Feminisme dalam Fiksi

Perhatikan kalimat ini: “Dengan cepat kutikam pisau itu ke perut lelaki itu. Ia sangat kaget sekaligus menahan sakit. Sprei yang berwarna putih kini menjelma merah darah. Aku mencium lelaki itu dengan lembut.” (cerpen “Permainan Tempat Tidur”, Maya Wulan). Dalam cerpen tersebut Maya Wulan menggambarkan adegan ranjang nyaris secara detil sebanyak tiga halaman.

EAEN03.jpgPerhatikan pula kalimat ini: “Nama saya Nayla. Saya perempuan, tapi saya tidak lebih lemah dari laki-laki. Karena, saya tidak mengisap puting payudara ibu. Saya mengisap penis Ayah. Dan saya tidak menyedot air susu Ibu. Saya menyedot mani Ayah.” (cerpen “Menyusu Ayah”, Djenar Maesa Ayu). Itu hanyalah nukilan dari sekian banyak karya Djenar yang berbau-bau seks. Ada persamaan dalam kedua karya tersebut, di akhir cerita tokoh utama sama-sama membunuh laki-lakinya karena telah menyakiti tokoh secara seksual.

Dimulai dari Saman (1998 ), novel karya Ayu Utami yang dibilang sangat berani menggarap tema seks, sejak itu pula sedikit demi sedikit muncul perempuan penulis menggarap tema seputar hal yang sama. Tidak heran, khusunya masyarakat awam yang tak punya cukup pengetahuan sastra, menganggap sastra feminis adalah sastra yang ditulis oleh perempuan dan tema yang dibahasnya adalah seks. Padahal, seks hanyalah satu dari banyak tema yang bisa diangkat hingga sebuah karya bisa disebut sebagai sastra feminis .

Perbedaan gender adalah perbedaan kelamin yang diposisikan dalam kehidupan sosial. Feminis adalah kaum yang berjuang mengubah kedudukan kaum perempuan atau berbagai pemikiran tentang kaum perempuan. Dalam hal ini, kita tahu sejak berabad-abad lalu posisi perempuan ditempatkan di bawah gender laki-laki, dianggap sebagai second sex (jenis kelamin kedua). Ada masa ketika jika seorang bayi perempuan lahir, maka bayi tersebut dibunuh. Ada pula masa, yang boleh melakukan voting pemilihan umum hanya laki-laki dan perempuan dianggap tidak punya hak suara. Kesetaraan genderlah yang menjadi tuntutan utama kaum feminis. Sebetulnya, seorang feminis tidaklah harus perempuan. Sialnya, jika berkenaan dengan kata feminis selalu yang terpatri dalam benak banyak orang adalah perempuan.

Chiklit dan Non-Chiklit
10-1.jpgTahun 2004, setelah pengumuman pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2003 -yang ternyata tiga dari lima pemenangnya adalah perempuan-, Sapardi Djoko Damono (ketua juri) mengatakan bahwa masa depan sastra Indonesia ada di tangan perempuan. Banyak pihak yang kontra terhadap pernyataan ini, mengatakan bahwa pernyataan Sapardi sangat berlebihan dan tidak beralasan.

Kini, sudah lebih dari tiga tahun setelah pengumuman Sayembara Novel DKJ 2003, DKJ kembali mengadakan Sayembara serupa. Di antara rentang waktu tersebut, harus diakui muncul banyak buku fiksi yang ditulis oleh perempuan. Chicklit (kependekan dari chick-literature), sastra untuk kaum perempuan yang umumnya bercerita tentang perempuan dewasa (sekitar usia 20-30 tahun) di masyarakat urban. Genre yang berpayung pada fiksi popular inilah yang paling banyak muncul, dan Icha Rahmawati mendeklarasikan karyanya, novel Cintapuchino, sebagai chiklit asli Indonesia. Icha kemudian punya pengikut jauh lebih banyak dari Ayu Utami. Persamaannya, pengikut-pengikut tersebut umumnya perempuan.

Chiklit dituturkan dengan gaya yang sangat urban. Bagaimana para perempuan muda dewasa bergelut dengan karier dan asmaranya, memutuskan mana yang harus diutamakan. Umunya, cerita yang ditawarkan adalah cerita perempuan lajang. Adegan hubungan seks? Ada di beberapa karya. Tetapi kelihatannya para pembaca (dan kritikus) tidak terlalu ambil pusing, dan tidak terlalu menganggapnya vulgar seperti karya Ayu Utami ataupun Djenar.

Dalam chicklit kisah tokoh-tokoh perempuan langsung diposisikan di lingkungan yang independen, yang sudah sangat menerima kesetaraan gender. Pergulatan yang ada umumnya hanya pergulatan batin dengan diri sendiri dan antar tokoh; memilih antara karier atau asmara, atau memilih satu di antara beberapa lelaki yang ada. Sedang di dalam karya perempuan penulis non-chiklit, konflik yang timbul di dalam diri tokoh perempuan tidak sekedar konflik batin. Lebih dari itu, melibatkan lebih jauh sosial dan budaya yang ada di sekitarnya, termasuk dengan lingkungan sekitar yang mengikatnya dalam adat dan kebiasaan.

