<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ratih Kumala &#187; Tabula Rasa</title>
	<atom:link href="http://ratihkumala.com/blog/category/tabula-rasa/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ratihkumala.com</link>
	<description>The Only Constant is Change</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Apr 2012 13:52:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Tabula Rasa &#8211; Pertanyaan-pertanyaan Tentang Cinta</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/pertanyaan-tentang-cinta-656.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/pertanyaan-tentang-cinta-656.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Nov 2010 09:40:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tabula Rasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=656</guid>
		<description><![CDATA[Dalam <span style="font-style: italic;">Tabula Rasa</span>, kita melihat gambaran manusia-manusia modern yang dirangkai dalam bentuk fragmen-fragmen dengan <span style="font-style: italic;">setting </span>waktu dan tempat semau si pengarang. Sudut pandang cerita yang dibuat bergerak cepat dan berganti-ganti membuat pembaca bisa saja ogah membaca karena membingungkan, namun bisa juga membuat pembaca lain terseret pada gelombang naik-turun gejolak emosi tokoh-tokohnya. Akan tetapi Ratih Kumala, sang pengarang, berhasil membimbing pembaca memasuki dunia tokoh-tokohnya dengan menerabas waktu dan tempat. <a href="http://ratihkumala.com/blog/pertanyaan-tentang-cinta-656.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: <a href="http://sepocikopi.blogspot.com/2008/07/dua-tokoh-utama-dalam-novel-ini.html">Alex</a></strong></p>
<p><img alt="" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/tabularasa_tbl.jpg" title="Tabula Rasa" class="alignleft" width="178" height="274" />Dua tokoh utama dalam novel ini melakukan begitu banyak perjalanan untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka tentang cinta. Galih mencintai Krasnaya. Raras mencintai Violet. Namun sejak awal kita tahu cinta mereka adalah cinta yang tak dipersatukan karena dipisahkan maut.  Bahkan dalam daftar isi yang terbagi atas empat bagian pun kita sudah tahu.  <span style="font-style: italic;">In Memoriam: </span>Krasnaya. <span style="font-style: italic;">In Memoriam: </span>Violet. Ego Distonik. Ego Sintonik.</p>
<p>Dalam <span style="font-style: italic;">Tabula Rasa</span>, kita melihat gambaran manusia-manusia modern yang dirangkai dalam bentuk fragmen-fragmen dengan <span style="font-style: italic;">setting </span>waktu dan tempat semau si pengarang. Sudut pandang cerita yang dibuat bergerak cepat dan berganti-ganti membuat pembaca bisa saja ogah membaca karena membingungkan, namun bisa juga membuat pembaca lain terseret pada gelombang naik-turun gejolak emosi tokoh-tokohnya. Akan tetapi Ratih Kumala, sang pengarang, berhasil membimbing pembaca memasuki dunia tokoh-tokohnya dengan menerabas waktu dan tempat.<br />
<span id="more-656"></span><br />
Selama bertahun-tahun Galih berhenti membuka hatinya untuk cinta karena ia <span style="font-style: italic;">keukeuh </span>menambatkan cintanya pada Krasnaya meskipun hatinya pedih dan kesepian. Ia yakin takkan bisa menemukan cinta yang lain seperti cintanya pada Krasnaya. Bertahun-tahun kemudian pula Galih bertemu Raras. Perempuan muda, mahasiswinya, yang menyimpan banyak kegundahan terhadap dirinya sendiri. Melalui Raras, Galih berusaha mengisi hatinya yang sekarat dengan rasa.</span></p>
<p>Tokoh-tokoh dalam novel ini bertindak atas nama cinta. Dalam perjalanan awal, Raras dan Galih menggenggam rasa mencintai itu dalam hati mereka. Mati-matian mereka berpikir beranggapan bahwa itulah hakikat cinta. Dengan terus bertahan menggenggam rasa cinta tanpa menyadari bahwa mereka sebenarnya hanya mengepalkan tangan. Dan saking kuatnya mengepal, Galih menutup hatinya untuk cinta.  Sementara saking kuatnya mengepal, Raras tidak membuka hatinya untuk berbagai kemungkinan atas cinta.</p>
