Film Pendek Bukan Kerja Pendek


Billy: “gini ya…, kamu nanti ke situ terus aktingnya gini-gini….” (pak sutradara kasih pengarahan ke pemain)

Belum lama, seorang teman datang berkunjung. Ada yang menarik yang dibawanya, film pendek buatannya!

Alkisah, seorang gadis buta yang hidup dengan mendengar dan meraba. Hidupnya kesepian meski ia datang dari keluarga berada, ibunya telah meninggal dan ayahnya terlalu sibuk dengan pekerjaan. Di tempat lain, seorang preman yang tuli dan gagu merencanakan untuk merampok sebuah rumah; rumah tempat tinggal gadis buta. Suatu hari, ketika gadis buta sedang sendirian, pencuri itu masuk. Interaksi kemudian terjadi, antara gadis buta yang mengira perampok itu adalah ayahnya dan perampok tuli/gagu yang tak mau menyakiti gadis buta tersebut.

Ayah Satu Hari adalah film berudurasi 30 menit yang dibuat oleh Billy Bachtiar dan teman-temannya dari IKJ.
Billy menggunakan black screen yang hanya diisi suara-suara ketika POV gadis buta. Sedang ketika POV perampok yang tuli, hanya ada gambar-gambar dan tanpa suara. Sedikit banyak mengingatkan saya pada film Babel, ketika gadis tuli yang dimainkan oleh Rinko Kikuchi memasuki ruang diskotik, tiba-tiba suara di film itu lenyap dan tinggal ruang diskotik yang dipenuhi sinar lampu dansa. Gadis tuli itu menari dengan iringan lampu yang kerlap-kerlip serta getar dentuman musik yang tak bisa didengarnya.


Inilah hasil akting setelah mengarahan pak sutradara

Buat saya, selalu menyenangkan melihat hasil kerja yang dibuat oleh sineas-sineas muda. Terutama jika film itu tidak beredar bebas. Ada usaha yag harus ditempuh jika penonton ingin menonton filmnya. Seperti film Betina yang juga merupakan film pendek Lola Amaria, dan film ini diputar keliling dari satu kampus ke kamps lain.

Billy mengerjakan film ini selama satu tahun, mulai break down naskah sampai selesai edit akhir. Shootingnya sendiri memakan waktu enam hari, dan dia mengaku (bersama teman-temannya) “kerja gerilya” pula karena biaya yang terbatas (meskipun -tentu saja- dia dan teman-temannya sudah mengeluarkan uang juga untuk biaya produksi).

Saya mengenal beberapa teman sineas muda yang kerja gerilya seperti Billy. Saya tahu betul, membuat film bukan pekerjaan mudah. Kebanyak dari mereka betul-betul mencurahkan apa yang mereka punya untuk membuat film impiannya. Setelah selesai, tidak sedikit yang mengkritik pedas pula. Saya pikir, bagaimana pun hasil akhirnya, keberanian memutuskan untuk membuat satu film saja sudah patut dipuji.

Cari tahu lebih banyak tentang Billy Bachtiar dan filmnya di sini: http://www.facebook.com/profile.php?id=1134975443&ref=mf

2 thoughts on “Film Pendek Bukan Kerja Pendek

  1. iya kak ratih, kirimi aku juga ya. please please please. makan tahu enaknya pakai petis.

Comments are closed.