Cerita tentang Ipah dan Kucing-Kucingnya

Kronik Betawi, Sebuah Novel:

Different are the rewards of those who come to heaven; hapines is bestowed on them; delightful their state; verily they have arrived in the land of silver. Truly yoy are directed to a place which is exalted, pointed by Dewas, who preside at death and become your guide; because the dead are mixed in a land which is wide and level, are given occupations and quickly go, each flying to the first place until arrive at the seventh

Sir Thomas Stamford Raffles: History of Java, page cxxix-

Tidak sejak Juleha kecil ibunya hobi memelihara kucing. Kesenangan itu mulai muncul ketika ia selesai menikahkan anaknya yang paling kecil, Juleha, dengan Jiih. Suaminya, Bung Juned, semakin lama semakin lebih betah tinggal di Serang, di rumah bini ke duanya. Apalagi setelah anak terakhir mereka menikah. Seakan-akan Bung Juned sudah tidak punya tanggungan lagi di rumah bini pertamanya. Tak sampai satu tahun Juleha menikah, seekor kucing kampung datang mendekati Ipah. Ketika itu ia tengah menunggu suaminya pulang, seperti kemarin-kemarin. Tetapi laki-laki itu tak kunjung datang; ia tak pernah memberitahu Ipah kapan bakal kembali, dan berapa lama ia akan di Serang. Toh setiap hari, selayaknya bakti setia seorang istri, Ipah menyiapkan makanan untuk dua orang.

Ketika itu sudah menjelang magrib, dan ia tahu betul… hari itu suaminya tak akan datang. Hanya satu yang dipikirannya; betapa sia-sianya masakan yang telah ia buat. Ia selalu membuang makanan-makanan itu, kalau tidak pusing-pusing mencari pengemis lewat untuk diberikan. Ya, hanya itu. Ia tak punya lagi rasa amarah atau sedih pada suaminya. Perasaan macam itu sudah habis bertahun-tahun lalu, ketika laki-lakinya membawa pulang seorang anak kecil yang merupakan anak dari bini kedua suaminya. Ketika ia memandangi jalan depan rumahnya, berharap laki-lakinya muncul untuk menghabiskan makanan yang telah ia siapkan, suara meong-meong mengganggunya. Seekor kucing kurus dengan bulu abu-abu belang yang entah datang dari mana sudah ada di kakinya, memandangi wajah Ipah sambil mengeong tak henti-henti. Ipah sebetulnya tak terlalu menyukai kucing, ia merasa jika menyentuh tubuh kucing rasanya lembek. Lagipula, kucing itu binatang yang licik, ia mencuri makanan di meja, atau ikan di akuarium, atau burung di dalam sangkar, atau hamster peliharaan musiman, jika si empunya rumah sedang lengah. Tapi entah kenapa sore itu ia merasa ingin berramah-tamah pada kucing nyasar itu.

“He… kamu nyasar ya?” sapa Ipah waktu itu, disambung dengan meong-meong lagi. Ipah langsung masuk ke rumahnya, mengambil makanan jatah untuk suaminya dan diberikannya pada kucing itu. Hantinya lega, masakannya tak sia-sia.

Keesokannya, siang setelah Ipah selesai memasak (sekali lagi masak untuk dua orang), ia kembali mendengar suara yang mengeong-ngeong. Ipah menuju ke pintu depan, didapati kucing itu lagi.
“Kamu nyasar lagi?” sapa Ipah.

Toh ia tahu, laki-lakinya tak akan datang lagi hari itu. Dan aroma ikan kuek yang baru selesai digorengnya memang harum membanjiri ruangan, membuat siapa pun yang mencium pasti akan lapar. Tak terkecuali kucing nyasar itu. Ipah cepat-cepat mengambil piring plastik, mengisinya dengan ikan kuek yang dihancurkan bersama nasi hangat. Si kucing nyasar makan dengan lahapnya. Setelah kenyang, kucing itu pergi, dan menjelang margib kembali ia datang sambil mengeong untuk minta makan.

Kucing itu adalah kucing paling santun yang pernah dikenal Ipah, ia tak pernah masuk ke rumah. Apalagi mencuri, sama sekali tak pernah dilakukannya. Selalu di depan pintu masuk, ia juga menghabiskan makanannya di depan pintu masuk. Suatu hari, Bung Juned datang. Ini berarti ia memakan makanan buatan Ipah yang memang sudah disediakan. Toh, Ipah masih ingat dengan kucing nyasar itu. Ia menyisihkan sedikit makanan untuk binatang tersebut. Ditunggunya hingga selesai Isya’, kucing itu tak juga datang. Ipah meninggalkan jatah makanan kucing itu di depan rumahnya. Hingga pagi, didapatinya makanan itu masih utuh. Menjelang siang, Ipah mengganti makanan jatah kucing yang sudah basi dengan yang baru, kembali ia letakkan di depan pintu. Kucing nyasar itu tak juga datang. Ketika Ipah mendengar suara mengeong-ngeong, ia segera ke depan. Dilihanya dua ekor kucing menyerbu jatah si kucing nyasar. Mereka hendak berkelahi memperebutkan makanan itu. Ipah, dengan kesal mengambil segayung air dari kamar mandi, dan menyiram ke arah kucing-kucing yang bulu-bulunya mulai berdiri karena bersitegang. Membuat dua ekor kucing itu lari tunggang-langgang dengan ngeongan ketakutan yang tercekik dan menghilang di udara. Kucing-kucing itu bukanlah si kucing nyasar yang ditunggunya.
“Pah, ngapain lu naro-naro makanan di situ? Entar kalo kucing-kucingnya pada masup rumah, pegimane?” komentar Bung Juned, Ipah diam saja. Lalu mengambil piring si kucing nyasar yang makanannya tinggal separo dan berantakan.