Jika ingin melihat jauh ke belakang lagi, R.A. Kartini (1899) sudah memulainya lebih dahulu: “Adikku harus merangkak, bila hendak berlalu di hadapanku. Kalau adikku duduk di kursi, saat aku lalu, haruslah ia turun duduk di tanah dengan menundukkan kepala sampai aku tak terlihat lagi. Mereka hanya boleh menegurku dengan bahasa kromo inggil. Tiap kalimat haruslah diakhiri dengan “sembah”. […]. Tapi sekarang mulai dengan aku, antara kami (Kartini, Roekmini dan Kardinah) tidak ada tatacara itu lagi. Perasaan kami sendirilah yang akan menunjukkan atau menentukan sampai batas mana cara liberal itu boleh dijalankan.” (surat Kartini kepada Stella dalam Habis Gelap Terbitlah Terang). Bagaimana penulis mengambil setting waktu dan tempat, bukanlah masalah. Sebab mereka punya satu kesamaan; diakui dan disejajarkan.

Gender Sebagai Elemen Pembentuk Tulisan
Di era 70-an, Marjanne Katoppo menulis Raumanen. Karya yang cukup fenomenal pada masanya ini, mengisahkan romansa Manen dan Monang. Manen yang hamil tidak juga mendapat kepastian dari Monang untuk menikahinya, malah Monang hendak menikahi gadis lain pilihan keluarganya. Manen tidak sanggup menerima malu dari lingkungannya, akhirnya bunuh diri.

Perhatikan nukilan prosa liris karya Linus Suryadi AG (1978-1980) berikut, yang ditulis di era yang hampir sama dengan Raumanen:

“Ya, ya, Pariyem saya
Maria Magdalena Pariyem lengkapnya
“Iyem” panggilan sehari-hari
Wonosari di Gunung Kidul
pada mulanya dan pada akhirnya
sebagai babu nDoro Kanjeng Cokro Sentono
Di nDalem Suryamentraman Ngayogyakarta
Kini patutan satu sama putranya
Hidungnya bangir, matanya tajem
Persis, jan plek
sama Den Baguse Ario Atmojo”
(Pengakuan Pariyem Dunia Batin Seorang Wanita Jawa, hal. 178 )

Dikisahkan tokoh Pariyem yang seorang babu, mengandung anak putra juragannya. Dia rela disetubuhi oleh Den Bagus Ario Atmojo hingga hamil. Pariyem tak menuntut apa-apa. Untungnya, dikisahkan saat sidang keluarga karena kehamilan Pariyem, keluarga besar Cokro Sentono mau menerima. Bayangkan bagaimana jika cerita yang terjadi sebaliknya? Seperti kisah-kisah serupa yang nyata ada di lingkungan kita, babu yang bersangkutan malah dipecat dan diusir jauh-jauh agar tidak mempermalukan nama keluarga. Bayi Pariyem dipelihara di desa asalnya, di Gunung Kidul. Tanpa dinikahi ia kembali bekerja di nDalem Suryametraman Ngayogyakarta sebagai babu, tanpa diangkat sebagai selir sekalipun. Di banyak bagian dalam prosa ini, dituliskan Pariyem kerap bertutur “saya lega lila” (Bahasa Jawa = saya rela iklas).

Kini, bandingkan prosa liris tersebut dengan nukilan Menyusu Ayah (2004) dan Permainan Tempat Tidur (2003) di atas. Harus diakui, ada perbedaan mendasar di antara karya yang saya cuplik, pertama; karya tersebut ditulis dalam masa yang berbeda. Kedua; perbedaan gender penulisnya. Tidak ada pemberontakan sedikitpun dalam tokoh Pariyem, sedang Nayla dan tokoh aku (perempuan) dalam karya Maya Wulan, sangatlah melawan, bahkan berani membunuh laki-lakinya.

Marjanne Katoppo mungkin belum seberani Djenar ataupun Maya Wulan ketika menulis Raumanen, maka ia memutuskan Manen membunuh dirinya sendiri daripada membunuh Monang dan masuk penjara. Keberanian yang timbul sangat terasa berkembang dari masa ke masa, yang pasti gender penulis berpengaruh kuat terhadap karya yang ditulisnya. Jika Pengakuan Pariyem ditulis oleh penulis yang berbeda gender (baik dalam masa 70-an, apalagi dalam masa sekarang), maka saya yakin tidak begitu jalan ceritanya.

Seorang laki-laki bisa saja menulis sastra feminis, tetapi belum tentu ia bisa mendapat esensi keinginan kesetaraan gender, sekalipun ia seorang feminis. Ada banyak hal yang tidak dialami laki-laki yang terjadi pada perempuan, dimulai dari perubahan tubuhnya sendiri seumur hidup, reaksi masyarakat terhadap status dirinya, reaksi diri perempuan terhadap adat budaya, juga pencarian pengakuan terhadap karya-karyanya. Bagaimana cerita diakhiri adalah bentuk perlawanan dan tuntutan kesetaraan gender yang dilakukan oleh tokoh perempuan.

(Ratih Kumala, essay untuk Matabaca edisi April 2007)

2 thoughts on “Feminisme dalam Fiksi

  1. cukup menjawab apa yang saya pertanyakan tentang novel feminism.
    saya suka sekali dengan penjelasannya, dan dengan anda. kisses.

Comments are closed.