<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ratih Kumala's Little Blog &#187; YouTube</title>
	<atom:link href="http://ratihkumala.com/blog/category/youtube/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ratihkumala.com</link>
	<description>The Only Constant is Change</description>
	<lastBuildDate>Sun, 23 Oct 2011 13:24:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Betawi Jaman Doeloe</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/betawi-jaman-doeloe-480.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/betawi-jaman-doeloe-480.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Jun 2009 18:46:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kronik Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[YouTube]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=480</guid>
		<description><![CDATA[Kita semua tahu, Jakarta telah berubah sedemikian rupa. Tapi seperti apakah Jakarta (alias Betawi, alias Batavia) sebelum perubahan itu ada? Sebelum gedung menjulang tinggi, sebelum jalan padat merayap, sebelum orang berkerumun bak rayap. Saya menemukan video menarik di YouTube.com yang diposting oleh falkonungu. Selamat menonton video pendek ini. Semoga kita makin menghargai ibukota ini. Saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><script src="http://www.gmodules.com/ig/ifr?url=http://www.google.com/ig/modules/youtube.xml&amp;up_channel=falkonungu&amp;container=youtube&amp;w=320&amp;h=390&amp;title=&amp;border=%23ffffff%7C3px%2C1px+solid+%23999999&amp;output=js"></script></p>
<p>Kita semua tahu, Jakarta telah berubah sedemikian rupa. Tapi seperti apakah Jakarta (alias Betawi, alias Batavia) sebelum perubahan itu ada? Sebelum gedung menjulang tinggi, sebelum jalan padat merayap, sebelum orang berkerumun bak rayap. Saya menemukan video menarik di YouTube.com yang diposting oleh falkonungu. Selamat menonton video pendek ini. Semoga kita makin menghargai ibukota ini.</p>
<p><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/kronik-betawi-201x300.jpg" alt="kronik-betawi" title="kronik-betawi" width="201" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-487" /><br />
Saya sering berpikir seperti apa Jakarta jaman dulu. Menulis <strong><em>Kronik Betawi </em></strong>lebih banyak membuka memori tentang Jakarta ketika saya masih kecil. Betapa semua berbeda ketika beberapa waktu lalu saya kembali ke Pondok Gede, rumah di mana saya dibesarkan. Rumah Sakit Husni Tamrin bukan lagi sebuah klinik bersalin kecil seperti ketika adik saya yang paling kecil dilahirkan. tanah pekuburan di depan gang masuk menuju rumah saya kini telah diratakan dan konon tulang belulang manusia sudah dipindahkan dari situ. Jalan gang yang dulu besar, kini serasa pendek dan sempit, sedangkan kebun kecapi yang dulu luas dan penuh nyamuk telah disulap jadi rumah bertingkat. </p>
<p>Buku saya keempat, <strong><em>Kronik Betawi</em> </strong>, bercerita tentang Jakarta dari jaman penjajahan Jepang (tahun &#8217;40-an) hingga awal era Reformasi (1998). Tiga tokoh yang merupakan anak daerah, yaitu Jaelani, Jarkasi dan Juleha (beserta garis keturunan keluarga mereka) tiba-tiba tergusur dan tergeser. Novel ini sengaja saya tulis dengan sangat ringan dan sederhana, jauh dari kesan &#8220;high-literature&#8221; yang jelimet. Ini adalah persembahan saya untuk kota kelahiran saya, Jakarta. Selamat membaca dan selamat makin mencintai Jakarta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/betawi-jaman-doeloe-480.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Kado Hari Jadi&#8221;, a film by Paul Agusta</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/kado-hari-jadi-a-film-by-paul-agusta-146.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/kado-hari-jadi-a-film-by-paul-agusta-146.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 May 2008 13:39:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[YouTube]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/blog/kado-hari-jadi-a-film-by-paul-agusta-146.php</guid>