Dua hari Bung Juned tinggal di rumah, dua hari pula si kucing nyasar tidak datang. Hari ke tiga, Bung Juned pergi ke rumah bini ke dua. Sorenya, kucing nyasar datang mengambil jatah makanannya.

“Kok kemaren gak dateng?” tanya Ipah, sembari jongkok melihat kucing itu makan dari piring plastik. Tentu saja kucing tiu cuma bisa mengeong. “Lu kucing nyasar dari mane?” tanya Ipah lagi, kali ini ia mencoba mengelus-elus leher kucing. Lembek, pikirnya. Ia merasa sedikit merinding menyentuhnya, namun ia kembali mengelus-elus kucing itu. Tak terlalu buruk, makhluk itu tak menggigit atau mencakarnya, pikir Ipah. Dan kucing itu kembali mengeong kecil sambil terus menghabiskan jatah makannnya.

Lama-kelamaan, Ipah memanggilnya ‘Nyasar’, karena sampai ia tak pernah tahu dari mana kucing itu datang. Atau mungkin karena ia terlalu malas mencari nama yang pantas untuk seekor kucing kampung yang jelek. Dan Ipah semakin memperhatikan, bahwa setiap kali Bung Juned ada di rumah, Nyasar tak pernah datang. Ipah memperbolehkan Nyasar masuk ke rumah. Ditemaninya perempuan itu ketika nonton televisi, atau duduk-duduk di belakang sembari melihat empang. Bahkan ketika ia masak, dan Nyasar –seperti seorang yang gentleman- tak pernah mencuri masakan Ipah. Kucing-kucing lain, yang tahu ada seorang ibu-ibu baik hati mau memberi makan kucing, tentu saja mulai berdatangan. Ipah tak keberatan memberi kucing-kucing itu makanan. Ia tak memberi nama bagi kucing-kucing itu, dan ia tak memperbolehkan kucing-kucing lain masuk ke rumahnya selain Nyasar.

Ketika Bung Juned sakit, dan cukup lama lelaki itu tinggal di rumah yang ditempati Ipah, Nyasar sama sekali tak pernah datang. Jika lelaki itu pindah ke rumah istri ke duanya, kembali Nyasar datang lagi. Ketika Bung Juned sakit cukup parah, dan telah hampir satu bulan Ipah menjaga suaminya setelah laki-laki itu memaksa pulang dari rumah sakit, tiba-tiba seorang perempuan dengan dua orang anak laki-laki dan perempuan yang masih remaja, muncul di depan pintu rumah Ipah. Ketika itu, anak-anak Ipah dan Bung Juned; Jaelani, Jarkasi, Juleha dan masing-masing dengan istri serta suaminya, juga telah datang berkumpul. Tetangga-tetangga pun ada yang berkumpul di situ, menengok Bung Juned.
Semua mata memandangi perempuan dan dua anaknya itu, yang langsung mendekati Bung Juned. Perempuan itu memandang sinis pada Ipah, lalu ia berbisik pada Bung Juned, “Bang, Abang pulang aje yuk…. Biar aye bisa urus Abang di rumah.”

“Ini juga rumah die!” sahut Ipah dengan tegas, malah bisa dibilang setengah berteriak. Membuat semua yang ada di situ tersedot perhatiannya pada dua perempuan yang tak bisa dibilang muda itu.

“Saye bininya, punya hak ngurus Bang Juned!” sahut perempuan itu.
“Gue lebih-lebih lagi, punya hak ngurus die. Elu itu cuma dateng belakangan!” sahut Ipah. Perempuan itu seumur-umur tak pernah marah, baru kali itulah ia membentak-bentak. Bahkan anak-anaknya pun terkejut dibuatnya.

Sementara Bung Juned membuka mulut, tanpa ada kata-kata jelas yang keluar dari mulutnya. Tapi semua orang yang hadir tahu, Bung Juned meminta keduanya untuk tidak berkelahi. Kelima anak-anak Bung Juned; tiga orang dari Ipah dan dua orang dari bini ke duanya, mendekati Bung Juned. Jarkasi mendekatkan telinganya ke mulut bapaknya.
“Katenye… Serang.” Ujar Jarkasi dengan kecewa.

