Lahir, Jodoh, Rejeki dan Matinya Sebuah Tulisan

2nd hand book di belakang Tokyo University

2nd hand book di belakang Tokyo University

Matabaca, edisi Desember 2008

Lahir

Saya sering mendengar kalimat ini: “tulisanku adalah anak-anakku”. Beberapa penulis bahkan saya tahu menyebut buku-bukunya yang telah terbit sebagai ‘anak ke-1’, ‘anak ke-2’, dst. Sebutan ‘anak’ bagi sebuah tulisan, bagi saya terdengar sangat over-protektif, sebab itulah yang biasa dilakukan orang tua (dalam hal ini penulis) terhadap anak-anaknya. Sayangnya, justru sikap over-protektif inilah yang membuat seorang penulis (dan tulisannya) tidak berkembang.

Bagi saya, sangatlah penting memberi jarak antara saya (sebagai penulis) dengan tulisan saya. Ketika suatu kali seorang penulis berhasil menulis sebuah cerpen, misalnya, dan diujibacakan kepada penulis senior (yang berperan sebagai pembaca), dan ternyata pembaca tidak suka dengan hasil tulisannya (bahkan mungkin dibilang jelek), nah… di sinilah daya tahan banting dan semangat belajar seorang penulis diuji. Jika ia mempertimbangkan masukan orang lain, dan ‘tega’ untuk mengobrak-abrik tulisannya, di situlah kita tahu bahwa penulis ini akan memiliki nyawa panjang dalam profesi kepenulisannya. Tetapi jika sebaliknya, maka jangan khawatir, kita takkan mendengar namanya diperbincangkan di dunia sastra.

Jodoh

Selayaknya semua makhuk hidup yang mencari jodoh, begitu pula dengan tulisan. Setiap tulisan memiliki jodoh pembacanya sendiri-sendiri, dan media (baik itu cetak, internet, maupun televisi) ibarat mak comblang antara tulisan dan pembaca. Sebuah cerpen bertema romansa remaja tidak mungkin dimakcomblangi oleh Kompas, tapi sangat mungkin dimakcomblangi oleh majalah Kawanku atau Chick. Sebagai penulis kita harus pintar-pintar membaca pasar sebuah media, sebab inilah yang akan menjadi pintu bagi tulisan-tulisan kita untuk menemukan jodohnya.

Amatlah beruntung jika tulisan yang dibuat oleh seorang penulis (idealismenya) adalah model tulisan yang laku dipasaran, ini berarti tulisan itu gampang ketemu jodohnya. Ayat-Ayat Cinta karya Habibburrahman El-Shirazy, misalnya, atau naskah begenre teenlit/chicklit/metropop yang jelas populer di tengah masyarakat, model seperti ini banyak dicari penerbit. Berbeda dengan tulisan bergenre (so-called as) “sastra tinggi” yang sulit dipahami oleh kebanyakan orang, mungkin agak sulit mencari penerbit, meskipun karya itu bagus. Sah-sah saja kok, jika seorang penulis ingin menulis model tulisan yang sedang populer di pasar dengan alasan biar ingincepat-cepat melihat namanya tercantum di buku, atau ingin cepat dapat penerbit, atau bahkan agar karyanya cepat laku. Hanya karena suatu hari seorang penulis dipesan penerbit atau majalah/media apapun tulisan yang di luar standard idealismenya, bukan berarti ia tengah “melacur”. Justru, seseorang disebut sebagai ‘penulis professional’, karena ia hidup dari tulisan-tulisannya, termasuk tulisan pesanan (yang mungkin jauh dari idealismenya).

Rejeki

Jika sudah ketemu jodoh, maka rejeki untuk sebuah tulisan pun mulai terbuka. Rejeki sebuah tulisan bisa bervariasi, sebuah cerpen dihargai sekitar Rp. 300.000,- s.d. Rp. 2.000.000,- (tergantung koran/majalah yang memuatnya), dan sebuah puisi dihargai sekitar Rp.150.000,- s.d. Rp. 300.000,- (kadang kala tergantung panjang-pendeknya sebuah puisi juga). Sedang rejeki satu judul buku sastra tergantung harga jual, eksemplar dan ketebalan sebuah buku. Yang pasti, semakin tebal bukunya, maka semakin mahal harga jualnya (maklum, harga kertas mahal). Misalnya, sebuah buku setebal + 200 halaman yang dijual dengan harga Rp. 35.000,-, perhitungan rejekinya adalah = (harga buku X eksemplar X royalti 10%) = Rp. 35.000,- X 3000 eksemplar X 10% = Rp. 10.500.000,-. Royalti sebuah buku umumnya dilaportakan setiap enam bulan sekali, dan di awal kontrak, biasanya seorang penulis mendapatkan uang muka royalti. Tetapi ada pula kontrak buku dengan sistem beli putus. Kalau ini, tergantung perjanjian antara penulis dan penerbit.