<p>Raras adalah perempuan dengan masa lalu kelam dan berada dalam kondisi bimbang terhadap siapa diri dia sebenarnya. Ia berada di persimpangan jalan antara membalas cinta lelaki yang baik bernama Galih ini atau terus mempertanyakan cintanya pada Violet. Raras berusaha menyelami kembali siapa dirinya. Apakah dia lesbian, apakah dia hetero, apakah dia biseks? Pertanyaan-pertanyaan yang kian lama tampak wajar dalam dunia modern ini.</p>
<p>Jawaban-jawaban atas pertanyaan tentang cinta itu terjawab dengan sendirinya oleh hidup itu sendiri. Oleh pengalaman-pengalaman dan keputusan-keputusan yang diambil pada setiap belokan yang mereka temui dalam perjalanan hidup.<br />
<span style="font-style: italic;">Hal-hal bodoh yang pernah kulakukan di masa lalu. Selalu anehnya pada waktu itu kita berpikir bahwa itu adalah yang terbaik&#8230; Ada suara hati yang berbisik dan kita mendengarkannya. Dan dari semua hal, nafsu adalah hal yang paling abadi, dominan, permanen&#8230; Pusat pikiran serta konsentrasi kita padanya melebihi pegangan hidup kita lainnya seperti iman dan segala aturan, baik agama maupun negara, yang katanya untuk membimbing hidup. Apa lagi yang mengendalikan hidup kita selain hati? Akal, dan hanya itu yang bisa kita harapkan. </span>(h.134-135)</p>
<p>Lesbianisme dalam <span style="font-style: italic;">Tabula Rasa </span>bukanlah jadi wacana &#8220;mengapa&#8221; dan &#8220;bagaimana&#8221; tapi merupakan sesuatu yang memang sudah ada dan menunggu untuk ditemukan oleh Raras, si lesbian dalam novel ini. Cintanya pada Violet dan hubungannya dengan Galih menjadi sesuatu yang sifatnya empiris.</p>
<p><span style="font-style: italic;">Tabula Rasa </span>adalah pemenang ketiga Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2003. Dan ini merupakan novel pertama Ratih Kumala, perempuan kelahiran tahun 1980, lulusan Sastra Inggris Universitas Sebelas Maret. Selain menulis novel, cerpen-cerpen Ratih Kumala juga dimuat di berbagai media massa nasional. Pada tahun 2005, ia menerbitkan sebuah novel berjudul <span style="font-style: italic;">Genesis </span>dan kumpulan cerpen berjudul <span style="font-style: italic;">Larutan Senja </span>tahun 2007. Meskipun memperoleh penghargaan bergengsi, Tabula Rasa sebenarnya bukan novel “berat”. Ini adalah novel yang santai, namun sayangnya ada beberapa bagian yang seharusnya diedit dengan lebih rapi. Kesalahan-kesalahan ketik dan penggunaan bahasa yang berlapis dengan terjemahan menganggu kenyamanan pembaca.</p>
<p>Menurut wikipedia, Tabula Rasa yang berasal dari bahas latin berarti kertas kosong, merujuk pada pandangan  pandangan epistemologi bahwa seorang manusia lahir tanpa isi mental bawaan, dengan kata lain &#8220;kosong&#8221;, dan seluruh sumber pengetahuan diperoleh sedikit demi sedikit melalui pengalaman dan persepsi alat indranya terhadap dunia di luar dirinya.</p>
<p>Dan di sinilah konsep lesbianisme yang ditawarkan Ratih Kumala. Raras menjadi lesbian berdasarkan hasil pengalaman, yang terbentuk dari perjalanan hidupnya. <span style="font-style: italic;">Aku dilahirkan sebagai batu yang kosong. Aku tabula rasa, aku adalah dogma dari aliran empiris dan aku terbentuk dari jalannya hidup. </span>(h.183)</p>
<p>@Alex, SepociKopi, 2008</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/pertanyaan-tentang-cinta-656.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Awal Bagus Mencapai Kematangan</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/awal-bagus-mencapai-kematangan-654.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/awal-bagus-mencapai-kematangan-654.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Nov 2010 09:36:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tabula Rasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=654</guid>