		<description><![CDATA[    Seperti biasa, saya selalu mengukai kerja-kerja indie dengan semangat muda, entah itu soal buku maupun film. Belum lama, teman saya, Paul Agusta, bercerita tengah girang sebab dia akan membuat film features pertamanya. Setelah beberapa saat menghilang dari peredaran, dia kembali dengan sebuah karya yang diomongkannya, film &#8220;Kado Hari Jadi&#8221; Kado Hari Jadi (The [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="355" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="wmode" value="transparent" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/BQTu1BCQFnA&amp;hl=en" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="355" src="http://www.youtube.com/v/BQTu1BCQFnA&amp;hl=en" wmode="transparent"></embed></object> </p>
<p>Seperti biasa, saya selalu mengukai kerja-kerja indie dengan semangat muda, entah itu soal buku maupun film. Belum lama, teman saya, Paul Agusta, bercerita tengah girang sebab dia akan membuat film features pertamanya. Setelah beberapa saat menghilang dari peredaran, dia kembali dengan sebuah karya yang diomongkannya, film &#8220;Kado Hari Jadi&#8221;<br />
<span id="more-146"></span><br />
<strong>Kado Hari Jadi (The Anniversary Gift) Synopsis:</strong><br />
A young man wakes up chained to metal chair in a room painted a sickening shade of pink and illuminated by a single blinding block of neon lights placed at his right. A razorblade hangs on a string before him, and sharp pink pencils are aimed at his left eye and stomach. He does not know where he is or why he’s there. Periodically, a beautiful young woman dressed in floral summer dress enters the room and performs cruel and calculated acts of seemingly senseless torture. Who is she? Why is she doing this? What has he done to deserve this? And most importantly, will he survive?</p>
<p>Seorang pemuda terbangun di sebuah ruangan kecil berwarna merah muda. Ia dirantai di sebuah kursi terbuat dari besi. Di hadapannya terdapat sebuah silet yang tergantung pada tali, dan disampingnya ada sebatang besi yang mengarahkan sebuah pensil tajam ke mata kirinya. Dia tak tahu dirinya dimana ataupun kenapa dia disekap disitu. Sesekali masuk ke dalam ruangan itu seorang wanita cantik bergaun indah yang mulai menyiksanya secara kejam dan pelan. Siapakah wanita ini? Kenapa dia menyiksa si pemuda? Apakah pemuda itu akan selamat?</p>
<p><strong>Biografi Sutradara dan Penulis:</strong></p>
<p><strong>Paul Agusta: Director/Executive Producer/Composer/Story</strong><br />
Paul Agusta was born in Jakarta in1980 and studied film in America before returning to Indonesia in 2003. This young moviemaker believes that video levels the playing field in filmmaking of any kind due to its affordability and availability, and that the only true resource a video-maker needs is a solid, well thought out idea; the rest is simply implementation. There is no excuse for video-makers not to fulfill their creative urge, you can always beg, borrow, or steal a camera. His short videos (mostly shot on borrowed or discarded cameras) have been included in various local and international film events and screenings. Prior to 2007, Paul had been a nationally known film critic, festival manager, and film curator. He has since resigned from those previous careers to focus on his work as a film and video-maker. Kado Hari Jadi (The Anniversary Gift) is his first feature film.</p>
<p>Paul Agusta lahir di Jakarta pada tahun 1980. Ia kembali ke Indonesia pada tahun 2003 setelah belajar film di Amerika. Sebagai pembuat film dan video, Paul berpegan teguh pada prinsip bahwa video telah menyamaratakan kesempatan semua orang untuk berkarya dalam bidang sinema, dan bahwa satu-satunya hal yang dibutuhkan seorang pembuat film adalah ide cerita yang dikembangkan dan dipikirkan secara penuh, sisanya hanya sekedar pelaksanaan. Tak ada alasan bagi seorang pembuat film untuk tidak memuaskan keinginannya untuk berkarya, kamera bisa selalu didapatkan dengan cara apapun; meminjam, membeli, menyewa, ataupun lewat cara-cara lain. Karya-karya video Paul (yang hampir semua dibuat menggunakan kamera pinjaman ataupun kamera bekas dan buangan) telah diputar di berbagai pemutaran film di Indonesia dan dunia. Sebelum 2007, Paul lebih telah dikenal sebagai seorang kritikus film dan musik, kurator film, dan lewat keterlibatannya dalam berbagai festival. Awal tahun 2007 ia mengundurkan diri dari semua itu untuk berkonsentrasi pada karyanya sendiri. Kado Hari Jadi adalah film panjang pertamanya.</p>