Selain dari royalti dan honor pemuatan, ada beberapa penghargaan sastra yang bisa menjadi pintu rejeki sebuah tulisan. Di Indonesia, penghargaan macam ini yang sudah berjalan adalah Cerpen Kompas Pilihan (yang tahun ini dimenangkan oleh Seno Gumira Ajidarma untuk cerpen “Cinta di Atas Perahu Cadik”), mendapat hadiah Rp. 15 juta. Penghargaan sastra lain yang paling bergengsi saat ini adalah Khatulistiwa Literary Award, tahun ini dimenangkan oleh Ayu Utami untuk novel Bilangan Fu (katergori prosa) dan Nirwan Dewanto untuk kumpulan puisi Jantung Lebah Ratu (kategori puisi), masing-masing mendapat hadiah Rp. 100 juta. Sedang kategori buku best young writer (penulis di bawah usia 30 tahun), tahun ini dimenangkan oleh Wa Ode Wulan Ratna untuk kumcer Cari Aku di Canti. Ia dihadiahi Rp. 25 juta.

Satu anugerah yang memberi penghargaan untuk sastra koran adalah Anugerah Sastra Pena Kencana. Tahun ini, Anugerah Sastra Pena Kencana dimenangkan oleh Seno Gumira Ajidarma untuk cerpen “Cinta di Atas Perahu Cadik”, dan kategori puisi dimenangkan oleh Jimmy Maruli Alfian untuk puisi “Kidung Pohon”. Pemenang dihadiahi @ Rp. 50 juta. Bagi para sastrawan yang sudah mengabdi bertahun-tahun di dunia sastra, dan terus berkarya, ada Bakrie Award yang memberi hadiah Rp. 100 juta. Tahun ini Bakrie Award dianugerahi untuk Sutardji Calzoum Bachrie. Itu baru di Indonesia, jika sebuah tulisan sangat bagus dan sudah diterbitkan Internasional, ada kemungkinan bisa mendapat Man-Booker Prize atau bahkan Nobel Sastra. Nah, untuk bisa jadi pemenang tentu saja sebuah tulisan harus bagus, punya kapabilitas bersaing dengan karya sastra Internasional, memberi pengaruh yang kuat untuk pembacanya, berkualitas, unik, orisinil, dan sederet prasyarat lainnya.

Nah, kita sudah tahu rejeki untuk karya cetak, bagaimana dengan karya untuk bidang broadcasting. Mungkin sebagian dari Anda akan bertanya: memang apa hubungannya televisi/film dengan tulisan? Ada! Penting, malah. Sebuah acara televisi (baik sinetron, berita, dokumenter, bahkan reality show sekalipun) tak bisa berjalan tanpa naskah. Satu skenario televisi/film harganya bervariasi. Sinetron dan FTV, dihargai Rp. 3-10 juta. Sedang untuk skenario film, umunya lebih dari Rp. 20 juta per naskah. Harga seorang penulis skenario biasanya tergantung jam terbang dan secepat apa dia bisa bekerja. Maklum, broadcasting lebih menuntut perhitungan waktu yang intens.

Jika karya sastra seorang penulis bagus dan populer, sangat terbuka kemungkinan diangkat ke layar lebar. Saat ini yang tengah populer adalah Laskar Pelangi, filmnya diangkat dari novel karya Andrea Hirata. Harga beli hak karya cipta tergantung kesepakatan antara Production House dan penulis/penerbit.

Mati

Hanya karena penulis mati, tidak berarti tulisan itu ikut terkubur. Seperti Romeo dan Juliet karya William Shakespeare, dan Don Quixote karya Cervantes, selama masih ada pembaca, maka tulisan itu tak akan pernah mati.