		<description><![CDATA[Novel debut Ratih Kumala, Tabula Rasa, merupakan pemenang ke-2 Sayembara Novel DKJ 2003. Pemenang pertama dan ke-2nya saja aku tak sempat memberi perhatian penuh sama sekali. Aku belum membaca semua pemenang itu. <a href="http://ratihkumala.com/blog/awal-bagus-mencapai-kematangan-654.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh <a href="http://halamanganjil.blogspot.com/2005/10/awal-bagus-mencapai-kematangan-tabula.html">Anwar Holid</a></strong></p>
<p><img alt="" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/tabularasa_tbl.jpg" title="Tabula Rasa" class="alignleft" width="178" height="274" />Novel debut Ratih Kumala, Tabula Rasa, merupakan pemenang ke-2 Sayembara Novel DKJ 2003. Pemenang pertama dan ke-2nya saja aku tak sempat memberi perhatian penuh sama sekali. Aku belum membaca semua pemenang itu.</p>
<p>Tapi aku baca kritik Acep Iwan Saidi atas Dadaisme, dan menurutku dia sangsi sama sekali (i.e. curiga) kenapa karya itu bisa jadi pemenang pertama. Aku nggak mau menyoroti Tabula Rasa sebagai salah satu pemenang sayembara itu, alih-alih aku akan berusaha sewajarnya menghargai pencapaian itu, dan melakukan kritik yang benar-benar ingin aku sampaikan.<br />
<span id="more-654"></span><br />
Mulailah aku membaca novel itu sejak diberikan Bilven sampai 24/09/04 malam. Tentu saja aku ngebut dan harus mengabaikan buku lain. Secara keseluruhan aku menikmati cara bertuturnya. Ratih Kumala lancar bercerita, lincah menceritakan peristiwa, cukup berani menyelami kepribadian karakter-karakternya; tapi sebaliknya aku merasa bahwa konfliknya sederhana&#8212;barangkali klise; dia hampir semuanya menggunakan penuturan orang pertama &#8216;aku&#8217;&#8212;tentu itu memiliki risiko; dan aku merasa bahwa novel itu memiliki aspek psikoanalisis yang cukup kuat. Dua bagian pertama novel ini bicara &#8216;in memoriam&#8217;: kenangan seseorang tentang kematian, yaitu kematian dua orang perempuan bernama Krasnaya oleh kekasihnya Galih; dan kematian perempuan bernama Violet oleh &#8216;kekasih rahasianya&#8217; bernama Raras. Di dua bagian terakhir ceritanya lebih menjurus: tentang krisis identitas dan keputusan terhadap pilihan. Krisisnya adalah keraguan Raras merasa dirinya sebagai seorang lesbian, dan keputusannya adalah meyakini dirinya memang benar lesbian, dan dia berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan dan lingkungannya itu dengan respons emosional yang baik, berusaha tidak membuat konflik dengan sikap orang lain. Di ujung novel Raras merasa dirinya adalah sebuah tabula rasa, dirinya terbentuk oleh jalan hidup. Tapi menjelang tamat, sebuah ramalan (writing on the wall?) tertulis: aku masih tetap larva, entah untuk berapa lama. Siapakah yang menulis itu? Aku lirik atau penulis?</p>
<p>Di sela-sela kenikmatan itu, aku justru kerap sekali terganggu oleh sebuah hal: kegenitan penulisnya menggunakan bahasa asing (Rusia dan Inggris) yang tidak esensial sama sekali, tidak perlu. Tepatnya: seberapa esensial dia berbahasa Inggris pada novel itu? Menurutku pilihan menggunakan bahasa asing itu merupakan keputusan yang buruk, sebab kualitas bahasa asing yang digunakan adalah bahasa asing rendah, kelas percakapan tingkat permulaan yang jelas-jelas bisa diganti dengan ungkapan Indonesia (dan ironiknya kebanyakan memang dia terjemahkan dengan baik ke Indonesia). Bahasa asingnya tidak berbeda jauh dari yang ada di buku mahir berbahasa asing; kadang-kadang bahkan lebih parah, dia tidak segan mencampur aduk kosakata asing dan Indonesia untuk sebuah percakapan. Bagiku, kecenderungan itu adalah gejala yang persis juga muncul di sinetron-sinetron, snobisme kelas menengah Indonesia yang merasa bangga bila bisa mengucapkan Inggris dengan cukup lancar. Aku heran editornya