir seluruh jidatnya. Betapa ia menyesali tak tiba sejak awal sehingga tak bisa memandikan suaminya untuk yang terakhir kali. Nyasar datang ketika Bung Juned selesai dimandikan, kucing itu langsung masuk mendekati Ipah. Ipah menyuruhnya menunggu di luar, sebab rumahnya akan dipakai untuk salat mayat. Keesokan harinya, pagi-pagi, ketika embun masih basah di ranting-ranting, Bung Juned dikuburkan. Sejak itu pula Nyasar punya rumah tetap. Ia tak pergi-pergi lagi.</p>
<p><strong>Catatan:</strong> cerita ini merupakan penggalan dari <em>Kronik Betawi</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/kronik-betawi-sebuah-novel-32.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Tulah&#8221;</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/tulah-87.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/tulah-87.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Dec 2007 17:00:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[Short Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/blog/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[
foto oleh place light -on a project-, some rights reserved
Darah Domba di Pintu Budak.
Masuk, Joshua. Jangan kau tonton kematian itu. Biarkan malaikat maut tunaikan tugasnya. Itu sudah menjadi titah embannya. Menyedihkan bukan? Andai terkaruniai akal, tentu malaikat maut akan menangisi nasibnya. Beremban tugas yang paling tidak menyenangkan di dunia: mencabut nyawa. Ah, tentu dia akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://farm4.static.flickr.com/3282/2316236969_5a943f9555_o.jpg" alt="" /><br />
<small>foto oleh <a href="http://www.flickr.com/photos/place_light/33386589/in/set-523745/">place light -on a project-</a>, some rights reserved</small></p>
<p><strong>Darah Domba di Pintu Budak.</strong><br />
Masuk, Joshua. Jangan kau tonton kematian itu. Biarkan malaikat maut tunaikan tugasnya. Itu sudah menjadi titah embannya. Menyedihkan bukan? Andai terkaruniai akal, tentu malaikat maut akan menangisi nasibnya. Beremban tugas yang paling tidak menyenangkan di dunia: mencabut nyawa. Ah, tentu dia akan berpikir sama dengan kita, bahwa dunia ini tak adil dan keadilan harus diperjuangkan. Seperti kita. Dan seperti aku, mungkin dia akan jadi pemberontak. Setidaknya mempertanyakan ulang cara kerja segala sistem aturan. Seperti kita.</p>
<p>Ayo, lekas tutup pintu, Joshua. Biarkan kematian lewat dan kita dengarkan jeritan-jeritan para ibu demi malam yang dikutuk ini, sekaligus malam pembebasan bagi kita sebab anak laki-laki sulung mereka akan mati. Mulai dari anak sulung domba, sapi milik mereka, para pengikut hingga anak sulung Firaun. Lalu mereka akan melihat kebenaran yang sudah lama kugembar-gemborkan namun tak hendak didengarkan.<br />
<span id="more-87"></span><br />
<strong>Aku, Laut Belah.</strong><br />
Namanya Miryam. Aku mengenalnya saat ia mengambil rebana dan semua perempuan mengikutinya memukul rebana serta menari-nari. Mereka bernyanyi, sebuah lagu panjang yang syairnya tak putus seperti lingkar. Ombakku bernyanyi di kunci F, saat Miryam dan para perempuan itu bernyanyi di kunci G. Aku ikut girang hingga tubuhku penuh gelombang. Orang-orang menyebutku Teberau. Tapi aku memanggil diriku sendiri Si Laut Belah. Kuceritakan padamu, kenapa aku memberi julukan itu pada diriku sendiri. Masih segar dalam ingatanku, hari itulah aku mengenal Miryam, perempuan yang mendekap buntalan berisi roti tak berragi dan selingkar rebana.</p>
<p>Ketika itu hari tenang. Tak ada Badai, temanku yang kadang berkunjung. Langitpun cerah, yang ada hanya langit terang kehijauan, saat sekelompak orang berbondong-bondong eksodus. Wajah mereka kebingungan dan salah satu dari mereka berteriak dengan marah, &#8220;Apakah kamu akan menjadikan lelaut ini sebagai kubur kami, Musa?&#8221;</p>
<p>Republika, 11 November 2007</p>
