Doel Hamid Asal Betawi
7

Doel Hamid Asal Betawi


Si Doel Anak Sekolahan, sinetron yang cukup populer di tahun ’90-an

Tak banyak orang tahu bahwa salah satu tokoh paling populer asal Betawi ini ternyata bukan diciptakan oleh sastrawan Jakarta, dialah Doel Hamid, atau yang lebih kita kenal dengan panggilan Si Doel. Pada tahun 1951, Aman Datuk Madjoindo, sastrawan asal Sumatera Barat menciptakan tokoh Si Doel dalam novel anak berjudul Si Doel Anak Betawi. Ketika nama “Betawi” diumumkan menjadi “Djakarta”, judul buku ini diubah menjadi Si Doel, lalu diubah lagi menjadi Si Doel Anak Djakarta. Mengutip pendahuluan Aman Datuk Madjoindo di buku cetakan ke lima, “Karena nama ‘Betawi’ itu sudah hilang sama sekali dari perasaan, hanya nama ‘Djakarta’ djua jang terlintas dihati, maka saja tambahkan kembali nama itu, djadi Si Doel anak Djakarta.”

Saya mengenal Si Doel pertama kali dari film karya Sjuman Djaya, Si Doel Anak Modern yang dibintangi oleh Benyamin, Christine Hakim dan Achmad Albar. Si Doel Anak Modern adalah sekuel dari Si Doel Anak Betawi yang dibintangi oleh Rano Karno kecil, dan Benyamin sebagai babenya. Tapi entah mengapa, yang terus teringat jelas di benak saya adalah Si Doel Anak Modern. Kisahnya tentang Si Doel yang sudah dewasa, dan lebih fokus pada kehidupan cintanya yang ternyata bertepuk sebelah tangan.

Selain film karya Sjuman Djaya, saya mengenal Si Doel lewat sinetron Si Doel Anak Sekolahan pada tahun ’90-an yang ketika itu lumayan populer. Rano Karno kembali membintangi menjadi Si Doel yang kini sudah lulus kuliah dan susah cari kerja. Benyamin tetap jadi babe Si Doel, yang kerjanya menjadi supir oplet. Beberapa karakter tambahan di versi sinetronnya membuat serial Si Doel jadi lebih hidup; Mandra, Mas Karyo (diperankan Basuki, alm.), Zaenab (diperankan Maudy Koesnadi), Sarah (diperankan Cornelia Agatha), dan beberapa tokoh lain.

Ketika kecil, saya tidak menemukan novel Si Doel Anak Betawi di toko-toko buku. Saya lebih banyak membaca buku karya Enyd Bliton. Jadi, sejujurnya, saya baru mengakrabi novel Si Doel Anak Betawi setelah saya mengenal versi layarnya. Dalam bukunya, dikisahkan karakter Si Doel sebagai seorang anak yang ceria, pemberani, dan penurut pada orangtuanya. Dia tinggal di daerah Pisangan Baru bersama babe dan nyaknya. Setiap sore dia pergi mengaji bersama teman-temannya yang diajar oleh Uak Salim, seorang guru ngaji yang keras, uang juga engkongnya sendiri.

Aman Datuk Madjoindo, penulis novel Si Doel Anak Betawi

Aman Datuk Madjoindo, penulis novel Si Doel Anak Betawi

Novel anak Si Doel Anak Betawi dibagi menjadi sembilan bab. Pada lima bab awal, pembaca akan mengira buku ini berisi cerita yang berdiri sendiri-sendiri tentang petualangan  keseharian Si Doel. Ada Si Doel yang berkelahi dengan temannya, ada pula Si Doel yang main pura-pura jadi Haji. Di lain cerita, Si Doel yang berusaha menggembalakan kambing. Ketika tiba pada bab enam, “Berjual Nasi Ulam” maka pembaca baru tahu bahwa buku ini sebenarnya bersambung dari bab ke bab, tidak berdiri sendiri-sendiri. Pada bab enam, babe Si Doel yang seorang sopir otobus mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Sedikit terlambat penempatan masalah babe meninggal ini sebenarnya, sebab itulah konflik terbesar novel ini. Setelah itu, Si Doel dan nyaknya hidup penuh penderitaan, dan Si Doel harus membantu ibunya bekerja. Tapi, biarpun demikian, kesan Si Doel sebagai anak Betawi yang pemberani dan ceria terus berlanjut. Hanya karena babe meninggal, tidak lantas kisah Si Doel jadi lebih berat. Sebagai novel anak, buku ini (bab enam-sembilan) sarat  dengan permasalahan yang sebenarnya berat dan dihadapi orang dewasa, tetapi dilihat dari sudut pandang Si Doel, serta bagaimana Si Doel menghadapi masalah itu. Saya sendiri, berkesimpulan bahwa pesan moral yang ingin disampaikan buku ini adalah, seorang anak haruslah menurut pada nasehat orangtua, terutama ibu.