membiarkan saja penggunaan begitu banyak bahasa asing mentah itu. Salah satu risikonya adalah ternyata penulis (dan editornya) terpeleset sendiri dengan keputusan itu: menulis Edgar Allen Poe bukannya Edgar Allan Poe, Effiel daripada Eiffel, alhtough alih-alih although, carcoal alih-alih charcoal, positif alih-alih positive, juga yahoomail.com alih-alih mail.yahoo.com. Bila dibandingkan dengan cerpen Umar Kayam (Seribu Kunang-kunang di Manhattan) atau Budi Darma (Orang-orang Bloomington), yang semua setingnya terjadi di luar negeri, berinteraksi dengan orang asing, termasuk logatnya, penggunaan bahasa asing dalam Tabula Rasa tidaklah memberi sumbangan apa pun dalam kekayaan sastra, justru memperlihatkan kemalasan penulis mengeksplorasi (setidak-tidaknya: menggunakan) bahasa Indonesia. Umar Kayam dan Budi Darma hanya menggunakan kosakata asing &#8216;bila benar-benar&#8217; perlu, hanya untuk menggantikan kosakata yang waktu itu belum ada padanan Indonesianya, atau yang memang mustahil diganti, misalnya martini, bourbon, concierge, mistuh (logat Black-America nuntuk &#8216;mister&#8217;), madame, atau home run. Kedua penulis ini tahu mereka sedang berkarya (menulis/berekspresi) dalam bahasa Indonesia, untuk khalayak pembaca Indonesia, jadi harus mengeksplorasi kosakata Indonesia. Jadi percakapan orang asing pun langsung dalam Indonesia, lengkap dengan alam pikirannya. Akibatnya kosakata unik Indonesia seperti brangasan, tuyul, keparat, malah digunakan. Budi Darma langsung mengindonesiakan syair yang ditulisnya. Langkah sebaliknya dilakukan Ratih: dia gampang sekali menggunakan kosakata dan kalimat asing, namun malah membiarkan teks asing yang nyata-nyata sukar diindonesiakan, di antaranya puisi Jones Very, Wilfred Owen, Elizabeth Barrett Browning, larik-larik lagu, atau puisinya sendiri. Kesulitan? Memilih membiarkannya? Sayang sekali dia memilih itu, sementara dia rela menerjemahkan sebuah chatting yang tidak penting. Tentu saja mengindonesiakan puisi-puisi yang signifikan terhadap perkembangan karakter adalah esensial, dan karenanya bisa memicu pertanyaan, seberapa keras dia mengeksplorasi bahasa Indonesia dalam novel itu? Bila dibandingkan Puthut EA, Nukila Amal&#8212;sebagai sesama penulis prosa&#8212;eksplorasi Ratih pada bahasa Indonesia tidaklah menonjol, dia kadang-kadang mencoba melakukan percobaan, dengan pencapaian yang patut diperhatikan, misalnya monolog interior puitis pada awal bagian In Memoriam: Violet (hal. 67-70), ungkapan simile bagus pada hal. 121, termasuk menggunakan unsur dialek Jawa dengan baik. Dalam politik bahasa, langkah menelusuri khazanah bahasa bangsa sendiri (baik bahasa setempat atau kosakata kuno) selalu lebih patut dipuji daripada mudah tergoda menggunakan kosakata asing yang sebenarnya dangkal.</p>
<p>Aku merasa kekuatan utama novel ini ada pada cara bertutur yang lancar dan menarik. Meminjam pembagian cerita a la diari, rata-rata menggunakan tuturan orang pertama &#8216;aku&#8217;, Ratih lincah menceritakan perkembangan masing-masing karakter, mempertemukannya dalam alur peristiwa, berinteraksi, menghasilkan drama yang asyik dibaca, bisa jadi mudah, dan karena itu kronologi waktu yang tak beraturan bisa dikesampingkan. Aku sepakat dengan komentar Maman S. Mahayana bahwa pencerita&#8212;aku, dia, engkau&#8212;seenaknya gonta-ganti menyesuaikan diri degan tuntutan cerita, akibatnya pembaca seperti diajak menyaksikan serangkaian fragmen yang bergerak cepat ke sana-kemari: begitu filmis. Tapi teknik seperti itu berisiko tak memberi ruang luas pada pembaca secara mandiri merasakan persoalan psikologis dari luar, lebih berjarak. Ketika Violet sakaw dan setelah diperabukan misalnya, penulis memilih bercerita melalui &#8216;aku&#8217;, namun hasilnya pembaca mungkin segera berkomentar: seperti itukah kondisi orang sakaw?, bisakah dia menceritakan ulang