Datangnya dan Perginya:
Obituari untuk Ibu Diyah Bekti Ernawati

Saya mengenal satu orang yang mengingatkan saya betul-betul akan kematian. Jika ia berbicara tentang kematian, selayaknya berbicara gosip selebriti di infotainment. Dan selalu…, selalu…, sepulang dari rumahnya membuat saya berpikir tentang hidup.


Saya tak sempat bertanya apa kabarnya, atau berjanji memberi tenggat waktu kapan buku yang kami rencanakan untuk ditulis akan selesai. Yang pasti, satu minggu sebelumnya, ia selalu ada di kepala saya; tiduran di sebuah kasur di rumahnya dengan wajah yang telah cekung. Seperti itulah keadaan beliau terakhir saya dan Metta (sahabat saya) datang menemui di kediamannya. Ketika itu, tepat beberapa hari sebelum kami wisuda. Kami sebetulnya telah berrencana untuk menemui beliau setelah wisuda, tetapi rencana itu tak pernah terlaksananya. Dan betapa saya menyesalinya sekarang.

Aneh, dalam benak saya, orang seperti beliau, yang tubuhnya sedikit demi sedikit digerogoti penyakit, pandangan matanya tak berheti hidup. Sedang mungkin, mata saya sendiri, yang masih sehat wal afiat, sering kosong, putus asa dan bosan hidup. Tapi tidak bagi Bu Erna, ia sepertinya punya segudang alasan untuk tetap hidup. Saya masih ingat, ketika ia berkata “sekarang ini, ketika saya bangun, saya sangat terkagum-kagum masih bisa melihat matahari.” Lalu, ia bercerita ketika pertama kali penyakit itu menyambanginya:

“Ketika itu saya sedang pendidikan di Australia. Saya seorang ibu rumah tangga biasa dengan dua orang anak dan seorang suami. Hingga suatu hari, saya melihat di cermin. Salah satu payudara saya mencong, yang akhirnya mengantakan saya ke Rumah Sakit. Di sana saya didiagnosa menderita kanker payudara, dan harus diangkat. Setelah itu, selama satu minggu, saya dan suami, mengijinkan diri sendiri untuk menangis dan bersedih. Kami histeris akan musibah ini. Lalu, diangkatlah satu payudara saya.”

“Saya ingat, ada satu jaket yang sangat ingin saya beli, tapi saya tunda-tunda. Setelah operasi, saya langsung melanjutkan kuliah lagi dengan jaket itu yang akhirnya saya beli untuk menutupi tubuh saya yang masih dengan jahitan operasi yang baru. Tak ada satu teman pun yang tahu bahwa saya habis operasi.”

“Beberapa hari lalu, ada mahasiswa baru yang menggoda saya karena datang ke kelas dengan kepala mbrundul seperti ini (ketika itu rambut Bu Erna rontok karena kemoterapi, dan mulai tumbuh sedikit-sedikit, jadi potongannya mirip rambut cepak tentara). Seluruh kelas tertawa. Lalu saya jelaskan, bahwa saya menderita kanker dan sedang menjalani kemoterapi.”

“Anak saya pernah bilang, ‘Bu, saya ingin buka bengkel. Ya…, saya akan tetap kuliah, tapi saya tetap mau buka bengkel. Tukang bengkel tapi sarjana, boleh kan Bu?’ terus kata saya, ‘yoo….’ Saya dan mas Cipto (suami Bu Erna) sering masih terbangun sampai jam dua pagi. Kami sering berbicara tentang hidup, bertukar pikiran. Kadang-kadang kami juga berandai-andai kalau anak-anak sudah saatnya akan menikah.” Lalu beliau tertawa. Saya kesulitan mengartikan tawanya. Apakah itu berarti dia tahu, bahwa ia tak akan melihat anak-anaknya menikah.

Di satu kesempatan, saya sempat bertanya, “Bu, masih terima bimbingan skripsi toh?” Kami melihat tumpukan skripsi bimbingannya di meja dekat kasur beliau rebahan.
“Lha iya… kasihan mahasiswa kalau tidak ada yang membimbing. Sekarang ini, kalau saya sedang sehat sedikti saja, saya cepat-cepat periksa skripsinya. Mumpung sempat, meski waktu saya sempit. Justru karena saya tahu waktu saya sempit, maka saya menggunakannya sebaik mungkin. Itu, ada satu bimbingan S2 saya yang baru saja selesai, akan ujian minggu ini. Meski saya tidak bisa mengujinya, yang penting saya sudah membimbingnya.” Selama dua tahun terakhir Bu Erna cuti karena sakit, meski tetap membimbing skripsi mahasiswanya.

Berkali-kali saya ke rumah beliau semasa dan setelah kuliah, seingat saya hanya satu kali beliau menemui saya di kursi tamu. Selebihnya, di tempat tidur. Saya dan Metta sempat jadi asisten beliau untuk penelitian yang dipimpinnya. Beliau juga seorang dosen yang rajin memberi informasi dan rekomendasi pekerjaan untuk mahasiswa yang butuh pekerjaan sampingan.

Ketika beliau dioperasi (kalau tidak salah) untuk yang ketiga kalinya di Jogjakarta, saya dan Metta sempat datang ke Rumah Sakit untuk menengok. Saya masih ingat, bagaimana Bu Erna masih bisa tertawa-tawa dan berdiskusi politik dengan suaminya, mengomentari berita di Metro TV. Saya yakin, bagi keluarganya, Bu Erna adalah dunia mereka (dan mungkin lebih dari itu).

