1

“The Man Across The Street”


Would you believe I have been in this nursing home for 20 years? I wonder why I have outlived all my friends. It’s not like I ever prayed for a drawn-out “life-sucking” existence.

Being old is no fun. I have had three strokes and three heart attacks. My doctor reckoned the third heart attack would take me out. He was wrong.

My kids and grandchildren say they are happy I’m still here.

So why did they put me in a home? I hate it here; gathered together with the other old folk.

I want to be cremated like my friends. I want my ashes to be poured into the sea, as were my son’s and my husband’s more than 10 years ago.

Baca lanjutannya / Read more at The Jakarta Post, 17 February 2008

2

Cerita tentang Ipah dan Kucing-Kucingnya

Kronik Betawi, Sebuah Novel:

Different are the rewards of those who come to heaven; hapines is bestowed on them; delightful their state; verily they have arrived in the land of silver. Truly yoy are directed to a place which is exalted, pointed by Dewas, who preside at death and become your guide; because the dead are mixed in a land which is wide and level, are given occupations and quickly go, each flying to the first place until arrive at the seventh

Sir Thomas Stamford Raffles: History of Java, page cxxix-

Tidak sejak Juleha kecil ibunya hobi memelihara kucing. Kesenangan itu mulai muncul ketika ia selesai menikahkan anaknya yang paling kecil, Juleha, dengan Jiih. Suaminya, Bung Juned, semakin lama semakin lebih betah tinggal di Serang, di rumah bini ke duanya. Apalagi setelah anak terakhir mereka menikah. Seakan-akan Bung Juned sudah tidak punya tanggungan lagi di rumah bini pertamanya. Tak sampai satu tahun Juleha menikah, seekor kucing kampung datang mendekati Ipah. Ketika itu ia tengah menunggu suaminya pulang, seperti kemarin-kemarin. Tetapi laki-laki itu tak kunjung datang; ia tak pernah memberitahu Ipah kapan bakal kembali, dan berapa lama ia akan di Serang. Toh setiap hari, selayaknya bakti setia seorang istri, Ipah menyiapkan makanan untuk dua orang.

Continue reading

2

“Tulah”


foto oleh place light -on a project-, some rights reserved

Darah Domba di Pintu Budak.
Masuk, Joshua. Jangan kau tonton kematian itu. Biarkan malaikat maut tunaikan tugasnya. Itu sudah menjadi titah embannya. Menyedihkan bukan? Andai terkaruniai akal, tentu malaikat maut akan menangisi nasibnya. Beremban tugas yang paling tidak menyenangkan di dunia: mencabut nyawa. Ah, tentu dia akan berpikir sama dengan kita, bahwa dunia ini tak adil dan keadilan harus diperjuangkan. Seperti kita. Dan seperti aku, mungkin dia akan jadi pemberontak. Setidaknya mempertanyakan ulang cara kerja segala sistem aturan. Seperti kita.

Ayo, lekas tutup pintu, Joshua. Biarkan kematian lewat dan kita dengarkan jeritan-jeritan para ibu demi malam yang dikutuk ini, sekaligus malam pembebasan bagi kita sebab anak laki-laki sulung mereka akan mati. Mulai dari anak sulung domba, sapi milik mereka, para pengikut hingga anak sulung Firaun. Lalu mereka akan melihat kebenaran yang sudah lama kugembar-gemborkan namun tak hendak didengarkan.
Continue reading

2

Sepotong Tangan

(dimuat di Republika, 5 Agustus 2007)
Pagi saat istrinya tak lagi bangun dari tidur, ia menunggu cukup lama di samping perempuan tua itu. Itu adalah pagi yang tak sama dengan 37 tahun pagi hari sebelumnya. Biasanya, istrinya selalu bangun lebih dahulu. Menyiapkan sarapan, sedikit berdandan, lalu jika perempuan tersebut sedang ingin memanjakan suaminya, ia akan membawa sarapan ke atas kasur. Membiarkan aroma harum kopi susu menguar ke hidung lelaki terkasihnya dan membuatnya terjaga. Sambil berterimakasih, laki-laki itu selalu mencium punggung tangan istrinya. Ia akan terus memegangi tangan istrinya sambil memakan sedikit-sedikit telur orak-arik sarapannya serta menyeruput kopi susunya sampai tertinggal ampas di dasar cangkir.

Continue reading

3

Gin Gin from Singaraja

 

 

Her name is Ni Made Ginarni, “but just call me Gin Gin, OK . . .” she asks. I smile while saying: “your name sounds unique and cute”. Then, she explains that at home, she is called Made, but sometimes Kadek, meaning the second child, “but at school, I was called Adek Gin,” she adds. Then, she laughs, showing her teeth. A pleasant laugh.

Continue reading