Generasi Dunia Maya Tercermin di Novel

Generasi Dunia Maya Tercermin di Novel

Kompas, 21 Juni 2004

Jakarta, Kompas – Karya-karya novel para pengarang muda sekarang cenderung menyajikan loncatan-loncatan ruang dan waktu yang liar. Novel Tabula Rasa karya pengarang muda Ratih Kumala misalnya, tak segan-segan menyuguhkan perasaan asing kepada pembaca dalam kerangka kosmolitisme, seperti yang lumrah ditemukan dalam novel Ayu Utami dan Dewi Lestari.

“Semua itu menciptakan gambar dunia yang tak nyata, bergerak cepat dalam berbagai ruang dan waktu. Itu diperkuat oleh tema-tema yang akrab dengan dunia generasi muda, yakni televisi. Tak heran, jika estetika terabaikan, seperti halnya tayangan-tayangan televisi yang tidak membangun keutuhan estetika,” kata Prof Apsanti Djokosujatno, guru besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, dalam Diskusi dan Peluncuran Novel Tabula Rasa di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (19/6).

Novel yang didiskusikan tersebut merupakan pemenang ketiga Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta.

Sebelumnya, telah didiskusikan novel juara pertama berjudul Dadaisme karya Dewi Sartika dan novel juara kedua berjudul Geni Jora karya Abidah El Khaileqi.

Kritikus Sastra Maman S Mahayana yang memandu acara mengakui munculnya tiga pengarang perempuan sebagai pemenang I-III sempat mengundang kontraversi, namun hal itu di luar rekayasa panitia dan juri.

Dalam hal loncatan waktu dan peristiwa misalnya, Tabula Rasa sudah sarat ketidakruntutan dari halaman-halaman pertama. Kisah dimulai dengan cerita di Yogyakarta Agustus 2001. Pada halaman berikutnya, cerita meloncat mundur ke tahun 1990 di Moskwa. Halaman 23 kembali pada 2001 di Yogyakarta, dan halaman 30 mundur lagi ke 1991 di Moskwa.

“Kesan yang muncul adalah loncatan-loncatan tak terkendali dalam semua unsur novel. Tokoh-tokoh muncul secara tiba-tiba, berbagai peristiwa muncul nyaris brutal meski terbungkus dalam penggunaan metafor yang puitis,” kata Apsanti seraya menambahkan bahwa dalam tataran narasi pun, loncatan-loncatan itu juga tampak berupa penggunaan vokalisasi/sudut pandang yang berubah-ubah.

Lebih lanjut tentang kosmolitisme, Apsanti menilai setting novel Tabula Rasa berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain, seperti pemandangan musim dingin, musim gugur, perbedaan antara dunia tropis dan subtropis, dan lain-lain. Tokoh-tokoh yang ditampilkan pun berasal dari berbagai negara (Indonesia, Rusia, dan Kanada).

“Setting ruang diiringi waktu yang meloncat-loncat dari tahun yang berjarak relatif renggang bisa jadi karena merujuk pada periode-periode politik sosial berbeda,” paparnya.

Ia menilai, kosmologi yang disajikan dalam Tabula Rasa adalah kosmologi maya yang campur aduk. Itu semua mewakili cara pandang dunia sang pengarang, selaku generasi yang yang lahir dan dibesarkan di depan televisi serta tumbuh dalam bimbingan dan pendidikan televisi pula.

“Ini bukan hanya soal kegagalan sekolah-sekolah kita dalam membentuk kepribadian anak-anak kita, tetapi seluruh sistem yang tidak dikendalikan dengan disiplin dan membumi. Mereka hidup dalam perubahan–perubahan setiap detik, tetapi perubahan itu maya, tak dialami sendiri,” urainya.

Terlepas dari segala kelemahannya, Apsanti tetap menilai Tabula Rasa sebagai karya novel yang kreatif dalam menggambarkan manusia pada zamannya. Bahwa terjadi kesalahan dalam penerjemahan kalimat-kalimat asing, lagi-lagi Apsanti melihatnya sebagai cermin ketidaktelitian generasi muda saat ini. (NAR)