kondisi mental dan pengalamannya?, dan lebih menantang: bagaimana mencari nalar jasad yang baru diperabukan (atau nyawa yang sudah mati) menceritakan pikirannya? Menurutku Ratih berhasil memasuki masing-masing diri karakter, mengembangkan wawasan dan pandangan dunianya. Meskipun sosok karakter itu ternyata tidak sangat kuat, setidak-tidaknya aku yakin mampu mempesona pembaca, terutama Galih dan Raras. Kelemahan karakter itu bisa dilihat dari konflik yang mereka alami dan cara menghadapinya. Raras misalnya, sebagai seorang yang terbiasa dengan puisi Inggris klasik, lancar Inggris, akrab dengan cyberspace, diam-diam menyadari dirinya lesbi (tepatnya: homoseksual predominan), ternyata masih asing dengan istilah homophobia. Janggal sekali. Ratih berusaha membangun kekuatan karakter dari percakapan, peristiwa, cara mereka menghadapi konflik, juga berinteraksi satu sama lain. Dia memang tidak berusaha mendeskripsikan tokoh secara konvensional, dan langkah itu boleh disaluti, tapi menurutku perkembangan dan perubahan karakternya gagal didalami sungguh-sungguh. Tepatnya: karakter itu gagal mempesona secara luar biasa. Bila Galih Praditama dibandingkan dengan Adrian Mole, menurutku Adrian Mole jauh lebih mempesona, padahal Sue Towmsend pun tidak mendeskripsikan perkembangan jiwa dan karakter Adrian melalui penjelasan harfiah maupun fisik, melainkan dari perkembangan pandangan dan pikirannya. Selain teknik bercerita dan isinya, persoalan karakter menurutku merupakan aspek yang harus diperhatikan dalam penciptaan sebuah fiksi.</p>
<p>Melampaui itu semua, bagaimanapun Tabula Rasa adalah novel layak baca, mengasyikkan. Di luar sejumlah penggarapan kurang maksimal dan perdebatan keputusan penyuntingan, buku ini pastilah mampu hadir dengan kekuatannya sendiri. Keterbacaan besar, tema ceritanya kontekstual dengan masa 2000-an, isu yang dikembangkannya luas, dari persoalan psikologis, politik, religiositas, homoseksualitas, hingga HIV/AIDS, persoalan waktu pun mampu dia lipat dengan cukup memikat. Di masa depan, kita boleh kembali berharap agar penulisnya berkarya lagi, mengeksplorasi, dengan teknik yang barangkali lebih dewasa. Sebuah buku selalu tidak cukup, malah merupakan pijakan awal yang baik untuk mencapai kematangan. Pencapaian pertamanya ini patut dihargai siapa pun khalayak pembaca Indonesia, merupakan salah satu fiksi yang berhasil baik dari segi sastra dan kelancaran bercerita.[]</p>
<p>Anwar Holid, eksponen komunitas TEXTOUR, Rumah Buku Bandung.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/awal-bagus-mencapai-kematangan-654.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tabula Rasa*1): Pasivitas Manusia dalam Menerima Lingkungan</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/pasivitas-manusia-647.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/pasivitas-manusia-647.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Nov 2010 08:22:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tabula Rasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=647</guid>
		<description><![CDATA[Saya ingat, saya mulai akrab dengan istilah Tabula Rasa ketika saya sedang menempuh pendidikan sarjana saya. Istilah ini seperti sebuah istilah ajaib semacam “Alohamora” dalam mantra “Harry Potter” sebagai pembuka kunci sebuah pintu. Dan saya tahu pintu itu adalah pintu dunia psikologis pembaca. Tabula Rasa adalah juga kata pertama yang didengung-dengungkan dalam diktat disiplin ilmu saya. Simak saja berikut: <a href="http://ratihkumala.com/blog/pasivitas-manusia-647.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh <a href="http://resensi-nisa.blogspot.com/2010/03/by-statement-ratih-kumala.html">Nisa Ayu</a></strong></p>
