Gerhana Kembar, Sebuah Perspektif
10

Gerhana Kembar, Sebuah Perspektif

Saya menyebut novel Gerhana Kembar karya Clara Ng sebagai novel tentang lesbian tanpa pretensi yang mencurigakan. Novel ini bercerita tentang Fola dan Henrietta, sepasang lesbian yang menjadi tokoh utama. Dua plot utama yang ada pada novel ini yaitu pada tahun ’60-an dan pada tahun 2008. Cerita diawali dengan pertemuan Fola dan Henrietta. Pada bab berikutnya, pembaca baru tahu bahwa Fola dan Henrietta adalah tokoh fiktif sebuah naskah berjudul “Gerhana Kembar” yang tengah dibaca oleh Lendy, pada tahun 2008. Sedikit demi sedikit, terkuak bahwa naskah “Gerhana Kembar” ditulis oleh Diana, nenek Lendy yang tengah sekarat, dan cerita itu berdasarkan pengalaman Diana dengan Selina, pasangan lesbinya ketika muda.

Dalam novel novel sebelumnya, Dim Sum Terakhir, Clara Ng mengisahkan pertemuan empat perempuan kembar yang tiba-tiba harus pulang ke rumah masa kecilnya karena papanya terserang stroke. Di sini, keempat tokoh utama dihadapkan pada ‘hantu’ masa lalu dan ketakutan masa depan. Papa yang sakit, yang sejak awal menjadi pemicu cerita, akhirnya meninggal dunia setelah koma. Novel ini mengambil latar kaum Tionghoa di Indonesia. Mengutip endorsment Putu Fajar Arcana untuk Dim Sum Terakhir, “Clara Ng barangkali novelis Indonesia pertama yang membeberkan persoalan-persoalan seputar keturunan Tionghoa tanpa prasangka.” Nah, seperti itu pulalah persaan saya ketika membaca Gerhana Kembar. Dengan tema besar lesbianisme, yang notabene masih sensitif di negara kita, Clara Ng bertutur tanpa prasangka. Ia seolah-olah ia tak ingin memberi jarak antara tulisannya dengan pembaca. Adegan ciuman pertama sepasang lesbian, misalnya, mampu Clara diceritakan dengan sangat lumrah. Pembaca dapat merasakan femininitas sekaligus maskulinitas yang muncul pada tokoh Henrietta. Anehnya, pembaca tidak merasa ‘jijik’ jikapun ada seorang yang mungkin homofobia. Clara dengan sengaja mengesampingkan pendapat pembaca yang mungkin negatif terhadap kaum homoseksual. Dengan ‘berpretensi baik’ terhadap semua orang, Clara justru berhasil memperkenalkan sisi lesbianisme kepada masyarakat umum.

Ada benang merah dalam kedua struktur perceritaan Dim Sum Terakhir dan Gerhana Kembar. Tokoh ‘orang sakit’ telah menjadi tokoh yang –baik disadari atau tidak- digemari oleh penulis. Tokoh ini menjadi penting dalam kedua novel tersebut sebab menjadi ’cause’ keseluruhan cerita (di dalam Dim Sum Terakhir, ada tokoh ‘papa’ yang stroke, sedang di dalam Gerhana Kembar, tokoh Diana yang sedang sekarat). Struktur macam ini kerap digunakan oleh penulis-penulis populer Amerika, penulis-penulis yang ingin berkisah tentang belajar memaafkan dan memaklumi. Dalam Wednesday Letters karya Jason F. Wright, misalnya: Mathew, Samantha dan Malcolm, tiga bersaudara yang punya kehidupan sendiri-sendiri “dipaksa” pulang oleh sebab kematian orangtuanya, kematian inilah yang menjadi ’cause’. ‘Effect’-nya (tentu saja), masing-masing tokoh dipaksa menghadapi persoalan yang sudah lama timbul di antara mereka.

Sebagai seorang pendongeng, Clara Ng tahu apa yang ingin dia ceritakan. Sebagai seorang novelis, ia adalah penulis yang mampu menulis dengan ritme sangat stabil dari awal sampai akhir. Pembaca tak akan menemukan ritme yang tiba-tiba terlalu cepat atau terlalu lambat hingga membuat bosan. Ia sangat tahu apa yang harus ditulis untuk membuat pembaca merasa ikut berempati pada sepasang lesbian yang sedang jatuh cinta. Clara bukanlah penulis yang ‘genit’, meski di beberapa bagian ia tergoda juga untuk menggunakan metafora-metafora, khususnya dalam surat-surat cinta Henrietta untuk Fola. Tapi kesemuanya tidak berlebihan, dan tidak membuat pembaca ‘mabuk’. Justru pembaca jadi sangat maklum kenapa ia meletakkan metafora itu di situ: sebagai bentuk rayuan seorang kekasih. Lebih dari itu, Clara juga bukan penulis yang ‘cerewet’. Agaknya ia sama sekali tidak tergoda untuk berkhotbah membela hak-hak kaum homoseksual. Padahal jika mau, ia bisa “membela diri” (baca=membela tokoh homoseksual).

