<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ratih Kumala's Little Blog &#187; Tv Series</title>
	<atom:link href="http://ratihkumala.com/blog/category/tv-series/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ratihkumala.com</link>
	<description>The Only Constant is Change</description>
	<lastBuildDate>Fri, 25 Jun 2010 09:47:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Doel Hamid Asal Betawi</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/doel-hamid-asal-betawi-540.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/doel-hamid-asal-betawi-540.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 05:53:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[Tv Series]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=540</guid>
		<description><![CDATA[Si Doel Anak Sekolahan, sinetron yang cukup populer di tahun &#8217;90-an Tak banyak orang tahu bahwa salah satu tokoh paling populer asal Betawi ini ternyata bukan diciptakan oleh sastrawan Jakarta, dialah Doel Hamid, atau yang lebih kita kenal dengan panggilan Si Doel. Pada tahun 1951, Aman Datuk Madjoindo, sastrawan asal Sumatera Barat menciptakan tokoh Si [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/si-doel.jpg" rel="lightbox[540]"><img class="aligncenter size-full wp-image-539" title="si doel" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/si-doel.jpg" alt="" width="461" height="380" /></a><br />
<small>Si Doel Anak Sekolahan, sinetron yang cukup populer di tahun &#8217;90-an</small></p>
<p>Tak banyak orang tahu bahwa salah satu tokoh paling populer asal Betawi ini ternyata bukan diciptakan oleh sastrawan Jakarta, dialah Doel Hamid, atau yang lebih kita kenal dengan panggilan Si Doel. Pada tahun 1951, Aman Datuk Madjoindo, sastrawan asal Sumatera Barat menciptakan tokoh Si Doel dalam novel anak berjudul <em>Si Doel Anak Betawi</em>. Ketika nama “Betawi” diumumkan menjadi “Djakarta”, judul buku ini diubah menjadi <em>Si Doel</em>, lalu diubah lagi menjadi <em>Si Doel Anak Djakarta.</em> Mengutip pendahuluan Aman Datuk Madjoindo di buku cetakan ke lima, “Karena nama ‘Betawi’ itu sudah hilang sama sekali dari perasaan, hanya nama ‘Djakarta’ djua jang terlintas dihati, maka saja tambahkan kembali nama itu, djadi <em>Si Doel anak Djakarta</em>.”</p>
<p>Saya mengenal Si Doel pertama kali dari film karya Sjuman Djaya, <em>Si Doel Anak Modern</em> yang dibintangi oleh Benyamin, Christine Hakim dan Achmad Albar. <em>Si Doel Anak Modern </em>adalah sekuel dari <em>Si Doel Anak Betawi </em>yang dibintangi oleh Rano Karno kecil, dan Benyamin sebagai babenya. Tapi entah mengapa, yang terus teringat jelas di benak saya adalah <em>Si Doel Anak Modern</em>. Kisahnya tentang Si Doel yang sudah dewasa, dan lebih fokus pada kehidupan cintanya yang ternyata bertepuk sebelah tangan.</p>
<p>Selain film karya Sjuman Djaya, saya mengenal Si Doel lewat sinetron <em>Si Doel Anak Sekolahan </em>pada tahun ’90-an yang ketika itu lumayan populer. Rano Karno kembali membintangi menjadi Si Doel yang kini sudah lulus kuliah dan susah cari kerja. Benyamin tetap jadi babe Si Doel, yang kerjanya menjadi supir oplet. Beberapa karakter tambahan di versi sinetronnya membuat serial Si Doel jadi lebih hidup; Mandra, Mas Karyo (diperankan Basuki, alm.), Zaenab (diperankan Maudy Koesnadi), Sarah (diperankan Cornelia Agatha), dan beberapa tokoh lain.<br />
<span id="more-540"></span><br />
