shakespearein-love.jpg
Joseph Fiennes, pemeran William Shakespeare dalam film Shakespeare in Love
Saya adalah orang yang sangat percaya, bahwa di balik sebuah cerita fiksi, ada cerita lain, yaitu penulisnya. Stephen King dalam bukunya berkata, bahwa (kalau tidak keliru mengutip), dibutuhkan tiga hal jika seseorang ingin jadi penulis: 1) pena, 2) kertas, 3) broken home!

Hah?! Broken home? Ya, broken home!

Mungkin yang dimaksud Stephen King dengan ‘broken home’ adalah kegelisahan yang menjadi pelatuk seseorang untuk menulis. Sebab, begitulah proses intim saya dengan tulisan-tulisan saya.

Jika saya membaca cerpen di koran, saya kerap bertanya-tanya, dan mereka-reka sendiri; kira-kira penulis mengalami apa hingga ia menulis tulisan demikian. Dalam benak saya, pengalaman penulis lebih tergambar realis, terutama jika tulisannya surealis. Biasalah, penulis kan suka hiperbola dengan tulisannya (hehehe).

Ketika saya menonton Shakespeare in Love (1998), saya sendiri bertanya-tanya, apa betul seperti itulah proses Shakespeare menulis naskah Romeo dan Juliet? Ia jatuh cinta kepada seorang putri bangsawan yang kebetulan sangat ingin menjadi aktor. Pada zaman itu, perempuan tidak lazim menjadi aktor. Maka ia menyamar menjadi laki-laki. Ketika kasting untuk peran Romeo dan Juliet diadakan, ia mendapat peran sebagai Romeo. Lama kelamaan, rahasia bahwa ia adalah perempuan diketahui oleh Shakespeare. Sambil jatuh cinta, Shakespeare mendapat inspirasi untuk terus menulis drama Romeo dan Juliet. Ia juga bercinta sambil berlatih drama. Begitulah, bagi William Shakespeare dalam Shakespeare in Love, jatuh cinta adalah ‘kegelisahan’ untuk menulis drama cintanya yang terkenal sepanjang masa. Kelihatannya, kegelisahan jatuh cinta ini juga sering digunakan oleh banyak penyair untuk membuat puisi-puisi cinta. Bukan rahasia lagi, penulis (atau lebih tepatnya -dan lebih banyak- penyair) kerap ‘mengkondisikan’ dirinya untuk terus dalam keadaan jatuh cinta.
hours.jpg
Dalam film The Hours (2002), kisah hidup penulis Virginia Wolf diangkat. Film ini unik, dibagi tiga plot dengan tiga tokoh perempuan, yang masing-masing punya peran dan berbenang merah Virginia Wolf. Pertama, seorang perempuan hamil bernama Laura Brown, hidup pada tahun 1951 yang sedang membaca buku Mrs. Dalloway karya Virginia Wolf. Tokoh perempuan yang kedua adalah lesbian bernama Clarissa Vaughn (hidup tahun 2001), ia seorang editor yang bekerja untuk penerbitan dan hendak membuat pesta ulang tahun untuk temannya, penulis yang menderita AIDS. Dan yang ketiga adalah Virginia Wolf sendiri (yang diperankan dengan apik oleh Nicole Kidman) yang sedang berproses menulis novelnya, hidup di tahun 1923. The Hours memang bukan jenis film hiburan yang tidak perlu berpikir ketika menonton. Dalam film ini, Nicole Kidman bahkan menambal hidungnya agar lebih mancung, supaya lebih mirip sosok Virginia.

Berbeda dengan Shakespeare in Love, ‘kegelisahan’ yang menemani proses menulis Virginia Wolf adalah depresi yang mebuatnya ingin bunuh diri. Depresi yang dialami Virginia Wolf itu yang mungkin di zaman sekarang disebut sebagai Bi-Polar Decease atau Manic Depression, yang kemudian diangkat ke dalam novelnya, Mrs Dalloway.

mbsm.jpg
Di Indonesia, saya menemukan film yang bertemakan kepenulisan yang bagi saya menarik; Mereka Bilang Saya Moyet, karya Djenar Maesa Ayu. Film ini diangkat dari dua cerpennya berjudul “Lintah” dan “Melukis Jendela”. Tokoh Adjeng adalah penulis muda yang berusaha menyembuhkan luka masa lalunya yang pahit dengan cara menulis. Luka-luka masa lalu inilah yang menjadi ‘kegelisahan’ tokoh Adjeng. Dikisahkan, cerpen debutnya berjudul “Lintah” kemudian membawa kepada pintu pertikaian dengan ibunya. Suatu harga mahal yang harus dibayar untuk berdamai dengan masa lalu.

Begitulah proses menulis. Di luar obsesi seseorang yang mungkin ingin terkenal, pembuktian diri, ingin jadi kaya karena menulis, dan lain-lain, ‘kegelisahan’ bisa menjadi modal besar untuk menulis. ‘Kegelisahan’ yang menjadi pelatuk ini bisa berupa apa saja. Tidak hanya broken home (seperti yang disebutkan oleh Stephen King), lebih dari itu bisa jatuh cinta, masa lalu yang kelam, sampai keinginan bunuh diri.

findingforrester.jpg
Lantas, bagaimana dengan penulis yang sudah ‘jadi’? Bagaimana proses kepenulisan, kegelisahan dan kehidupannya? Film Finding Forrester (2000) menarik perhatian saya. Film ini diperankan oleh Sean Connery sebagai tokoh penulis William Forrester.

Dikisahkan, setelah meraih Pulitzer untuk novel Avalon Landing, William Forrester memilih untuk menyembunyikan diri di daerah Bronx. Secara berkala, ada orang yang mengantarkan kebutuhannya mulai dari makan, membayar tagihan listrik, mengurus binatu, dan lain-lain. Jamal Wallace adalah pemuda kulit hitam yang diam-diam gemar menulis meski ia mendapat beasiswa di sekolah elit karena keahliannya main basket. William Forrester menjadi guru menulis bagi Jamal Wallace. Ia bahkan sempat dituduh sebagai penjiplak karya William Forrester oleh guru Bahasa Inggrisnya. Hubungan keduanya berkembang lebih dari sekedar guru dan murid. Setelah bertahun-tahun tak pernah keluar apartemen, Wallace mengajak Forrester untuk menonton pertandingan base-ball. Hingga akhirnya, William Forrester pulang ke negara asalnya dan meninggal dunia. Ia mewariskan apartemen, buku-buku, naskah buku yang akan datang, hingga mesin ketik tuanya untuk Jamal Wallace.

Bagi saya, film-film tersebut lebih dari sekedar tontonan. Saya belajar banyak tentang kepenulisan, creative writing hingga memotivasi diri sendiri untuk bertahan menjadi full time writer (yang memang tidak mudah). Film-film tentang kepenulisan lainnya yang juga patut ditonton antara lain Quills, Dead Poet Society, Freedom Writers, dan beberapa judul lain yang tidak bisa saya ingat. Kalau anda punya judul film lain, silakan sarankan pada saya, saya pasti akan mencari kesempatan untuk menontonnya.