Ada peraturan di dunia, bahwa selama 50-70 tahun setelah penulis mati (tergantung negara masing-masing. Di Indonesia, setelah 50 tahun penulis mati). Selama rentang waktu itu, jika tulisan masih terus dicetak ulang, maka ahli waris penulis masih berhak mendapatkan honor. Setelah periode itu lewat, sebuah tulisan bebas dicetak ulang ataupun dimuat di media mana pun tanpa membayar (sudah menjadi public domain). Tetapi tentu saja, nama penulis tidak boleh alpa dicantumkan, sebab bagaimana pun pengakuan sebuah karya adalah penghargaan tertinggi seorang penulis.

Ratih Kumala, penulis

13 thoughts on “Lahir, Jodoh, Rejeki dan Matinya Sebuah Tulisan

  1. Hai, Mbak Ratih…

    Aku termasuk ‘seorang ibu yg over-protektif sama anak2nya’. Susah banget nerima kritik orang2. Tapi kadang2 aku suka sadar sendiri sama kesalahanku, trus ya aku koreksi hehehe….

    BTW itu tulisannya kepotong ya?

    ——————–

    @Rie Yanti:
    Kalo masih sadar kesalahan diri sendiri dan mengoreksinya, aku pikir ini pertanda bagus ;)
    Sayangnya, itu artikel yang saya tulis dengan keterbatasan tempat di majalah Matabaca, jadi mungkin kurang maksimal dan agak terburu2 penjelasannya. Semoga masih bisa dipahami isinya ya.

  2. Makasih, Mbak… Mudah2an aku bisa ngerti kelanjutan tulisannya…

    Oya, lupa bilang. Masalah over-protektif sama ‘anak-anak’ bisa jadi salah satu penyebab writer’s block (aku bikin artikel ttg masalah ini di warungfiksi, sekalian promosi hehehe…). Ya, kayak yg Mbak Ratih bilang aja. Itu bisa menghambat karir menulis seseorang.

  3. Berbeda dengan tulisan bergenre (so-called as) “sastra tinggi” yang sulit dipahami oleh kebanyakan orang, mungkin agak sulit mencari penerbit, meskipun karya itu bagus. ==> iya, tapi menurut saya tulisan seperti inilah yang bisa disebut sebagai tulisan yang berkualitas dan memiliki “jiwa”. gimana yah. susah ah dibilangnya. :D

    Mbak penulis? ajarin saya nulis dong..saya juga pengen bisa membuat suatu “karya” :p
    uups..udah lah, jd ngawur. cuman blogwalking kok ini.

  4. kok kepotong si mbak…. :)

    aku bingung mbak, soale selama ini aku nulis ‘sekedar’ pencurahan yang terpikir-terasa…dan karena itu menurutku pekerjaan menulis menjadi sebuah ‘tugas suci’…

    Mmm..mbak ratih mau nggak nulis cerpen buat kami, gak dibayar si?

  5. Benar mbak…setuju dengan yang tertulis, menjadi menulis mesti tahan banting komentar…apalagi pemula seperti saya, dan tak memiliki pengetahuan menulis sama sekali.

    Walaupun kutahu pujian tak membawa aku tahu kebenaran…tapi seandainya dijelek-jelekin melulu, aku malah merasa kehilangan suport untuk menulis…

    Mudah-mudahan diblog ini kutemukan pengalaman-pengalaman yang membuat aku bisa sedikit mengerti dan memahami bagaimana menulis yang baik dan benar!

    salam hangat dari Taiwan!

  6. Buat semuanya:
    Teman-teman yang udah kasih komentar, dan udah mau baca artikel ini… maaf ya… ternyata artikelnya memang kepotong!
    Dan saya dengan begonya baru menyadari!
    Ini saya posting yang lengkap. Entah kenapa kok artikel ini bisa kepotong, padahal kemaren pas posting (perasaan) lengkap… atau itu cuma perasaanku aja ya?! (halah!)
    Sekali lagi maaf, bacanya terganggu karena kepotong. Selamat membaca! ;)

  7. tapi, bagaimana dengan yang lain???yg hanya mengharapkan honor dari koran???

    ——————–

    @aan:
    Kalo menurut pengalaman saya, koran hanyalah salah satu media awal untuk sesuatu yang lebih besar.
    Atau… apa memang tujuan akhirnya hanya untuk dimuat di koran saja? Yah… kalo memang gitu, ya.. berarti memang segitulah nyawa tulisan tersebut.