<p><img alt="" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/tabularasa_tbl.jpg" title="Tabula Rasa" class="alignleft" width="178" height="274" />Saat saya membaca sebuah novel percintaan &#8211; seperti yang diungkapkan oleh salah satu endorsernya &#8211; biasanya menjadi suatu hal yang mengasyikkan, dan memang demikianlah adanya. Kemudian, ketika saya menggambarkan isi novel ini dengan menggabungkan efek label Pemenang Ketiga Sayembara Novel DKJ 2003 di sampul depan, tiga orang endorser kelas TOP – dalam artian top, tiga orang erdorser *2) tersebut adalah penulis dan pembangun menara sastra Indonesia, menurut saya tentunya- di bagian belakang, menjadi sebuah jaminan yang “mahal” bahwa ada sajian yang menarik dari novel ini.</p>
<p>Namun menjadi ironi ketika saya menemukan buku ini di tumpukan buku “sale” dengan harga bandrol sepuluh ribu rupiah, di sebuah pameran buku di wilayah Surabaya, saat Surabaya sedang merayakan bulan-bulan HUT eksistensinya sebagai Kota Niaga. Mengapa novel “bermutu” ini ada di keranjang sana, diantara deretan buku yang tidak “popular” dan tidak mempunyai “daya jual” di mata publik Surabaya? Padahal, menurut saya label-label tersebut adalah suatu jaminan. Ah… kemudian saya agak tersenyum kecut tapi lega, minat baca masyarakat Surabaya tidak se-memprihatinkan yang saya kira. Ketika saya cari-cari, buku ini tinggal satu di keranjang tersebut. Kecewa sebenarnya, karena biasanya saya akan membeli lebih untuk saya bingkiskan kepada orang lain.<br />
<span id="more-647"></span><br />
Ya, kemudian pembicaraan saya berikutnya adalah, marilah mengesampingkan terlebih dahulu problematika market, idealisme dan momentum dalam sebuah penerbitan dan penjualan buku, dan saya malah lebih asyik membicarakan apa di dalam novel yang dibungkus cover putih dengan lukisan semi-absurd, tanpa judul dan tanpa tercantum siapa desainernya dan diberi tajuk “TABULA RASA” ini.</p>
<p>Saya ingat, saya mulai akrab dengan istilah Tabula Rasa ketika saya sedang menempuh pendidikan sarjana saya. Istilah ini seperti sebuah istilah ajaib semacam “Alohamora” dalam mantra “Harry Potter” sebagai pembuka kunci sebuah pintu. Dan saya tahu pintu itu adalah pintu dunia psikologis pembaca. Tabula Rasa adalah juga kata pertama yang didengung-dengungkan dalam diktat disiplin ilmu saya. Simak saja berikut:</p>
<blockquote><p>Teori “tabula rasa” sebagai kelanjutan pendapat Aristoteles yang secara garis besar menganalogikan manusia ( bayi ) sebagai kertas putih dan menjadikan hitam atau menjadikan berwarna lain adalah pengalaman atau hasil interaksi dengan lingkungannya. Lingkungan dan treatmen dari orang-orang yang berpengaruhlah yang membentuknya melalui proses belajar dan pembiasaan-pembiasaan. Tak ada daya bagi manusia untuk menjadikan hidupnya. Satu-satunya yang menentukan adalah lingkungan. *3)</p></blockquote>
<p>Apakah itu yang dimaksud oleh penulis? Maka ketika saya membaca, saya ketemukan apakah makna Tabula Rasa menurut penulis, lewat sebuah kutipan salah satu tokoh sentralnya – Raras &#8211; sebagai bentuk pasivitas manusia dalam lingkungannya, layaknya bayi, seperti penggalan berikut.</p>
<blockquote><p>Vi, aku kini tahu siapa aku. Aku dilahirkan sebagai batu tulis kosong. Aku tabula rasa, aku adalah dogma dari aliran empiris yang terbentuk dari jalannya hidup. Aku tak pernah menyesalinya. Aku tak menyesali jalanku. *4)</p></blockquote>
<p>Raras, perempuan dengan naluri homoseksual perdominan, gamang dengan pilihan akhir hidupnya.</p>
<blockquote><p>Kalau memang kaum kami berdosa besar, lalu kenapa kaum kami harus diciptakan? Apakah kaum kami berdosa besar, lalu kenapa kaum kami harus diciptakan? Apakah dulu malaikat salah taruh jiwa laki-laki ke tubuh perempuan dan jiwa perempuan ke tubuh laki-laki? …. Aku tidak pernah minta dilahirkan untuk menjadi homoseksual, semua orang juga maunya lahir normal. Maka kuanggap biseksual adalah solusinya, tapi kemudian Argus menasehati agar aku memilih menjadi homoseksual atau heteroseks saja sebab ancaman bahaya untuk kesehatanku jadi lebih besar jika aku menjadi biseksual. *5) </p></blockquote>