<p>Baca selengkapnya di <a href="http://209.85.175.104/search?q=cache:ovu2p1WNB_UJ:www.republika.co.id/koran_detail.asp%3Fid%3D313390%26kat_id%3D364">Republika</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/tulah-87.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepotong Tangan</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/sepotong-tangan-24.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/sepotong-tangan-24.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Sep 2007 07:24:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[Short Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/blog/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[
(dimuat di Republika, 5 Agustus 2007)
Pagi saat istrinya tak lagi bangun dari tidur, ia menunggu cukup lama di samping perempuan tua itu. Itu adalah pagi yang tak sama dengan 37 tahun pagi hari sebelumnya. Biasanya, istrinya selalu bangun lebih dahulu. Menyiapkan sarapan, sedikit berdandan, lalu jika perempuan tersebut sedang ingin memanjakan suaminya, ia akan membawa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/vignet%20ony.gif" /></p>
<p>(dimuat di <em>Republika</em>, 5 Agustus 2007)<br />
Pagi saat istrinya tak lagi bangun dari tidur, ia menunggu cukup lama di samping perempuan tua itu. Itu adalah pagi yang tak sama dengan 37 tahun pagi hari sebelumnya. Biasanya, istrinya selalu bangun lebih dahulu. Menyiapkan sarapan, sedikit berdandan, lalu jika perempuan tersebut sedang ingin memanjakan suaminya, ia akan membawa sarapan ke atas kasur. Membiarkan aroma harum kopi susu menguar ke hidung lelaki terkasihnya dan membuatnya terjaga. Sambil berterimakasih, laki-laki itu selalu mencium punggung tangan istrinya. Ia akan terus memegangi tangan istrinya sambil memakan sedikit-sedikit telur orak-arik sarapannya serta menyeruput kopi susunya sampai tertinggal ampas di dasar cangkir.</p>
<p><span id="more-24"></span></p>
<p>Baca selengkapnya di: <strong><a href="http://tandabaca.com/cerpen/cerpen09.html">Tanda Baca</a></strong> atau <strong><a href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=302483&#038;kat_id=364">Republika</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/sepotong-tangan-24.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gin Gin from Singaraja</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/gin-gin-from-singaraja-22.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/gin-gin-from-singaraja-22.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Sep 2007 07:13:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Short Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/blog/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[ 

 
Her name is Ni Made Ginarni, “but just call me Gin Gin, OK . . .” she asks. I smile while saying: “your name sounds unique and cute”. Then, she explains that at home, she is called Made, but sometimes Kadek, meaning the second child, “but at school, I was called Adek Gin,” she adds. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<div style="text-align: center"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/arts-bali.jpg" /></div>
<p> </p>
<p>Her name is Ni Made Ginarni, “but just call me Gin Gin, OK . . .” she asks. I smile while saying: “your name sounds unique and cute”. Then, she explains that at home, she is called Made, but sometimes Kadek, meaning the second child, “but at school, I was called Adek Gin,” she adds. Then, she laughs, showing her teeth. A pleasant laugh.</p>
<p><span id="more-22"></span></p>
<p>Gin Gin really likes talking and snacking. I meet her in the bus when I am going to the East Java because of work. Gin Gin will go home to Singaraja, “where are you getting off, kak?” she asks.</p>
<p>“Banyuwangi,” I answer shortly.<br />
“Well . . . this means that kakak won’t cross the strait with me then?” she says with a disappointed expression.<br />
“Yes, I will be picked up in Ketapang,” I explain.<br />
“I will go back to Singaraja. I will cross the strait until Gilimanuk then transfer to another bus.” Yes, because the bus we are on now, will keep going to Ubung terminal in Denpasar, that means it will go straight towards the east while the bus to Singaraja has to turn left at the intersections.</p>
<p><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/wbook3.jpg" align="left" />“I have never been to Singaraja,” I say, “in Bali I have explored Denpasar, Gianyar, Ubud,” I continue.<br />