Ketika kecil, saya tidak menemukan novel <em>Si Doel Anak Betawi </em>di toko-toko buku. Saya lebih banyak membaca buku karya Enyd Bliton. Jadi, sejujurnya, saya baru mengakrabi novel <em>Si Doel Anak Betawi</em> setelah saya mengenal versi layarnya. Dalam bukunya, dikisahkan karakter Si Doel sebagai seorang anak yang ceria, pemberani, dan penurut pada orangtuanya. Dia tinggal di daerah Pisangan Baru bersama babe dan nyaknya. Setiap sore dia pergi mengaji bersama teman-temannya yang diajar oleh Uak Salim, seorang guru ngaji yang keras, uang juga engkongnya sendiri.</p>
<div id="attachment_541" class="wp-caption alignleft" style="width: 178px"><img class="size-full wp-image-541" title="aman datuk" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/aman-datuk.jpg" alt="Aman Datuk Madjoindo, penulis novel Si Doel Anak Betawi" width="168" height="224" /><p class="wp-caption-text">Aman Datuk Madjoindo, penulis novel Si Doel Anak Betawi</p></div>
<p>Novel anak Si Doel Anak Betawi dibagi menjadi sembilan bab. Pada lima bab awal, pembaca akan mengira buku ini berisi cerita yang berdiri sendiri-sendiri tentang petualangan  keseharian Si Doel. Ada Si Doel yang berkelahi dengan temannya, ada pula Si Doel yang main pura-pura jadi Haji. Di lain cerita, Si Doel yang berusaha menggembalakan kambing. Ketika tiba pada bab enam, “Berjual Nasi Ulam” maka pembaca baru tahu bahwa buku ini sebenarnya bersambung dari bab ke bab, tidak berdiri sendiri-sendiri. Pada bab enam, babe Si Doel yang seorang sopir otobus mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Sedikit terlambat penempatan masalah babe meninggal ini sebenarnya, sebab itulah konflik terbesar novel ini. Setelah itu, Si Doel dan nyaknya hidup penuh penderitaan, dan Si Doel harus membantu ibunya bekerja. Tapi, biarpun demikian, kesan Si Doel sebagai anak Betawi yang pemberani dan ceria terus berlanjut. Hanya karena babe meninggal, tidak lantas kisah Si Doel jadi lebih berat. Sebagai novel anak, buku ini (bab enam-sembilan) sarat  dengan permasalahan yang sebenarnya berat dan dihadapi orang dewasa, tetapi dilihat dari sudut pandang Si Doel, serta bagaimana Si Doel menghadapi masalah itu. Saya sendiri, berkesimpulan bahwa pesan moral yang ingin disampaikan buku ini adalah, seorang anak haruslah menurut pada nasehat orangtua, terutama ibu.</p>
<p>Di buku, kisah Si Doel ditutup dengan senangnya ia bisa bersekolah. Sedang dalam sinetron, dikisahkan Si Doel yang baru selesai kuliah dan akhirnya menjadi orang sukses meski harus terseok-seok terlebih dahulu. Si Doel dalam buku, yang sejak kecil pun tak malu kerja keliling kampung berjualan nasi ulam, dalam sinetron disambung dengan Si Doel dewasa yang tak malu kerja menjadi sopir oplet ketika pekerjaan yang layak untuk seorang Insinyur sangat sulit didapatkan.</p>
<p>Kisah babe Si Doel yang meninggal dunia dalam buku, juga diangkat dalam filmnya (yang dibintangi Rano Karno kecil, dan Benyamin sebagai babenya). Ironisnya, ketika sinetron <em>Si Doel Anak Sekolahan</em> muncul, Benyamin (yang juga berperan sebagai karakter babe Si Doel) benar-benar meninggal dunia. Jadi, di serial sinetron pun naskahnya menyesuaikan pemainnya yang sudah tiada. Kisah nyak Si Doel yang tak mau keluar kamar berhari-hari, tak doyan makan, karena ditinggal mati suaminya pun diangkat persis di sinetron.</p>