<p>Raras dihadapkan oleh penulis sebagai tokoh yang tidak bisa membuat pillihan hidup, ia seakan-akan telah diberi pilihan dan pilihan itulah yang harus dijalaninya.</p>
<p>Apakah seperti demikian maksud &#8220;Tabula Rasa&#8221; yang ingin dipresentasikan dalam novel tersebut? Yang saya ingat, ketika pembaca membuka dan mulai membaca, tak pernah ada tabula rasa dalam setiap individu.</p>
<p>Apabila demikian apakah manusia hanya boneka “suatu takdir”, “rencana hidup”, “Tuhan” atau lingkungan sebagai representasi dasar dari pemaknaan Tabula Rasa tersendiri?</p>
<p>Saya ingat, ketika saya mulai membaca, saya mempunyai berjuta-juta rasa tersendiri, patah hati, kecamuk menghidupi diri, masalah pribadi dan berjuta polemik dan permasalahan yang tentu saja BERBEDA dan UNIK dari orang lain. Apabila setiap orang – sebagai satuan unit lingkungan- seperti kertas kosong, tentu tidak ada yang UNIK dari kita bukan? Atau mungkin memang, Raras sebagai tokoh sentral Tabula Rasa merupakan sebuah tokoh sentral dinamika kepasifan manusia atas lingkungannya.</p>
<p>Saya pikir, Tabula Rasa lebih dari sekadar sebuah jalinan cerita reka ulang adegan yang serampangan, karena didalamnya banyak kandungan dinamika psikologis manusia yang dieksplorasi dengan cerdas dan perenungan.</p>
<p><strong>Pencatat:</strong><br />
<em>Nisa Ayu. mahasiswa jebolan S1 Fakultas Psikologi UBAYA</em></p>
<p><strong>Daftar Rujukan:</strong><br />
*1) Judul novel yang ditulis oleh Ratih Kumala, terbitan PT. Grasindo, tahun 2004.<br />
*2) Tiga endorser tersebut adalah Budi Darma beliau adalah cerpenis, novelis dan pengamat sastra, Maman S. Mahayana, pengamat dan kritikus sastra dan Puthut EA, penulis.<br />
*3) Diambil dari <a href="http://74.125.153.132/search?q=cache:vCfhMISEApsJ:edwi.dosen.upnyk.ac.id/PSISOS.1.doc+tabula+rasa+%2B+psikologi&#038;cd=3&#038;hl=id&#038;ct=clnk&#038;gl=id">http://74.125.153.132/search?q=cache:vCfhMISEApsJ:edwi.dosen.upnyk.ac.id/PSISOS.1.doc+tabula+rasa+%2B+psikologi&#038;cd=3&#038;hl=id&#038;ct=clnk&#038;gl=id</a><br />
*4) Tabula Rasa. hal. 183<br />
*5) Ibid. hal. 158-159</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/pasivitas-manusia-647.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Generasi Dunia Maya Tercermin di Novel</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/generasi-dunia-maya-tercermin-di-novel-4.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/generasi-dunia-maya-tercermin-di-novel-4.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jun 2004 13:56:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsip Media]]></category>
		<category><![CDATA[Tabula Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[Abidah El Khaileqi]]></category>
		<category><![CDATA[Apsanti Djokosujatno]]></category>
		<category><![CDATA[Ayu Utami]]></category>
		<category><![CDATA[Dadaisme]]></category>
		<category><![CDATA[Dewan Kesenian Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Dewi Lestari]]></category>
		<category><![CDATA[kompas]]></category>
		<category><![CDATA[ratih kumala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/blog/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Karya-karya novel para pengarang muda sekarang cenderung menyajikan loncatan-loncatan ruang dan waktu yang liar. Novel Tabula Rasa karya pengarang muda Ratih Kumala misalnya, tak segan-segan menyuguhkan perasaan asing kepada pembaca dalam kerangka kosmolitisme, seperti yang lumrah ditemukan dalam novel Ayu Utami dan Dewi Lestari. <a href="http://ratihkumala.com/blog/generasi-dunia-maya-tercermin-di-novel-4.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0406/21/humaniora/1097203.htm" target="_blank"><strong>Kompas</strong></a>, <em>21 Juni 2004</em></p>