“Why don’t you visit Singaraja sometime?”<br />
“Certainly, if I have the chance”, I answer.<br />
“How old are you?”<br />
“Twenty four. You?”</p>
<p>“Wow . . . that’s the right age to marry,” she comments. I just smile. I am not married yet. “I have been a student at a University in Yogya for one semester. Only eighteen years old,” she continues. Oh, really? Although I thought Gin Gin is over twenty years old, at least as old as me. Her face is very mature – if she is quiet – but if she starts talking, her childishness is obvious. “Gin Gin has five aunties who are not married yet, their ages are already above 20 and 40 years old, the youngest is 27 years old. She is an NGO activist.” Then, she stops for a second, “do you have a boyfriend?” she asks.</p>
<p>“I have someone really close.”<br />
“When will you plan to get married?”</p>
<p>I chuckle, listening to her questions. Feeling interrogated and that my privacy has been disturbed, I change the topic of conversation, “why don’t you go to a University in Denpasar?”</p>
<p>“Going to Uni in Denpasar is expensive, and the quality may not be as good as the Uni in Java. Also, Bali seems to be appropriate for tourism, not education,” she answers. It’s indeed true, I have heard the rumours that many Denpasar people who have lived around Kuta, did not want to continue their study after graduating from Junior High School because they could easily make money from the visiting tourists. Then the bus stops in the area of Ngawi, letting the passengers to have some buffet meals in the restaurant.</p>
<p>“Why are you going home? It’s not a holiday season yet now, is it?” I ask after the bus returns to the road. I, Gin Gin and all the other passengers are already full after the meal. Gin Gin didn’t touch the dish of beef offal, she ate capcay and mi goreng only. When I ask why, whether she doesn’t like it, she replies that her religion forbids it. Yes, I just remember that the last time I went to Bali, I tasted lawar bebek, and that night I just realised that one of the ingredients of lawar is fresh blood. Then, I nearly vomited.</p>
<p>“There will be ngaben ceremony,” Gin Gin tells me.<br />
“Really?” I am immediately interested, indeed I have always been interested in the so many kinds of ceremonies in Bali.<br />
“Yes, the corpse which will be burnt is that of my younger sister. That’s why Gin Gin must go home. Although in Jogja there are some lab works I have to do.”<br />
“How long ago did your sister pass away?”</p>
<p>“Actually, my younger sister is not yet a human, my mother miscarried. Then, I was still in elementary school,” she clarifies. “Recently, Aji (my father) was visited by a young child and she asked to be named. Aji gave her the name Dini. After that, suddenly the child wanted to be cremated in the ngaben ceremony. Aji just realised that that child was my younger sibling who was miscarried in my mother’s womb.” Gin Gin loses in thought for a while, I have been listening to her very closely. “Actually there is another member of the family who also needs to be cremated. She really liked climbing, just like me. At the campus, I join the mountain climbing group. She also studies in Jogja. Then one day in Lawu, during a group climb, she was lost and then found dead.” I felt a bit frightened listening to that story. “The friends and people at the campus sent her corpse to Bali. But Aji always believed that before having cremated in the ngaben ceremony, the soul will never come home.” Actually I am not a brave person who likes listening to anything related to ghost and death.</p>
<p>“So, it’s very important that I come home to Singaraja although I had to leave many lab works at the campus.”<br />