<p><strong>Dalih Sembiring: Story/Screenplay</strong><br />
Born in Binjai, North Sumatera on May 4th, 1983. A graduate of English Literature, Gadjah Mada University, Yogyakarta, he is currently working in Jakarta as a freelance writer, translator, and editor. He has been writing fiction since senior high school. His short stories have been published in newspapers, magazines, journals, as well as in anthologies with other writers. He co-wrote a teen novel called <em>Cha untuk Chayang</em> with Abmi Handayani (2007, Gramedia Pustaka Utama), now in its second printing. He has also been writing features for The Jakarta Post since September 2007 under the pseudonym Daniel Rose. Kado Hari Jadi (The Anniversary Gift) is his second attempt at writing a film script, the first one being an unfinished script called Bila Baik Budi. Dalih Sembiring has recently completed his first solo novel, titled Nel, which is awaiting publication.</p>
<p>Dalih Sembiring, seorang penulis lulusan Fakultas Sastra Inggris Universitas Gajah Mada Yogyakarta, lahir di Binjai, Sumatera Utara pada tanggal 4 Mei1983. Saat ini ia tinggal di Jakarta dan bekerja sebagai seorang penulis, penterjemah, dan editor lepas. Ia mulai menulis fiksi sejak SMA. Karya-karyanya telah dimuat di berbagai Koran, majalah, jurnal, dan antologi-antologi sastra bersama penulis lain. Novel remaja yang ia tulis bersama Abmi Handayani yang berjudul <em>Cha untuk Chayang </em>(2007, Gramedia Pustaka Utama), telahu memasuki cetakan kedua. Sejak September 2007, Dalih telah menjadi kontributor tetap di harian berbahasa Inggris, The Jakarta Post, menggunakan Nama Pena Daniel Rose. Kado Hari Jadi adalah percobaan keduanya dalam menulis scenario film setelah sebuah script yang tak selesai berjudul Bila Baik Budi. Dalih juga telah menyelesaikan novel solo pertamanya yang berjudul Nel yang sedang menunggu tanggal terbit.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/kado-hari-jadi-a-film-by-paul-agusta-146.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wayang Rajakaya (Rajakaya Shadow Puppet)</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/wayang-rajakaya-101.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/wayang-rajakaya-101.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Mar 2008 04:39:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[YouTube]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/blog/wayang-rajakaya-101.php</guid>
		<description><![CDATA[Si kancil anak nakal/suka mencuri ketimun/ayo lekas dikurung/jangan diberi ampun!// Ketika saya melihat klip Wayang Rajakaya di YouTube, lagu anak-anak berjudul Si Kancil tiba-tiba muncul di kepala saya. Herlambang Bayu Aji, atau yang lebih akrab saya panggil Gundul, mengirimkan video YouTube di atas. Betapa saya senang melihatnya perkembangannya. Bagaimana tidak, sekitar tiga tahun yang lalu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><center><object width="425" height="355"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/hnS95WjDBGA&#038;color1=0xe1600f&#038;color2=0xfebd01&#038;hl=en"></param><param name="wmode" value="transparent"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/hnS95WjDBGA&#038;color1=0xe1600f&#038;color2=0xfebd01&#038;hl=en" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent" width="425" height="355"></embed></object></center></p>
<blockquote><p><em>Si kancil anak nakal/suka mencuri ketimun/ayo lekas dikurung/jangan diberi ampun!//</em></p></blockquote>
