Epileptik

Epileptik


“Ya, dia anakku. Dia sakit.”

Bagaimanakah sebuah penyakit bisa mempengaruhi hidup sebuah keluarga? Bagi keluarga Beauchard penyakit yang diderita anak tertua mereka lama kelamaan berlaku selayaknya kompas; menunjukkan ke arah mana keluarga ini akan pergi. Jean-Christope menderita epilepsi sejak kecil. Ia bisa terserang hingga tiga kali sehari, tanpa mengenal waktu maupun tempat. Jika serangannya terjadi, ia tiba-tiba menjadi lumpuh, pandangannya tak tentu, tak punya kontrol terhadap dirinya sendiri, air liurnya pun tumpah. Lalu, jika ini terjadi di tempat-tempat umum (dan kebetulan sering), maka orang-orang akan mengerumuninya. Dengan tatapan heran, jijik, takut, sekaligus bersemangat, orang-orang bergumam-gumam, mengata-ngatainya gila, perlu dibawa ke RSJ, kesurupan, atau paling bagus, ia dituduh idiot.

Novel grafis Epileptik ditulis dan digambar oleh David B. Lewat kacamatanya pula ia bercerita tentang penyakit kakaknya. Dikisahkan, orang tua mereka mencoba mengobati Jean-Christophe mulai dari perawatan medis hingga alternatif semacam makrobiotik, pemijatan, voodoo, hingga bermacam kepercayaan religi. Untuk mendukung kemajuan kesembuhan Jean-Christophe, seluruh keluarga mengikuti prosedur perawatan (terutama perawatan pengobatan alternatif). Ketika David B. sudah dewasa, mulai kuliah, dan mulai punya kehidupan pribadi sendiri, ia tak bisa sepenuhnya lepas dari bayang-bayang penyakit kakaknya. Di banyak bagian novel ini, David B. bertanya-tanya; apakah perawatan kali ini akan betul-betul menyembuhkannya atau hanya harapan kosong belaka? Ke manakah jiwa kakaknya pergi ketika ia mengalami serangan, apakah ia tetap sadar atau pergi ke alam lain? Apakah dirinya berdosa jika ia jadi lebih maju dari kakaknya? Dan yang paling ektrim adalah, ia berharap kakaknya cepat mati.

Ketika membaca Epileptik, terasa sekali ada masa bahwa David B. sebenarnya secara tak sadar terobsesi dengan epilepsi. Mungkin, ketika ia memutuskan untuk menulis novel grafis inilah, ketika ia mulai sadar dengan obsesinya terhadap penyakit kakaknya. Di banyak bagian, grafisnya menceritakan mimpi-mimpi dan khayalannya yang ia gambarkan secara harafiah dan gamblang. Di antara mimpi-mimpinya itu banyak yang berkaitan dengan Jean-Christophe. Gambar-gambarnya tak jarang penuh teror, seperti penyakit itu sendiri yang bisa datang tiba-tiba, kapan saja, di mana saja. Ekspresi-ekspresi wajah tokoh yang digambarkan lebih banyak murung daripada tersenyum, juga kesan abu-abu dalam kehidupan masa lalu keluarga Beauchard, menggambarkan kesedihan sekaligus harapan yang tak putus akan kesembuhan Jean-Christophe. Sayangnya, semakin lama Jean-Christophe semakin menggunakan penyakit ini sebagai tameng. David B. menggambarkan kekesalannya sebab kakaknya punya “pelindung” sedang dirinya tidak, ada masa ia iri dengan penyakit yang diderita kakaknya sekaligus membencinya karena penyakit itu tiba-tiba menjadi jerat baginya. Di samping itu semua, lewat grafis-grafisnya David B. seperti memberi penyataan untuk memaafkan, seperti dikutip endorsement kover belakang dari The Washington Post Book World.