Di buku, kisah Si Doel ditutup dengan senangnya ia bisa bersekolah. Sedang dalam sinetron, dikisahkan Si Doel yang baru selesai kuliah dan akhirnya menjadi orang sukses meski harus terseok-seok terlebih dahulu. Si Doel dalam buku, yang sejak kecil pun tak malu kerja keliling kampung berjualan nasi ulam, dalam sinetron disambung dengan Si Doel dewasa yang tak malu kerja menjadi sopir oplet ketika pekerjaan yang layak untuk seorang Insinyur sangat sulit didapatkan.

Kisah babe Si Doel yang meninggal dunia dalam buku, juga diangkat dalam filmnya (yang dibintangi Rano Karno kecil, dan Benyamin sebagai babenya). Ironisnya, ketika sinetron Si Doel Anak Sekolahan muncul, Benyamin (yang juga berperan sebagai karakter babe Si Doel) benar-benar meninggal dunia. Jadi, di serial sinetron pun naskahnya menyesuaikan pemainnya yang sudah tiada. Kisah nyak Si Doel yang tak mau keluar kamar berhari-hari, tak doyan makan, karena ditinggal mati suaminya pun diangkat persis di sinetron.

Untuk urusan asmara, kisah cinta yang mewarnai kehidupan Si Doel dewasa di versi layar sama sekali tidak terlihat di Si Doel kecil dalam versi buku. Hanya, ada satu karakter gadis cilik bernama Asnah, tetangga Si Doel yang selalu bersikap baik pada Si Doel, meski tak menunjukan tanda-tanda ‘naksir’. Saya pikir, hal semacam ini sengaja dibatasi oleh penulisnya, mengingat buku ini adalah novel untuk anak-anak. Si Doel dewasa dalam versi layar, punya kisah cinta yang unik. Bagi Sjuman Djaya, Si Doel  -sebagai anak Betawi yang konon dibilang ketinggalan jaman-, ternyata punya kisah cinta dengan gadis-gadis moderen, yang bukan aseli berasal dari Betawi. Dalam Si Doel Anak Modern, Si Doel jatuh cinta pada Christine Hakim, gadis moderen yang ternyata kisah cintanya putus nyambung dengan Achmad Albar. Achmad Albar pada jaman itu cukup ganteng dan populer, terutama karena rambutnya yang unik, keriting mekar mirip rambut orang kulit hitam yang ngetrend tahun ’70-an. Si Doel, demi mengejar cintanya menggunakan wig yang mirip rambut Achmad Albar. Kisah cinta Si Doel bertepuk sebelah tangan dalam film ini, Christine Hakim tak mau dinikahi Si Doel, padahal dia sudah datang  bersama rombongan dengan perlengkapan rebana untuk melamar Christine Hakim. Kisah cinta Si Doel dalam sinetron serial Si Doel Anak Sekolahan beda lagi. Cinta Si Doel terbagi dua, antara Zaenab (gadis kampung aseli Betawi yang konon sudah dijodohkan dengan Doel sejak kecil), dan seorang gadis bernama Sarah (gadis moderen yang ‘makan sekolahan’, yang awalnya mendekati Si Doel dan keluarganya untuk membuat riset skripsi kuliahnya, tapi kemudian jatuh cinta).