  8. Met Tahun Baru 2009…

    Aku mau nanya lagi ya. Mana yg lebih mudah & cepat, ngasih naskah ke media cetak atau penerbit (publikasi/ penerbitannya, maksudku)?

    Makasih…

    ——————–

    @Rie Yanti:

    Lebih cepat ke media cetak, tentu saja. Antara 1 minggu-3 bulan, biasanya ada kepastian dimuat/gak. Kalo lebih dari 3 bulan gak ada berita, berarti memang enggak dimuat.

    Met tahun baru juga :) semoga menjadi tahun yang keren untuk kita semua!

  9. saya adalah salah satu orang yang menyebut novel saya adalah anak-anak saya.

    Ini nggak lain (buat saya pribadi), proses panjang menulis (mendapat ide, mulai menulis draft acak-acakan, menyelesaikan sampai bergadang-bergadang saat mood, menguji ke beberapa orang, menerima feedback dan kritik, merenungkan, merevisi, me’nyodorkan’ pada penerbit, sampai terbit itu sama dengan proses pembuahan sampai dengan melahirkan.

    Tapi saya sadar sesadar-sadarnya, nggak usahlah menunggu saya mati, begitu naskah lepas dari saya, ya saya sudah mati :) Tulisan saya ‘hidup’ sendiri, dihidupkan oleh para pembaca, penyuka dan pembencinya.

    Saya rasa sejauh ini saya nggak over protektif, jujur memang ada rasa tersayat begitu menerima kritik, dan rasa terpuja begitu menerima pujian. Tapi saya tidak membela mati-matian, melindungi tulisan saya. Kalau saya demikian, buat apa saya lepas ‘anak-anak saya itu’ ke luar dari laptop saya?

    Lagipula, memang seharusnya begitu kan orangtua? Nggak ‘mengerami’ anaknya sampai gede tua, tapi melepas. :)

    Met tahun baru Ratih.
    Masih ingat saya?

    ——————–

    @Okke:
    Halo Okke, kalo gak salah kita pernah ketemu di Bandung ama Ninit Yunita kan? :)
    Kapan ‘melepas’ tulisan lagi?

  10. hello mbak ratih..
    Salam kenal dr sy.
    Sy pengen banget jd penulis novel ato cerpen. Rasanya ide tuh sllu ada di otak sy. Cm sy bingung sy pengen pke gaya bahasa spt apa n gmn mulainya..lebih mudah klo sy bikin laporan deh.
    minta saran donk gmn cara memulai suatu tulisan.
    Apakah mb sllu bikin outlinenya dulu ato ngalir spt air..
    Boleh tau daftar nama majalah, suratkabar, ato penerbit yg bs
    sy masukin tulisan untuk pemula spt sy.
    thx b4.
    Gd luck!

    ———————

    @Santi:
    Dear Santi,
    ‘gaya tulisan’ hanya bisa ketauan setelah kamu menulis. Maka hal pertama yang harus kamu lakukan adalah menulis pikiranmu, gaya tulisan akan mengikutimu dengan sendirinya. Munkin kamu tidak terlalu ngeh, tapi bahkan menulis laporan pun pasti tiap orang akan ada gayanya sendiri-sendiri. Laporan itu ibaratnya bentuk sederhana/bentuk latihan dari menulis esai (yang lebih kompleks). Esais yang profesional punya gaya menulis sendiri-sendiri, meskipun urut-urutan menulis esai itu sudah terpatok.

    Ini email beberapa media:
    – Suara Merdeka : swarasatra@yahoo.com
    – Kompas : opini@kompas.com
    selain itu, coba cari di koran-koran/majalah lain, pasti ada alamat emailnya.

  11. saya sudah lama nulis cerpen dan buku cerita anak. ajari saya menulis skenario, mbak. boleh kirim contoh naskah skenario ke email saya. sharing dan bantu teman boleh kan, mbak? terima kasih. salam persahabatan.

  12. Halooo ..
    Sy mau nanya nih , saya kan mau kirim skenario ftv , itu pun saya msh pemula , awalnya saya belum pernah mengirimnya , kira” honor untuk pemula brp ya ?

Comments are closed.