<p>Untuk urusan asmara, kisah cinta yang mewarnai kehidupan Si Doel dewasa di versi layar sama sekali tidak terlihat di Si Doel kecil dalam versi buku. Hanya, ada satu karakter gadis cilik bernama Asnah, tetangga Si Doel yang selalu bersikap baik pada Si Doel, meski tak menunjukan tanda-tanda ‘naksir’. Saya pikir, hal semacam ini sengaja dibatasi oleh penulisnya, mengingat buku ini adalah novel untuk anak-anak. Si Doel dewasa dalam versi layar, punya kisah cinta yang unik. Bagi Sjuman Djaya, Si Doel  -sebagai anak Betawi yang konon dibilang ketinggalan jaman-, ternyata punya kisah cinta dengan gadis-gadis moderen, yang bukan aseli berasal dari Betawi. Dalam <em>Si Doel Anak Modern</em>, Si Doel jatuh cinta pada Christine Hakim, gadis moderen yang ternyata kisah cintanya putus nyambung dengan Achmad Albar. Achmad Albar pada jaman itu cukup ganteng dan populer, terutama karena rambutnya yang unik, keriting mekar mirip rambut orang kulit hitam yang ngetrend tahun ’70-an. Si Doel, demi mengejar cintanya menggunakan wig yang mirip rambut Achmad Albar. Kisah cinta Si Doel bertepuk sebelah tangan dalam film ini, Christine Hakim tak mau dinikahi Si Doel, padahal dia sudah datang  bersama rombongan dengan perlengkapan rebana untuk melamar Christine Hakim. Kisah cinta Si Doel dalam sinetron serial Si Doel Anak Sekolahan beda lagi. Cinta Si Doel terbagi dua, antara Zaenab (gadis kampung aseli Betawi yang konon sudah dijodohkan dengan Doel sejak kecil), dan seorang gadis bernama Sarah (gadis moderen yang ‘makan sekolahan’, yang awalnya mendekati Si Doel dan keluarganya untuk membuat riset skripsi kuliahnya, tapi kemudian jatuh cinta).</p>
<div id="attachment_542" class="wp-caption alignleft" style="width: 190px"><img class="size-full wp-image-542" title="Sjuman_Djaya" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/Sjuman_Djaya.jpg" alt="Sjuman Djaya, sutradara Si Doel Anak Betawi dan Si Doel Anak Modern" width="180" height="216" /><p class="wp-caption-text">Sjuman Djaya, sutradara Si Doel Anak Betawi dan Si Doel Anak Modern</p></div>
<p>Versi layar (baik film maupun sinetronnya) sudah tentu mengadaptasi karakter Si Doel dari buku. Film <em>Si Doel Anak Betawi</em> karya Sjuman Djaya lebih mengadaptasi versi aseli bukunya. Sjuman Djaya pun ikut sebagai main sebagai pemeran Asmad, bapak tiri Si Doel kecil. Sedang sekuelnya, jelas sekali cerita sudah jauh dari bukunya, hanya tokoh Si Doel saja yang dipertahankan. Seperti juga sinetron Si Doel Anak Sekolahan, yang kisahnya sudah lepas dari versi buku.  Aman Datuk Madjoindo setahu saya tidak pernah menulis kisah Si Doel kelanjutannya (tolong beritahu saya kalau memang dia membuat buku Si Doel lainnya). Si Doel tidak seperti tokoh Nyai Dasima, yang kisah legendanya hanya satu. Ia bisa berkembang sesuai pembuatnya. Tokoh Si Doel sepertinya sudah menjadi tokoh milik publik (khusunya Jakarta). Karakter Si Doel adalah representasi karakter putra Betawi yang memang begitulah adanya. Posisi Si Doel saya kira seperti Si Kabayan dari Sunda, Nasrudin dari Timur Tengah, dan Pak Belalang dari Melayu/Sumatera. Kisah Kabayan bisa berkembang ke mana-mana, lihat saja filnya: <em>Si Kabayan Saba Kota, Si Kabayan Saba Metropolitan. </em> Nasrudin menghadirkan kisah-kisah konyolnya yang bernapaskan Islami. Buku tentang Nasrudin ditulis oleh penulis-penulis yang berbeda, yang ingin menyampaikan kelakar dengan meminjam Nasrudin sebagai karakter utamanya. Sedang Pak Belalang menceritakan nujum palsu nan kocak yang dilakukan oleh Pak Belalang dan anaknya, Si Belalang. Kesamaannya adalah, baik Si Doel, Kabayan, Narsudin maupun Pak Belalang menawarkan kemungkinan besar untuk kisahnya berkembang. Persyaratan lain yang sepertinya tidak tertulis tetapi semua orang tahu adalah jika seorang kreator berniat membuat cerita dari empat tokoh di atas, maka kisahnya harus punya pesan moral dan disampaikan dengan kocak sehingga bisa diterima oleh masyarakan umum.</p>