Sjuman Djaya, sutradara Si Doel Anak Betawi dan Si Doel Anak Modern

Sjuman Djaya, sutradara Si Doel Anak Betawi dan Si Doel Anak Modern

Versi layar (baik film maupun sinetronnya) sudah tentu mengadaptasi karakter Si Doel dari buku. Film Si Doel Anak Betawi karya Sjuman Djaya lebih mengadaptasi versi aseli bukunya. Sjuman Djaya pun ikut sebagai main sebagai pemeran Asmad, bapak tiri Si Doel kecil. Sedang sekuelnya, jelas sekali cerita sudah jauh dari bukunya, hanya tokoh Si Doel saja yang dipertahankan. Seperti juga sinetron Si Doel Anak Sekolahan, yang kisahnya sudah lepas dari versi buku.  Aman Datuk Madjoindo setahu saya tidak pernah menulis kisah Si Doel kelanjutannya (tolong beritahu saya kalau memang dia membuat buku Si Doel lainnya). Si Doel tidak seperti tokoh Nyai Dasima, yang kisah legendanya hanya satu. Ia bisa berkembang sesuai pembuatnya. Tokoh Si Doel sepertinya sudah menjadi tokoh milik publik (khusunya Jakarta). Karakter Si Doel adalah representasi karakter putra Betawi yang memang begitulah adanya. Posisi Si Doel saya kira seperti Si Kabayan dari Sunda, Nasrudin dari Timur Tengah, dan Pak Belalang dari Melayu/Sumatera. Kisah Kabayan bisa berkembang ke mana-mana, lihat saja filnya: Si Kabayan Saba Kota, Si Kabayan Saba Metropolitan. Nasrudin menghadirkan kisah-kisah konyolnya yang bernapaskan Islami. Buku tentang Nasrudin ditulis oleh penulis-penulis yang berbeda, yang ingin menyampaikan kelakar dengan meminjam Nasrudin sebagai karakter utamanya. Sedang Pak Belalang menceritakan nujum palsu nan kocak yang dilakukan oleh Pak Belalang dan anaknya, Si Belalang. Kesamaannya adalah, baik Si Doel, Kabayan, Narsudin maupun Pak Belalang menawarkan kemungkinan besar untuk kisahnya berkembang. Persyaratan lain yang sepertinya tidak tertulis tetapi semua orang tahu adalah jika seorang kreator berniat membuat cerita dari empat tokoh di atas, maka kisahnya harus punya pesan moral dan disampaikan dengan kocak sehingga bisa diterima oleh masyarakan umum.

Ratih Kumala, penulis.

7 thoughts on “Doel Hamid Asal Betawi

  1. kalau cerita si Doel dikembangkan, apakah harus ada ijin dari pihak pencipta tokoh yang pertama, Tih?

    gimana kalo kamu ikut ngembangin cerita si Doel ini?

    ——————–

    @Adelina: Hhm… aku sempat berpikir soal itu juga, Na. Aman Datuk Madjoindo sendiri sudah meninggal 40 tahun yang lalu, kalau hak karya itu seingatku jadi public domain setelah 50 tahun pencipta aselinya meninggal dunia. Tapi kalau kasusunya Si Doel, kan yang diadaptasi hanya karakternya, bukan novelnya (kecuali tentu saja film Si Doel Anak Betawi yang pertama-tama dibuat oleh Bung Sjuman). Sebenarnya dia sudah jadi ikon publik.

  2. ow ternyata film si Doel ini ada bukunya juga…
    baru tau saya..
    saya pikir nggak ada bukunya eh ternyata ada, tapi saya blom pernah tau cover buku si Doel, jadi penasaran pingin tau hehehe
    Makacih mbak jadi nambah pengetahuan nih. Sukses slalu iah mbak :)

  3. Buku Si Doel Anak Jakarta karya Aman (Aman Dt. Madjoindo) sudah berkali-kali dicetak ulang oleh Penerbit Balai Pustaka. Saya sempatkan beli cetakan baru beberapa waktu lalu. Buku ini sudah saya baca ketika masih zaman Inpres (buku bacaan masuk sekolah-sekolah) tahun 1970-an). Ya, dulu sih gampang baca buku gratisan. Sekarang harus beli mulu.

  4. saya sebagai anak cucu dan cicit sama sekali tidak tau dan menikmati hasil dari karya buyut kami, setau kami hanya dikuasai oleh satu ahli waris yaitu paman kami dan rano karno saja..
    kami prihatin dan sampai saat ini kami tidak tau berapa hasil yang sudah di cetak oleh balai pustaka, mohon kebijaksanaannya,
    terimakasih,,

    reza
    cicit alm, aman Dt. madjoindo ( ayah )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>