<p align="center"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/tabularasafrontback.jpg" /></p>
<p>Jakarta, <em>Kompas</em> &#8211; Karya-karya novel para pengarang muda sekarang cenderung menyajikan loncatan-loncatan ruang dan waktu yang liar. Novel Tabula Rasa karya pengarang muda Ratih Kumala misalnya, tak segan-segan menyuguhkan perasaan asing kepada pembaca dalam kerangka kosmolitisme, seperti yang lumrah ditemukan dalam novel Ayu Utami dan Dewi Lestari.<span id="more-4"></span></p>
<p>&#8220;Semua itu menciptakan gambar dunia yang tak nyata, bergerak cepat dalam berbagai ruang dan waktu. Itu diperkuat oleh tema-tema yang akrab dengan dunia generasi muda, yakni televisi. Tak heran, jika estetika terabaikan, seperti halnya tayangan-tayangan televisi yang tidak membangun keutuhan estetika,&#8221; kata Prof Apsanti Djokosujatno, guru besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, dalam Diskusi dan Peluncuran Novel <em>Tabula Rasa</em> di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (19/6).</p>
<p>Novel yang didiskusikan tersebut merupakan pemenang ketiga Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta.</p>
<p>Sebelumnya, telah didiskusikan novel juara pertama berjudul <em>Dadaisme</em> karya Dewi Sartika dan novel juara kedua berjudul <em>Geni Jora</em> karya Abidah El Khaileqi.</p>
<p>Kritikus Sastra Maman S Mahayana yang memandu acara mengakui munculnya tiga pengarang perempuan sebagai pemenang I-III sempat mengundang kontraversi, namun hal itu di luar rekayasa panitia dan juri.</p>
<p>Dalam hal loncatan waktu dan peristiwa misalnya, Tabula Rasa sudah sarat ketidakruntutan dari halaman-halaman pertama. Kisah dimulai dengan cerita di Yogyakarta Agustus 2001. Pada halaman berikutnya, cerita meloncat mundur ke tahun 1990 di Moskwa. Halaman 23 kembali pada 2001 di Yogyakarta, dan halaman 30 mundur lagi ke 1991 di Moskwa.</p>
<p>&#8220;Kesan yang muncul adalah loncatan-loncatan tak terkendali dalam semua unsur novel. Tokoh-tokoh muncul secara tiba-tiba, berbagai peristiwa muncul nyaris brutal meski terbungkus dalam penggunaan metafor yang puitis,&#8221; kata Apsanti seraya menambahkan bahwa dalam tataran narasi pun, loncatan-loncatan itu juga tampak berupa penggunaan vokalisasi/sudut pandang yang berubah-ubah.</p>
<p>Lebih lanjut tentang kosmolitisme, Apsanti menilai setting novel Tabula Rasa berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain, seperti pemandangan musim dingin, musim gugur, perbedaan antara dunia tropis dan subtropis, dan lain-lain. Tokoh-tokoh yang ditampilkan pun berasal dari berbagai negara (Indonesia, Rusia, dan Kanada).</p>
<p>&#8220;Setting ruang diiringi waktu yang meloncat-loncat dari tahun yang berjarak relatif renggang bisa jadi karena merujuk pada periode-periode politik sosial berbeda,&#8221; paparnya.</p>
<p>Ia menilai, kosmologi yang disajikan dalam <em>Tabula Rasa</em> adalah kosmologi maya yang campur aduk. Itu semua mewakili cara pandang dunia sang pengarang, selaku generasi yang yang lahir dan dibesarkan di depan televisi serta tumbuh dalam bimbingan dan pendidikan televisi pula.</p>
<p>&#8220;Ini bukan hanya soal kegagalan sekolah-sekolah kita dalam membentuk kepribadian anak-anak kita, tetapi seluruh sistem yang tidak dikendalikan dengan disiplin dan membumi. Mereka hidup dalam perubahan–perubahan setiap detik, tetapi perubahan itu maya, tak dialami sendiri,&#8221; urainya.</p>
<p>Terlepas dari segala kelemahannya, Apsanti tetap menilai <em>Tabula Rasa</em> sebagai karya novel yang kreatif dalam menggambarkan manusia pada zamannya. Bahwa terjadi kesalahan dalam penerjemahan kalimat-kalimat asing, lagi-lagi Apsanti melihatnya sebagai cermin ketidaktelitian generasi muda saat ini. (NAR)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/generasi-dunia-maya-tercermin-di-novel-4.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