<p>Ratih Kumala, penulis.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/doel-hamid-asal-betawi-540.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berguru pada Televisi</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/berguru-pada-televisi-374.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/berguru-pada-televisi-374.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2009 12:18:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Tv Series]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=374</guid>
		<description><![CDATA[Tiba-tiba saya teringat pada tokoh Kenneth di serial 30 Rock. Dia adalah pegawai rendahan (kalau tidak salah posisinya Pembantu Umum) yang bekerja di sebuah televisi swasta. Kenneth yang karakternya bego-bego lugu adalah seorang yang sangat mencintai pekerjaannya. Dia bekerja dengan passion, dia bangga menjadi bagian dari sebuah televisi, apapun posisinya. Diam-diam, saya mencoba memahami kenapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/television-painting-225x300.jpg" alt="television-painting" title="television-painting" width="225" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-375" />Tiba-tiba saya teringat pada tokoh Kenneth di serial 30 Rock. Dia adalah pegawai rendahan (kalau tidak salah posisinya Pembantu Umum) yang bekerja di sebuah televisi swasta. Kenneth yang karakternya bego-bego lugu adalah seorang yang sangat mencintai pekerjaannya. Dia bekerja dengan <em>passion</em>, dia bangga menjadi bagian dari sebuah televisi, apapun posisinya.</p>
<p>Diam-diam, saya mencoba memahami kenapa 30 Rock membuat tokoh Kenneth dalam serialnya. Dia berasal dari kampung, anak udik yang kaget dengan gemerlapnya New York City. Matanya berbinar-binar jika melihat artis mampir di NBC, tempatnya bekerja. Dia anak kampung yang hampir seluruh hidupnya bergelut dengan peternakan, kini bisa menjadi bagian televisi.</p>
<p>Selama hampir enam bulan saya sudah benar-benar nyemplung di telvisi, selama itu pula menjadi pembuka mata saya akan dunia televisi. Saya, pernah seperti orang-orang yang tidak setuju dengan &#8220;pembodohan televisi&#8221;, sempat menganggap televisi adalah &#8220;sampah&#8221;, dan percaya bahwa <em>too much TV makes your brain goes bad</em>. Tapi sebenarnya saya tidak pernah benar-benar tidak menyukai televisi. Bagi saya, jika tak ada kerjaan, dan membaca menjadi kegiatan yang membosankan (hayo ngaku deh&#8230; pasti pernah kan merasa bosan baca buku), maka saya beralih ke televisi (selain menyewa DVD atau nonton bioskop). Tapi tentu, ada kalanya juga saya bosan nonton TV, seperti saya bosan pada buku-buku. Kesimpulan pribadi: saya pikir saya lumayan seimbang menempatkan diri antara televisi dan buku.<br />
<span id="more-374"></span></p>
<p> <div id="attachment_376" class="wp-caption alignright" style="width: 243px"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/30rock_kenneth-233x300.jpg" alt="Kenneth si pecinta televisi di serial 30 Rock" title="30rock_kenneth" width="233" height="300" class="size-medium wp-image-376" /><p class="wp-caption-text">Kenneth si pecinta televisi di serial 30 Rock</p></div> Ketika teman-teman saya mulai tahu saya bekerja untuk sebuah stasiun televisi dan bertugas membuat cerita untuk FTV (yang lebih banyak disebut &#8220;sinetron&#8221; oleh banyak orang), banyak pertanyaan dilontarkan ke saya. Di antaranya, &#8220;kok kamu bisa kerja bikin &#8216;cerita jelek&#8217;?&#8221;, &#8220;kok bisa sih kerja dikejar rating?&#8221;, dll. Awalnya, jujur saya juga bingung, dan bertanya pada diri sendiri: iya ya&#8230; kok bisa? Sekarang, setelah hampir enam bulan lewat, saya bisa bilang: ya, bisa saja, kenapa enggak?</p>