Ketika saya menerbitkan buku untuk pertama kalinya, Bu Erna adalah dosen pertama yang saya beri buku tersebut. Dan betapa saya heran, karena ternyata beliau betul-betul membacanya! Saya pikir hanya akan disimpan saja. Lalu, lewat SMS beliau berkomentar bahwa sangat menyukai novel Tabula Rasa, menyelamati saya, dan bilang bahwa dia menyukai beberapa metafora, bahkan menggarisbawahinya.

Mungkin yang saya ingat hanya sepotong-sepotong tentang beliau. Namun saya cukup senang bisa mengenal beliau lebih dekat (bahkan mungkin lebih dekat daripada mahasiswa lainnya).

Bagi mahasiswa-mahasiswanya, beliau adalah dosen yang ‘enak’ (bukan killer). Mengajarnya sangat jelas, murah senyum, motivator yang baik, dan… murah nilai. Bagi Metta, sahabat saya, dia adalah pembimbing skripsi yang tak pernah putus-putus menyemangatinya (mana ada pembimbing skripsi yang lebih rajin daripada bimbingannya?! ya Bu Erna itu!). Bagi saya…, beliau adalah… [saya tiba-tiba tidak mampu berpikir].

Selamat jalan, Bu Erna….

==========

Berita Duka: Telah meninggal dunia

Ibu Prof. Dra. Diyah Bekti Ernawati, MA, PhD (46 tahun/dosen Sastra Inggris-UNS) pada hari Jum’at | 21 Maret 2008 | jam 10 pagi.

Jenazah akan dikebumikan hari Sabtu | 22 Maret 2008 | jam 10 pagi | di Astana Pracimaloyo.

Mohon dimaafkan atas segala kesalahan dan semoga arwah Almarhumah diterima disisi-Nya dan ditempatkan di surga-Nya.

Jurusan Sastra Inggris-Universitas Sebelas Maret Surakarta,
Agus

* Judul “Datangnya dan Perginya” dipinjam dari cerpen karya AA Navis
* Foto Bu Erna dan putrinya, Etta.

Update:
Teman saya menulis juga obituari untuk ibu Diyah bekti Ernawati, di sini .

8 thoughts on “Datangnya dan Perginya:
Obituari untuk Ibu Diyah Bekti Ernawati

  1. mba’ Ratih, salam kenal :)

    turut berduka untuk ibu Erna…

    anyway, kisah beliau mengingatkan saya pada kisah dosennya Mitch Albom :)

    pasti menyenangkan, ya, mengenal seseorang seperti beliau?

  2. hey…hari ini baru ada disemarang dan dapat konfirmasi dari filmon. iya, sekarang aku percaya. tapi aku nggak bisa nangis. bahkan aku nggak tahu apa harus nangis apa nggak. bu erna pasti akan marah kalau kita nangis kan? tapi kalau nggak nangis…aku juga pengen menulis obituari tentang beliau tapi belum bisa sekarang… ratih, kangen diem2an sama kamu seperti saat kita pulang dari rumah beliau…merenungkan betapa kita bukan siapa2 dibanding beliau.
    love. metta.

  3. Aku tidak dekat dengannya. Tetapi, dulu, setiap kali berada di dalam kelasnya aku selalu merasa nyaman. Ia adalah dosen yang bisa menjadi guru sekaligus sahabat buat para mahasiswanya. Turut berduka atas kepergiannya. Semoga Tuhan memberikan tempat yang teduh kepadanya seperti ia meneduhkan kami di masa lalu ….

  4. Salam kenal Mba…. ;)
    Turut berduka untuk ibu Erna…
    semoga arwah Almarhumah diterima disisi-Nya, dan yang di tinggalkan diberi ketabahan.
    amieeennn….

  5. innalillahi wainna ilaihi rajiun. semoga perjalanan belaiu menuju ke haribaan-Nya diberikan kelapangan dan diampuni segala dosa dan kesalahannya semasa hidup. keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan ketabahan, amiin.

  6. i luph my mommy….

    i miss her so much…

    life is never easy…

    but i’m greatful to have a mom like her…

    ======

    Etta:
    Etta, salam kenal.
    Nggak nyangka, kamu bisa sampai ke blogku. We’ve met several times before, when I visited your mom at home. You don’t know how much I miss her, and although I’m so sad, I’m sure deep down inside, you are more sad than I am. I hope we always keep in touch. I’d like to put your mom’s picture in my blog, if you don’t mind.

  7. Dear Ratih …
    SAya adek mbak Erna ….dan kita sempet ketemu di tempat mbak Erna
    Makasih buat Obituari nya … cuman mau nambahin comment aja tentang mbak Erna … She’s My Sister yang sangat LUar BIasa ! Ada satu penyesalan yang masih sampek sekarang kadang muncul …
    Terlalu cepat waktu yang kami rasakan untuk menyaksikan..mengaguminya …apa saja yang yang baru saja mbak Erna dapat dengan susah payah dan perjuangan yang luar biasa ..
    Skali lagi terima kasih buat Obituari nya..for My Lovely Sister ….

    =====

    Wiby:
    Halo Mas Wibi, ya saya ingat kita memang pernah bertemu. Kepergian Bu Erna dan masa hidupnya yang pendek benar-benar membuat saya banyak berpikir. Ada banyak waktu yang saya sesali, kenapa saya harus kenal beliau kalau akhirnya diambil, kenapa pula saya harus kenal dekat? Kenapa tidak saya menjaga jarak, tentu kalau saya menjaga jarak tidak akan sesakit dan sesedih sekarang. Tapi toh akhirnya saya percaya Tuhan punya rencana sendiri, dan saya tidak boleh (dan tidak bisa) menyesali kepergiannya.
    Semoga kita semua yang ditinggalkan diberi kekuatan.

Comments are closed.