Gin Gin falls asleep and me too. Several times, I send an SMS to my friend, telling her that I have a pleasant fellow passenger, and how relieved I have been because it’s a woman. A student in Jogja as well. At the beginning when I was about to leave, I already expressed my worries of having a male fellow passenger who talks too much and asks too many annoying questions. To be honest, I often feel irritated and uncomfortable if on a journey, I have to be polite to a male fellow passenger who is just a stranger for me. Especially if by chance he is a middle age. Well . . . I would never feel at ease. Particularly, if he falls asleep on my shoulder. Sometimes I am suspicious that he only pretends to be asleep to get an opportunity.</p>
<p>I don’t know how long Gin Gin has been staying awake, whereas I still cannot sleep for sometime. I turn on my disc-man. The voice of John Mayer entertains me with his song Love Song For No One.</p>
<p>“Kak, when do you think we will meet again?” asks Gin suddenly. Since being awake, Gin Gin has opened a packet of kuping gajah chips which she gobbles after having offered it to me. I am not sure whether she was just being polite or not. I get a piece of name card from my wallet.</p>
<p>“This is for you. Contact me on this number, OK,” I say while pointing to a line of hand-phone numbers on the card.<br />
“Wow . . . great . . . you already have a name card. When will Gin Gin have one as well?” I just smile listening to her comment.<br />
“Well, when you have started working, you will also have some name cards. Oh, yes, why don’t you write down your phone number and address on a piece of paper,” I suggest.<br />
“Of course”, gladly and full of spirit, Gin Gin tears a bit of paper from her book which she took out of her bag. Because the bus is bouncy, going on a bumpy road, Gin Gin’s writing becomes crooked and untidy. But I am still able to read it.<br />
“Please have a holiday in Singaraja, I’ll wait for you,” she says.</p>
<p>Just before dawn, the bus arrives in Ketapang. I woke Gin Gin up just to say goodbye. “If you have the chance, come to Singajara during your holiday. Crossing the strait only takes one hour, then you could get a bus to Singaraja. Just ring my home, someone will pick you up. I will stay at home for quite a long time.”<br />
“How long do you plan to stay?”</p>
<p>“More than a month.” Gin Gin replies shortly. I get off the bus. A green car has already been waiting for me at the outskirt of Ketapang. The bus leaves to continue its sea journey to the neighbouring island. Not to be seen again. And Bali is just there, on the east.<br />
*</p>
<p><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/ngaben.jpg" align="right" />Banyuwangi is really hot. I have to sweat and sweat every day in its humidity. Luckily, my small guesthouse has an air-conditioner. When evening comes, my friends ask me to go around, to sightsee the city, also to have a walk at the beach Watu Dodol. Or to visit a coffee plantation in Kali Bendo, owned by the coffee expert Pak Iwan. He is a Chinese descent who has adapted well with the Javanese culture. Usually, Pak Iwan will blend the coffee. He demonstrates how he cooks, pounds and serves it. The coffee must be drunk hot with a bit of sugar in a small cup which is filled in half way, so that the rest of the coffee can stay warm in the thermos. We drink it while looking out to the coffee plantation on the terrace of the Dutch period house.</p>
<p>I no longer think about Gin Gin, who I met in the bus for ten hours. On the last day of my duty in Banyuwangi, by chance I find a piece of paper in my jeans pocket. The string of untidy writing is printed on there. That’s the address and telephone number of Gin Gin in Singaraja. Of course, she is now busy taking part in the ngaben ceremony, I think.</p>
<p>Ngaben. Ah . . . I am always interested in the various kinds of Balinese ceremonies. Finally, I decide to depart for Singaraja. I think, when else I wil be able to experience the custom of a Balinese village. So far, I have always been going on holidays with a tour.</p>
<p>That day, I cross to Gilimanuk. Then, I get a bus to the Singaraja terminal. I am a bit worried if Gin Gin forgets about me and won’t welcome me. I dial her phone number. I have made a second plan; if I am rejected by Gin Gin I will continue my journey to Denpasar and have a holiday there. The phone is connected, a male voice answers.</p>