<p>Saya percaya, dalam waktu enam bulan ini saya menjadi orang yang lebih bijaksana karena sudah kerja di televisi. Saya jadi bisa melihat dari tiga sisi. Pertama, sisi para penulis sastra (di mana dari sinilah saya berasal); kedua, sisi orang program televisi; ketiga, sisi penonton. Saya bisa paham kenapa para penulis sastra tidak menyukai televisi, tetapi saya juga sangat bisa memahami kenapa orang televisi membuat acara yang sering disebut &#8220;enggak bermutu&#8221;, dan kenapa masih juga ada penontonnya.</p>
<p>Saya kini tidak percaya ada cerita yang jelek, yang ada&#8230; cerita itu tidak sesuai dengan selera seseorang, yang menyebabkan cerita itu laku/tidak. Dalam sebuah program televisi, berlaku hukum ekonomi: di mana ada permintaan, di situ barang diproduksi. Pada saat sinetron yang dibilang &#8220;enggak bermutu&#8221; itu dipertontonkan, dan ratingnya tinggi (berarti permintaannya tinggi), maka saat itulah sinetron ini akan jadi serial yang panjang. Kalau penonton sudah bosan, maka ratingnya turun, dan serial ini takkan diproduksi lagi. Nah, kira-kira seperti itulah. </p>
<p>Lain kali, kalau saya (atau Anda) mendengar ada orang marah-marah dengan serial Cinta Fitri yang sampai season 3, atau Tersanjung yang sampai season 9, maka saya bisa menjawab, &#8220;jangan kamu tonton serial itu, pasti nanti habis sendiri. Kalau ditonton terus, ya pasti akan diproduksi terus.&#8221;</p>
<p>Saya sering sekali mendengar komentar kalau acara kita tidak bermutu, tidak ada isinya, pembodohan, dll. Percayalah&#8230;, saya tahu bagaimana susahnya mencerdaskan bangsa lewat televisi. Saya pernah membuat cerita yang &#8220;berupaya mencerdaskan bangsa&#8221;, dan hasilnya ratingnya jeblok ketimbang cerita-cerita yang horor dan suspens. Dan jika sudah begini, maka cerita bergenre lebih cerdas tidak diproduksi lagi (setidaknya tidak dalam waktu dekat). Bagaimanapun, kita harus ingat, ketika masuk ke industri televisi, kita berhubungan dengan uang (yang bukan milik kita). Semua investor tentu mau uangnya kembali. Jika acara tersebut ratingnya jelek, maka tidak ada iklan yang mau masuk, maka modal tidak akan balik. Kira-kira begitu penjelasan sederhananya.</p>
<p>Kita tentu masih ingat dengan serial Dunia Tanpa Koma, yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo sebagai seorang jurnalis investigasi. Serial ini dibuat (konon) dalam rangka &#8220;mencerdaskan bangsa&#8221;, atau setidaknya memberikan tontonan yang lebih mendidik. Toh, pada kenyataannya, serial ini tidak bertahan lama, yang berarti tidak laku ditonton, yang berarti tidak ada iklan yang mau tayang. Aneh bukan? Jadi, jangan pernah bilang kalau pihak PH dan televisi tak pernah mencoba membuat acara yang bermutu. Sudah, dan kenyataannya: hancur di lapangan.</p>
<p>Tokoh Kenneth dalam 30 Rock bagi saya merupakan gambaran penonton kita yang memang aneh, mereka suka disuguhi &#8220;mimpi-mimpi&#8221;. Mereka suka para pemain yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng, meskipun diri sendiri jelek. Mereka juga suka menonton acara serial berlatar orang kaya, meskipun mereka sebenarnya miskin. Saya tidak tahu pasti kenapa, tetapi mungkin (ini hanya menduga-duga) karena hidup mereka sudah susah, kalau masih disuruh menonton acara yang harus mikir sepulang kerja berat seharian, bagi mereka itu suatu beban. Selain itu, mungkin karena bagi sebagian besar orang Indonesia buku masih merupakan barang mewah, sedang televisi hiburan murah, jadilah acara TV kita itu laku ditonton. </p>
<p>Saya pikir ada baiknya kita belajar melihat dari sisi penonton.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/berguru-pada-televisi-374.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
