Frankfurt Book Fair 2015

Frankfurt Book Fair 2015

Ada banyak pertentangan sebelum Frankfurt Book Fair 2015 berlangsung. Sejumlah orang dari berbagai pihak banyak yang tidak puas dan protes, baik itu cuma sekedar mengeluh di belakang, maupun vokal di socmed. Ssaya tidak perlu menyebut satu per satu siapa saja yang buka mulut, protes ini-itu. Pada akhirnya saya cuma bisa memaklumi, dan berkata dalam hati, mungkin mereka ingin didengar. 

Pada tanggal 13 Oktober 2015 saya terbang ke Frankfurt untuk menghadiri FBF 2015. Tiba di kota itu siang hari, sekitar jam 1. Pembukaan FBF 2015 dijadwalkan jam 5 sore. Saya tidak bisa ikut pembukaan karena baru menemukan hotel sekitar jam 5 lewat. Hari itu saya gunakan untuk istirahat. 13 jam perjalanan pesawat dengan satu kali transit di Abu Dhabi cukup membuat saya lelah. Meski di dalam pesawat saya merasa cukup produktif dengan menonton serial How to Get Away with Murder dan membaca e-book di iPad saya.

 Hari selanjutnya saya bangun pagi sekali. Frankfurt beda 5 jam dari Jakarta. Jadi, jika di Frankfurt menunjukan pukul 5 pagi, di Jakarta itu sudah jam 10. Jam 9 pagi saya sudah harus berada di Messe karena ada jadwal dengan Litprom. Sayangnya, ketika saya tiba, saya adalah satu-satunya penulis di sana. Agaknya, para penulis lain terlambat. Mungkin karena mereka masih bingung dan cari cara menuju ke Messe. Sebagian dari para penulis mendapat hotel yang cukup jauh dari lokasi FBF 2015, tentu ini menyulitkan siapa pun yang belum terbiasa dengan sistem transportasi di Frankfurt. Saya beruntung mendapat hotel yang dekat dengan stasiun utama. Hanya dua kali stop-an dan tibalah di Messe, lokasi FBF 2015.

Hari-hari saya selama di FBF 2015, bisa dibilang cukup padat dengan beragam jadwal. Total ada 11 acara yang harus saya hadiri dalam waktu 5 hari. Kebanyakan dari jadwal saya adalah reading untuk promosi buku Das Zigarettenmadchen (Gadis Kretek versi Jerman yang diterbitkan oleh Culturbooks). Ada banyak spot di Messe diperuntukan bagi para penulis dan penerbit yang ingin mengadakan acara, baik reading, diskusi maupun launching kecil-kecilan.

Satu spot yang cukup menarik banyak perhatian publik adalah Das Blaue Sofa (The Blue Sofa). Spot ini bisa dibilang selalu menyedot perhatian, sebab penulis siapa pun yang diundang di The Blue Sofa bisa dipastikan penulis kelas dunia yang dianggap prestigious. Bukan sekedar spot biasa, The Blue Sofa sudah mirip seperti studio mini televisi. Lengkap dengan kamera dan penulis yang duduk di sini pun akan ditouch-up sehingg terlihat oke di layar. Pilar-pilar besar di sekitar spot ini bertuliskan nama-nama para penulis yang akan duduk di The Blue Sofa, termasuk Isabel Alende yang full house. Tahun ini, dua orang penulis dari Indonesia yang duduk di The Blue Sofa adalah Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak.

Messe tempat FBF diadakan tempatnya cukup besar. Ada 11 hall, dan saya cuma memutari hingga 6 hall hingga hari terakhir. Jika punya acara yang cukup padat, bisa dipastikan kita akan lari-lari dari satu spot ke spot lain, tidak ingin terlambat, sebab acara-acara di sana cukup padat dan tepat waktu. Indonesia di tahun 2015 ini sebagai Guest of Honor tentu saja punya tempat yang istimewa, baik outdoor maupun indoor. Satu venue yang paling sering disambangi oleh orang Indonesia, tentu saja Pavilion. Di sini, para penulis terpilih akan berbicara sesuai dengan topik yang sudah ditentukan. Orang yang hadir di sini, akan diberi head set, dan dari sini bisa didengar terjemahan dari Jerman-Indonesia dan sebaliknya. Di belakang set panggung diskusi, ada sejumlah rempah-rempah Indonesia yang dipamerkan, juga buku-buku Indonesia yang ditata sedemikian rupa dengan cahaya rendah tetapi sungguh cantik. Mereka yang datang, bisa membaui rempat-rempah ini, juga membaca buku-buku Indonesia yang sengaja dibiarkan terbuka untuk dibaca umum.

Selama di Frankfurt, saya praktis tidak kemana-mana. Cuma satu kali keluar bersama dengan tim dari Gramedia untuk membeli cokelat. Jikapun keluar, itu selalu berhubungan dengan jadwal yang sudah ada, di antaranya saya ke toko buku Weltenleser dan ke kota Solms yang letaknya sekitar 1,5 jam dari Frankfurt untuk reading bersama dengan Zoe Beck. Selain itu, saya hanya beredar di Messe, termasuk mencari makan. Tapi meski demikian, memang rencana jalan-jalan memang tidak ada dalam jadwal saya. Sejak awal saya sudah mengira, akan agak kewalahan dengan jadwal padat yang saya dapat. Saya tidak menyesali tidak sempat jalan-jalan. Hanya di Messe saja bagi saya cukup menyenangkan. Saya bertemu dengan orang-orang hebat, terhibur dengan orang-orang yang ikut cosplay di mana-mana, juga yang terpenting saya senang bisa membacakan Gadis Kretek untuk pembaca Jerman.

Apapun kekacauan yang terjadi sebelum, ketika, maupun setelah FBF 2015, saya tidak ingin membahasnya lagi. Yang saya tahu, dari banyak kelompok yang datang, ketika sudah tiba di Frankfurt, kami semua mewakili satu nama: Indonesia. Saya bangga.