<p>Ketika saya melihat klip Wayang Rajakaya di YouTube, lagu anak-anak berjudul Si Kancil tiba-tiba muncul di kepala saya. Herlambang Bayu Aji, atau yang lebih akrab saya panggil Gundul, mengirimkan video YouTube di atas. Betapa saya senang melihatnya perkembangannya. Bagaimana tidak, sekitar tiga tahun yang lalu, Gundul meminta saya membuat naskah untuk Wayang Rajakaya.<br />
<span id="more-101"></span><br />
&#8220;Wayang Rajakaya? Apaan tuh?&#8221; tanya saya waktu itu. Lalu dia menjelaskan, untuk tugas akhirnya, ia membuat wayang jenis baru dengan tokoh binatang-binatang, dan berbasis cerita fabel. Dia tahu saya banyak menulis, dan mengharapkan keterlibatan saya untuk proyek ini.</p>
<p>Saya ingat, ia membawa satu tas penuh wayang-wayang binatang yang masih kasar. Belum diberi warna, belum juga ada tongkatnya. Ia membuatnya dari kardus. &#8220;Aku tidak bisa berhenti bekerja menyelesaikan wayang ini!&#8221; ujarnya bersemangat, &#8220;nih&#8230; tanganku sampai lecet-lecet.&#8221; Saya langsung jatuh cinta melihat bakal wayang itu. Ia begitu antusias akan proyek ini (dan saya suka bekerja dengan orang yang antusias). Jadilah, kami berdua (di kantin sastra) membuat konsep cerita yang pertama. Setelah itu, saya menuliskan naskah lengkap, sementara Gundul menyelesaikan membuat wayang. Naskah itu berjudul <em>Sapi yang Bodoh</em>, yang lalu diterjemahkan ke Bahasa Inggris dengan judul <em>The Cow</em>, dan diterjemahkan lagi ke bahasa Jerman dengan judul <em>Die Kuh</em>. Wayang ini tidak berhenti sampai di tugas akhir kuliah, Gundul membawanya serta untuk pentas di Jerman. Bersama Dorle Ferber, mereka berkolaborasi musik untuk pertunjukan wayang ini. Hingga sekarang, Gundul telah membuat dua naskah lain, dan masih terus bergerak untuk mengembangkan wayang ini. </p>
<p>Jika Anda tertarik untuk tahu lebih banyak tentang Wayang Rajakaya, silakan kontak Herlambang Bayu Aji di: ludnuguyab@yahoo.co.uk</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p><center><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/rajakaya.jpg" alt="" /> </center><br />
<center><small>Herlambang Bayu Aji and Dorle Ferber</small></center></p>
<blockquote><p><em>The mouse deer is a naughty kid/who likes to steal cucumber/go put it into stable/do not let it out!//</em> [Indonesian children song]</p></blockquote>
<p>When I first saw the klip of Wayang Rajakaya (Rajakaya Shadow Puppet) at YouTube, that children lyric of mouse deer was playing on my mind. Herlambang Bayu Aji, or I oftenly called as Gundul, sent me that video (above). How I was happy to see its progress. Around three years ago, Gundul asked me to write a script for Rajakaya Shadow Puppet.</p>
<p>&#8220;Rajakaya shadow puppet? What is that?&#8221; I asked. Then he explained, for his final University project, he made a new kind of shadow puppet with animal characters, and the story was fable. He knew I write, and expecting me to get involve in this project.</p>
<p>I remember, he brought a bag full of a rough cut of animal puppets. They were not even in color and didn&#8217;t have the stick to grab on -on it. He made them from cardboard. He said excitingly, &#8220;I cant stop working on these puppets! Look at my hands, they&#8217;re chafed.&#8221; I fell in love with those puppets instantly. Gundul was so enthusiastic for his project (and I like working with spirited people). So, both of us (at the University canteen) were making the first story concept. Afterward, I wrote its complete script while Gundul was finishing his puppets. The script tittled <em>Sapi yang Bodoh</em>, which then translated into English as <em>The Cow</em>, and into German as <em>Die Kuh</em>. This shadow puppet was not stop at his final University project, Gundul brought it up to Germany. He colaborated with Dorle Ferber to make music for the show. Up to now, Gundul has made two other scripts, and keeps moving on to develop his shadow puppets.</p>
<p>If you interested to know more about Wayang Rajakaya (Rajakaya Shadow Puppet), you may contact Herlambang Bayu Aji at ludnuguyab@yahoo.co.uk</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/wayang-rajakaya-101.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