Perempuan itu tersenyum menang. Ia menyuruh dua anaknya untuk membantu mengangkat Bung Juned. Jiih, Jarkasi dan Jaelani juga membantu mengangkat Bung Juneh ke dalam mobil. Tiba-tiba Bung Juned berkata bersuara kembali, jelas dan parau, “Pah… Pah…!” sahutnya. Ia memanggil Ipah yang mulai terpuruk sedih. Istri keduanya berusaha menenangkan, menyuruh Bung Juned diam. Tetapi Bung Juned tetap berkata, “Pah… Pah…!” Ipah cepat-cepat menghampiri suaminya. Mendekatkan telinganya ke mulut suaminya. Tangan lelaki itu menarik wajah Ipah, dan mencium pipinya, membuat istri keduanya menahan napas di dada dengan tatapan kesal. Lalu cepat-cepat menyuruh semua yang membantu Bung Juned memasukkan lelaki itu ke dalam mobil. Perempuan itu menyuruh anaknya cepat-cepat tancap gas. Bahkan pamitan pun tidak.

Ipah, yang ditinggal, mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali suaminya mencium pipinya. Tapi tak berhasil diingatnya, sementara hangat bekas bibir dan aroma sakit laki-lakinya masih tersisa di wajahnya. Ia menangis tertahan, suaranya tak keluar dan tubuhnya seraya lemas. Perempuan itu jatuh terduduk di depan rumahnya. Para tetangga melihatnya, beberapa ibu-ibu tetangga ada yang tak sadar ikut menangis melihat pemandangan barusan. Anak-anaknya lantas mencoba membantu ibunya duduk di kursi depan.

“Istighfar Nyak, istighfar…” hanya itu kata-kata yang berulang-ulang diucapkan anak-anaknya. Tiba-tiba kakinya merasakan benda lembek, Ipah terkaget, ia menengok ke bawah. Nyasar, si kucing, berputar-putar di kaki tua perempuan itu. Kucing itu datang, tepat ketika lelakinya pergi. Entah bagaimana, saat itu juga Ipah tiba-tiba merasa lega.

Tak lama setelah itu, Bung Juned minta dibawa ke rumah Ipah. Ketika dalam perawatannya, Bung Juned meninggal. Tak bisa dibayangkan betapa leganya hati Ipah, suaminya meninggal ketika dalam perawatannya, dan bukan bini ke duanya. Ini adalah cita-cita luhurnya setelah menikahkan ketiga anaknya sudah terlaksana. Segera setelah Bung Juned selesai meregang nyawa, Ipah menyuruh anaknya untuk menelepon bini ke dua Bung Juned.

“Enyak, apa-apaan sih, ngapain pake telepon tuh perempuan?!” protes Juleha waktu itu.
“Mau gimana-gimana juga mereka punya hak, Ha. Di sana kan ada anak-anaknya juga,” ucap Ipah.

Perempuan ke dua Bung Juned awalnya merengek meminta suaminya dikubur di Serang, ia menangis histeris di telepon. Minta segera lelakinya dikirim dengan ambulance. Jaelani yang awalnya berbicara di telepon bingung harus bicara apa. Ia lalu mendiskusikannya dengan Jarkasi dan Juleha yang ada di sebelahnya. Juleha langsung menyambar teleponnya dan mempertegas; “heh, orang mati hukumunya wajib cepet-cepet diurus. Kalau mau dateng syukur, enggak juga syukur!” Lalu telepon ia putus dengan kesal. Juleha berlalu sambil bersungut-sungut, membuat kedua kakaknya terkagum-kagum dengan Juleha yang ternyata juga bisa galak.

Akhirnya perempuan itu datang ketika hari sudah turun gelap sempurna. Matanya bengkak, hidungnya kemerahan. Wajahnya suram tanpa make-up, dan ia berusaha menutupi dengan kerudung hitam yang menyampir menutupi hampir seluruh jidatnya. Betapa ia menyesali tak tiba sejak awal sehingga tak bisa memandikan suaminya untuk yang terakhir kali. Nyasar datang ketika Bung Juned selesai dimandikan, kucing itu langsung masuk mendekati Ipah. Ipah menyuruhnya menunggu di luar, sebab rumahnya akan dipakai untuk salat mayat. Keesokan harinya, pagi-pagi, ketika embun masih basah di ranting-ranting, Bung Juned dikuburkan. Sejak itu pula Nyasar punya rumah tetap. Ia tak pergi-pergi lagi.

Catatan: cerita ini merupakan penggalan dari Kronik Betawi.

2 thoughts on “Cerita tentang Ipah dan Kucing-Kucingnya

  1. wah untung si boncel gak kayak si Nyasar, pulang kalau laki gue gak pulang…kalau boncel mah menyambut kalau laki ane pulang hehehe

Comments are closed.