<p>“Om swatiastu,” he says. I stammer a bit because of the greetings which I am not used to.<br />
“Hallo . . . . mmmm . . . Is Gin Gin in?”<br />
“Gin Gin? May I know who’s speaking?”<br />
“I am her friend.”<br />
“From Java?”</p>
<p>“Yes . . . I met Gin Gin on the bus about two weeks ago. She said at her home there was a ngaben ceremony. I want to take some pictures for my documentation,” I give reasons for my intentions. Then from the phone, I hear that the man talks to another person there. The phone is then transferred. This time is also a man, but his voice is heavier.</p>
<p>“Is it true that adik met Kadek on the bus?” he asks.<br />
“Yes. Gin Gin gave me this phone number.”<br />
“Where are you now?”<br />
“At the terminal”.<br />
“Fine . . . wait for a minute . . . I will pick you up there. Just wait, OK.”<br />
“Yes . . .” I answer. The phone is disconnected after I mention what I am wearing so that he won’t have any difficulties finding me.</p>
<p>After 20 minutes later, a motor-cycle comes next to me. That young man asks: “Adik rang before, right? A friend of Kadek Gin?”<br />
“Yes,” I answer. I lift my bag pack.<br />
The motor cycle stops at a traditional Balinese house which has plenty of carvings. I get my camera out.<br />
“Is it allowed to photograph?” I ask.<br />
“Please.” I take several pictures straight away. That house is silent. No activities. My eyes are searching for Gin Gin.</p>
<p>“Where is Gin Gin?” I ask. Gin Gin must have been taking part in the ngaben ceremony. To be honest, I am quite impatient to see that ceremony myself and to satisfy my photography hobby. They shake my hand politely.</p>
<p>“Did you really meet Gin Gin on the bus?” asks a woman who introduced herself as Gin <img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/wbook3.jpg" align="right" />Gin’s mother.<br />
“That’s right,” I put my hand in the pocket, a bit uneasy with the camera I carry. “This is Gin Gin’s handwriting. She wrote this herself and invited me to come and see the ceremony.” They look at the handwriting carefully. Then they look at each other.</p>
<p>“This means that Gin Gin has finally come home,” says Gin Gin’s father.<br />
I don’t understand what he said, “You mean?” I ask.<br />
“Kadek Gin passed away three years ago when climbing a mountain. Today, she will be cremated with her younger sister,” he explains. I am shocked.</p>
<p>“Her sister . . . whose name is Dini?” I ask, to make sure. Now they in turn get startled.<br />
“How did you know?” Gin Gin’s father asks again.<br />
“Gin Gin told me, when we were on the bus last time,” I answer.<br />
“I just gave the name Dini about two months ago, and only a few people have known, only among the family members.” I become more and more astounded, as well as starting to get scared.</p>
<p>“Adik, please stay here for a few days. You are a friend of Kadek. Because of you, we are now sure that Kadek has really come home.”</p>
<p>Actually, I am horrified, but still accept that offer. They ask me to sleep in Gin Gin’s room and for a few days I take part in the ngaben ceremony. The family makes me feel really at home. I am still quite confused of what has happened. But the next two days, I am awake and find my name card lying on the pillow next to me. The name card I had given to Gin Gin. Gin Gin from Singaraja has really come home. [-rk-]</p>
<p>Glossary:<br />
Kakak or Kak: Term of address for a person older than the speaker<br />
Adik or dik: Term of address for a person younger than the speaker<br />
Ngaben: The Balinese cremation ceremony</p>
<p>(authorized by Ratih Kumala, translated into English by Soe Tjen Marching)</p>
<p>for more information about Ubud Writer and Reader Festival, please visit:<br />
<strong><a href="http://www.ubudwritersfestival.com">http://www.ubudwritersfestival.com</a></strong></p>
<p><!--adsense#rk-post--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/gin-gin-from-singaraja-22.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