Untuk dua novel yang sama-sama mengangkat tema lesbianisme, gaya penceritaan Clara Ng sangat berbeda dengan Herlinatiens dalam novel Garis Tepi Seorang Lesbian. Novel yang terbit tahun 2003 lalu, sempat menjadi banyak perdebatan karena membuka gamblang kehidupan seorang lesbian. Psikologi tokoh yang dibangun Herlina, antara amarah, sikap berontak, sekaligus kasmaran sangat terasa di banyak tempat. Pembaca dapat merasakan itu semua sekaligus (pada akhirnya, khusunya untuk mereka yang bukan homofobia) memakluminya sebagai bentuk perlawanan tokoh yang terjepit keadaan. Sedang, dalam Gerhana Kembar, campur aduk emosi macam itu tak akan ditemui pembaca. Clara jauh lebih cool meski tema yang ia angkat sangat mampu diperdebatkan. Belum lagi latar tahun ’60-an yang dipilihnya, tahun yang masih sangat kolot, dan mungkin kata ‘lesbian’ belum familiar di telinga kita. Sayangnya, justru karena terlalu cool inilah psikologi tokoh-tokoh dalam Gerhana Kembar jadi kurang tergali. Seorang homoseksual, sebelum ia betul-betul mendeklarasikan diri sebagai seorang homoseks, setidaknya akan mengalami guncangan batin dan “perang” dalam dirinya sendiri: apa benar saya homo, atau tidak? Salahkah saya jika saya benar-benar homoseks? Berdosakah saya? Bagaimana pandangan masyarakat dan agama? Kesemua pertanyaan itu absen baik dari tokoh Diana/Fola maupun Selina/Henrietta. Terutama Fola, sebagai tokoh perempuan yang digambarkan sangat konvensional, agak aneh jika tidak mempertanyakan itu semua. Ia begitu saja menerima Henrietta, nyaris tanpa pretensi apa-apa. Fokus kedua penulis ini memang sejak awal sudah berbeda: Clara mentikberatkan pada cerita cinta, sedang Herlina menitikberatan pada satu figur lesbian yang diciptakannya.

Mengenai homofobia, meskipun kata itu muncul beberapa kali di novel ini, tetapi perannya tidak terlalu dominan. Meski demikian, mungkin dengan cara seperti inilah justru cerita homoseksual bisa diterima di masyarakat luas tanpa dihakimi terlebih dahulu di awal, sampai-sampai Kompas mau menayangkannya sebagai cerita bersambung. Saya pikir, meski Clara tak ikut berkoar-koar, niat penulis untuk mengangkat tema tertentu saja sudah menunjukkan bahwa ia peduli. Tujuan Clara yang utama sepertinya cuma satu: bercerita.

Ratih Kumala, penulis
Presentasi @GoetheHaus, 8 Agustus 2008

*) Foto oleh Abdillah Iqbal

10 thoughts on “Gerhana Kembar, Sebuah Perspektif

  1. Gerhana kembar ? Lesbianisme dan segala isme isme lainnya
    perlu dikenali dan dipahami, tanpa disertai sikap prejudice
    ya, Carla Ng hanya ingin sekadar bercerita. Hmmm

  2. gerhana kembar ini cerbung di Kompas yang dibukukan, kan?
    waktu mbak Clara jadi narasumber di program yang saya pegang, ia baru aja merilis Gerhana Kembar.
    Saya sendiri belum baca, nih. Baru aja menyelesaikan kumpulan cerpen-nya yang ‘Malaikat Jatuh’.
    Hmm, sepertinya perlu nih masuk dalam daftar buku yg akan dibaca.

  3. udh baca novel ini, menurut saya agak sedikit datar ya…tapi memang pengarang bisa menggambarkan perilaku lesbian tanpa membuat kita merasa enggan membacanya. Ini novel Clara Ng pertama yg saya baca. Bagaimanapun, karena bacanya di Kompas, cerbung ini yang selalu saya tunggu-tunggu dan saya baca paling dulu setiap pagi

  4. Saya mungkin tidak terlalu mengomentari artikel yang diatas, tapi ingin memberi sedikit tanggapan mengenai keseluruhan Blog ini. Secara umum saya sangat tertarik dengan cara pembahasaan di blog ini, dan cara pengungkapan kata demi kata mengalir dengan “hidup” (ini pendapat pribadi saya).
    Oh sebelum saya lupa, saya mengenal blog ini setelah membaca Majalah Femina, saya coba browsing dan saya coba baca-baca satu persatu artikel yang ada didalamnya, saya lumayan tertarik.
    Sepertinya ini akan menjadi bacaan rutin saya.

    Terimakasih

    ——————–
    @Rudi Siagian:
    salam kenal Mas Rudi :) terimakasih sudah mampir. Ya, saya nulis yang saya suka-suka aja di sini, namanya juga blog….

  5. saya sudah membaca novel ini, dan menurut saya novel ini cukup cerdas (hati-hati?) membingkai permasalahan homoseksual dengan tidak menghakimi.

    salam kenal

    helvry

  6. dim sum terakhir dan gerhana kembar clara ng bikin saya mengantuk

    ——————–

    @Nita:
    Berarti bisa jadi buku pengantar bobo dong ^_^
    Kamu beruntung sekali nemu buku pengantar bobo, soalnya saya biasanya malah jadi susah bobo kalo udah baca buku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>